0 added
0 removed
Original
2026-01-01
Modified
2026-03-08
1
<p>Squad, tahukah kamu apa itu sastra melayu klasik? Karya sastra melayu klasik sebenarnya merupakan bagian dari cerita rakyat yang berkembang di daerah melayu.<strong>Sastra melayu klasik merupakan</strong>gambaran keadaan masyarakat lama, yang masih berpola pikir sederhana dan sangat dikuasai kepercayaan gaib dan kesaktian. Disebut sastra melayu klasik karena bahasa yang digunakan merupakan bahasa Melayu. Satu contoh dari karya sastra Melayu Klasik adalah Hikayat, yang berbentuk prosa.<em>Nah</em>, setelah mengetahui pengertiannya tentu kamu penasaran<em>‘kan</em>seperti apa ciri-ciri dan unsur yang ada pada sastra melayu klasik?<em>Yuk</em>, kita pelajari.</p>
1
<p>Squad, tahukah kamu apa itu sastra melayu klasik? Karya sastra melayu klasik sebenarnya merupakan bagian dari cerita rakyat yang berkembang di daerah melayu.<strong>Sastra melayu klasik merupakan</strong>gambaran keadaan masyarakat lama, yang masih berpola pikir sederhana dan sangat dikuasai kepercayaan gaib dan kesaktian. Disebut sastra melayu klasik karena bahasa yang digunakan merupakan bahasa Melayu. Satu contoh dari karya sastra Melayu Klasik adalah Hikayat, yang berbentuk prosa.<em>Nah</em>, setelah mengetahui pengertiannya tentu kamu penasaran<em>‘kan</em>seperti apa ciri-ciri dan unsur yang ada pada sastra melayu klasik?<em>Yuk</em>, kita pelajari.</p>
2
<p><strong>Ciri-ciri Karya Sastra Melayu Klasik</strong></p>
2
<p><strong>Ciri-ciri Karya Sastra Melayu Klasik</strong></p>
3
<p><strong>1. Nama penciptanya biasanya tidak diketahui (anonim)</strong></p>
3
<p><strong>1. Nama penciptanya biasanya tidak diketahui (anonim)</strong></p>
4
<p>Karya sastra melayu klasik bersifat anonim atau tidak diketahui siapa pengarangnya. Hal ini disebabkan karena tempo dulu tidak banyak orang yang mengejar popularitas sehingga pengarangnya lebih fokus untuk menyajikan sebuah karya yang menitikberatkan pada fungsi cerita.</p>
4
<p>Karya sastra melayu klasik bersifat anonim atau tidak diketahui siapa pengarangnya. Hal ini disebabkan karena tempo dulu tidak banyak orang yang mengejar popularitas sehingga pengarangnya lebih fokus untuk menyajikan sebuah karya yang menitikberatkan pada fungsi cerita.</p>
5
<p><strong>2. Berkembang secara statis dan terikat pada aturan yang baku, terutama dalam bentuk puisi</strong></p>
5
<p><strong>2. Berkembang secara statis dan terikat pada aturan yang baku, terutama dalam bentuk puisi</strong></p>
6
<p>Karya sastra klasik mempunyai aturan-aturan yang mengikatnya. Salah satu contohnya adalah dalam bentuk puisi yang mempunyai aturan bait, rima, dan lain sebagainya.</p>
6
<p>Karya sastra klasik mempunyai aturan-aturan yang mengikatnya. Salah satu contohnya adalah dalam bentuk puisi yang mempunyai aturan bait, rima, dan lain sebagainya.</p>
7
<p><strong>3. Penggunaan bahasanya dipenuhi dengan ungkapan, peribahasa, dan majas (bahasa kias)</strong></p>
7
<p><strong>3. Penggunaan bahasanya dipenuhi dengan ungkapan, peribahasa, dan majas (bahasa kias)</strong></p>
8
<p>Seperti dalam puisi atau prosa, karya sastra melayu klasik syarat akan ungkapan serta peribahasa yang kaya akan makna.</p>
8
<p>Seperti dalam puisi atau prosa, karya sastra melayu klasik syarat akan ungkapan serta peribahasa yang kaya akan makna.</p>
9
<p><strong>4. Penyebarannya disampaikan secara lisan karena belum berkembangnya budaya tulis</strong></p>
9
<p><strong>4. Penyebarannya disampaikan secara lisan karena belum berkembangnya budaya tulis</strong></p>
10
<p>Penyebab utama mengapa karya sastra klasik disebarkan secara lisan adalah pergerakan zaman dahulu yang sangat lambat. Maka, penyebaran budaya dan cerita secara lisan akan lebih mempercepat tersebarnya cerita dibandingkan tulisan.</p>
10
<p>Penyebab utama mengapa karya sastra klasik disebarkan secara lisan adalah pergerakan zaman dahulu yang sangat lambat. Maka, penyebaran budaya dan cerita secara lisan akan lebih mempercepat tersebarnya cerita dibandingkan tulisan.</p>
11
<p><strong>5. Karena disampaikan secara lisan, ceritanya banyak berubah dan memiliki banyak versi</strong></p>
11
<p><strong>5. Karena disampaikan secara lisan, ceritanya banyak berubah dan memiliki banyak versi</strong></p>
12
<p>Salah satu pengaruh dari penyebaran cerita secara lisan adalah berubahnya cerita dari yang aslinya. Saat menyebarkan sebuah cerita secara lisan pasti akan ada cerita yang hilang atau bahkan ditambahkan oleh yang menceritakan.</p>
12
<p>Salah satu pengaruh dari penyebaran cerita secara lisan adalah berubahnya cerita dari yang aslinya. Saat menyebarkan sebuah cerita secara lisan pasti akan ada cerita yang hilang atau bahkan ditambahkan oleh yang menceritakan.</p>
13
<p>Hikayat Hang Tuah (Sumber: blacktrianglesilat.com)</p>
13
<p>Hikayat Hang Tuah (Sumber: blacktrianglesilat.com)</p>
14
<p><strong>Baca juga:<a>Pengertian Hikayat dan Karakteristiknya</a></strong></p>
14
<p><strong>Baca juga:<a>Pengertian Hikayat dan Karakteristiknya</a></strong></p>
15
<p><strong>Unsur-unsur Intrinsik Karya Sastra Melayu Klasik</strong></p>
15
<p><strong>Unsur-unsur Intrinsik Karya Sastra Melayu Klasik</strong></p>
16
<p>Unsur-unsur intrinsik karya sastra melayu klasik hampir sama dengan karya sastra prosa lainnya, seperti tema alur, latar, penokohan, dan amanat.</p>
16
<p>Unsur-unsur intrinsik karya sastra melayu klasik hampir sama dengan karya sastra prosa lainnya, seperti tema alur, latar, penokohan, dan amanat.</p>
17
<p><strong>1. Tema</strong>adalah dasar cerita sebagai titik tolak dalam penyusunan cerita.</p>
17
<p><strong>1. Tema</strong>adalah dasar cerita sebagai titik tolak dalam penyusunan cerita.</p>
18
<p><strong>2. Alur atau plot</strong>adalah struktur penceritaan yang di dalamnya berisi rangkaian kejadian atau peristiwa yang disusun berdasarkan hukum sebab akibat serta logis. Alur tersebut ada yang berupa alur maju, alur mundur, atau alur campuran.</p>
18
<p><strong>2. Alur atau plot</strong>adalah struktur penceritaan yang di dalamnya berisi rangkaian kejadian atau peristiwa yang disusun berdasarkan hukum sebab akibat serta logis. Alur tersebut ada yang berupa alur maju, alur mundur, atau alur campuran.</p>
19
<p><strong>3. Penokohan</strong>adalah pelukisan atau pendeskripsian atau pewatakan tokoh-tokoh dalam cerita.</p>
19
<p><strong>3. Penokohan</strong>adalah pelukisan atau pendeskripsian atau pewatakan tokoh-tokoh dalam cerita.</p>
20
<p><strong>4. Latar atau<em>setting</em></strong>merupakan tempat, waktu, dan keadaan terjadinya suatu peristiwa.</p>
20
<p><strong>4. Latar atau<em>setting</em></strong>merupakan tempat, waktu, dan keadaan terjadinya suatu peristiwa.</p>
21
<p><strong>5. Amanat</strong>adalah pesan-pesan yang ingin disampaikan dalam cerita.</p>
21
<p><strong>5. Amanat</strong>adalah pesan-pesan yang ingin disampaikan dalam cerita.</p>
22
<p><strong>Latihan Soal</strong></p>
22
<p><strong>Latihan Soal</strong></p>
23
<p><strong>Teks berikut untuk menjawab soal 1</strong></p>
23
<p><strong>Teks berikut untuk menjawab soal 1</strong></p>
24
<p>Kata Bayan, “Adalah konon seorang perempuan terlalu baik parasnya. Maka ia nikah dengan seorang laki-laki terlalu amat cemburuan; selama ia duduk dengan istrinya itu, jangankan ia pergi berniaga, berjalan jauh pun ia tidak pernah. Hatta, beberapa lamanya maka segala harta yang dibawanya pun habislah. Maka, kata perempuan itu, “Hai, Tuan Hamba! Betapa hal kita ini? Tiada lagi yang dimakan, baiklah Tuan pergi berlayar mencari makanan! Apakah kesudahnya demikian ini? Maka, sahut suaminya, “Tiada aku mau bercerai dengan Tuan dan tiada aku percaya akan dikau kalau-kalau peninggalku ini dikau berbuat jahat.</p>
24
<p>Kata Bayan, “Adalah konon seorang perempuan terlalu baik parasnya. Maka ia nikah dengan seorang laki-laki terlalu amat cemburuan; selama ia duduk dengan istrinya itu, jangankan ia pergi berniaga, berjalan jauh pun ia tidak pernah. Hatta, beberapa lamanya maka segala harta yang dibawanya pun habislah. Maka, kata perempuan itu, “Hai, Tuan Hamba! Betapa hal kita ini? Tiada lagi yang dimakan, baiklah Tuan pergi berlayar mencari makanan! Apakah kesudahnya demikian ini? Maka, sahut suaminya, “Tiada aku mau bercerai dengan Tuan dan tiada aku percaya akan dikau kalau-kalau peninggalku ini dikau berbuat jahat.</p>
25
<p><strong>Soal 1</strong></p>
25
<p><strong>Soal 1</strong></p>
26
<p>Pembuktian karakteristik sastra melayu klasik dalam teks tersebut adalah….</p>
26
<p>Pembuktian karakteristik sastra melayu klasik dalam teks tersebut adalah….</p>
27
<ol><li>Pusat cerita di sekitar istana raja (istanasentris)</li>
27
<ol><li>Pusat cerita di sekitar istana raja (istanasentris)</li>
28
<li>Pelaku cerita atau tokohnya berupa binatang</li>
28
<li>Pelaku cerita atau tokohnya berupa binatang</li>
29
<li>Penggunaan bahasa Melayu lama, yaitu:<em>konon</em>dan<em>hatta</em></li>
29
<li>Penggunaan bahasa Melayu lama, yaitu:<em>konon</em>dan<em>hatta</em></li>
30
<li>Menggunakan kemustahilan atau keajaiban</li>
30
<li>Menggunakan kemustahilan atau keajaiban</li>
31
<li>Menceritakan kesaktian seseorang secara berlebihan</li>
31
<li>Menceritakan kesaktian seseorang secara berlebihan</li>
32
</ol><p><strong>Jawaban: C</strong></p>
32
</ol><p><strong>Jawaban: C</strong></p>
33
<p><strong>Pembahasan:</strong>ciri karya sastra Melayu Klasik yang tampak pada kutipan tersebut adalah penggunaan bahasa Melayu lama, yang memuat kata<em>konon</em>dan<em>hatta</em>.</p>
33
<p><strong>Pembahasan:</strong>ciri karya sastra Melayu Klasik yang tampak pada kutipan tersebut adalah penggunaan bahasa Melayu lama, yang memuat kata<em>konon</em>dan<em>hatta</em>.</p>
34
<p>Sudah paham<em>‘kan</em>Squad? Pasti akan semakin mudah nantinya jika kamu bertemu dengan soal mengenai sastra melayu klasik.<em>Yuk</em>, tambah juga pemahaman materimu dengan berlangganan<a><strong>ruangbelajar</strong></a>. Ada video belajar beranimasi, latihan soal, serta rangkuman yang akan membuat<strong>#BelajarJadiMudah</strong>.</p>
34
<p>Sudah paham<em>‘kan</em>Squad? Pasti akan semakin mudah nantinya jika kamu bertemu dengan soal mengenai sastra melayu klasik.<em>Yuk</em>, tambah juga pemahaman materimu dengan berlangganan<a><strong>ruangbelajar</strong></a>. Ada video belajar beranimasi, latihan soal, serta rangkuman yang akan membuat<strong>#BelajarJadiMudah</strong>.</p>
35
<p><strong>Referensi</strong>Zabadi, Fairul dan Sutejo. 2015. Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud</p>
35
<p><strong>Referensi</strong>Zabadi, Fairul dan Sutejo. 2015. Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud</p>
36
<p><strong>Sumber Foto</strong>Hang Tuah. Tautan: http://www.blacktrianglesilat.com/features/34-articles/101-the-scriptures-of-hang-tuah?format=pdf</p>
36
<p><strong>Sumber Foto</strong>Hang Tuah. Tautan: http://www.blacktrianglesilat.com/features/34-articles/101-the-scriptures-of-hang-tuah?format=pdf</p>
37
<p><em><strong>Artikel diperbarui 2 Desember 2020</strong></em></p>
37
<p><em><strong>Artikel diperbarui 2 Desember 2020</strong></em></p>
38
38