0 added
0 removed
Original
2026-01-01
Modified
2026-03-08
1
<blockquote><p><em><strong><a>Artikel Geografi Kelas 11</a></strong>ini membahas tentang pengolahan dan analisis sumber data kependudukan, seperti apa caranya dan bagaimana mendapatkan datanya.</em></p>
1
<blockquote><p><em><strong><a>Artikel Geografi Kelas 11</a></strong>ini membahas tentang pengolahan dan analisis sumber data kependudukan, seperti apa caranya dan bagaimana mendapatkan datanya.</em></p>
2
</blockquote><p>-</p>
2
</blockquote><p>-</p>
3
<p>Buat kamu yang tinggal di Jakarta, pernah nggak sih merasa kalau kota ini padet banget penduduknya? Berangkat kerja naik motor kena macet, naik<em>commuter line</em>penuh banget, naik TransJakarta padet juga macet, naik pesawat? Ya nggak mungkin banget.</p>
3
<p>Buat kamu yang tinggal di Jakarta, pernah nggak sih merasa kalau kota ini padet banget penduduknya? Berangkat kerja naik motor kena macet, naik<em>commuter line</em>penuh banget, naik TransJakarta padet juga macet, naik pesawat? Ya nggak mungkin banget.</p>
4
<p>Akhirnya yaa dihadapin aja gitu. Iya nggak? Kamu merasa begitu nggak? Atau bahkan yang tinggal di Surabaya, Bandung, Jogja, Makassar, Palembang, Pontianak, juga sama?</p>
4
<p>Akhirnya yaa dihadapin aja gitu. Iya nggak? Kamu merasa begitu nggak? Atau bahkan yang tinggal di Surabaya, Bandung, Jogja, Makassar, Palembang, Pontianak, juga sama?</p>
5
<p>Kalau dipikir-pikir ada berapa banyak sih manusia di kota ini? Kok kayanya banyaaak banget ya. Bisa nggak sih kita cari tahu jumlahnya ada berapa? Apalagi Indonesia ini kurang lebih memiliki 17 ribu pulau. Di mana hampir di setiap pulaunya ditinggali penduduk.</p>
5
<p>Kalau dipikir-pikir ada berapa banyak sih manusia di kota ini? Kok kayanya banyaaak banget ya. Bisa nggak sih kita cari tahu jumlahnya ada berapa? Apalagi Indonesia ini kurang lebih memiliki 17 ribu pulau. Di mana hampir di setiap pulaunya ditinggali penduduk.</p>
6
<p>Hmm gimana cara menghitungnya ya? Kok bisa tau sih kalau negara kita menjadi negara ke 4 dengan jumlah penduduk terbanyak.</p>
6
<p>Hmm gimana cara menghitungnya ya? Kok bisa tau sih kalau negara kita menjadi negara ke 4 dengan jumlah penduduk terbanyak.</p>
7
<p><em>Waduuh sampe ngambil hak pejalan kaki lho, jangan dicontoh ya guys. Sumber: Antarafoto.com</em></p>
7
<p><em>Waduuh sampe ngambil hak pejalan kaki lho, jangan dicontoh ya guys. Sumber: Antarafoto.com</em></p>
8
<p>Nah, kepadatan penduduk yang ada di Indonesia ini berkaitan erat dengan dinamika kependudukan. Selain itu, untuk mengetahui jumlah penduduk yang ada di negara kita ini, bukannya ngga mungkin. Ada cara-cara yang bisa dilakukan. Salah satunya melalui sumber data kependudukan.</p>
8
<p>Nah, kepadatan penduduk yang ada di Indonesia ini berkaitan erat dengan dinamika kependudukan. Selain itu, untuk mengetahui jumlah penduduk yang ada di negara kita ini, bukannya ngga mungkin. Ada cara-cara yang bisa dilakukan. Salah satunya melalui sumber data kependudukan.</p>
9
<p><strong>Baca Juga:<a>Kepadatan Penduduk: Pengertian, Jenis, Faktor, Dampak & Cara Menaggulangi | Geografi Kelas 11</a></strong></p>
9
<p><strong>Baca Juga:<a>Kepadatan Penduduk: Pengertian, Jenis, Faktor, Dampak & Cara Menaggulangi | Geografi Kelas 11</a></strong></p>
10
<p>Lalu, apa sih yang dimaksud dengan dinamika penduduk?</p>
10
<p>Lalu, apa sih yang dimaksud dengan dinamika penduduk?</p>
11
<h2>Apa yang Dimaksud dengan Dinamika Penduduk?</h2>
11
<h2>Apa yang Dimaksud dengan Dinamika Penduduk?</h2>
12
<p>Dinamika Penduduk adalah <strong>perubahan keadaan penduduk</strong>, yang terjadi dalam jumlah, pertumbuhan, kepadatan, persebaran, maupun komposisi pada suatu wilayah dalam waktu tertentu. Perubahan penduduk ini disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya seperti kelahiran, kematian, dan perpindahan penduduk.</p>
12
<p>Dinamika Penduduk adalah <strong>perubahan keadaan penduduk</strong>, yang terjadi dalam jumlah, pertumbuhan, kepadatan, persebaran, maupun komposisi pada suatu wilayah dalam waktu tertentu. Perubahan penduduk ini disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya seperti kelahiran, kematian, dan perpindahan penduduk.</p>
13
<p><strong>Baca Juga:<a>Mobilitas Sosial: Pengertian, Bentuk, Faktor & Dampaknya | Sosiologi Kelas 8</a></strong></p>
13
<p><strong>Baca Juga:<a>Mobilitas Sosial: Pengertian, Bentuk, Faktor & Dampaknya | Sosiologi Kelas 8</a></strong></p>
14
<p>Dalam dinamika penduduk, ada faktor-faktor utama yang berpengaruh terhadap perubahan keadaan penduduk. Di antaranya kelahiran, kematian, dan migrasi. Yuk kita bahas satu per satu!</p>
14
<p>Dalam dinamika penduduk, ada faktor-faktor utama yang berpengaruh terhadap perubahan keadaan penduduk. Di antaranya kelahiran, kematian, dan migrasi. Yuk kita bahas satu per satu!</p>
15
<h2>Faktor-Faktor Dinamika Penduduk</h2>
15
<h2>Faktor-Faktor Dinamika Penduduk</h2>
16
<h3>1. Kelahiran</h3>
16
<h3>1. Kelahiran</h3>
17
<p>Kelahiran atau natalitas merupakan faktor yang dapat <strong>menambah </strong>jumlah penduduk. Dalam kelahiran, terdapat dua bagian, yaitu <strong>pronatalitas </strong>atau mendukung kelahiran dan <strong>antinatalitas </strong>atau menghambat kelahiran.</p>
17
<p>Kelahiran atau natalitas merupakan faktor yang dapat <strong>menambah </strong>jumlah penduduk. Dalam kelahiran, terdapat dua bagian, yaitu <strong>pronatalitas </strong>atau mendukung kelahiran dan <strong>antinatalitas </strong>atau menghambat kelahiran.</p>
18
<p>Beberapa contoh pronatalitas antara lain:</p>
18
<p>Beberapa contoh pronatalitas antara lain:</p>
19
<ul><li><strong>Kawin di usia muda</strong>yang memiliki kesempatan lebih besar dalam memiliki anak ketimbang di usia dewasa.</li>
19
<ul><li><strong>Kawin di usia muda</strong>yang memiliki kesempatan lebih besar dalam memiliki anak ketimbang di usia dewasa.</li>
20
<li><strong>Tingkat kesehatan</strong>, di masa lampau, rendahnya harapan hidup bagi bayi yang baru lahir karena kurangnya penanganan saat melahirkan menyebabkan meninggalnya bayi, sehingga orang tua cenderung memilih banyak anak.</li>
20
<li><strong>Tingkat kesehatan</strong>, di masa lampau, rendahnya harapan hidup bagi bayi yang baru lahir karena kurangnya penanganan saat melahirkan menyebabkan meninggalnya bayi, sehingga orang tua cenderung memilih banyak anak.</li>
21
<li><strong>Anggapan </strong>banyak anak banyak rezeki.</li>
21
<li><strong>Anggapan </strong>banyak anak banyak rezeki.</li>
22
<li><strong>Kepercayaan </strong>bahwa orang tua membutuhkan penerus (keturunan) dalam pewarisan harta.</li>
22
<li><strong>Kepercayaan </strong>bahwa orang tua membutuhkan penerus (keturunan) dalam pewarisan harta.</li>
23
</ul><p>Sementara, beberapa contoh antinatalitas antara lain:</p>
23
</ul><p>Sementara, beberapa contoh antinatalitas antara lain:</p>
24
<ul><li><strong>Pembatasan usia menikah</strong>, berdasarkan BKKBN, usia ideal menikah untuk perempuan 21 tahun, sementara laki-laki 25 tahun.</li>
24
<ul><li><strong>Pembatasan usia menikah</strong>, berdasarkan BKKBN, usia ideal menikah untuk perempuan 21 tahun, sementara laki-laki 25 tahun.</li>
25
<li><strong>Program keluarga berencana</strong>, untuk mengatasi jumlah kelahiran.</li>
25
<li><strong>Program keluarga berencana</strong>, untuk mengatasi jumlah kelahiran.</li>
26
<li><strong>Pembatasan tunjangan </strong>anak dari kantor atau tempat orang tua bekerja.</li>
26
<li><strong>Pembatasan tunjangan </strong>anak dari kantor atau tempat orang tua bekerja.</li>
27
<li><strong>Anggapan </strong>anak merupakan beban oleh masyarakat modern karena harus membiayai.</li>
27
<li><strong>Anggapan </strong>anak merupakan beban oleh masyarakat modern karena harus membiayai.</li>
28
</ul><p>Terus,<em>gimana </em>caranya menghitung angka kelahiran? Berikut rumus cara menghitung Angka Kelahiran Kasar (<em>Crude Birth Rate</em>) dan Angka Kelahiran Spesifik (<em>Age Specific Birth Rate</em>).</p>
28
</ul><p>Terus,<em>gimana </em>caranya menghitung angka kelahiran? Berikut rumus cara menghitung Angka Kelahiran Kasar (<em>Crude Birth Rate</em>) dan Angka Kelahiran Spesifik (<em>Age Specific Birth Rate</em>).</p>
29
<p><em>Cara Menghitung Angka Kelahiran</em></p>
29
<p><em>Cara Menghitung Angka Kelahiran</em></p>
30
<h3>2. Kematian</h3>
30
<h3>2. Kematian</h3>
31
<p>Kematian atau mortalitas menjadi salah satu faktor dinamika penduduk yang dapat <strong>mengurangi </strong>jumlah penduduk. Umumnya, negara berkembang memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi dibandingkan negara maju. Sama seperti kelahiran, kematian juga memiliki <strong>promortalitas</strong>yang mendukung kematian dan <strong>antimortalitas</strong>yang menentang kematian.</p>
31
<p>Kematian atau mortalitas menjadi salah satu faktor dinamika penduduk yang dapat <strong>mengurangi </strong>jumlah penduduk. Umumnya, negara berkembang memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi dibandingkan negara maju. Sama seperti kelahiran, kematian juga memiliki <strong>promortalitas</strong>yang mendukung kematian dan <strong>antimortalitas</strong>yang menentang kematian.</p>
32
<p>Beberapa contoh promortalitas antara lain:</p>
32
<p>Beberapa contoh promortalitas antara lain:</p>
33
<ul><li><strong>Kurangnya kesadaran </strong>masyarakat dalam pentingnya kesehatan.</li>
33
<ul><li><strong>Kurangnya kesadaran </strong>masyarakat dalam pentingnya kesehatan.</li>
34
<li><strong>Kurangnya fasilitas kesehatan </strong>yang memadai.</li>
34
<li><strong>Kurangnya fasilitas kesehatan </strong>yang memadai.</li>
35
<li>Sering terjadi <strong>kecelakaan lalu lintas</strong>.</li>
35
<li>Sering terjadi <strong>kecelakaan lalu lintas</strong>.</li>
36
<li>Terjadi <strong>bencana alam </strong>yang mengakibatkan korban jiwa.</li>
36
<li>Terjadi <strong>bencana alam </strong>yang mengakibatkan korban jiwa.</li>
37
<li>Terjadi <strong>peperangan</strong>.</li>
37
<li>Terjadi <strong>peperangan</strong>.</li>
38
</ul><p>Sementara, beberapa contoh antimortalitas antara lain:</p>
38
</ul><p>Sementara, beberapa contoh antimortalitas antara lain:</p>
39
<ul><li><strong>Fasilitas</strong><strong>kesehatan</strong>yang memadai sehingga angka harapan hidup tinggi.</li>
39
<ul><li><strong>Fasilitas</strong><strong>kesehatan</strong>yang memadai sehingga angka harapan hidup tinggi.</li>
40
<li><strong>Lingkungan yang bersih </strong>dan teratur.</li>
40
<li><strong>Lingkungan yang bersih </strong>dan teratur.</li>
41
<li><strong>Ajaran agama </strong>yang melarang bunuh diri.</li>
41
<li><strong>Ajaran agama </strong>yang melarang bunuh diri.</li>
42
<li><strong>Tingkat kesehatan </strong>yang tinggi.</li>
42
<li><strong>Tingkat kesehatan </strong>yang tinggi.</li>
43
</ul><p>Biar kamu <em>gak </em>penasaran <em>gimana </em>cara menghitung angka kematian, simak infografis di bawah ini, ya. Ada Angka Kematian Kasar (<em>Crude Death Rate</em>), Angka Kematian Spesifik (<em>Age Specific Death Rate</em>), dan Angka Kematian Bayi (<em>Infant Mortality Rate</em>).</p>
43
</ul><p>Biar kamu <em>gak </em>penasaran <em>gimana </em>cara menghitung angka kematian, simak infografis di bawah ini, ya. Ada Angka Kematian Kasar (<em>Crude Death Rate</em>), Angka Kematian Spesifik (<em>Age Specific Death Rate</em>), dan Angka Kematian Bayi (<em>Infant Mortality Rate</em>).</p>
44
<p><em>Cara Menghitung Angka Kematian</em></p>
44
<p><em>Cara Menghitung Angka Kematian</em></p>
45
<h3>3. Migrasi</h3>
45
<h3>3. Migrasi</h3>
46
<p>Migrasi adalah <strong>perpindahan penduduk </strong>dari satu tempat ke tempat lain dalam jangka waktu tertentu untuk tujuan <strong>menetap</strong>, yang dapat melampaui batas-batas administrasi negara. Nah, migrasi ini dibagi jadi dua, ada migrasi nasional dan migrasi internasional.</p>
46
<p>Migrasi adalah <strong>perpindahan penduduk </strong>dari satu tempat ke tempat lain dalam jangka waktu tertentu untuk tujuan <strong>menetap</strong>, yang dapat melampaui batas-batas administrasi negara. Nah, migrasi ini dibagi jadi dua, ada migrasi nasional dan migrasi internasional.</p>
47
<p>Migrasi nasional contohnya ada transmigrasi, yaitu perpindahan penduduk dari daerah yang padat ke daerah yang jarang penduduknya. Misalnya seperti perpindahan penduduk dari Pulau Jawa ke Pulau Kalimantan atau Pulau Papua.</p>
47
<p>Migrasi nasional contohnya ada transmigrasi, yaitu perpindahan penduduk dari daerah yang padat ke daerah yang jarang penduduknya. Misalnya seperti perpindahan penduduk dari Pulau Jawa ke Pulau Kalimantan atau Pulau Papua.</p>
48
<p><strong>Baca Juga:<a>Bisakah Transmigrasi Menanggulangi Pengangguran? | Geografi Kelas 11</a></strong></p>
48
<p><strong>Baca Juga:<a>Bisakah Transmigrasi Menanggulangi Pengangguran? | Geografi Kelas 11</a></strong></p>
49
<p>Kalau migrasi internasional contohnya ada beberapa nih:</p>
49
<p>Kalau migrasi internasional contohnya ada beberapa nih:</p>
50
<ul><li><strong>Imigrasi</strong>, yaitu<strong>masuknya penduduk</strong>dari suatu negara ke negara lain dengan tujuan menetap.</li>
50
<ul><li><strong>Imigrasi</strong>, yaitu<strong>masuknya penduduk</strong>dari suatu negara ke negara lain dengan tujuan menetap.</li>
51
<li><strong>Emigrasi</strong>, yaitu<strong>keluarnya penduduk</strong>dari suatu negara ke negara lain.</li>
51
<li><strong>Emigrasi</strong>, yaitu<strong>keluarnya penduduk</strong>dari suatu negara ke negara lain.</li>
52
<li><strong>Remigrasi</strong>atau<strong>repatriasi</strong>, yaitu <strong>kembalinya emigran</strong>ke negara asalnya.</li>
52
<li><strong>Remigrasi</strong>atau<strong>repatriasi</strong>, yaitu <strong>kembalinya emigran</strong>ke negara asalnya.</li>
53
</ul><p>Oke, sebelum kita cari tahu cara mengetahui jumlah penduduk di sebuah negara, kamu boleh simak dulu sedikit pembahasan tentang Sumber Data Penduduk, yap!</p>
53
</ul><p>Oke, sebelum kita cari tahu cara mengetahui jumlah penduduk di sebuah negara, kamu boleh simak dulu sedikit pembahasan tentang Sumber Data Penduduk, yap!</p>
54
<h2>Sumber Data Penduduk</h2>
54
<h2>Sumber Data Penduduk</h2>
55
<p>Sumber data adalah segala sesuatu yang<strong>diterbitkan oleh badan-badan resmi atau kelompok dan perorangan</strong>. Bentuk terbitannya bisa berupa grafik, angka, tulisan, bahkan gambar. Biasanya lembaga yang memiliki sumber data, khususnya data kependudukan adalah Badan Pusat Statistika (BPS) dan badan-badan sumber data kependudukan lainnya.</p>
55
<p>Sumber data adalah segala sesuatu yang<strong>diterbitkan oleh badan-badan resmi atau kelompok dan perorangan</strong>. Bentuk terbitannya bisa berupa grafik, angka, tulisan, bahkan gambar. Biasanya lembaga yang memiliki sumber data, khususnya data kependudukan adalah Badan Pusat Statistika (BPS) dan badan-badan sumber data kependudukan lainnya.</p>
56
<p>Ada 2 jenis data berdasarkan sumber perolehan data. Apa saja ya? Pertama adalah data primer, yang kedua adalah data sekunder.</p>
56
<p>Ada 2 jenis data berdasarkan sumber perolehan data. Apa saja ya? Pertama adalah data primer, yang kedua adalah data sekunder.</p>
57
<ul><li><strong>Data primer</strong>adalah data yang diperoleh langsung dari responden</li>
57
<ul><li><strong>Data primer</strong>adalah data yang diperoleh langsung dari responden</li>
58
<li><strong>Data sekunder</strong>adalah data yang diperoleh dari sumber resmi, seperti instansi pemerintah atau bisa juga non pemerintah/perorangan.</li>
58
<li><strong>Data sekunder</strong>adalah data yang diperoleh dari sumber resmi, seperti instansi pemerintah atau bisa juga non pemerintah/perorangan.</li>
59
</ul><h2>Cara Memperoleh Data Jumlah Penduduk</h2>
59
</ul><h2>Cara Memperoleh Data Jumlah Penduduk</h2>
60
<p>Untuk memperoleh data total jumlah penduduk yang ada di Indonesia, kita bisa melakukannya dengan cara-cara ini:</p>
60
<p>Untuk memperoleh data total jumlah penduduk yang ada di Indonesia, kita bisa melakukannya dengan cara-cara ini:</p>
61
<h3>1. Sensus Penduduk</h3>
61
<h3>1. Sensus Penduduk</h3>
62
<p>Kamu sering dong pastinya mendengar kata sensus? Nah sensus penduduk itu adalah proses untuk menyusun, mengumpulkan, dan juga menyebarluaskan data-data kependudukan. Mulai dari aspek sosial, demografi, serta ekonominya.</p>
62
<p>Kamu sering dong pastinya mendengar kata sensus? Nah sensus penduduk itu adalah proses untuk menyusun, mengumpulkan, dan juga menyebarluaskan data-data kependudukan. Mulai dari aspek sosial, demografi, serta ekonominya.</p>
63
<p>Nah, dalam pelaksanaannya, sensus penduduk dibagi menjadi 3, yaitu:</p>
63
<p>Nah, dalam pelaksanaannya, sensus penduduk dibagi menjadi 3, yaitu:</p>
64
<h4>a. Berdasarkan jenis sensusnya</h4>
64
<h4>a. Berdasarkan jenis sensusnya</h4>
65
<p>Sensus jenis ini mencakup beberapa sensus, yaitu sensus penduduk, sensus perumahan, sensus industri, dan sensus pertanian.</p>
65
<p>Sensus jenis ini mencakup beberapa sensus, yaitu sensus penduduk, sensus perumahan, sensus industri, dan sensus pertanian.</p>
66
<h4><strong>b. Berdasarkan tempat tinggalnya</strong></h4>
66
<h4><strong>b. Berdasarkan tempat tinggalnya</strong></h4>
67
<ul><li>Sensus<strong><em>de jure</em></strong>, yaitu pencacahan yang ditunjukan kepada setiap penduduk yang benar-benar berdiam atau bertempat tinggal di daerah atau negara yang bersangkutan.</li>
67
<ul><li>Sensus<strong><em>de jure</em></strong>, yaitu pencacahan yang ditunjukan kepada setiap penduduk yang benar-benar berdiam atau bertempat tinggal di daerah atau negara yang bersangkutan.</li>
68
<li>Sensus<strong><em>de facto</em></strong>, yaitu pencacahan penduduk yang ditunjukan kepada setiap penduduk yang pada waktu diadakan sensus berada dalam wilayah atau negara yang bersangkutan.</li>
68
<li>Sensus<strong><em>de facto</em></strong>, yaitu pencacahan penduduk yang ditunjukan kepada setiap penduduk yang pada waktu diadakan sensus berada dalam wilayah atau negara yang bersangkutan.</li>
69
</ul><h4>c. Berdasarkan cara pengumpulan datanya</h4>
69
</ul><h4>c. Berdasarkan cara pengumpulan datanya</h4>
70
<ul><li>Metode<strong><em>householder</em></strong>, yaitu pendataan yang dilakukan dengan cara meminta kepala keluarga yang mengisi daftar sensus sendiri.</li>
70
<ul><li>Metode<strong><em>householder</em></strong>, yaitu pendataan yang dilakukan dengan cara meminta kepala keluarga yang mengisi daftar sensus sendiri.</li>
71
<li>Metode<strong><em>canvasser</em></strong>, yaitu pendataan yang dilakukan dengan cara mewawancarai kepala keluarga. Biasanya petugas sensus mengisi daftar sensus, dan kepala keluarga hanya sebagai narasumber.</li>
71
<li>Metode<strong><em>canvasser</em></strong>, yaitu pendataan yang dilakukan dengan cara mewawancarai kepala keluarga. Biasanya petugas sensus mengisi daftar sensus, dan kepala keluarga hanya sebagai narasumber.</li>
72
</ul><h3>2. Registrasi Penduduk</h3>
72
</ul><h3>2. Registrasi Penduduk</h3>
73
<p>Registrasi dilakukan dengan cara mencatat peristiwa-peristiwa penting dalam kependudukan. Peristiwa itu seperti kelahiran, kematian, perkawinan, perceraian, pengangkatan anak (adopsi), dan juga perpindahan penduduk.</p>
73
<p>Registrasi dilakukan dengan cara mencatat peristiwa-peristiwa penting dalam kependudukan. Peristiwa itu seperti kelahiran, kematian, perkawinan, perceraian, pengangkatan anak (adopsi), dan juga perpindahan penduduk.</p>
74
<h3>3. Survei Penduduk</h3>
74
<h3>3. Survei Penduduk</h3>
75
<p>Survei penduduk ini biasanya dilakukan untuk mendapatkan informasi yang berkaitan dengan permasalahan sosial ekonomi, psikologi, dan juga faktor lainnya yang dapat memengaruhi aspek demografi secara umum. Misalnya kelahiran, kematian, dan juga migrasi.</p>
75
<p>Survei penduduk ini biasanya dilakukan untuk mendapatkan informasi yang berkaitan dengan permasalahan sosial ekonomi, psikologi, dan juga faktor lainnya yang dapat memengaruhi aspek demografi secara umum. Misalnya kelahiran, kematian, dan juga migrasi.</p>
76
<h2>Jenis Penyajian Informasi Kependudukan</h2>
76
<h2>Jenis Penyajian Informasi Kependudukan</h2>
77
<p>Ketika proses pengumpulan data sudah dilakukan dan sudah didapatkan hasilnya, maka selanjutnya adalah menyajikan informasi tersebut. Ada beberapa model penyajian Informasi data kependudukan yang bisa kita buat.</p>
77
<p>Ketika proses pengumpulan data sudah dilakukan dan sudah didapatkan hasilnya, maka selanjutnya adalah menyajikan informasi tersebut. Ada beberapa model penyajian Informasi data kependudukan yang bisa kita buat.</p>
78
<p><strong>Baca Juga:<a>Hal-hal penting dalam indeks pembangunan manusia</a></strong></p>
78
<p><strong>Baca Juga:<a>Hal-hal penting dalam indeks pembangunan manusia</a></strong></p>
79
<p>Data-data kependudukan ini juga sangat dibutuhkan lho oleh pemerintah. Hampir di setiap instansi pemerintah membutuhkan data kependudukan. Namun, yang dibutuhkan itu adalah data-data kependudukan yang telah dianalisis, seperti telah diketahuinya komposisi penduduk.</p>
79
<p>Data-data kependudukan ini juga sangat dibutuhkan lho oleh pemerintah. Hampir di setiap instansi pemerintah membutuhkan data kependudukan. Namun, yang dibutuhkan itu adalah data-data kependudukan yang telah dianalisis, seperti telah diketahuinya komposisi penduduk.</p>
80
<h2>Analisis Data Kependudukan</h2>
80
<h2>Analisis Data Kependudukan</h2>
81
<p>Analisis data kependudukan sangatlah dibutuhkan. Hal ini dilakukan untuk memastikan keakuratan data, karena pada dasarnya kependudukan pada suatu daerah bahkan negara, sangatlah dinamis atau mudah berubah-ubah. Untuk itu dibutuhkan adanya komposisi penduduk.</p>
81
<p>Analisis data kependudukan sangatlah dibutuhkan. Hal ini dilakukan untuk memastikan keakuratan data, karena pada dasarnya kependudukan pada suatu daerah bahkan negara, sangatlah dinamis atau mudah berubah-ubah. Untuk itu dibutuhkan adanya komposisi penduduk.</p>
82
<p>Komposisi penduduk adalah suatu pengelompokan penduduk berdasarkan kriteria tertentu. Contohnya pengelompokan secara geografis, sosial, biologis, dan ekonomi.</p>
82
<p>Komposisi penduduk adalah suatu pengelompokan penduduk berdasarkan kriteria tertentu. Contohnya pengelompokan secara geografis, sosial, biologis, dan ekonomi.</p>
83
<p>Dengan kita mengetahui komposisi penduduk, maka kita bisa menarik kesimpulan dari berbagai susunan dan perubahan dinamika kependudukan dari masa ke masa. Dengan begitu, pemerintah dapat membuat kebijakan yang tepat sasaran dan dapat meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).</p>
83
<p>Dengan kita mengetahui komposisi penduduk, maka kita bisa menarik kesimpulan dari berbagai susunan dan perubahan dinamika kependudukan dari masa ke masa. Dengan begitu, pemerintah dapat membuat kebijakan yang tepat sasaran dan dapat meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).</p>
84
<p>Nah, ada 2 konsep dan ukuran yang bisa kita pelajari berdasarkan komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin. Apa saja itu?</p>
84
<p>Nah, ada 2 konsep dan ukuran yang bisa kita pelajari berdasarkan komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin. Apa saja itu?</p>
85
<h3>Sex Ratio (Rasio Jenis Kelamin)</h3>
85
<h3>Sex Ratio (Rasio Jenis Kelamin)</h3>
86
<p>Rasio jenis kelamin adalah perbandingan banyaknya jumlah penduduk laki-laki dengan perempuan pada suatu daerah dan waktu tertentu. Biasanya dinyatakan dalam banyaknya penduduk laki-laki per 100 perempuan.</p>
86
<p>Rasio jenis kelamin adalah perbandingan banyaknya jumlah penduduk laki-laki dengan perempuan pada suatu daerah dan waktu tertentu. Biasanya dinyatakan dalam banyaknya penduduk laki-laki per 100 perempuan.</p>
87
<p>SR=MF x k</p>
87
<p>SR=MF x k</p>
88
<p>Keterangan :</p>
88
<p>Keterangan :</p>
89
<p>SR = Rasio jenis kelamin</p>
89
<p>SR = Rasio jenis kelamin</p>
90
<p>M = Jumlah penduduk laki-laki di suatu daerah pada waktu tertentu</p>
90
<p>M = Jumlah penduduk laki-laki di suatu daerah pada waktu tertentu</p>
91
<p>F = Jumlah penduduk perempuan di suatu daerah pada waktu tertentu</p>
91
<p>F = Jumlah penduduk perempuan di suatu daerah pada waktu tertentu</p>
92
<p>K = Konstanta, nilainya 100</p>
92
<p>K = Konstanta, nilainya 100</p>
93
<h3>Depedency Ratio (Angka Beban Tanggungan)</h3>
93
<h3>Depedency Ratio (Angka Beban Tanggungan)</h3>
94
<p>Angka beban tanggungan atau angka ketergantungan adalah angka yang menyatakan perbandingan antara banyaknya penduduk yang tidak produktif dengan banyaknya penduduk yang produktif. Secara kasar angka ini dapat digunakan sebagai indikator ekonomi suatu negara.</p>
94
<p>Angka beban tanggungan atau angka ketergantungan adalah angka yang menyatakan perbandingan antara banyaknya penduduk yang tidak produktif dengan banyaknya penduduk yang produktif. Secara kasar angka ini dapat digunakan sebagai indikator ekonomi suatu negara.</p>
95
<p>Keterangan :</p>
95
<p>Keterangan :</p>
96
<p>DR = Angka beban ketergantungan</p>
96
<p>DR = Angka beban ketergantungan</p>
97
<p>Penduduk tidak produktif = Penduduk umur 0 - 14 tahun dan >65 tahun</p>
97
<p>Penduduk tidak produktif = Penduduk umur 0 - 14 tahun dan >65 tahun</p>
98
<p>Penduduk produktif = Penduduk umur 15 - 64 tahun</p>
98
<p>Penduduk produktif = Penduduk umur 15 - 64 tahun</p>
99
<p>K = konstanta, nilainya 100</p>
99
<p>K = konstanta, nilainya 100</p>
100
<p>Gimana? Bisa kan ternyata menentukan jumlah penduduk di negara dengan jumlah pulau terbanyak ini. Bahkan bukan cuma jumlah penduduknya, kita juga bisa tau lebih banyak perempuannya atau laki-lakinya, lebih banyak kelahiran atau kematian, lebih banyak usia tua, anak-anak, atau dewasa. Semua bisa ditentukan dengan menggunakan cara-cara pengumpulan sumber data kependudukan. Seperti data di bawah ini nih.</p>
100
<p>Gimana? Bisa kan ternyata menentukan jumlah penduduk di negara dengan jumlah pulau terbanyak ini. Bahkan bukan cuma jumlah penduduknya, kita juga bisa tau lebih banyak perempuannya atau laki-lakinya, lebih banyak kelahiran atau kematian, lebih banyak usia tua, anak-anak, atau dewasa. Semua bisa ditentukan dengan menggunakan cara-cara pengumpulan sumber data kependudukan. Seperti data di bawah ini nih.</p>
101
<p>-</p>
101
<p>-</p>
102
<p>Nah, sekarang kalau kamu mau tau lebih lanjut bagaimana menggunakan rumus-rumus konsep menentukan komposisi penduduk, kamu bisa mempelajarinya melalui<strong><a>ruangbelajar</a></strong>. Di ruangbelajar kamu bisa menonton video penjelasan beranimasi dan juga latihan-latihan soal. Selamat membaca dan belajar.</p>
102
<p>Nah, sekarang kalau kamu mau tau lebih lanjut bagaimana menggunakan rumus-rumus konsep menentukan komposisi penduduk, kamu bisa mempelajarinya melalui<strong><a>ruangbelajar</a></strong>. Di ruangbelajar kamu bisa menonton video penjelasan beranimasi dan juga latihan-latihan soal. Selamat membaca dan belajar.</p>
103
<p><strong>Referensi:</strong></p>
103
<p><strong>Referensi:</strong></p>
104
<p>Yosepana, Sandra. 2009.<em>Belajar Efektif Geografi untuk SMA kelas XI</em>. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.</p>
104
<p>Yosepana, Sandra. 2009.<em>Belajar Efektif Geografi untuk SMA kelas XI</em>. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.</p>
105
<p><em><strong>Artikel ini pertama kali terbit tanggal 5 November 2018, kemudian diperbarui oleh Laras Sekar Seruni. </strong></em></p>
105
<p><em><strong>Artikel ini pertama kali terbit tanggal 5 November 2018, kemudian diperbarui oleh Laras Sekar Seruni. </strong></em></p>
106
106