HTML Diff
0 added 0 removed
Original 2026-01-01
Modified 2026-03-08
1 <blockquote><p><em>Yuk, kenali tentang drama! Khususnya mengenai unsur-unsur, struktur, ciri-ciri, serta kaidah kebahasaan pada drama. Mari kita belajar di<a>artikel Bahasa Indonesia kelas 8</a>ini!</em></p>
1 <blockquote><p><em>Yuk, kenali tentang drama! Khususnya mengenai unsur-unsur, struktur, ciri-ciri, serta kaidah kebahasaan pada drama. Mari kita belajar di<a>artikel Bahasa Indonesia kelas 8</a>ini!</em></p>
2 <p><em>-</em></p>
2 <p><em>-</em></p>
3 </blockquote><p>Siapa di sini yang suka nonton pementasan<strong><a>drama</a></strong>? Biasanya, drama dipentaskan di sebuah gedung teater di mana kamu bisa duduk dan menyaksikan secara langsung akting dari tokoh-tokoh yang diperankan. Bagi yang belum pernah nonton pertunjukan drama, setidaknya, kamu harus coba. Karena seru banget! Hehehe…</p>
3 </blockquote><p>Siapa di sini yang suka nonton pementasan<strong><a>drama</a></strong>? Biasanya, drama dipentaskan di sebuah gedung teater di mana kamu bisa duduk dan menyaksikan secara langsung akting dari tokoh-tokoh yang diperankan. Bagi yang belum pernah nonton pertunjukan drama, setidaknya, kamu harus coba. Karena seru banget! Hehehe…</p>
4 <p>Nah, di artikel kali ini, kita akan belajar mengenai drama. Mulai dari pengertian, ciri-ciri, unsur, struktur, hingga kaidah kebahasaan dalam membuat naskah drama. Penasaran nggak, sih?</p>
4 <p>Nah, di artikel kali ini, kita akan belajar mengenai drama. Mulai dari pengertian, ciri-ciri, unsur, struktur, hingga kaidah kebahasaan dalam membuat naskah drama. Penasaran nggak, sih?</p>
5 <p>Sebelumnya, kamu sudah tahu belum apa itu drama? Drama adalah komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak, melalui tingkah laku (akting) atau dialog yang dipentaskan. Drama biasa disebut juga dengan istilah lain, seperti sandiwara, lakon, tonil, sendratari, atau tablo.</p>
5 <p>Sebelumnya, kamu sudah tahu belum apa itu drama? Drama adalah komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak, melalui tingkah laku (akting) atau dialog yang dipentaskan. Drama biasa disebut juga dengan istilah lain, seperti sandiwara, lakon, tonil, sendratari, atau tablo.</p>
6 <h2>Pengertian Drama Menurut para Ahli</h2>
6 <h2>Pengertian Drama Menurut para Ahli</h2>
7 <p>Nah, istilah drama, sebetulnya datang dari khazanah kebudayaan Barat, khususnya tradisi bersastra Yunani. Drama sendiri berasal dari istilah Yunani,<em>draomai</em>, yang artinya suatu tindakan, aksi, perbuatan, dan sebagainya. Berikut pengertian drama menurut para ahli:</p>
7 <p>Nah, istilah drama, sebetulnya datang dari khazanah kebudayaan Barat, khususnya tradisi bersastra Yunani. Drama sendiri berasal dari istilah Yunani,<em>draomai</em>, yang artinya suatu tindakan, aksi, perbuatan, dan sebagainya. Berikut pengertian drama menurut para ahli:</p>
8 <ul><li><h3>Kraus (1999: 249) dalam bukunya<em>Verstehen und Gestalten</em> </h3>
8 <ul><li><h3>Kraus (1999: 249) dalam bukunya<em>Verstehen und Gestalten</em> </h3>
9 </li>
9 </li>
10 </ul><p>Drama adalah bentuk gambaran seni yang datang dari nyanyian dan tarian ibadat Yunani kuno, yang di dalamnya terdapat dialog dramatis, konflik, dan penyelesaiannya yang dipertunjukkan di atas panggung.</p>
10 </ul><p>Drama adalah bentuk gambaran seni yang datang dari nyanyian dan tarian ibadat Yunani kuno, yang di dalamnya terdapat dialog dramatis, konflik, dan penyelesaiannya yang dipertunjukkan di atas panggung.</p>
11 <ul><li><h3>Moulton (dalam Soediro Satoto 1991: 3)</h3>
11 <ul><li><h3>Moulton (dalam Soediro Satoto 1991: 3)</h3>
12 </li>
12 </li>
13 </ul><p>Drama adalah hidup yang ditampilkan dalam gerak. Artinya, drama dapat menggerakkan fantasi penonton/pembaca. Mereka dapat melihat kehidupan manusia yang diekspresikan secara langsung melalui drama.</p>
13 </ul><p>Drama adalah hidup yang ditampilkan dalam gerak. Artinya, drama dapat menggerakkan fantasi penonton/pembaca. Mereka dapat melihat kehidupan manusia yang diekspresikan secara langsung melalui drama.</p>
14 <ul><li><h3>Bathazar Verhagen</h3>
14 <ul><li><h3>Bathazar Verhagen</h3>
15 </li>
15 </li>
16 </ul><p>Drama adalah kesenian melukis sifat dan sifat manusia melalui gerak.</p>
16 </ul><p>Drama adalah kesenian melukis sifat dan sifat manusia melalui gerak.</p>
17 <ul><li><h3><strong>Atar Semi (1993: 156)</strong></h3>
17 <ul><li><h3><strong>Atar Semi (1993: 156)</strong></h3>
18 </li>
18 </li>
19 </ul><p>Drama adalah sebuah cerita atau tiruan mengenai perilaku manusia yang dipentaskan.</p>
19 </ul><p>Drama adalah sebuah cerita atau tiruan mengenai perilaku manusia yang dipentaskan.</p>
20 <p><em>Pementasan drama (Sumber: jepara.go.id)</em></p>
20 <p><em>Pementasan drama (Sumber: jepara.go.id)</em></p>
21 <p>Dalam sebuah drama, terdapat naskah drama atau teks drama. Naskah drama adalah sebuah teks yang menggambarkan kehidupan dan watak manusia melalui tingkah laku (akting) yang dipentaskan. Bisa dibilang, naskah drama merupakan<em>blueprint</em>dari sebuah drama. Karena drama akan dieksekusi sesuai dengan naskah drama yang sudah dibuat.</p>
21 <p>Dalam sebuah drama, terdapat naskah drama atau teks drama. Naskah drama adalah sebuah teks yang menggambarkan kehidupan dan watak manusia melalui tingkah laku (akting) yang dipentaskan. Bisa dibilang, naskah drama merupakan<em>blueprint</em>dari sebuah drama. Karena drama akan dieksekusi sesuai dengan naskah drama yang sudah dibuat.</p>
22 <p>Baca Juga:<a>Cerita Fabel: Pengertian, Ciri-Ciri, Struktur, dan Contohnya</a></p>
22 <p>Baca Juga:<a>Cerita Fabel: Pengertian, Ciri-Ciri, Struktur, dan Contohnya</a></p>
23 <p>Agar drama dapat berjalan dengan baik, terdapat banyak hal yang perlu diperhatikan, nih! Mulai dari unsur-unsur drama, struktur, ciri-ciri, hingga kaidah kebahasaan yang digunakan dalam teks drama. Biar nggak makin penasaran, kita bahas satu per satu, yuk!</p>
23 <p>Agar drama dapat berjalan dengan baik, terdapat banyak hal yang perlu diperhatikan, nih! Mulai dari unsur-unsur drama, struktur, ciri-ciri, hingga kaidah kebahasaan yang digunakan dalam teks drama. Biar nggak makin penasaran, kita bahas satu per satu, yuk!</p>
24 <h2>Ciri-Ciri Drama</h2>
24 <h2>Ciri-Ciri Drama</h2>
25 <p>Drama memiliki beberapa ciri khas yang perlu kamu ketahui, di antaranya yaitu:</p>
25 <p>Drama memiliki beberapa ciri khas yang perlu kamu ketahui, di antaranya yaitu:</p>
26 <ul><li>Disampaikan dalam bentuk dialog.</li>
26 <ul><li>Disampaikan dalam bentuk dialog.</li>
27 <li>Memiliki tokoh atau karakter yang diperankan.</li>
27 <li>Memiliki tokoh atau karakter yang diperankan.</li>
28 <li>Terdapat konflik atau ketegangan yang menjadi inti dari cerita drama.</li>
28 <li>Terdapat konflik atau ketegangan yang menjadi inti dari cerita drama.</li>
29 <li>Dilakukan di atas panggung yang telah dilengkapi dengan peralatan dan properti untuk menghidupkan suasana.</li>
29 <li>Dilakukan di atas panggung yang telah dilengkapi dengan peralatan dan properti untuk menghidupkan suasana.</li>
30 <li>Dilakukan di hadapan penonton karena drama merupakan sarana hiburan.</li>
30 <li>Dilakukan di hadapan penonton karena drama merupakan sarana hiburan.</li>
31 </ul><h2>Unsur-Unsur Drama</h2>
31 </ul><h2>Unsur-Unsur Drama</h2>
32 <p>Unsur-unsur drama terdiri dari empat hal, yaitu alur, penokohan, dialog, dan latar. Berikut penjelasan lengkapnya!</p>
32 <p>Unsur-unsur drama terdiri dari empat hal, yaitu alur, penokohan, dialog, dan latar. Berikut penjelasan lengkapnya!</p>
33 <h3>1. Alur</h3>
33 <h3>1. Alur</h3>
34 <p>Alur adalah rangkaian peristiwa dan konflik yang menggerakkan jalan cerita. Alur drama mencakup bagian-bagian pengenalan cerita, konflik awal, perkembangan konflik, hingga penyelesaian. Dalam drama, terdapat tiga jenis alur, yakni:</p>
34 <p>Alur adalah rangkaian peristiwa dan konflik yang menggerakkan jalan cerita. Alur drama mencakup bagian-bagian pengenalan cerita, konflik awal, perkembangan konflik, hingga penyelesaian. Dalam drama, terdapat tiga jenis alur, yakni:</p>
35 <h4>a. Alur Maju</h4>
35 <h4>a. Alur Maju</h4>
36 <p>Alur maju adalah alur yang menggambarkan cerita berjalan berurutan ke depan atau kronologis.</p>
36 <p>Alur maju adalah alur yang menggambarkan cerita berjalan berurutan ke depan atau kronologis.</p>
37 <h4>b. Alur Mundur</h4>
37 <h4>b. Alur Mundur</h4>
38 <p>Alur mundur adalah alur yang menggambarkan cerita berupa peristiwa mundur ke belakang atau sorot balik (<em>flashback</em>).</p>
38 <p>Alur mundur adalah alur yang menggambarkan cerita berupa peristiwa mundur ke belakang atau sorot balik (<em>flashback</em>).</p>
39 <h4>c. Alur Campuran</h4>
39 <h4>c. Alur Campuran</h4>
40 <p>Alur campuran adalah perpaduan dari alur maju dan mundur atau disebut juga<em>compound</em>.</p>
40 <p>Alur campuran adalah perpaduan dari alur maju dan mundur atau disebut juga<em>compound</em>.</p>
41 <h3>2. Penokohan</h3>
41 <h3>2. Penokohan</h3>
42 <p>Penokohan adalah cara pengarang menggambarkan karakter tokoh. Dalam sebuah pementasan drama, tokohlah yang menggambarkan atau memerankan secara langsung cerita yang ada dalam naskah drama. Tokoh terbagi dua berdasarkan perannya, yaitu:</p>
42 <p>Penokohan adalah cara pengarang menggambarkan karakter tokoh. Dalam sebuah pementasan drama, tokohlah yang menggambarkan atau memerankan secara langsung cerita yang ada dalam naskah drama. Tokoh terbagi dua berdasarkan perannya, yaitu:</p>
43 <h4>a. Tokoh Utama</h4>
43 <h4>a. Tokoh Utama</h4>
44 <p>Tokoh utama adalah tokoh yang menjadi sentral cerita dalam pementasan drama.</p>
44 <p>Tokoh utama adalah tokoh yang menjadi sentral cerita dalam pementasan drama.</p>
45 <h4>b. Tokoh Pembantu</h4>
45 <h4>b. Tokoh Pembantu</h4>
46 <p>Tokoh pembantu adalah tokoh yang dilibatkan atau dimunculkan untuk mendukung jalan cerita.</p>
46 <p>Tokoh pembantu adalah tokoh yang dilibatkan atau dimunculkan untuk mendukung jalan cerita.</p>
47 <h3>3. Dialog</h3>
47 <h3>3. Dialog</h3>
48 <p>Dialog adalah karya tulis yang disajikan dalam bentuk percakapan antara dua tokoh atau lebih. Dalam dialog terdapat dua unsur, yakni:</p>
48 <p>Dialog adalah karya tulis yang disajikan dalam bentuk percakapan antara dua tokoh atau lebih. Dalam dialog terdapat dua unsur, yakni:</p>
49 <h4>a. Wawancang</h4>
49 <h4>a. Wawancang</h4>
50 <p>Wawancang adalah kata-kata atau kalimat yang harus diucapkan oleh tokoh dalam drama.</p>
50 <p>Wawancang adalah kata-kata atau kalimat yang harus diucapkan oleh tokoh dalam drama.</p>
51 <h4>b. Kramagung</h4>
51 <h4>b. Kramagung</h4>
52 <p>Kramagung adalah petunjuk perilaku, tindakan, atau perbuatan yang harus dilakukan oleh tokoh.</p>
52 <p>Kramagung adalah petunjuk perilaku, tindakan, atau perbuatan yang harus dilakukan oleh tokoh.</p>
53 <h3>4. Latar</h3>
53 <h3>4. Latar</h3>
54 <p>Latar adalah keterangan ruang dan waktu yang ada dalam drama. Latar dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:</p>
54 <p>Latar adalah keterangan ruang dan waktu yang ada dalam drama. Latar dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:</p>
55 <h4>a. Latar Tempat</h4>
55 <h4>a. Latar Tempat</h4>
56 <p>Latar tempat menggambarkan lokasi terjadinya setiap<em>scene</em>dalam drama. Latar tempat dapat digambarkan dengan bantuan properti yang mendukung.</p>
56 <p>Latar tempat menggambarkan lokasi terjadinya setiap<em>scene</em>dalam drama. Latar tempat dapat digambarkan dengan bantuan properti yang mendukung.</p>
57 <p>Misalnya, drama yang dipentaskan adalah drama fabel yang berlatar tempat di hutan belantara. Maka, bisa ditambahkan properti seperti pohon-pohon buatan, rerumputan buatan, bunga-bunga buatan, serta kostum hewan yang dikenakan oleh para tokoh.</p>
57 <p>Misalnya, drama yang dipentaskan adalah drama fabel yang berlatar tempat di hutan belantara. Maka, bisa ditambahkan properti seperti pohon-pohon buatan, rerumputan buatan, bunga-bunga buatan, serta kostum hewan yang dikenakan oleh para tokoh.</p>
58 <h4>b. Latar Waktu</h4>
58 <h4>b. Latar Waktu</h4>
59 <p>Latar waktu menggambarkan waktu terjadinya setiap<em>scene</em>dalam drama, bisa berupa hari, jam, tanggal, bulan, maupun tahun. Sama halnya dengan latar tempat, latar waktu juga dapat digambarkan dengan bantuan properti yang mendukung.</p>
59 <p>Latar waktu menggambarkan waktu terjadinya setiap<em>scene</em>dalam drama, bisa berupa hari, jam, tanggal, bulan, maupun tahun. Sama halnya dengan latar tempat, latar waktu juga dapat digambarkan dengan bantuan properti yang mendukung.</p>
60 <p>Misalnya, suatu<em>scene</em>dalam drama berlatar waktu siang hari yang terik, maka bisa ditambahkan properti seperti lampu sorot berwarna terang yang menandakan bahwa<em>scene</em>tersebut terjadi di siang hari.</p>
60 <p>Misalnya, suatu<em>scene</em>dalam drama berlatar waktu siang hari yang terik, maka bisa ditambahkan properti seperti lampu sorot berwarna terang yang menandakan bahwa<em>scene</em>tersebut terjadi di siang hari.</p>
61 <h4>c. Latar Suasana</h4>
61 <h4>c. Latar Suasana</h4>
62 <p>Latar suasana menggambarkan suasana terjadinya setiap<em>scene</em>dalam drama. Latar suasana dapat digambarkan dengan bantuan properti, musik, maupun akting yang dilakukan tokoh.</p>
62 <p>Latar suasana menggambarkan suasana terjadinya setiap<em>scene</em>dalam drama. Latar suasana dapat digambarkan dengan bantuan properti, musik, maupun akting yang dilakukan tokoh.</p>
63 <p>Misalnya, suatu<em>scene</em>dalam drama berlatar suasana yang mencekam, maka bisa ditambahkan properti seperti lampu yang remang-remang, musik yang menegangkan, dan akting tokoh yang seolah merinding dan ketakutan.</p>
63 <p>Misalnya, suatu<em>scene</em>dalam drama berlatar suasana yang mencekam, maka bisa ditambahkan properti seperti lampu yang remang-remang, musik yang menegangkan, dan akting tokoh yang seolah merinding dan ketakutan.</p>
64 <p>Baca Juga:<a>Teks Ulasan: Pengertian, Jenis, Struktur, Kebahasaan, dan Contohnya</a></p>
64 <p>Baca Juga:<a>Teks Ulasan: Pengertian, Jenis, Struktur, Kebahasaan, dan Contohnya</a></p>
65 <h2>Struktur Teks Drama</h2>
65 <h2>Struktur Teks Drama</h2>
66 <p><em>Next</em>, kita masuk ke bagian struktur teks drama. Struktur teks drama terdiri dari tiga bagian, yaitu prolog, dialog, dan epilog.</p>
66 <p><em>Next</em>, kita masuk ke bagian struktur teks drama. Struktur teks drama terdiri dari tiga bagian, yaitu prolog, dialog, dan epilog.</p>
67 <h3>1. Prolog</h3>
67 <h3>1. Prolog</h3>
68 <p>Prolog adalah bagian berupa kata-kata pembuka, pengantar, ataupun latar belakang yang umumnya disampaikan oleh dalang, narator, atau tokoh tertentu.</p>
68 <p>Prolog adalah bagian berupa kata-kata pembuka, pengantar, ataupun latar belakang yang umumnya disampaikan oleh dalang, narator, atau tokoh tertentu.</p>
69 <h3>2. Dialog </h3>
69 <h3>2. Dialog </h3>
70 <p>Dialog adalah percakapan antartokoh dalam drama. Dialog terdiri atas tiga bagian, yaitu:</p>
70 <p>Dialog adalah percakapan antartokoh dalam drama. Dialog terdiri atas tiga bagian, yaitu:</p>
71 <ul><li>Orientasi → bagian awal cerita</li>
71 <ul><li>Orientasi → bagian awal cerita</li>
72 <li>Komplikasi → bagian pengembangan cerita</li>
72 <li>Komplikasi → bagian pengembangan cerita</li>
73 <li>Resolusi → bagian akhir cerita</li>
73 <li>Resolusi → bagian akhir cerita</li>
74 </ul><h3>3. Epilog</h3>
74 </ul><h3>3. Epilog</h3>
75 <p>Epilog adalah kata-kata penutup yang berisi simpulan maupun amanat tentang keseluruhan isi drama.</p>
75 <p>Epilog adalah kata-kata penutup yang berisi simpulan maupun amanat tentang keseluruhan isi drama.</p>
76 <h2>Kaidah Kebahasaan Teks Drama</h2>
76 <h2>Kaidah Kebahasaan Teks Drama</h2>
77 <p>Gimana, sampai sini, kamu tertarik untuk membuat teks drama? Setelah mengetahui unsur-unsur dan struktur teks drama, kita masuk ke kaidah kebahasaannya dulu, nih.</p>
77 <p>Gimana, sampai sini, kamu tertarik untuk membuat teks drama? Setelah mengetahui unsur-unsur dan struktur teks drama, kita masuk ke kaidah kebahasaannya dulu, nih.</p>
78 <p>Supaya kamu semakin paham dan dapat membuat naskah drama yang bagus dan menarik! Kaidah kebahasaan yang digunakan dalam drama, antara lain sebagai berikut:</p>
78 <p>Supaya kamu semakin paham dan dapat membuat naskah drama yang bagus dan menarik! Kaidah kebahasaan yang digunakan dalam drama, antara lain sebagai berikut:</p>
79 <ul><li>Berupa dialog.</li>
79 <ul><li>Berupa dialog.</li>
80 <li>Menggunakan tanda petik pada dialog.</li>
80 <li>Menggunakan tanda petik pada dialog.</li>
81 <li>Menggunakan kata ganti orang ketiga pada bagian prolog atau epilog (dia, beliau, ia, -nya).</li>
81 <li>Menggunakan kata ganti orang ketiga pada bagian prolog atau epilog (dia, beliau, ia, -nya).</li>
82 <li>Menggunakan kata ganti orang pertama dan kedua pada bagian dialog (aku, saya, kami, kita, kamu).</li>
82 <li>Menggunakan kata ganti orang pertama dan kedua pada bagian dialog (aku, saya, kami, kita, kamu).</li>
83 <li>Banyak menggunakan konjungsi temporal (sebelum, sekarang, setelah itu, mula-mula, kemudian).</li>
83 <li>Banyak menggunakan konjungsi temporal (sebelum, sekarang, setelah itu, mula-mula, kemudian).</li>
84 <li>Banyak menggunakan kata kerja yang menggambarkan suatu peristiwa (menyuruh, menobatkan, menyingkirkan, menghadap, beristirahat).</li>
84 <li>Banyak menggunakan kata kerja yang menggambarkan suatu peristiwa (menyuruh, menobatkan, menyingkirkan, menghadap, beristirahat).</li>
85 <li>Banyak menggunakan kata kerja yang menyatakan sesuatu yang dipikirkan atau dirasakan oleh tokoh (merasakan, menginginkan, mengharapkan, mendambakan, mengalami).</li>
85 <li>Banyak menggunakan kata kerja yang menyatakan sesuatu yang dipikirkan atau dirasakan oleh tokoh (merasakan, menginginkan, mengharapkan, mendambakan, mengalami).</li>
86 <li>Menggunakan kata sifat untuk menggambarkan tokoh, tempat, atau suasana (ramai, bersih, baik, gagah, kuat).</li>
86 <li>Menggunakan kata sifat untuk menggambarkan tokoh, tempat, atau suasana (ramai, bersih, baik, gagah, kuat).</li>
87 </ul><h2>Contoh Drama Singkat</h2>
87 </ul><h2>Contoh Drama Singkat</h2>
88 <p>Diariku</p>
88 <p>Diariku</p>
89 <p>Tokoh: Mina dan Yeri</p>
89 <p>Tokoh: Mina dan Yeri</p>
90 <p>Sinopsis: Suatu hari sepulang jam sekolah, Yeri sedang menulis sesuatu di buku diarinya. Tak disangka, Mina yang habis rapat OSIS, melihat Yeri duduk sendirian di ruang kelas. Yeri pun dikagetkan oleh kedatangan Mina.</p>
90 <p>Sinopsis: Suatu hari sepulang jam sekolah, Yeri sedang menulis sesuatu di buku diarinya. Tak disangka, Mina yang habis rapat OSIS, melihat Yeri duduk sendirian di ruang kelas. Yeri pun dikagetkan oleh kedatangan Mina.</p>
91 <p>Dialog:</p>
91 <p>Dialog:</p>
92 <p>Mina: “Hai, Yeri!”</p>
92 <p>Mina: “Hai, Yeri!”</p>
93 <p>Yeri: (Terdiam dan merunduk sedih)</p>
93 <p>Yeri: (Terdiam dan merunduk sedih)</p>
94 <p>Mina: “Kamu kenapa, Ri? Apa ada masalah?”</p>
94 <p>Mina: “Kamu kenapa, Ri? Apa ada masalah?”</p>
95 <p>Yeri: “Oh Mina, nggak kok. Aku nggak apa-apa.”</p>
95 <p>Yeri: “Oh Mina, nggak kok. Aku nggak apa-apa.”</p>
96 <p>Mina: “Jangan bohong, aku melihat kamu termangut sedih dari tadi. Cerita saja padaku. Ada apa?”</p>
96 <p>Mina: “Jangan bohong, aku melihat kamu termangut sedih dari tadi. Cerita saja padaku. Ada apa?”</p>
97 <p>Yeri: “Sudahlah, tak ada yang perlu aku jelaskan padamu.”</p>
97 <p>Yeri: “Sudahlah, tak ada yang perlu aku jelaskan padamu.”</p>
98 <p>Mina: “Lalu ini apa? (mengambil buku diari Yeri) Kamu menyimpan rahasia di sini?”</p>
98 <p>Mina: “Lalu ini apa? (mengambil buku diari Yeri) Kamu menyimpan rahasia di sini?”</p>
99 <p>Yeri: (marah) “Enggak! Kembalikan bukuku! Kamu nggak akan mengerti dengan perasaanku!”</p>
99 <p>Yeri: (marah) “Enggak! Kembalikan bukuku! Kamu nggak akan mengerti dengan perasaanku!”</p>
100 <p>Mina: “Kamu kenapa sih, Ri? Jika ada masalah, cerita saja!”</p>
100 <p>Mina: “Kamu kenapa sih, Ri? Jika ada masalah, cerita saja!”</p>
101 <p>Yeri: (Menangis) “Aku hanyalah anak yang tidak diharapkan siapa-siapa. Orang tuaku selalu membandingkanku dengan saudaraku. Aku seperti pembantu saja tinggal di sini!”</p>
101 <p>Yeri: (Menangis) “Aku hanyalah anak yang tidak diharapkan siapa-siapa. Orang tuaku selalu membandingkanku dengan saudaraku. Aku seperti pembantu saja tinggal di sini!”</p>
102 <p>Mina: “Pasti sulit rasanya ya, Ri.” (mengusap punggung Yeri)</p>
102 <p>Mina: “Pasti sulit rasanya ya, Ri.” (mengusap punggung Yeri)</p>
103 <p>Yeri: “Setiap hari, aku selalu disuruh ini, disuruh itu. Semua pekerjaan rumah aku yang mengerjakan. Mereka nggak peduli denganku!”</p>
103 <p>Yeri: “Setiap hari, aku selalu disuruh ini, disuruh itu. Semua pekerjaan rumah aku yang mengerjakan. Mereka nggak peduli denganku!”</p>
104 <p>Mina: “Kalau kamu sedang merasa kesusahan dan muak dengan keluargamu. Sekali-kali datang ke rumahku saja. Kita bermain sampai perasaan sedihmu hilang, ya.”</p>
104 <p>Mina: “Kalau kamu sedang merasa kesusahan dan muak dengan keluargamu. Sekali-kali datang ke rumahku saja. Kita bermain sampai perasaan sedihmu hilang, ya.”</p>
105 <p>Yeri: “Tetap saja, aku harus pulang dan menghadapi orang tuaku nantinya, Mina.”</p>
105 <p>Yeri: “Tetap saja, aku harus pulang dan menghadapi orang tuaku nantinya, Mina.”</p>
106 <p>Mina: “Jangan khawatir, kita cari solusi agar orang tuamu tahu bahwa hal yang mereka lakukan salah.”</p>
106 <p>Mina: “Jangan khawatir, kita cari solusi agar orang tuamu tahu bahwa hal yang mereka lakukan salah.”</p>
107 <p>Yeri: “Terima kasih ya, Mina. Aku akan coba tegar sampai mendapatkan jawaban dari masalah ini.”</p>
107 <p>Yeri: “Terima kasih ya, Mina. Aku akan coba tegar sampai mendapatkan jawaban dari masalah ini.”</p>
108 <p>Mina: “Begitulah pentingnya sahabat. Aku senang bisa membantu mengatasi masalahmu.”</p>
108 <p>Mina: “Begitulah pentingnya sahabat. Aku senang bisa membantu mengatasi masalahmu.”</p>
109 <p>-</p>
109 <p>-</p>
110 <p>Nah, itu dia pembahasan tentang<strong>drama</strong>, khususnya mengenai unsur-unsur drama, struktur teks drama, ciri-ciri, hingga kaidah kebahasaan yang digunakan dalam drama. Setelah membaca pembahasan tadi, apakah kamu jadi paham? Biar pemahamanmu makin mantap lagi, kamu bisa loh tonton video pembahasannya yang menarik dan mudah dipahami di<a>ruangbelajar</a>!</p>
110 <p>Nah, itu dia pembahasan tentang<strong>drama</strong>, khususnya mengenai unsur-unsur drama, struktur teks drama, ciri-ciri, hingga kaidah kebahasaan yang digunakan dalam drama. Setelah membaca pembahasan tadi, apakah kamu jadi paham? Biar pemahamanmu makin mantap lagi, kamu bisa loh tonton video pembahasannya yang menarik dan mudah dipahami di<a>ruangbelajar</a>!</p>
111 <p>Referensi:</p>
111 <p>Referensi:</p>
112 <p>http://eprints.uny.ac.id/9929/3/BAB%202%20-%2007203241040.pdf</p>
112 <p>http://eprints.uny.ac.id/9929/3/BAB%202%20-%2007203241040.pdf</p>
113 <p>https://digilib.uns.ac.id/dokumen/download/37473/MTEwMjY5/Inferioritas-Perempuan-Dalam-Naskah-Ketoprak-Pedhut-Jatisrana-Karya-Bondan-Nusantara-Sebuah-Tinjauan-Feminisme-3.pdf</p>
113 <p>https://digilib.uns.ac.id/dokumen/download/37473/MTEwMjY5/Inferioritas-Perempuan-Dalam-Naskah-Ketoprak-Pedhut-Jatisrana-Karya-Bondan-Nusantara-Sebuah-Tinjauan-Feminisme-3.pdf</p>
114 <p>Sumber Gambar:</p>
114 <p>Sumber Gambar:</p>
115 <p>Gambar ‘Pementasan Drama’ [Daring]. Tautan: https://jepara.go.id/2019/11/25/srawung-teater-hadirkan-sebuah-pilihan/ (Diakses: 20 April 2022)</p>
115 <p>Gambar ‘Pementasan Drama’ [Daring]. Tautan: https://jepara.go.id/2019/11/25/srawung-teater-hadirkan-sebuah-pilihan/ (Diakses: 20 April 2022)</p>
116 <p>Artikel ini telah diperbarui pada 6 Maret 2024.</p>
116 <p>Artikel ini telah diperbarui pada 6 Maret 2024.</p>
117  
117