0 added
0 removed
Original
2026-01-01
Modified
2026-03-08
1
<p>Pernahkah kamu menonton acara lenong di televisi? Atau ketika salah seorang di acara televisi berinteraksi dengan penontonnya sambil berteriak: “Oi penontoooon!”</p>
1
<p>Pernahkah kamu menonton acara lenong di televisi? Atau ketika salah seorang di acara televisi berinteraksi dengan penontonnya sambil berteriak: “Oi penontoooon!”</p>
2
<p>Biasanya, sapaan tersebut akan dilanjutkan kalimat-kalimat berima seperti misalnya,</p>
2
<p>Biasanya, sapaan tersebut akan dilanjutkan kalimat-kalimat berima seperti misalnya,</p>
3
<p>“<strong>Jalan-jalan ke rumah nenek. Pulangnya membeli semangka. Muka boleh keliatan jelek. Tapi hati siapa yang sangka?</strong>”</p>
3
<p>“<strong>Jalan-jalan ke rumah nenek. Pulangnya membeli semangka. Muka boleh keliatan jelek. Tapi hati siapa yang sangka?</strong>”</p>
4
<p>Sehabis<em>ngomong</em>, para penonton bertepuk tangan riuh.</p>
4
<p>Sehabis<em>ngomong</em>, para penonton bertepuk tangan riuh.</p>
5
<p><strong>Pantun adalah salah satu puisi lama yang tersusun dari empat baris, berisi sampiran dan isi, dan mempunyai rima a-b-a-b.</strong>Oke, oke, kita akan bahas satu per satu ya. Dari mulai apa itu sampiran dan isi, rima, dan bagaimana cara cepat membuat pantun dengan mudah.</p>
5
<p><strong>Pantun adalah salah satu puisi lama yang tersusun dari empat baris, berisi sampiran dan isi, dan mempunyai rima a-b-a-b.</strong>Oke, oke, kita akan bahas satu per satu ya. Dari mulai apa itu sampiran dan isi, rima, dan bagaimana cara cepat membuat pantun dengan mudah.</p>
6
<p>Supaya lebih mudah membahas pengertian pantun serta berbagai kata aneh seperti “Sampiran” dan lainnya itu, lebih baik kita langsung membedah salah satu pantun berikut ya:</p>
6
<p>Supaya lebih mudah membahas pengertian pantun serta berbagai kata aneh seperti “Sampiran” dan lainnya itu, lebih baik kita langsung membedah salah satu pantun berikut ya:</p>
7
<p><strong>Jalan-Jalan ke rumah nenek</strong></p>
7
<p><strong>Jalan-Jalan ke rumah nenek</strong></p>
8
<p><strong>Pulangnya membeli semangka</strong></p>
8
<p><strong>Pulangnya membeli semangka</strong></p>
9
<p><strong>Muka boleh kelihatan jelek</strong></p>
9
<p><strong>Muka boleh kelihatan jelek</strong></p>
10
<p><strong>Tapi hati siapa yang sangka?</strong></p>
10
<p><strong>Tapi hati siapa yang sangka?</strong></p>
11
<p>Jika kita memecah pantun tersebut menjadi dua bagian, maka akan terlihat dua bagian yang berbeda. Bagian pertama akan seperti ini:</p>
11
<p>Jika kita memecah pantun tersebut menjadi dua bagian, maka akan terlihat dua bagian yang berbeda. Bagian pertama akan seperti ini:</p>
12
<p><strong>Jalan-jalan ke rumah nenek</strong></p>
12
<p><strong>Jalan-jalan ke rumah nenek</strong></p>
13
<p><strong>Pulangnya membeli semangka</strong></p>
13
<p><strong>Pulangnya membeli semangka</strong></p>
14
<p>Setelah kita pecah, bagian pertama ini, kalau kita perhatikan, seperti tidak mempunyai makna apapun. Dua baris awal ini lah yang disebut<strong>“sampiran”</strong>dalam puisi. Tujuan dari sampiran adalah memancing pembaca atau pendengar mengetahui “makna sebenarnya” yang akan disampaikan pada dua kalimat selanjutnya.</p>
14
<p>Setelah kita pecah, bagian pertama ini, kalau kita perhatikan, seperti tidak mempunyai makna apapun. Dua baris awal ini lah yang disebut<strong>“sampiran”</strong>dalam puisi. Tujuan dari sampiran adalah memancing pembaca atau pendengar mengetahui “makna sebenarnya” yang akan disampaikan pada dua kalimat selanjutnya.</p>
15
<p>Sementara bagian kedua dari pantun tadi:</p>
15
<p>Sementara bagian kedua dari pantun tadi:</p>
16
<p><strong>Muka boleh keliatan jelek</strong></p>
16
<p><strong>Muka boleh keliatan jelek</strong></p>
17
<p><strong>Tapi hati siapa yang sangka?</strong></p>
17
<p><strong>Tapi hati siapa yang sangka?</strong></p>
18
<p><strong>Kedua baris ini merupakan “isi” dalam pantun.</strong> Baris ini lah yang sebetulnya ingin disampaikan oleh sang pembuat pantun. Jadi, ketika pantun ini dibacakan, orang-orang akan menyadari “Oh, berarti hati seseorang lebih penting daripada fisiknya.” Bukannya “Oh, kalau dari rumah nenek kita akan beli semangka.”</p>
18
<p><strong>Kedua baris ini merupakan “isi” dalam pantun.</strong> Baris ini lah yang sebetulnya ingin disampaikan oleh sang pembuat pantun. Jadi, ketika pantun ini dibacakan, orang-orang akan menyadari “Oh, berarti hati seseorang lebih penting daripada fisiknya.” Bukannya “Oh, kalau dari rumah nenek kita akan beli semangka.”</p>
19
<p><strong>Baca juga:<a>Pengertian dan Ciri-Ciri Gurindam</a></strong></p>
19
<p><strong>Baca juga:<a>Pengertian dan Ciri-Ciri Gurindam</a></strong></p>
20
<p>Hal lain yang penting dalam pembuatan pantun adalah<strong>bagian rima a-b-a-b.</strong>Kalau kamu perhatikan, dalam pantun “Siapa Sangka” tadi, rima akhir kalimatnya berupa “ek”, “ka”, “ek”, dan “ka”. Pengulangan ini disebut dengan a-b-a-b.</p>
20
<p>Hal lain yang penting dalam pembuatan pantun adalah<strong>bagian rima a-b-a-b.</strong>Kalau kamu perhatikan, dalam pantun “Siapa Sangka” tadi, rima akhir kalimatnya berupa “ek”, “ka”, “ek”, dan “ka”. Pengulangan ini disebut dengan a-b-a-b.</p>
21
<p>Lain halnya kalau kamu membuat pantunnya menjadi;</p>
21
<p>Lain halnya kalau kamu membuat pantunnya menjadi;</p>
22
<p><strong>Jalan-jalan ke rumah nen<em>ek</em></strong></p>
22
<p><strong>Jalan-jalan ke rumah nen<em>ek</em></strong></p>
23
<p><strong>Pulangnya membeli cob<em>ek</em></strong></p>
23
<p><strong>Pulangnya membeli cob<em>ek</em></strong></p>
24
<p><strong>Muka boleh keliatan jel<em>ek</em></strong></p>
24
<p><strong>Muka boleh keliatan jel<em>ek</em></strong></p>
25
<p><strong>Udah jelek, peliharannya beb<em>ek</em></strong></p>
25
<p><strong>Udah jelek, peliharannya beb<em>ek</em></strong></p>
26
<p>Rima yang ada di atas termasuk ke dalam a-a-a-a. Itu artinya, sesuai dengan ciri-ciri pantun yang ada, kalimat tersebut<strong>BUKAN tergolong ke dalam pantun.</strong>Selain tidak termasuk ke dalam jenis pantun, isinya ngeledekin orang dan tidak nyambung. Jahat! Bisa-bisa orang<a><strong>yang baca jadi</strong><strong>sakit hati.</strong></a></p>
26
<p>Rima yang ada di atas termasuk ke dalam a-a-a-a. Itu artinya, sesuai dengan ciri-ciri pantun yang ada, kalimat tersebut<strong>BUKAN tergolong ke dalam pantun.</strong>Selain tidak termasuk ke dalam jenis pantun, isinya ngeledekin orang dan tidak nyambung. Jahat! Bisa-bisa orang<a><strong>yang baca jadi</strong><strong>sakit hati.</strong></a></p>
27
<p>Gimana, sudah mulai paham struktur dari pantun,<em>‘kan</em>?</p>
27
<p>Gimana, sudah mulai paham struktur dari pantun,<em>‘kan</em>?</p>
28
<p>Pertanyaan selanjutnya adalah,<strong>bagaimana cara membuat pantun dengan cepat dan mudah?</strong></p>
28
<p>Pertanyaan selanjutnya adalah,<strong>bagaimana cara membuat pantun dengan cepat dan mudah?</strong></p>
29
<p>Untuk bisa membuat pantun dengan kecepatan tinggi seperti artis lenong atau komedian di televisi, tentu hal yang perlu kamu pikirkan pertama kali adalah:<strong>tema!</strong></p>
29
<p>Untuk bisa membuat pantun dengan kecepatan tinggi seperti artis lenong atau komedian di televisi, tentu hal yang perlu kamu pikirkan pertama kali adalah:<strong>tema!</strong></p>
30
<p>Tentukan jenis pantun yang mau kamu buat. Kamu bisa saja membuat jenis pantun nasehat, pantun asmara, atau jenis pantun jenaka seperti pada contoh di atas. Setelahnya,<strong> buatlah isi</strong>(dua kalimat akhir) dari pantun kamu.</p>
30
<p>Tentukan jenis pantun yang mau kamu buat. Kamu bisa saja membuat jenis pantun nasehat, pantun asmara, atau jenis pantun jenaka seperti pada contoh di atas. Setelahnya,<strong> buatlah isi</strong>(dua kalimat akhir) dari pantun kamu.</p>
31
<p>Contohnya, kalau kamu ingin membuat pantun tentang “Larangan Membuang Sampah”, dua kalimat akhir (isi) dari pantun kamu bisa saja menjadi:</p>
31
<p>Contohnya, kalau kamu ingin membuat pantun tentang “Larangan Membuang Sampah”, dua kalimat akhir (isi) dari pantun kamu bisa saja menjadi:</p>
32
<p><strong>Siapakah ini yang buang sampah</strong></p>
32
<p><strong>Siapakah ini yang buang sampah</strong></p>
33
<p><strong>Apakah dia tidak memikrkan kotornya?</strong></p>
33
<p><strong>Apakah dia tidak memikrkan kotornya?</strong></p>
34
<p>Setelah mendapatkan dua baris ini, langkah selanjutnya adalah<strong>membuat sampiran pantunmu</strong>. Untuk membuat sampiran ini, kamu perlu memerhatikan rimanya terlebih dahulu. Carilah kata-kata yang berakhiran sama dengan “sampah” untuk kalimat pertama dan “kotornya” untuk kalimat kedua. Sehingga pantun kamu menjadi lengkap seperti ini:</p>
34
<p>Setelah mendapatkan dua baris ini, langkah selanjutnya adalah<strong>membuat sampiran pantunmu</strong>. Untuk membuat sampiran ini, kamu perlu memerhatikan rimanya terlebih dahulu. Carilah kata-kata yang berakhiran sama dengan “sampah” untuk kalimat pertama dan “kotornya” untuk kalimat kedua. Sehingga pantun kamu menjadi lengkap seperti ini:</p>
35
<p><strong>Pohon mangga banyak get<em>ah</em></strong></p>
35
<p><strong>Pohon mangga banyak get<em>ah</em></strong></p>
36
<p><strong>Di bawahnya ada si nyo<em>nya</em></strong></p>
36
<p><strong>Di bawahnya ada si nyo<em>nya</em></strong></p>
37
<p><strong>Siapakah ini yang buang samp<em>ah</em></strong></p>
37
<p><strong>Siapakah ini yang buang samp<em>ah</em></strong></p>
38
<p><strong>Apakah dia tidak memikirkan kotor<em>nya?</em></strong></p>
38
<p><strong>Apakah dia tidak memikirkan kotor<em>nya?</em></strong></p>
39
<p>Kalau kita rangkum, urutan membuat pantun dengan cara cepat adalah seperti ini:</p>
39
<p>Kalau kita rangkum, urutan membuat pantun dengan cara cepat adalah seperti ini:</p>
40
<p>Nah, ternyata semudah itu ya cara membuat pantun dengan cepat dan mudah. Coba, sekarang<em>share</em>pantun buatanmu di kolom komentar ya! Kalau kamu ingin memelajari materi seperti ini dengan menonton video beranimasi, lengkap dengan infografis, langsung aja tonton di<strong><a>ruangbelajar!</a></strong></p>
40
<p>Nah, ternyata semudah itu ya cara membuat pantun dengan cepat dan mudah. Coba, sekarang<em>share</em>pantun buatanmu di kolom komentar ya! Kalau kamu ingin memelajari materi seperti ini dengan menonton video beranimasi, lengkap dengan infografis, langsung aja tonton di<strong><a>ruangbelajar!</a></strong></p>
41
<p><strong>Referensi</strong>Kosasih, Engkos. 2014. Cerdas Berbahasa Indonesia untuk SMA/MA Kelas 11. Jakarta: Erlangga</p>
41
<p><strong>Referensi</strong>Kosasih, Engkos. 2014. Cerdas Berbahasa Indonesia untuk SMA/MA Kelas 11. Jakarta: Erlangga</p>
42
<p><em><strong>Artikel diperbarui 2 Desember 2020</strong></em></p>
42
<p><em><strong>Artikel diperbarui 2 Desember 2020</strong></em></p>
43
43