HTML Diff
62 added 13 removed
Original 2026-01-01
Modified 2026-03-08
1 - <blockquote><p><em>Artikel Sejarah Kelas XII ini akan membahas tentang sejarah terjadinya revolusi hijau di dunia dan di Indonesia.</em></p>
1 + <blockquote><p><em><strong><a>Artikel Sejarah kelas 12</a></strong>ini akan membahas tentang sejarah terjadinya revolusi hijau di dunia dan di Indonesia. Yuk, pelajari bersama!</em></p>
2 </blockquote><p>-</p>
2 </blockquote><p>-</p>
3 - <p>Bahagia<em>deh</em>rasanya jika kamu yang tinggal di daerah perkotaan melihat persawahan yang sudah menguning siap untuk dipanen. Ya iyalah. Kalau di kota-kota besar pasti ngeliatnya kalau bukan kemacetan pasti polusi<em>kan</em>?<em>Nah</em>, di artikel ini kita akan membahas sejarah yang berkaitan dengan dunia pertanian<em>nih</em>, Squad. Penasaran<em>kan</em>?<em>Keep scroll</em>ya!</p>
3 + <p>Ada rasa bahagia tersendiri saat kamu-terutama yang sehari-harinya tinggal di kota-melihat hamparan sawah yang mulai menguning, siap dipanen. Pemandangan seperti itu rasanya menenangkan mata dan pikiran. Soalnya, kalau di kota besar, yang sering kita temui justru kemacetan panjang, hiruk-pikuk kendaraan, dan polusi udara yang bikin penat.</p>
4 - <p>Kamu pernah mendengar tentang Revolusi Hijau<em>nggak</em>? Ini bukan sebuah gerakan dengan pakaian hijau-hijau<em>lho</em>ya.<strong>Revolusi Hijau</strong>merupakan sebuah<strong>usaha dalam mengembangkan teknolosi pertanian yang bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan</strong>. Revolusi ini dengan kata lain<strong>mengubah pertanian</strong>yang sebelumnya menggunakan<strong>teknologi tradisional, menjadi pertanian dengan teknologi modern</strong>.</p>
4 + <p>Tapi, di balik pemandangan sawah yang terlihat indah, ternyata tersimpan cerita panjang tentang bagaimana manusia berusaha memenuhi kebutuhan pangan, lho. Dunia pertanian mengalami banyak perubahan besar, salah satunya melalui sebuah peristiwa penting yang dikenal sebagai<strong>Revolusi Hijau</strong>.</p>
 
5 + <p>Nah, di artikel ini kita akan membahas sejarah yang berkaitan dengan dunia pertanian, mulai dari kemunculannya di dunia, hingga dampaknya bagi pertanian di Indonesia. Penasaran kan?<em>Keep scroll</em>ya!</p>
 
6 + <h2>Pengertian Revolusi Hijau</h2>
 
7 + <p>Kamu pernah mendengar tentang Revolusi Hijau nggak? Tenang, ini bukan gerakan orang-orang pakai baju hijau atau kampanye lingkungan, ya.</p>
 
8 + <p><strong>Revolusi Hijau adalah</strong><strong>sebuah upaya besar untuk mengembangkan teknologi di bidang pertanian</strong><strong>dengan tujuan utama meningkatkan produksi pangan</strong>. Revolusi ini muncul sebagai jawaban atas masalah kekurangan pangan dan meningkatnya jumlah penduduk di berbagai negara, terutama setelah Perang Dunia II.</p>
 
9 + <p>Melalui Revolusi Hijau, cara bertani yang sebelumnya masih tradisional mulai mengalami perubahan besar. Petani tidak lagi hanya mengandalkan alat sederhana dan cara alami, tetapi mulai menggunakan<strong>teknologi pertanian modern</strong>. Contohnya seperti penggunaan bibit unggul, pupuk kimia, pestisida, sistem irigasi yang lebih teratur, hingga alat-alat pertanian modern.</p>
 
10 + <p>Dengan kata lain, Revolusi Hijau mengubah sistem pertanian dari yang awalnya berskala kecil dan tradisional menjadi lebih modern, efisien, dan produktif. Perubahan inilah yang kemudian berdampak besar pada meningkatnya hasil panen dan ketersediaan pangan di banyak negara, termasuk Indonesia.</p>
 
11 + <h2>Latar Belakang Terjadinya Revolusi Hijau</h2>
 
12 + <p>Revolusi Hijau tidak muncul begitu saja. Ada berbagai kondisi global yang mendorong lahirnya upaya besar untuk meningkatkan produksi pangan di dunia, di antaranya:</p>
 
13 + <h3>1. Krisis Pangan Pasca Perang Dunia II</h3>
 
14 + <p>Setelah Perang Dunia II berakhir, yaitu sekitar tahun 1945, banyak negara mengalami kehancuran besar, termasuk di sektor pertanian. Lahan pertanian rusak, alat produksi terbatas, dan sistem distribusi pangan terganggu. Akibatnya, persediaan makanan menjadi sangat terbatas, sementara kebutuhan pangan terus meningkat.</p>
 
15 + <p>Kondisi ini menimbulkan krisis pangan di berbagai wilayah dunia. Banyak negara mulai khawatir tidak mampu memenuhi kebutuhan makan penduduknya sendiri jika cara bertani tidak segera diperbaiki.</p>
 
16 + <h3>2. Pertumbuhan Penduduk Dunia yang Pesat</h3>
 
17 + <p>Selain krisis pangan, dunia juga menghadapi ledakan jumlah penduduk. Jumlah manusia meningkat jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan pertanian tradisional dalam menghasilkan bahan makanan.</p>
 
18 + <p>Misalnya, pada pertengahan abad ke-20, jumlah penduduk dunia meningkat tajam, terutama di negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Ketika kebutuhan pangan meningkat, luas lahan pertanian justru tidak bertambah secara signifikan. Nah, kalau cara bertani tetap menggunakan metode lama, produksi pangan dikhawatirkan tidak akan mampu mengejar pertumbuhan penduduk.</p>
5 <p><strong>Thomas Robert Malthus</strong>menyatakan bahwa<strong>Revolusi Hijau terjadi karena semakin meningkatnya jumlah penduduk</strong>di dunia, namun<strong>tidak diiringi dengan peningkatan jumlah produksi pangan</strong>.</p>
19 <p><strong>Thomas Robert Malthus</strong>menyatakan bahwa<strong>Revolusi Hijau terjadi karena semakin meningkatnya jumlah penduduk</strong>di dunia, namun<strong>tidak diiringi dengan peningkatan jumlah produksi pangan</strong>.</p>
6 - <p><em>Nah</em>, untuk mengatasi masalah tersebut, ada beberapa lembaga yang melakukan penelitian seperti<em>Ford Foundation</em>dan<em>Rockerfeller Foundation</em>. Lembaga-lembaga tersebut melakukan penelitian di negara-negara berkembang. Meksiko, Filipina, India, dan Pakistan menjadi objek penelitian mereka. Kita ambil contohnya di negara Meksiko dan Filipina ya.</p>
20 + <h3>3. Kekhawatiran Akan Kelaparan Massal di Negara Berkembang</h3>
 
21 + <p>Kondisi paling parah dirasakan oleh negara-negara berkembang, khususnya di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Banyak wilayah di negara-negara tersebut mengalami hasil panen yang rendah, ketergantungan pada iklim dan musim, serta keterbatasan teknologi pertanian.</p>
 
22 + <p>Sebagai contoh, beberapa negara di Asia Selatan dan Asia Tenggara sempat diprediksi akan mengalami kelaparan massal karena produksi pangan yang tidak mencukupi. Di Afrika dan Amerika Latin, kekeringan dan rendahnya produktivitas pertanian menyebabkan jutaan orang kekurangan pangan.</p>
 
23 + <p>Nah, untuk mengatasi masalah tersebut, ada beberapa lembaga yang melakukan penelitian seperti<em>Ford Foundation</em>dan<em>Rockerfeller Foundation</em>. Lembaga-lembaga tersebut melakukan penelitian di negara-negara berkembang. Meksiko, Filipina, India, dan Pakistan menjadi objek penelitian mereka. Kita ambil contohnya di negara Meksiko dan Filipina ya.</p>
7 <p><strong>Baca Juga:<a>Peran Indonesia dalam Menjaga Perdamaian di Asia</a></strong></p>
24 <p><strong>Baca Juga:<a>Peran Indonesia dalam Menjaga Perdamaian di Asia</a></strong></p>
8 - <p>Pertama, kita ke Meksiko dulu. Di tahun 1944, ada sebuah pusat penelitian bening jagung yang didukung<em>Rockerfeller Foundation</em>. Apakah penelitian tersebut berhasil?<em>Wuuoooh</em>sudah tentu<em>dong</em>. Penelitian tersebut berhasil menemukan beberapa varietas baru dari hasil jagung yang hasilnya di atas rata-rata varietas lokal Meksiko.</p>
25 + <p>-</p>
9 - <p>Sekarang kita beralih ke Filipina ya.<em>Nah</em>pada tahun 1962,<em>Rockerfellar Foundation</em>dan<em>Ford Foundation</em>mendirikan sebuah badan penelitian tanaman di Los Banos. Nama badan tersebut ialah<em>International Rice Research Institute</em>(IRRI). Apa<em>sih</em>yang dilakukan IRRI? Simak kata Rogu berikut ya.</p>
26 + <p>Sebelum kita bahas materi revolusi hijau lebih lanjut, kalo masih ada poin-poin yang belum kamu mengerti, mending belajar sama ahlinya, deh. Belajar bareng kakak-kakak pengajar di<a><strong>Ruangguru Privat Sejarah</strong></a>misalnya.</p>
10 - <p><em>Gimana</em>dengan Indonesia pada waktu itu? Apa sudah ada Revolusi Hijau?</p>
27 + <p>Belajar nggak cuma menyenangkan, tapi kamu juga bakal diajari konsepnya sampai paham! Para pengajar di Ruangguru Privat juga sudah terstandarisasi kualitasnya, loh. Kamu juga bisa pilih nih, mau diajarkan secara langsung (<em>offline</em>) atau daring (<em>online</em>). Fleksibel, kan? Untuk info lebih lanjut, cuss klik link berikut!</p>
11 - <p><em>Yaps</em>, pada masa Orde Baru, tepatnya sejak dilaksanakannya<strong>Pelita I di tahun 1969</strong>, Revolusi Hijau diterapkan dan fo<strong>kus pada peningkatan hasil pertanian (beras)</strong>. Pelaksanaannya ada 4 program yakni<strong>intensifikasi pertanian, ekstensifikasi pertanian, diversifikasi pertanian, dan rehabilitasi</strong>. Kita bahas satu per satu ya</p>
28 + <h2>Penelitian dan Tokoh Revolusi Hijau</h2>
12 - <p>Pertama,<strong>intensifikasi pertanian</strong>. Ini diterapkan dalam bentuk<strong>Panca Usaha Tani</strong>yakni<strong>pemilihan bibit unggul</strong>,<strong>pengaturan irigasi</strong>,<strong>pemupukan</strong>,<strong>teknik pengolahan tanah</strong>, dan<strong>pemberantasan hama</strong>. Kedua,<strong>ekstensifikasi</strong><strong>pertanian</strong>. Langkah ini merupakan<strong>perluasan area pertanian yang sebelumnya belum dimanfaatkan</strong>. Contohnya itu seperti pemanfaatan hutan, lahan gambut, atau padang rumput untuk digunakan sebagai lahan pertanian.</p>
29 + <p>Pertama, kita ke Meksiko dulu.<strong>Di tahun 1944</strong>, ada sebuah pusat penelitian bening jagung yang didukung<strong><em>Rockerfeller Foundation</em></strong>. Apakah penelitian tersebut berhasil?<em>Wuuoooh</em>sudah tentu dong. Penelitian tersebut berhasil menemukan beberapa varietas baru dari hasil jagung yang hasilnya di atas rata-rata varietas lokal Meksiko.</p>
13 - <p>Ketiga,<strong>diversifikasi pertanian</strong>. Ini dapat katakan<strong>pengalokasian sumber daya pertanian ke beberapa aktivitas lainnya yang menguntungkan</strong>, baik secara ekonomi atau lingkungan. Contohnya<strong>menanamkan beberapa jenis tanaman dalam satu lahan atau memelihara beberapa hewan ternak dalam satu kandang</strong>. Nah, yang terakhir,<strong>rehabilitasi</strong>. Rehabilitasi ini merupakan<strong>sebuah usaha meningkatkan hasil pertanian dengan cara memperbarui segala hal terkait pertanian</strong>. Misalnya memperbaiki sawah tadah hujan menjadi sawah irigasi.</p>
30 + <p>Sekarang kita beralih ke Filipina ya. Nah,<strong>pada tahun 1962</strong>,<em>Rockerfellar Foundation</em>dan<em>Ford Foundation</em>mendirikan sebuah<strong>badan penelitian tanaman di Los Banos</strong>. Nama badan tersebut ialah<strong><em>International Rice Research Institute</em>(IRRI)</strong>.</p>
14 - <p><em>Nah</em>, gimana nih Squad? Masih penasaran dengan sejarah terjadinya Revolusi Hijau? Simak ulasannya lebih lengkap di<a><strong>ruangbelajar</strong></a>ya. Ada video belajar dengan animasi keren yang bakal membantu kamu dalam belajar. Daftar sekarang juga ya.</p>
31 + <p>Apa sih yang dilakukan IRRI? Intinya, IRRI ini<strong>meneliti tentang pengembangan varietas padi yang lebih produktif, tahan banjir, dan tahan kekeringan</strong>. IRRI juga menjaga dan menyaring lebih dari 132 ribu jenis padi untuk keanekaragaman genetik.</p>
15 - <p> <a></a></p>
32 + <p>Nah, kalau kamu penasaran dengan tokoh Revolusi Hijau, yuk kenalan dengan<strong>Norman Ernest Borlaug</strong>. Ia merupakan seorang ahli agronomi dan genetika tanaman, yaitu ilmu yang mempelajari cara meningkatkan kualitas dan hasil tanaman melalui penelitian ilmiah. Ia dikenal luas sebagai Bapak Revolusi Hijau Dunia karena jasanya yang sangat besar dalam mengatasi krisis pangan global.</p>
16 - <p>Referensi:</p>
33 + <p>Peran utama Norman Borlaug dalam Revolusi Hijau adalah mengembangkan varietas gandum unggul yang memiliki beberapa kelebihan, seperti hasil panen tinggi, tahan terhadap penyakit, dan batang pendek sehingga nggak mudah roboh. Varietas gandum ini kemudian dikembangkan dan diuji di berbagai negara, terutama di wilayah yang rawan kekurangan pangan.</p>
 
34 + <h2>Revolusi Hijau di Indonesia</h2>
 
35 + <p>Gimana dengan Indonesia pada waktu itu? Apa sudah ada Revolusi Hijau?</p>
 
36 + <p><em>Yaps</em>, pada masa Orde Baru, tepatnya sejak dilaksanakannya<strong>Pelita I di tahun 1969</strong>, Revolusi Hijau diterapkan dan<strong>fokus pada peningkatan hasil pertanian (beras)</strong>. Pelaksanaannya ada 4 program yakni<strong>intensifikasi pertanian, ekstensifikasi pertanian, diversifikasi pertanian, dan rehabilitasi</strong>. Kita bahas satu per satu ya.</p>
 
37 + <p><strong>Baca Juga:<a>Kehidupan Politik dan Ekonomi Masa Orde Baru</a></strong></p>
 
38 + <h3>1. Intensifikasi Pertanian</h3>
 
39 + <p>Pertama,<strong>intensifikasi pertanian</strong>. Ini diterapkan dalam bentuk<strong>Panca Usaha Tani</strong>yakni<strong>pemilihan bibit unggul</strong>,<strong>pengaturan irigasi</strong>,<strong>pemupukan</strong>,<strong>teknik pengolahan tanah</strong>, dan<strong>pemberantasan hama</strong>.</p>
 
40 + <h3>2. Ekstensifikasi Pertanian</h3>
 
41 + <p>Kedua,<strong>ekstensifikasi</strong><strong>pertanian</strong>. Langkah ini merupakan<strong>perluasan area pertanian yang sebelumnya belum dimanfaatkan</strong>. Contohnya itu seperti pemanfaatan hutan, lahan gambut, atau padang rumput untuk digunakan sebagai lahan pertanian.</p>
 
42 + <h3>3. Diversifikasi Pertanian</h3>
 
43 + <p>Ketiga,<strong>diversifikasi pertanian</strong>. Ini dapat katakan<strong>pengalokasian sumber daya pertanian ke beberapa aktivitas lainnya yang menguntungkan</strong>, baik secara ekonomi atau lingkungan. Contohnya,<strong>menanamkan beberapa jenis tanaman dalam satu lahan atau memelihara beberapa hewan ternak dalam satu kandang</strong>.</p>
 
44 + <h3>4. Rehabilitasi</h3>
 
45 + <p>Nah, yang terakhir,<strong>rehabilitasi</strong>. Rehabilitasi ini merupakan<strong>sebuah usaha meningkatkan hasil pertanian dengan cara memperbarui segala hal terkait pertanian</strong>. Misalnya memperbaiki sawah tadah hujan menjadi sawah irigasi.</p>
 
46 + <h2>Dampak Revolusi Hijau di Indonesia</h2>
 
47 + <p>Revolusi Hijau membawa perubahan besar dalam sistem pertanian Indonesia. Namun, di sisi lain, ada juga dampak negatif yang muncul dalam jangka panjang. Yuk, kita simak!</p>
 
48 + <h3>Dampak Positif Revolusi Hijau di Indonesia</h3>
 
49 + <h4>1. Produksi Padi Meningkat Pesat</h4>
 
50 + <p>Salah satu dampak paling nyata dari Revolusi Hijau adalah meningkatnya produksi padi. Dengan penggunaan varietas padi unggul, pupuk kimia, dan irigasi yang lebih baik, petani data panen lebih sering, bahkan 2-3 kali setahun, sehingga sangat membantu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Indonesia yang jumlahnya terus bertambah.</p>
 
51 + <h4>2. Indonesia Tidak Bergantung pada Impor Beras</h4>
 
52 + <p>Pada masa awal penerapan Revolusi Hijau, Indonesia sempat mencapai swasembada beras. Artinya prgram ini mampu memenuhi kebutuhan beras dari produksi dalam negeri. Hal tersebut juga berdapak pada ketahanan pangan nasional yang semakin baik, srta meningkatkan rasa percaya diri bangsa dalam sektor pertanian.</p>
 
53 + <h4>3. Pendapatan Petani Meningkat</h4>
 
54 + <p>Dengan hasil panen yang lebih banyak, banyak petani mengalami peningkatan pendapatan, perbaikan taraf hidup, dan kesempatan ekonomi yang lebih baik, terutama di pedesaan.</p>
 
55 + <h3>Dampak Negatif Revolusi Hijau di Indonesia</h3>
 
56 + <p>Meski membawa banyak manfaat, Revolusi Hijau juga menimbulkan berbagai masalah, terutama jika diterapkan secara terus-menerus tanpa pengelolaan yang baik.</p>
 
57 + <h4>1. Penurunan Kualitas Tanah</h4>
 
58 + <p>Penggunaan pupuk kimia secara berlebihan dalam jangka Panjang, ternyata dapat menyebabkan tanah menjadi keras, kesuburan alami tanah menurun, dan kematian pada mikroorganisme tanah yang bermanfaat. Akibatnya, tanah menjadi ketergantungan pupuk, sehingga ketika petani nggak menggunakan pupuk Kimia, hasil panen justru menurun.</p>
 
59 + <h4>2. Pencemaran Lingkungan</h4>
 
60 + <p>Pemakaian pestisida dan pupuk kimia yang berlebihan juga dapat mencemari tanah, air sungai, dan air tanah. Ujung-ujungnya, hal ini juga berbahaya bagi kesehatan manusia, hewan air, dan keseimbangan ekosistem lingkungan sekitar sawah.</p>
 
61 + <h4>3. Hilangnya Keanekaragaman Hayati</h4>
 
62 + <p>Sebelum Revolusi Hijau, petani menanam berbagai jenis padi lokal. Namun setelah Revolusi Hijau, hanya beberapa varietas unggul yang digunakan secara massal. Akibatnya, keanekaragaman hayati pertanian berkurang, padahal varietas lokal biasanya lebih tahan terhadap kondisi alam tertentu.</p>
 
63 + <p>-</p>
 
64 + <p>Nah, gimana nih gais? Masih penasaran dengan sejarah terjadinya Revolusi Hijau? Simak ulasannya lebih lengkap di<a><strong>ruangbelajar</strong></a>ya. Ada video belajar dengan animasi keren yang bakal membantu kamu dalam belajar. Daftar sekarang juga ya.</p>
 
65 + <p><strong>Referensi:</strong></p>
17 <p>Sh. Musthofa, Suryandari, Tutik Mulyati. 2009.<em>Sejarah Untuk SMA/MA Kelas XII Program IPA.</em>Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.</p>
66 <p>Sh. Musthofa, Suryandari, Tutik Mulyati. 2009.<em>Sejarah Untuk SMA/MA Kelas XII Program IPA.</em>Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.</p>
18 <p>Hapsari, Ratna dan Adil M.<em>Sejarah untuk SMA/MA Kelas XII Kurikulum 2013 Kelompok Peminatan Ilmu Pengetahuan Sosial</em>. Jakarta: Erlangga.</p>
67 <p>Hapsari, Ratna dan Adil M.<em>Sejarah untuk SMA/MA Kelas XII Kurikulum 2013 Kelompok Peminatan Ilmu Pengetahuan Sosial</em>. Jakarta: Erlangga.</p>
19  
68