HTML Diff
0 added 0 removed
Original 2026-01-01
Modified 2026-03-08
1 <blockquote><p><em><a><strong>Artikel Bahasa Indonesia kelas 7</strong></a>ini akan menjelaskan tentang fabel, mulai dari pengertian, struktur, teknik menulis, ciri-ciri, jenis dan contoh fabel. Mari kita pelajari bersama!</em></p>
1 <blockquote><p><em><a><strong>Artikel Bahasa Indonesia kelas 7</strong></a>ini akan menjelaskan tentang fabel, mulai dari pengertian, struktur, teknik menulis, ciri-ciri, jenis dan contoh fabel. Mari kita pelajari bersama!</em></p>
2 </blockquote><p><em>-</em></p>
2 </blockquote><p><em>-</em></p>
3 <p>Hai, guys, kali ini kita akan belajar tentang teks cerita fabel. Sebelumnya, apakah kamu pernah pergi ke kebun binatang? Di kebun binatang, kamu bisa menyaksikan tingkah para binatang yang lucu-lucu dan aneh-aneh, ya.</p>
3 <p>Hai, guys, kali ini kita akan belajar tentang teks cerita fabel. Sebelumnya, apakah kamu pernah pergi ke kebun binatang? Di kebun binatang, kamu bisa menyaksikan tingkah para binatang yang lucu-lucu dan aneh-aneh, ya.</p>
4 <p>Kira-kira, apa kamu pernah terpikir untuk mengangkat kehidupan mereka ke dalam sebuah cerita fiksi. Nah, cerita fiksi yang para tokohnya itu binatang, dinamakan cerita fabel, lho. Sekarang, kita bahas lebih lengkap lagi yuk tentang pengertian, struktur, dan contoh fabel!</p>
4 <p>Kira-kira, apa kamu pernah terpikir untuk mengangkat kehidupan mereka ke dalam sebuah cerita fiksi. Nah, cerita fiksi yang para tokohnya itu binatang, dinamakan cerita fabel, lho. Sekarang, kita bahas lebih lengkap lagi yuk tentang pengertian, struktur, dan contoh fabel!</p>
5 <p>Apa itu cerita fabel?<strong>Cerita fabel adalah cerita tentang kehidupan binatang yang berperilaku menyerupai manusia.</strong></p>
5 <p>Apa itu cerita fabel?<strong>Cerita fabel adalah cerita tentang kehidupan binatang yang berperilaku menyerupai manusia.</strong></p>
6 <p>Tentunya, fabel termasuk jenis cerita fiksi, bukan tentang kehidupan nyata. Cerita fabel sering disebut cerita moral karena pesan yang ada di dalamnya berkaitan erat dengan moral.</p>
6 <p>Tentunya, fabel termasuk jenis cerita fiksi, bukan tentang kehidupan nyata. Cerita fabel sering disebut cerita moral karena pesan yang ada di dalamnya berkaitan erat dengan moral.</p>
7 <p>Baca Juga:<a>Contoh Cerita Fabel Singkat beserta Pesan Moralnya</a></p>
7 <p>Baca Juga:<a>Contoh Cerita Fabel Singkat beserta Pesan Moralnya</a></p>
8 <h2>Ciri-Ciri Fabel</h2>
8 <h2>Ciri-Ciri Fabel</h2>
9 <p>Nah, fabel punya karakteristik atau ciri-ciri yang bisa kamu pahami. Di antaranya:</p>
9 <p>Nah, fabel punya karakteristik atau ciri-ciri yang bisa kamu pahami. Di antaranya:</p>
10 <ol><li>Tokoh-tokohnya berupa binatang yang wataknya menyerupai manusia.</li>
10 <ol><li>Tokoh-tokohnya berupa binatang yang wataknya menyerupai manusia.</li>
11 <li>Alur ceritanya singkat dan sederhana.</li>
11 <li>Alur ceritanya singkat dan sederhana.</li>
12 <li>Karakter tokoh ada yang baik dan buruk.</li>
12 <li>Karakter tokoh ada yang baik dan buruk.</li>
13 <li>Tema dan pesan moral fabel terkadang dituliskan dalam cerita.</li>
13 <li>Tema dan pesan moral fabel terkadang dituliskan dalam cerita.</li>
14 <li>Pendahuluan cerita sangat singkat dan tidak berbelit-belit.</li>
14 <li>Pendahuluan cerita sangat singkat dan tidak berbelit-belit.</li>
15 </ol><h2>Struktur Fabel</h2>
15 </ol><h2>Struktur Fabel</h2>
16 <p>Dalam menulis cerita fabel, kamu harus memperhatikan struktur-strukturnya, loh. Tujuannya supaya, cerita yang kamu sampaikan mudah dimengerti pembaca. Beberapa struktur dalam menulis cerita fabel, antara lain:</p>
16 <p>Dalam menulis cerita fabel, kamu harus memperhatikan struktur-strukturnya, loh. Tujuannya supaya, cerita yang kamu sampaikan mudah dimengerti pembaca. Beberapa struktur dalam menulis cerita fabel, antara lain:</p>
17 <h3>1. Orientasi</h3>
17 <h3>1. Orientasi</h3>
18 <p>Orientasi adalah<strong>bagian permulaan</strong>pada sebuah cerita fabel yang berisikan dengan pengenalan cerita fabel tersebut yang diantaranya seperti pengenalan tokoh, pengenalan latar tempat dan waktu, pengenalan background atau tema dan lain sebagainya.</p>
18 <p>Orientasi adalah<strong>bagian permulaan</strong>pada sebuah cerita fabel yang berisikan dengan pengenalan cerita fabel tersebut yang diantaranya seperti pengenalan tokoh, pengenalan latar tempat dan waktu, pengenalan background atau tema dan lain sebagainya.</p>
19 <h3>2. Komplikasi</h3>
19 <h3>2. Komplikasi</h3>
20 <p>Komplikasi adalah<strong>klimaks pada sebuah cerita</strong>yang berisikan mengenai puncak masalah yang dialami dan dirasakan oleh tokoh.</p>
20 <p>Komplikasi adalah<strong>klimaks pada sebuah cerita</strong>yang berisikan mengenai puncak masalah yang dialami dan dirasakan oleh tokoh.</p>
21 <h3>3. Resolusi</h3>
21 <h3>3. Resolusi</h3>
22 <p>Resolusi adalah bagian dari teks yang berisikan dengan<strong>pemecahan permasalahan</strong>yang dialami dan dirasakan oleh tokoh.</p>
22 <p>Resolusi adalah bagian dari teks yang berisikan dengan<strong>pemecahan permasalahan</strong>yang dialami dan dirasakan oleh tokoh.</p>
23 <h3>4. Koda</h3>
23 <h3>4. Koda</h3>
24 <p>Koda adalah bagian terakhir dari teks cerita yang berisikan<strong>pesan-pesan dan atau amanat</strong>yang terdapat didalam cerita fabel itu sendiri.</p>
24 <p>Koda adalah bagian terakhir dari teks cerita yang berisikan<strong>pesan-pesan dan atau amanat</strong>yang terdapat didalam cerita fabel itu sendiri.</p>
25 <p>Jika sudah memahami strukturnya, kamu bisa langsung membuatnya. Di bawah ini ada contoh penulisan cerita fabel.</p>
25 <p>Jika sudah memahami strukturnya, kamu bisa langsung membuatnya. Di bawah ini ada contoh penulisan cerita fabel.</p>
26 <p>Baca Juga:<a>Pengertian Teks Berita, Unsur, Struktur, Jenis &amp; Kaidah Kebahasaannya</a></p>
26 <p>Baca Juga:<a>Pengertian Teks Berita, Unsur, Struktur, Jenis &amp; Kaidah Kebahasaannya</a></p>
27 <h2>Unsur Intrinsik Fabel</h2>
27 <h2>Unsur Intrinsik Fabel</h2>
28 <p>Unsur intrinsik fabel adalah<strong>unsur pembangun yang ada dalam cerita fabel</strong>. Unsur intrinsik fabel terdiri dari tokoh, watak, latar, alur, sudut pandang, tema cerita fabel, dan amanat.</p>
28 <p>Unsur intrinsik fabel adalah<strong>unsur pembangun yang ada dalam cerita fabel</strong>. Unsur intrinsik fabel terdiri dari tokoh, watak, latar, alur, sudut pandang, tema cerita fabel, dan amanat.</p>
29 <h3><strong>1. Tokoh</strong></h3>
29 <h3><strong>1. Tokoh</strong></h3>
30 <p>Tokoh adalah peran yang ada dalam suatu cerita dan digambarkan seperti apa karakter atau watak dari tokoh tersebut.</p>
30 <p>Tokoh adalah peran yang ada dalam suatu cerita dan digambarkan seperti apa karakter atau watak dari tokoh tersebut.</p>
31 <h3><strong>2. Watak</strong></h3>
31 <h3><strong>2. Watak</strong></h3>
32 <p>Tiap tokoh pasti punya watak yang membedakannya dengan karakter yang lain. Watak adalah sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku.</p>
32 <p>Tiap tokoh pasti punya watak yang membedakannya dengan karakter yang lain. Watak adalah sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku.</p>
33 <h3><strong>3. Latar</strong></h3>
33 <h3><strong>3. Latar</strong></h3>
34 <p>Latar adalah keterangan tentang waktu, ruang, dan suasana terjadinya lakuan dalam sebuah karya sastra. Latar berfungsi untuk menyampaikan informasi yang jelas tentang situasi dalam sebuah cerita.</p>
34 <p>Latar adalah keterangan tentang waktu, ruang, dan suasana terjadinya lakuan dalam sebuah karya sastra. Latar berfungsi untuk menyampaikan informasi yang jelas tentang situasi dalam sebuah cerita.</p>
35 <h3><strong>4. Alur</strong></h3>
35 <h3><strong>4. Alur</strong></h3>
36 <p>Alur adalah proses berjalannya cerita. Ada tiga macam alur dalam suatu cerita yaitu:</p>
36 <p>Alur adalah proses berjalannya cerita. Ada tiga macam alur dalam suatu cerita yaitu:</p>
37 <ul><li><strong>Alur maju:</strong>cerita yang urutan peristiwanya dari awal sampai akhir.</li>
37 <ul><li><strong>Alur maju:</strong>cerita yang urutan peristiwanya dari awal sampai akhir.</li>
38 <li><strong>Alur mundur:</strong>cerita yang disampaikan menoleh ke belakang, atau menceritakan akhir cerita terlebih dahulu dan kemudian berjalan mundur hingga ke awal cerita.</li>
38 <li><strong>Alur mundur:</strong>cerita yang disampaikan menoleh ke belakang, atau menceritakan akhir cerita terlebih dahulu dan kemudian berjalan mundur hingga ke awal cerita.</li>
39 <li><strong>Alur campuran:</strong>cerota yang disampaikan meloncat-loncat antara masa lalu dan masa kini.</li>
39 <li><strong>Alur campuran:</strong>cerota yang disampaikan meloncat-loncat antara masa lalu dan masa kini.</li>
40 </ul><h3><strong>5. Sudut Pandang</strong></h3>
40 </ul><h3><strong>5. Sudut Pandang</strong></h3>
41 <p>Sudut pandang adalah cara yang digunakan pengarang dalam bercerita. Sudut pandang terbagi ke dalam dua jenis, yaitu:</p>
41 <p>Sudut pandang adalah cara yang digunakan pengarang dalam bercerita. Sudut pandang terbagi ke dalam dua jenis, yaitu:</p>
42 <ul><li><strong>Sudut pandang orang pertama:</strong>pengarang seolah-olah ada di dalam cerita yang ditulis. Biasanya menggunakan kata “aku” atau “saya”.</li>
42 <ul><li><strong>Sudut pandang orang pertama:</strong>pengarang seolah-olah ada di dalam cerita yang ditulis. Biasanya menggunakan kata “aku” atau “saya”.</li>
43 <li><strong>Sudut padang orang ketiga:</strong>pengarang berada di luar cerita atau seolah-olah menjadi dalang pencerita. Cirinya biasanya menggunakan kata “ia”, “dia”, “mereka”, atau nama tokoh.</li>
43 <li><strong>Sudut padang orang ketiga:</strong>pengarang berada di luar cerita atau seolah-olah menjadi dalang pencerita. Cirinya biasanya menggunakan kata “ia”, “dia”, “mereka”, atau nama tokoh.</li>
44 </ul><h3><strong>6. Tema</strong></h3>
44 </ul><h3><strong>6. Tema</strong></h3>
45 <p>Tema adalah gagasan utama yang disampaikan di dalam cerita. Biasanya tema di dalam cerita berbentuk kata atau gabungan kata. Contohnya seperti kekeluargaan, ketuhanan, persahabatan, tanggung jawab, dan sebagainya.</p>
45 <p>Tema adalah gagasan utama yang disampaikan di dalam cerita. Biasanya tema di dalam cerita berbentuk kata atau gabungan kata. Contohnya seperti kekeluargaan, ketuhanan, persahabatan, tanggung jawab, dan sebagainya.</p>
46 <h3><strong>7. Amanat</strong></h3>
46 <h3><strong>7. Amanat</strong></h3>
47 <p>Amanat adalah pesan moral yang bertujuan agar pembaca bisa belajar melalui cerita.</p>
47 <p>Amanat adalah pesan moral yang bertujuan agar pembaca bisa belajar melalui cerita.</p>
48 <p><strong>Baca Juga:<a>Perbedaan Cerita Fabel dan Legenda: Pengertian, Ciri, Contoh</a></strong></p>
48 <p><strong>Baca Juga:<a>Perbedaan Cerita Fabel dan Legenda: Pengertian, Ciri, Contoh</a></strong></p>
49 <h2>Jenis-Jenis Fabel</h2>
49 <h2>Jenis-Jenis Fabel</h2>
50 <p>Cerita fabel juga dikelompokkan menjadi beberapa jenis. Ada apa saja yaa? Berikut penjelasannya!</p>
50 <p>Cerita fabel juga dikelompokkan menjadi beberapa jenis. Ada apa saja yaa? Berikut penjelasannya!</p>
51 <h3>1. Jenis Fabel berdasarkan Paparan Watak Tokoh</h3>
51 <h3>1. Jenis Fabel berdasarkan Paparan Watak Tokoh</h3>
52 <p>Jenis fabel berdasarkan paparan watak tokoh dibagi menjadi dua, yaitu fabel alami dan fabel adaptasi.</p>
52 <p>Jenis fabel berdasarkan paparan watak tokoh dibagi menjadi dua, yaitu fabel alami dan fabel adaptasi.</p>
53 <h4>a. Fabel Alami</h4>
53 <h4>a. Fabel Alami</h4>
54 <p>Fabel alami adalah fabel yang menggunakan<strong>watak tokoh binatang, seperti pada kondisi alam yang nyata</strong>. Contohnya, kura-kura berwatak tenang dan berjalan lambat, atau watak singa yang berwatak buas. Latar ceritanya pun sesuai habitat asli hewan, seperti di hutan, sungai, dan sebagainya.</p>
54 <p>Fabel alami adalah fabel yang menggunakan<strong>watak tokoh binatang, seperti pada kondisi alam yang nyata</strong>. Contohnya, kura-kura berwatak tenang dan berjalan lambat, atau watak singa yang berwatak buas. Latar ceritanya pun sesuai habitat asli hewan, seperti di hutan, sungai, dan sebagainya.</p>
55 <h4>b. Fabel Adaptasi</h4>
55 <h4>b. Fabel Adaptasi</h4>
56 <p>Fabel adaptasi adalah fabel yang menggunakan<strong>watak tokoh berbeda dengan watak asli di dunia nyata</strong>. Contohnya, watak beruang yang periang dan bisa pergi ke pusat perbelanjaan. Padahal, di dunia nyata beruang memiliki watak yang keras dan tinggal di hutan.</p>
56 <p>Fabel adaptasi adalah fabel yang menggunakan<strong>watak tokoh berbeda dengan watak asli di dunia nyata</strong>. Contohnya, watak beruang yang periang dan bisa pergi ke pusat perbelanjaan. Padahal, di dunia nyata beruang memiliki watak yang keras dan tinggal di hutan.</p>
57 <h3><strong>2. Jenis Fabel Berdasarkan Kemunculan Pesan</strong></h3>
57 <h3><strong>2. Jenis Fabel Berdasarkan Kemunculan Pesan</strong></h3>
58 <p>Jenis fabel berdasarkan kemunculan pesan dibagi menjadi dua, yaitu fabel berkoda dan tanpa koda. Kamu sudah tahu belum apa itu koda? Koda adalah pesan moral yang tertulis dalam akhir cerita.</p>
58 <p>Jenis fabel berdasarkan kemunculan pesan dibagi menjadi dua, yaitu fabel berkoda dan tanpa koda. Kamu sudah tahu belum apa itu koda? Koda adalah pesan moral yang tertulis dalam akhir cerita.</p>
59 <h4><strong>a. Fabel Berkoda</strong></h4>
59 <h4><strong>a. Fabel Berkoda</strong></h4>
60 <p>Fabel berkoda adalah fabel yang<strong>memunculkan pesan secara jelas</strong>dan mudah ditemukan.</p>
60 <p>Fabel berkoda adalah fabel yang<strong>memunculkan pesan secara jelas</strong>dan mudah ditemukan.</p>
61 <h4><strong>b. Fabel Tanpa Koda</strong></h4>
61 <h4><strong>b. Fabel Tanpa Koda</strong></h4>
62 <p>Fabel tanpa koda adalah fabel yang<strong>pesannya harus disimpulkan sendiri</strong>oleh pembaca. Karena, pesan tidak dicantumkan secara tertulis di akhir fabel.</p>
62 <p>Fabel tanpa koda adalah fabel yang<strong>pesannya harus disimpulkan sendiri</strong>oleh pembaca. Karena, pesan tidak dicantumkan secara tertulis di akhir fabel.</p>
63 <h3><strong>3. Jenis Fabel Berdasarkan Kemunculan Waktu</strong></h3>
63 <h3><strong>3. Jenis Fabel Berdasarkan Kemunculan Waktu</strong></h3>
64 <p>Jenis fabel berdasarkan kemunculan waktu dibagi menjadi dua, yaitu fabel klasik dan modern. Fabel jenis ini mengidentifikasi waktu kemunculan fabel, apakah tergolong sudah lama (klasik) atau baru (modern).</p>
64 <p>Jenis fabel berdasarkan kemunculan waktu dibagi menjadi dua, yaitu fabel klasik dan modern. Fabel jenis ini mengidentifikasi waktu kemunculan fabel, apakah tergolong sudah lama (klasik) atau baru (modern).</p>
65 <h4><strong>a. Fabel Klasik</strong></h4>
65 <h4><strong>a. Fabel Klasik</strong></h4>
66 <p>Fabel klasik<strong>muncul sejak sangat lama</strong>, mungkin waktu uyut kamu masih kecil. Biasanya, jenis fabel ini dikisahkan secara turun-temurun dari orang tua ke anak, maupun dair nenek ke cucu.</p>
66 <p>Fabel klasik<strong>muncul sejak sangat lama</strong>, mungkin waktu uyut kamu masih kecil. Biasanya, jenis fabel ini dikisahkan secara turun-temurun dari orang tua ke anak, maupun dair nenek ke cucu.</p>
67 <p>Di Indonesia kamu bisa banyak menemukan fabel klasik, misalnya seperti Kancil dan Buaya, Kerbau dan Burung, Semut dan Belalang, dan lain-lain.</p>
67 <p>Di Indonesia kamu bisa banyak menemukan fabel klasik, misalnya seperti Kancil dan Buaya, Kerbau dan Burung, Semut dan Belalang, dan lain-lain.</p>
68 <h4><strong>b. Fabel Modern</strong></h4>
68 <h4><strong>b. Fabel Modern</strong></h4>
69 <p>Nah, kalau fabel modern, karena tergolong baru, mungkin uyut dan nenek kamu malah <em>gak </em>tahu ceritanya. Biasanya, jenis fabel modern bercerita tentang kondisi sosial yang terjadi di masa sekarang.</p>
69 <p>Nah, kalau fabel modern, karena tergolong baru, mungkin uyut dan nenek kamu malah <em>gak </em>tahu ceritanya. Biasanya, jenis fabel modern bercerita tentang kondisi sosial yang terjadi di masa sekarang.</p>
70 <p>Misalnya, novel fabel berjudul Animal Farm karya George Orwell dan novel O karya Eka Kurniawan. Lalu, kisah-kisah fabel yang biasa kamu temukan di televisi seperti Tom and Jerry, Kura-Kura Ninja, dan lain-lain.</p>
70 <p>Misalnya, novel fabel berjudul Animal Farm karya George Orwell dan novel O karya Eka Kurniawan. Lalu, kisah-kisah fabel yang biasa kamu temukan di televisi seperti Tom and Jerry, Kura-Kura Ninja, dan lain-lain.</p>
71 <h2>Kaidah Kebahasaan Cerita Fabel</h2>
71 <h2>Kaidah Kebahasaan Cerita Fabel</h2>
72 <h3>Sinonim</h3>
72 <h3>Sinonim</h3>
73 <p>Sinonim adalah persamaan kata, atau kata yang <strong>maknanya mirip</strong>atau sama dengan kata yang lain.</p>
73 <p>Sinonim adalah persamaan kata, atau kata yang <strong>maknanya mirip</strong>atau sama dengan kata yang lain.</p>
74 <p>Contoh: hewan = binatang</p>
74 <p>Contoh: hewan = binatang</p>
75 <h3>Antonim</h3>
75 <h3>Antonim</h3>
76 <p>Antonim adalah lawan kata. Jadi, makna antara satu kata <strong>berlawanan </strong>dengan kata yang lain.</p>
76 <p>Antonim adalah lawan kata. Jadi, makna antara satu kata <strong>berlawanan </strong>dengan kata yang lain.</p>
77 <p>Contoh: datang &gt;&lt; pergi</p>
77 <p>Contoh: datang &gt;&lt; pergi</p>
78 <h3>Kata Depan (Preposisi)</h3>
78 <h3>Kata Depan (Preposisi)</h3>
79 <p>Kata depan adalah kata yang <strong>terletak di depan </strong>kata benda, kata sifat, atau keterangan. Kalau dalam cerita fabel, kata depan diikuti oleh<strong>kata keterangan tempat </strong>dan <strong>kata keterangan waktu</strong>. Ingat nih, penulisan kata depan <strong>perlu dipisah </strong>dengan kata yang mengikutinya.</p>
79 <p>Kata depan adalah kata yang <strong>terletak di depan </strong>kata benda, kata sifat, atau keterangan. Kalau dalam cerita fabel, kata depan diikuti oleh<strong>kata keterangan tempat </strong>dan <strong>kata keterangan waktu</strong>. Ingat nih, penulisan kata depan <strong>perlu dipisah </strong>dengan kata yang mengikutinya.</p>
80 <p>Contoh: di sebuah desa, pada Minggu pagi.</p>
80 <p>Contoh: di sebuah desa, pada Minggu pagi.</p>
81 <h3>Kata Seru</h3>
81 <h3>Kata Seru</h3>
82 <p>Kata seru adalah kata yang digunakan untuk <strong>mengungkapkan isi hati </strong>atau <strong>perasaan</strong>. Biasanya, kata seru dipisahkan dengan tanda baca koma.</p>
82 <p>Kata seru adalah kata yang digunakan untuk <strong>mengungkapkan isi hati </strong>atau <strong>perasaan</strong>. Biasanya, kata seru dipisahkan dengan tanda baca koma.</p>
83 <p>Contoh: Wah, luar biasa!</p>
83 <p>Contoh: Wah, luar biasa!</p>
84 <h3>Kata Keterangan Waktu</h3>
84 <h3>Kata Keterangan Waktu</h3>
85 <p>Kata keterangan waktu adalah kata yang dapat menjadi penanda keterangan waktu. Ada beberapa kata keterangan waktu, misalnya:</p>
85 <p>Kata keterangan waktu adalah kata yang dapat menjadi penanda keterangan waktu. Ada beberapa kata keterangan waktu, misalnya:</p>
86 <p>1. Waktu permulaan -&gt; semenjak, sejak, dan sedari.</p>
86 <p>1. Waktu permulaan -&gt; semenjak, sejak, dan sedari.</p>
87 <p>2. Hubungan waktu bersamaan -&gt; tatkala, sewaktu, seraya, serta, selagi, sementara, selama, sambil, dan ketika.</p>
87 <p>2. Hubungan waktu bersamaan -&gt; tatkala, sewaktu, seraya, serta, selagi, sementara, selama, sambil, dan ketika.</p>
88 <p>3. Hubungan waktu berurutan -&gt; sebelum, sesudah, setelah, seusai, dan begitu.</p>
88 <p>3. Hubungan waktu berurutan -&gt; sebelum, sesudah, setelah, seusai, dan begitu.</p>
89 <p>4. Hubungan batas waktu akhir -&gt; hingga, akhirnya, dan sampai.</p>
89 <p>4. Hubungan batas waktu akhir -&gt; hingga, akhirnya, dan sampai.</p>
90 <h3>Kata Keterangan Tempat</h3>
90 <h3>Kata Keterangan Tempat</h3>
91 <p>Kata keterangan tempat adalah kata keterangan yang menunjukkan <strong>lokasi </strong>atau <strong>tempat kejadian </strong>dari suati peristiwa tertentu. Biasanya, kata keterangan tempat diikuti dengan kata di, ke, dan dari.</p>
91 <p>Kata keterangan tempat adalah kata keterangan yang menunjukkan <strong>lokasi </strong>atau <strong>tempat kejadian </strong>dari suati peristiwa tertentu. Biasanya, kata keterangan tempat diikuti dengan kata di, ke, dan dari.</p>
92 <p>Contoh, di sebuah sabana, ke padang pasir, dari hutan.</p>
92 <p>Contoh, di sebuah sabana, ke padang pasir, dari hutan.</p>
93 <h3>Kata Sandang </h3>
93 <h3>Kata Sandang </h3>
94 <p>Kata sandang adalah kata yang <strong>difungsikan sebagai pengiring </strong>atau mengikuti kata-kata tertentu, sehingga maknanya selaras dengan kata benda yang diikutinya. Maka dari itu, kata sandang <strong>tidak mempunyai makna tersendiri </strong>karena maknanya bergabung dengan kata yang mengikutinya. Kata sandang terbagi menjadi dua, yaitu tunggal dan jamak.</p>
94 <p>Kata sandang adalah kata yang <strong>difungsikan sebagai pengiring </strong>atau mengikuti kata-kata tertentu, sehingga maknanya selaras dengan kata benda yang diikutinya. Maka dari itu, kata sandang <strong>tidak mempunyai makna tersendiri </strong>karena maknanya bergabung dengan kata yang mengikutinya. Kata sandang terbagi menjadi dua, yaitu tunggal dan jamak.</p>
95 <h4>1) Kata Sandang Tunggal</h4>
95 <h4>1) Kata Sandang Tunggal</h4>
96 <p>si, sang, sri, hang, dyang, hyang</p>
96 <p>si, sang, sri, hang, dyang, hyang</p>
97 <h4>2) Kata Sandang Jamak</h4>
97 <h4>2) Kata Sandang Jamak</h4>
98 <p>para, kaum, umat</p>
98 <p>para, kaum, umat</p>
99 <p>Perlu diingat nih <em>guys</em>, kata sandang diawali huruf kecil, kecuali kata yang mengikutinya perlu diawali kapital karena berperan sebagai panggilan atau nama lain.</p>
99 <p>Perlu diingat nih <em>guys</em>, kata sandang diawali huruf kecil, kecuali kata yang mengikutinya perlu diawali kapital karena berperan sebagai panggilan atau nama lain.</p>
100 <h3>Kata Langsung dan Tidak Langsung</h3>
100 <h3>Kata Langsung dan Tidak Langsung</h3>
101 <h4><strong>1) Kalimat Langsung</strong></h4>
101 <h4><strong>1) Kalimat Langsung</strong></h4>
102 <p>Kalimat langsung adalah kalimat <strong>yang diucapkan secara langsung </strong>kepada orang yang dituju.</p>
102 <p>Kalimat langsung adalah kalimat <strong>yang diucapkan secara langsung </strong>kepada orang yang dituju.</p>
103 <p>Beberapa ciri dan contoh kalimat langsung antara lain:</p>
103 <p>Beberapa ciri dan contoh kalimat langsung antara lain:</p>
104 <p>- Menggunakan tanda petik.</p>
104 <p>- Menggunakan tanda petik.</p>
105 <p>Contoh:</p>
105 <p>Contoh:</p>
106 <p>“Masa sih, tidak mungkin marmut yang makan!” kata Rita.</p>
106 <p>“Masa sih, tidak mungkin marmut yang makan!” kata Rita.</p>
107 <p>- Intonasi tinggi untuk tanda tanya dan tanda seru, dan datar untuk kalimat berita.</p>
107 <p>- Intonasi tinggi untuk tanda tanya dan tanda seru, dan datar untuk kalimat berita.</p>
108 <p>Contoh:</p>
108 <p>Contoh:</p>
109 <p>“Marmut, apakah kamu mencuri makananku?” tanya Rita pada marmut.</p>
109 <p>“Marmut, apakah kamu mencuri makananku?” tanya Rita pada marmut.</p>
110 <p>- Kata ganti orang pertama dan orang kedua</p>
110 <p>- Kata ganti orang pertama dan orang kedua</p>
111 <p>Kata ganti orang pertama ⇒ saya, aku Kata ganti orang kedua ⇒ kamu, dia</p>
111 <p>Kata ganti orang pertama ⇒ saya, aku Kata ganti orang kedua ⇒ kamu, dia</p>
112 <h4><strong>2) Kalimat Tidak Langsung</strong></h4>
112 <h4><strong>2) Kalimat Tidak Langsung</strong></h4>
113 <p>Sedangkan, kalimat tidak langsung adalah kalimat yang <strong>melaporkan perkataan orang lain </strong>dalam bentuk pernyataan berita.</p>
113 <p>Sedangkan, kalimat tidak langsung adalah kalimat yang <strong>melaporkan perkataan orang lain </strong>dalam bentuk pernyataan berita.</p>
114 <p>Beberapa ciri dan contoh kalimat tidak langsung antara lain:</p>
114 <p>Beberapa ciri dan contoh kalimat tidak langsung antara lain:</p>
115 <p>- Tidak menggunakan tanda petik.</p>
115 <p>- Tidak menggunakan tanda petik.</p>
116 <p>Contoh:</p>
116 <p>Contoh:</p>
117 <p>Rita berkata, tidak mungkin marmut yang makan.</p>
117 <p>Rita berkata, tidak mungkin marmut yang makan.</p>
118 <p>- Intonasi membacanya datar.</p>
118 <p>- Intonasi membacanya datar.</p>
119 <p>Contoh:</p>
119 <p>Contoh:</p>
120 <p>Rita bertanya apakah marmut mencuri makanannya.</p>
120 <p>Rita bertanya apakah marmut mencuri makanannya.</p>
121 <p>- Terdapat perubahan kata ganti orang.</p>
121 <p>- Terdapat perubahan kata ganti orang.</p>
122 <p>● Kata ganti orang pertama berubah menjadi orang ketiga. ● Kata ganti orang kedua berubah menjadi orang pertama. ● Kata ganti orang kedua dan pertama jamak berubah menjadi kami, mereka, dan kita.</p>
122 <p>● Kata ganti orang pertama berubah menjadi orang ketiga. ● Kata ganti orang kedua berubah menjadi orang pertama. ● Kata ganti orang kedua dan pertama jamak berubah menjadi kami, mereka, dan kita.</p>
123 <h2>Contoh Cerita Fabel</h2>
123 <h2>Contoh Cerita Fabel</h2>
124 <p><strong>Musang dan Marmut</strong></p>
124 <p><strong>Musang dan Marmut</strong></p>
125 <p><strong>Orientasi</strong></p>
125 <p><strong>Orientasi</strong></p>
126 <p>Pada suatu hari Moro kelaparan setelah ia pergi bermain di hutan. Tetapi, Moro malas mencari makan. Ketika itu Moro melihat ada makanan tergeletak di meja. Sebenarnya Moro tahu kalau itu makanan adiknya, Rita. Karena sudah sangat kelaparan, akhirnya Moro mencuri makanan Rita. Saat setelah selesai makan, Moro mencari alasan agar Rita tidak tahu kalu ia yang mencuri makanannya. Benar saja, Rita bertanya kepada Moro di mana makanan yang ia taruh diatas meja, Moro dengan agak gugup menjawab kalau makananya telah dicuri marmut.</p>
126 <p>Pada suatu hari Moro kelaparan setelah ia pergi bermain di hutan. Tetapi, Moro malas mencari makan. Ketika itu Moro melihat ada makanan tergeletak di meja. Sebenarnya Moro tahu kalau itu makanan adiknya, Rita. Karena sudah sangat kelaparan, akhirnya Moro mencuri makanan Rita. Saat setelah selesai makan, Moro mencari alasan agar Rita tidak tahu kalu ia yang mencuri makanannya. Benar saja, Rita bertanya kepada Moro di mana makanan yang ia taruh diatas meja, Moro dengan agak gugup menjawab kalau makananya telah dicuri marmut.</p>
127 <p><strong> Komplikasi</strong></p>
127 <p><strong> Komplikasi</strong></p>
128 <p>“Masa sih, tidak mungkin marmut yang makan!” kata Rita.</p>
128 <p>“Masa sih, tidak mungkin marmut yang makan!” kata Rita.</p>
129 <p>“Betul kok! Kamu harus percaya dengan kakakmu ini!” jawab Moro berbohong.</p>
129 <p>“Betul kok! Kamu harus percaya dengan kakakmu ini!” jawab Moro berbohong.</p>
130 <p>Awalnya Rita tidak percaya dengan omongan kakaknya itu. Tetapi setelah Moro mengatakannya berkali-kali akhirnya Rita percaya juga. Kemudian Rita memanggil marmut ke rumahnya.</p>
130 <p>Awalnya Rita tidak percaya dengan omongan kakaknya itu. Tetapi setelah Moro mengatakannya berkali-kali akhirnya Rita percaya juga. Kemudian Rita memanggil marmut ke rumahnya.</p>
131 <p>“Marmut, apakah kamu mencuri makananku?” tanya Rita pada marmut.</p>
131 <p>“Marmut, apakah kamu mencuri makananku?” tanya Rita pada marmut.</p>
132 <p>“Ha? Mencuri? Berpikir saja aku belum pernah!” jawab marmut.</p>
132 <p>“Ha? Mencuri? Berpikir saja aku belum pernah!” jawab marmut.</p>
133 <p>“Ah, si marmut! Kamu ini membela diri saja! Sudah, Rita! Dia pasti berbohong”. kata Moro.</p>
133 <p>“Ah, si marmut! Kamu ini membela diri saja! Sudah, Rita! Dia pasti berbohong”. kata Moro.</p>
134 <p>“Ya, sudahlah! Marmut, sebagai gantinya ambilkan makanan di seberang sungai sana. Tadi aku juga mengambil makanan dari sana!” kata Rita mengakhiri percakapan.</p>
134 <p>“Ya, sudahlah! Marmut, sebagai gantinya ambilkan makanan di seberang sungai sana. Tadi aku juga mengambil makanan dari sana!” kata Rita mengakhiri percakapan.</p>
135 <p>Marmut berjalan ke tepi sungai. Ia menaiki perahu kecil untuk menuju seberang sungai. Sebenarnya marmut tahu kalau Moro yang mencuri makanan. Sementara itu, di bagian sungai yang lain, Moro cepat-cepat menyeberangi sungai. Ia hendak memasang perangkap marmut agar marmut terperangkap.</p>
135 <p>Marmut berjalan ke tepi sungai. Ia menaiki perahu kecil untuk menuju seberang sungai. Sebenarnya marmut tahu kalau Moro yang mencuri makanan. Sementara itu, di bagian sungai yang lain, Moro cepat-cepat menyeberangi sungai. Ia hendak memasang perangkap marmut agar marmut terperangkap.</p>
136 <p><strong>Resolusi</strong></p>
136 <p><strong>Resolusi</strong></p>
137 <p>Ketika marmut hampir mendekati seberang sungai, marmut melihat perangkap. Marmut yakin kalau perangkap itu dipasang oleh Moro. Tiba-tiba marmut mendapat ide. Marmut berpura-pura tenggelam dalam sungai.</p>
137 <p>Ketika marmut hampir mendekati seberang sungai, marmut melihat perangkap. Marmut yakin kalau perangkap itu dipasang oleh Moro. Tiba-tiba marmut mendapat ide. Marmut berpura-pura tenggelam dalam sungai.</p>
138 <p>“Aaa…Moro, tolong aku…!” teriak marmut.</p>
138 <p>“Aaa…Moro, tolong aku…!” teriak marmut.</p>
139 <p><strong>Koda</strong></p>
139 <p><strong>Koda</strong></p>
140 <p>Mendengar itu Moro segera menolong marmut. Marmut meminta Moro mengantarkannya ke seberang sungai. Moro tidak bisa berbuat apa-apa. Ia mengantarkan marmut ke seberang sungai. Sesampai di seberang sungai, marmut meminta Moro untuk menemani mengambil makanan. Karena Moro tidak hati-hati, kakinya terperangkap dalam perangkap marmut. Moro menyesali perbuatan buruknya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.</p>
140 <p>Mendengar itu Moro segera menolong marmut. Marmut meminta Moro mengantarkannya ke seberang sungai. Moro tidak bisa berbuat apa-apa. Ia mengantarkan marmut ke seberang sungai. Sesampai di seberang sungai, marmut meminta Moro untuk menemani mengambil makanan. Karena Moro tidak hati-hati, kakinya terperangkap dalam perangkap marmut. Moro menyesali perbuatan buruknya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.</p>
141 <p><strong>Baca Juga:<a>Pengertian Dongeng, Jenis, Ciri-ciri, Fungsi, Unsur &amp; Contoh</a></strong></p>
141 <p><strong>Baca Juga:<a>Pengertian Dongeng, Jenis, Ciri-ciri, Fungsi, Unsur &amp; Contoh</a></strong></p>
142 <p>-</p>
142 <p>-</p>
143 <p>Bagaimana? Tidak sulit<em>kan</em>mempelajari contoh fabel di atas? Untuk membuat versi kamu sendiri, cukup ceritakannya seperti pengalaman sehari-hari. Bisa tentang teman yang di-<em>bully</em>, teman yang sombong, atau teman yang tidak percaya diri. Dengan menggunakan fabel, kisah yang dibuat menjadi lebih mudah dipahami dan lebih menarik.</p>
143 <p>Bagaimana? Tidak sulit<em>kan</em>mempelajari contoh fabel di atas? Untuk membuat versi kamu sendiri, cukup ceritakannya seperti pengalaman sehari-hari. Bisa tentang teman yang di-<em>bully</em>, teman yang sombong, atau teman yang tidak percaya diri. Dengan menggunakan fabel, kisah yang dibuat menjadi lebih mudah dipahami dan lebih menarik.</p>
144 <p>Mau belajar tentang fabel lebih dalam lagi? Atau materi-materi penulisan teks yang lain? Yuk belajar di<strong><a>ruangbelajar</a></strong>! Di sana, kamu bisa akses materi-materi ditemani video animasi yang menarik, lho!</p>
144 <p>Mau belajar tentang fabel lebih dalam lagi? Atau materi-materi penulisan teks yang lain? Yuk belajar di<strong><a>ruangbelajar</a></strong>! Di sana, kamu bisa akses materi-materi ditemani video animasi yang menarik, lho!</p>
145 <p><strong>Referensi:</strong></p>
145 <p><strong>Referensi:</strong></p>
146 <p>Zabadi, Fairul dan Sutejo. 2014. Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.</p>
146 <p>Zabadi, Fairul dan Sutejo. 2014. Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.</p>
147  
147