0 added
0 removed
Original
2026-01-01
Modified
2026-03-08
1
<blockquote><p><em>Yuk, sama-sama kita ketahui pengertian, ciri-ciri, jenis puisi baru beserta contohnya secara ringkas di<strong><a>artikel Bahasa Indonesia kelas 10</a></strong>berikut ini!</em></p>
1
<blockquote><p><em>Yuk, sama-sama kita ketahui pengertian, ciri-ciri, jenis puisi baru beserta contohnya secara ringkas di<strong><a>artikel Bahasa Indonesia kelas 10</a></strong>berikut ini!</em></p>
2
</blockquote><p>-</p>
2
</blockquote><p>-</p>
3
<p>Apa kamu senang membaca atau menulis puisi? Salah satu jenis puisi yang paling terkenal adalah puisi baru atau modern. Puisi baru merupakan bentuk puisi yang muncul setelah puisi lama.</p>
3
<p>Apa kamu senang membaca atau menulis puisi? Salah satu jenis puisi yang paling terkenal adalah puisi baru atau modern. Puisi baru merupakan bentuk puisi yang muncul setelah puisi lama.</p>
4
<p>Eits, tunggu, tunggu, kamu sudah tahu belum, apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan puisi baru? Apa saja jenis dan juga contoh-contohnya? Buat kamu yang penasaran, mari simak penjelasan lengkapnya di artikel ini, yuk!</p>
4
<p>Eits, tunggu, tunggu, kamu sudah tahu belum, apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan puisi baru? Apa saja jenis dan juga contoh-contohnya? Buat kamu yang penasaran, mari simak penjelasan lengkapnya di artikel ini, yuk!</p>
5
<h2>Pengertian Puisi Baru</h2>
5
<h2>Pengertian Puisi Baru</h2>
6
<p><strong>Puisi baru adalah</strong>karya sastra yang<strong>bebas dan tidak terikat dengan aturan-aturan</strong>. Puisi baru bisa juga disebut dengan<strong>puisi modern</strong>. Karya sastra ini merupakan bentuk pengembangan dari puisi lama.</p>
6
<p><strong>Puisi baru adalah</strong>karya sastra yang<strong>bebas dan tidak terikat dengan aturan-aturan</strong>. Puisi baru bisa juga disebut dengan<strong>puisi modern</strong>. Karya sastra ini merupakan bentuk pengembangan dari puisi lama.</p>
7
<p>Nah, mungkin kamu tidak asing lagi dengan beberapa nama penyair, seperti Chairil Anwar, Joko Pinurbo, atau Sapardi Djoko Damono? Mereka banyak menciptakan puisi baru yang indah, loh. Sesekali, kamu bisa nih baca buku-buku puisinya, untuk dapat inspirasi saat membuat puisi juga.</p>
7
<p>Nah, mungkin kamu tidak asing lagi dengan beberapa nama penyair, seperti Chairil Anwar, Joko Pinurbo, atau Sapardi Djoko Damono? Mereka banyak menciptakan puisi baru yang indah, loh. Sesekali, kamu bisa nih baca buku-buku puisinya, untuk dapat inspirasi saat membuat puisi juga.</p>
8
<p><strong>Baca Juga:<a>Pengertian Puisi, Ciri, Jenis, Struktur & Unsur Pembentuknya</a></strong></p>
8
<p><strong>Baca Juga:<a>Pengertian Puisi, Ciri, Jenis, Struktur & Unsur Pembentuknya</a></strong></p>
9
<h2>Perbedaan Puisi Baru dengan Puisi Lama</h2>
9
<h2>Perbedaan Puisi Baru dengan Puisi Lama</h2>
10
<p>Sebelumnya sudah disebutkan ya, kalau puisi baru merupakan bentuk pengembangan dari puisi lama. Memangnya, apa sih<strong>perbedaan puisi lama dan puisi baru</strong>itu?</p>
10
<p>Sebelumnya sudah disebutkan ya, kalau puisi baru merupakan bentuk pengembangan dari puisi lama. Memangnya, apa sih<strong>perbedaan puisi lama dan puisi baru</strong>itu?</p>
11
<p>Jadi, kalau<strong>puisi lama</strong>atau puisi tradisional, itu<strong>punya aturan tertentu</strong>, seperti<strong>persajakan, jumlah kata di setiap baris, jumlah baris, rima, dan irama</strong>. Sementara<strong>puisi baru</strong>atau puisi modern,<strong>tidak bergantung pada aturan-aturan tersebut</strong>. Struktur penulisan puisi baru lebih bebas.</p>
11
<p>Jadi, kalau<strong>puisi lama</strong>atau puisi tradisional, itu<strong>punya aturan tertentu</strong>, seperti<strong>persajakan, jumlah kata di setiap baris, jumlah baris, rima, dan irama</strong>. Sementara<strong>puisi baru</strong>atau puisi modern,<strong>tidak bergantung pada aturan-aturan tersebut</strong>. Struktur penulisan puisi baru lebih bebas.</p>
12
<p>Selanjutnya, pada<strong>puisi lama, pengarang atau penyair tidak diketahui</strong>. Puisi lama biasanya berisi nasehat, dan dianggap bagian dari budaya yang disampaikan secara turun temurun, sehingga masyarakat lebih mementingkan nilai yang terkandung di dalamnya. Sementara<strong>pengarang puisi baru, tercantum namanya</strong>di dalam karya-karyanya.</p>
12
<p>Selanjutnya, pada<strong>puisi lama, pengarang atau penyair tidak diketahui</strong>. Puisi lama biasanya berisi nasehat, dan dianggap bagian dari budaya yang disampaikan secara turun temurun, sehingga masyarakat lebih mementingkan nilai yang terkandung di dalamnya. Sementara<strong>pengarang puisi baru, tercantum namanya</strong>di dalam karya-karyanya.</p>
13
<p>Nah, karena<strong>isi puisi lama cenderung berupa nasehat</strong>, maka bentuk<strong>penyampaiannya hanya lewat lisan saja</strong>. Sedangkan,<strong>puisi baru bisa lewat lisan maupun tulisan</strong>.</p>
13
<p>Nah, karena<strong>isi puisi lama cenderung berupa nasehat</strong>, maka bentuk<strong>penyampaiannya hanya lewat lisan saja</strong>. Sedangkan,<strong>puisi baru bisa lewat lisan maupun tulisan</strong>.</p>
14
<p><strong>Baca Juga:<a>Pengertian, Ciri, Jenis, dan Contoh Puisi Lama</a></strong></p>
14
<p><strong>Baca Juga:<a>Pengertian, Ciri, Jenis, dan Contoh Puisi Lama</a></strong></p>
15
<h2>Ciri-Ciri Puisi Baru</h2>
15
<h2>Ciri-Ciri Puisi Baru</h2>
16
<p>Berdasarkan penjelasan dari pengertian serta perbedaan puisi lama dan baru, kita bisa tahu nih kalau ciri-ciri puisi baru, di antaranya sebagai berikut:</p>
16
<p>Berdasarkan penjelasan dari pengertian serta perbedaan puisi lama dan baru, kita bisa tahu nih kalau ciri-ciri puisi baru, di antaranya sebagai berikut:</p>
17
<ul><li>Pengarang atau penyair tercantum di dalam karyanya.</li>
17
<ul><li>Pengarang atau penyair tercantum di dalam karyanya.</li>
18
<li>Iramanya dinamis mengikuti suasana hati penulis.</li>
18
<li>Iramanya dinamis mengikuti suasana hati penulis.</li>
19
<li>Sifatnya lebih bebas, tidak terikat pada aturan dalam bentuk penulisannya.</li>
19
<li>Sifatnya lebih bebas, tidak terikat pada aturan dalam bentuk penulisannya.</li>
20
<li>Disebarkan melalui lisan maupun tulisan.</li>
20
<li>Disebarkan melalui lisan maupun tulisan.</li>
21
<li>Umumnya, puisi baru berisi tentang curahan hati penyair.</li>
21
<li>Umumnya, puisi baru berisi tentang curahan hati penyair.</li>
22
</ul><p>Puisi baru mempunyai banyak jenis. Namun, secara garis besar puisi baru dibagi menjadi dua, yaitu<strong>jenis puisi baru berdasarkan isinya</strong>dan<strong>jenis puisi baru berdasarkan bentuk</strong>. Mari kita simak penjelasan lengkap berikut, ya!</p>
22
</ul><p>Puisi baru mempunyai banyak jenis. Namun, secara garis besar puisi baru dibagi menjadi dua, yaitu<strong>jenis puisi baru berdasarkan isinya</strong>dan<strong>jenis puisi baru berdasarkan bentuk</strong>. Mari kita simak penjelasan lengkap berikut, ya!</p>
23
<h3>A. Jenis Puisi Baru Berdasarkan Isinya</h3>
23
<h3>A. Jenis Puisi Baru Berdasarkan Isinya</h3>
24
<p>Berdasarkan isinya, puisi baru dibedakan lagi menjadi 7 jenis, yaitu<strong>balada, elegi, epigram, himne, ode, romansa, dan satire</strong>.</p>
24
<p>Berdasarkan isinya, puisi baru dibedakan lagi menjadi 7 jenis, yaitu<strong>balada, elegi, epigram, himne, ode, romansa, dan satire</strong>.</p>
25
<h4>1. Balada</h4>
25
<h4>1. Balada</h4>
26
<p>Balada merupakan salah satu jenis puisi baru yang<strong>berisi tentang suatu kisah atau cerita</strong>. Balada terdiri dari 3 bait yang masing-masing dengan 8 larik. Balada bersajak a-b-a-b-b-c-c-b, lalu skemanya berubah menjadi a-b-a-b-b-c-b-c. Larik terakhir yang berada pada bait pertama dipakai sebagai refren dalam bait-bait selanjutnya.</p>
26
<p>Balada merupakan salah satu jenis puisi baru yang<strong>berisi tentang suatu kisah atau cerita</strong>. Balada terdiri dari 3 bait yang masing-masing dengan 8 larik. Balada bersajak a-b-a-b-b-c-c-b, lalu skemanya berubah menjadi a-b-a-b-b-c-b-c. Larik terakhir yang berada pada bait pertama dipakai sebagai refren dalam bait-bait selanjutnya.</p>
27
<h4>2. Elegi</h4>
27
<h4>2. Elegi</h4>
28
<p>Elegi merupakan salah satu jenis puisi baru yang<strong>berisi tentang kesedihan atau tangis</strong>. Elegi ini berisikan sajak ataupun lagu yang mengekspresikan rasa duka cita atau keluh kesah karena sedih ataupun rindu. Kesedihannya terutama diakibatkan karena kematian atau kepergian seseorang yang dicintai.</p>
28
<p>Elegi merupakan salah satu jenis puisi baru yang<strong>berisi tentang kesedihan atau tangis</strong>. Elegi ini berisikan sajak ataupun lagu yang mengekspresikan rasa duka cita atau keluh kesah karena sedih ataupun rindu. Kesedihannya terutama diakibatkan karena kematian atau kepergian seseorang yang dicintai.</p>
29
<h4>3. Epigram</h4>
29
<h4>3. Epigram</h4>
30
<p>Epigram merupakan salah satu jenis puisi baru yang<strong>berisi tentang ajaran atau tuntunan mengenai kehidupan</strong>. Epigram ini berasal dari bahasa Yunani yaitu “epigramma” yang artinya unsur pengajaran; nasihat yang membawa ke arah jalan kebenaran untuk dijadikan pedoman; ada teladan.</p>
30
<p>Epigram merupakan salah satu jenis puisi baru yang<strong>berisi tentang ajaran atau tuntunan mengenai kehidupan</strong>. Epigram ini berasal dari bahasa Yunani yaitu “epigramma” yang artinya unsur pengajaran; nasihat yang membawa ke arah jalan kebenaran untuk dijadikan pedoman; ada teladan.</p>
31
<p><strong>Baca Juga:<a>Unsur Pembangun Puisi: Intrinsik & Ekstrinsik</a></strong></p>
31
<p><strong>Baca Juga:<a>Unsur Pembangun Puisi: Intrinsik & Ekstrinsik</a></strong></p>
32
<h4>4. Himne</h4>
32
<h4>4. Himne</h4>
33
<p>Himne adalah salah satu jenis puisi baru yang<strong>berisi pujaan atau pujian untuk Tuhan, tanah air ataupun pahlawan</strong>. Ciri himne ialah berupa lagu pujian untuk menghormati Tuhan, seorang dewa, pahlawan, tanah air ataupun almamater.</p>
33
<p>Himne adalah salah satu jenis puisi baru yang<strong>berisi pujaan atau pujian untuk Tuhan, tanah air ataupun pahlawan</strong>. Ciri himne ialah berupa lagu pujian untuk menghormati Tuhan, seorang dewa, pahlawan, tanah air ataupun almamater.</p>
34
<p>Saat ini, pengertian himne menjadi semakin berkembang, yakni bisa diartikan sebagai puisi yang dinyanyikan. Puisi nyanyian tersebut berisi pujian terhadap sesuatu yang dihormati atau yang berhubungan dengan ketuhanan.</p>
34
<p>Saat ini, pengertian himne menjadi semakin berkembang, yakni bisa diartikan sebagai puisi yang dinyanyikan. Puisi nyanyian tersebut berisi pujian terhadap sesuatu yang dihormati atau yang berhubungan dengan ketuhanan.</p>
35
<h4>5. Ode</h4>
35
<h4>5. Ode</h4>
36
<p>Ode adalah salah satu jenis puisi baru yang<strong>berisi sanjungan kepada orang yang sangat berjasa</strong>. Ciri ode antara lain bernada anggun, nada dan gayanya resmi, membahas tentang sesuatu yang mulia, dan bersifat menyanjung.</p>
36
<p>Ode adalah salah satu jenis puisi baru yang<strong>berisi sanjungan kepada orang yang sangat berjasa</strong>. Ciri ode antara lain bernada anggun, nada dan gayanya resmi, membahas tentang sesuatu yang mulia, dan bersifat menyanjung.</p>
37
<h4>6. Romansa</h4>
37
<h4>6. Romansa</h4>
38
<p>Romansa merupakan salah satu jenis puisi baru yang<strong>berisikan luapan perasaan cinta dan kasih sayang</strong>. Romansa berasal dari Bahasa Perancis “<em>romantique</em>” yang memiliki arti keindahan perasaan; persoalan kasih sayang; dan kasih mesra.</p>
38
<p>Romansa merupakan salah satu jenis puisi baru yang<strong>berisikan luapan perasaan cinta dan kasih sayang</strong>. Romansa berasal dari Bahasa Perancis “<em>romantique</em>” yang memiliki arti keindahan perasaan; persoalan kasih sayang; dan kasih mesra.</p>
39
<h4>7. Satire</h4>
39
<h4>7. Satire</h4>
40
<p>Satire adalah salah satu jenis puisi baru yang<strong>berisikan sindiran atau kritikan</strong>. Satire ini berasal dari Bahasa Latin “<em>satura</em>” yang memiliki arti sindiran: kecaman tajam terhadap suatu fenomena; dan tidak puasnya hati suatu golongan (pada pemimpin yang zalim).</p>
40
<p>Satire adalah salah satu jenis puisi baru yang<strong>berisikan sindiran atau kritikan</strong>. Satire ini berasal dari Bahasa Latin “<em>satura</em>” yang memiliki arti sindiran: kecaman tajam terhadap suatu fenomena; dan tidak puasnya hati suatu golongan (pada pemimpin yang zalim).</p>
41
<p><strong>Baca Juga:<a>Puisi Rakyat: Pengertian, Ciri, Jenis, Struktur & Contohnya</a> </strong></p>
41
<p><strong>Baca Juga:<a>Puisi Rakyat: Pengertian, Ciri, Jenis, Struktur & Contohnya</a> </strong></p>
42
<h3>B. Jenis Puisi Baru Berdasarkan Bentuknya</h3>
42
<h3>B. Jenis Puisi Baru Berdasarkan Bentuknya</h3>
43
<p>Sementara itu, berdasarkan bentuknya, puisi baru dibedakan menjadi<strong>distikon, terzina, kuatrain, kuint, sektet, septime, oktaf/stanza, dan soneta</strong>.</p>
43
<p>Sementara itu, berdasarkan bentuknya, puisi baru dibedakan menjadi<strong>distikon, terzina, kuatrain, kuint, sektet, septime, oktaf/stanza, dan soneta</strong>.</p>
44
<h4>1. Distikon</h4>
44
<h4>1. Distikon</h4>
45
<p>Jenis puisi yang<strong>tiap bait terdiri dari dua baris</strong>dan biasa disebut puisi dua seuntai.</p>
45
<p>Jenis puisi yang<strong>tiap bait terdiri dari dua baris</strong>dan biasa disebut puisi dua seuntai.</p>
46
<h4>2. Terzina</h4>
46
<h4>2. Terzina</h4>
47
<p>Jenis puisi yang<strong>tiap bait terdiri dari tiga baris</strong>atau biasa disebut puisi tiga seuntai.</p>
47
<p>Jenis puisi yang<strong>tiap bait terdiri dari tiga baris</strong>atau biasa disebut puisi tiga seuntai.</p>
48
<h4>3. Kuatrain</h4>
48
<h4>3. Kuatrain</h4>
49
<p>Jenis puisi yang<strong>tiap bait terdiri atas empat baris</strong>dan biasa disebut puisi empat seuntai.</p>
49
<p>Jenis puisi yang<strong>tiap bait terdiri atas empat baris</strong>dan biasa disebut puisi empat seuntai.</p>
50
<h4>4. Kuint</h4>
50
<h4>4. Kuint</h4>
51
<p>Jenis puisi yang<strong>tiap bait terdiri dari lima baris</strong>dan biasa disebut puisi lima seuntai.</p>
51
<p>Jenis puisi yang<strong>tiap bait terdiri dari lima baris</strong>dan biasa disebut puisi lima seuntai.</p>
52
<h4>5. Sektet</h4>
52
<h4>5. Sektet</h4>
53
<p>Jenis puisi yang<strong>tiap bait terdiri dari enam baris</strong>atau biasa disebut puisi enam seuntai.</p>
53
<p>Jenis puisi yang<strong>tiap bait terdiri dari enam baris</strong>atau biasa disebut puisi enam seuntai.</p>
54
<h4>6. Septima</h4>
54
<h4>6. Septima</h4>
55
<p>Jenis puisi yang<strong>tiap bait terdiri dari tujuh</strong>baris atau bisa disebut puisi tujuh seuntai.</p>
55
<p>Jenis puisi yang<strong>tiap bait terdiri dari tujuh</strong>baris atau bisa disebut puisi tujuh seuntai.</p>
56
<h4>7. Oktaf/Stanza</h4>
56
<h4>7. Oktaf/Stanza</h4>
57
<p>Jenis puisi yang<strong>tiap bait terdiri dari delapan baris</strong>dan disebut double kuatrain atau puisi delapan seuntai.</p>
57
<p>Jenis puisi yang<strong>tiap bait terdiri dari delapan baris</strong>dan disebut double kuatrain atau puisi delapan seuntai.</p>
58
<h4>8. Soneta</h4>
58
<h4>8. Soneta</h4>
59
<p>Soneta berasal dari Bahasa Italia yaitu “<em>sonneto</em>” yang memiliki arti puisi yang bersuara. Jenis puisi baru ini terdiri dari<strong>empat baris yang terbagi menjadi dua</strong>, yaitu dua<strong>bait pertama masing-masing empat baris dan dua bait kedua masing-masing tiga baris (4-4-3-3)</strong>.</p>
59
<p>Soneta berasal dari Bahasa Italia yaitu “<em>sonneto</em>” yang memiliki arti puisi yang bersuara. Jenis puisi baru ini terdiri dari<strong>empat baris yang terbagi menjadi dua</strong>, yaitu dua<strong>bait pertama masing-masing empat baris dan dua bait kedua masing-masing tiga baris (4-4-3-3)</strong>.</p>
60
<p>Soneta di Indonesia masuk melalui Belanda dan pertama kali diperkenalkan oleh Muhammad Yamin dan Roestam Effendi, yang karena hal itu mereka disebut sebagai Pelopor atau Bapak Soneta indonesia. Dalam perkembangannya di Indonesia, puisi soneta bisa berpola 4-4-4-2 atau bahkan hanya 1 bait namun di dalamnya memiliki 14 baris sekaligus.</p>
60
<p>Soneta di Indonesia masuk melalui Belanda dan pertama kali diperkenalkan oleh Muhammad Yamin dan Roestam Effendi, yang karena hal itu mereka disebut sebagai Pelopor atau Bapak Soneta indonesia. Dalam perkembangannya di Indonesia, puisi soneta bisa berpola 4-4-4-2 atau bahkan hanya 1 bait namun di dalamnya memiliki 14 baris sekaligus.</p>
61
<p>Bentuk soneta di Indonesia memang lebih memiliki kebebasan dalam segi isi ataupun rimanya, tidak lagi mengikuti syarat-syarat soneta dari Italia ataupun Inggris. Namun, yang menjadi pedoman adalah jumlah barisnya, yakni empat belas baris.</p>
61
<p>Bentuk soneta di Indonesia memang lebih memiliki kebebasan dalam segi isi ataupun rimanya, tidak lagi mengikuti syarat-syarat soneta dari Italia ataupun Inggris. Namun, yang menjadi pedoman adalah jumlah barisnya, yakni empat belas baris.</p>
62
<p><strong>Baca Juga:<a>Kumpulan Contoh Puisi Pendek Bermacam Tema dan Makna</a></strong></p>
62
<p><strong>Baca Juga:<a>Kumpulan Contoh Puisi Pendek Bermacam Tema dan Makna</a></strong></p>
63
<h2>Contoh Puisi Baru</h2>
63
<h2>Contoh Puisi Baru</h2>
64
<p>Nah, bahasan yang terakhir, kakak akan lampirkan beberapa referensi contoh puisi baru bedasarkan macam-macamnya. Yuk, kita simak!</p>
64
<p>Nah, bahasan yang terakhir, kakak akan lampirkan beberapa referensi contoh puisi baru bedasarkan macam-macamnya. Yuk, kita simak!</p>
65
<h3>1. Contoh Puisi Baru Balada</h3>
65
<h3>1. Contoh Puisi Baru Balada</h3>
66
<p><strong>Bendera</strong></p>
66
<p><strong>Bendera</strong></p>
67
<p><em>(oleh: Taufiq Ismail)</em></p>
67
<p><em>(oleh: Taufiq Ismail)</em></p>
68
<p>Mereka yang berpakaian hitam Telah berhenti di depan sebuah rumah Yang mengibarkan bendera duka Dan masuk dengan paksa</p>
68
<p>Mereka yang berpakaian hitam Telah berhenti di depan sebuah rumah Yang mengibarkan bendera duka Dan masuk dengan paksa</p>
69
<p>Mereka yang berpakaian hitam Telah menurunkan bendera itu Di hadapan seorang ibu yang tua “Tidak ada pahlawan meninggal dunia!”</p>
69
<p>Mereka yang berpakaian hitam Telah menurunkan bendera itu Di hadapan seorang ibu yang tua “Tidak ada pahlawan meninggal dunia!”</p>
70
<p>Mereka yang berpakaian hitam Dengan hati yang kelam Telah meninggalkan rumah itu Tergesa-gesa</p>
70
<p>Mereka yang berpakaian hitam Dengan hati yang kelam Telah meninggalkan rumah itu Tergesa-gesa</p>
71
<p>Kemudian ibu tua itu Pelahan menaikkan kembali Bendera yang duka Ke tiang yang duka</p>
71
<p>Kemudian ibu tua itu Pelahan menaikkan kembali Bendera yang duka Ke tiang yang duka</p>
72
<h3>2. Contoh Puisi Baru Elegi</h3>
72
<h3>2. Contoh Puisi Baru Elegi</h3>
73
<p><strong>Elegi Jakarta</strong></p>
73
<p><strong>Elegi Jakarta</strong></p>
74
<p>(<em>oleh: Asrul Sani</em>)</p>
74
<p>(<em>oleh: Asrul Sani</em>)</p>
75
<p>Pada tapal terakhir sampai ke Yogya, bimbang telah datang pada nyala langit telah tergantung suram Kata-kata berantukan pada arti sendiri Bimbang telah datang pada nyala dan cinta tanah air akan berupa peluru dalam darah serta nilai yang bertebaran sepanjang masa bertanya akan kesudahan ujian mati - atau tiada mati-matinya O jenderal, bapa, bapa tiadakah engkau hendak berkata untuk kesekian kali ataukah suatu kehilangan keyakinan hanya akan tetap tinggal pada titik-sempurna dan nanti tulisan yang telah diperbuat sementara akan hilang ditiup angin ia berdiam di pasir kering</p>
75
<p>Pada tapal terakhir sampai ke Yogya, bimbang telah datang pada nyala langit telah tergantung suram Kata-kata berantukan pada arti sendiri Bimbang telah datang pada nyala dan cinta tanah air akan berupa peluru dalam darah serta nilai yang bertebaran sepanjang masa bertanya akan kesudahan ujian mati - atau tiada mati-matinya O jenderal, bapa, bapa tiadakah engkau hendak berkata untuk kesekian kali ataukah suatu kehilangan keyakinan hanya akan tetap tinggal pada titik-sempurna dan nanti tulisan yang telah diperbuat sementara akan hilang ditiup angin ia berdiam di pasir kering</p>
76
<h3><strong>3. Contoh Puisi Baru Epigram</strong></h3>
76
<h3><strong>3. Contoh Puisi Baru Epigram</strong></h3>
77
<p><strong>Sajak Ajaran Hidup</strong></p>
77
<p><strong>Sajak Ajaran Hidup</strong></p>
78
<p><em>(oleh: Sapardi Djoko Damono)</em></p>
78
<p><em>(oleh: Sapardi Djoko Damono)</em></p>
79
<p>hidup telah mendidikmu dengan keras agar bersikap sopan - misalnya buru-buru melepaskan topi atau sejenak menundukkan kepala - jika ada jenazah lewat hidup juga telah mengajarmu merapikan rambutmu yang sudah memutih, membetulkan letak kacamatamu, dan menggumamkan beberapa lirik doa jika ada jenazah lewat agar masih dianggap menghormati lambang kekalahannya sendiri</p>
79
<p>hidup telah mendidikmu dengan keras agar bersikap sopan - misalnya buru-buru melepaskan topi atau sejenak menundukkan kepala - jika ada jenazah lewat hidup juga telah mengajarmu merapikan rambutmu yang sudah memutih, membetulkan letak kacamatamu, dan menggumamkan beberapa lirik doa jika ada jenazah lewat agar masih dianggap menghormati lambang kekalahannya sendiri</p>
80
<p><strong>Baca Juga:<a>Pengertian, Jenis, dan Contoh Puisi Kontemporer</a></strong></p>
80
<p><strong>Baca Juga:<a>Pengertian, Jenis, dan Contoh Puisi Kontemporer</a></strong></p>
81
<h3><strong>4. Contoh Puisi Baru Himne</strong></h3>
81
<h3><strong>4. Contoh Puisi Baru Himne</strong></h3>
82
<p><strong>Doa</strong></p>
82
<p><strong>Doa</strong></p>
83
<p><em>(oleh: Taufik Ismail)</em></p>
83
<p><em>(oleh: Taufik Ismail)</em></p>
84
<p>Tuhan kami Telah nista kami dalam dosa bersama Bertahun-tahun membangun kultus ini Dalam pikiran yang ganda Dan menutupi hati nurani</p>
84
<p>Tuhan kami Telah nista kami dalam dosa bersama Bertahun-tahun membangun kultus ini Dalam pikiran yang ganda Dan menutupi hati nurani</p>
85
<p>Ampunilah kami Ampunilah Amin</p>
85
<p>Ampunilah kami Ampunilah Amin</p>
86
<p>Tuhan kami Telah terlalu mudah kami Menggunakan AsmaMu Bertahun di negeri ini Semoga Kau rela menerima kembali Kami dalam barisanMu</p>
86
<p>Tuhan kami Telah terlalu mudah kami Menggunakan AsmaMu Bertahun di negeri ini Semoga Kau rela menerima kembali Kami dalam barisanMu</p>
87
<p>Ampunilah kami Ampunilah Amin</p>
87
<p>Ampunilah kami Ampunilah Amin</p>
88
<h3><strong>5. Contoh Puisi Baru Ode</strong></h3>
88
<h3><strong>5. Contoh Puisi Baru Ode</strong></h3>
89
<p><strong>Diponegoro</strong></p>
89
<p><strong>Diponegoro</strong></p>
90
<p><em>(oleh: Chairil Anwar)</em></p>
90
<p><em>(oleh: Chairil Anwar)</em></p>
91
<p>Di masa pembangunan ini Tuan hidup kembali Dan bara kagum menjadi api Di depan sekali tuan menanti Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali. Pedang di kanan, keris di kiri Berselempang semangat yang tak bisa mati.</p>
91
<p>Di masa pembangunan ini Tuan hidup kembali Dan bara kagum menjadi api Di depan sekali tuan menanti Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali. Pedang di kanan, keris di kiri Berselempang semangat yang tak bisa mati.</p>
92
<p>MAJU Ini barisan tak bergenderang-berpalu Kepercayaan tanda menyerbu Sekali berarti Sudah itu mati</p>
92
<p>MAJU Ini barisan tak bergenderang-berpalu Kepercayaan tanda menyerbu Sekali berarti Sudah itu mati</p>
93
<p>MAJU Bagimu Negeri Menyediakan api Punah di atas menghamba Binasa di atas ditinda Sungguhpun dalam ajal baru tercapai Jika hidup harus merasai</p>
93
<p>MAJU Bagimu Negeri Menyediakan api Punah di atas menghamba Binasa di atas ditinda Sungguhpun dalam ajal baru tercapai Jika hidup harus merasai</p>
94
<p>MAJU Serbu. Serang. Terjang. Februari 1943</p>
94
<p>MAJU Serbu. Serang. Terjang. Februari 1943</p>
95
<h3><strong>6. Contoh Puisi Baru Romansa</strong></h3>
95
<h3><strong>6. Contoh Puisi Baru Romansa</strong></h3>
96
<p><strong>Lagu Gadis Itali</strong></p>
96
<p><strong>Lagu Gadis Itali</strong></p>
97
<p><em>(oleh: Sitor Situmorang)</em></p>
97
<p><em>(oleh: Sitor Situmorang)</em></p>
98
<p>Kerling danau di pagi hari Lonceng gereja bukit Itali Jika musimmu tiba nanti Jemputlah abang di teluk Napoli Kerling danau di pagi hari Lonceng gereja bukit Itali Sedari abang lalu pergi Adik rindu setiap hari Kerling danau di pagi hari Lonceng gereja bukit Itali Andai abang tak kembali Adik menunggu sampai mati Batu tandus di kebun anggur Pasir teduh di bawah nyiur Abang lenyap hatiku hancur Mengejar bayang di salju gugur 1955</p>
98
<p>Kerling danau di pagi hari Lonceng gereja bukit Itali Jika musimmu tiba nanti Jemputlah abang di teluk Napoli Kerling danau di pagi hari Lonceng gereja bukit Itali Sedari abang lalu pergi Adik rindu setiap hari Kerling danau di pagi hari Lonceng gereja bukit Itali Andai abang tak kembali Adik menunggu sampai mati Batu tandus di kebun anggur Pasir teduh di bawah nyiur Abang lenyap hatiku hancur Mengejar bayang di salju gugur 1955</p>
99
<p><strong>Baca Juga:<a>Kumpulan Contoh Puisi Rakyat: Pantun, Gurindam & Syair, Lengkap!</a></strong></p>
99
<p><strong>Baca Juga:<a>Kumpulan Contoh Puisi Rakyat: Pantun, Gurindam & Syair, Lengkap!</a></strong></p>
100
<h3><strong>7. Contoh Puisi Baru Satire</strong></h3>
100
<h3><strong>7. Contoh Puisi Baru Satire</strong></h3>
101
<p><strong>Aku Bertanya</strong></p>
101
<p><strong>Aku Bertanya</strong></p>
102
<p><em>(oleh W.S. Rendra)</em></p>
102
<p><em>(oleh W.S. Rendra)</em></p>
103
<p>Aku bertanya… tetapi pertanyaan-pertanyaanku membentur jidat penyair-penyair salon, yang bersajak tentang anggur dan rembulan, sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya, dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan, termangu-mangu dalam kaki dewi kesenian.</p>
103
<p>Aku bertanya… tetapi pertanyaan-pertanyaanku membentur jidat penyair-penyair salon, yang bersajak tentang anggur dan rembulan, sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya, dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan, termangu-mangu dalam kaki dewi kesenian.</p>
104
<h3>8. Contoh Puisi Distikon</h3>
104
<h3>8. Contoh Puisi Distikon</h3>
105
<p><strong>Hutan Karet</strong></p>
105
<p><strong>Hutan Karet</strong></p>
106
<p><em>(Oleh: Joko Pinurbo)</em></p>
106
<p><em>(Oleh: Joko Pinurbo)</em></p>
107
<p><em>-in memoriam: Sukabumi</em></p>
107
<p><em>-in memoriam: Sukabumi</em></p>
108
<p>Daun-daun karet berserakan. Berserakan di hamparan waktu.</p>
108
<p>Daun-daun karet berserakan. Berserakan di hamparan waktu.</p>
109
<p>Suara monyet di dahan-dahan. Suara kalong menghalau petang.</p>
109
<p>Suara monyet di dahan-dahan. Suara kalong menghalau petang.</p>
110
<p>Di pucuk-pucuk ilalang belalang berloncatan. Berloncatan di semak-semak rindu.</p>
110
<p>Di pucuk-pucuk ilalang belalang berloncatan. Berloncatan di semak-semak rindu.</p>
111
<p>Dan sebuah jalan melingkar-lingkar membelit kenangan terjal.</p>
111
<p>Dan sebuah jalan melingkar-lingkar membelit kenangan terjal.</p>
112
<p>Sesaat sebelum surya berlalu masih kudengat suara beduk bertalu-talu.</p>
112
<p>Sesaat sebelum surya berlalu masih kudengat suara beduk bertalu-talu.</p>
113
<p>(1990)</p>
113
<p>(1990)</p>
114
<p>(Sumber: Joko Pinurbo, Selamat Menunaikan Ibadah Puisi, hlm 2.)</p>
114
<p>(Sumber: Joko Pinurbo, Selamat Menunaikan Ibadah Puisi, hlm 2.)</p>
115
<h3>9. Contoh Puisi Terzina</h3>
115
<h3>9. Contoh Puisi Terzina</h3>
116
<p><strong>Aku Ingin</strong></p>
116
<p><strong>Aku Ingin</strong></p>
117
<p><em>(Oleh: Sapardi Djoko Damono)</em></p>
117
<p><em>(Oleh: Sapardi Djoko Damono)</em></p>
118
<p>aku ingin mencintaimu dengan sederhana: dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu</p>
118
<p>aku ingin mencintaimu dengan sederhana: dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu</p>
119
<p>aku ingin mencintaimu dengan sederhana: dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada</p>
119
<p>aku ingin mencintaimu dengan sederhana: dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada</p>
120
<p>(1989)</p>
120
<p>(1989)</p>
121
<p>(Sumber: Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni, hlm 105.)</p>
121
<p>(Sumber: Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni, hlm 105.)</p>
122
<h3>10. Contoh Puisi Kuatrain</h3>
122
<h3>10. Contoh Puisi Kuatrain</h3>
123
<p><strong>Hujan Bulan Juni</strong></p>
123
<p><strong>Hujan Bulan Juni</strong></p>
124
<p><em>(Oleh: Sapardi Djoko Damono)</em></p>
124
<p><em>(Oleh: Sapardi Djoko Damono)</em></p>
125
<p>tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu</p>
125
<p>tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu</p>
126
<p>tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu</p>
126
<p>tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu</p>
127
<p>tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu</p>
127
<p>tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu</p>
128
<p>(1989)</p>
128
<p>(1989)</p>
129
<p>(Sumber: Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni, hlm 104.)</p>
129
<p>(Sumber: Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni, hlm 104.)</p>
130
<h3>11. Conotoh Puisi Kuint</h3>
130
<h3>11. Conotoh Puisi Kuint</h3>
131
<p><strong>Embun Hutan Jati</strong></p>
131
<p><strong>Embun Hutan Jati</strong></p>
132
<p><em>(Oleh: Candra Malik)</em></p>
132
<p><em>(Oleh: Candra Malik)</em></p>
133
<p>Hutan jati menunggu janji, sepanjang hari yang sepi, ketika ulat-ulat melingkari. Jari-jemarinya yang tinggi memekarkan matahari.</p>
133
<p>Hutan jati menunggu janji, sepanjang hari yang sepi, ketika ulat-ulat melingkari. Jari-jemarinya yang tinggi memekarkan matahari.</p>
134
<p>Pekarangan luas semesta adalah telapak tangannya. Menengadahlah angkasa raya, minta embun dan air mata membasahi kelopak bunga.</p>
134
<p>Pekarangan luas semesta adalah telapak tangannya. Menengadahlah angkasa raya, minta embun dan air mata membasahi kelopak bunga.</p>
135
<p>terlalu lama dalam gelap, sepi beramai-ramai menetap, angin mengepung senyap, dan terik menolak lenyap, tunas-tunas bersedekap.</p>
135
<p>terlalu lama dalam gelap, sepi beramai-ramai menetap, angin mengepung senyap, dan terik menolak lenyap, tunas-tunas bersedekap.</p>
136
<p>Lidah ular tedung menjulur sakat pandan telah berumur, bertandan-tanda intan sanur, merah dan kuning membaur, mengalungi hutan leluhur.</p>
136
<p>Lidah ular tedung menjulur sakat pandan telah berumur, bertandan-tanda intan sanur, merah dan kuning membaur, mengalungi hutan leluhur.</p>
137
<p>Kutulis di tanah kemarau, guguran daun berderau-derau, patahan teranting masa lalu: di sini, kau akan kutunggu sampai ujung waktuku.</p>
137
<p>Kutulis di tanah kemarau, guguran daun berderau-derau, patahan teranting masa lalu: di sini, kau akan kutunggu sampai ujung waktuku.</p>
138
<p>Malang, 2016</p>
138
<p>Malang, 2016</p>
139
<p>(Sumber: Candra Malik,<em>Asal Muasal Pelukan</em>, hlm 143-144.)</p>
139
<p>(Sumber: Candra Malik,<em>Asal Muasal Pelukan</em>, hlm 143-144.)</p>
140
<h3>12. Contoh Puisi Sektet</h3>
140
<h3>12. Contoh Puisi Sektet</h3>
141
<p><strong>Pendaratan Malam</strong></p>
141
<p><strong>Pendaratan Malam</strong></p>
142
<p><em>(Oleh: Sitor Situmorang)</em></p>
142
<p><em>(Oleh: Sitor Situmorang)</em></p>
143
<p>Tentara tak berbekal mendarat Di malam disuburkan lapar (Bila fajar bawa berita Kayu apung istirahat mereka) Tentara tak berbekal mendarat Di malam disuburkan lapar</p>
143
<p>Tentara tak berbekal mendarat Di malam disuburkan lapar (Bila fajar bawa berita Kayu apung istirahat mereka) Tentara tak berbekal mendarat Di malam disuburkan lapar</p>
144
<p>(Sumber: Sitor Situmorang,<em>Dalam Sajak</em>, hlm 42.)</p>
144
<p>(Sumber: Sitor Situmorang,<em>Dalam Sajak</em>, hlm 42.)</p>
145
<h3>13. Contoh Puisi Septima</h3>
145
<h3>13. Contoh Puisi Septima</h3>
146
<p><strong>Indonesia Tumpah Darahku</strong></p>
146
<p><strong>Indonesia Tumpah Darahku</strong></p>
147
<p><em>(Oleh: M. Yamin)</em></p>
147
<p><em>(Oleh: M. Yamin)</em></p>
148
<p>Bersatu kita teguh Bercerai kita jatuh</p>
148
<p>Bersatu kita teguh Bercerai kita jatuh</p>
149
<p>Duduk di pantai tanah yang permai Tempat gelombang pecah berderai Berbuih putih di pasir terderai Tampaklah pulau di lautan hijau Gunung-gunung bagus rupanya Dilingkari air mulia tampaknya Tumoah darahku Indonesia namanya</p>
149
<p>Duduk di pantai tanah yang permai Tempat gelombang pecah berderai Berbuih putih di pasir terderai Tampaklah pulau di lautan hijau Gunung-gunung bagus rupanya Dilingkari air mulia tampaknya Tumoah darahku Indonesia namanya</p>
150
<p>Lihatlah kelapa melambai-lambai Berdesir bunyinya sesayup sampai Tumbuh di pantai bercerai-cerai Memagar daratan aman kelihatan Dengarlah ombak datang berlagu Mengejar bumi ayah dan ibu Indonesia namanya, tanah airku</p>
150
<p>Lihatlah kelapa melambai-lambai Berdesir bunyinya sesayup sampai Tumbuh di pantai bercerai-cerai Memagar daratan aman kelihatan Dengarlah ombak datang berlagu Mengejar bumi ayah dan ibu Indonesia namanya, tanah airku</p>
151
<p>Tanahku bercerai seberang-menyeberang Merapung di air, malam dan siang Sebagai telaga dihiasi kiambang Sejak malam diberi kelam Sampai bulan terang-benderang Di sanalah gerangan bangsaku gerangan menopang Selama berteduh di alam nan lapang</p>
151
<p>Tanahku bercerai seberang-menyeberang Merapung di air, malam dan siang Sebagai telaga dihiasi kiambang Sejak malam diberi kelam Sampai bulan terang-benderang Di sanalah gerangan bangsaku gerangan menopang Selama berteduh di alam nan lapang</p>
152
<p>Tumpah darah nusa India Dalam hatiku selalu mulia Dijunjung tinggi atas kepala Semenjak diri lahir ke bumi Sampai bercerai badan dan nyawa Karena kita sedarah sebangsa Bertanah air di Indonesia</p>
152
<p>Tumpah darah nusa India Dalam hatiku selalu mulia Dijunjung tinggi atas kepala Semenjak diri lahir ke bumi Sampai bercerai badan dan nyawa Karena kita sedarah sebangsa Bertanah air di Indonesia</p>
153
<p><strong>Baca Juga:<a>Cara Membuat Puisi yang Benar dan Menarik</a></strong></p>
153
<p><strong>Baca Juga:<a>Cara Membuat Puisi yang Benar dan Menarik</a></strong></p>
154
<h3><strong>14. Contoh Puisi Oktaf/Stanza</strong></h3>
154
<h3><strong>14. Contoh Puisi Oktaf/Stanza</strong></h3>
155
<p><strong>Lagu Angin</strong></p>
155
<p><strong>Lagu Angin</strong></p>
156
<p><em>(Oleh: W.S. Rendra)</em></p>
156
<p><em>(Oleh: W.S. Rendra)</em></p>
157
<p>Jika aku pergi ke timur arahku jauh, ya, ke timur. Jika aku masuk ke hutan aku disayang, ya, di hutan. Aku pergi dan kakiku adalah hatiku. Sekali pergi menolak rindu. Ada duka, pedih dan airmata biru tapi aku menolak rindu.</p>
157
<p>Jika aku pergi ke timur arahku jauh, ya, ke timur. Jika aku masuk ke hutan aku disayang, ya, di hutan. Aku pergi dan kakiku adalah hatiku. Sekali pergi menolak rindu. Ada duka, pedih dan airmata biru tapi aku menolak rindu.</p>
158
<p>(Sumber: Ibid, hlm 59.)</p>
158
<p>(Sumber: Ibid, hlm 59.)</p>
159
<h3>15. Contoh Puisi Soneta Pola 4-4-3-3</h3>
159
<h3>15. Contoh Puisi Soneta Pola 4-4-3-3</h3>
160
<p><strong>Pagi-Pagi</strong></p>
160
<p><strong>Pagi-Pagi</strong></p>
161
<p><em>(Oleh: M. Yamin)</em></p>
161
<p><em>(Oleh: M. Yamin)</em></p>
162
<p>Teja dan cerawat masih gemilang, Memuramkan bintang mulia raya; Menjadi pudar padam cahaya, Timbul tenggelam berulang-ulang.</p>
162
<p>Teja dan cerawat masih gemilang, Memuramkan bintang mulia raya; Menjadi pudar padam cahaya, Timbul tenggelam berulang-ulang.</p>
163
<p>Fajar di timur datang menjelang, Membawa permata ke atas dunia; Seri-berseri sepantun mulia, Berbagai warna, bersilang-silang.</p>
163
<p>Fajar di timur datang menjelang, Membawa permata ke atas dunia; Seri-berseri sepantun mulia, Berbagai warna, bersilang-silang.</p>
164
<p>Lambatlaun serta berdandan, Timbul matahari dengan pelahaan; Menyinari bumi dengan keindahan.</p>
164
<p>Lambatlaun serta berdandan, Timbul matahari dengan pelahaan; Menyinari bumi dengan keindahan.</p>
165
<p>Segala bunga harumkan pandan, Kembang terbuka, bagus gubahan; Dibasahi embun, titik di dahan.</p>
165
<p>Segala bunga harumkan pandan, Kembang terbuka, bagus gubahan; Dibasahi embun, titik di dahan.</p>
166
<p>(Sumber: Sapardi Djoko Damono,<em>Bilang Begini Maksudnya Begitu</em>, hlm 12.)</p>
166
<p>(Sumber: Sapardi Djoko Damono,<em>Bilang Begini Maksudnya Begitu</em>, hlm 12.)</p>
167
<h3>16. Contoh Puisi Soneta Pola 4-4-4-2</h3>
167
<h3>16. Contoh Puisi Soneta Pola 4-4-4-2</h3>
168
<p><strong>Entah Sampai Kapan</strong></p>
168
<p><strong>Entah Sampai Kapan</strong></p>
169
<p><em>(Oleh: Sapardi Djoko Damono)</em></p>
169
<p><em>(Oleh: Sapardi Djoko Damono)</em></p>
170
<p>entah sejak kapan kita gugup di antara frasa-frasa pongah di kain rentang yang berlubang-lubang sepanjang jalan raya itu; kita berhimpitan</p>
170
<p>entah sejak kapan kita gugup di antara frasa-frasa pongah di kain rentang yang berlubang-lubang sepanjang jalan raya itu; kita berhimpitan</p>
171
<p>di antara kata-kata kasar yang desak-mendesak di kain rentang yang ditiup angin, yang diikat di antara batang pohon dan tiang listrik itu; kita tergencet di sela-sela</p>
171
<p>di antara kata-kata kasar yang desak-mendesak di kain rentang yang ditiup angin, yang diikat di antara batang pohon dan tiang listrik itu; kita tergencet di sela-sela</p>
172
<p>huruf-huruf kaku yang tindih menindih di kain rentang yang berjuntai di perempatan jalan yang tanpa lampu lalu lintas itu. Telah sejak lama rupanya kita suka membayangkan diri kita</p>
172
<p>huruf-huruf kaku yang tindih menindih di kain rentang yang berjuntai di perempatan jalan yang tanpa lampu lalu lintas itu. Telah sejak lama rupanya kita suka membayangkan diri kita</p>
173
<p>menjelma kain rentang koyak-moyak itu, sebisanya bertahan terhadap hujan, angin, panas, dan dingin.</p>
173
<p>menjelma kain rentang koyak-moyak itu, sebisanya bertahan terhadap hujan, angin, panas, dan dingin.</p>
174
<p>(Sumber: Sapardi Djoko Damono,<em>Melipat Jarak</em>, hlm 31.)</p>
174
<p>(Sumber: Sapardi Djoko Damono,<em>Melipat Jarak</em>, hlm 31.)</p>
175
<h3>17. Contoh Puisi Soneta 1 Bait 14 Baris Sekaligus</h3>
175
<h3>17. Contoh Puisi Soneta 1 Bait 14 Baris Sekaligus</h3>
176
<p><strong>Aku</strong></p>
176
<p><strong>Aku</strong></p>
177
<p><em>(Oleh: KH. Jamaluddin Kafie)</em></p>
177
<p><em>(Oleh: KH. Jamaluddin Kafie)</em></p>
178
<p>Apakah aku hanya aku Duduk mengintai waktu menunggu Orang-orang di persimpangan jalan berhenti Lalu aku memutar arahku memburu waktu Yang selalu mengintai aku di perbatasan Nafsu Hingga aku segan bertanya kepada Tuhan Kapan waktu aku bisa bertemu Karena aku sedang sibuk mencari arah jalan Sambil mengulur-ulur waktu Tetapi aku semakin percaya Waktu jualah yang akan mengantarkan aku Kapan Tuhan bisa kutemui Tanpa waktu</p>
178
<p>Apakah aku hanya aku Duduk mengintai waktu menunggu Orang-orang di persimpangan jalan berhenti Lalu aku memutar arahku memburu waktu Yang selalu mengintai aku di perbatasan Nafsu Hingga aku segan bertanya kepada Tuhan Kapan waktu aku bisa bertemu Karena aku sedang sibuk mencari arah jalan Sambil mengulur-ulur waktu Tetapi aku semakin percaya Waktu jualah yang akan mengantarkan aku Kapan Tuhan bisa kutemui Tanpa waktu</p>
179
<p>-</p>
179
<p>-</p>
180
<p>Sudah paham kan mengenai jenis-jenis puisi baru dan contohnya. Buat kamu yang masih bingung, nonton aja video belajar beranimasi tentang puisi baru di<strong><a>ruangbelajar</a></strong>. Ada latihan soal dan rangkumannya juga, lho!</p>
180
<p>Sudah paham kan mengenai jenis-jenis puisi baru dan contohnya. Buat kamu yang masih bingung, nonton aja video belajar beranimasi tentang puisi baru di<strong><a>ruangbelajar</a></strong>. Ada latihan soal dan rangkumannya juga, lho!</p>
181
<p><strong>Referensi:</strong></p>
181
<p><strong>Referensi:</strong></p>
182
<p>Zabadi, Fairul dan Sutejo. 2015. Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.</p>
182
<p>Zabadi, Fairul dan Sutejo. 2015. Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.</p>
183
<p>https://bobo.grid.id/read/084020352/menemukan-perbedaan-puisi-lama-dan-puisi-baru-materi-bahasa-indonesia?page=all (Diakses pada 7 Mei 2024)</p>
183
<p>https://bobo.grid.id/read/084020352/menemukan-perbedaan-puisi-lama-dan-puisi-baru-materi-bahasa-indonesia?page=all (Diakses pada 7 Mei 2024)</p>
184
<p>https://kumparan.com/berita-terkini/mengenal-perbedaan-puisi-lama-dan-puisi-baru-22g9ehEbeEh/full (Diakses pada 7 Mei 2024)</p>
184
<p>https://kumparan.com/berita-terkini/mengenal-perbedaan-puisi-lama-dan-puisi-baru-22g9ehEbeEh/full (Diakses pada 7 Mei 2024)</p>
185
<p>https://danririsbastind.wordpress.com/2010/03/16/puisi-indonesia-tumpah-darahku-m-yamin/ (Diakses pada 7 Mei 2024)</p>
185
<p>https://danririsbastind.wordpress.com/2010/03/16/puisi-indonesia-tumpah-darahku-m-yamin/ (Diakses pada 7 Mei 2024)</p>
186
<p>https://dosenbahasa.com/ (Diakses pada 7 Mei 2024)</p>
186
<p>https://dosenbahasa.com/ (Diakses pada 7 Mei 2024)</p>
187
<p><em><strong>Artikel ini pertama kali ditulis oleh Shabrina Alfari, lalu diperbarui oleh Hani Ammariah pada 7 Mei 2024.</strong></em></p>
187
<p><em><strong>Artikel ini pertama kali ditulis oleh Shabrina Alfari, lalu diperbarui oleh Hani Ammariah pada 7 Mei 2024.</strong></em></p>
188
188