HTML Diff
0 added 0 removed
Original 2026-01-01
Modified 2026-03-08
1 <p><em></em></p>
1 <p><em></em></p>
2 <blockquote><p><em>Yuk, simak artikel ini untuk mengetahui alur atau proses praproduksi pada produk multimedia!<a>Anak Kelas 12 SMK Jurusan Multimedia</a>wajib baca, nih!</em></p>
2 <blockquote><p><em>Yuk, simak artikel ini untuk mengetahui alur atau proses praproduksi pada produk multimedia!<a>Anak Kelas 12 SMK Jurusan Multimedia</a>wajib baca, nih!</em></p>
3 <p><em>-</em></p>
3 <p><em>-</em></p>
4 </blockquote><p>Di situasi pandemi sekarang ini, sebagian besar aktivitas dilakukan di dalam rumah. Biasanya<em>nih</em>, untuk menghilangkan rasa bosan, kita suka mencari hiburan, mulai dari main sosmed, nge-<em>game</em>, baca buku atau komik, hingga nonton film.<em>Nah</em>,<em>kalo</em>kamu, lebih suka melakukan apa<em>nih</em>, pas lagi bosan di rumah<em>aja</em>?</p>
4 </blockquote><p>Di situasi pandemi sekarang ini, sebagian besar aktivitas dilakukan di dalam rumah. Biasanya<em>nih</em>, untuk menghilangkan rasa bosan, kita suka mencari hiburan, mulai dari main sosmed, nge-<em>game</em>, baca buku atau komik, hingga nonton film.<em>Nah</em>,<em>kalo</em>kamu, lebih suka melakukan apa<em>nih</em>, pas lagi bosan di rumah<em>aja</em>?</p>
5 <p>Ternyata,<em>game</em>, buku, komik, dan film merupakan contoh dari produk multimedia,<em>lho</em>. Bahkan, konten-konten yang ada di sosial media pun, baik itu gambar maupun video, juga termasuk produk multimedia.<em>Hmm</em>, kamu<em>tau nggak nih</em>, apa yang dimaksud dengan multimedia?</p>
5 <p>Ternyata,<em>game</em>, buku, komik, dan film merupakan contoh dari produk multimedia,<em>lho</em>. Bahkan, konten-konten yang ada di sosial media pun, baik itu gambar maupun video, juga termasuk produk multimedia.<em>Hmm</em>, kamu<em>tau nggak nih</em>, apa yang dimaksud dengan multimedia?</p>
6 <h2>Pengertian Multimedia</h2>
6 <h2>Pengertian Multimedia</h2>
7 <p>Multimedia adalah gabungan dua unsur atau lebih media, seperti teks, gambar, grafik, animasi, audio, atau video menggunakan alat bantu (<em>tools</em>) serta koneksi (link), sehingga menghasilkan output tertentu, bisa berupa informasi menarik atau hal lainnya.</p>
7 <p>Multimedia adalah gabungan dua unsur atau lebih media, seperti teks, gambar, grafik, animasi, audio, atau video menggunakan alat bantu (<em>tools</em>) serta koneksi (link), sehingga menghasilkan output tertentu, bisa berupa informasi menarik atau hal lainnya.</p>
8 <p><em>Nah</em>, jadi, selain sebagai hiburan, multimedia juga bisa digunakan untuk memberikan informasi kepada penggunanya, ya. Penggunaan multimedia ternyata lebih efektif<em>loh</em>dalam menyampaikan suatu informasi. Alasannya karena multimedia dapat merangsang beberapa indra manusia, seperti penglihatan, pendengaran, sampai penciuman.</p>
8 <p><em>Nah</em>, jadi, selain sebagai hiburan, multimedia juga bisa digunakan untuk memberikan informasi kepada penggunanya, ya. Penggunaan multimedia ternyata lebih efektif<em>loh</em>dalam menyampaikan suatu informasi. Alasannya karena multimedia dapat merangsang beberapa indra manusia, seperti penglihatan, pendengaran, sampai penciuman.</p>
9 <p>Dalam alur produksi produk multimedia, terbagi menjadi<strong>tiga tahapan</strong>, yaitu proses praproduksi, produksi, dan pascaproduksi. Ketiga alur tersebut, termasuk ke dalam Standar Operasional Prosedur (SOP).<em>Nah</em>,<strong>SOP</strong>sendiri merupakan<strong>prosedur atau tahapan pekerjaan</strong><strong>yang harus dilakukan</strong><strong>sesuai dengan standar yang sudah ditentukan</strong>.</p>
9 <p>Dalam alur produksi produk multimedia, terbagi menjadi<strong>tiga tahapan</strong>, yaitu proses praproduksi, produksi, dan pascaproduksi. Ketiga alur tersebut, termasuk ke dalam Standar Operasional Prosedur (SOP).<em>Nah</em>,<strong>SOP</strong>sendiri merupakan<strong>prosedur atau tahapan pekerjaan</strong><strong>yang harus dilakukan</strong><strong>sesuai dengan standar yang sudah ditentukan</strong>.</p>
10 <p>Di artikel kali ini, kita akan membahas tentang alur praproduksi pada produk multimedia terlebih dahulu, ya. Jadi,<em>stay tuned</em><em>aja</em>di<a>ruangbaca</a> untuk<em>update</em>-an materi selanjutnya.</p>
10 <p>Di artikel kali ini, kita akan membahas tentang alur praproduksi pada produk multimedia terlebih dahulu, ya. Jadi,<em>stay tuned</em><em>aja</em>di<a>ruangbaca</a> untuk<em>update</em>-an materi selanjutnya.</p>
11 <h2>Mengenal Alur Praproduksi</h2>
11 <h2>Mengenal Alur Praproduksi</h2>
12 <p>Oke, sebelumnya, ada yang sudah<em>tau</em>, apa itu praproduksi? Praproduksi atau sering disebut juga<em>pre production</em>merupakan tahap awal dari proses produksi. Di tahap ini, kita akan mempersiapkan segala macam hal yang akan diperlukan untuk proses produksi. Jadi,<em>kalo</em>diibaratkan<em>nih</em>, misalnya kamu ingin memasak sesuatu, maka tahap kamu membeli bahan-bahannya dan mempersiapkan peralatan masaknya, itu semua yang dimaksud dengan tahap praproduksi.</p>
12 <p>Oke, sebelumnya, ada yang sudah<em>tau</em>, apa itu praproduksi? Praproduksi atau sering disebut juga<em>pre production</em>merupakan tahap awal dari proses produksi. Di tahap ini, kita akan mempersiapkan segala macam hal yang akan diperlukan untuk proses produksi. Jadi,<em>kalo</em>diibaratkan<em>nih</em>, misalnya kamu ingin memasak sesuatu, maka tahap kamu membeli bahan-bahannya dan mempersiapkan peralatan masaknya, itu semua yang dimaksud dengan tahap praproduksi.</p>
13 <p>Kenapa harus dipersiapkan secara matang? Alasannya karena tahap praproduksi memiliki peran penting terhadap kesuksesan atau kelancaran proses produksi. Oleh karena itu, tahap ini membutuhkan waktu yang lumayan panjang, dibandingkan dengan tahap produksi dan pascaproduksi. Hampir 70% dari kegiatan produksi produk multimedia itu dikerjakan di tahap praproduksi,<em>lho</em>.</p>
13 <p>Kenapa harus dipersiapkan secara matang? Alasannya karena tahap praproduksi memiliki peran penting terhadap kesuksesan atau kelancaran proses produksi. Oleh karena itu, tahap ini membutuhkan waktu yang lumayan panjang, dibandingkan dengan tahap produksi dan pascaproduksi. Hampir 70% dari kegiatan produksi produk multimedia itu dikerjakan di tahap praproduksi,<em>lho</em>.</p>
14 <h2>Tahapan Alur Praproduksi pada Produk Multimedia</h2>
14 <h2>Tahapan Alur Praproduksi pada Produk Multimedia</h2>
15 <p><em>Nah</em>, proses praproduksi ini terbagi menjadi sembilan tahapan.<em>Waduh</em>, banyak banget, ya! Kita akan membahas satu per satu setiap tahapannya secara rinci,<em>nih</em>.<em>So</em>, baca terus sampai habis, ya.</p>
15 <p><em>Nah</em>, proses praproduksi ini terbagi menjadi sembilan tahapan.<em>Waduh</em>, banyak banget, ya! Kita akan membahas satu per satu setiap tahapannya secara rinci,<em>nih</em>.<em>So</em>, baca terus sampai habis, ya.</p>
16 <h3>1. Menentukan Ide dan Konsep</h3>
16 <h3>1. Menentukan Ide dan Konsep</h3>
17 <p>Tahapan yang pertama adalah menentukan ide dan konsep. Ide merupakan<strong>gagasan awal</strong>yang nantinya akan direalisasikan ke produk yang ingin diproduksi. Ide dapat diperoleh dari mana<em>aja</em>, bisa dari imajinasi, hobi, pengalaman, buku, film, atau lingkungan sekitar. Dari ide ini, kita akan<em>tau</em>, produk seperti apa<em>sih</em>yang ingin kita produksi.</p>
17 <p>Tahapan yang pertama adalah menentukan ide dan konsep. Ide merupakan<strong>gagasan awal</strong>yang nantinya akan direalisasikan ke produk yang ingin diproduksi. Ide dapat diperoleh dari mana<em>aja</em>, bisa dari imajinasi, hobi, pengalaman, buku, film, atau lingkungan sekitar. Dari ide ini, kita akan<em>tau</em>, produk seperti apa<em>sih</em>yang ingin kita produksi.</p>
18 <p><em>Nah</em>, setelah menemukan ide, kita bisa mengembangkannya menjadi sebuah konsep. Kita akan menentukan, seperti apa bentuk dan gaya pengemasan produk yang ingin kita buat, siapa<em>aja</em>target penontonnya, dan pesan apa yang ingin disampaikan.</p>
18 <p><em>Nah</em>, setelah menemukan ide, kita bisa mengembangkannya menjadi sebuah konsep. Kita akan menentukan, seperti apa bentuk dan gaya pengemasan produk yang ingin kita buat, siapa<em>aja</em>target penontonnya, dan pesan apa yang ingin disampaikan.</p>
19 <p>Baca Juga:<a>Mempelajari Unsur dan Prinsip Dasar Desain Grafis</a></p>
19 <p>Baca Juga:<a>Mempelajari Unsur dan Prinsip Dasar Desain Grafis</a></p>
20 <p>Misalnya<em>nih</em>, kamu punya ide ingin membuat video<em>mukbang</em>(makan-makan).<em>Nah</em>, kamu harus tentukan dulu konsep videonya mau seperti apa. Apakah<em>mukbang</em>biasa di rumah,<em>mukbang</em>ke tempat makan, atau sambil ngevlog<em>nih</em>, misalnya jalan-jalan ke<em>food festival</em>. Pastinya, dari ketiga pilihan konsep tersebut, akan menghasilkan video yang berbeda, dari segi pengambilan gambar,<em>background</em>musik, kostum, dan lain sebagainya.</p>
20 <p>Misalnya<em>nih</em>, kamu punya ide ingin membuat video<em>mukbang</em>(makan-makan).<em>Nah</em>, kamu harus tentukan dulu konsep videonya mau seperti apa. Apakah<em>mukbang</em>biasa di rumah,<em>mukbang</em>ke tempat makan, atau sambil ngevlog<em>nih</em>, misalnya jalan-jalan ke<em>food festival</em>. Pastinya, dari ketiga pilihan konsep tersebut, akan menghasilkan video yang berbeda, dari segi pengambilan gambar,<em>background</em>musik, kostum, dan lain sebagainya.</p>
21 <p>Tentunya, ide dan konsep yang menarik akan menghasilkan produk yang menarik juga, ya.</p>
21 <p>Tentunya, ide dan konsep yang menarik akan menghasilkan produk yang menarik juga, ya.</p>
22 <h3>2. Membuat Naskah</h3>
22 <h3>2. Membuat Naskah</h3>
23 <p>Selanjutnya, ada tahap pembuatan naskah. Tahap ini juga<em>nggak</em>kalah penting<em>loh</em>dari tahap sebelumnya. Pada pembuatan video atau film, naskah bisa dijadikan acuan dalam proses produksi. Tanpa adanya naskah, bisa-bisa, cerita yang ingin disampaikan<em>nggak</em>bisa tersusun dengan baik,<em>nih</em>.</p>
23 <p>Selanjutnya, ada tahap pembuatan naskah. Tahap ini juga<em>nggak</em>kalah penting<em>loh</em>dari tahap sebelumnya. Pada pembuatan video atau film, naskah bisa dijadikan acuan dalam proses produksi. Tanpa adanya naskah, bisa-bisa, cerita yang ingin disampaikan<em>nggak</em>bisa tersusun dengan baik,<em>nih</em>.</p>
24 <p>Naskah adalah bentuk tertulis dari gagasan atau ide yang menyangkut penggabungan antara suara dan gambar, sebagai pedoman dalam pembuatan film, sinetron atau program televisi. Beberapa pakar sinematografi mengatakan bahwa naskah itu adalah jiwa dan darah dari sebuah produk video. Wah, jadi apa ya kira-kira fungsi naskah itu?</p>
24 <p>Naskah adalah bentuk tertulis dari gagasan atau ide yang menyangkut penggabungan antara suara dan gambar, sebagai pedoman dalam pembuatan film, sinetron atau program televisi. Beberapa pakar sinematografi mengatakan bahwa naskah itu adalah jiwa dan darah dari sebuah produk video. Wah, jadi apa ya kira-kira fungsi naskah itu?</p>
25 <p><em>Nah</em>, kamu harus<em>tau</em>juga, naskah ditulis secara bertahap, dimulai dari menentukan<strong>ide cerita</strong>.<em>Hayo</em>, masih ingat<em>nggak</em>, ide bisa diperoleh dari mana<em>aja</em>? Setelah menentukan ide, maka perlu dilakukan riset.<strong>Riset</strong>ini bertujuan untuk mengumpulkan informasi terkait cerita yang akan ditulis. Riset bisa dilakukan melalui internet, buku, wawancara, atau datang ke lokasi langsung yang nantinya akan digunakan sebagai latar tempat cerita.</p>
25 <p><em>Nah</em>, kamu harus<em>tau</em>juga, naskah ditulis secara bertahap, dimulai dari menentukan<strong>ide cerita</strong>.<em>Hayo</em>, masih ingat<em>nggak</em>, ide bisa diperoleh dari mana<em>aja</em>? Setelah menentukan ide, maka perlu dilakukan riset.<strong>Riset</strong>ini bertujuan untuk mengumpulkan informasi terkait cerita yang akan ditulis. Riset bisa dilakukan melalui internet, buku, wawancara, atau datang ke lokasi langsung yang nantinya akan digunakan sebagai latar tempat cerita.</p>
26 <p>Setelah itu, langkah selanjutnya adalah membuat<strong>ringkasan cerita (sinopsis)</strong>. Sinopsis berisi garis besar jalan cerita, meliputi pengenalan karakter para tokoh, konflik cerita, klimaks, dan penyelesaian masalah.<em>Nah</em>, setelah mengetahui gambaran cerita secara garis besar, cerita mulai disusun berdasarkan urutan adegannya (<em>scene</em>). Tahap ini disebut dengan pembuatan<em><strong>outline</strong></em>.</p>
26 <p>Setelah itu, langkah selanjutnya adalah membuat<strong>ringkasan cerita (sinopsis)</strong>. Sinopsis berisi garis besar jalan cerita, meliputi pengenalan karakter para tokoh, konflik cerita, klimaks, dan penyelesaian masalah.<em>Nah</em>, setelah mengetahui gambaran cerita secara garis besar, cerita mulai disusun berdasarkan urutan adegannya (<em>scene</em>). Tahap ini disebut dengan pembuatan<em><strong>outline</strong></em>.</p>
27 <p>Lalu, dari<em>outline</em>, akan dikembangkan lagi menjadi<em><strong>treatment</strong></em>, yaitu uraian mengenai segala urutan kejadian secara rinci, mulai dari kemunculan gambar, sampai berakhirnya cerita.<em>Treatment</em>biasanya digunakan saat membuat naskah film.</p>
27 <p>Lalu, dari<em>outline</em>, akan dikembangkan lagi menjadi<em><strong>treatment</strong></em>, yaitu uraian mengenai segala urutan kejadian secara rinci, mulai dari kemunculan gambar, sampai berakhirnya cerita.<em>Treatment</em>biasanya digunakan saat membuat naskah film.</p>
28 <p><em>Nah</em>, setelah<em>treatment</em>tersusun dengan baik, maka langkah terakhir adalah membuat<strong>naskah</strong>. Naskah sendiri terbagi menjadi dua jenis<em>nih</em>, yaitu naskah 1 kolom (<em>wide margin</em>) dan naskah 2 kolom.</p>
28 <p><em>Nah</em>, setelah<em>treatment</em>tersusun dengan baik, maka langkah terakhir adalah membuat<strong>naskah</strong>. Naskah sendiri terbagi menjadi dua jenis<em>nih</em>, yaitu naskah 1 kolom (<em>wide margin</em>) dan naskah 2 kolom.</p>
29 <p><em>Kalo</em>berikut ini, merupakan contoh naskah 2 kolom.</p>
29 <p><em>Kalo</em>berikut ini, merupakan contoh naskah 2 kolom.</p>
30 <h3>3. Membentuk Tim Produksi</h3>
30 <h3>3. Membentuk Tim Produksi</h3>
31 <p>Tahap yang ketiga adalah membentuk tim produksi. Seorang<em>content creator</em>mungkin<em>aja</em>bisa membuat karya seorang diri, tanpa bantuan tim. Tapi, hal itu tentu membutuhkan waktu dan usaha yang luar biasa, ya.<em>Nah</em>, dalam skala produksi produk multimedia yang lebih besar, seperti pembuatan film atau video klip, kita pasti membutuhkan sebuah tim produksi. Mustahil<em>dong</em>jika semua kegiatan produksi dikerjakan oleh satu orang<em>aja</em>. Iya,<em>nggak</em>?</p>
31 <p>Tahap yang ketiga adalah membentuk tim produksi. Seorang<em>content creator</em>mungkin<em>aja</em>bisa membuat karya seorang diri, tanpa bantuan tim. Tapi, hal itu tentu membutuhkan waktu dan usaha yang luar biasa, ya.<em>Nah</em>, dalam skala produksi produk multimedia yang lebih besar, seperti pembuatan film atau video klip, kita pasti membutuhkan sebuah tim produksi. Mustahil<em>dong</em>jika semua kegiatan produksi dikerjakan oleh satu orang<em>aja</em>. Iya,<em>nggak</em>?</p>
32 <p>Biasanya, tim atau kru produksi terbagi menjadi dua kelompok, yaitu tim kreatif dan tim teknis.<em>Hmm</em>, bedanya apa, ya? Oke, jadi,<strong>tim kreatif</strong>adalah tim yang bertanggung jawab untuk menghasilkan ide-ide menarik yang bisa memikat konsumen atau penonton. Sementara itu,<strong>tim teknis</strong>adalah tim yang bertanggung jawab dalam urusan teknis produksi.<em>Nah</em>, masing-masing tim terbagi lagi<em>nih</em>peran-perannya. Apa<em>aja</em>ya kira-kira?<em>Yuk</em>, perhatikan gambar berikut ini!</p>
32 <p>Biasanya, tim atau kru produksi terbagi menjadi dua kelompok, yaitu tim kreatif dan tim teknis.<em>Hmm</em>, bedanya apa, ya? Oke, jadi,<strong>tim kreatif</strong>adalah tim yang bertanggung jawab untuk menghasilkan ide-ide menarik yang bisa memikat konsumen atau penonton. Sementara itu,<strong>tim teknis</strong>adalah tim yang bertanggung jawab dalam urusan teknis produksi.<em>Nah</em>, masing-masing tim terbagi lagi<em>nih</em>peran-perannya. Apa<em>aja</em>ya kira-kira?<em>Yuk</em>, perhatikan gambar berikut ini!</p>
33 <h3>4. Membuat Panduan Gambar</h3>
33 <h3>4. Membuat Panduan Gambar</h3>
34 <p>Tahap berikutnya adalah membuat panduan gambar. Maksud panduan gambar itu gimana,<em>sih</em>?<em>Nah</em>, gampangnya, panduan gambar bisa diartikan sebagai gambar-gambar yang dijadikan referensi atau contoh untuk memvisualisasikan suatu adegan. Misalnya<em>nih</em>, dalam sebuah cerita, terdapat adegan dengan latar “kantin sekolah saat jam istirahat”. Maka, panduan gambarnya bisa berupa kantin sekolah yang ramai dikunjungi siswa. Ada banyak siswa yang sedang makan, ngobrol, atau mengantri makanan. Kebayang, ya?</p>
34 <p>Tahap berikutnya adalah membuat panduan gambar. Maksud panduan gambar itu gimana,<em>sih</em>?<em>Nah</em>, gampangnya, panduan gambar bisa diartikan sebagai gambar-gambar yang dijadikan referensi atau contoh untuk memvisualisasikan suatu adegan. Misalnya<em>nih</em>, dalam sebuah cerita, terdapat adegan dengan latar “kantin sekolah saat jam istirahat”. Maka, panduan gambarnya bisa berupa kantin sekolah yang ramai dikunjungi siswa. Ada banyak siswa yang sedang makan, ngobrol, atau mengantri makanan. Kebayang, ya?</p>
35 <p><em>Nah</em>, dalam proses praproduksi, panduan gambar biasanya berupa<em>storyboard</em>.<em><strong>Storyboard</strong></em>sendiri adalah sketsa gambar yang disusun secara berurutan sesuai naskah cerita. Dengan<em>storyboard</em>, penulis cerita dapat membuat seseorang membayangkan alur cerita melalui gambar-gambar yang disajikan, sehingga dapat menghasilkan persepsi yang sama mengenai ide cerita yang ingin disampaikan penulis.</p>
35 <p><em>Nah</em>, dalam proses praproduksi, panduan gambar biasanya berupa<em>storyboard</em>.<em><strong>Storyboard</strong></em>sendiri adalah sketsa gambar yang disusun secara berurutan sesuai naskah cerita. Dengan<em>storyboard</em>, penulis cerita dapat membuat seseorang membayangkan alur cerita melalui gambar-gambar yang disajikan, sehingga dapat menghasilkan persepsi yang sama mengenai ide cerita yang ingin disampaikan penulis.</p>
36 <p><em>Storyboard</em>berisi informasi mengenai audio dan video. Pada bagian audio berisi tentang uraian audio yang akan digunakan. Uraian ini bisa berupa narasi, dialog, musik ilustrasi, atau<em>sound effect</em>. Sedangkan pada bagian video berisi tentang gambaran adegan dengan menyisipkan ilustrasi. Bisa juga diperjelas dengan menambahkan keterangan berupa teks dari adegan yang ingin diilustrasikan, disertai dengan<em>shot</em>dan<em>angle</em>yang digunakan.</p>
36 <p><em>Storyboard</em>berisi informasi mengenai audio dan video. Pada bagian audio berisi tentang uraian audio yang akan digunakan. Uraian ini bisa berupa narasi, dialog, musik ilustrasi, atau<em>sound effect</em>. Sedangkan pada bagian video berisi tentang gambaran adegan dengan menyisipkan ilustrasi. Bisa juga diperjelas dengan menambahkan keterangan berupa teks dari adegan yang ingin diilustrasikan, disertai dengan<em>shot</em>dan<em>angle</em>yang digunakan.</p>
37 <p>Oh iya, selain<em>storyboard</em>, ada juga media lain yang dapat digunakan sebagai panduan gambar,<em>loh</em>. Kamu bisa menggunakan<em>floor plan</em>.<em><strong>Floor plan</strong></em>ini bentuknya seperti denah yang menggambarkan posisi kamera dan pemain dari atas. Tentunya, dalam<em>floor plan</em>juga terdapat jenis-jenis<em>shot</em>dan<em>angle</em>yang akan digunakan.</p>
37 <p>Oh iya, selain<em>storyboard</em>, ada juga media lain yang dapat digunakan sebagai panduan gambar,<em>loh</em>. Kamu bisa menggunakan<em>floor plan</em>.<em><strong>Floor plan</strong></em>ini bentuknya seperti denah yang menggambarkan posisi kamera dan pemain dari atas. Tentunya, dalam<em>floor plan</em>juga terdapat jenis-jenis<em>shot</em>dan<em>angle</em>yang akan digunakan.</p>
38 <p>Selain itu, kamu juga bisa menggunakan<em><strong>photo board</strong></em>(papan foto). Bentuk<em>photo board</em>kurang lebih sama seperti<em>storyboard</em>. Bedanya,<em>kalo</em><em>photo board</em>bukan berupa ilustrasi gambar, melainkan foto.<em>Nah</em>, kamu bisa mengambil beberapa foto yang dapat menggambarkan adegan dalam cerita.</p>
38 <p>Selain itu, kamu juga bisa menggunakan<em><strong>photo board</strong></em>(papan foto). Bentuk<em>photo board</em>kurang lebih sama seperti<em>storyboard</em>. Bedanya,<em>kalo</em><em>photo board</em>bukan berupa ilustrasi gambar, melainkan foto.<em>Nah</em>, kamu bisa mengambil beberapa foto yang dapat menggambarkan adegan dalam cerita.</p>
39 <h3>5. Membuat Jadwal Produksi</h3>
39 <h3>5. Membuat Jadwal Produksi</h3>
40 <p>Selanjutnya, kita masuk ke tahap pembuatan jadwal produksi (<em>working schedule</em>).<em><strong>Working schedule</strong></em>merupakan jadwal tahapan kerja secara keseluruhan, mulai dari tahap praproduksi, produksi, hingga pascaproduksi.<em>Nah</em>,<em>working schedule</em>ini biasanya dibuat oleh seorang produser, berisi tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh tim produksi dan target waktu yang harus dipenuhi.</p>
40 <p>Selanjutnya, kita masuk ke tahap pembuatan jadwal produksi (<em>working schedule</em>).<em><strong>Working schedule</strong></em>merupakan jadwal tahapan kerja secara keseluruhan, mulai dari tahap praproduksi, produksi, hingga pascaproduksi.<em>Nah</em>,<em>working schedule</em>ini biasanya dibuat oleh seorang produser, berisi tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh tim produksi dan target waktu yang harus dipenuhi.</p>
41 <p>Kamu harus tau,<em>working schedule</em>penting sekali untuk dibuat. Kenapa begitu? Alasannya karena<em>working schedule</em>bisa digunakan sebagai laporan perkembangan, sehingga hasil kerja setiap tim produksi dapat terpantau. Hal ini, tentu bertujuan agar kegiatan produksi dapat berjalan sesuai waktunya, alias<em>nggak</em>molor. Jadi, dapat menghindari terjadinya pemborosan biaya.</p>
41 <p>Kamu harus tau,<em>working schedule</em>penting sekali untuk dibuat. Kenapa begitu? Alasannya karena<em>working schedule</em>bisa digunakan sebagai laporan perkembangan, sehingga hasil kerja setiap tim produksi dapat terpantau. Hal ini, tentu bertujuan agar kegiatan produksi dapat berjalan sesuai waktunya, alias<em>nggak</em>molor. Jadi, dapat menghindari terjadinya pemborosan biaya.</p>
42 <h3>6. Menentukan Peralatan Produksi</h3>
42 <h3>6. Menentukan Peralatan Produksi</h3>
43 <p>Setelah itu, kita akan menentukan perlengkapan apa<em>aja</em>yang dibutuhkan untuk proses produksi nantinya. Tahap ini, harus dipikirkan baik-baik, ya. Jangan sampai, ketika proses syuting nanti, ada beberapa peralatan yang belum ada. Atau bahkan, ada perlengkapan yang seharusnya<em>nggak</em>terlalu dibutuhkan, tapi justru dibeli begitu<em>aja</em>.<em>Kalo</em>sudah begitu, proses produksi jadi akan terhambat dan biaya produksi juga<em>nggak</em>bisa dikeluarkan secara optimal,<em>deh</em>.</p>
43 <p>Setelah itu, kita akan menentukan perlengkapan apa<em>aja</em>yang dibutuhkan untuk proses produksi nantinya. Tahap ini, harus dipikirkan baik-baik, ya. Jangan sampai, ketika proses syuting nanti, ada beberapa peralatan yang belum ada. Atau bahkan, ada perlengkapan yang seharusnya<em>nggak</em>terlalu dibutuhkan, tapi justru dibeli begitu<em>aja</em>.<em>Kalo</em>sudah begitu, proses produksi jadi akan terhambat dan biaya produksi juga<em>nggak</em>bisa dikeluarkan secara optimal,<em>deh</em>.</p>
44 <p><em>Nah</em>, berikut ini terdapat beberapa perlengkapan yang biasa digunakan dalam proses produksi audio video.</p>
44 <p><em>Nah</em>, berikut ini terdapat beberapa perlengkapan yang biasa digunakan dalam proses produksi audio video.</p>
45 <h3>7. Mencari Pemain dan Lokasi</h3>
45 <h3>7. Mencari Pemain dan Lokasi</h3>
46 <p>Selain menentukan perlengkapan produksi, kita juga perlu mencari pemain dan lokasi untuk keperluan syuting nanti,<em>nih</em>. Kamu pasti pernah mendengar istilah<em>casting</em>,<em>kan</em>?<em><strong>Casting</strong></em>adalah proses pemilihan pemain atau aktor untuk memerankan sebuah karakter pada cerita.<em>Nah</em>, di tahap sebelumnya<em>kan</em>kita sudah membuat naskah,<em>tuh</em>. Dari naskah tersebut, bisa kita bedah, karakter apa<em>aja sih</em>yang dibutuhkan.</p>
46 <p>Selain menentukan perlengkapan produksi, kita juga perlu mencari pemain dan lokasi untuk keperluan syuting nanti,<em>nih</em>. Kamu pasti pernah mendengar istilah<em>casting</em>,<em>kan</em>?<em><strong>Casting</strong></em>adalah proses pemilihan pemain atau aktor untuk memerankan sebuah karakter pada cerita.<em>Nah</em>, di tahap sebelumnya<em>kan</em>kita sudah membuat naskah,<em>tuh</em>. Dari naskah tersebut, bisa kita bedah, karakter apa<em>aja sih</em>yang dibutuhkan.</p>
47 <p>Dalam produksi film, sebelum melakukan<em>casting</em>, sutradara dan penulis naskah biasanya akan memformulasikan atau menyusun 3 dimensi tokoh. Jadi, masing-masing tokoh penting dalam cerita akan dibedah (<em>breakdown</em>) 3 dimensi tokohnya. Tujuannya, agar si tokoh atau pemain dapat lebih menghayati peran yang dimainkan.<em>Nah</em>, 3 dimensi tokoh ini meliputi segi fisiologis, psikologis, dan sosiologis.</p>
47 <p>Dalam produksi film, sebelum melakukan<em>casting</em>, sutradara dan penulis naskah biasanya akan memformulasikan atau menyusun 3 dimensi tokoh. Jadi, masing-masing tokoh penting dalam cerita akan dibedah (<em>breakdown</em>) 3 dimensi tokohnya. Tujuannya, agar si tokoh atau pemain dapat lebih menghayati peran yang dimainkan.<em>Nah</em>, 3 dimensi tokoh ini meliputi segi fisiologis, psikologis, dan sosiologis.</p>
48 <p>Proses<em>casting</em>biasanya dilakukan melalui dua cara, yaitu<em>screen test</em>atau audisi terbuka (<em>open casting</em>). Pada<em><strong>screen test</strong></em>, biasanya sutradara sudah memiliki pandangan, siapa<em>aja</em>orang yang cocok untuk memerankan karakter dalam cerita. Kemudian, sutradara dan<em>casting director</em>akan mengundang orang yang dianggap cocok tersebut untuk melakukan uji kecocokan, dengan memberikan naskah dan meminta orang tersebut untuk memerankan satu atau dua adegan.</p>
48 <p>Proses<em>casting</em>biasanya dilakukan melalui dua cara, yaitu<em>screen test</em>atau audisi terbuka (<em>open casting</em>). Pada<em><strong>screen test</strong></em>, biasanya sutradara sudah memiliki pandangan, siapa<em>aja</em>orang yang cocok untuk memerankan karakter dalam cerita. Kemudian, sutradara dan<em>casting director</em>akan mengundang orang yang dianggap cocok tersebut untuk melakukan uji kecocokan, dengan memberikan naskah dan meminta orang tersebut untuk memerankan satu atau dua adegan.</p>
49 <p>Sementara itu, pada<em><strong>open casting</strong></em>, cara pemilihan pemain dilakukan dengan mengadakan audisi secara terbuka. Jadi, siapa<em>aja</em>bisa mengikuti audisi tersebut.<em>Nah</em>, informasi<em>open casting</em>ini biasanya akan disebarkan melalui sosial media. Sama halnya dengan<em>screen test</em>, sutradara dan<em>casting director</em>akan memberikan naskah pada peserta dan memintanya untuk memerankan beberapa adegan.<em>Hayo</em>, siapa yang pernah coba ikut<em>open casting</em>?</p>
49 <p>Sementara itu, pada<em><strong>open casting</strong></em>, cara pemilihan pemain dilakukan dengan mengadakan audisi secara terbuka. Jadi, siapa<em>aja</em>bisa mengikuti audisi tersebut.<em>Nah</em>, informasi<em>open casting</em>ini biasanya akan disebarkan melalui sosial media. Sama halnya dengan<em>screen test</em>, sutradara dan<em>casting director</em>akan memberikan naskah pada peserta dan memintanya untuk memerankan beberapa adegan.<em>Hayo</em>, siapa yang pernah coba ikut<em>open casting</em>?</p>
50 <p>Baca Juga:<a>Cara Kerja DHCP Server &amp; Client</a></p>
50 <p>Baca Juga:<a>Cara Kerja DHCP Server &amp; Client</a></p>
51 <p>Dalam proses<em>casting</em>, akan dilakukan perekaman. Dari hasil rekaman tersebut, nantinya akan dipilih, siapa<em>aja</em>yang paling cocok untuk menjadi pemain.</p>
51 <p>Dalam proses<em>casting</em>, akan dilakukan perekaman. Dari hasil rekaman tersebut, nantinya akan dipilih, siapa<em>aja</em>yang paling cocok untuk menjadi pemain.</p>
52 <p>Oh iya, jika proses pemilihan pemain disebut dengan<em>casting</em>, maka proses pencarian lokasi bisa kita sebut dengan istilah<em>hunting location</em>.<em><strong>Hunting location</strong></em>ini bertujuan untuk mencari lokasi syuting yang pas dan dapat menginterpretasikan kebutuhan set dalam naskah.<em>Eits</em>! Mencari lokasi syuting<em>nggak</em>bisa dilakukan sembarangan, ya. Kamu perlu memperhatikan beberapa hal, di antaranya sebagai berikut:</p>
52 <p>Oh iya, jika proses pemilihan pemain disebut dengan<em>casting</em>, maka proses pencarian lokasi bisa kita sebut dengan istilah<em>hunting location</em>.<em><strong>Hunting location</strong></em>ini bertujuan untuk mencari lokasi syuting yang pas dan dapat menginterpretasikan kebutuhan set dalam naskah.<em>Eits</em>! Mencari lokasi syuting<em>nggak</em>bisa dilakukan sembarangan, ya. Kamu perlu memperhatikan beberapa hal, di antaranya sebagai berikut:</p>
53 <p><em>Nah</em>, setelah lokasi sudah<em>fix nih</em>, maka tim produksi akan mengunjungi lokasi tersebut. Proses ini disebut dengan<em><strong>reece</strong></em>, yaitu proses mengunjungi lokasi yang sudah siap secara<em>look</em>,<em>mood</em>, dan administrasi. Pada proses ini, kita<em>nggak</em>cuma lihat-lihat<em>aja</em>, tapi juga menentukan hal-hal teknis di lapangan, seperti menentukan<em>blocking</em>dan penempatan adegan, menentukan teknis kamera dan<em>lighting</em>, memperhatikan adanya gangguan suara, serta menentukan<em>layout set</em>dan properti.</p>
53 <p><em>Nah</em>, setelah lokasi sudah<em>fix nih</em>, maka tim produksi akan mengunjungi lokasi tersebut. Proses ini disebut dengan<em><strong>reece</strong></em>, yaitu proses mengunjungi lokasi yang sudah siap secara<em>look</em>,<em>mood</em>, dan administrasi. Pada proses ini, kita<em>nggak</em>cuma lihat-lihat<em>aja</em>, tapi juga menentukan hal-hal teknis di lapangan, seperti menentukan<em>blocking</em>dan penempatan adegan, menentukan teknis kamera dan<em>lighting</em>, memperhatikan adanya gangguan suara, serta menentukan<em>layout set</em>dan properti.</p>
54 <p>Jangan lupa juga untuk mengambil beberapa foto dan video saat proses<em>hunting location</em>dan<em>reece</em>, ya. Kamu juga perlu mengecek keadaan lokasi sesuai waktu pada adegan. Misalnya<em>nih</em>, ada adegan yang berlangsung pada malam hari, maka kamu harus melihat lokasi di malam hari juga, untuk mendapat gambaran keadaan sebenarnya.</p>
54 <p>Jangan lupa juga untuk mengambil beberapa foto dan video saat proses<em>hunting location</em>dan<em>reece</em>, ya. Kamu juga perlu mengecek keadaan lokasi sesuai waktu pada adegan. Misalnya<em>nih</em>, ada adegan yang berlangsung pada malam hari, maka kamu harus melihat lokasi di malam hari juga, untuk mendapat gambaran keadaan sebenarnya.</p>
55 <h3>8. Merinci Anggaran Biaya Produksi</h3>
55 <h3>8. Merinci Anggaran Biaya Produksi</h3>
56 <p>Oke, kita masuk ke tahap selanjutnya ya, yaitu merinci anggaran biaya produksi (<em>breakdown budget</em>).<em><strong>Breakdown budget</strong></em>adalah rincian keseluruhan dana yang digunakan untuk proses produksi. Masing-masing departemen pada tim produksi akan membuat rencana anggaran biaya, mulai dari proses praproduksi sampai pascaproduksi. Kemudian, rencana anggaran biaya tersebut akan disusun menjadi<em>breakdown budget</em>oleh produser.</p>
56 <p>Oke, kita masuk ke tahap selanjutnya ya, yaitu merinci anggaran biaya produksi (<em>breakdown budget</em>).<em><strong>Breakdown budget</strong></em>adalah rincian keseluruhan dana yang digunakan untuk proses produksi. Masing-masing departemen pada tim produksi akan membuat rencana anggaran biaya, mulai dari proses praproduksi sampai pascaproduksi. Kemudian, rencana anggaran biaya tersebut akan disusun menjadi<em>breakdown budget</em>oleh produser.</p>
57 <p>Oh iya, kamu<em>nggak</em>perlu khawatir<em>nih</em>jika<em>breakdown budget</em>yang sudah kamu susun,<em>nggak</em>sesuai dengan kondisi di lapangan nanti. Pada dasarnya,<em>breakdown budget</em>hanyalah sebuah perkiraan. Artinya, bisa<em>aja</em>, di situasi<em>real</em>, akan terjadi pembengkakan biaya produksi.<em>Nah</em>, jika mengalami kondisi seperti itu, kamu bisa berdiskusi dengan tim untuk mendapatkan jalan keluar yang terbaik.</p>
57 <p>Oh iya, kamu<em>nggak</em>perlu khawatir<em>nih</em>jika<em>breakdown budget</em>yang sudah kamu susun,<em>nggak</em>sesuai dengan kondisi di lapangan nanti. Pada dasarnya,<em>breakdown budget</em>hanyalah sebuah perkiraan. Artinya, bisa<em>aja</em>, di situasi<em>real</em>, akan terjadi pembengkakan biaya produksi.<em>Nah</em>, jika mengalami kondisi seperti itu, kamu bisa berdiskusi dengan tim untuk mendapatkan jalan keluar yang terbaik.</p>
58 <h3>9. Melakukan<em>Reading</em>dan<em>Rehearsal</em></h3>
58 <h3>9. Melakukan<em>Reading</em>dan<em>Rehearsal</em></h3>
59 <p>Akhirnya, sampai juga pada tahap terakhir dalam proses praproduksi produk multimedia<em>nih</em>, yaitu melakukan<em>reading</em>dan<em>rehearsal</em>. Setelah naskah sudah siap dan para pemain sudah ditentukan, maka saatnya untuk melakukan<em><strong>reading</strong></em>, yaitu proses pengarahan para pemain sesuai dengan konsep dan skenario dari sutradara.<em>Reading</em>dilakukan secara bersama-sama dengan membaca skenario sesuai dengan porsi perannya masing-masing yang dibimbing oleh sutradara.<em>Reading</em>penting sekali dilakukan oleh para pemeran agar dapat mendalami karakter yang dimainkan.</p>
59 <p>Akhirnya, sampai juga pada tahap terakhir dalam proses praproduksi produk multimedia<em>nih</em>, yaitu melakukan<em>reading</em>dan<em>rehearsal</em>. Setelah naskah sudah siap dan para pemain sudah ditentukan, maka saatnya untuk melakukan<em><strong>reading</strong></em>, yaitu proses pengarahan para pemain sesuai dengan konsep dan skenario dari sutradara.<em>Reading</em>dilakukan secara bersama-sama dengan membaca skenario sesuai dengan porsi perannya masing-masing yang dibimbing oleh sutradara.<em>Reading</em>penting sekali dilakukan oleh para pemeran agar dapat mendalami karakter yang dimainkan.</p>
60 <p>Setelah melakukan<em>reading</em>, maka langkah selanjutnya adalah latihan (<em>rehearsal</em>).<strong>Latihan</strong>ini, dilakukan baik dalam bentuk pengolahan emosi dan dialog, maupun latihan<em>blocking</em>pemain dan kamera. Sutradara biasanya akan mengarahkan para aktor saat melakukan<em>rehearsal</em>. Di tahap<em>rehearsal</em>ini juga, penata gambar bisa merancang<em>angle</em>dan pergerakan kamera. Tapi,<em>nggak</em>semua adegan akan dilatih dalam<em>rehearsal</em>, ya. Hanya adegan-adegan yang dirasa sulit atau adegan yang melibatkan banyak dialog<em>aja</em>.</p>
60 <p>Setelah melakukan<em>reading</em>, maka langkah selanjutnya adalah latihan (<em>rehearsal</em>).<strong>Latihan</strong>ini, dilakukan baik dalam bentuk pengolahan emosi dan dialog, maupun latihan<em>blocking</em>pemain dan kamera. Sutradara biasanya akan mengarahkan para aktor saat melakukan<em>rehearsal</em>. Di tahap<em>rehearsal</em>ini juga, penata gambar bisa merancang<em>angle</em>dan pergerakan kamera. Tapi,<em>nggak</em>semua adegan akan dilatih dalam<em>rehearsal</em>, ya. Hanya adegan-adegan yang dirasa sulit atau adegan yang melibatkan banyak dialog<em>aja</em>.</p>
61 <p>Oke, selesai sudah materi kita kali ini.<em>Wah</em>, banyak juga ya yang dibahas.<em>Nah</em>, supaya kamu<em>nggak</em>lupa dengan alur atau proses praproduksi yang sudah dijelaskan di atas tadi, di bawah ini ada rangkumannya,<em>nih</em>.</p>
61 <p>Oke, selesai sudah materi kita kali ini.<em>Wah</em>, banyak juga ya yang dibahas.<em>Nah</em>, supaya kamu<em>nggak</em>lupa dengan alur atau proses praproduksi yang sudah dijelaskan di atas tadi, di bawah ini ada rangkumannya,<em>nih</em>.</p>
62 <p>Kamu juga bisa mempelajari materi ini dengan lebih dalam lagi di salah satu produk ruangguru yang bernama<a>ruangbelajar</a>, ya. Tentunya, dipandu dengan Master Teacher yang membuat kamu langsung paham terhadap materi.<em>So</em>, akhir kata, terus semangat belajar dan #HidupkanMimpimu!</p>
62 <p>Kamu juga bisa mempelajari materi ini dengan lebih dalam lagi di salah satu produk ruangguru yang bernama<a>ruangbelajar</a>, ya. Tentunya, dipandu dengan Master Teacher yang membuat kamu langsung paham terhadap materi.<em>So</em>, akhir kata, terus semangat belajar dan #HidupkanMimpimu!</p>
63 <p><em>Artikel ini telah diperbarui pada 3 Agustus 2022.</em></p>
63 <p><em>Artikel ini telah diperbarui pada 3 Agustus 2022.</em></p>
64  
64