0 added
0 removed
Original
2026-01-01
Modified
2026-03-08
1
<blockquote><p><em>Teman-teman, yuk kita belajar cara menganalisis puisi kontemporer lewat artikel berikut ini!</em></p>
1
<blockquote><p><em>Teman-teman, yuk kita belajar cara menganalisis puisi kontemporer lewat artikel berikut ini!</em></p>
2
</blockquote><p>-</p>
2
</blockquote><p>-</p>
3
<p>Sebelumnya kita sudah belajar tentang<strong>apa yang dimaksud dengan<a>puisi kontemporer beserta jenis-jenisnya</a></strong>.<em>Nah</em>kali ini, kita akan mencoba untuk menganalisis puisi kontemporer. Menganalisis puisi memang tidak mudah, karena pada dasarnya, seperti yang diucapkan oleh Sapardi Djoko Damono bahwa puisi adalah “bilang begini maksudnya begitu”. Apalagi puisi kontemporer, yakni puisi kekinian yang berusaha untuk mendobrak gaya penulisan puisi konvensional. Tentunya diperlukan kejelian untuk memahaminya.</p>
3
<p>Sebelumnya kita sudah belajar tentang<strong>apa yang dimaksud dengan<a>puisi kontemporer beserta jenis-jenisnya</a></strong>.<em>Nah</em>kali ini, kita akan mencoba untuk menganalisis puisi kontemporer. Menganalisis puisi memang tidak mudah, karena pada dasarnya, seperti yang diucapkan oleh Sapardi Djoko Damono bahwa puisi adalah “bilang begini maksudnya begitu”. Apalagi puisi kontemporer, yakni puisi kekinian yang berusaha untuk mendobrak gaya penulisan puisi konvensional. Tentunya diperlukan kejelian untuk memahaminya.</p>
4
<p>Akibat sifat puisi yang berkata begini, maksudnya begitu, puisi bisa memiliki banyak tafsiran atau makna. Hal ini sebenarnya boleh-boleh saja, malah semakin banyak interpretasi dari suatu puisi semakin bagus pula puisi tersebut.</p>
4
<p>Akibat sifat puisi yang berkata begini, maksudnya begitu, puisi bisa memiliki banyak tafsiran atau makna. Hal ini sebenarnya boleh-boleh saja, malah semakin banyak interpretasi dari suatu puisi semakin bagus pula puisi tersebut.</p>
5
<p><a>Puisi yang baik</a>pasti memiliki makna walaupun dalam arti yang berbeda-beda. Seperti contohnya puisi dari Sutardji Calzoum Bachri yang menampilkan kata-kata tanpa makna pada puisi yang berjudul “Tragedi Winka dan Sihka”. Namun, ia masih tetap berorientasi kepada makna dalam membawa suasana.</p>
5
<p><a>Puisi yang baik</a>pasti memiliki makna walaupun dalam arti yang berbeda-beda. Seperti contohnya puisi dari Sutardji Calzoum Bachri yang menampilkan kata-kata tanpa makna pada puisi yang berjudul “Tragedi Winka dan Sihka”. Namun, ia masih tetap berorientasi kepada makna dalam membawa suasana.</p>
6
<p><strong>Tragedi Winka dan Sihka (Karya:</strong><strong>Sutardji Calzoum Bachri, 1983)</strong></p>
6
<p><strong>Tragedi Winka dan Sihka (Karya:</strong><strong>Sutardji Calzoum Bachri, 1983)</strong></p>
7
<p>kawin</p>
7
<p>kawin</p>
8
<p> kawin</p>
8
<p> kawin</p>
9
<p> kawin</p>
9
<p> kawin</p>
10
<p> kawin</p>
10
<p> kawin</p>
11
<p> kawin</p>
11
<p> kawin</p>
12
<p> ka</p>
12
<p> ka</p>
13
<p> win</p>
13
<p> win</p>
14
<p> ka</p>
14
<p> ka</p>
15
<p> win</p>
15
<p> win</p>
16
<p> ka</p>
16
<p> ka</p>
17
<p> win</p>
17
<p> win</p>
18
<p> ka</p>
18
<p> ka</p>
19
<p> win</p>
19
<p> win</p>
20
<p> ka</p>
20
<p> ka</p>
21
<p> win</p>
21
<p> win</p>
22
<p> ka</p>
22
<p> ka</p>
23
<p> winka</p>
23
<p> winka</p>
24
<p> winka</p>
24
<p> winka</p>
25
<p> winka</p>
25
<p> winka</p>
26
<p> sihka</p>
26
<p> sihka</p>
27
<p> sihka</p>
27
<p> sihka</p>
28
<p> sihka</p>
28
<p> sihka</p>
29
<p> sih</p>
29
<p> sih</p>
30
<p> ka</p>
30
<p> ka</p>
31
<p> sih</p>
31
<p> sih</p>
32
<p> ka</p>
32
<p> ka</p>
33
<p> sih</p>
33
<p> sih</p>
34
<p> ka</p>
34
<p> ka</p>
35
<p> sih</p>
35
<p> sih</p>
36
<p> ka</p>
36
<p> ka</p>
37
<p> sih</p>
37
<p> sih</p>
38
<p> ka</p>
38
<p> ka</p>
39
<p> sih</p>
39
<p> sih</p>
40
<p> sih</p>
40
<p> sih</p>
41
<p> sih</p>
41
<p> sih</p>
42
<p> sih</p>
42
<p> sih</p>
43
<p> sih</p>
43
<p> sih</p>
44
<p> sih</p>
44
<p> sih</p>
45
<p> ka</p>
45
<p> ka</p>
46
<p> Ku</p>
46
<p> Ku</p>
47
<h2><strong>Analisis Puisi Tragedi Winka dan Sihka</strong></h2>
47
<h2><strong>Analisis Puisi Tragedi Winka dan Sihka</strong></h2>
48
<p>Meskipun makna puisi tersebut tidak diungkapkan, bentuk fisik puisi di atas membentuk makna. Puisi di atas merupakan<strong>tragedi</strong>.<strong>Pembalikan kata</strong>/kawin/ menjadi /winka/ dan /kasih/ menjadi /sihka/<strong>mengandung makna</strong>bahwa perkawinan antara suami istri itu akan berantakan dan kasih antara suami dan isteri sudah berbalik menjadi kebencian.</p>
48
<p>Meskipun makna puisi tersebut tidak diungkapkan, bentuk fisik puisi di atas membentuk makna. Puisi di atas merupakan<strong>tragedi</strong>.<strong>Pembalikan kata</strong>/kawin/ menjadi /winka/ dan /kasih/ menjadi /sihka/<strong>mengandung makna</strong>bahwa perkawinan antara suami istri itu akan berantakan dan kasih antara suami dan isteri sudah berbalik menjadi kebencian.</p>
49
<p>Baris-baris puisi yang membentuk<strong>zig-zag</strong>mengandung makna terjadinya<strong>lika-liku</strong>dalam perjalanan perkawinan itu. Pada baris ketujuh kata /kawin/ berjalan mundur. Hal ini mengandung makna bahwa cinta dalam perkawinan yang tadinya besar, berubah menjadi semakin lama semakin mengecil. Pada baris ke-15 kata /kawin/ berubah menjadi /winka/, ini berarti percek-cokan dan perpisahan sudah sering terjadi sehingga kata /kasih/ berubah menjadi /sihka/, artinya kasih itu berubah menjadi kebencian. Pada baris ke-22 kasih itu mundur sekali, sampai akhirnya tinggal kasih sebelah saja, yakni tinggal /sih/ . Pada akhir puisi ini kawin dan kasih itu menjadi kaku atau mati. /Ku/ diawali dengan huruf kapital menyatakan bahwa mereka kembali kepada Tuhan.</p>
49
<p>Baris-baris puisi yang membentuk<strong>zig-zag</strong>mengandung makna terjadinya<strong>lika-liku</strong>dalam perjalanan perkawinan itu. Pada baris ketujuh kata /kawin/ berjalan mundur. Hal ini mengandung makna bahwa cinta dalam perkawinan yang tadinya besar, berubah menjadi semakin lama semakin mengecil. Pada baris ke-15 kata /kawin/ berubah menjadi /winka/, ini berarti percek-cokan dan perpisahan sudah sering terjadi sehingga kata /kasih/ berubah menjadi /sihka/, artinya kasih itu berubah menjadi kebencian. Pada baris ke-22 kasih itu mundur sekali, sampai akhirnya tinggal kasih sebelah saja, yakni tinggal /sih/ . Pada akhir puisi ini kawin dan kasih itu menjadi kaku atau mati. /Ku/ diawali dengan huruf kapital menyatakan bahwa mereka kembali kepada Tuhan.</p>
50
<p><strong>Contoh Soal</strong></p>
50
<p><strong>Contoh Soal</strong></p>
51
<p>Bacalah puisi di bawah ini untuk menjawab soal 1.</p>
51
<p>Bacalah puisi di bawah ini untuk menjawab soal 1.</p>
52
<p>Sepisaupi (Sutardji Calzum Bachri)</p>
52
<p>Sepisaupi (Sutardji Calzum Bachri)</p>
53
<p> Sepisau luka sepisau duri Sepikul dosa sepukau sepi Sepisau duka serisau diri Sepisau sepi sepisau nyanyi</p>
53
<p> Sepisau luka sepisau duri Sepikul dosa sepukau sepi Sepisau duka serisau diri Sepisau sepi sepisau nyanyi</p>
54
<p> Sepisaupa sepisaupi Sepisanya sepikau sepi Sepisaupa sepisapi</p>
54
<p> Sepisaupa sepisaupi Sepisanya sepikau sepi Sepisaupa sepisapi</p>
55
<p> Sepisaupa sepisaupi Sepisaupa sepisaupi Sepisaupa sepisaupi Sampai pisau-Nya ke dalam nyanyi</p>
55
<p> Sepisaupa sepisaupi Sepisaupa sepisaupi Sepisaupa sepisaupi Sampai pisau-Nya ke dalam nyanyi</p>
56
<p><strong>Soal 1 (Soal UN 2016)</strong></p>
56
<p><strong>Soal 1 (Soal UN 2016)</strong></p>
57
<p>Ciri paling dominan yang terdapat dalam puisi kontemporer tersebut adalah…</p>
57
<p>Ciri paling dominan yang terdapat dalam puisi kontemporer tersebut adalah…</p>
58
<ol><li>Keberadaan wujud bait yang digunakan penyair</li>
58
<ol><li>Keberadaan wujud bait yang digunakan penyair</li>
59
<li>Penggunaan sImbol-simbol pengganti sesuatu yang dimaksudkan</li>
59
<li>Penggunaan sImbol-simbol pengganti sesuatu yang dimaksudkan</li>
60
<li>Mengungkapkan keadaan sebenarnya secara gambling</li>
60
<li>Mengungkapkan keadaan sebenarnya secara gambling</li>
61
<li>Ketidaklaziman penggunaan pasangan kata</li>
61
<li>Ketidaklaziman penggunaan pasangan kata</li>
62
<li>Percampuradukan bahasa resmi dengan bahasa sehari-hari</li>
62
<li>Percampuradukan bahasa resmi dengan bahasa sehari-hari</li>
63
</ol><p><strong>Jawaban: D</strong></p>
63
</ol><p><strong>Jawaban: D</strong></p>
64
<p><strong>Pembahasan:</strong>Puisi tersebut termasuk jenis puisi kontemporer. Karakteristik puisi kontemporer adalah bebas tidak ada aturan, sesuai dengan keinginan penyair. Dalam hal ini penyair bebas bermain diksi, bebas dalam tipografi, bebas menggunakan lambang/simbol. Terkait dengan ciri paling dominan pada puisi tersebut adalah bebas bermain diksi, yaitu ketidaklaziman menggunakan pasangan kata.</p>
64
<p><strong>Pembahasan:</strong>Puisi tersebut termasuk jenis puisi kontemporer. Karakteristik puisi kontemporer adalah bebas tidak ada aturan, sesuai dengan keinginan penyair. Dalam hal ini penyair bebas bermain diksi, bebas dalam tipografi, bebas menggunakan lambang/simbol. Terkait dengan ciri paling dominan pada puisi tersebut adalah bebas bermain diksi, yaitu ketidaklaziman menggunakan pasangan kata.</p>
65
<p>Itulah tadi salah satu contoh analisis puisi kontemporer karya Sutradji Calzum Bachri. Setiap puisi tentu mempunyai makna yang ingin disampaikan oleh penulisnya Squad. Kamu sudah pernah mempraktikkan membuat puisi kontemporer, belum? Kalau belum, sudah siap<em>dong</em>untuk mencoba? Jika kalian masih mengalami kesulitan, bisa langsung tonton video di<a><strong>ruangbelaja</strong><strong>r</strong></a>, tentunya bersama tutor yang berpengalaman!</p>
65
<p>Itulah tadi salah satu contoh analisis puisi kontemporer karya Sutradji Calzum Bachri. Setiap puisi tentu mempunyai makna yang ingin disampaikan oleh penulisnya Squad. Kamu sudah pernah mempraktikkan membuat puisi kontemporer, belum? Kalau belum, sudah siap<em>dong</em>untuk mencoba? Jika kalian masih mengalami kesulitan, bisa langsung tonton video di<a><strong>ruangbelaja</strong><strong>r</strong></a>, tentunya bersama tutor yang berpengalaman!</p>
66
<p><strong>Referensi</strong>Waluyo, Herman J. 1995. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.</p>
66
<p><strong>Referensi</strong>Waluyo, Herman J. 1995. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.</p>
67
<p><em><strong>Artikel diperbarui 3 Desember 2020</strong></em></p>
67
<p><em><strong>Artikel diperbarui 3 Desember 2020</strong></em></p>
68
68