0 added
0 removed
Original
2026-01-01
Modified
2026-03-08
1
<blockquote><p><em>Butuh contoh teks drama singkat dalam berbagai tema untuk pementasan atau tugas sekolah? Yuk, baca beberapa referensinya di<a>artikel Bahasa Indonesia Kelas 11</a>ini!</em></p>
1
<blockquote><p><em>Butuh contoh teks drama singkat dalam berbagai tema untuk pementasan atau tugas sekolah? Yuk, baca beberapa referensinya di<a>artikel Bahasa Indonesia Kelas 11</a>ini!</em></p>
2
</blockquote><p>-</p>
2
</blockquote><p>-</p>
3
<p>Contoh naskah drama yang singkat dan menarik sangat banyak, lho! Ada banyak tema naskah drama yang bisa kamu pilih untuk pementasan atau bahkan tugas sekolah. Nah, kali ini kita akan membahas lebih dalam tentang naskah drama, mulai dari contoh-contohnya, pengertian, hingga struktur drama.<em>Scroll</em>terus ya!</p>
3
<p>Contoh naskah drama yang singkat dan menarik sangat banyak, lho! Ada banyak tema naskah drama yang bisa kamu pilih untuk pementasan atau bahkan tugas sekolah. Nah, kali ini kita akan membahas lebih dalam tentang naskah drama, mulai dari contoh-contohnya, pengertian, hingga struktur drama.<em>Scroll</em>terus ya!</p>
4
<p><strong>Pengertian Drama</strong></p>
4
<p><strong>Pengertian Drama</strong></p>
5
<p>Apa sih itu yang dimaksud drama?<strong>Drama</strong>adalah<strong>sebuah cerita atau kisah</strong>yang<strong>menggambarkan kisah kehidupan dan watak</strong>melalui<strong>tingkah laku tokoh (</strong><strong><em>acting</em></strong><strong>)</strong>serta<strong>dialog</strong>yang dipentaskan.</p>
5
<p>Apa sih itu yang dimaksud drama?<strong>Drama</strong>adalah<strong>sebuah cerita atau kisah</strong>yang<strong>menggambarkan kisah kehidupan dan watak</strong>melalui<strong>tingkah laku tokoh (</strong><strong><em>acting</em></strong><strong>)</strong>serta<strong>dialog</strong>yang dipentaskan.</p>
6
<p>Untuk mementaskan sebuah drama dibutuhkan naskah drama atau teks drama.<strong>Naskah drama</strong>adalah<strong>teks yang menggambarkan kehidupan dan watak manusia</strong>melalui<strong>tingkah laku yang dipentaskan</strong>. Naskah drama sangat penting sebagai panduan dari pentas drama yang akan dibuat.</p>
6
<p>Untuk mementaskan sebuah drama dibutuhkan naskah drama atau teks drama.<strong>Naskah drama</strong>adalah<strong>teks yang menggambarkan kehidupan dan watak manusia</strong>melalui<strong>tingkah laku yang dipentaskan</strong>. Naskah drama sangat penting sebagai panduan dari pentas drama yang akan dibuat.</p>
7
<p><strong>Struktur Drama</strong></p>
7
<p><strong>Struktur Drama</strong></p>
8
<p>Secara umum, teks drama memiliki tiga bagian struktur, yaitu prolog, dialog dan epilog. Yuk, kita bahas satu per satu!</p>
8
<p>Secara umum, teks drama memiliki tiga bagian struktur, yaitu prolog, dialog dan epilog. Yuk, kita bahas satu per satu!</p>
9
<p><strong>1. Prolog</strong></p>
9
<p><strong>1. Prolog</strong></p>
10
<p>Prolog adalah kata-kata pembuka, pengantar, ataupun latar belakang cerita yang biasanya disampaikan oleh narator atau tokoh tertentu dalam sebuah drama. Letak prolog ada di bagian awal naskah drama.</p>
10
<p>Prolog adalah kata-kata pembuka, pengantar, ataupun latar belakang cerita yang biasanya disampaikan oleh narator atau tokoh tertentu dalam sebuah drama. Letak prolog ada di bagian awal naskah drama.</p>
11
<p><strong>2. Dialog</strong></p>
11
<p><strong>2. Dialog</strong></p>
12
<p>Dialog adalah percakapan antartokoh yang bisa menggambarkan kehidupan, watak, dan konflik yang dialami para tokoh beserta cara menyelesaikannya. Dialog dalam naskah drama berisi informasi tentang tokoh yang sedang bicara, biasanya ditandai dengan titik dua (:) dan tanda petik (“).</p>
12
<p>Dialog adalah percakapan antartokoh yang bisa menggambarkan kehidupan, watak, dan konflik yang dialami para tokoh beserta cara menyelesaikannya. Dialog dalam naskah drama berisi informasi tentang tokoh yang sedang bicara, biasanya ditandai dengan titik dua (:) dan tanda petik (“).</p>
13
<p>Dalam naskah drama, dialog nggak hanya berisi percakapan saja. Dialog berisi orientasi, komplikasi, dan resolusi. Apa tuh bedanya?</p>
13
<p>Dalam naskah drama, dialog nggak hanya berisi percakapan saja. Dialog berisi orientasi, komplikasi, dan resolusi. Apa tuh bedanya?</p>
14
<ul><li><strong>Orientasi</strong>: bagian drama yang<strong>menentukan latar waktu dan tempat</strong>dengan cara memperkenalkan tokoh-tokohnya, memberi situasi cerita, dan menampilkan bakal konflik yang dikembangkan dalam bagian utama cerita.</li>
14
<ul><li><strong>Orientasi</strong>: bagian drama yang<strong>menentukan latar waktu dan tempat</strong>dengan cara memperkenalkan tokoh-tokohnya, memberi situasi cerita, dan menampilkan bakal konflik yang dikembangkan dalam bagian utama cerita.</li>
15
<li><strong>Komplikasi</strong>: bagian tengah cerita yang<strong>berisi pengembangan konflik</strong>, mulai dari awal mula konflik, klimaks, hingga antiklimaks.</li>
15
<li><strong>Komplikasi</strong>: bagian tengah cerita yang<strong>berisi pengembangan konflik</strong>, mulai dari awal mula konflik, klimaks, hingga antiklimaks.</li>
16
<li><strong>Resolusi</strong>:<strong>penyelesaian cerita</strong>yang ditandai dengan adanya penyelesaian masalah yang bisa diselesaikan oleh tokoh utama ataupun dibantu dengan tokoh lain.</li>
16
<li><strong>Resolusi</strong>:<strong>penyelesaian cerita</strong>yang ditandai dengan adanya penyelesaian masalah yang bisa diselesaikan oleh tokoh utama ataupun dibantu dengan tokoh lain.</li>
17
</ul><p><strong>3. Epilog</strong></p>
17
</ul><p><strong>3. Epilog</strong></p>
18
<p>Epilog adalah kata-kata penutup yang berisi kesimpulan cerita atau amanat. Epilog biasanya disampaikan oleh narator atau tokoh tertentu.</p>
18
<p>Epilog adalah kata-kata penutup yang berisi kesimpulan cerita atau amanat. Epilog biasanya disampaikan oleh narator atau tokoh tertentu.</p>
19
<p>Baca Juga:<a>Pengertian Teks Drama, Ciri-Ciri, Unsur, dan Contohnya</a></p>
19
<p>Baca Juga:<a>Pengertian Teks Drama, Ciri-Ciri, Unsur, dan Contohnya</a></p>
20
<p><strong>Contoh Naskah Drama Singkat berbagai Tema</strong></p>
20
<p><strong>Contoh Naskah Drama Singkat berbagai Tema</strong></p>
21
<p>Yuk, simak beberapa contoh naskah drama singkat dari berbagai macam tema berikut ini:</p>
21
<p>Yuk, simak beberapa contoh naskah drama singkat dari berbagai macam tema berikut ini:</p>
22
<h2>1. Contoh Naskah Drama Persahabatan</h2>
22
<h2>1. Contoh Naskah Drama Persahabatan</h2>
23
<p><strong>Mengejar Cita-Cita</strong></p>
23
<p><strong>Mengejar Cita-Cita</strong></p>
24
<p>Ada dua anak yang bersahabat sejak kecil bernama Adi dan Anjas. Mereka selalu bersama, tetapi semenjak ayah Adi pindah bekerja mereka berdua pun terpisah. Pada suatu ketika tanpa disadari mereka bertemu kembali.</p>
24
<p>Ada dua anak yang bersahabat sejak kecil bernama Adi dan Anjas. Mereka selalu bersama, tetapi semenjak ayah Adi pindah bekerja mereka berdua pun terpisah. Pada suatu ketika tanpa disadari mereka bertemu kembali.</p>
25
<p>Ketika bertemu, mereka berbincang-bincang perihal rencana kuliah.</p>
25
<p>Ketika bertemu, mereka berbincang-bincang perihal rencana kuliah.</p>
26
<p>Anjas: “Adi, rencananya kamu mau kuliah di mana?”</p>
26
<p>Anjas: “Adi, rencananya kamu mau kuliah di mana?”</p>
27
<p>Adi: “Aku mau kuliah di PIP.”</p>
27
<p>Adi: “Aku mau kuliah di PIP.”</p>
28
<p>Anjas: “Memangnya kamu mau pilih jurusan apa?”</p>
28
<p>Anjas: “Memangnya kamu mau pilih jurusan apa?”</p>
29
<p>Adi: “Pelayaran. Mau jadi kapten kapal dong hehehe. Hmm tap i…”</p>
29
<p>Adi: “Pelayaran. Mau jadi kapten kapal dong hehehe. Hmm tap i…”</p>
30
<p>Anjas: “Kamu kenapa?”</p>
30
<p>Anjas: “Kamu kenapa?”</p>
31
<p>Adi: “Tapi aku lemah dengan pelajaran fisika.”</p>
31
<p>Adi: “Tapi aku lemah dengan pelajaran fisika.”</p>
32
<p>Anjas: “Duh jangan sedih dong, sudah enggak apa-apa. Kalau kamu belajar lebih giat lagi kamu pasti bisa. Teruslah berusaha, jangan menyerah. Kejar cita-cita kamu. Eits! Tapi jangan lupa kalau sudah usaha, kita juga harus tetap berdoa.”</p>
32
<p>Anjas: “Duh jangan sedih dong, sudah enggak apa-apa. Kalau kamu belajar lebih giat lagi kamu pasti bisa. Teruslah berusaha, jangan menyerah. Kejar cita-cita kamu. Eits! Tapi jangan lupa kalau sudah usaha, kita juga harus tetap berdoa.”</p>
33
<p>Adi: “Iya, terima kasih ya atas masukannya. asti aku bakal belajar lebih giat lagi.”</p>
33
<p>Adi: “Iya, terima kasih ya atas masukannya. asti aku bakal belajar lebih giat lagi.”</p>
34
<p>Anjas: “Nah gitu dong!”</p>
34
<p>Anjas: “Nah gitu dong!”</p>
35
<p>Adi: “Kalau kamu? Mau kuliah dimana?”</p>
35
<p>Adi: “Kalau kamu? Mau kuliah dimana?”</p>
36
<p>Anjas: “Aku belum tau nih. Kira-kira menurut kamu di mana ya? Terus, jurusan apa?”</p>
36
<p>Anjas: “Aku belum tau nih. Kira-kira menurut kamu di mana ya? Terus, jurusan apa?”</p>
37
<p>Adi: “Kalau menurut aku sih lebih baik kamu ikuti kata hati kamu aja. Pastinya yang sesuai dengan bakat dan minat kamu juga.”</p>
37
<p>Adi: “Kalau menurut aku sih lebih baik kamu ikuti kata hati kamu aja. Pastinya yang sesuai dengan bakat dan minat kamu juga.”</p>
38
<p>Anjas: “Iya sih, tapi masalahnya aku belum tau nih bakat aku di mana.”</p>
38
<p>Anjas: “Iya sih, tapi masalahnya aku belum tau nih bakat aku di mana.”</p>
39
<p>Adi: “Ya, kalau menurut aku sih, soal bakat kamu sebaiknya minta pendapat ke orang lain. Misalnya, ke teman, guru, dan juga orang tua. Terus kalau kamu masih bingung juga, aku saranin kamu untuk minta petunjuk Tuhan Yang Maha Esa. Ya, dengan berdoa.</p>
39
<p>Adi: “Ya, kalau menurut aku sih, soal bakat kamu sebaiknya minta pendapat ke orang lain. Misalnya, ke teman, guru, dan juga orang tua. Terus kalau kamu masih bingung juga, aku saranin kamu untuk minta petunjuk Tuhan Yang Maha Esa. Ya, dengan berdoa.</p>
40
<p>Anjas: “Wah makasih ya, Adi, atas pendapat dan saran kamu. Aku akan coba ikuti saran kamu. Oh iya, udah sore, nih. Aku pulang, ya. Makasih Adi.”</p>
40
<p>Anjas: “Wah makasih ya, Adi, atas pendapat dan saran kamu. Aku akan coba ikuti saran kamu. Oh iya, udah sore, nih. Aku pulang, ya. Makasih Adi.”</p>
41
<p>Adi: “Oh iya, oke, deh. Sama-sama. Makasih juga ya Anjas.”</p>
41
<p>Adi: “Oh iya, oke, deh. Sama-sama. Makasih juga ya Anjas.”</p>
42
<p>Setelah perbincangan tadi, mereka berdua menjadi lebih giat belajar. Akhirnya, Anjas telah mengetahui bakat dan minatnya untuk melanjutkan kuliah. .</p>
42
<p>Setelah perbincangan tadi, mereka berdua menjadi lebih giat belajar. Akhirnya, Anjas telah mengetahui bakat dan minatnya untuk melanjutkan kuliah. .</p>
43
<p>Waktu terus berlalu. Tidak terasa mereka berdua telah lulus ujian dan mereka pun ingin melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi yang mereka inginkan. Berkat kegigihan yang dilakukan Adi dan Anjas, akhirnya mereka diterima di perguruan tinggi yang mereka impikan.</p>
43
<p>Waktu terus berlalu. Tidak terasa mereka berdua telah lulus ujian dan mereka pun ingin melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi yang mereka inginkan. Berkat kegigihan yang dilakukan Adi dan Anjas, akhirnya mereka diterima di perguruan tinggi yang mereka impikan.</p>
44
<h2>2. Contoh Naskah Drama Pendek 2 Orang</h2>
44
<h2>2. Contoh Naskah Drama Pendek 2 Orang</h2>
45
<p><strong>Menanti</strong></p>
45
<p><strong>Menanti</strong></p>
46
<p>(Panggung menggambarkan ruang depan. Di kanan, jendela kaca tertutup. Sebelah belakang, ada pintu menuju ruang dalam. Ada beberapa gambar tua dan jam dinding, sebuah meja dan beberapa kursi. Pukul setengah delapan malam. Di luar angin kencang bertiup dan sekali-kali terlihat cahaya kilat). (Amran gelisah dan mondar-mandir, sekali-kali melihat jam).</p>
46
<p>(Panggung menggambarkan ruang depan. Di kanan, jendela kaca tertutup. Sebelah belakang, ada pintu menuju ruang dalam. Ada beberapa gambar tua dan jam dinding, sebuah meja dan beberapa kursi. Pukul setengah delapan malam. Di luar angin kencang bertiup dan sekali-kali terlihat cahaya kilat). (Amran gelisah dan mondar-mandir, sekali-kali melihat jam).</p>
47
<p>Amran: (Bicara sendiri) “Sudah jam setengah delapan lewat. Ke mana perginya, Anhar?” (melihat ke pintu dalam).</p>
47
<p>Amran: (Bicara sendiri) “Sudah jam setengah delapan lewat. Ke mana perginya, Anhar?” (melihat ke pintu dalam).</p>
48
<p>Gunadi: (Masih di dalam) “Ya, Kak…” (keluar menemui Amran).</p>
48
<p>Gunadi: (Masih di dalam) “Ya, Kak…” (keluar menemui Amran).</p>
49
<p>Amran: (Duduk) “Ke mana katanya, Anhar tadi?”</p>
49
<p>Amran: (Duduk) “Ke mana katanya, Anhar tadi?”</p>
50
<p>Gunadi: “Mau mancing ke tempat kita mendapat ikan besar dulu, Kak.”</p>
50
<p>Gunadi: “Mau mancing ke tempat kita mendapat ikan besar dulu, Kak.”</p>
51
<p>Amran: “Kenapa kau bolehkan saja? Kalau ayah dan ibu tahu, tentu akan marah.” (Berdiri dan berjalan pelan) “Kau tahu, kau tahu itu bahaya?”</p>
51
<p>Amran: “Kenapa kau bolehkan saja? Kalau ayah dan ibu tahu, tentu akan marah.” (Berdiri dan berjalan pelan) “Kau tahu, kau tahu itu bahaya?”</p>
52
<p>Gunadi: “Bahaya apa, Kak?”</p>
52
<p>Gunadi: “Bahaya apa, Kak?”</p>
53
<p>Amran: (Berdiri di jendela) “Tempat itu ada penunggunya.”</p>
53
<p>Amran: (Berdiri di jendela) “Tempat itu ada penunggunya.”</p>
54
<p>Gunadi: “Ada yang jaga, Kak? Itu kan kali biasa, masa ada yang memilikinya. Siapa saja boleh mancing di situ, kan?”</p>
54
<p>Gunadi: “Ada yang jaga, Kak? Itu kan kali biasa, masa ada yang memilikinya. Siapa saja boleh mancing di situ, kan?”</p>
55
<p>Amran: (Kesal) “Ah, kamu. Ada, ada setannya, tahu?”</p>
55
<p>Amran: (Kesal) “Ah, kamu. Ada, ada setannya, tahu?”</p>
56
<p>Gunadi: (Ketakutan) “Aaah, Kak Amran. Jangan begitu ah…. Saya takut.” (Gunadi melihat ke kiri dan kanan).</p>
56
<p>Gunadi: (Ketakutan) “Aaah, Kak Amran. Jangan begitu ah…. Saya takut.” (Gunadi melihat ke kiri dan kanan).</p>
57
<p>(Di luar kilat memancar terang. Kemudian, petir menggelegar).</p>
57
<p>(Di luar kilat memancar terang. Kemudian, petir menggelegar).</p>
58
<p>Gunadi: (Terkejut dan melompat) “Au, tolong, Kak!”</p>
58
<p>Gunadi: (Terkejut dan melompat) “Au, tolong, Kak!”</p>
59
<p>Amran: (Ke dekat adiknya) ”Ada apa, Gun?”</p>
59
<p>Amran: (Ke dekat adiknya) ”Ada apa, Gun?”</p>
60
<p>Gunadi: “Tidak apa-apa kak, saya hanya kaget saja. Tapi….(ragu-ragu) apakah Anhar tidak apa-apa, Kak?”</p>
60
<p>Gunadi: “Tidak apa-apa kak, saya hanya kaget saja. Tapi….(ragu-ragu) apakah Anhar tidak apa-apa, Kak?”</p>
61
<p>Amran: “Itulah. Kakak takut ia kehujanan. Akan kususul ia ke sana.”</p>
61
<p>Amran: “Itulah. Kakak takut ia kehujanan. Akan kususul ia ke sana.”</p>
62
<p>Gunadi: “Jangan, kak. Saya takut tinggal sendiri di rumah.”</p>
62
<p>Gunadi: “Jangan, kak. Saya takut tinggal sendiri di rumah.”</p>
63
<p>Amran: “Ayolah ikut, kita kunci saja rumah.”</p>
63
<p>Amran: “Ayolah ikut, kita kunci saja rumah.”</p>
64
<p>Gunadi: “Tapi kak….tapi jalan ke sana gelap, saya tidak berani ikut.”</p>
64
<p>Gunadi: “Tapi kak….tapi jalan ke sana gelap, saya tidak berani ikut.”</p>
65
<p>Amran: (Kesal dan bingung) “Habis bagaimana? Ditinggal tidak berani, diajak juga takut. Anhar kan harus dicari!” (Diam dan mendengar sesuatu). “Hah…suara apa itu?</p>
65
<p>Amran: (Kesal dan bingung) “Habis bagaimana? Ditinggal tidak berani, diajak juga takut. Anhar kan harus dicari!” (Diam dan mendengar sesuatu). “Hah…suara apa itu?</p>
66
<p>Gunadi: (Mendekap Amran) “Kak, Kak…! Ada apa, Kak?”</p>
66
<p>Gunadi: (Mendekap Amran) “Kak, Kak…! Ada apa, Kak?”</p>
67
<p>(Pintu depan terbuka. Anhar berdiri memegang kail dan ikan kecil-kecil).</p>
67
<p>(Pintu depan terbuka. Anhar berdiri memegang kail dan ikan kecil-kecil).</p>
68
<p>Anhar: (mengangkat ikannya) “Lihat, Kak. Lihat banyak, ya….”</p>
68
<p>Anhar: (mengangkat ikannya) “Lihat, Kak. Lihat banyak, ya….”</p>
69
<p>Amran: (Tersenyum tapi agak kesal) “Kamu anak nakal. Ayo ke belakang sana. Membuat orang bingung.”</p>
69
<p>Amran: (Tersenyum tapi agak kesal) “Kamu anak nakal. Ayo ke belakang sana. Membuat orang bingung.”</p>
70
<p>(Sumber: Depdikbud)</p>
70
<p>(Sumber: Depdikbud)</p>
71
<p>Baca Juga:<a>Mengupas Cerpen: Pengertian, Ciri, Fungsi, Struktur, dan Analisis</a></p>
71
<p>Baca Juga:<a>Mengupas Cerpen: Pengertian, Ciri, Fungsi, Struktur, dan Analisis</a></p>
72
<h2>3. Contoh Naskah Drama Komedi</h2>
72
<h2>3. Contoh Naskah Drama Komedi</h2>
73
<p>Siang itu lima sekawan yakni Danu, Dina, Dita, Didi, dan Dadang sepakat untuk mengerjakan tugas sepulang sekolah bersama.</p>
73
<p>Siang itu lima sekawan yakni Danu, Dina, Dita, Didi, dan Dadang sepakat untuk mengerjakan tugas sepulang sekolah bersama.</p>
74
<p>Dita: “Nanti kita kerjakan tugas di tempat biasa ya teman-teman.”</p>
74
<p>Dita: “Nanti kita kerjakan tugas di tempat biasa ya teman-teman.”</p>
75
<p>Didi: “Di balai desa atau di rumah Danu?”</p>
75
<p>Didi: “Di balai desa atau di rumah Danu?”</p>
76
<p>Dita: “Di balai desa saja.”</p>
76
<p>Dita: “Di balai desa saja.”</p>
77
<p>Dina: “Baiklah teman-teman, kalau begitu saya pulang ganti baju dan makan dulu baru saya ke balai desa.”</p>
77
<p>Dina: “Baiklah teman-teman, kalau begitu saya pulang ganti baju dan makan dulu baru saya ke balai desa.”</p>
78
<p>Setelah mereka semua pulang ke rumah masing-masing dan jam menunjukkan pukul empat sore, Dina, Dita, dan Didi segera berangkat menuju balai desa. Hanya Danu yang tidak berangkat karena sepulang sekolah ia tertidur pulas dan lupa jika sudah sepakat mengerjakan tugas.</p>
78
<p>Setelah mereka semua pulang ke rumah masing-masing dan jam menunjukkan pukul empat sore, Dina, Dita, dan Didi segera berangkat menuju balai desa. Hanya Danu yang tidak berangkat karena sepulang sekolah ia tertidur pulas dan lupa jika sudah sepakat mengerjakan tugas.</p>
79
<p>*Sampai di balai desa*</p>
79
<p>*Sampai di balai desa*</p>
80
<p>Didi: “Danu mana ya? Sudah hampir jam lima dia tak kunjung datang.”</p>
80
<p>Didi: “Danu mana ya? Sudah hampir jam lima dia tak kunjung datang.”</p>
81
<p>Dina: “Jangan-jangan dia lupa jika sekarang kita akan mengerjakan tugas?”</p>
81
<p>Dina: “Jangan-jangan dia lupa jika sekarang kita akan mengerjakan tugas?”</p>
82
<p>Dita: “Atau mungkin dia mengira kalau kita akan mengerjakan tugas di rumahnya. Sebaiknya kita ke rumahnya mungkin dia sudah menunggu kita.”</p>
82
<p>Dita: “Atau mungkin dia mengira kalau kita akan mengerjakan tugas di rumahnya. Sebaiknya kita ke rumahnya mungkin dia sudah menunggu kita.”</p>
83
<p>Dadang: “Mungkin dia ada urusan tetapi lupa memberitahu kita. Kita tunggu saja disini sembari menyelesaikan separuh tugas.”</p>
83
<p>Dadang: “Mungkin dia ada urusan tetapi lupa memberitahu kita. Kita tunggu saja disini sembari menyelesaikan separuh tugas.”</p>
84
<p>Mereka berempat mengerjakan tugas bersama terlebih dahulu sembari menunggu kedatangan Danu. Setelah jam tangan Dadang menunjukkan angka pukul 5:30 sore, terlihat dari jauh anak laki-laki terengah-engah berlari membawa tas.</p>
84
<p>Mereka berempat mengerjakan tugas bersama terlebih dahulu sembari menunggu kedatangan Danu. Setelah jam tangan Dadang menunjukkan angka pukul 5:30 sore, terlihat dari jauh anak laki-laki terengah-engah berlari membawa tas.</p>
85
<p>Didi: “Tuh kan, Danu baru kemari.”</p>
85
<p>Didi: “Tuh kan, Danu baru kemari.”</p>
86
<p>Dina: “Eh.. iya. Tetapi kenapa dia berlari seperti dikejar hantu dan memakai seragam sekolah?”</p>
86
<p>Dina: “Eh.. iya. Tetapi kenapa dia berlari seperti dikejar hantu dan memakai seragam sekolah?”</p>
87
<p>Danu: “Teman-teman? Sedang apa kalian sepagi ini di balai desa? Apa kalian tidak takut terlambat ke sekolah?”</p>
87
<p>Danu: “Teman-teman? Sedang apa kalian sepagi ini di balai desa? Apa kalian tidak takut terlambat ke sekolah?”</p>
88
<p>Seketika Dita, Dina, Didi dan Dadang tertawa terbahak-bahak.</p>
88
<p>Seketika Dita, Dina, Didi dan Dadang tertawa terbahak-bahak.</p>
89
<p>Dita: “Ini masih sore, Danu. Pasti kamu baru bangun tidur kan?”</p>
89
<p>Dita: “Ini masih sore, Danu. Pasti kamu baru bangun tidur kan?”</p>
90
<p>Dina: “Makanya Dan, kita dilarang tidur sampai hampir petang.”</p>
90
<p>Dina: “Makanya Dan, kita dilarang tidur sampai hampir petang.”</p>
91
<p>Wajah Danu memerah disertai rasa malu dan menyesal.</p>
91
<p>Wajah Danu memerah disertai rasa malu dan menyesal.</p>
92
<h2>4. Contoh Naskah Drama Romantis tentang Pangeran</h2>
92
<h2>4. Contoh Naskah Drama Romantis tentang Pangeran</h2>
93
<p><strong>Ketika Pangeran Mencari Istri</strong></p>
93
<p><strong>Ketika Pangeran Mencari Istri</strong></p>
94
<p>Suatu ketika, terdapat sebuah kerajaan yang diperintah seorang raja yang bijaksana. Namanya Raja Henry. Raja Henry memiliki seorang anak bernama Pangeran Arthur. Pada suatu hari, datanglah seorang pemuda pengembara. Ia datang ke kerajaan dan menemui Pangeran yang sedang melamun di taman istana.</p>
94
<p>Suatu ketika, terdapat sebuah kerajaan yang diperintah seorang raja yang bijaksana. Namanya Raja Henry. Raja Henry memiliki seorang anak bernama Pangeran Arthur. Pada suatu hari, datanglah seorang pemuda pengembara. Ia datang ke kerajaan dan menemui Pangeran yang sedang melamun di taman istana.</p>
95
<p>Pengembara: “Selamat pagi, Pangeran Arthur!”</p>
95
<p>Pengembara: “Selamat pagi, Pangeran Arthur!”</p>
96
<p>Pangeran Arthur: “Selamat pagi. Siapakah kau?”</p>
96
<p>Pangeran Arthur: “Selamat pagi. Siapakah kau?”</p>
97
<p>Pengembara: “Aku pengembara biasa. Namaku Theo. Kudengar, Pangeran sedang bingung memilih calon istri?”</p>
97
<p>Pengembara: “Aku pengembara biasa. Namaku Theo. Kudengar, Pangeran sedang bingung memilih calon istri?”</p>
98
<p>Pangeran Arthur: “Ya, aku bingung sekali. Semua wanita yang dikenalkan padaku, tidak ada yang menarik hati. Ada yang cantik, tapi berkulit hitam. Ada yang putih, tetapi bertubuh pendek. Ada yang bertubuh semampai, berwajah cantik, tetapi tidak bisa membaca. Aduuh!”</p>
98
<p>Pangeran Arthur: “Ya, aku bingung sekali. Semua wanita yang dikenalkan padaku, tidak ada yang menarik hati. Ada yang cantik, tapi berkulit hitam. Ada yang putih, tetapi bertubuh pendek. Ada yang bertubuh semampai, berwajah cantik, tetapi tidak bisa membaca. Aduuh!”</p>
99
<p>Pengembara: “Hmm, bagaimana kalau kuajak Pangeran berjalan-jalan sebentar. Siapa tahu di perjalanan nanti Pangeran bisa menemukan jalan keluar.”</p>
99
<p>Pengembara: “Hmm, bagaimana kalau kuajak Pangeran berjalan-jalan sebentar. Siapa tahu di perjalanan nanti Pangeran bisa menemukan jalan keluar.”</p>
100
<p>Pangeran Arthur: ”Ooh, baiklah.”</p>
100
<p>Pangeran Arthur: ”Ooh, baiklah.”</p>
101
<p>Mereka berdua lalu berjalan-jalan ke luar istana. Theo mengajak Pangeran ke daerah pantai. Di sana mereka berbincang-bincang dengan seorang nelayan. Tak lama kemudian nelayan itu mengajak pangeran dan Theo ke rumahnya.</p>
101
<p>Mereka berdua lalu berjalan-jalan ke luar istana. Theo mengajak Pangeran ke daerah pantai. Di sana mereka berbincang-bincang dengan seorang nelayan. Tak lama kemudian nelayan itu mengajak pangeran dan Theo ke rumahnya.</p>
102
<p>Nelayan: “Istriku sedang memasak ikan bakar yang lezat. Pasti Pangeran menyukainya.”</p>
102
<p>Nelayan: “Istriku sedang memasak ikan bakar yang lezat. Pasti Pangeran menyukainya.”</p>
103
<p>Istri nelayan: (Datang dari dapur untuk menghidangkan ikan bakar). “Silakan Tuan-tuan nikmati makanan ini.”(Kembali lagi ke dapur)</p>
103
<p>Istri nelayan: (Datang dari dapur untuk menghidangkan ikan bakar). “Silakan Tuan-tuan nikmati makanan ini.”(Kembali lagi ke dapur)</p>
104
<p>Pengembara: “Wahai, Nelayan! Mengapa engkau memilih istri yang bertubuh pendek?”</p>
104
<p>Pengembara: “Wahai, Nelayan! Mengapa engkau memilih istri yang bertubuh pendek?”</p>
105
<p>Nelayan: (Tersenyum). “Aku mencintainya. Lagi pula, walau tubuhnya pendek, hatinya sangat baik. Ia pun pandai memasak.”</p>
105
<p>Nelayan: (Tersenyum). “Aku mencintainya. Lagi pula, walau tubuhnya pendek, hatinya sangat baik. Ia pun pandai memasak.”</p>
106
<p>Pangeran Arthur: (Mengangguk-angguk)</p>
106
<p>Pangeran Arthur: (Mengangguk-angguk)</p>
107
<p>Selesai makan, Pangeran Arthur dan pengembara itu berterima kasih dan melanjutkan perjalanan. Kini Theo dan Pangeran Arthur sampai di rumah seorang petani. Disana mereka menumpang istirahat. Mereka beberapa saat bercakap dengan Pak Tani. Lalu, keluarlah istri Pak Tani menyuguhkan minuman dan kuekue kecil. Bu Tani bertubuh sangat gemuk. Pipinya tembam dan dagunya berlipatlipat. Kemudian, Bu Tani pergi ke sawah,</p>
107
<p>Selesai makan, Pangeran Arthur dan pengembara itu berterima kasih dan melanjutkan perjalanan. Kini Theo dan Pangeran Arthur sampai di rumah seorang petani. Disana mereka menumpang istirahat. Mereka beberapa saat bercakap dengan Pak Tani. Lalu, keluarlah istri Pak Tani menyuguhkan minuman dan kuekue kecil. Bu Tani bertubuh sangat gemuk. Pipinya tembam dan dagunya berlipatlipat. Kemudian, Bu Tani pergi ke sawah,</p>
108
<p>Pengembara: “Pak Tani yang baik hati. Mengapa kau memilih istri yang gemuk?”</p>
108
<p>Pengembara: “Pak Tani yang baik hati. Mengapa kau memilih istri yang gemuk?”</p>
109
<p>Pak Tani: (Tersenyum). “Ia adalah wanita yang rajin. Lihatlah, rumahku bersih sekali, bukan? Setiap hari ia membersihkannya dengan teliti. Lagipula, aku sangat mencintainya.”</p>
109
<p>Pak Tani: (Tersenyum). “Ia adalah wanita yang rajin. Lihatlah, rumahku bersih sekali, bukan? Setiap hari ia membersihkannya dengan teliti. Lagipula, aku sangat mencintainya.”</p>
110
<p>Pangeran Arthur: (Mengangguk-angguk).</p>
110
<p>Pangeran Arthur: (Mengangguk-angguk).</p>
111
<p>Pangeran dan Theo lalu pamit, dan berjalan pulang ke Istana. Setibanya di Istana, mereka bertemu seorang pelayan dan istrinya. Pelayan itu amat pendiam, sedangkan istrinya cerewet sekali.</p>
111
<p>Pangeran dan Theo lalu pamit, dan berjalan pulang ke Istana. Setibanya di Istana, mereka bertemu seorang pelayan dan istrinya. Pelayan itu amat pendiam, sedangkan istrinya cerewet sekali.</p>
112
<p>Pengembara: “Pelayan, mengapa kau mau beristrikan wanita sebawel dia?”</p>
112
<p>Pengembara: “Pelayan, mengapa kau mau beristrikan wanita sebawel dia?”</p>
113
<p>Pelayan: “Walaupun bawel, dia sangat memperhatikanku. Dan aku sangat mencintainya.”</p>
113
<p>Pelayan: “Walaupun bawel, dia sangat memperhatikanku. Dan aku sangat mencintainya.”</p>
114
<p>Pangeran Arthur: (Mengangguk-angguk). “Kini aku mengerti. Tak ada manusia yang sempurna. Begitu pula dengan calon istriku. Yang penting, aku mencintainya dan hatinya baik.”</p>
114
<p>Pangeran Arthur: (Mengangguk-angguk). “Kini aku mengerti. Tak ada manusia yang sempurna. Begitu pula dengan calon istriku. Yang penting, aku mencintainya dan hatinya baik.”</p>
115
<p>Pengembara: (Bernapas lega, lalu lalu membuka rambutnya yang ternyata palsu. Rambut aslinya ternyata panjang dan keemasan. Ia juga membuka kumis dan jenggot palsunya. Kini di hadapan Pangeran ada seorang puteri yang cantik jelita.) “Pangeran, sebenarnya aku Puteri Rosa dari negeri tetangga. Ibunda Pangeran mengundangku ke sini. Dan menyuruhku melakukan semua hal tadi. Mungkin ibundamu ingin menyadarkanmu.”</p>
115
<p>Pengembara: (Bernapas lega, lalu lalu membuka rambutnya yang ternyata palsu. Rambut aslinya ternyata panjang dan keemasan. Ia juga membuka kumis dan jenggot palsunya. Kini di hadapan Pangeran ada seorang puteri yang cantik jelita.) “Pangeran, sebenarnya aku Puteri Rosa dari negeri tetangga. Ibunda Pangeran mengundangku ke sini. Dan menyuruhku melakukan semua hal tadi. Mungkin ibundamu ingin menyadarkanmu.”</p>
116
<p>Pangeran Arthur: (Sangat terkejut). “Akhirnya aku dapat menemukan wanita yang cocok untuk menjadi istriku.”</p>
116
<p>Pangeran Arthur: (Sangat terkejut). “Akhirnya aku dapat menemukan wanita yang cocok untuk menjadi istriku.”</p>
117
<p>Pangeran Arthur dan Putri Rosa akhirnya menikah dan hidup bahagia selamanya.</p>
117
<p>Pangeran Arthur dan Putri Rosa akhirnya menikah dan hidup bahagia selamanya.</p>
118
<h2>5. Contoh Naskah Drama 4 Babak tentang Konflik di Sekolah</h2>
118
<h2>5. Contoh Naskah Drama 4 Babak tentang Konflik di Sekolah</h2>
119
<p><strong>Babak I</strong></p>
119
<p><strong>Babak I</strong></p>
120
<p>Pagi-pagi, suasana di kelas IX SMP Sambo Indah cukup ramai. Bermacam-macam tingkah kegiatan mereka. Ada yang mengobrol, ada yang membaca buku. Ada pula yang keluar masuk kelas.</p>
120
<p>Pagi-pagi, suasana di kelas IX SMP Sambo Indah cukup ramai. Bermacam-macam tingkah kegiatan mereka. Ada yang mengobrol, ada yang membaca buku. Ada pula yang keluar masuk kelas.</p>
121
<p>Cahyo: “Ssst… Bu Indati datang!” (Para siswa segera beranjak duduk di tempatnya masing-masing)</p>
121
<p>Cahyo: “Ssst… Bu Indati datang!” (Para siswa segera beranjak duduk di tempatnya masing-masing)</p>
122
<p>Bu Indati: “Selamat pagi, Anak-anak!” (ramah)</p>
122
<p>Bu Indati: “Selamat pagi, Anak-anak!” (ramah)</p>
123
<p>Anak-anak: “Selamat pagi, Buuuuuu!” (kompak).</p>
123
<p>Anak-anak: “Selamat pagi, Buuuuuu!” (kompak).</p>
124
<p>Bu Indati: “Anak-anak, kemarin Ibu memberikan tugas Bahasa Indonesia membuat pantun, semua sudah mengerjakan?”</p>
124
<p>Bu Indati: “Anak-anak, kemarin Ibu memberikan tugas Bahasa Indonesia membuat pantun, semua sudah mengerjakan?”</p>
125
<p>Anak-anak: “Sudah Bu.”</p>
125
<p>Anak-anak: “Sudah Bu.”</p>
126
<p>Bu Indati: “Arga, kamu sudah membuat pantun?”</p>
126
<p>Bu Indati: “Arga, kamu sudah membuat pantun?”</p>
127
<p>Agra: “Sudah dong Bu.”</p>
127
<p>Agra: “Sudah dong Bu.”</p>
128
<p>Bu Indati: “Coba kamu bacakan untuk teman-temanmu.”</p>
128
<p>Bu Indati: “Coba kamu bacakan untuk teman-temanmu.”</p>
129
<p>Agra: (tersenyum nakal)</p>
129
<p>Agra: (tersenyum nakal)</p>
130
<p>“Jalan ke hutan melihat salak,</p>
130
<p>“Jalan ke hutan melihat salak,</p>
131
<p>Ada pula pohon-pohon tua</p>
131
<p>Ada pula pohon-pohon tua</p>
132
<p>Ayam jantan terbahak-bahak</p>
132
<p>Ayam jantan terbahak-bahak</p>
133
<p>Lihat Inka giginya dua”</p>
133
<p>Lihat Inka giginya dua”</p>
134
<p>Anak-anal: (Tertawa terbahak-bahak).</p>
134
<p>Anak-anal: (Tertawa terbahak-bahak).</p>
135
<p>Inka: (Cemberut, melotot pada Agra)</p>
135
<p>Inka: (Cemberut, melotot pada Agra)</p>
136
<p>Bu Indati: “Arga, kamu nggak boleh seperti itu sama temannya.” (Agak kesal) Kekurangan orang lain itu bukan untuk ditertawakan. Coba kamu buat pantun yang lain.”</p>
136
<p>Bu Indati: “Arga, kamu nggak boleh seperti itu sama temannya.” (Agak kesal) Kekurangan orang lain itu bukan untuk ditertawakan. Coba kamu buat pantun yang lain.”</p>
137
<p>Agra: “Iya Bu!” (masih tersenyum senyum).</p>
137
<p>Agra: “Iya Bu!” (masih tersenyum senyum).</p>
138
<p><strong>Babak II</strong></p>
138
<p><strong>Babak II</strong></p>
139
<p>Siang hari. Anak-anak SMP Sambo Indah pulang sekolah, Inka mendatangi Arga.</p>
139
<p>Siang hari. Anak-anak SMP Sambo Indah pulang sekolah, Inka mendatangi Arga.</p>
140
<p>Inka: “Arga, kenapa sih kamu selalu usil? Kenapa kamu selalu mengejek aku? Memangnya kamu suka kalau diejek?” (cemberut)</p>
140
<p>Inka: “Arga, kenapa sih kamu selalu usil? Kenapa kamu selalu mengejek aku? Memangnya kamu suka kalau diejek?” (cemberut)</p>
141
<p>Agra: (Tertawa-tawa) “Aduh…maaf deh! Kamu marah ya, In?”</p>
141
<p>Agra: (Tertawa-tawa) “Aduh…maaf deh! Kamu marah ya, In?”</p>
142
<p>Inka: “Iya dong. habis…kamu nakal. Kamu memang sengaja mengejek aku kan, biar anak-anak sekelas menertawakan aku.”</p>
142
<p>Inka: “Iya dong. habis…kamu nakal. Kamu memang sengaja mengejek aku kan, biar anak-anak sekelas menertawakan aku.”</p>
143
<p>Agra: “Wah…jangan marah dong, aku kan cuma bercanda. Eh, katanya marah itu bisa menghambat pertumbuhan gigi, nanti kamu giginya dua terus, hahaha…”</p>
143
<p>Agra: “Wah…jangan marah dong, aku kan cuma bercanda. Eh, katanya marah itu bisa menghambat pertumbuhan gigi, nanti kamu giginya dua terus, hahaha…”</p>
144
<p>Danto: (Tertawa). “Iya, Kak. Nanti ayam jago menertawakan kamu terus!”</p>
144
<p>Danto: (Tertawa). “Iya, Kak. Nanti ayam jago menertawakan kamu terus!”</p>
145
<p>Inka: “Huh! kalian jahat! (Berteriak) Aku nggak ngomong lagi sama kalian!” (Pergi)</p>
145
<p>Inka: “Huh! kalian jahat! (Berteriak) Aku nggak ngomong lagi sama kalian!” (Pergi)</p>
146
<p>Gendis: (Menghampiri Inka) “Sudahlah In, nggak usah dipikirkan. Arga kan memang usil dan nakal. Nanti kalau kita marah, dia malah tambah senang. Kita diamkan saja anak itu.</p>
146
<p>Gendis: (Menghampiri Inka) “Sudahlah In, nggak usah dipikirkan. Arga kan memang usil dan nakal. Nanti kalau kita marah, dia malah tambah senang. Kita diamkan saja anak itu.</p>
147
<p><strong>Babak III</strong></p>
147
<p><strong>Babak III</strong></p>
148
<p>Hari berikutnya, sewaktu istirahat pertama.</p>
148
<p>Hari berikutnya, sewaktu istirahat pertama.</p>
149
<p>Agra: (Duduk tidak jauh dari Gendis) “Dis, nama kamu kok bagus sih. mengeja nama Gendis itu gimana?”</p>
149
<p>Agra: (Duduk tidak jauh dari Gendis) “Dis, nama kamu kok bagus sih. mengeja nama Gendis itu gimana?”</p>
150
<p>Gendis: “Apa sih, kamu mau mengganggu lagi, ya? Beraninya cuma sama anak perempuan.”</p>
150
<p>Gendis: “Apa sih, kamu mau mengganggu lagi, ya? Beraninya cuma sama anak perempuan.”</p>
151
<p>Agra: “Aku kan cuma bertanya, mengeja nama Gendis itu gimana. Masak gitu aja marah.”</p>
151
<p>Agra: “Aku kan cuma bertanya, mengeja nama Gendis itu gimana. Masak gitu aja marah.”</p>
152
<p>Gendis: “Memangnya kenapa sih? (Curiga) Gendis ya mengejanya G-E-N-D-I-S dong!”</p>
152
<p>Gendis: “Memangnya kenapa sih? (Curiga) Gendis ya mengejanya G-E-N-D-I-S dong!”</p>
153
<p>Agra: “Haaa…kamu itu gimana sih Dis. Udah SMP kok belum bisa mengeja nama sendiri dengan benar. Gendis itu mengejanya G-E-M-B-U-L. Itu kayak pamannya Bobo, hahaha….”</p>
153
<p>Agra: “Haaa…kamu itu gimana sih Dis. Udah SMP kok belum bisa mengeja nama sendiri dengan benar. Gendis itu mengejanya G-E-M-B-U-L. Itu kayak pamannya Bobo, hahaha….”</p>
154
<p>Teman-teman Agra: (tertawa)</p>
154
<p>Teman-teman Agra: (tertawa)</p>
155
<p>Gendis: “Arga, kamu selalu begitu! Bisa nggak sih, sehari tanpa berbuat nakal? Lagi pula kamu cuma berani mengganggu anak perempuan. Dasar!” (Marah dan meninggalkan Agra).</p>
155
<p>Gendis: “Arga, kamu selalu begitu! Bisa nggak sih, sehari tanpa berbuat nakal? Lagi pula kamu cuma berani mengganggu anak perempuan. Dasar!” (Marah dan meninggalkan Agra).</p>
156
<p><strong>Babak IV</strong></p>
156
<p><strong>Babak IV</strong></p>
157
<p>Di perjalanan, hari sudah siang. Inka dan Gendis berjalan kaki pulang sekolah. Tiba-tiba di belakang mereka terdengar bunyi bel sepeda berdering dering.</p>
157
<p>Di perjalanan, hari sudah siang. Inka dan Gendis berjalan kaki pulang sekolah. Tiba-tiba di belakang mereka terdengar bunyi bel sepeda berdering dering.</p>
158
<p>Agra: (Di atas sepeda) “Hoi…minggir…minggir…. Pangeran Arga yang ganteng ini mau lewat. Rakyat jelata diharap minggir.”</p>
158
<p>Agra: (Di atas sepeda) “Hoi…minggir…minggir…. Pangeran Arga yang ganteng ini mau lewat. Rakyat jelata diharap minggir.”</p>
159
<p>Inka & Gendis: (Menoleh sebal)</p>
159
<p>Inka & Gendis: (Menoleh sebal)</p>
160
<p>Agra: (Tertawa-tawa dan…. gubrak terjatuh) “Aduuuuh!”</p>
160
<p>Agra: (Tertawa-tawa dan…. gubrak terjatuh) “Aduuuuh!”</p>
161
<p>Inka: “Rasakan kamu! (Berteriak) Makanya kalau naik sepeda itu lihat depan.”</p>
161
<p>Inka: “Rasakan kamu! (Berteriak) Makanya kalau naik sepeda itu lihat depan.”</p>
162
<p>Gendis: “Iya! Makanya kalau sama anak perempuan jangan suka nakal. Sekarang kamu kena batunya.”</p>
162
<p>Gendis: “Iya! Makanya kalau sama anak perempuan jangan suka nakal. Sekarang kamu kena batunya.”</p>
163
<p>Agra: (Meringis kesakitan) “Aduh… tolong, dong. Aku nggak bisa bangun nih?”</p>
163
<p>Agra: (Meringis kesakitan) “Aduh… tolong, dong. Aku nggak bisa bangun nih?”</p>
164
<p>Inka: “Apa-apaan ditolong. Dia kan suka mengganggu kita kita. Biar tahu rasa sekarang. Lagi pula, paling dia cuma pura-pura. Nanti kita dikerjain lagi.”</p>
164
<p>Inka: “Apa-apaan ditolong. Dia kan suka mengganggu kita kita. Biar tahu rasa sekarang. Lagi pula, paling dia cuma pura-pura. Nanti kita dikerjain lagi.”</p>
165
<p>Agra: “Aduh… aku nggak pura-pura. Kakiku sakit sekali. (Merintih) Aku janji nggak akan ngerjain kalian lagi.”</p>
165
<p>Agra: “Aduh… aku nggak pura-pura. Kakiku sakit sekali. (Merintih) Aku janji nggak akan ngerjain kalian lagi.”</p>
166
<p>Inka: (Menjadi merasa kasihan pada Agra) ”Ditolong yuk, Dis.”</p>
166
<p>Inka: (Menjadi merasa kasihan pada Agra) ”Ditolong yuk, Dis.”</p>
167
<p>Gendis: “Tapi…”</p>
167
<p>Gendis: “Tapi…”</p>
168
<p>Inka: “Sudahlah, kita kan nggak boleh dendam sama orang lain. Bagaimanapun, Arga kan teman kita juga.”</p>
168
<p>Inka: “Sudahlah, kita kan nggak boleh dendam sama orang lain. Bagaimanapun, Arga kan teman kita juga.”</p>
169
<p>Gendis: (Mengangguk dan mendekati Arga).</p>
169
<p>Gendis: (Mengangguk dan mendekati Arga).</p>
170
<p>Inka: “Apanya yang sakit, Ga?”</p>
170
<p>Inka: “Apanya yang sakit, Ga?”</p>
171
<p>Agra: “Aduh… kakiku sakit sekali. Aku nggak kuat berdiri nih.”</p>
171
<p>Agra: “Aduh… kakiku sakit sekali. Aku nggak kuat berdiri nih.”</p>
172
<p>Inka: “Gini aja Dis, kamu ke sekolah cari Pak Yan yang jaga sekolah. Pak Yan kan punya motor. Nanti Arga biar diantar pulang sama Pak Yan. Sekarang aku di sini menemai Arga.”</p>
172
<p>Inka: “Gini aja Dis, kamu ke sekolah cari Pak Yan yang jaga sekolah. Pak Yan kan punya motor. Nanti Arga biar diantar pulang sama Pak Yan. Sekarang aku di sini menemai Arga.”</p>
173
<p>Gendis: (Bersemangat) “Ide yang bagus.” (Pergi menuju ke sekolah yang masih kelihatan dari tempat itu).</p>
173
<p>Gendis: (Bersemangat) “Ide yang bagus.” (Pergi menuju ke sekolah yang masih kelihatan dari tempat itu).</p>
174
<p>Agra: “In… (Lirih) Maafkan aku, ya. Aku sering gangguin kamu, Gendis, Anggun, dan teman-teman yang lain.”</p>
174
<p>Agra: “In… (Lirih) Maafkan aku, ya. Aku sering gangguin kamu, Gendis, Anggun, dan teman-teman yang lain.”</p>
175
<p>Gendis: “Makanya kamu jangan suka ngerjain orang, apalagi mengolok-olok kekurangan mereka. Jangan suka meremehkan anak perempuan. Nyatanya, kamu membutuhkan mereka juga, kan?”</p>
175
<p>Gendis: “Makanya kamu jangan suka ngerjain orang, apalagi mengolok-olok kekurangan mereka. Jangan suka meremehkan anak perempuan. Nyatanya, kamu membutuhkan mereka juga, kan?”</p>
176
<p>Agra: “Iya deh, aku janji nggak akan ngerjain kalian lagi.”</p>
176
<p>Agra: “Iya deh, aku janji nggak akan ngerjain kalian lagi.”</p>
177
<p>Arga betul-betul menepati janjinya. Sejak kejadian itu, ia tak pernah mengganggu teman-temannya lagi. Arga pun jadi punya banyak sahabat, termasuk Inka dan Gendis. Mereka sering mengerjakan PR dan belajar bersama.</p>
177
<p>Arga betul-betul menepati janjinya. Sejak kejadian itu, ia tak pernah mengganggu teman-temannya lagi. Arga pun jadi punya banyak sahabat, termasuk Inka dan Gendis. Mereka sering mengerjakan PR dan belajar bersama.</p>
178
<p>Agra: (Bicara sendiri) “Ternyata kalau aku nggak nakal, sahabatku tambah banyak,” pikir Arga. ”Ternyata juga, punya banyak sahabat itu menyenangkan. Kalau mereka ulang tahun kan aku jadi sering ditraktir, hihihi….”</p>
178
<p>Agra: (Bicara sendiri) “Ternyata kalau aku nggak nakal, sahabatku tambah banyak,” pikir Arga. ”Ternyata juga, punya banyak sahabat itu menyenangkan. Kalau mereka ulang tahun kan aku jadi sering ditraktir, hihihi….”</p>
179
<p>(Adaptasi dari cerpen “Kena Batunya”, Veronica Widyastuti)</p>
179
<p>(Adaptasi dari cerpen “Kena Batunya”, Veronica Widyastuti)</p>
180
<p>Baca Juga:<a>Cara Menganalisis Unsur Ekstrinsik Cerpen</a></p>
180
<p>Baca Juga:<a>Cara Menganalisis Unsur Ekstrinsik Cerpen</a></p>
181
<h2>6. Contoh Naskah Drama 4 Orang tentang Lomba Masak</h2>
181
<h2>6. Contoh Naskah Drama 4 Orang tentang Lomba Masak</h2>
182
<p><strong>Lomba Masak</strong></p>
182
<p><strong>Lomba Masak</strong></p>
183
<p>Reni, Ria, Untari, dan Susi sedang duduk-duduk di teras rumah Ria. Di atas meja terhidang minuman dan sepiring pisang goreng. Peristiwa itu terjadi pada suatu sore hari.</p>
183
<p>Reni, Ria, Untari, dan Susi sedang duduk-duduk di teras rumah Ria. Di atas meja terhidang minuman dan sepiring pisang goreng. Peristiwa itu terjadi pada suatu sore hari.</p>
184
<p>Reni: “Bagaimana Ri, kau sudah mendapat ide?”</p>
184
<p>Reni: “Bagaimana Ri, kau sudah mendapat ide?”</p>
185
<p>Ria: (Penuh tanda tanya). “Sebetulnya sudah, tapi… apakah kalian setuju dengan ideku ini?”</p>
185
<p>Ria: (Penuh tanda tanya). “Sebetulnya sudah, tapi… apakah kalian setuju dengan ideku ini?”</p>
186
<p>Untari dan Susi: (Hampir bersamaan). “Coba katakan, apa idemu?”</p>
186
<p>Untari dan Susi: (Hampir bersamaan). “Coba katakan, apa idemu?”</p>
187
<p>Ria: “Begini (diam sebentar). Kita buat saja masakan dari bahan-bahan yang ada di sekitar kita. Kebetulan kami panen pisang dan singkong, kemarin. Nah, kita bisa memanfaatkan kedua bahan itu.”</p>
187
<p>Ria: “Begini (diam sebentar). Kita buat saja masakan dari bahan-bahan yang ada di sekitar kita. Kebetulan kami panen pisang dan singkong, kemarin. Nah, kita bisa memanfaatkan kedua bahan itu.”</p>
188
<p>Untari: “Tapi… apakah masakan kita tidak memalukan? Sebab, singkong dan pisang hanya bahan murah.”</p>
188
<p>Untari: “Tapi… apakah masakan kita tidak memalukan? Sebab, singkong dan pisang hanya bahan murah.”</p>
189
<p>Susi: “Benar pendapat Untari, tentunya kelompok kita akan membuat masakan dari bahan yang lebih baik dan lebih mahal.”</p>
189
<p>Susi: “Benar pendapat Untari, tentunya kelompok kita akan membuat masakan dari bahan yang lebih baik dan lebih mahal.”</p>
190
<p>Reni: “Tetapi aku setuju dengan pendapat Ria. Dengan bahan yang sederhana kita pun dapat membuat makanan yang enak. Kebetulan kakakku pernah membuat makanan dari bahan singkong dan pisang. Jadi, kita dapat belajar dari dia.”</p>
190
<p>Reni: “Tetapi aku setuju dengan pendapat Ria. Dengan bahan yang sederhana kita pun dapat membuat makanan yang enak. Kebetulan kakakku pernah membuat makanan dari bahan singkong dan pisang. Jadi, kita dapat belajar dari dia.”</p>
191
<p>Ria: “Ya, ibuku pun pernah memasaknya, dan hasilnya… Kami semua senang.”</p>
191
<p>Ria: “Ya, ibuku pun pernah memasaknya, dan hasilnya… Kami semua senang.”</p>
192
<p>Untari: (Bernada khawatir). “Tapi… Bagaimana dengan kelompok lain?”</p>
192
<p>Untari: (Bernada khawatir). “Tapi… Bagaimana dengan kelompok lain?”</p>
193
<p>Susi: “Wah, mereka pasti akan memasak makanan yang enak dan mahal.”</p>
193
<p>Susi: “Wah, mereka pasti akan memasak makanan yang enak dan mahal.”</p>
194
<p>Reni: “Ah, makanan mahal belum tentu enak rasanya. Dan kita harus mengingat kemampuan kita.”</p>
194
<p>Reni: “Ah, makanan mahal belum tentu enak rasanya. Dan kita harus mengingat kemampuan kita.”</p>
195
<p>Ria: “Betul kata Reni, sebaliknya makanan yang murah belum tentu tidak enak. Maka, sekarang kita putuskan saja, kelompok kita, kelompok II, akan membuat makanan dari bahan singkong dan pisang.”</p>
195
<p>Ria: “Betul kata Reni, sebaliknya makanan yang murah belum tentu tidak enak. Maka, sekarang kita putuskan saja, kelompok kita, kelompok II, akan membuat makanan dari bahan singkong dan pisang.”</p>
196
<p>Reni: “Ya, aku setuju, bagaimana Untari, dan kau Susi?”</p>
196
<p>Reni: “Ya, aku setuju, bagaimana Untari, dan kau Susi?”</p>
197
<p>Untari: (Bernada pasrah). “Bisa begitu… Ya sudahlah, aku setuju.”</p>
197
<p>Untari: (Bernada pasrah). “Bisa begitu… Ya sudahlah, aku setuju.”</p>
198
<p>Susi: “Aku juga setuju.”</p>
198
<p>Susi: “Aku juga setuju.”</p>
199
<h2>7. Contoh Naskah Drama tentang Kenaikan Kelas</h2>
199
<h2>7. Contoh Naskah Drama tentang Kenaikan Kelas</h2>
200
<p><strong>Naik Kelas</strong></p>
200
<p><strong>Naik Kelas</strong></p>
201
<p>Ardi: “Aku tahu kamu adalah juara kelas. Tetapi dari tadi aku perhatikan wajahmu tampak bimbang, seperti angin ribut. Coba lihat mereka! Bersorak-sorak gembira! Mereka telah berhasil merebut kemenangan dalam kenaikan kelas ini meskipun tidak menjadi juara seperti kau!”</p>
201
<p>Ardi: “Aku tahu kamu adalah juara kelas. Tetapi dari tadi aku perhatikan wajahmu tampak bimbang, seperti angin ribut. Coba lihat mereka! Bersorak-sorak gembira! Mereka telah berhasil merebut kemenangan dalam kenaikan kelas ini meskipun tidak menjadi juara seperti kau!”</p>
202
<p>Citra: “Itulah bedanya!”</p>
202
<p>Citra: “Itulah bedanya!”</p>
203
<p>Ardi: “Tentunya ada yang sedang kamu pikirkan.”</p>
203
<p>Ardi: “Tentunya ada yang sedang kamu pikirkan.”</p>
204
<p>Citra: “Tentu saja! Namanya juga orang hidup!”</p>
204
<p>Citra: “Tentu saja! Namanya juga orang hidup!”</p>
205
<p>Ardi: “Apakah kamu sedang memikirkan hasil juaramu itu?”</p>
205
<p>Ardi: “Apakah kamu sedang memikirkan hasil juaramu itu?”</p>
206
<p>Citra: “Tidak!”</p>
206
<p>Citra: “Tidak!”</p>
207
<p>Ardi: “Nilaimu yang bagus?”</p>
207
<p>Ardi: “Nilaimu yang bagus?”</p>
208
<p>Citra: “Tidak!”</p>
208
<p>Citra: “Tidak!”</p>
209
<p>Ardi: (Bersungut) “Semua tidak!” (Setelah diam sejenak) “Yang kamu pikirkan itu, apakah ada hubungannya dengan makhluk hidup?”</p>
209
<p>Ardi: (Bersungut) “Semua tidak!” (Setelah diam sejenak) “Yang kamu pikirkan itu, apakah ada hubungannya dengan makhluk hidup?”</p>
210
<p>Citra: “Ya dan tidak!”</p>
210
<p>Citra: “Ya dan tidak!”</p>
211
<p>Ardi: “Sejenis hewan?”</p>
211
<p>Ardi: “Sejenis hewan?”</p>
212
<p>Citra: “Tidak!”</p>
212
<p>Citra: “Tidak!”</p>
213
<p>Ardi: “Manusia? Tumbuhan? Cacing?”</p>
213
<p>Ardi: “Manusia? Tumbuhan? Cacing?”</p>
214
<p>Citra: “Tidak!”</p>
214
<p>Citra: “Tidak!”</p>
215
<p>Ardi: “Manusia tidak, hewan tidak, tumbuhan juga tidak! Eng… apa ada hubungannya dengan orang lain?”</p>
215
<p>Ardi: “Manusia tidak, hewan tidak, tumbuhan juga tidak! Eng… apa ada hubungannya dengan orang lain?”</p>
216
<p>Citra: “Ya!”</p>
216
<p>Citra: “Ya!”</p>
217
<p>Ardi: (Kecewa) “Ah, kalau saja aku tahu apa yang ada di dalam kepalamu, aku tentu tidak akan main ragam pesona seperti ini! Tak tahulah apa yang hendak aku lakukan dengan proyek termenungmu itu! Semula…sebagai seorang kawan, aku ingin membantu.Siapa tahu kepalaku yang dungu ini bisa memberikan pertolongan. Atau paling tidak, semacam perhatian yang khusus terhadap masalah yang khusus pula.”</p>
217
<p>Ardi: (Kecewa) “Ah, kalau saja aku tahu apa yang ada di dalam kepalamu, aku tentu tidak akan main ragam pesona seperti ini! Tak tahulah apa yang hendak aku lakukan dengan proyek termenungmu itu! Semula…sebagai seorang kawan, aku ingin membantu.Siapa tahu kepalaku yang dungu ini bisa memberikan pertolongan. Atau paling tidak, semacam perhatian yang khusus terhadap masalah yang khusus pula.”</p>
218
<p>Citra: “Nah! Mendekati hal itu, Ar!”</p>
218
<p>Citra: “Nah! Mendekati hal itu, Ar!”</p>
219
<p>Ardi: “O, soal yang khusus-khususan itu, toh?”</p>
219
<p>Ardi: “O, soal yang khusus-khususan itu, toh?”</p>
220
<p>Citra: “Ya. Bahkan sangat khusus dan sangat pribadi!”</p>
220
<p>Citra: “Ya. Bahkan sangat khusus dan sangat pribadi!”</p>
221
<p>Ardi: “Apa itu?”</p>
221
<p>Ardi: “Apa itu?”</p>
222
<p>Citra: “Aku kagum dan tidak mengerti terhadap dirimu, Ardi!”</p>
222
<p>Citra: “Aku kagum dan tidak mengerti terhadap dirimu, Ardi!”</p>
223
<p>Ardi: “Terhadap aku yang bodoh dan tidak naik kelas ini?”</p>
223
<p>Ardi: “Terhadap aku yang bodoh dan tidak naik kelas ini?”</p>
224
<p>Citra: “Ya. Kamu tidak naik kelas, tetapi begitu besar perhatianmu padaku. Kamu tidak naik kelas, tetapi tampak tidak merasa kecewa, bahkan tenang-tenang saja. Itulah yang membuat aku bingung!”</p>
224
<p>Citra: “Ya. Kamu tidak naik kelas, tetapi begitu besar perhatianmu padaku. Kamu tidak naik kelas, tetapi tampak tidak merasa kecewa, bahkan tenang-tenang saja. Itulah yang membuat aku bingung!”</p>
225
<h2>8. Contoh Naskah Drama tentang Keluarga</h2>
225
<h2>8. Contoh Naskah Drama tentang Keluarga</h2>
226
<p><strong>Drama Tengah Malam</strong></p>
226
<p><strong>Drama Tengah Malam</strong></p>
227
<p>(Malam sudah larut. Ibu duduk termenung. Ratih keluar dari pintu samping kanan).</p>
227
<p>(Malam sudah larut. Ibu duduk termenung. Ratih keluar dari pintu samping kanan).</p>
228
<p>Ratih: “Maaf, Bu. Mungkin pertanyaan Anwar tadi siang telah membuat hati Ibu resah. Hatiku pun turut resah seperti hati Ibu.Barangkali malam ini, semua penduduk desa ini menjadi resah seperti kita.”</p>
228
<p>Ratih: “Maaf, Bu. Mungkin pertanyaan Anwar tadi siang telah membuat hati Ibu resah. Hatiku pun turut resah seperti hati Ibu.Barangkali malam ini, semua penduduk desa ini menjadi resah seperti kita.”</p>
229
<p>Ibu: “Tidurlah, Ratih!”</p>
229
<p>Ibu: “Tidurlah, Ratih!”</p>
230
<p>Ratih: “Adilkah jika seseorang menyuruh orang lain tidur, sementara dia sendiri tetap terjaga? Ibu tidak boleh memaksakan diri untuk terus-terusan memikirkan kata-kata Anwar. Dia masih kekanak-kanakan.Kata-katanya seperti angin yang berembus, lalu hilang begitu saja.”</p>
230
<p>Ratih: “Adilkah jika seseorang menyuruh orang lain tidur, sementara dia sendiri tetap terjaga? Ibu tidak boleh memaksakan diri untuk terus-terusan memikirkan kata-kata Anwar. Dia masih kekanak-kanakan.Kata-katanya seperti angin yang berembus, lalu hilang begitu saja.”</p>
231
<p>Ibu: “Apa yang diucapkan adikmu Anwar itu benar, Ratih. Pertanyaannya wajar. Dia bertanya tepat pada waktunya, yaitu pada saat para romusha pulang ke desa masing-masing dan ayah kalian seharusnya berada bersama mereka.”</p>
231
<p>Ibu: “Apa yang diucapkan adikmu Anwar itu benar, Ratih. Pertanyaannya wajar. Dia bertanya tepat pada waktunya, yaitu pada saat para romusha pulang ke desa masing-masing dan ayah kalian seharusnya berada bersama mereka.”</p>
232
<p>Ratih: “Ayah tidak mungkin berada di antara para romusha itu, Bu! Beberapa jam yang lalu kapal terakhir sudah berlabuh. Pak Hasta tetangga kita sudah kembali. Telah kudengar sorak-sorai anak-anak dan istrinya. Tetapi ayah?” (Diam sejenak) “Mungkin kabar yang dibawa angin itu benar. Dengan demikian akan bertambahlah kekecewaan keluarga kita.”</p>
232
<p>Ratih: “Ayah tidak mungkin berada di antara para romusha itu, Bu! Beberapa jam yang lalu kapal terakhir sudah berlabuh. Pak Hasta tetangga kita sudah kembali. Telah kudengar sorak-sorai anak-anak dan istrinya. Tetapi ayah?” (Diam sejenak) “Mungkin kabar yang dibawa angin itu benar. Dengan demikian akan bertambahlah kekecewaan keluarga kita.”</p>
233
<p>Ibu: “Lebih kecewa lagi hati adikmu, Anwar. Dia tidak tahu sama sekali ke mana ayahnya pergi. Dia tidak tahu apa itu kerja paksa. Dia hanya tahu kalau ayahnya pergi, kemudian kembali dengan membawa setumpuk mainan di tangannya.”</p>
233
<p>Ibu: “Lebih kecewa lagi hati adikmu, Anwar. Dia tidak tahu sama sekali ke mana ayahnya pergi. Dia tidak tahu apa itu kerja paksa. Dia hanya tahu kalau ayahnya pergi, kemudian kembali dengan membawa setumpuk mainan di tangannya.”</p>
234
<p>(Terdengar jam berdentang 12 kali)</p>
234
<p>(Terdengar jam berdentang 12 kali)</p>
235
<p>Ratih: “Tengah malam, Bu. Kapal terakhir sudah meninggalkan pelabuhan setelah menurunkan para romusha. Artinya kapal itu sudah tiga jam beristirahat sebelum berlayar kembali. Mana ayah kita? Kalau dia terkubur di pelabuhan, apakah ada koran yang membuat berita tentang kematiannya? Atau mati di tengah laut dan jasadnya diumpankan kepada ikan hiu?”</p>
235
<p>Ratih: “Tengah malam, Bu. Kapal terakhir sudah meninggalkan pelabuhan setelah menurunkan para romusha. Artinya kapal itu sudah tiga jam beristirahat sebelum berlayar kembali. Mana ayah kita? Kalau dia terkubur di pelabuhan, apakah ada koran yang membuat berita tentang kematiannya? Atau mati di tengah laut dan jasadnya diumpankan kepada ikan hiu?”</p>
236
<p>Ibu: “Jepang adalah Jepang, Ratih. Saudara Tua dapat bertindak sewenang-wenang terhadap saudara mudanya yang terlantar. Kecil harapannya untuk menemukan ayahmu. Berita yang ibu terima enam bulan yang lalu memberi keyakinan bahwa ayahmu meninggal disengat ular berbisa. Banyak orang bercerita tentang perlakuan Jepang terhadap romusha. Dan ayahmu pasti diperlakukan sama seperti kepada mereka. Nasib orang bodoh selalu tidak menguntungkan.”</p>
236
<p>Ibu: “Jepang adalah Jepang, Ratih. Saudara Tua dapat bertindak sewenang-wenang terhadap saudara mudanya yang terlantar. Kecil harapannya untuk menemukan ayahmu. Berita yang ibu terima enam bulan yang lalu memberi keyakinan bahwa ayahmu meninggal disengat ular berbisa. Banyak orang bercerita tentang perlakuan Jepang terhadap romusha. Dan ayahmu pasti diperlakukan sama seperti kepada mereka. Nasib orang bodoh selalu tidak menguntungkan.”</p>
237
<p>Ratih: “Jadi Ibu berkeyakinan kalau ayah telah meninggal dunia?”</p>
237
<p>Ratih: “Jadi Ibu berkeyakinan kalau ayah telah meninggal dunia?”</p>
238
<p>Ibu: “Ibu tidak mengatakan demikian, tapi akh…?”</p>
238
<p>Ibu: “Ibu tidak mengatakan demikian, tapi akh…?”</p>
239
<p>(Jam berdentang satu kali)</p>
239
<p>(Jam berdentang satu kali)</p>
240
<p>Ratih: “Malam telah mulai berlalu. Selamat pagi, dunia! Kalau ayah kami tidak kembali… terkutuklah penjajah itu!”</p>
240
<p>Ratih: “Malam telah mulai berlalu. Selamat pagi, dunia! Kalau ayah kami tidak kembali… terkutuklah penjajah itu!”</p>
241
<p>(Terdengar pintu diketuk. Seorang lelaki muncul membawa sebungkus pakaian)</p>
241
<p>(Terdengar pintu diketuk. Seorang lelaki muncul membawa sebungkus pakaian)</p>
242
<p>Ibu: “Pak Hasta!”</p>
242
<p>Ibu: “Pak Hasta!”</p>
243
<p>Hasta: “Inilah. Harap kalian terima dengan lapang dada.”</p>
243
<p>Hasta: “Inilah. Harap kalian terima dengan lapang dada.”</p>
244
<p>Ratih: “Mana ayahku, Pak?”</p>
244
<p>Ratih: “Mana ayahku, Pak?”</p>
245
<p>Hasta: “Hanya Tuhan yang tahu.”</p>
245
<p>Hasta: “Hanya Tuhan yang tahu.”</p>
246
<p>(Tangis meledak, ke babak berikutnya)</p>
246
<p>(Tangis meledak, ke babak berikutnya)</p>
247
<p>Baca Juga:<a>Cara Menganalisis Unsur Intrinsik Cerpen</a></p>
247
<p>Baca Juga:<a>Cara Menganalisis Unsur Intrinsik Cerpen</a></p>
248
<h2>9. Contoh Naskah Drama tentang Covid-19</h2>
248
<h2>9. Contoh Naskah Drama tentang Covid-19</h2>
249
<p>Sore itu, ada dua orang remaja putri yang ingin pergi ke sebuah minimarket untuk membeli camilan namanya Sarah dan Siti.</p>
249
<p>Sore itu, ada dua orang remaja putri yang ingin pergi ke sebuah minimarket untuk membeli camilan namanya Sarah dan Siti.</p>
250
<p>Siti: “Sar aku lapar! yuk kita otw minimarket terdekat.”</p>
250
<p>Siti: “Sar aku lapar! yuk kita otw minimarket terdekat.”</p>
251
<p>Sarah: “Pas Sekali aku juga lapar yuk beli camilan.”</p>
251
<p>Sarah: “Pas Sekali aku juga lapar yuk beli camilan.”</p>
252
<p>Setelah perbincangan tadi mereka memakai motor dan helm tapi tidak pakai masker.</p>
252
<p>Setelah perbincangan tadi mereka memakai motor dan helm tapi tidak pakai masker.</p>
253
<p>Siti: “Ayok sar kamu yang bawa motornya aku yang bonceng ya.”</p>
253
<p>Siti: “Ayok sar kamu yang bawa motornya aku yang bonceng ya.”</p>
254
<p>Sarah: “Ok.”</p>
254
<p>Sarah: “Ok.”</p>
255
<p>(Saat tiba di depan indomaret mereka berdua kaget karena ada polisi sedang berpatroli masker karena sedang dalam kondisi PPKM Covid 19, lalu mereka kaget bukan kepalang karena mereka berdua gak pakai masker).</p>
255
<p>(Saat tiba di depan indomaret mereka berdua kaget karena ada polisi sedang berpatroli masker karena sedang dalam kondisi PPKM Covid 19, lalu mereka kaget bukan kepalang karena mereka berdua gak pakai masker).</p>
256
<p>Sarah: “Sit gimana ini ada polisi aku lupa gak bawa masker.”</p>
256
<p>Sarah: “Sit gimana ini ada polisi aku lupa gak bawa masker.”</p>
257
<p>Siti: “Aduh aku juga lupa lagi gak bawa masker.”</p>
257
<p>Siti: “Aduh aku juga lupa lagi gak bawa masker.”</p>
258
<p>(Selanjutnya polisi datang dan menanyai mereka lalu diberi hukuman untuk menghafalkan pancasila).</p>
258
<p>(Selanjutnya polisi datang dan menanyai mereka lalu diberi hukuman untuk menghafalkan pancasila).</p>
259
<p>Polisi: “Selamat sore dik, kok gak pakai masker?”</p>
259
<p>Polisi: “Selamat sore dik, kok gak pakai masker?”</p>
260
<p>Sarah: “Anu pak lupa tadi saya.”</p>
260
<p>Sarah: “Anu pak lupa tadi saya.”</p>
261
<p>Siti: “Saya juga lupa pak.”</p>
261
<p>Siti: “Saya juga lupa pak.”</p>
262
<p>Polisi: “Begini ya dik. masker itu untuk melindungi diri sendiri dan orang lain dari paparan virus Covid 19 dek. lain kali jangan lupa ya. sekarang karena kalian berdua gak bawa masker kalian harus melafalkan pancasila.”</p>
262
<p>Polisi: “Begini ya dik. masker itu untuk melindungi diri sendiri dan orang lain dari paparan virus Covid 19 dek. lain kali jangan lupa ya. sekarang karena kalian berdua gak bawa masker kalian harus melafalkan pancasila.”</p>
263
<p>Sarah: “Baik pak kami bersalah tidak akan lupa bawa masker lagi.”</p>
263
<p>Sarah: “Baik pak kami bersalah tidak akan lupa bawa masker lagi.”</p>
264
<p>Lalu, mereka berdua melafalkan pancasila.</p>
264
<p>Lalu, mereka berdua melafalkan pancasila.</p>
265
<h2>10. Contoh Naskah Drama tentang Kejujuran</h2>
265
<h2>10. Contoh Naskah Drama tentang Kejujuran</h2>
266
<p>Dalam suasana belajar mengajar di dalam kelas dan sedang dilakukan ulangan mendadak serta mengumpulkan tugas.</p>
266
<p>Dalam suasana belajar mengajar di dalam kelas dan sedang dilakukan ulangan mendadak serta mengumpulkan tugas.</p>
267
<p>Guru: “Anak - anak, silakan dikumpulkan tugas karya tulis minggu kemarin.”</p>
267
<p>Guru: “Anak - anak, silakan dikumpulkan tugas karya tulis minggu kemarin.”</p>
268
<p>Kemudian satu persatu siswa naik mengumpulkan tugas karya tulis masing-masing.</p>
268
<p>Kemudian satu persatu siswa naik mengumpulkan tugas karya tulis masing-masing.</p>
269
<p>Guru: “Karena ini merupakan tugas perorangan, maka penelitian akan dilakukan berdasarkan isi dari karya tulis kalian. Oke, masukkan buku kalian semua. Bapak akan mengadakan ulangan.”</p>
269
<p>Guru: “Karena ini merupakan tugas perorangan, maka penelitian akan dilakukan berdasarkan isi dari karya tulis kalian. Oke, masukkan buku kalian semua. Bapak akan mengadakan ulangan.”</p>
270
<p>Reni: “Hah, ulangan apa lagi pak? baru saja 2 hari yang lalu diadakan ulangan.”</p>
270
<p>Reni: “Hah, ulangan apa lagi pak? baru saja 2 hari yang lalu diadakan ulangan.”</p>
271
<p>Guru: “Rara, tolong dibagikan kertas folio ini ke semua siswa.”</p>
271
<p>Guru: “Rara, tolong dibagikan kertas folio ini ke semua siswa.”</p>
272
<p>Rara: “Baik pak.”</p>
272
<p>Rara: “Baik pak.”</p>
273
<p>(Suasana ruang kelas berubah menjadi gaduh karena setiap siswa mengeluh tentang diadakannya ulangan mendadak ini)</p>
273
<p>(Suasana ruang kelas berubah menjadi gaduh karena setiap siswa mengeluh tentang diadakannya ulangan mendadak ini)</p>
274
<p>Guru: “Pada ulangan kali ini, bapak ingin kalian menulis ulang pokok-pokok dan kesimpulan dari karya tulis yang kalian buat.”</p>
274
<p>Guru: “Pada ulangan kali ini, bapak ingin kalian menulis ulang pokok-pokok dan kesimpulan dari karya tulis yang kalian buat.”</p>
275
<p>Kemudian siswa hening dan sibuk mengerjakan ulangan. Sedangkan pak guru sibuk memeriksa tugas karya tulis yang tadi dikumpulkan. pak guru menemukan keanehan pada tugas karya tulis milik Rara dimana isinya sama persis dengan karya tulis milik Rina. Setelah 20 menit berlalu, kemudian kertas ulangan dikumpulkan.</p>
275
<p>Kemudian siswa hening dan sibuk mengerjakan ulangan. Sedangkan pak guru sibuk memeriksa tugas karya tulis yang tadi dikumpulkan. pak guru menemukan keanehan pada tugas karya tulis milik Rara dimana isinya sama persis dengan karya tulis milik Rina. Setelah 20 menit berlalu, kemudian kertas ulangan dikumpulkan.</p>
276
<p>Guru: “Baiklah yang lain bisa istirahat. Tolong Rara dan Rina tetap disini, bapak mau bicara.”</p>
276
<p>Guru: “Baiklah yang lain bisa istirahat. Tolong Rara dan Rina tetap disini, bapak mau bicara.”</p>
277
<p>(Semua siswa keluar ruang kelas kecuali Rara dan Rina)</p>
277
<p>(Semua siswa keluar ruang kelas kecuali Rara dan Rina)</p>
278
<p>Guru: “Bapak minta kalian berdua jujur kepada bapak. Kenapa tugas kalian bisa sama persis, bahkan titik dan komanya juga.”</p>
278
<p>Guru: “Bapak minta kalian berdua jujur kepada bapak. Kenapa tugas kalian bisa sama persis, bahkan titik dan komanya juga.”</p>
279
<p>Rara: “Saya mengerjakan karya tulis itu sendiri pak.”</p>
279
<p>Rara: “Saya mengerjakan karya tulis itu sendiri pak.”</p>
280
<p>Rina: “Saya juga mengerjakan karya tulis saya sendiri.”</p>
280
<p>Rina: “Saya juga mengerjakan karya tulis saya sendiri.”</p>
281
<p>Guru: “Lalu, Mengapa isi dari jawaban ulangan kalian tadi tidak sama dengan isi karya tulis kalian?”</p>
281
<p>Guru: “Lalu, Mengapa isi dari jawaban ulangan kalian tadi tidak sama dengan isi karya tulis kalian?”</p>
282
<p>(Lama Rara dan Rina terdiam, takut-takut untuk memulai berbicara)</p>
282
<p>(Lama Rara dan Rina terdiam, takut-takut untuk memulai berbicara)</p>
283
<p>Rina: “Maaf pak. Kalau saya jujur, apakah kalau saya berkata jujur maka bapak akan memaafkan saya?”</p>
283
<p>Rina: “Maaf pak. Kalau saya jujur, apakah kalau saya berkata jujur maka bapak akan memaafkan saya?”</p>
284
<p>Guru: “Tentu.”</p>
284
<p>Guru: “Tentu.”</p>
285
<p>Rina: “Saya mendapatkan materi untuk tugas karya tulis dari internet pak. Saya langsung copy paste dan tidak saya baca lagi. Itulah mengapa ulangan tadi tidak sama dengan isi karya tulis saya.”</p>
285
<p>Rina: “Saya mendapatkan materi untuk tugas karya tulis dari internet pak. Saya langsung copy paste dan tidak saya baca lagi. Itulah mengapa ulangan tadi tidak sama dengan isi karya tulis saya.”</p>
286
<p>Guru: “Baiklah, alasan bisa bapak terima. terus kamu Rara?”</p>
286
<p>Guru: “Baiklah, alasan bisa bapak terima. terus kamu Rara?”</p>
287
<p>Rara: “Saya minta tolong Reni mengerjakan tugas karya tulis itu pak. Dan kelihatannya dia mencari sumber dari internet.”</p>
287
<p>Rara: “Saya minta tolong Reni mengerjakan tugas karya tulis itu pak. Dan kelihatannya dia mencari sumber dari internet.”</p>
288
<p>Guru: “Kalau begitu tolong panggilkan Reni.”</p>
288
<p>Guru: “Kalau begitu tolong panggilkan Reni.”</p>
289
<p>Rara: “Baik pak.” (Rara pun keluar memanggil Reni)</p>
289
<p>Rara: “Baik pak.” (Rara pun keluar memanggil Reni)</p>
290
<p>Reni: “Bapak memanggil saya?”</p>
290
<p>Reni: “Bapak memanggil saya?”</p>
291
<p>Guru: “Iya, bapak ingin bertanya, apa benar murid 1 minta tolong pada kamu untuk mengerjakan tugasnya?”</p>
291
<p>Guru: “Iya, bapak ingin bertanya, apa benar murid 1 minta tolong pada kamu untuk mengerjakan tugasnya?”</p>
292
<p>Reni: “Iya pak, maafkan saya pak. Rara bilang dia tidak mengerti tugas dari bapak terlebih dia bilang dia tidak bisa mencari tugas tersebut dari internet karena dia tidak punya uang untuk ke warnet</p>
292
<p>Reni: “Iya pak, maafkan saya pak. Rara bilang dia tidak mengerti tugas dari bapak terlebih dia bilang dia tidak bisa mencari tugas tersebut dari internet karena dia tidak punya uang untuk ke warnet</p>
293
<p>Guru: “Baiklah kalau begitu. Tugas karya tulis dan ulangan kalian bapak kembalikan. kalian harus membuat karya tulis lagi dan dikumpulkan dalam 3 hari.”</p>
293
<p>Guru: “Baiklah kalau begitu. Tugas karya tulis dan ulangan kalian bapak kembalikan. kalian harus membuat karya tulis lagi dan dikumpulkan dalam 3 hari.”</p>
294
<p>Rina: “Baik pak.”</p>
294
<p>Rina: “Baik pak.”</p>
295
<p>Rara: “Baik pak, akan saya kerjakan sendiri tugasnya.”</p>
295
<p>Rara: “Baik pak, akan saya kerjakan sendiri tugasnya.”</p>
296
<h2>11. Contoh Naskah Drama tentang Kisah Cinta</h2>
296
<h2>11. Contoh Naskah Drama tentang Kisah Cinta</h2>
297
<p>Semenjak sekolah dasar sampai tingkat atas, Amel dan Wahyu selalu bersama. Karena rumah mereka berdekatan dan keluarga keduanya sudah mengenal satu Sama lain. Sehingga tidak salah jika Amel dan Wahyu selalu berjalan bersama.</p>
297
<p>Semenjak sekolah dasar sampai tingkat atas, Amel dan Wahyu selalu bersama. Karena rumah mereka berdekatan dan keluarga keduanya sudah mengenal satu Sama lain. Sehingga tidak salah jika Amel dan Wahyu selalu berjalan bersama.</p>
298
<p>Rina: “Mel, kenapa kamu tidak jadian saja Sama Wahyu? Kurang apa coba Wahyu? Ganteng, keren, pintar.”</p>
298
<p>Rina: “Mel, kenapa kamu tidak jadian saja Sama Wahyu? Kurang apa coba Wahyu? Ganteng, keren, pintar.”</p>
299
<p>Amel: “Bukannya aku tidak mau jadian Rin, tapi APA benar kalau cewek duluan yang ngungkapin perasaannya?”</p>
299
<p>Amel: “Bukannya aku tidak mau jadian Rin, tapi APA benar kalau cewek duluan yang ngungkapin perasaannya?”</p>
300
<p>Rina: “Iya juga sih. Wahyu terlihat polos begitu kalau tidak kamu dulu bagaimana kalian bisa berpacaran.”</p>
300
<p>Rina: “Iya juga sih. Wahyu terlihat polos begitu kalau tidak kamu dulu bagaimana kalian bisa berpacaran.”</p>
301
<p>Amel: “Aku malu Rin.”</p>
301
<p>Amel: “Aku malu Rin.”</p>
302
<p>Rina: “Kamu juga lugu dan polos Mel.” (Batin Rina)</p>
302
<p>Rina: “Kamu juga lugu dan polos Mel.” (Batin Rina)</p>
303
<p>Wahyu: “Mel, kamu tidak makan siang? Ayo ke kantin bareng?”</p>
303
<p>Wahyu: “Mel, kamu tidak makan siang? Ayo ke kantin bareng?”</p>
304
<p>Amel: “Aku … aku …”</p>
304
<p>Amel: “Aku … aku …”</p>
305
<p>Rina: “Kita belum makan Yu, kamu ajak Amel aku ada urusan.”</p>
305
<p>Rina: “Kita belum makan Yu, kamu ajak Amel aku ada urusan.”</p>
306
<p>Rina tiba-tiba pergi untuk memberi kesempatan Amel dan Wahyu makan siang bersama di kantin sekolah. Namun di tengah jalan Doni anak orang kaya kakak kelas Amel memanggilnya. Semenjak masuk sekolah, Amel tertarik atas penampilan dan gaya Doni yang keren dan cool.</p>
306
<p>Rina tiba-tiba pergi untuk memberi kesempatan Amel dan Wahyu makan siang bersama di kantin sekolah. Namun di tengah jalan Doni anak orang kaya kakak kelas Amel memanggilnya. Semenjak masuk sekolah, Amel tertarik atas penampilan dan gaya Doni yang keren dan cool.</p>
307
<p>Doni: “Amel mau ke mana?”</p>
307
<p>Doni: “Amel mau ke mana?”</p>
308
<p>Amel: “Aku mau ke kantin kak.”</p>
308
<p>Amel: “Aku mau ke kantin kak.”</p>
309
<p>Doni: “Aku ada kesulitan untuk tugas bahasa Indonesia.”</p>
309
<p>Doni: “Aku ada kesulitan untuk tugas bahasa Indonesia.”</p>
310
<p>Amel: “Kakak Kan sudah kelas 3, sedangkan aku?”</p>
310
<p>Amel: “Kakak Kan sudah kelas 3, sedangkan aku?”</p>
311
<p>Doni: “Kamu sudah terkenal Pinter mel, tolong ajarin aku ya? Please!”</p>
311
<p>Doni: “Kamu sudah terkenal Pinter mel, tolong ajarin aku ya? Please!”</p>
312
<p>(Amel terdiam dengan memandang Wahyu yang sudah kelihatan rasa kecewanya.)</p>
312
<p>(Amel terdiam dengan memandang Wahyu yang sudah kelihatan rasa kecewanya.)</p>
313
<p>Amel: “Nanti sepulang sekolah saja ya kak. Amel mau makan siang dulu.”</p>
313
<p>Amel: “Nanti sepulang sekolah saja ya kak. Amel mau makan siang dulu.”</p>
314
<p>Doni: “Aku tunggu di gerbang sekolah.”</p>
314
<p>Doni: “Aku tunggu di gerbang sekolah.”</p>
315
<p>Setiba di kantin, Wahyu banyak menasehati Amel untuk menjauhi Doni yang terkenal sebagai cowok playboy. Namun hati Amel sudah kepincut untuk lebih dekat dengan Doni.</p>
315
<p>Setiba di kantin, Wahyu banyak menasehati Amel untuk menjauhi Doni yang terkenal sebagai cowok playboy. Namun hati Amel sudah kepincut untuk lebih dekat dengan Doni.</p>
316
<p>Amel: “Tidak usah khawatirkan aku Wahyu. Aku bisa menjaga diri.”</p>
316
<p>Amel: “Tidak usah khawatirkan aku Wahyu. Aku bisa menjaga diri.”</p>
317
<p>Wahyu: “Aku takut kamu kenapa-kenapa Mel.”</p>
317
<p>Wahyu: “Aku takut kamu kenapa-kenapa Mel.”</p>
318
<p>Sepulang sekolah, Doni sudah menunggu dengan motor gedenya di gerbang sekolah.</p>
318
<p>Sepulang sekolah, Doni sudah menunggu dengan motor gedenya di gerbang sekolah.</p>
319
<p>Wahyu: “Mel, hati-hati Sama Doni.”</p>
319
<p>Wahyu: “Mel, hati-hati Sama Doni.”</p>
320
<p>Amel: “Iya aku tahu Yu.”</p>
320
<p>Amel: “Iya aku tahu Yu.”</p>
321
<p>Doni: “Ayo Mel, kita belajar bersama.”</p>
321
<p>Doni: “Ayo Mel, kita belajar bersama.”</p>
322
<p>Amel hanya tersipu dan segera naik di motor Doni. Sedangkan Wahyu hanya bisa memandang dari jauh.</p>
322
<p>Amel hanya tersipu dan segera naik di motor Doni. Sedangkan Wahyu hanya bisa memandang dari jauh.</p>
323
<p>Doni: “Mel, aku buatkan puisi untuk tugas Bahasa Indonesia hari ini?”</p>
323
<p>Doni: “Mel, aku buatkan puisi untuk tugas Bahasa Indonesia hari ini?”</p>
324
<p>Amel: “Kakak tidak bisa buat puisi?”</p>
324
<p>Amel: “Kakak tidak bisa buat puisi?”</p>
325
<p>Doni: “Tidak. Aku saja tidak paham.”</p>
325
<p>Doni: “Tidak. Aku saja tidak paham.”</p>
326
<p>Amel: “Puisi itu keindahan kata-kata yang disusun dengan bahasa yang indah dan bermakna.”</p>
326
<p>Amel: “Puisi itu keindahan kata-kata yang disusun dengan bahasa yang indah dan bermakna.”</p>
327
<p>Sampai menjelang sore Amel belajar bersama dengan Doni. Hal tersebut sudah berulang-ulang sampai beberapa kali. Mereka berdua diam-diam menjalin cinta di belakang Wahyu. Setiap sepulang sekolah Wahyu tidak pernah bertemu Amel lagi.</p>
327
<p>Sampai menjelang sore Amel belajar bersama dengan Doni. Hal tersebut sudah berulang-ulang sampai beberapa kali. Mereka berdua diam-diam menjalin cinta di belakang Wahyu. Setiap sepulang sekolah Wahyu tidak pernah bertemu Amel lagi.</p>
328
<p>Baca Juga:<a>Memahami Jenis-Jenis Buku Non Fiksi</a></p>
328
<p>Baca Juga:<a>Memahami Jenis-Jenis Buku Non Fiksi</a></p>
329
<h2>12. Contoh Naskah Drama tentang Kebersamaan</h2>
329
<h2>12. Contoh Naskah Drama tentang Kebersamaan</h2>
330
<p>Suatu hari lima sekawan sedang bermain bola di lapangan desa tempat mereka tinggal. Mereka memang sering bermain bola sore hari di lapangan tersebut. Saat ini, mereka sedang beristirahat di pinggir lapangan.</p>
330
<p>Suatu hari lima sekawan sedang bermain bola di lapangan desa tempat mereka tinggal. Mereka memang sering bermain bola sore hari di lapangan tersebut. Saat ini, mereka sedang beristirahat di pinggir lapangan.</p>
331
<p>Bayu: “Dod, kamu dibawakan bekal apa oleh ibumu?” (sambil membuka kotak bekalnya).</p>
331
<p>Bayu: “Dod, kamu dibawakan bekal apa oleh ibumu?” (sambil membuka kotak bekalnya).</p>
332
<p>Dodi: “Aku dibawakan bekal ayam goreng ini. Kalau kamu, Bay?”</p>
332
<p>Dodi: “Aku dibawakan bekal ayam goreng ini. Kalau kamu, Bay?”</p>
333
<p>Bayu: “Aku dibawain bekal udang besar sama bundaku. Soalnya kemarin ayahku menangkap udang bersama ayah Ehsan.”</p>
333
<p>Bayu: “Aku dibawain bekal udang besar sama bundaku. Soalnya kemarin ayahku menangkap udang bersama ayah Ehsan.”</p>
334
<p>Dodi: “Jadi, bekalmu juga juga pakai udang, San?”</p>
334
<p>Dodi: “Jadi, bekalmu juga juga pakai udang, San?”</p>
335
<p>Ehsan: “Iya, Dod. Aku sama dengan Bayu.” (tersenyum semringah).</p>
335
<p>Ehsan: “Iya, Dod. Aku sama dengan Bayu.” (tersenyum semringah).</p>
336
<p>Dodi: “Waaahhh enaknya… aku juga suka sekali udang. Kalau kamu, Ham?”</p>
336
<p>Dodi: “Waaahhh enaknya… aku juga suka sekali udang. Kalau kamu, Ham?”</p>
337
<p>Ilham: “Aku dibawakan sayur daun ubi dengan ikan sambal, Dod. Makanan kesukaanku.”</p>
337
<p>Ilham: “Aku dibawakan sayur daun ubi dengan ikan sambal, Dod. Makanan kesukaanku.”</p>
338
<p>Dodi: “Wahhh, itu juga tak kalah enaknya. Kalau kamu, Ton?”</p>
338
<p>Dodi: “Wahhh, itu juga tak kalah enaknya. Kalau kamu, Ton?”</p>
339
<p>Anton: (tersenyum meringis) “Aku tidak membawa bekal. Ibuku pagi-pagi sekali sudah bekerja karena abangku akan masuk SMA. Oleh karena itu, ayah dan ibu harus giat mencari uang. Jadi, ibuku tak sempat memasakkan aku dan membawakanku bekal (sedih).”</p>
339
<p>Anton: (tersenyum meringis) “Aku tidak membawa bekal. Ibuku pagi-pagi sekali sudah bekerja karena abangku akan masuk SMA. Oleh karena itu, ayah dan ibu harus giat mencari uang. Jadi, ibuku tak sempat memasakkan aku dan membawakanku bekal (sedih).”</p>
340
<p>Dodi: “Ya sudah, Ton. Kamu masih bisa kok makan bersama kami.”</p>
340
<p>Dodi: “Ya sudah, Ton. Kamu masih bisa kok makan bersama kami.”</p>
341
<p>Anton: “Maksudnya?”</p>
341
<p>Anton: “Maksudnya?”</p>
342
<p>Ehsan: “Bagaimana kalo kita ramai-ramai makannya biar Anton juga bisa makan, makanan kita.”</p>
342
<p>Ehsan: “Bagaimana kalo kita ramai-ramai makannya biar Anton juga bisa makan, makanan kita.”</p>
343
<p>Ilham: “Bagaimana caranya?”</p>
343
<p>Ilham: “Bagaimana caranya?”</p>
344
<p>Ehsan: “Begini saja, bagaimana kalau kita memakan menggunakan daun pisang? Jadi, makanan kita nantinya dituang ke daun pisang itu. Biar kita semua bisa makan bareng-bareng.”</p>
344
<p>Ehsan: “Begini saja, bagaimana kalau kita memakan menggunakan daun pisang? Jadi, makanan kita nantinya dituang ke daun pisang itu. Biar kita semua bisa makan bareng-bareng.”</p>
345
<p>Dodi: “Ide bagus tuh. Ayo!”</p>
345
<p>Dodi: “Ide bagus tuh. Ayo!”</p>
346
<p>Ilham dan Bayu mengambil daun pisang yang tak jauh dari tempat mereka. Mereka semua menuangkan makanannya di daun pisang tersebut. Mereka makan dengan lahap.</p>
346
<p>Ilham dan Bayu mengambil daun pisang yang tak jauh dari tempat mereka. Mereka semua menuangkan makanannya di daun pisang tersebut. Mereka makan dengan lahap.</p>
347
<p>Anton: “Terima kasih ya teman-teman. Cuma kalian teman yang mengerti keadaanku.”</p>
347
<p>Anton: “Terima kasih ya teman-teman. Cuma kalian teman yang mengerti keadaanku.”</p>
348
<p>Bayu: “Siap. Santai aja, Ton (tersenyum).”</p>
348
<p>Bayu: “Siap. Santai aja, Ton (tersenyum).”</p>
349
<h2>13. Contoh Naskah Drama tentang Masa Depan</h2>
349
<h2>13. Contoh Naskah Drama tentang Masa Depan</h2>
350
<p>Ilham, Mamad, Zahra, Rira, Alan, dan Intan adalah 6 orang yang sudah bersahabat sejak sekian lama.</p>
350
<p>Ilham, Mamad, Zahra, Rira, Alan, dan Intan adalah 6 orang yang sudah bersahabat sejak sekian lama.</p>
351
<p>Berbeda dengan keempat temannya, sikap dan kepribadian Rira dan Alan sangat kontras dengan pemikiran Ilham, Mamad, Zahra, dan Intan.</p>
351
<p>Berbeda dengan keempat temannya, sikap dan kepribadian Rira dan Alan sangat kontras dengan pemikiran Ilham, Mamad, Zahra, dan Intan.</p>
352
<p>Pada suatu hari ketika mereka sedang bertemu, Rira dan Alan mendapat teguran dari teman-temannya lantaran sikapnya masih saja seperti anak kecil.</p>
352
<p>Pada suatu hari ketika mereka sedang bertemu, Rira dan Alan mendapat teguran dari teman-temannya lantaran sikapnya masih saja seperti anak kecil.</p>
353
<p>Ilham: “Apa sih yang harus kita lakukan supaya keinginan kita itu nantinya bisa terealisasi dan tidak hanya sekedar mimpi saja? (sambil melirik ke arah Rira dan Alan).”</p>
353
<p>Ilham: “Apa sih yang harus kita lakukan supaya keinginan kita itu nantinya bisa terealisasi dan tidak hanya sekedar mimpi saja? (sambil melirik ke arah Rira dan Alan).”</p>
354
<p>Mamad: “Ya tentunya harus banyak sekali yang harus kamu lakukan! Sederhananya, misalkan dari sekarang, kamu harus mulai menata kehidupan dan kepribadian kamu lebih dewasa lagi!”</p>
354
<p>Mamad: “Ya tentunya harus banyak sekali yang harus kamu lakukan! Sederhananya, misalkan dari sekarang, kamu harus mulai menata kehidupan dan kepribadian kamu lebih dewasa lagi!”</p>
355
<p>Jawaban Mamad sejatinya ditunjukan kepada Riri dan Alan. Pasalnya, sebagai sahabat ia ingin membuat sahabatnya bersikap lebih baik lagi dan sama-sama belajar untuk memahami dan menghormati karakter masing-masing, agar pertemanan tetap terjalin.</p>
355
<p>Jawaban Mamad sejatinya ditunjukan kepada Riri dan Alan. Pasalnya, sebagai sahabat ia ingin membuat sahabatnya bersikap lebih baik lagi dan sama-sama belajar untuk memahami dan menghormati karakter masing-masing, agar pertemanan tetap terjalin.</p>
356
<p>Baca Juga:<a>Kumpulan Contoh Teks Eksplanasi berbagai Topik & Strukturnya</a></p>
356
<p>Baca Juga:<a>Kumpulan Contoh Teks Eksplanasi berbagai Topik & Strukturnya</a></p>
357
<h3>14. Contoh Naskah Drama Musikal</h3>
357
<h3>14. Contoh Naskah Drama Musikal</h3>
358
<p>Rana merupakan salah satu siswi sebuah SMA yang sangat berbakat dibidang seni, musik dan sastra. Karya-karyanya selalu mengisi mading sekolah dan dimuat di beberapa koran dan majalah. Hari ini Rana kedatangan teman-teman sekolah yang ingin melihat karya-karya lain Rana yang belum dipublikasikan.</p>
358
<p>Rana merupakan salah satu siswi sebuah SMA yang sangat berbakat dibidang seni, musik dan sastra. Karya-karyanya selalu mengisi mading sekolah dan dimuat di beberapa koran dan majalah. Hari ini Rana kedatangan teman-teman sekolah yang ingin melihat karya-karya lain Rana yang belum dipublikasikan.</p>
359
<p>*Di rumah Rana*</p>
359
<p>*Di rumah Rana*</p>
360
<p>Rana: “Silakan masuk teman-teman. Maaf rumah saya sempit.”</p>
360
<p>Rana: “Silakan masuk teman-teman. Maaf rumah saya sempit.”</p>
361
<p>Difka: “Maaf juga sebelumnya kita merepotkanmu, Rana.”</p>
361
<p>Difka: “Maaf juga sebelumnya kita merepotkanmu, Rana.”</p>
362
<p>Rana: “Tidak apa-apa teman-teman, justru saya senang kalian berkunjung ke rumahku dan tertarik melihat karyaku.”</p>
362
<p>Rana: “Tidak apa-apa teman-teman, justru saya senang kalian berkunjung ke rumahku dan tertarik melihat karyaku.”</p>
363
<p>Aina: “Kamu memang hebat Rana!Puisi yang kamu buat selalu menyentuh hati siapa saja yang membacanya”</p>
363
<p>Aina: “Kamu memang hebat Rana!Puisi yang kamu buat selalu menyentuh hati siapa saja yang membacanya”</p>
364
<p>Rana: “Bisa saja kamu Aina. Saya juga masih belajar. Karyaku masih tidak seberapa dengan karya para sastrawan lainnya.”</p>
364
<p>Rana: “Bisa saja kamu Aina. Saya juga masih belajar. Karyaku masih tidak seberapa dengan karya para sastrawan lainnya.”</p>
365
<p>Anya: “Kalau terus diasah, suatu saat kamu juga dapat menyaingi para sastrawan yang terkenal itu.”</p>
365
<p>Anya: “Kalau terus diasah, suatu saat kamu juga dapat menyaingi para sastrawan yang terkenal itu.”</p>
366
<p>Zahra: “Iya Rana. Kami juga mau melihat karya-karyamu yang belum dipublikasikan, boleh?”</p>
366
<p>Zahra: “Iya Rana. Kami juga mau melihat karya-karyamu yang belum dipublikasikan, boleh?”</p>
367
<p>Endita: “Sekalian juga kita ingin belajar kepadamu, supaya nilai pelajaran sastra kita naik.”</p>
367
<p>Endita: “Sekalian juga kita ingin belajar kepadamu, supaya nilai pelajaran sastra kita naik.”</p>
368
<p>Fina: “Aku juga ingin diajarkan membuat puisi yang bagus supaya nanti jika ada ujian sastra aku tidak kesulitan.”</p>
368
<p>Fina: “Aku juga ingin diajarkan membuat puisi yang bagus supaya nanti jika ada ujian sastra aku tidak kesulitan.”</p>
369
<p>Rana: “Boleh saja teman-teman. Ayo masuk ke kamarku!Disana banyak karya-karyaku yang telah kusimpan dan belum dipublikasikan.”</p>
369
<p>Rana: “Boleh saja teman-teman. Ayo masuk ke kamarku!Disana banyak karya-karyaku yang telah kusimpan dan belum dipublikasikan.”</p>
370
<p>Mereka semua kemudian masuk ke kamar Rana.</p>
370
<p>Mereka semua kemudian masuk ke kamar Rana.</p>
371
<p>Indah: “Wah, ternyata kamu juga sangat pandai melukis ya,Rana. Kenapa kamu tidak memasang lukisanmu juga di mading sekolah? Pasti banyak yang suka.”</p>
371
<p>Indah: “Wah, ternyata kamu juga sangat pandai melukis ya,Rana. Kenapa kamu tidak memasang lukisanmu juga di mading sekolah? Pasti banyak yang suka.”</p>
372
<p>Rana: “Sebenarnya itu lukisan terakhirku, ayahku tidak suka melihatku melukis dan meminta kepadaku untuk fokus sekolah dulu karena aku selalu menghabiskan waktu melukis berjam-jam dan lupa belajar.”</p>
372
<p>Rana: “Sebenarnya itu lukisan terakhirku, ayahku tidak suka melihatku melukis dan meminta kepadaku untuk fokus sekolah dulu karena aku selalu menghabiskan waktu melukis berjam-jam dan lupa belajar.”</p>
373
<p>Fina: “Lalu, bagaimana dengan karyamu yang lain seperti puisi dan karya sastra lainnya?”</p>
373
<p>Fina: “Lalu, bagaimana dengan karyamu yang lain seperti puisi dan karya sastra lainnya?”</p>
374
<p>Rana: “Kalau soal itu, ayahku tidak mengetahui karena kalau membuat puisi dan karya sastra lainnya, ayahku menganggap aku sedang belajar.”</p>
374
<p>Rana: “Kalau soal itu, ayahku tidak mengetahui karena kalau membuat puisi dan karya sastra lainnya, ayahku menganggap aku sedang belajar.”</p>
375
<p>Gita: “Lalu,bagaimana dengan ibumu?”</p>
375
<p>Gita: “Lalu,bagaimana dengan ibumu?”</p>
376
<p>Rana: “Kalau ibuku setuju saja serta membiarkanku mengembangkan bakat dan minatku.”</p>
376
<p>Rana: “Kalau ibuku setuju saja serta membiarkanku mengembangkan bakat dan minatku.”</p>
377
<p>Kartika: “Aku dengar kamu juga pintar menyanyi ya,Rana?”</p>
377
<p>Kartika: “Aku dengar kamu juga pintar menyanyi ya,Rana?”</p>
378
<p>Rana: “Tidak sepintar itu, hanya saja aku sering menulis lirik lagu dan menyanyikannya menggunakan gitar kesayanganku.”</p>
378
<p>Rana: “Tidak sepintar itu, hanya saja aku sering menulis lirik lagu dan menyanyikannya menggunakan gitar kesayanganku.”</p>
379
<p>Tiara: “Kamu memang hebat Rana!Selain pintar sastra juga pintar memainkan alat musik gitar.”</p>
379
<p>Tiara: “Kamu memang hebat Rana!Selain pintar sastra juga pintar memainkan alat musik gitar.”</p>
380
<p>Anya: “Coba nyanyikan salah satu lagu ciptaan mudong,Rana! Kami ingin mendengarkannya!”</p>
380
<p>Anya: “Coba nyanyikan salah satu lagu ciptaan mudong,Rana! Kami ingin mendengarkannya!”</p>
381
<p>Rana: “Saya tidak terlalu pandai menyanyi teman-teman. Saya hanya menciptakan lirik dan membuat arasemen musiknya.”</p>
381
<p>Rana: “Saya tidak terlalu pandai menyanyi teman-teman. Saya hanya menciptakan lirik dan membuat arasemen musiknya.”</p>
382
<p>Zahra: “Ayolah Rana, jangan malu-malu.”</p>
382
<p>Zahra: “Ayolah Rana, jangan malu-malu.”</p>
383
<p>Rana: “Baiklah.”</p>
383
<p>Rana: “Baiklah.”</p>
384
<p>Rana mulai memetik senar gitar dan menyanyikan sebuah lagu karyanya. Teman-teman yang lain hanya mendengarkan dan menikmati suara Rana yang beradu dengan suara petikan senar gitar. Setelah Rana mengakhiri lagunya, semua teman-temannya memberikan tepuk tangan yang meriah.</p>
384
<p>Rana mulai memetik senar gitar dan menyanyikan sebuah lagu karyanya. Teman-teman yang lain hanya mendengarkan dan menikmati suara Rana yang beradu dengan suara petikan senar gitar. Setelah Rana mengakhiri lagunya, semua teman-temannya memberikan tepuk tangan yang meriah.</p>
385
<h2>15. Contoh Naskah Drama tentang Drama Romantis</h2>
385
<h2>15. Contoh Naskah Drama tentang Drama Romantis</h2>
386
<p>Di taman sekolah ketika jam istirahat sekolah Sikah dan Kasih sedang duduk berjauhan.</p>
386
<p>Di taman sekolah ketika jam istirahat sekolah Sikah dan Kasih sedang duduk berjauhan.</p>
387
<p>Sikah: “Kasih, jangan terlalu lama duduk di kursi itu, pindah sini dekat Sikah aja…”</p>
387
<p>Sikah: “Kasih, jangan terlalu lama duduk di kursi itu, pindah sini dekat Sikah aja…”</p>
388
<p>Kasih: “loh, kenapa Kak?”</p>
388
<p>Kasih: “loh, kenapa Kak?”</p>
389
<p>Sikah: “takut dikerubutin semut, soalnya Kasih manis sih…”</p>
389
<p>Sikah: “takut dikerubutin semut, soalnya Kasih manis sih…”</p>
390
<p>Sikah: “Kasih itu seperti sendok…”</p>
390
<p>Sikah: “Kasih itu seperti sendok…”</p>
391
<p>Kasih: “Kenapa…?”</p>
391
<p>Kasih: “Kenapa…?”</p>
392
<p>Sikah: “Karena Kasih terus mengaduk-aduk perasaan Sikah..”</p>
392
<p>Sikah: “Karena Kasih terus mengaduk-aduk perasaan Sikah..”</p>
393
<p>Sikah: “Maaf ya Kasih, belakangan ini tangan Sikah agak kasar…”</p>
393
<p>Sikah: “Maaf ya Kasih, belakangan ini tangan Sikah agak kasar…”</p>
394
<p>Kasih: “Ahh, gpp kookk, emangnya kenapa?”</p>
394
<p>Kasih: “Ahh, gpp kookk, emangnya kenapa?”</p>
395
<p>Sikah: “Soalnya tiap pulang sekolah Sikah jadi kuli…”</p>
395
<p>Sikah: “Soalnya tiap pulang sekolah Sikah jadi kuli…”</p>
396
<p>Kasih: “Yang bener Kak, dimana…?”</p>
396
<p>Kasih: “Yang bener Kak, dimana…?”</p>
397
<p>Sikah: “Di hati kamu say, Sikah sedang membangun istana cinta kita berdua…”</p>
397
<p>Sikah: “Di hati kamu say, Sikah sedang membangun istana cinta kita berdua…”</p>
398
<p>Sikah: “Kenapa kita cuma bisa ngeliat pelangi setengah doang…?”</p>
398
<p>Sikah: “Kenapa kita cuma bisa ngeliat pelangi setengah doang…?”</p>
399
<p>Kasih: “Ga tau, emang kenapa Kak..?”</p>
399
<p>Kasih: “Ga tau, emang kenapa Kak..?”</p>
400
<p>Sikah: “Soalnya setengahnya lagi ada di mata Kasih…!”</p>
400
<p>Sikah: “Soalnya setengahnya lagi ada di mata Kasih…!”</p>
401
<p>Sikah: “Eh Sikah boleh pinjem flashdisknya Kasih…?”</p>
401
<p>Sikah: “Eh Sikah boleh pinjem flashdisknya Kasih…?”</p>
402
<p>Kasih: “Boleh, mau buat apa sih Kak…?”</p>
402
<p>Kasih: “Boleh, mau buat apa sih Kak…?”</p>
403
<p>Sikah: “Buat transfer hatiku ke hatimu…”</p>
403
<p>Sikah: “Buat transfer hatiku ke hatimu…”</p>
404
<p>Kemudian, bel masuk waktu istirahat sekolah sudah habis.</p>
404
<p>Kemudian, bel masuk waktu istirahat sekolah sudah habis.</p>
405
<p>Kasih: “Lho Kak.. mau kemana?</p>
405
<p>Kasih: “Lho Kak.. mau kemana?</p>
406
<p>Sikah: “udahan ya, bel udah bunyi masuk dulu”</p>
406
<p>Sikah: “udahan ya, bel udah bunyi masuk dulu”</p>
407
<p>Kasih: “Baik Kak, by…”</p>
407
<p>Kasih: “Baik Kak, by…”</p>
408
<p>Setelah bel pulang sekolah, Kasih dan Sikah makan burger dan kentang goreng mayonaise di Smakensa Burger di kantin sekolah.</p>
408
<p>Setelah bel pulang sekolah, Kasih dan Sikah makan burger dan kentang goreng mayonaise di Smakensa Burger di kantin sekolah.</p>
409
<p>Sikah: “Sih, dari tadi aku ngerasa lapar, makan dulu di kantin sekolah Yuk!”</p>
409
<p>Sikah: “Sih, dari tadi aku ngerasa lapar, makan dulu di kantin sekolah Yuk!”</p>
410
<p>Kasih: “Iya kak, Kasih juga lapar, ya udah yok mampir.”</p>
410
<p>Kasih: “Iya kak, Kasih juga lapar, ya udah yok mampir.”</p>
411
<h2>16. Contoh Naskah Drama 4 Orang tentang Kesombongan</h2>
411
<h2>16. Contoh Naskah Drama 4 Orang tentang Kesombongan</h2>
412
<p>Lila, Rifki, dan Theo merupakan tiga sahabat yang sudah saling mengenal satu sama lain sejak mereka kecil. Saat masuk ke SMA, mereka bertemu dengan Lula, yang secara perlahan menjadi bagian dari pertemanan mereka.</p>
412
<p>Lila, Rifki, dan Theo merupakan tiga sahabat yang sudah saling mengenal satu sama lain sejak mereka kecil. Saat masuk ke SMA, mereka bertemu dengan Lula, yang secara perlahan menjadi bagian dari pertemanan mereka.</p>
413
<p>Suatu hari di jam istirahat sekolah,</p>
413
<p>Suatu hari di jam istirahat sekolah,</p>
414
<p>Lula: “Nanti kalian datang ke acaranya Reza akhir minggu ini?”</p>
414
<p>Lula: “Nanti kalian datang ke acaranya Reza akhir minggu ini?”</p>
415
<p>Rifki: “Pastinya. Reza sendiri yang memberikan undangannya, merasa tidak enak kalau harus menolak.”</p>
415
<p>Rifki: “Pastinya. Reza sendiri yang memberikan undangannya, merasa tidak enak kalau harus menolak.”</p>
416
<p>Lila: “Lagipula tidak ada salahnya kita datang. Reza juga seorang teman yang baik kepada kita. Dia juga sering membantu aktif di kelas.”</p>
416
<p>Lila: “Lagipula tidak ada salahnya kita datang. Reza juga seorang teman yang baik kepada kita. Dia juga sering membantu aktif di kelas.”</p>
417
<p>Theo: “Tapi, acara dia menurutku selalu ada kurangnya. Kemarin acara syukuran kemenangan olimpiade, menu makanannya cuma begitu.”</p>
417
<p>Theo: “Tapi, acara dia menurutku selalu ada kurangnya. Kemarin acara syukuran kemenangan olimpiade, menu makanannya cuma begitu.”</p>
418
<p>Lula: “Kok kamu ngomongnya begitu?”</p>
418
<p>Lula: “Kok kamu ngomongnya begitu?”</p>
419
<p>Rifki: “Iya nih. Kemarin makanannya enak kok dan porsinya banyak pula. Menunya juga lengkap.:</p>
419
<p>Rifki: “Iya nih. Kemarin makanannya enak kok dan porsinya banyak pula. Menunya juga lengkap.:</p>
420
<p>Lila: “Kamu kenapa, Theo? Tiba-tiba bilang begitu.”</p>
420
<p>Lila: “Kamu kenapa, Theo? Tiba-tiba bilang begitu.”</p>
421
<p>Theo: “Kalian mau makan seperti itu lagi? Harusnya kalau kasih kita makanan yang mahal. Kalian kan juga sudah banyak bantu Reza buat menang.”</p>
421
<p>Theo: “Kalian mau makan seperti itu lagi? Harusnya kalau kasih kita makanan yang mahal. Kalian kan juga sudah banyak bantu Reza buat menang.”</p>
422
<p>Lula: “Kemampuan setiap orang kan berbeda, Theo. Aku yakin dia kemarin sudah berusaha memberikan hidangan yang terbaik buat kita. Apa gunanya teman kalau tidak saling membantu? Kita membantu dia juga ikhlas dan tidak meminta imbalan apapun. Niat dia baik dan sudah seharusnya dihargai.”</p>
422
<p>Lula: “Kemampuan setiap orang kan berbeda, Theo. Aku yakin dia kemarin sudah berusaha memberikan hidangan yang terbaik buat kita. Apa gunanya teman kalau tidak saling membantu? Kita membantu dia juga ikhlas dan tidak meminta imbalan apapun. Niat dia baik dan sudah seharusnya dihargai.”</p>
423
<p>Theo: “Dihargai, katamu? Aku bahkan bisa menyiapkan makanan yang lebih baik dan mahal dari apa yang dihidangkan dia kemarin.”</p>
423
<p>Theo: “Dihargai, katamu? Aku bahkan bisa menyiapkan makanan yang lebih baik dan mahal dari apa yang dihidangkan dia kemarin.”</p>
424
<p>Rifki: “Aku kecewa dengan perkataanmu.”</p>
424
<p>Rifki: “Aku kecewa dengan perkataanmu.”</p>
425
<p>Ketiga teman Theo merasa bingung dengan perkataan sombong yang terlontar tadi. Merasa sudah tidak lagi senang dengan perkataan Theo, mereka akhirnya memutuskan untuk pergi dari tempat tersebut.</p>
425
<p>Ketiga teman Theo merasa bingung dengan perkataan sombong yang terlontar tadi. Merasa sudah tidak lagi senang dengan perkataan Theo, mereka akhirnya memutuskan untuk pergi dari tempat tersebut.</p>
426
<h2>17. Contoh Naskah Drama 6 Orang tentang Legenda Pohon</h2>
426
<h2>17. Contoh Naskah Drama 6 Orang tentang Legenda Pohon</h2>
427
<p>Tokoh: Rama, Sinta, Drupadi, Arjuna, Nakula, dan Sadewa.</p>
427
<p>Tokoh: Rama, Sinta, Drupadi, Arjuna, Nakula, dan Sadewa.</p>
428
<p>Latar: Desa kecil dikelilingi hutan rimbun. Di sana, terdapat sebuah pohon beringin besar.</p>
428
<p>Latar: Desa kecil dikelilingi hutan rimbun. Di sana, terdapat sebuah pohon beringin besar.</p>
429
<p><strong>Adegan 1:</strong>Pertemuan di Desa Rama, Sinta, Arjuna, Drupadi, Nakula, dan Sadewa berkumpul di depan pohon beringin.</p>
429
<p><strong>Adegan 1:</strong>Pertemuan di Desa Rama, Sinta, Arjuna, Drupadi, Nakula, dan Sadewa berkumpul di depan pohon beringin.</p>
430
<p>Rama: (menunjuk ke pohon) “Ini adalah pohon beringin yang telah tumbuh di desa kita selama berabad-abad.”</p>
430
<p>Rama: (menunjuk ke pohon) “Ini adalah pohon beringin yang telah tumbuh di desa kita selama berabad-abad.”</p>
431
<p>Arjuna: “Kabarnya, pohon ini menyimpan cerita rakyat yang menarik.”</p>
431
<p>Arjuna: “Kabarnya, pohon ini menyimpan cerita rakyat yang menarik.”</p>
432
<p>Sinta: “Apakah kalian ingin mendengar ceritanya?”</p>
432
<p>Sinta: “Apakah kalian ingin mendengar ceritanya?”</p>
433
<p>Drupadi: “Tentu saja!”</p>
433
<p>Drupadi: “Tentu saja!”</p>
434
<p><strong>Adegan 2:</strong>Cerita Rakyat “Pohon Beringin Ajaib” Sinta bercerita tentang seorang raja dan ratu yang berusaha memiliki keturunan. Mereka berdoa kepada dewa dan diberikan seorang putri cantik yang mereka namakan Dewi Beringin. Dewi Beringin tumbuh menjadi gadis yang bijaksana.</p>
434
<p><strong>Adegan 2:</strong>Cerita Rakyat “Pohon Beringin Ajaib” Sinta bercerita tentang seorang raja dan ratu yang berusaha memiliki keturunan. Mereka berdoa kepada dewa dan diberikan seorang putri cantik yang mereka namakan Dewi Beringin. Dewi Beringin tumbuh menjadi gadis yang bijaksana.</p>
435
<p><strong>Adegan 3:</strong>Konflik Muncul Rama dan Arjuna mulai bersaing untuk mendapatkan perhatian Dewi Beringin, sementara Nakula dan Sadewa juga tertarik padanya. Drupadi mencoba menengahi konflik tersebut.</p>
435
<p><strong>Adegan 3:</strong>Konflik Muncul Rama dan Arjuna mulai bersaing untuk mendapatkan perhatian Dewi Beringin, sementara Nakula dan Sadewa juga tertarik padanya. Drupadi mencoba menengahi konflik tersebut.</p>
436
<p>Drupadi: “Kalian harus menemukan cara untuk saling menghargai.”</p>
436
<p>Drupadi: “Kalian harus menemukan cara untuk saling menghargai.”</p>
437
<p><strong>Adegan 4:</strong>Pertarungan di Hutan Ketika desa mereka diserang oleh makhluk jahat, Rama, Arjuna, Nakula, Sadewa, Sinta, dan Drupadi bersatu untuk melawan. Mereka menemukan kekuatan luar biasa dalam persatuan.</p>
437
<p><strong>Adegan 4:</strong>Pertarungan di Hutan Ketika desa mereka diserang oleh makhluk jahat, Rama, Arjuna, Nakula, Sadewa, Sinta, dan Drupadi bersatu untuk melawan. Mereka menemukan kekuatan luar biasa dalam persatuan.</p>
438
<p>A<strong>degan 5:</strong>Pohon Beringin Menjadi Tanduk Kebahagiaan Setelah pertarungan, mereka kembali ke desa dan menemukan pohon beringin telah berubah menjadi pohon yang indah dengan daun-daun emas. Pohon tersebut menjadi simbol persatuan dan kebahagiaan.</p>
438
<p>A<strong>degan 5:</strong>Pohon Beringin Menjadi Tanduk Kebahagiaan Setelah pertarungan, mereka kembali ke desa dan menemukan pohon beringin telah berubah menjadi pohon yang indah dengan daun-daun emas. Pohon tersebut menjadi simbol persatuan dan kebahagiaan.</p>
439
<p>Rama: (menyadari) “Kita semua memiliki peran penting dalam menjaga keharmonisan desa ini.”</p>
439
<p>Rama: (menyadari) “Kita semua memiliki peran penting dalam menjaga keharmonisan desa ini.”</p>
440
<p>Sinta: “Dan pohon beringin ini mengajarkan kita tentang kekuatan persatuan. Semua bersatu tangan di depan pohon beringin.”</p>
440
<p>Sinta: “Dan pohon beringin ini mengajarkan kita tentang kekuatan persatuan. Semua bersatu tangan di depan pohon beringin.”</p>
441
<p>Arjuna: “Bersama-sama, kita akan menjaga perdamaian dan kebahagiaan di desa kita. Gelap.”</p>
441
<p>Arjuna: “Bersama-sama, kita akan menjaga perdamaian dan kebahagiaan di desa kita. Gelap.”</p>
442
<h2>18. Contoh Naskah Drama untuk Teater</h2>
442
<h2>18. Contoh Naskah Drama untuk Teater</h2>
443
<p>Judul Drama: Titip Absen</p>
443
<p>Judul Drama: Titip Absen</p>
444
<p>Tema: Pendidikan</p>
444
<p>Tema: Pendidikan</p>
445
<p>Pemeran: Zahra, Nurul, Azizah, Ibu Fatma, Danang, Fahri</p>
445
<p>Pemeran: Zahra, Nurul, Azizah, Ibu Fatma, Danang, Fahri</p>
446
<p>Dalam mata kuliah teknologi informasi, Danang sering bolos dan tidak mengerjakan tugas. Namun, ia tidak pernah mendapatkan masalah karena selalu titip absen dan titip nama setiap diberikan tugas oleh Bu Fatma. Suatu hari, Danang berada satu kelompok dengan Zahra, Nurul, Azizah,dan Fahri.</p>
446
<p>Dalam mata kuliah teknologi informasi, Danang sering bolos dan tidak mengerjakan tugas. Namun, ia tidak pernah mendapatkan masalah karena selalu titip absen dan titip nama setiap diberikan tugas oleh Bu Fatma. Suatu hari, Danang berada satu kelompok dengan Zahra, Nurul, Azizah,dan Fahri.</p>
447
<p>Zahra: “Si Danang nggak masuk lagi, ya?”</p>
447
<p>Zahra: “Si Danang nggak masuk lagi, ya?”</p>
448
<p>Azizah: “Iya, dia selalu absen kalau pas pelajarannya Bu Fatma.”</p>
448
<p>Azizah: “Iya, dia selalu absen kalau pas pelajarannya Bu Fatma.”</p>
449
<p>Nurul: “Kenapa bisa begitu?”</p>
449
<p>Nurul: “Kenapa bisa begitu?”</p>
450
<p>Azizah: “Masak kamu nggak tahu, sih?”</p>
450
<p>Azizah: “Masak kamu nggak tahu, sih?”</p>
451
<p>Nurul: “Nggak tahu. Emang kenapa?”</p>
451
<p>Nurul: “Nggak tahu. Emang kenapa?”</p>
452
<p>Zahra: “Coba deh tanya sama teman dekatnya.” Zahra menunjuk Fahri.</p>
452
<p>Zahra: “Coba deh tanya sama teman dekatnya.” Zahra menunjuk Fahri.</p>
453
<p>Fahri yang sadar dengan obrolan tersebut akhirnya ikut nimbrung. “Danang pernah kepergok ngempesin ban motor, eh nggak tahunya ternyata itu ban motor punya Ibu Fatma.”</p>
453
<p>Fahri yang sadar dengan obrolan tersebut akhirnya ikut nimbrung. “Danang pernah kepergok ngempesin ban motor, eh nggak tahunya ternyata itu ban motor punya Ibu Fatma.”</p>
454
<p>Azizah: “Wah, gila. Parah banget kalau sampai kayak gitu.”</p>
454
<p>Azizah: “Wah, gila. Parah banget kalau sampai kayak gitu.”</p>
455
<p>Nurul: “Aku nggak nyangka, ternyata Danang anaknya bandel banget.” Keesokan harinya, Bu Fatma membagikan daftar kelompok untuk presentasi. Ternyata, Danang satu kelompok dengan Azizah, Nurul, Zahra, dan Fahri.</p>
455
<p>Nurul: “Aku nggak nyangka, ternyata Danang anaknya bandel banget.” Keesokan harinya, Bu Fatma membagikan daftar kelompok untuk presentasi. Ternyata, Danang satu kelompok dengan Azizah, Nurul, Zahra, dan Fahri.</p>
456
<p>Azizah: “Yaahh…. Kita satu kelompok dengan Danang.”</p>
456
<p>Azizah: “Yaahh…. Kita satu kelompok dengan Danang.”</p>
457
<p>Zahra: “Dia itu nggak mau tahu kalau ada tugas begini.”</p>
457
<p>Zahra: “Dia itu nggak mau tahu kalau ada tugas begini.”</p>
458
<p>Fahri: “Gini aja deh, nanti aku coba ke kosannya. Siapa tahu dia mau berubah.”</p>
458
<p>Fahri: “Gini aja deh, nanti aku coba ke kosannya. Siapa tahu dia mau berubah.”</p>
459
<p>Nurul: “Oke, semoga dia mau ambil bagian buat ngerjain tugas.”</p>
459
<p>Nurul: “Oke, semoga dia mau ambil bagian buat ngerjain tugas.”</p>
460
<p>Malam harinya, Fahri datang ke kosnya Danang. Kedatangannya yang tanpa pemberitahuan membuat Danang sedikit terkejut.</p>
460
<p>Malam harinya, Fahri datang ke kosnya Danang. Kedatangannya yang tanpa pemberitahuan membuat Danang sedikit terkejut.</p>
461
<p>Danang: “Eh, Fahri.”</p>
461
<p>Danang: “Eh, Fahri.”</p>
462
<p>Fahri: “Gimana, Nang? Kok nggak pernah masuk pas mata kuliahnya Bu Fatma?”</p>
462
<p>Fahri: “Gimana, Nang? Kok nggak pernah masuk pas mata kuliahnya Bu Fatma?”</p>
463
<p>Danang: “Aku malu banget, Ri. Takut disindir-sindir di depan kelas.”</p>
463
<p>Danang: “Aku malu banget, Ri. Takut disindir-sindir di depan kelas.”</p>
464
<p>Fahri: “Bu Fatma sudah maafin kamu, kok. Oh iya, ada tugas kelompok, nih. Kamu ngerjain, ya!”</p>
464
<p>Fahri: “Bu Fatma sudah maafin kamu, kok. Oh iya, ada tugas kelompok, nih. Kamu ngerjain, ya!”</p>
465
<p>Danang: “Aku masih takut buat masuk kelas, Ri.”</p>
465
<p>Danang: “Aku masih takut buat masuk kelas, Ri.”</p>
466
<p>Fahri: “Kamu takut apa, sih? Kamu nggak masuk terus, apa nggak kasihan sama orang tua kamu? Mulai sekarang, pikirin gimana perasaan orang tua kamu kalau tahu bolos begini.”</p>
466
<p>Fahri: “Kamu takut apa, sih? Kamu nggak masuk terus, apa nggak kasihan sama orang tua kamu? Mulai sekarang, pikirin gimana perasaan orang tua kamu kalau tahu bolos begini.”</p>
467
<p>Danang: “Oke, deh. Minggu depan aku masuk. Nanti kamu kirimkan file tugasnya lewat Whatsapp ya.”</p>
467
<p>Danang: “Oke, deh. Minggu depan aku masuk. Nanti kamu kirimkan file tugasnya lewat Whatsapp ya.”</p>
468
<p>Fahri: “Nah, gitu dong. Makasih, Nang.”</p>
468
<p>Fahri: “Nah, gitu dong. Makasih, Nang.”</p>
469
<p>Akhirnya, Danang mau mengerjakan tugas bersama dengan teman-temannya. Bu Fatma juga sudah memaafkan kesalahan Danang. Akhirnya, tidak ada lagi mahasiswa yang titip absen di kelas.</p>
469
<p>Akhirnya, Danang mau mengerjakan tugas bersama dengan teman-temannya. Bu Fatma juga sudah memaafkan kesalahan Danang. Akhirnya, tidak ada lagi mahasiswa yang titip absen di kelas.</p>
470
<h2>19. Contoh Naskah Drama tentang Pendidikan</h2>
470
<h2>19. Contoh Naskah Drama tentang Pendidikan</h2>
471
<p>Bu Ratna: “Anak-anak buatlah kelompok sebanyak 4 orang, lalu presentasikan sejarah kemerdekaan Indonesia dari kolonialisme Belanda hingga bisa merdeka!”</p>
471
<p>Bu Ratna: “Anak-anak buatlah kelompok sebanyak 4 orang, lalu presentasikan sejarah kemerdekaan Indonesia dari kolonialisme Belanda hingga bisa merdeka!”</p>
472
<p>Siswa: “Baik, Bu!” (Bu Ratna pun keluar dari kelas, dan siswa mulai berdiskusi tentang tugas kelompok tersebut.)</p>
472
<p>Siswa: “Baik, Bu!” (Bu Ratna pun keluar dari kelas, dan siswa mulai berdiskusi tentang tugas kelompok tersebut.)</p>
473
<p>Sinta: “Lis, ayo kita masuk ke kelompok Rima! Rima kan pintar, pasti tugas kita cepat selesai.”</p>
473
<p>Sinta: “Lis, ayo kita masuk ke kelompok Rima! Rima kan pintar, pasti tugas kita cepat selesai.”</p>
474
<p>Lisa: “Betul juga Sin, yuk kita ke Rima!”</p>
474
<p>Lisa: “Betul juga Sin, yuk kita ke Rima!”</p>
475
<p>Sinta: “Rima, aku sama Lisa masuk kelompokmu ya.”</p>
475
<p>Sinta: “Rima, aku sama Lisa masuk kelompokmu ya.”</p>
476
<p>Rima: “Boleh Lis, Sin, kebetulan aku baru berdua sama Nita.”</p>
476
<p>Rima: “Boleh Lis, Sin, kebetulan aku baru berdua sama Nita.”</p>
477
<p>Nita: “Hari minggu besok kita kerjakan tugasnya di sekolah ya. Kalian ada saran buat pembagian tugasnya?”</p>
477
<p>Nita: “Hari minggu besok kita kerjakan tugasnya di sekolah ya. Kalian ada saran buat pembagian tugasnya?”</p>
478
<p>Lisa dan Sinta: “Terserah kalian saja, kita ikut.”</p>
478
<p>Lisa dan Sinta: “Terserah kalian saja, kita ikut.”</p>
479
<p>Rima: “Aku bisa mengumpulkan materi tentang perang-perang dalam memperjuangkan kemerdekaan.”</p>
479
<p>Rima: “Aku bisa mengumpulkan materi tentang perang-perang dalam memperjuangkan kemerdekaan.”</p>
480
<p>Nita: “Aku bisa mengumpulkan materi tentang perjanjian dan pertemuan dalam perjuangan kemerdekaan.”</p>
480
<p>Nita: “Aku bisa mengumpulkan materi tentang perjanjian dan pertemuan dalam perjuangan kemerdekaan.”</p>
481
<p>Sinta: “Kalau gitu, biar aku sama lisa yang bikin power pointnya.”</p>
481
<p>Sinta: “Kalau gitu, biar aku sama lisa yang bikin power pointnya.”</p>
482
<p>Rima: “Yasudah kalau begitu, sampai bertemu besok ya!”</p>
482
<p>Rima: “Yasudah kalau begitu, sampai bertemu besok ya!”</p>
483
<p>Keesokan harinya Rima dan Nita telah berada di sekolah, namun Lisa dan Sinta tidak kunjung datang. Tiba-tiba Sinta menelpon Rima.</p>
483
<p>Keesokan harinya Rima dan Nita telah berada di sekolah, namun Lisa dan Sinta tidak kunjung datang. Tiba-tiba Sinta menelpon Rima.</p>
484
<p>Sinta: “Rima maaf ya aku sama lisa ga bisa ikut kerja kelompok karna kita udah ada janji pergi sama temen ke mall. Kalian kerjain aja berdua ya nanti uang printnya aku yang bayar.”</p>
484
<p>Sinta: “Rima maaf ya aku sama lisa ga bisa ikut kerja kelompok karna kita udah ada janji pergi sama temen ke mall. Kalian kerjain aja berdua ya nanti uang printnya aku yang bayar.”</p>
485
<p>Rima: “Tapi Sin, nanti kalian nggak ngerti materinya.”</p>
485
<p>Rima: “Tapi Sin, nanti kalian nggak ngerti materinya.”</p>
486
<p>Sinta: “Nanti kan yang presentasi bisa kamu sama Nita, gausah ribet kan ini Cuma pelajaran sejarah.”</p>
486
<p>Sinta: “Nanti kan yang presentasi bisa kamu sama Nita, gausah ribet kan ini Cuma pelajaran sejarah.”</p>
487
<p>Rima: “Tapi kan Sin, loh malah dimatikan teleponnya Nit. Gimana Sih kita harus ngerjain berdua kayaknya.”</p>
487
<p>Rima: “Tapi kan Sin, loh malah dimatikan teleponnya Nit. Gimana Sih kita harus ngerjain berdua kayaknya.”</p>
488
<p>Nita: “Yaudah mau gimana lagi Rim, daripada kita dapet nilai jelek juga.”</p>
488
<p>Nita: “Yaudah mau gimana lagi Rim, daripada kita dapet nilai jelek juga.”</p>
489
<p>Nita dan Rima Pun mengerjakan tugas berdua hingga selesai. Keesokan harinya dikelas presentasi di depan Bu Ratna dimulai.</p>
489
<p>Nita dan Rima Pun mengerjakan tugas berdua hingga selesai. Keesokan harinya dikelas presentasi di depan Bu Ratna dimulai.</p>
490
<p>Bu Ratna: “Kelompok 1, Rima, Lisa, Sinta, dan Nita silahkan maju.”</p>
490
<p>Bu Ratna: “Kelompok 1, Rima, Lisa, Sinta, dan Nita silahkan maju.”</p>
491
<p>Kelompok 1: “Baik, Bu.”</p>
491
<p>Kelompok 1: “Baik, Bu.”</p>
492
<p>Bu Ratna: “Siapa yang akan presentasi?”</p>
492
<p>Bu Ratna: “Siapa yang akan presentasi?”</p>
493
<p>Sinta: “Rima sama Nita, Bu.”</p>
493
<p>Sinta: “Rima sama Nita, Bu.”</p>
494
<p>Bu Ratna: “Kalau gitu silahkan Sinta dan Lisa yang presentasi.”</p>
494
<p>Bu Ratna: “Kalau gitu silahkan Sinta dan Lisa yang presentasi.”</p>
495
<p>Lisa: “Ko kami bu? Yang mau presentasi kan Rima sama Nita.”</p>
495
<p>Lisa: “Ko kami bu? Yang mau presentasi kan Rima sama Nita.”</p>
496
<p>Bu Ratna: “Loh bukannya sama saja, kalian kan mengerjakan sama-sama. Siapapun yang presentasi bukannya sama saja. Ayo cepat dimulai Lisa, Sinta!”</p>
496
<p>Bu Ratna: “Loh bukannya sama saja, kalian kan mengerjakan sama-sama. Siapapun yang presentasi bukannya sama saja. Ayo cepat dimulai Lisa, Sinta!”</p>
497
<p>Sinta: “Jadi sejarah kemerdekaan Indonesia dimulai dengan emm… anu…”</p>
497
<p>Sinta: “Jadi sejarah kemerdekaan Indonesia dimulai dengan emm… anu…”</p>
498
<p>Bu Ratna: “Kenapa Sinta? Lisa coba kamu melanjutkan presentasinya.”</p>
498
<p>Bu Ratna: “Kenapa Sinta? Lisa coba kamu melanjutkan presentasinya.”</p>
499
<p>Lisa: “Emmm… jadi Bu…”</p>
499
<p>Lisa: “Emmm… jadi Bu…”</p>
500
<p>Bu Ratna: “Kenapa kalian tidak paham tugas yang kelompok kalian sendiri? Rima, Nita, apa betul Sinta dan Lisa ikut mengerjakan tugas?”</p>
500
<p>Bu Ratna: “Kenapa kalian tidak paham tugas yang kelompok kalian sendiri? Rima, Nita, apa betul Sinta dan Lisa ikut mengerjakan tugas?”</p>
501
<p>Nita: “Sebenarnya tidak Bu, saya hanya mengerjakan berdua dengan Rima karena Lisa dan Sinta tidak bisa datang.”</p>
501
<p>Nita: “Sebenarnya tidak Bu, saya hanya mengerjakan berdua dengan Rima karena Lisa dan Sinta tidak bisa datang.”</p>
502
<p>Rima: “Betul Bu, saat kerja kelompok hari minggu Sinta dan Lisa tidak bisa hadir.”</p>
502
<p>Rima: “Betul Bu, saat kerja kelompok hari minggu Sinta dan Lisa tidak bisa hadir.”</p>
503
<p>Bu Ratna: “Kenapa kalian tidak bisa hadil Sinta, Lisa?”</p>
503
<p>Bu Ratna: “Kenapa kalian tidak bisa hadil Sinta, Lisa?”</p>
504
<p>Lisa: “Gimana ini Sin?”</p>
504
<p>Lisa: “Gimana ini Sin?”</p>
505
<p>Sinta: “Kami sakit Bu, jadi tidak bisa datang hari itu.”</p>
505
<p>Sinta: “Kami sakit Bu, jadi tidak bisa datang hari itu.”</p>
506
<p>Bu Ratna: “Jangan bohong kalian, saya lihat kalian di mall hari minggu. Seharusnya kalian belajar sungguh-sungguh bukannya main-main seperti ini, apalagi hanya numpang nama di tugas kelompok kalian. Minta maaflah kepada Rima dan Nita, lalu jangan ulangi lagi atau kalian tidak akan naik kelas.”</p>
506
<p>Bu Ratna: “Jangan bohong kalian, saya lihat kalian di mall hari minggu. Seharusnya kalian belajar sungguh-sungguh bukannya main-main seperti ini, apalagi hanya numpang nama di tugas kelompok kalian. Minta maaflah kepada Rima dan Nita, lalu jangan ulangi lagi atau kalian tidak akan naik kelas.”</p>
507
<p>Sinta: “Maafkan saya Bu Ratna, saya tidak akan mengulanginya lagi. Aku minta maaf ya Rima, Nita, aku janji ga akan gitu lagi.”</p>
507
<p>Sinta: “Maafkan saya Bu Ratna, saya tidak akan mengulanginya lagi. Aku minta maaf ya Rima, Nita, aku janji ga akan gitu lagi.”</p>
508
<p>Lisa: “Saya juga minta maaf, Bu. Rima, Nita, aku minta maaf ya sama kalian. Setelah ini aku akan belajar sungguh-sungguh, aku janji.”</p>
508
<p>Lisa: “Saya juga minta maaf, Bu. Rima, Nita, aku minta maaf ya sama kalian. Setelah ini aku akan belajar sungguh-sungguh, aku janji.”</p>
509
<h2>20. Contoh Naskah Drama tentang Sikap Toleransi</h2>
509
<h2>20. Contoh Naskah Drama tentang Sikap Toleransi</h2>
510
<p>Putu: “Eh, Ahmad, bukankah sebentar lagi bulan Ramadan. Apakah sekolah kita akan mengadakan lagi acara pesantren kilat seperti tahun sebelumnya?”</p>
510
<p>Putu: “Eh, Ahmad, bukankah sebentar lagi bulan Ramadan. Apakah sekolah kita akan mengadakan lagi acara pesantren kilat seperti tahun sebelumnya?”</p>
511
<p>Ahmad: “Wah, saya belum berdiskusi dengan para pengurus rohis. Tapi mudah-mudahan saja ada, ya.”</p>
511
<p>Ahmad: “Wah, saya belum berdiskusi dengan para pengurus rohis. Tapi mudah-mudahan saja ada, ya.”</p>
512
<p>Gede: “Iya, kalau ada pesantren kilat biasanya kita bisa ikut merayakan momen buka puasa meski tidak ikut berpuasa. Saat magrib berkumandang, ada banyak makanan dan minuman yang enak biasa. Seperti kolak, jus buah, es campur dan lain-lain.”</p>
512
<p>Gede: “Iya, kalau ada pesantren kilat biasanya kita bisa ikut merayakan momen buka puasa meski tidak ikut berpuasa. Saat magrib berkumandang, ada banyak makanan dan minuman yang enak biasa. Seperti kolak, jus buah, es campur dan lain-lain.”</p>
513
<p>Michael: “Tapi jadinya kan kita pulang terlambat, kan?! Karena kita harus menunggu dulu anak-anak yang berpuasa untuk selesai berbuka, salat, dan kegiatan lainnya.”</p>
513
<p>Michael: “Tapi jadinya kan kita pulang terlambat, kan?! Karena kita harus menunggu dulu anak-anak yang berpuasa untuk selesai berbuka, salat, dan kegiatan lainnya.”</p>
514
<p>Putu: “Lho, bukannya tidak diwajibkan untuk ikut, ya?! (memasang tampang bingung dan heran) Pak Guru sudah memperbolehkan kita yang bukan Islam untuk pulang lebih dulu. Pilihan kita sendiri mau ikut menemani teman-teman muslim buka puasa dan kegiatan pesantren kilat nya.”</p>
514
<p>Putu: “Lho, bukannya tidak diwajibkan untuk ikut, ya?! (memasang tampang bingung dan heran) Pak Guru sudah memperbolehkan kita yang bukan Islam untuk pulang lebih dulu. Pilihan kita sendiri mau ikut menemani teman-teman muslim buka puasa dan kegiatan pesantren kilat nya.”</p>
515
<p>Gede: “Apa yang diucapkan Putu tadi ada benarnya lho, Michael. Kita yang bukan Islam tidak diwajibkan untuk ikut merayakan momen buka puasa hingga pesantren kilat. Kamu bisa pulang begitu kegiatan ekstrakurikuler selesai.”</p>
515
<p>Gede: “Apa yang diucapkan Putu tadi ada benarnya lho, Michael. Kita yang bukan Islam tidak diwajibkan untuk ikut merayakan momen buka puasa hingga pesantren kilat. Kamu bisa pulang begitu kegiatan ekstrakurikuler selesai.”</p>
516
<p>Michael: “Iya tetap saja, teman-temanku yang lain jadi ikut stay di sekolah. Aku jadi nggak ada kawan pulang. Mau tak mau kan aku juga ikut tinggal di sekolah.”</p>
516
<p>Michael: “Iya tetap saja, teman-temanku yang lain jadi ikut stay di sekolah. Aku jadi nggak ada kawan pulang. Mau tak mau kan aku juga ikut tinggal di sekolah.”</p>
517
<p>Gede: “Michael, tidak ada yang memaksa kamu untuk tinggal di sekolah. Bukan salah temen-temen muslim kita yang sedang melakukan ibadah juga. Kamu tinggal di sekolah itu murni keputusan kamu, bukan karena teman-teman muslim yang sedang menjalankan ibadah mereka.”</p>
517
<p>Gede: “Michael, tidak ada yang memaksa kamu untuk tinggal di sekolah. Bukan salah temen-temen muslim kita yang sedang melakukan ibadah juga. Kamu tinggal di sekolah itu murni keputusan kamu, bukan karena teman-teman muslim yang sedang menjalankan ibadah mereka.”</p>
518
<p>Putu: “Kamu harus menjaga tenggang rasa dan toleransi, Michael. Karena apa yang barusan kamu ucapkan itu pasti membuat hati Ahmad dan teman-teman muslim lainnya bersedih.”</p>
518
<p>Putu: “Kamu harus menjaga tenggang rasa dan toleransi, Michael. Karena apa yang barusan kamu ucapkan itu pasti membuat hati Ahmad dan teman-teman muslim lainnya bersedih.”</p>
519
<p>Michael: (menyadari kesalahan) “Iya juga, ya. Maaf ya, Ahmad. Saya tidak bermaksud melukai kamu dengan ucapan saya tadi.”</p>
519
<p>Michael: (menyadari kesalahan) “Iya juga, ya. Maaf ya, Ahmad. Saya tidak bermaksud melukai kamu dengan ucapan saya tadi.”</p>
520
<p>Ahmad: “Tidak apa-apa Michael, santai saja.”</p>
520
<p>Ahmad: “Tidak apa-apa Michael, santai saja.”</p>
521
<p> -</p>
521
<p> -</p>
522
<p>Itu lah kumpulan contoh teks drama yang bisa kamu jadikan referensi saat membuat naskah. Kira-kira, contoh naskah drama mana yang paling menarik? Atau kamu punya naskah drama sendiri yang lebih menarik? Kalau kamu mau belajar lebih dalam tentang drama, kamu bisa langsung cek video belajar beranimasinya di<a><strong>ruangbelajar</strong></a>.</p>
522
<p>Itu lah kumpulan contoh teks drama yang bisa kamu jadikan referensi saat membuat naskah. Kira-kira, contoh naskah drama mana yang paling menarik? Atau kamu punya naskah drama sendiri yang lebih menarik? Kalau kamu mau belajar lebih dalam tentang drama, kamu bisa langsung cek video belajar beranimasinya di<a><strong>ruangbelajar</strong></a>.</p>
523
<p><strong>Referensi:</strong></p>
523
<p><strong>Referensi:</strong></p>
524
<p>Suherli, dkk. 2017. Bahasa Indonesia untuk SMA/MA Kelas 11. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.</p>
524
<p>Suherli, dkk. 2017. Bahasa Indonesia untuk SMA/MA Kelas 11. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.</p>
525
<p>Kosasih, E. 2017. Bahasa Indonesia SMP/MTs Kelas VIII. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.</p>
525
<p>Kosasih, E. 2017. Bahasa Indonesia SMP/MTs Kelas VIII. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.</p>
526
<p>Contoh teks drama [drama]. Tautan: https://www.brilio.net/wow/11-contoh-teks-drama-berbagai-tema-dari-komedi-hingga-kisah-cinta-211217x.html (Diakses: 16 Maret 2023)</p>
526
<p>Contoh teks drama [drama]. Tautan: https://www.brilio.net/wow/11-contoh-teks-drama-berbagai-tema-dari-komedi-hingga-kisah-cinta-211217x.html (Diakses: 16 Maret 2023)</p>
527
<p>https://katadata.co.id/lifestyle/edukasi/65cef21940efa/naskah-drama-cerita-rakyat-6-orang-pohon-beringin-dan-telaga-warna (Diakses 14 Maret 2024)</p>
527
<p>https://katadata.co.id/lifestyle/edukasi/65cef21940efa/naskah-drama-cerita-rakyat-6-orang-pohon-beringin-dan-telaga-warna (Diakses 14 Maret 2024)</p>
528
<p>https://kumparan.com/berita-terkini/contoh-teks-drama-singkat-6-orang-untuk-pertunjukan-teater-1yoR35b7sr8/full (Diakses 14 Maret 2024)</p>
528
<p>https://kumparan.com/berita-terkini/contoh-teks-drama-singkat-6-orang-untuk-pertunjukan-teater-1yoR35b7sr8/full (Diakses 14 Maret 2024)</p>
529
<p>https://www.sonora.id/read/423544748/4-contoh-naskah-drama-tentang-pendidikan-beserta-penjelasannya (Diakses 14 Maret 2024)</p>
529
<p>https://www.sonora.id/read/423544748/4-contoh-naskah-drama-tentang-pendidikan-beserta-penjelasannya (Diakses 14 Maret 2024)</p>
530
<p>https://www.sonora.id/read/423686850/5-contoh-naskah-drama-pendek-tentang-sikap-toleransi-pada-sesama (Diakses 14 Maret 2024)</p>
530
<p>https://www.sonora.id/read/423686850/5-contoh-naskah-drama-pendek-tentang-sikap-toleransi-pada-sesama (Diakses 14 Maret 2024)</p>
531
<p>Sumber Gambar:</p>
531
<p>Sumber Gambar:</p>
532
<p>Gambar ‘Theatre Props Mask Skull’ by Macrovector on Freepik [Daring]. Tautan: https://www.freepik.com/free-vector/depicting-theatre-props-mask-skull_4268169.htm#query=drama&position=1&from_view=search&track=sph (Diakses pada 2 April 2023)</p>
532
<p>Gambar ‘Theatre Props Mask Skull’ by Macrovector on Freepik [Daring]. Tautan: https://www.freepik.com/free-vector/depicting-theatre-props-mask-skull_4268169.htm#query=drama&position=1&from_view=search&track=sph (Diakses pada 2 April 2023)</p>
533
533