45 added
21 removed
Original
2026-01-01
Modified
2026-03-08
1
-
<p>Apakah kamu tahu kalau udara bergerak karena adanya perbedaan tekanan di bumi, Squad? Karena adanya tekanan tinggi dan tekanan rendah, aliran udara atau angin yang terjadi juga bergerak dari arah yang tinggi ke rendah pula. Angin bergerak karena adanya rotasi bumi. Kecepatannya bisa diukur menggunakan sebuah alat yang bernama<strong>anemometer</strong>, sedangkan untuk mengetahui arah dan kecepatan angin menggunakan alat yang dinamakan<strong>Windsock</strong>.</p>
1
+
<p><em>Bagaimana sih angin terbentuk? Lalu, apa saja jenis-jenis angin? Yuk simak pembahasannya di<strong><a>artikel Geografi Kelas 10</a></strong>berikut ini!</em></p>
2
-
<h2><strong>Proses Terbentuknya Angin</strong></h2>
2
+
<p>-</p>
3
-
<p>Angin terbentuk karena adanya pemuaian udara. Udara yang dipanaskan akan mengalami pemuaian, dan membuat udara tersebut menjadi lebih ringan sehingga bisa bergerak naik. Udara dingin yang ada di sekitarnya juga akan bergerak menuju ke udara yang bertekanan rendah dan membuat udara menjadi lebih berat sehingga akan turun ke tanah.</p>
3
+
<p>Apakah kamu tahu, kalau<strong>udara bergerak</strong>karena adanya<strong>perbedaan tekanan di bumi</strong>? Karena adanya tekanan tinggi dan tekanan rendah, aliran udara atau<strong>angin</strong>yang terjadi juga bergerak dari arah yang tinggi ke rendah pula.</p>
4
-
<p>Di atas tanah, proses pemuaian udara tersebut akan terus terjadi, sampai udara panas akan naik dan udara dingin akan turun yang mengakibatkan terjadinya arus konveksi.<em>Nah,</em>Squad, perlu diingat, jika suhu tinggi maka tekanan yang dihasilkan adalah tekanan rendah, sedangkan jika suhu rendah maka tekanan yang dihasilkan akan tinggi. Udara dengan suhu tinggi akan naik, sedangkan udara dengan suhu rendah akan turun.</p>
4
+
<p>Nah, angin bergerak karena adanya<strong><a>rotasi bumi</a></strong>. Kecepatannya bisa diukur menggunakan sebuah alat yang bernama<strong>anemometer</strong>, sedangkan untuk mengetahui arah dan kecepatan angin menggunakan alat yang dinamakan<strong>Windsock</strong>.</p>
5
-
<h2><strong>Faktor Terbentuknya Angin</strong></h2>
5
+
<h2>Proses Terbentuknya Angin</h2>
6
+
<p>Angin terbentuk karena adanya<strong>pemuaian udara</strong>. Udara yang dipanaskan akan mengalami pemuaian, dan membuat udara tersebut menjadi lebih ringan sehingga bisa bergerak naik.</p>
7
+
<p>Udara dingin yang ada di sekitarnya juga akan bergerak menuju ke udara yang bertekanan rendah dan membuat udara menjadi lebih berat sehingga akan turun ke tanah.</p>
8
+
<p>Di atas tanah, proses pemuaian udara tersebut akan terus terjadi, sampai udara panas akan naik dan udara dingin akan turun yang mengakibatkan terjadinya arus konveksi.</p>
9
+
<p><em>Nah,</em>perlu diingat, jika suhu tinggi maka tekanan yang dihasilkan adalah tekanan rendah, sedangkan jika suhu rendah maka tekanan yang dihasilkan akan tinggi. Udara dengan suhu tinggi akan naik, sedangkan udara dengan suhu rendah akan turun.</p>
10
+
<h2>Faktor Terbentuknya Angin</h2>
6
<p>Ada beberapa faktor yang menyebabkan terbentuknya angin. Yuk, kita simak bersama-sama!</p>
11
<p>Ada beberapa faktor yang menyebabkan terbentuknya angin. Yuk, kita simak bersama-sama!</p>
7
-
<p>1.<strong>Gradien barometris</strong>. yaitu bilangan yang memperlihatkan pada perbedaan tekanan udara dari 2 isobar yang jaraknya 111 km. Semakin besar gradien barometrisnya, maka semakin cepat angin itu bertiup.</p>
12
+
<h3>1. Gradien barometris</h3>
8
-
<p>2.<strong>Lokasi</strong>. Kecepatan angin pada khatulistiwa lebih cepat daripada kecepatan angin yang lokasi hembusannya jauh dari khatulistiwa. Tinggi dari suatu lokasi juga berpengaruh, lho Squad. Semakin tinggi suatu tempat, maka akan semakin kencang angin bertiup. Hal ini disebabkan oleh minimnya gaya gesek yang terjadi.</p>
13
+
<p>Gradien Barometris adalah bilangan yang memperlihatkan pada perbedaan tekanan udara dari 2 isobar yang jaraknya 111 km. Semakin besar gradien barometrisnya, maka semakin cepat angin itu bertiup.</p>
9
-
<p>3.<strong>Waktu</strong>. Squad, tahukah kamu? Pada siang hari angin bertiup lebih cepat dibandingkan dengan pada waktu malam hari,<em>lho</em>. Faktor ini juga mempengaruhi kencangnya suatu hembusan angin</p>
14
+
<h3>2. Lokasi</h3>
10
-
<p>Oh iya, Squad, jangan lupa ya, angin itu tidak bisa dilihat, tetapi hanya bisa dirasakan.</p>
15
+
<p>Kecepatan angin pada khatulistiwa lebih cepat daripada kecepatan angin yang lokasi hembusannya jauh dari khatulistiwa.</p>
11
-
<h2><strong>Macam-Macam Angin</strong></h2>
16
+
<p>Tinggi dari suatu lokasi juga berpengaruh, lho. Semakin tinggi suatu tempat, maka akan semakin kencang angin bertiup. Hal ini disebabkan oleh minimnya gaya gesek yang terjadi.</p>
12
-
<p><strong>Angin Laut</strong>: Merupakan angin yang bertiup dari laut ke darat yang terjadi ada siang hari sekitar<strong>pukul 9 pagi hingga 4 sore</strong>. Angin ini dimanfaatkan oleh para nelayan tradisional untuk pulang dari menangkap ikan.</p>
17
+
<h3>3. Waktu</h3>
13
-
<p><strong>Angin Darat</strong>: Bertiup dari darat ke laut pada malam hari. Angin ini mulai terasa sekitar<strong>pukul 8 malam hingga 6 pagi</strong>, dan dimanfaatkan oleh para nelayan untuk berangkat menangkap ikan.</p>
18
+
<p>Tahukah kamu, pada siang hari angin bertiup lebih cepat dibandingkan dengan pada waktu malam hari,<em>lho</em>. Faktor ini juga mempengaruhi kencangnya suatu hembusan angin</p>
14
-
<p><strong>Angin Lembah</strong>: Angin yang bertiup<strong>dari lembah ke puncak gunung</strong>yang terjadi saat siang hari.</p>
19
+
<p>Oh iya, jangan lupa ya,<strong>angin itu tidak bisa dilihat, tetapi hanya bisa dirasakan</strong>.</p>
15
-
<p><strong>Angin Gunung</strong>: Tiupannya berarah<strong>dari puncak gunung turun ke lembah</strong>yang terjadi pada malam hari.</p>
20
+
<p>-</p>
21
+
<p>Jika kamu tertarik dengan materi ini, kamu bisa<em>ngobrol-ngobrol</em>langsung sama guru les kamu di<a><strong>Ruangguru Privat Geografi</strong></a><em>, lho</em>!</p>
22
+
<p>Belajar nggak cuma menyenangkan, tapi kamu juga bakal diajari konsepnya sampai paham! Para pengajar di Ruangguru Privat juga sudah terstandarisasi kualitasnya, loh. Kamu juga bisa pilih nih, mau diajarkan secara langsung (<em>offline</em>) atau daring (<em>online</em>). Fleksibel, kan? Untuk info lebih lanjut, cuss klik link berikut!</p>
23
+
<h2><strong>Jenis-Jenis Angin</strong></h2>
24
+
<h3>1. Angin Laut</h3>
25
+
<p>Merupakan angin yang bertiup<strong>dari laut ke darat</strong>yang terjadi ada siang hari sekitar<strong>pukul 9 pagi hingga 4 sore</strong>. Angin ini dimanfaatkan oleh para nelayan tradisional untuk pulang dari menangkap ikan.</p>
26
+
<h3>2. Angin Darat</h3>
27
+
<p>Bertiup dari darat ke laut pada malam hari. Angin ini mulai terasa sekitar<strong>pukul 8 malam hingga 6 pagi</strong>, dan dimanfaatkan oleh para nelayan untuk berangkat menangkap ikan.</p>
28
+
<h3>3. Angin Lembah</h3>
29
+
<p>Angin yang bertiup<strong>dari lembah ke puncak gunung</strong>yang terjadi saat siang hari.</p>
30
+
<h3>4. Angin Gunung</h3>
31
+
<p>Tiupannya berarah<strong>dari puncak gunung turun ke lembah</strong>yang terjadi pada malam hari.</p>
16
<p>Skema Angin Lembah dan Angin Gunung (<em>Sumber: www.adharta.com</em>)</p>
32
<p>Skema Angin Lembah dan Angin Gunung (<em>Sumber: www.adharta.com</em>)</p>
17
-
<p><strong>Angin Fohn</strong>: Disebut juga dengan angin jatuh yaitu kelanjutan dari proses terjadinya hujan orografis. Setelah sampai di puncak, maka angin akan turun melalui lembah-lembah yang sifatnya kering dan panas. Angin ini sifatnya merusak karena suhunya cukup tinggi mengakibatkan banyak tanaman-tanaman yang mati. Di setiap daerah, nama angin ini berbeda-beda. Misalnya di Sulawesi Selatan dinamai angin brubu, angin bahorok di Deli Sumatra Utara, angin kumbang di Cirebon Jawa Barat, angin gending di Pasuruan dan Probolinggo, serta angin wambrau di Papua.</p>
33
+
<h3>5. Angin Fohn</h3>
34
+
<p>Disebut juga dengan angin jatuh yaitu kelanjutan dari proses terjadinya hujan orografis. Setelah sampai di puncak, maka angin akan turun melalui lembah-lembah yang sifatnya kering dan panas.</p>
35
+
<p>Angin ini sifatnya merusak karena suhunya cukup tinggi mengakibatkan banyak tanaman-tanaman yang mati. Di setiap daerah, nama angin ini berbeda-beda.</p>
36
+
<p>Misalnya di Sulawesi Selatan dinamai angin brubu, angin bahorok di Deli Sumatra Utara, angin kumbang di Cirebon Jawa Barat, angin gending di Pasuruan dan Probolinggo, serta angin wambrau di Papua.</p>
18
<p>Skema Angin Fohn (Sumber: Kuswanto, 2003)</p>
37
<p>Skema Angin Fohn (Sumber: Kuswanto, 2003)</p>
19
-
<p><strong>Angin Muson Barat</strong>: Mengalir dari<strong>benua Asia ke benua Australia</strong>, angin ini membawa banyak uap air karena melewati perairan dan samudra. Serta mengakibatkan Indonesia mengalami musim penghujan.</p>
38
+
<h3>6. Angin Muson Barat</h3>
20
-
<p><strong>Angin Muson Timur</strong>: Berasal dari arah<strong>benua Australia ke Benua Asia</strong>. Sifatnya kering karena melalui beberapa gurun yang mengakibatkan Indonesia mengalami musim kemarau.</p>
39
+
<p>Mengalir dari<strong>benua Asia ke benua Australia</strong>, angin ini membawa banyak uap air karena melewati perairan dan samudra. Serta mengakibatkan Indonesia mengalami musim penghujan.</p>
40
+
<h3>7. Angin Muson Timur</h3>
41
+
<p>Berasal dari arah<strong>benua Australia ke Benua Asia</strong>. Sifatnya kering karena melalui beberapa gurun yang mengakibatkan Indonesia mengalami musim kemarau.</p>
21
<p></p>
42
<p></p>
22
<p>Skema Angin Muson Barat dan Muson Timur (<em>Sumber: http://psta.lapan.go.id</em>)</p>
43
<p>Skema Angin Muson Barat dan Muson Timur (<em>Sumber: http://psta.lapan.go.id</em>)</p>
23
-
<p><strong>Angin Siklon</strong>: Pergerakannya<strong>menuju tekanan udara yang minimum</strong>. Di bagian bumi utara, angin ini bergerak berlawanan dengan arah jarum jam, sebaliknya di bagian bumi selatan justru bergerak searah jarum jam.</p>
44
+
<h3>8. Angin Siklon</h3>
24
-
<p><strong>Angin Antisiklon</strong>: Angin yang<strong>meninggalkan tempat bertekanan maksimum</strong>. Pergerakan angin ini di bagian utara searah jarum jam, dan di bagian selatan berlawanan dengan arah jarum jam.</p>
45
+
<p>Pergerakannya<strong>menuju tekanan udara yang minimum</strong>. Di bagian bumi utara, angin ini bergerak berlawanan dengan arah jarum jam, sebaliknya di bagian bumi selatan justru bergerak searah jarum jam.</p>
46
+
<h3>9. Angin Antisiklon</h3>
47
+
<p>Angin yang<strong>meninggalkan tempat bertekanan maksimum</strong>. Pergerakan angin ini di bagian utara searah jarum jam, dan di bagian selatan berlawanan dengan arah jarum jam.</p>
25
<p> </p>
48
<p> </p>
26
<p>Skema Angin Siklon dan Angin Antisiklon (<em>Sumber: www.berpendidikan.com</em>)</p>
49
<p>Skema Angin Siklon dan Angin Antisiklon (<em>Sumber: www.berpendidikan.com</em>)</p>
27
<p><strong>Baca Juga:<a>Pengalaman Kuliah di Negeri Kincir Angin</a></strong></p>
50
<p><strong>Baca Juga:<a>Pengalaman Kuliah di Negeri Kincir Angin</a></strong></p>
28
-
<p>Nah, Squad, gimana? Sudah lebih memahami mengenai jenis-jenis angin,<em>kan</em>? Sekarang, kalau ada angin berembus, sudah bisa tahu<em>dong</em>, apa jenis anginnya? Supaya semakin seru,<em>yuk</em>ikut mengenal angin melalui video belajar-nya <strong><a>ruangbelajar</a></strong>! Penasaran? </p>
51
+
<p>-</p>
52
+
<p>Nah, gimana? Sudah lebih memahami mengenai jenis-jenis angin,<em>kan</em>? Sekarang, kalau ada angin berembus, sudah bisa tahu<em>dong</em>, apa jenis anginnya? Supaya semakin seru,<em>yuk</em>ikut mengenal angin melalui video belajar-nya <strong><a>ruangbelajar</a></strong>! Penasaran?</p>
29
<p><strong>Referensi:</strong></p>
53
<p><strong>Referensi:</strong></p>
30
<p>Wardiyatmoko. 2006. Geografi untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Erlangga</p>
54
<p>Wardiyatmoko. 2006. Geografi untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Erlangga</p>
31
<p>Sindhu P. Yasinto. 2016. Geografi untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Erlangga</p>
55
<p>Sindhu P. Yasinto. 2016. Geografi untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Erlangga</p>
32
<p><strong>Sumber foto:</strong></p>
56
<p><strong>Sumber foto:</strong></p>
33
<p>Foto Skema Angin Muson Barat dan Muson Timur [daring]. Tautan: http://psta.lapan.go.id/</p>
57
<p>Foto Skema Angin Muson Barat dan Muson Timur [daring]. Tautan: http://psta.lapan.go.id/</p>
34
-
<p><strong><em>Artikel terakhir diperbarui pada 3 Desember 2020.</em></strong></p>
58
+
<p><strong><em>Artikel pertama kali terbit 2 Januari 2018, kemudian diperbarui pada 3 Desember 2020 dan 10 Februari 206.</em></strong></p>
35
59