0 added
0 removed
Original
2026-01-01
Modified
2026-03-08
1
<p><em>Anak ayam turun sepuluh,</em><em>mati satu tinggal sembilan.</em><em>Tuntutlah ilmu bersungguh-sungguh,</em><em>Supaya engkau tidak ketinggalan.</em></p>
1
<p><em>Anak ayam turun sepuluh,</em><em>mati satu tinggal sembilan.</em><em>Tuntutlah ilmu bersungguh-sungguh,</em><em>Supaya engkau tidak ketinggalan.</em></p>
2
<p>-</p>
2
<p>-</p>
3
<p><em>Guys</em>, kalau ada salah satu teman kamu yang sedang berpantun, atau kamu tidak sengaja dengar seseorang melantunkan pantun, biasanya kamu otomatis ingin berucap,<em>“CAKEPPP!” gak sih</em>? WKWK~</p>
3
<p><em>Guys</em>, kalau ada salah satu teman kamu yang sedang berpantun, atau kamu tidak sengaja dengar seseorang melantunkan pantun, biasanya kamu otomatis ingin berucap,<em>“CAKEPPP!” gak sih</em>? WKWK~</p>
4
<p>Misalnya,</p>
4
<p>Misalnya,</p>
5
<p>Ikan lele ikan mujair</p>
5
<p>Ikan lele ikan mujair</p>
6
<p><em>CAKEP!</em></p>
6
<p><em>CAKEP!</em></p>
7
<p>Makannya lumut di dasar empang</p>
7
<p>Makannya lumut di dasar empang</p>
8
<p><em>CAKEP!</em></p>
8
<p><em>CAKEP!</em></p>
9
<p>Kalau kamu mau jadi orang tajir</p>
9
<p>Kalau kamu mau jadi orang tajir</p>
10
<p>Jangan lupa bekerja dan menabung di bank!</p>
10
<p>Jangan lupa bekerja dan menabung di bank!</p>
11
<p><em>CAKEP!</em></p>
11
<p><em>CAKEP!</em></p>
12
<p>Gimana, kalau dengar pantun bawaannya asyik aja gitu ya. Apalagi kalau pantunnya bersifat lelucon atau jenaka. </p>
12
<p>Gimana, kalau dengar pantun bawaannya asyik aja gitu ya. Apalagi kalau pantunnya bersifat lelucon atau jenaka. </p>
13
<p>Nah tapi, apakah kamu sudah tahu, kalau pantun merupakan salah satu bentuk puisi lama Indonesia? Memang<em>sih</em>, pada awalnya, pantun diungkapkan secara lisan. </p>
13
<p>Nah tapi, apakah kamu sudah tahu, kalau pantun merupakan salah satu bentuk puisi lama Indonesia? Memang<em>sih</em>, pada awalnya, pantun diungkapkan secara lisan. </p>
14
<p><strong>Baca Juga:<a>Kumpulan Jenis Puisi Lama Disertai Contohnya</a></strong></p>
14
<p><strong>Baca Juga:<a>Kumpulan Jenis Puisi Lama Disertai Contohnya</a></strong></p>
15
<p>Seiring dengan perkembangan zaman, pantun juga bisa diungkapkan secara tertulis,<em>lho</em>!<em>Wah</em>, sepertinya menarik<em>nih</em>kalau kita membahas tentang pantun. Langsung aja yuk kita simak materi lengkap tentang pantun. Kita mulai dari pengertiannya terlebih dahulu, ya!</p>
15
<p>Seiring dengan perkembangan zaman, pantun juga bisa diungkapkan secara tertulis,<em>lho</em>!<em>Wah</em>, sepertinya menarik<em>nih</em>kalau kita membahas tentang pantun. Langsung aja yuk kita simak materi lengkap tentang pantun. Kita mulai dari pengertiannya terlebih dahulu, ya!</p>
16
<p><strong>Pantun</strong>adalah salah satu bentuk dari<strong>puisi lama</strong><strong>Indonesia</strong>yang berasal dari tradisi sastra Melayu. Pantun ini termasuk dalam puisi rakyat, ya. </p>
16
<p><strong>Pantun</strong>adalah salah satu bentuk dari<strong>puisi lama</strong><strong>Indonesia</strong>yang berasal dari tradisi sastra Melayu. Pantun ini termasuk dalam puisi rakyat, ya. </p>
17
<p>Pantun terdiri atas empat baris atau larik, setiap lariknya memiliki delapan sampai dua belas suku kata, dengan rima a-b-a-b. Pantun juga memiliki sampiran dan isi. Pantun seringkali digunakan sebagai bentuk ekspresi sastra lisan dalam budaya Melayu. </p>
17
<p>Pantun terdiri atas empat baris atau larik, setiap lariknya memiliki delapan sampai dua belas suku kata, dengan rima a-b-a-b. Pantun juga memiliki sampiran dan isi. Pantun seringkali digunakan sebagai bentuk ekspresi sastra lisan dalam budaya Melayu. </p>
18
<p>Pantun memiliki ciri khas yang kreatif, menggunakan perbandingan, metafora, atau kiasan untuk menyampaikan pesan atau cerita dengan gaya yang indah dan berima. Selain itu, pantun juga dapat digunakan sebagai bentuk hiburan, misalnya dalam pertunjukan seni tradisional atau acara perayaan.</p>
18
<p>Pantun memiliki ciri khas yang kreatif, menggunakan perbandingan, metafora, atau kiasan untuk menyampaikan pesan atau cerita dengan gaya yang indah dan berima. Selain itu, pantun juga dapat digunakan sebagai bentuk hiburan, misalnya dalam pertunjukan seni tradisional atau acara perayaan.</p>
19
<p>Lalu, apa saja ya ciri-ciri dari pantun?</p>
19
<p>Lalu, apa saja ya ciri-ciri dari pantun?</p>
20
<h2><strong>Ciri-Ciri Pantun</strong></h2>
20
<h2><strong>Ciri-Ciri Pantun</strong></h2>
21
<h3><strong>1. Setiap bait terdiri atas empat baris</strong></h3>
21
<h3><strong>1. Setiap bait terdiri atas empat baris</strong></h3>
22
<p>Tiap bait pantun berisi untaian kata-kata yang berada dalam satu gagasan dan umumnya mempunyai ciri khas tersendiri bergantung pada jenis pantunnya.<strong>Barisan kata-kata</strong>pada pantun dikenal juga dengan sebutan<strong>larik</strong>.</p>
22
<p>Tiap bait pantun berisi untaian kata-kata yang berada dalam satu gagasan dan umumnya mempunyai ciri khas tersendiri bergantung pada jenis pantunnya.<strong>Barisan kata-kata</strong>pada pantun dikenal juga dengan sebutan<strong>larik</strong>.</p>
23
<p>Senyummu menandakan penuh tanya (baris 1) Hilangnya bahagia dalam tawamu (baris 2) Selamat bermalam minggu semuanya (baris 3) Semoga rindu menuai temu (baris 4)</p>
23
<p>Senyummu menandakan penuh tanya (baris 1) Hilangnya bahagia dalam tawamu (baris 2) Selamat bermalam minggu semuanya (baris 3) Semoga rindu menuai temu (baris 4)</p>
24
<h3><strong>2. Jumlah suku kata dalam setiap baris antara 8-12 suku kata</strong></h3>
24
<h3><strong>2. Jumlah suku kata dalam setiap baris antara 8-12 suku kata</strong></h3>
25
<p>Awalnya, pantun hanya disampaikan secara lisan dan tidak dituliskan. Oleh karena itu, tiap baris pada pantun dibuat sesingkat mungkin, namun tetap padat isi. Maka,<strong>tiap baris pantun hanya terdiri dari 8-12 suku kata</strong>.</p>
25
<p>Awalnya, pantun hanya disampaikan secara lisan dan tidak dituliskan. Oleh karena itu, tiap baris pada pantun dibuat sesingkat mungkin, namun tetap padat isi. Maka,<strong>tiap baris pantun hanya terdiri dari 8-12 suku kata</strong>.</p>
26
<p>Se-nyum-mu me-nan-da-kan pe-nuh ta-nya (11 suku kata) Hi-lang-nya ba-ha-gi-a da-lam ta-wa-mu (12 suku kata) Se-la-mat ber-ma-lam ming-gu se-mu-a-nya (12 suku kata) Se-mo-ga rin-du me-nu-ai te-mu (10 suku kata)</p>
26
<p>Se-nyum-mu me-nan-da-kan pe-nuh ta-nya (11 suku kata) Hi-lang-nya ba-ha-gi-a da-lam ta-wa-mu (12 suku kata) Se-la-mat ber-ma-lam ming-gu se-mu-a-nya (12 suku kata) Se-mo-ga rin-du me-nu-ai te-mu (10 suku kata)</p>
27
<h3><strong>3. Baris pertama dan kedua disebut dengan sampiran</strong></h3>
27
<h3><strong>3. Baris pertama dan kedua disebut dengan sampiran</strong></h3>
28
<p><strong>Baris pertama dan kedua pada pantun merupakan pengantar</strong>puitis yang jenaka. Pengantar tersebut biasanya tidak berhubungan dengan isi, namun menjabarkan tentang peristiwa ataupun kebiasaan yang terjadi di masyarakat.</p>
28
<p><strong>Baris pertama dan kedua pada pantun merupakan pengantar</strong>puitis yang jenaka. Pengantar tersebut biasanya tidak berhubungan dengan isi, namun menjabarkan tentang peristiwa ataupun kebiasaan yang terjadi di masyarakat.</p>
29
<p>Senyummu menandakan penuh tanya (sampiran) Hilangnya bahagia dalam tawamu (sampiran)</p>
29
<p>Senyummu menandakan penuh tanya (sampiran) Hilangnya bahagia dalam tawamu (sampiran)</p>
30
<h3><strong>4. Baris ketiga dan keempat disebut dengan isi</strong></h3>
30
<h3><strong>4. Baris ketiga dan keempat disebut dengan isi</strong></h3>
31
<p><strong>Pada bagian isi, terdapat pesan utama yang ingin diungkapkan</strong>dalam satu bait pantun. Walaupun isi tidak berhubungan langsung dengan sampiran, namun sebaiknya ada kata-kata pada sampiran yang merupakan cermin dari isi yang hendak disampaikan.</p>
31
<p><strong>Pada bagian isi, terdapat pesan utama yang ingin diungkapkan</strong>dalam satu bait pantun. Walaupun isi tidak berhubungan langsung dengan sampiran, namun sebaiknya ada kata-kata pada sampiran yang merupakan cermin dari isi yang hendak disampaikan.</p>
32
<p>Selamat bermalam minggu semuanya (isi pantun) Semoga rindu menuai temu (isi pantun)</p>
32
<p>Selamat bermalam minggu semuanya (isi pantun) Semoga rindu menuai temu (isi pantun)</p>
33
<h3><strong>5. Rima (persamaan bunyi atau persajakannya) adalah a-b-a-b</strong></h3>
33
<h3><strong>5. Rima (persamaan bunyi atau persajakannya) adalah a-b-a-b</strong></h3>
34
<p>Rima atau sajak adalah kesamaan bunyi yang terdapat dalam puisi. Biasanya, jenis-jenis puisi lama kental akan rima, termasuk pantun. Yang dimaksud dengan rima a-b-a-b adalah kesamaan bunyi antara baris pertama dan ketiga serta baris kedua dan keempat.</p>
34
<p>Rima atau sajak adalah kesamaan bunyi yang terdapat dalam puisi. Biasanya, jenis-jenis puisi lama kental akan rima, termasuk pantun. Yang dimaksud dengan rima a-b-a-b adalah kesamaan bunyi antara baris pertama dan ketiga serta baris kedua dan keempat.</p>
35
<p>Senyummu menandakan penuh ta<strong>nya</strong>Hilangnya bahagia dalam tawamu Selamat bermalam minggu semua<strong>nya</strong>Semoga rindu menuai temu</p>
35
<p>Senyummu menandakan penuh ta<strong>nya</strong>Hilangnya bahagia dalam tawamu Selamat bermalam minggu semua<strong>nya</strong>Semoga rindu menuai temu</p>
36
<p>-</p>
36
<p>-</p>
37
<p>Mau belajar dengan fokus dan berinteraksi langsung dengan tutornya? Kamu boleh banget gabung di<a><strong>Ruangguru Privat</strong></a>. Semua pertanyaanmu akan dijawab dengan guru yang berkompeten di bidangnya masing-masing!</p>
37
<p>Mau belajar dengan fokus dan berinteraksi langsung dengan tutornya? Kamu boleh banget gabung di<a><strong>Ruangguru Privat</strong></a>. Semua pertanyaanmu akan dijawab dengan guru yang berkompeten di bidangnya masing-masing!</p>
38
<p>Belajar nggak cuma menyenangkan, tapi kamu juga bakal diajari konsepnya sampai paham! Para pengajar di Ruangguru Privat juga sudah terstandarisasi kualitasnya, loh. Kamu juga bisa pilih nih, mau diajarkan secara langsung (<em>offline</em>) atau daring (<em>online</em>). Fleksibel, kan? Untuk info lebih lanjut, cuss klik link berikut!</p>
38
<p>Belajar nggak cuma menyenangkan, tapi kamu juga bakal diajari konsepnya sampai paham! Para pengajar di Ruangguru Privat juga sudah terstandarisasi kualitasnya, loh. Kamu juga bisa pilih nih, mau diajarkan secara langsung (<em>offline</em>) atau daring (<em>online</em>). Fleksibel, kan? Untuk info lebih lanjut, cuss klik link berikut!</p>
39
<h2><strong>Fungsi Pantun</strong></h2>
39
<h2><strong>Fungsi Pantun</strong></h2>
40
<p>Sebagai salah satu jenis puisi lama yang masih eksis di masa sekarang, pantun memiliki beberapa fungsi, yaitu: </p>
40
<p>Sebagai salah satu jenis puisi lama yang masih eksis di masa sekarang, pantun memiliki beberapa fungsi, yaitu: </p>
41
<h3><strong>1. Sarana Hiburan</strong></h3>
41
<h3><strong>1. Sarana Hiburan</strong></h3>
42
<p>Pantun sering digunakan sebagai bentuk hiburan, terutama dalam acara-acara sosial, pertemuan keluarga, atau pertunjukan seni tradisional.<em>Gak</em>heran ya, karena kreativitas dalam penyusunan pantun dan keindahan rima yang diciptakan dapat memberikan kesenangan kepada pendengar.</p>
42
<p>Pantun sering digunakan sebagai bentuk hiburan, terutama dalam acara-acara sosial, pertemuan keluarga, atau pertunjukan seni tradisional.<em>Gak</em>heran ya, karena kreativitas dalam penyusunan pantun dan keindahan rima yang diciptakan dapat memberikan kesenangan kepada pendengar.</p>
43
<h3><b>2. Pendidikan</b></h3>
43
<h3><b>2. Pendidikan</b></h3>
44
<p>Pantun dapat mengandung nilai-nilai kehidupan, petuah, atau ajaran moral. Dengan menggunakan bahasa yang kreatif, pantun dapat digunakan sebagai sarana pendidikan informal untuk menyampaikan pesan-pesan positif kepada pendengarnya.</p>
44
<p>Pantun dapat mengandung nilai-nilai kehidupan, petuah, atau ajaran moral. Dengan menggunakan bahasa yang kreatif, pantun dapat digunakan sebagai sarana pendidikan informal untuk menyampaikan pesan-pesan positif kepada pendengarnya.</p>
45
<h3><b>3. Ekspresi Perasaan</b></h3>
45
<h3><b>3. Ekspresi Perasaan</b></h3>
46
<p>Pantun sering digunakan untuk menyampaikan perasaan cinta, kebahagiaan, kesedihan, atau sindiran. Gaya bahasa yang khas dalam pantun memberikan ruang bagi ekspresi perasaan secara indah dan berima.</p>
46
<p>Pantun sering digunakan untuk menyampaikan perasaan cinta, kebahagiaan, kesedihan, atau sindiran. Gaya bahasa yang khas dalam pantun memberikan ruang bagi ekspresi perasaan secara indah dan berima.</p>
47
<h3><b>4. Penguatan Bahasa dan Sastra</b></h3>
47
<h3><b>4. Penguatan Bahasa dan Sastra</b></h3>
48
<p>Penggunaan pantun dapat membantu memperkaya dan memperkuat penggunaan bahasa serta kekayaan sastra. Pantun memungkinkan seseorang untuk bermain dengan kata-kata dan menyusunnya secara kreatif.</p>
48
<p>Penggunaan pantun dapat membantu memperkaya dan memperkuat penggunaan bahasa serta kekayaan sastra. Pantun memungkinkan seseorang untuk bermain dengan kata-kata dan menyusunnya secara kreatif.</p>
49
<h3><b>5. Warisan Budaya</b></h3>
49
<h3><b>5. Warisan Budaya</b></h3>
50
<p>Pantun berperan dalam melestarikan dan mewariskan warisan budaya. Dengan menyampaikan pantun, tradisi lisan dapat dijaga dan dilestarikan dari satu generasi ke generasi berikutnya.</p>
50
<p>Pantun berperan dalam melestarikan dan mewariskan warisan budaya. Dengan menyampaikan pantun, tradisi lisan dapat dijaga dan dilestarikan dari satu generasi ke generasi berikutnya.</p>
51
<h3><b>6. Komunikasi Tradisional</b></h3>
51
<h3><b>6. Komunikasi Tradisional</b></h3>
52
<p>Pantun juga dapat digunakan sebagai bentuk komunikasi tradisional di masyarakat tertentu. Dalam konteks ini, pantun menjadi sarana untuk berbagi cerita, memperingatkan, atau menyampaikan pesan-pesan penting.</p>
52
<p>Pantun juga dapat digunakan sebagai bentuk komunikasi tradisional di masyarakat tertentu. Dalam konteks ini, pantun menjadi sarana untuk berbagi cerita, memperingatkan, atau menyampaikan pesan-pesan penting.</p>
53
<p><em>Oiya guys</em>, fungsi-fungsi yang dipaparkan barusan bisa saling tumpang tindih ya, tergantung pada situasi dan tempat ketika pantun tersebut digunakan. </p>
53
<p><em>Oiya guys</em>, fungsi-fungsi yang dipaparkan barusan bisa saling tumpang tindih ya, tergantung pada situasi dan tempat ketika pantun tersebut digunakan. </p>
54
<p>Pantun juga memiliki beberapa jenis<em>lho, guys</em>. Ada apa saja ya?</p>
54
<p>Pantun juga memiliki beberapa jenis<em>lho, guys</em>. Ada apa saja ya?</p>
55
<p><strong>Baca Juga:<a>Contoh Cerita Fantasi Pendek yang Menarik dan Inspiratif</a></strong></p>
55
<p><strong>Baca Juga:<a>Contoh Cerita Fantasi Pendek yang Menarik dan Inspiratif</a></strong></p>
56
<h2><b>Jenis-Jenis Pantun</b></h2>
56
<h2><b>Jenis-Jenis Pantun</b></h2>
57
<p>Jenis-jenis pantun ini terbagi menjadi dua<em>guys</em>, ada yang berdasarkan isinya dan ada pula yang berdasarkan bentuknya. Kita bahas jenis pantun berdasarkan isinya terlebih dahulu, ya. </p>
57
<p>Jenis-jenis pantun ini terbagi menjadi dua<em>guys</em>, ada yang berdasarkan isinya dan ada pula yang berdasarkan bentuknya. Kita bahas jenis pantun berdasarkan isinya terlebih dahulu, ya. </p>
58
<h3><b>1. Jenis Pantun Berdasarkan Isinya</b></h3>
58
<h3><b>1. Jenis Pantun Berdasarkan Isinya</b></h3>
59
<ul><li><h4><b>Pantun teka-teki</b></h4>
59
<ul><li><h4><b>Pantun teka-teki</b></h4>
60
</li>
60
</li>
61
</ul><p>Pantun teka-teki memiliki ciri khas khusus di bagian isinya, yakni<strong>diakhiri dengan pertanyaan pada larik terakhir</strong>. Tujuan dari pantun ini umumnya untuk hiburan dan mengakrabkan kebersamaan.</p>
61
</ul><p>Pantun teka-teki memiliki ciri khas khusus di bagian isinya, yakni<strong>diakhiri dengan pertanyaan pada larik terakhir</strong>. Tujuan dari pantun ini umumnya untuk hiburan dan mengakrabkan kebersamaan.</p>
62
<ul><li><h4><b>Pantun berkasih-kasihan atau Pantun cinta</b></h4>
62
<ul><li><h4><b>Pantun berkasih-kasihan atau Pantun cinta</b></h4>
63
</li>
63
</li>
64
</ul><p>Isi dari jenis pantun yang satu ini<strong>erat kaitannya dengan cinta dan kasih sayang</strong>. Umumnya, pantun berkasih-kasihan tenar di kalangan muda-mudi untuk menyampaikan perasaan.</p>
64
</ul><p>Isi dari jenis pantun yang satu ini<strong>erat kaitannya dengan cinta dan kasih sayang</strong>. Umumnya, pantun berkasih-kasihan tenar di kalangan muda-mudi untuk menyampaikan perasaan.</p>
65
<ul><li><h4><b>Pantun agama</b></h4>
65
<ul><li><h4><b>Pantun agama</b></h4>
66
</li>
66
</li>
67
</ul><p>Jenis pantun ini memiliki kandungan isi yang membahas<strong>mengenai manusia dengan pencipta-Nya</strong>. Tujuannya untuk memberikan pesan moral dan didikan kepada pendengar dan pembaca. Tema di pantun agama lebih spesifik kepada nilai-nilai dan prinsip agama tertentu.</p>
67
</ul><p>Jenis pantun ini memiliki kandungan isi yang membahas<strong>mengenai manusia dengan pencipta-Nya</strong>. Tujuannya untuk memberikan pesan moral dan didikan kepada pendengar dan pembaca. Tema di pantun agama lebih spesifik kepada nilai-nilai dan prinsip agama tertentu.</p>
68
<ul><li><h4><b>Pantun jenaka</b></h4>
68
<ul><li><h4><b>Pantun jenaka</b></h4>
69
</li>
69
</li>
70
</ul><p>Sesuai dengan namanya, pantun ini<strong>memiliki kandungan isi yang lucu dan menarik</strong>. Tujuannya untuk memberi hiburan kepada orang yang mendengar atau membacanya. Pantun jenaka juga sering digunakan untuk menyampaikan sindiran akan kondisi masyarakat.</p>
70
</ul><p>Sesuai dengan namanya, pantun ini<strong>memiliki kandungan isi yang lucu dan menarik</strong>. Tujuannya untuk memberi hiburan kepada orang yang mendengar atau membacanya. Pantun jenaka juga sering digunakan untuk menyampaikan sindiran akan kondisi masyarakat.</p>
71
<ul><li><h4><b>Pantun nasihat</b></h4>
71
<ul><li><h4><b>Pantun nasihat</b></h4>
72
</li>
72
</li>
73
</ul><p>Pada dasarnya, pantun dibuat untuk memberikan anjuran dan imbauan kepada seseorang atau masyarakat. Jadi, tema isi pantun yang paling banyak dijumpai adalah pantun nasihat. Pantun ini memiliki isi yang bertujuan untuk menyampaikan pesan moral.</p>
73
</ul><p>Pada dasarnya, pantun dibuat untuk memberikan anjuran dan imbauan kepada seseorang atau masyarakat. Jadi, tema isi pantun yang paling banyak dijumpai adalah pantun nasihat. Pantun ini memiliki isi yang bertujuan untuk menyampaikan pesan moral.</p>
74
<h3><b>2. Jenis Pantun Berdasarkan Bentuknya</b></h3>
74
<h3><b>2. Jenis Pantun Berdasarkan Bentuknya</b></h3>
75
<p>Sementara, jika dilihat dari bentuknya, pantun terbagi dalam beberapa jenis, yaitu:</p>
75
<p>Sementara, jika dilihat dari bentuknya, pantun terbagi dalam beberapa jenis, yaitu:</p>
76
<ul><li><h4><b>Pantun Biasa</b></h4>
76
<ul><li><h4><b>Pantun Biasa</b></h4>
77
</li>
77
</li>
78
</ul><p>Pantun biasa adalah pantun yang paling sering ditemui karena memiliki ciri-ciri pada umumnya. </p>
78
</ul><p>Pantun biasa adalah pantun yang paling sering ditemui karena memiliki ciri-ciri pada umumnya. </p>
79
<ul><li><h4><b>Pantun Berkait</b></h4>
79
<ul><li><h4><b>Pantun Berkait</b></h4>
80
</li>
80
</li>
81
</ul><p>Pantun berkait juga bisa disebut pantun berantai, meskipun ada juga yang menamakannya<strong>seloka</strong>. Pantun berkait terdiri dari beberapa bait yang saling sambung menyambung. </p>
81
</ul><p>Pantun berkait juga bisa disebut pantun berantai, meskipun ada juga yang menamakannya<strong>seloka</strong>. Pantun berkait terdiri dari beberapa bait yang saling sambung menyambung. </p>
82
<ul><li><h4><b>Talibun</b></h4>
82
<ul><li><h4><b>Talibun</b></h4>
83
</li>
83
</li>
84
</ul><p><strong>Talibun</strong>termasuk ke dalam pantun juga, tetapi terdiri atas enam, delapan, atau sepuluh baris. Jika terdiri dari enam baris, maka yang tiga baris merupakan sampiran, dan tiga baris berikutnya merupakan isi. </p>
84
</ul><p><strong>Talibun</strong>termasuk ke dalam pantun juga, tetapi terdiri atas enam, delapan, atau sepuluh baris. Jika terdiri dari enam baris, maka yang tiga baris merupakan sampiran, dan tiga baris berikutnya merupakan isi. </p>
85
<ul><li><h4><b>Pantun Kilat atau Karmina</b></h4>
85
<ul><li><h4><b>Pantun Kilat atau Karmina</b></h4>
86
</li>
86
</li>
87
</ul><p>Pantun kilat atau karmina hanya terdiri dari dua baris saja, baris pertama merupakan sampiran dan baris kedua merupakan isi. </p>
87
</ul><p>Pantun kilat atau karmina hanya terdiri dari dua baris saja, baris pertama merupakan sampiran dan baris kedua merupakan isi. </p>
88
<p>Gimana, kamu sudah mulai kepancing buat bikin pantun belum<em>guys</em>? Sebelum kamu bikin pantunnya, yuk simak terlebih dahulu struktur dari pantun!</p>
88
<p>Gimana, kamu sudah mulai kepancing buat bikin pantun belum<em>guys</em>? Sebelum kamu bikin pantunnya, yuk simak terlebih dahulu struktur dari pantun!</p>
89
<h2><b>Struktur Pantun</b></h2>
89
<h2><b>Struktur Pantun</b></h2>
90
<p>Sebenarnya, kalau kamu perhatikan pembahasan sebelumnya, kamu sudah bisa terbayang apa saja struktur pantun. Jadi<em>guys</em>, secara garis besar, struktur pantun terbagi jadi dua, yaitu sampiran dan isi. </p>
90
<p>Sebenarnya, kalau kamu perhatikan pembahasan sebelumnya, kamu sudah bisa terbayang apa saja struktur pantun. Jadi<em>guys</em>, secara garis besar, struktur pantun terbagi jadi dua, yaitu sampiran dan isi. </p>
91
<h3><b>1. Sampiran</b></h3>
91
<h3><b>1. Sampiran</b></h3>
92
<p>Sampiran berfungsi menyiapkan rima dan irama yang dapat membantu pendengar memahami isi pantun. Biasanya, sampiran memang tidak memiliki hubungan dengan isi pantun, tapi terkadang sampiran dapat memberi bayangan terhadap isi pantun.</p>
92
<p>Sampiran berfungsi menyiapkan rima dan irama yang dapat membantu pendengar memahami isi pantun. Biasanya, sampiran memang tidak memiliki hubungan dengan isi pantun, tapi terkadang sampiran dapat memberi bayangan terhadap isi pantun.</p>
93
<h3><b>2. Isi</b></h3>
93
<h3><b>2. Isi</b></h3>
94
<p>Isi pantun merupakan bagian inti yang berisi maksud dan pikiran yang akan disampaikan si pembuat pantun. Dalam hal ini, nilai moral atau tujuan yang ingin diutarakan terdapat di isi pantun. </p>
94
<p>Isi pantun merupakan bagian inti yang berisi maksud dan pikiran yang akan disampaikan si pembuat pantun. Dalam hal ini, nilai moral atau tujuan yang ingin diutarakan terdapat di isi pantun. </p>
95
<p><strong>Baca Juga:<a>Contoh Syair Berbagai Macam Tema Beserta Ciri & Jenisnya</a></strong></p>
95
<p><strong>Baca Juga:<a>Contoh Syair Berbagai Macam Tema Beserta Ciri & Jenisnya</a></strong></p>
96
<h2><b>Kaidah Kebahasaan Pantun</b></h2>
96
<h2><b>Kaidah Kebahasaan Pantun</b></h2>
97
<p><em>Eits</em>, sebelum kamu membuat pantun, kamu juga boleh perhatikan terlebih dahulu kaidah kebahasaan yang digunakan dalam pantun.<em>Markimak</em>, mari kita simak~</p>
97
<p><em>Eits</em>, sebelum kamu membuat pantun, kamu juga boleh perhatikan terlebih dahulu kaidah kebahasaan yang digunakan dalam pantun.<em>Markimak</em>, mari kita simak~</p>
98
<h3><b>1. Konjungsi</b></h3>
98
<h3><b>1. Konjungsi</b></h3>
99
<p>Pertama ada konjungsi. Singkatnya, konjungsi adalah<strong>kata penghubung</strong>,<em>guys</em>. Konjungsi biasanya menghubungkan<strong>antarkata</strong>,<strong>antarfrasa</strong>,<strong>antarklausa</strong>, atau<strong>antarkalimat</strong>. Nah, dalam pantun, biasanya menggunakan tiga jenis konjungsi, yaitu:</p>
99
<p>Pertama ada konjungsi. Singkatnya, konjungsi adalah<strong>kata penghubung</strong>,<em>guys</em>. Konjungsi biasanya menghubungkan<strong>antarkata</strong>,<strong>antarfrasa</strong>,<strong>antarklausa</strong>, atau<strong>antarkalimat</strong>. Nah, dalam pantun, biasanya menggunakan tiga jenis konjungsi, yaitu:</p>
100
<h4><b>a. Konjungsi Tujuan</b></h4>
100
<h4><b>a. Konjungsi Tujuan</b></h4>
101
<p>Konjungsi yang digunakan dalam<strong>konjungsi tujuan</strong>biasanya dimaksudkan untuk menyampaikan tujuan suatu peristiwa atau tindakan. Contoh dari konjungsi tujuan menggunakan kata<strong>agar</strong>,<strong>supaya</strong>, dan<strong>untuk</strong>. </p>
101
<p>Konjungsi yang digunakan dalam<strong>konjungsi tujuan</strong>biasanya dimaksudkan untuk menyampaikan tujuan suatu peristiwa atau tindakan. Contoh dari konjungsi tujuan menggunakan kata<strong>agar</strong>,<strong>supaya</strong>, dan<strong>untuk</strong>. </p>
102
<p>Contoh pantunnya kurang lebih seperti ini<em>guys</em>:<b></b></p>
102
<p>Contoh pantunnya kurang lebih seperti ini<em>guys</em>:<b></b></p>
103
<p><em>Raja gagah lagi sakti, laksamana pergi berperang.<strong>Supaya</strong>tidak sesal di hati, janganlah kena perdaya orang.</em></p>
103
<p><em>Raja gagah lagi sakti, laksamana pergi berperang.<strong>Supaya</strong>tidak sesal di hati, janganlah kena perdaya orang.</em></p>
104
<h4><strong>b. Konjungsi Penyebab</strong></h4>
104
<h4><strong>b. Konjungsi Penyebab</strong></h4>
105
<p><b></b><b></b><b></b><b></b><strong>Konjungsi penyebab</strong>adalah kata hubung yang menyampaikan<strong>hubungan sebab-akibat</strong>dari suatu peristiwa atau tindakan. Nah, konjungsi ini punya nama lain ,yaitu<strong>konjungsi kausalitas</strong><b>. </b><b></b></p>
105
<p><b></b><b></b><b></b><b></b><strong>Konjungsi penyebab</strong>adalah kata hubung yang menyampaikan<strong>hubungan sebab-akibat</strong>dari suatu peristiwa atau tindakan. Nah, konjungsi ini punya nama lain ,yaitu<strong>konjungsi kausalitas</strong><b>. </b><b></b></p>
106
<p>Biasanya, konjungsi penyebab menggunakan kata<b>karena</b>dan<b>sebab sehingga</b>.</p>
106
<p>Biasanya, konjungsi penyebab menggunakan kata<b>karena</b>dan<b>sebab sehingga</b>.</p>
107
<p>Kalau diaplikasikan dalam pantun, kurang lebih seperti ini nih:</p>
107
<p>Kalau diaplikasikan dalam pantun, kurang lebih seperti ini nih:</p>
108
<p><em>Tanam halia tiada tumbuh, bunga rampai di dalam peti. Masakan sitti tiada sungguh,<strong>karena</strong>sudah maksud di hati.</em></p>
108
<p><em>Tanam halia tiada tumbuh, bunga rampai di dalam peti. Masakan sitti tiada sungguh,<strong>karena</strong>sudah maksud di hati.</em></p>
109
<h4><b>c. Konjungsi Syarat</b></h4>
109
<h4><b>c. Konjungsi Syarat</b></h4>
110
<p>Nah, terakhir ada<strong>konjungsi syarat</strong>. Dalam konjungsi ini, kata penghubung yang digunakan dimaksudkan untuk<strong>menyampaikan suatu syarat</strong>. Maka dari itu, biasanya kata penghubung yang digunakan adalah<strong>jika</strong>dan<strong>kalau</strong><b>. </b></p>
110
<p>Nah, terakhir ada<strong>konjungsi syarat</strong>. Dalam konjungsi ini, kata penghubung yang digunakan dimaksudkan untuk<strong>menyampaikan suatu syarat</strong>. Maka dari itu, biasanya kata penghubung yang digunakan adalah<strong>jika</strong>dan<strong>kalau</strong><b>. </b></p>
111
<p>Misalnya seperti ini nih kalau di dalam pantun:</p>
111
<p>Misalnya seperti ini nih kalau di dalam pantun:</p>
112
<p><em>dokter beri obat yang manjur aku pun bisa siuman kemudian jadilah orang yang jujur<strong>kalau</strong>ingin disenangi teman</em></p>
112
<p><em>dokter beri obat yang manjur aku pun bisa siuman kemudian jadilah orang yang jujur<strong>kalau</strong>ingin disenangi teman</em></p>
113
<h3><b>2. Ragam Kalimat</b></h3>
113
<h3><b>2. Ragam Kalimat</b></h3>
114
<p>Selain konjungsi, dalam pantun, ada lima ragam kalimat yang biasanya terdapat dalam isinya. Ada<strong>kalimat perintah, kalimat saran, kalimat ajakan, kalimat larangan,</strong>dan<strong>kalimat pernyataan</strong>. Yuk bahas satu per satu!<b></b></p>
114
<p>Selain konjungsi, dalam pantun, ada lima ragam kalimat yang biasanya terdapat dalam isinya. Ada<strong>kalimat perintah, kalimat saran, kalimat ajakan, kalimat larangan,</strong>dan<strong>kalimat pernyataan</strong>. Yuk bahas satu per satu!<b></b></p>
115
<h4><b>a. Kalimat Perintah</b></h4>
115
<h4><b>a. Kalimat Perintah</b></h4>
116
<p>Kalimat perintah adalah kalimat yang mengandung makna<strong>perintah</strong>atau<strong>permohonan</strong>, agar orang lain melakukan sesuatu,<strong>sesuai keinginan penutur atau penulisnya</strong><b>. </b></p>
116
<p>Kalimat perintah adalah kalimat yang mengandung makna<strong>perintah</strong>atau<strong>permohonan</strong>, agar orang lain melakukan sesuatu,<strong>sesuai keinginan penutur atau penulisnya</strong><b>. </b></p>
117
<p>Dalam kalimat perintah, biasanya<strong>menggunakan tanda seru (!)</strong>di akhir kalimat. Selain itu, bisa juga<strong>menggunakan partikel {-lah}</strong>pada kata tertentu di dalam kalimat tersebut. </p>
117
<p>Dalam kalimat perintah, biasanya<strong>menggunakan tanda seru (!)</strong>di akhir kalimat. Selain itu, bisa juga<strong>menggunakan partikel {-lah}</strong>pada kata tertentu di dalam kalimat tersebut. </p>
118
<p>Misalnya seperti ini nih:</p>
118
<p>Misalnya seperti ini nih:</p>
119
<p><em>Buah kosta di atas papan, elang terbang dari angkasa.<strong>Janganlah</strong>kita harap-harapan, abang timbang apalah rasa. </em><b></b></p>
119
<p><em>Buah kosta di atas papan, elang terbang dari angkasa.<strong>Janganlah</strong>kita harap-harapan, abang timbang apalah rasa. </em><b></b></p>
120
<h4><strong>b. Kalimat Saran</strong></h4>
120
<h4><strong>b. Kalimat Saran</strong></h4>
121
<p>Kalau dilihat dari namanya, kita bisa lihat nih<em>guys</em>, kalau kalimat saran berisi<strong>saran, pendapat, usul,</strong>atau<strong>anjuran</strong>kepada orang lain. Biasanya, kata yang digunakan pada kalimat ini adalah<strong>sebaiknya</strong>atau<strong>seharusnya</strong>. </p>
121
<p>Kalau dilihat dari namanya, kita bisa lihat nih<em>guys</em>, kalau kalimat saran berisi<strong>saran, pendapat, usul,</strong>atau<strong>anjuran</strong>kepada orang lain. Biasanya, kata yang digunakan pada kalimat ini adalah<strong>sebaiknya</strong>atau<strong>seharusnya</strong>. </p>
122
<p>Contoh pantunnya seperti ini,<em>guys</em>:</p>
122
<p>Contoh pantunnya seperti ini,<em>guys</em>:</p>
123
<p><em>Jalan-jalan untuk membeli benang Barang yang dipilih harus kuat Kalau mau selalu menang<strong>Sebaiknya</strong>selalu berusaha dan semangat</em><b></b></p>
123
<p><em>Jalan-jalan untuk membeli benang Barang yang dipilih harus kuat Kalau mau selalu menang<strong>Sebaiknya</strong>selalu berusaha dan semangat</em><b></b></p>
124
<h4><strong>c. Kalimat Ajakan</strong></h4>
124
<h4><strong>c. Kalimat Ajakan</strong></h4>
125
<p>Kalau kalimat ajakan, tentu saja isinya berisi<strong>ajakan</strong>atau<strong>anjuran</strong>agar orang lain mau melakukan suatu perbuatan. Biasanya, kata yang digunakan pada kalimat ini adalah<strong>mari</strong>dan<strong>ayo</strong>. </p>
125
<p>Kalau kalimat ajakan, tentu saja isinya berisi<strong>ajakan</strong>atau<strong>anjuran</strong>agar orang lain mau melakukan suatu perbuatan. Biasanya, kata yang digunakan pada kalimat ini adalah<strong>mari</strong>dan<strong>ayo</strong>. </p>
126
<p>Kalau dalam pantun, contoh kalimatnya seperti ini:</p>
126
<p>Kalau dalam pantun, contoh kalimatnya seperti ini:</p>
127
<p><em>adik cantik memakai pita di rambut yang hitam dan lurus<strong>mari</strong>jaga lingkungan kita demi generasi penerus</em><b></b></p>
127
<p><em>adik cantik memakai pita di rambut yang hitam dan lurus<strong>mari</strong>jaga lingkungan kita demi generasi penerus</em><b></b></p>
128
<h4><strong>d. Kalimat Larangan</strong></h4>
128
<h4><strong>d. Kalimat Larangan</strong></h4>
129
<p>Kalimat selanjutnya yang terdapat pada pantun adalah<strong>kalimat larangan</strong>. Kalimat ini isinya berupa<strong>larangan</strong>untuk melakukan suatu perbuatan. Kata yang digunakan dalam kalimat larangan ini adalah<strong>jangan</strong>atau<strong>hindari</strong>. </p>
129
<p>Kalimat selanjutnya yang terdapat pada pantun adalah<strong>kalimat larangan</strong>. Kalimat ini isinya berupa<strong>larangan</strong>untuk melakukan suatu perbuatan. Kata yang digunakan dalam kalimat larangan ini adalah<strong>jangan</strong>atau<strong>hindari</strong>. </p>
130
<p>Ini dia contoh pantun yang menggunakan kalimat larangan:</p>
130
<p>Ini dia contoh pantun yang menggunakan kalimat larangan:</p>
131
<p><em>Badan lelah, kaki berdiri Baju robek terkena duri Jangan suka menyimpan iri Hidup tak tenang, tiada berseri</em></p>
131
<p><em>Badan lelah, kaki berdiri Baju robek terkena duri Jangan suka menyimpan iri Hidup tak tenang, tiada berseri</em></p>
132
<h4><strong>e. Kalimat Pernyataan</strong></h4>
132
<h4><strong>e. Kalimat Pernyataan</strong></h4>
133
<p>Ragam kalimat terakhir dalam pantun adalah<strong>kalimat pernyataan</strong>. Kalimat ini berisi<strong>informasi</strong>tentang suatu hal. Informasi yang tercantum bisa berupa<strong>kejadian</strong>atau<strong>nasihat</strong>.</p>
133
<p>Ragam kalimat terakhir dalam pantun adalah<strong>kalimat pernyataan</strong>. Kalimat ini berisi<strong>informasi</strong>tentang suatu hal. Informasi yang tercantum bisa berupa<strong>kejadian</strong>atau<strong>nasihat</strong>.</p>
134
<p>Yuk, kita lihat contoh pantunnya:</p>
134
<p>Yuk, kita lihat contoh pantunnya:</p>
135
<p><em>ibu pulang membawa manggis kumakan lahap sampai sakit gigi<strong>tiap malam nenek menangis</strong></em><em><strong>teringat kakek yang sudah pergi</strong></em></p>
135
<p><em>ibu pulang membawa manggis kumakan lahap sampai sakit gigi<strong>tiap malam nenek menangis</strong></em><em><strong>teringat kakek yang sudah pergi</strong></em></p>
136
<p><em>Wih</em>, lumayan banyak juga ya kaidah kebahasaan yang perlu diperhatikan dalam membuat pantun! Supaya kamu semakin mendapat inspirasi dalam membuat pantun, yuk simak berbagai macam contoh pantun di bawah ini!</p>
136
<p><em>Wih</em>, lumayan banyak juga ya kaidah kebahasaan yang perlu diperhatikan dalam membuat pantun! Supaya kamu semakin mendapat inspirasi dalam membuat pantun, yuk simak berbagai macam contoh pantun di bawah ini!</p>
137
<h2><b>Contoh Pantun</b></h2>
137
<h2><b>Contoh Pantun</b></h2>
138
<h3><strong>Contoh Pantun Teka Teki</strong></h3>
138
<h3><strong>Contoh Pantun Teka Teki</strong></h3>
139
<p>1.</p>
139
<p>1.</p>
140
<p><em>Tugal padi jangan bertangguh Kunyit kebun siapa galinya? Kalau tuan cerdik sungguh Langit tergantung mana talinya?</em></p>
140
<p><em>Tugal padi jangan bertangguh Kunyit kebun siapa galinya? Kalau tuan cerdik sungguh Langit tergantung mana talinya?</em></p>
141
<p>2.</p>
141
<p>2.</p>
142
<p><em>Di ladang hijau rumput bergoyang,</em><em>Seekor kunang-kunang pun berputar-putar. Siapakah dia yang terang menerang, Menerangi malam menjadi terang benderang?</em></p>
142
<p><em>Di ladang hijau rumput bergoyang,</em><em>Seekor kunang-kunang pun berputar-putar. Siapakah dia yang terang menerang, Menerangi malam menjadi terang benderang?</em></p>
143
<h3><strong>Contoh Pantun Berkasih-Kasihan atau Pantun Cinta</strong></h3>
143
<h3><strong>Contoh Pantun Berkasih-Kasihan atau Pantun Cinta</strong></h3>
144
<p>3.</p>
144
<p>3.</p>
145
<p><em>Coba-coba menanam mumbang</em><em>Moga-moga tumbuh kelapa Coba-coba bertanam sayang Moga-moga menjadi cinta</em></p>
145
<p><em>Coba-coba menanam mumbang</em><em>Moga-moga tumbuh kelapa Coba-coba bertanam sayang Moga-moga menjadi cinta</em></p>
146
<p>4.</p>
146
<p>4.</p>
147
<p><em>Anak panah gugur berderai,</em><em>kina di papan kayu jati. Tidak pernah kita bercerai, dari hidup sampaikan mati.</em></p>
147
<p><em>Anak panah gugur berderai,</em><em>kina di papan kayu jati. Tidak pernah kita bercerai, dari hidup sampaikan mati.</em></p>
148
<p>5.</p>
148
<p>5.</p>
149
<p><em>Anak gurda terbang sekawan,</em><em>halia terletak atas papan. Hilang jiwa beta syukurkan, setia nan tidak beta ubahkan. </em></p>
149
<p><em>Anak gurda terbang sekawan,</em><em>halia terletak atas papan. Hilang jiwa beta syukurkan, setia nan tidak beta ubahkan. </em></p>
150
<p>6.</p>
150
<p>6.</p>
151
<p><em>Air mawar di dalam cangkir,</em><em>persembahan raja perempuan. Dari awal sampai ke akhir, kasih terserap padamu tuan.</em></p>
151
<p><em>Air mawar di dalam cangkir,</em><em>persembahan raja perempuan. Dari awal sampai ke akhir, kasih terserap padamu tuan.</em></p>
152
<h3><strong>Contoh Pantun Agama</strong></h3>
152
<h3><strong>Contoh Pantun Agama</strong></h3>
153
<p>7.</p>
153
<p>7.</p>
154
<p><em>Asam kandis asam gelugur,</em><em>ketiga asam riang-riang. Menangis di pintu kubur, teringat badan tak pernah sembahyang.</em></p>
154
<p><em>Asam kandis asam gelugur,</em><em>ketiga asam riang-riang. Menangis di pintu kubur, teringat badan tak pernah sembahyang.</em></p>
155
<p>8.</p>
155
<p>8.</p>
156
<p><em>Baik berburu ke seberang,</em><em>rusa banyak di dalam rimba. Baik berguru kita sembahyang, doa banyak dalam dunia.</em></p>
156
<p><em>Baik berburu ke seberang,</em><em>rusa banyak di dalam rimba. Baik berguru kita sembahyang, doa banyak dalam dunia.</em></p>
157
<p>9.</p>
157
<p>9.</p>
158
<p><em>Anak udang mati dituba,</em><em>lada sulah masak dilurut. Perbuatan haram jangan dicoba, sabda rasul hendak diturut. </em></p>
158
<p><em>Anak udang mati dituba,</em><em>lada sulah masak dilurut. Perbuatan haram jangan dicoba, sabda rasul hendak diturut. </em></p>
159
<h3><strong>Contoh Pantun Jenaka</strong></h3>
159
<h3><strong>Contoh Pantun Jenaka</strong></h3>
160
<p>10.</p>
160
<p>10.</p>
161
<p><em>Tumbuh ilalang di semak-semak</em><em>Semak-semak lalu dibersihkan</em>The power of<em>emak-emak Sein ke kiri belok ke kanan</em></p>
161
<p><em>Tumbuh ilalang di semak-semak</em><em>Semak-semak lalu dibersihkan</em>The power of<em>emak-emak Sein ke kiri belok ke kanan</em></p>
162
<p>11.</p>
162
<p>11.</p>
163
<p><em>Bulan Agustus dan bulan Juli,</em><em>kapal Perancis bermuat bara. Alangkah bagusnya anak ini, mukanya putih bagai bara.</em></p>
163
<p><em>Bulan Agustus dan bulan Juli,</em><em>kapal Perancis bermuat bara. Alangkah bagusnya anak ini, mukanya putih bagai bara.</em></p>
164
<p>12.</p>
164
<p>12.</p>
165
<p><em>Pinang senawar dalam puan,</em><em>puan tembaga tepi suasa. Sayang benar saya ke tuan, tuan celaka saya tertawa.</em></p>
165
<p><em>Pinang senawar dalam puan,</em><em>puan tembaga tepi suasa. Sayang benar saya ke tuan, tuan celaka saya tertawa.</em></p>
166
<h3><strong>Contoh Pantun Nasihat</strong></h3>
166
<h3><strong>Contoh Pantun Nasihat</strong></h3>
167
<p>13.</p>
167
<p>13.</p>
168
<p><em>Pergi ke pantai siang bolong</em><em>Pakai motor punya si Parman Janganlah kau suka berbohong Jika tidak ingin dijauhi teman</em></p>
168
<p><em>Pergi ke pantai siang bolong</em><em>Pakai motor punya si Parman Janganlah kau suka berbohong Jika tidak ingin dijauhi teman</em></p>
169
<p>14.</p>
169
<p>14.</p>
170
<p><em>Ibu belanja pergi ke pasar</em><em>Beli apel yang warna merah Mari kita giat belajar Agar masa depan menjadi cerah</em></p>
170
<p><em>Ibu belanja pergi ke pasar</em><em>Beli apel yang warna merah Mari kita giat belajar Agar masa depan menjadi cerah</em></p>
171
<h3><strong>Contoh Pantun Biasa</strong></h3>
171
<h3><strong>Contoh Pantun Biasa</strong></h3>
172
<p>15.</p>
172
<p>15.</p>
173
<p><em>Air pasang bulan pun terang,</em><em>hanyutlah sampan dari Jawa. Jika datang hati yang bimbang, bagaikan hilang rasanya nyawa. </em></p>
173
<p><em>Air pasang bulan pun terang,</em><em>hanyutlah sampan dari Jawa. Jika datang hati yang bimbang, bagaikan hilang rasanya nyawa. </em></p>
174
<p>16.</p>
174
<p>16.</p>
175
<p><em>Tali ditarik tahan selembar,</em><em>putus tali di tepi rembat. Baik kubalik menahan sabar, putuslah hati hendak bertambat.</em></p>
175
<p><em>Tali ditarik tahan selembar,</em><em>putus tali di tepi rembat. Baik kubalik menahan sabar, putuslah hati hendak bertambat.</em></p>
176
<p>17.</p>
176
<p>17.</p>
177
<p><em>Udang ditangguk dalam kain,</em><em>kain kasa dari Belanda. Orang diikut mencari lain, putuslah harap hati adinda.</em></p>
177
<p><em>Udang ditangguk dalam kain,</em><em>kain kasa dari Belanda. Orang diikut mencari lain, putuslah harap hati adinda.</em></p>
178
<h3><strong>Contoh Pantun Berkait</strong></h3>
178
<h3><strong>Contoh Pantun Berkait</strong></h3>
179
<p>18.</p>
179
<p>18.</p>
180
<p><em>Anak ayam turun sepuluh</em><em>Mati satu tinggal sembilan Tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh Supaya engkau tidak ketinggalan </em></p>
180
<p><em>Anak ayam turun sepuluh</em><em>Mati satu tinggal sembilan Tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh Supaya engkau tidak ketinggalan </em></p>
181
<p><em>Anak ayam turun sembilan Mati satu tinggal delapan Ilmu boleh sedikit ketinggalan Tapi jangan sampai putus harapan</em></p>
181
<p><em>Anak ayam turun sembilan Mati satu tinggal delapan Ilmu boleh sedikit ketinggalan Tapi jangan sampai putus harapan</em></p>
182
<p><em>Anak ayam turun delapan Mati satu tinggal tujuh Hidup harus penuh harapan Jadikan itu jalan yang dituju</em></p>
182
<p><em>Anak ayam turun delapan Mati satu tinggal tujuh Hidup harus penuh harapan Jadikan itu jalan yang dituju</em></p>
183
<h3><strong>Contoh Talibun</strong></h3>
183
<h3><strong>Contoh Talibun</strong></h3>
184
<p>19.</p>
184
<p>19.</p>
185
<p><em>jadi pergi ke pekan,</em><em>yu beli belanak beli, ikan panjang beli dahulu. Kalau jadi engkau berjalan, ibu cari sanak pun cari, induk semang can dahulu.</em></p>
185
<p><em>jadi pergi ke pekan,</em><em>yu beli belanak beli, ikan panjang beli dahulu. Kalau jadi engkau berjalan, ibu cari sanak pun cari, induk semang can dahulu.</em></p>
186
<p>20.</p>
186
<p>20.</p>
187
<p><em>Kalau pandai berkain panjang,</em><em>lebih daripada kain sarung, jika pandai memakainya. Kalau pandai berinduk semang, lebih umpama bunda kandung, jika pandai membawakannya.</em></p>
187
<p><em>Kalau pandai berkain panjang,</em><em>lebih daripada kain sarung, jika pandai memakainya. Kalau pandai berinduk semang, lebih umpama bunda kandung, jika pandai membawakannya.</em></p>
188
<p>21.</p>
188
<p>21.</p>
189
<p><em>Kuning warnanya bunga pandan,</em><em>harum putih bunga melati, terletak di dalam cawan. Seboleh-boleh permintaan, jikalau boleh kendak kami, kemudian jua si pangkalan.</em></p>
189
<p><em>Kuning warnanya bunga pandan,</em><em>harum putih bunga melati, terletak di dalam cawan. Seboleh-boleh permintaan, jikalau boleh kendak kami, kemudian jua si pangkalan.</em></p>
190
<h3><strong>Contoh Pantun Kilat atau Karmina</strong></h3>
190
<h3><strong>Contoh Pantun Kilat atau Karmina</strong></h3>
191
<p>22.</p>
191
<p>22.</p>
192
<p><em>Gendang gendut tali kecapi</em><em>Kenyang perut senang hati</em></p>
192
<p><em>Gendang gendut tali kecapi</em><em>Kenyang perut senang hati</em></p>
193
<p>23.</p>
193
<p>23.</p>
194
<p><em>Minum sekoteng sama si raja,</em><em>Orangnya ganteng rajin bekerja.</em></p>
194
<p><em>Minum sekoteng sama si raja,</em><em>Orangnya ganteng rajin bekerja.</em></p>
195
<p>24.</p>
195
<p>24.</p>
196
<p><em>Dua sampan di atas papan,</em><em>Sudah tampan, hidupnya mapan.</em></p>
196
<p><em>Dua sampan di atas papan,</em><em>Sudah tampan, hidupnya mapan.</em></p>
197
<p>25.</p>
197
<p>25.</p>
198
<p><em>Sudah gaharu cendana pula</em><em>Sudah tahu masih bertanya pula</em></p>
198
<p><em>Sudah gaharu cendana pula</em><em>Sudah tahu masih bertanya pula</em></p>
199
<p>-</p>
199
<p>-</p>
200
<p>Itulah tadi materi<strong><a>Bahasa Indonesia kelas 7</a></strong>tentang pengertian, ciri-ciri, serta jenis dari pantun. Selain menyenangkan, membuat pantun dapat melatih kreativitas,<em>lho guys</em>! Kalau kamu mau mempelajari tentang pantun dan puisi rakyat lainnya dengan lebih dalam, kamu bisa temukan materi lebih lengkapnya di<strong><a>ruangbelajar</a></strong>. Yuk, langganan sekarang!</p>
200
<p>Itulah tadi materi<strong><a>Bahasa Indonesia kelas 7</a></strong>tentang pengertian, ciri-ciri, serta jenis dari pantun. Selain menyenangkan, membuat pantun dapat melatih kreativitas,<em>lho guys</em>! Kalau kamu mau mempelajari tentang pantun dan puisi rakyat lainnya dengan lebih dalam, kamu bisa temukan materi lebih lengkapnya di<strong><a>ruangbelajar</a></strong>. Yuk, langganan sekarang!</p>
201
<p><strong>Referensi:</strong></p>
201
<p><strong>Referensi:</strong></p>
202
<p>Harsiati, Titik dkk. 2017.<em>Bahasa Indonesia</em>. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.</p>
202
<p>Harsiati, Titik dkk. 2017.<em>Bahasa Indonesia</em>. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.</p>
203
<p>Sunaryo, Andi. dkk. 2014.<em>Buku Pintar Pantun & Puisi</em>. Yogyakarta: Penerbit Kartika</p>
203
<p>Sunaryo, Andi. dkk. 2014.<em>Buku Pintar Pantun & Puisi</em>. Yogyakarta: Penerbit Kartika</p>
204
<p><em><strong>Artikel ini diperbarui oleh Laras Sekar Seruni.</strong></em></p>
204
<p><em><strong>Artikel ini diperbarui oleh Laras Sekar Seruni.</strong></em></p>
205
205