HTML Diff
0 added 0 removed
Original 2026-01-01
Modified 2026-03-08
1 <p>Squad, apakah kamu pernah melihat sebuah konflik di masyarkakat sekitar kamu? Konflik memang bisa berujung kekerasan.<em>Nah</em>, di artikel ini kita sama-sama akan membahas tentang bentuk konflik dan kekerasan di masyarakat. Di dalam kehidupan masyarakat sendiri terdapat beberapa bentuk konflik dilihat dari sudut pandang yang berbeda-beda. Beberapa ahli sosiologi pun memiliki pandangan yang berbeda mengenai bentuk-bentuk konflik.</p>
1 <p>Squad, apakah kamu pernah melihat sebuah konflik di masyarkakat sekitar kamu? Konflik memang bisa berujung kekerasan.<em>Nah</em>, di artikel ini kita sama-sama akan membahas tentang bentuk konflik dan kekerasan di masyarakat. Di dalam kehidupan masyarakat sendiri terdapat beberapa bentuk konflik dilihat dari sudut pandang yang berbeda-beda. Beberapa ahli sosiologi pun memiliki pandangan yang berbeda mengenai bentuk-bentuk konflik.</p>
2 <p>Soerjono Soekanto menyebutkan ada lima bentuk khusus konflik yang terjadi dalam masyarakat. Kelima bentuk itu adalah konflik pribadi, konflik politik, konflik sosial, konflik antarkelas sosial, dan konflik yang bersifat internasional.</p>
2 <p>Soerjono Soekanto menyebutkan ada lima bentuk khusus konflik yang terjadi dalam masyarakat. Kelima bentuk itu adalah konflik pribadi, konflik politik, konflik sosial, konflik antarkelas sosial, dan konflik yang bersifat internasional.</p>
3 <p>Sedangkan Lewis A. Coser membedakan konflik atas bentuk dan tempat terjadinya konflik. Berdasarkan bentuknya, dikenal konflik realistis dan konflik nonrealistis dan berdasarkan tempat terjadinya, ada konflik<em>in-group</em>dan konflik<em>out-group</em>.</p>
3 <p>Sedangkan Lewis A. Coser membedakan konflik atas bentuk dan tempat terjadinya konflik. Berdasarkan bentuknya, dikenal konflik realistis dan konflik nonrealistis dan berdasarkan tempat terjadinya, ada konflik<em>in-group</em>dan konflik<em>out-group</em>.</p>
4 <p>Konflik realistis merupakan konflik yang muncul dari kekecewaan individu atau kelompok. Kekecewaan itu timbul berdasarkan tuntutan yang terjadi dalam hubungan sosial. Hal ini umum ditemui pada kasus demo buruh karena tidak sepakat dengan kebijakan perusahaan. Berbeda dengan konflik realistis, konflik nonrealistis itu merupakan konflik yang bukan berasal dari tujuan persaingan yang bertentangan. Konflik nonrealistis itu berdasarkan dari kebutuhan untuk meredakan ketegangan.</p>
4 <p>Konflik realistis merupakan konflik yang muncul dari kekecewaan individu atau kelompok. Kekecewaan itu timbul berdasarkan tuntutan yang terjadi dalam hubungan sosial. Hal ini umum ditemui pada kasus demo buruh karena tidak sepakat dengan kebijakan perusahaan. Berbeda dengan konflik realistis, konflik nonrealistis itu merupakan konflik yang bukan berasal dari tujuan persaingan yang bertentangan. Konflik nonrealistis itu berdasarkan dari kebutuhan untuk meredakan ketegangan.</p>
5 <p>Berdasarkan tempat terjadinya, kita mengenal konflik<em>in-group</em>dan konflik<em>out-group</em>. Konflik<em>in-group</em>adalah konflik yang terjadi dalam kelompok atau masyarakat sendiri. Sedangkan konflik<em>out-group</em>adalah konflik yang terjadi antara suatu kelompok atau masyarakat dengan suatu kelompok atau masyarakat lain.</p>
5 <p>Berdasarkan tempat terjadinya, kita mengenal konflik<em>in-group</em>dan konflik<em>out-group</em>. Konflik<em>in-group</em>adalah konflik yang terjadi dalam kelompok atau masyarakat sendiri. Sedangkan konflik<em>out-group</em>adalah konflik yang terjadi antara suatu kelompok atau masyarakat dengan suatu kelompok atau masyarakat lain.</p>
6 <p><strong>Baca Juga:<a>Bentuk Permasalahan Sosial Akibat Pencemaran Lingkungan</a></strong></p>
6 <p><strong>Baca Juga:<a>Bentuk Permasalahan Sosial Akibat Pencemaran Lingkungan</a></strong></p>
7 <p>Terakhir, Ursula Lehr membagi konflik dari sudut pandang psikologi sosial. Menurut beliau, konflik itu dapat dibedakan atas konflik dengan orang tua sendiri, konflik dengan anak-anak sendiri, konflik dengan sanak saudara, konflik dengan orang lain, konflik dengan suami atau istri, konflik di sekolah, konflik dalam pekerjaan, konflik dalam agama, dan konflik pribadi.</p>
7 <p>Terakhir, Ursula Lehr membagi konflik dari sudut pandang psikologi sosial. Menurut beliau, konflik itu dapat dibedakan atas konflik dengan orang tua sendiri, konflik dengan anak-anak sendiri, konflik dengan sanak saudara, konflik dengan orang lain, konflik dengan suami atau istri, konflik di sekolah, konflik dalam pekerjaan, konflik dalam agama, dan konflik pribadi.</p>
8 <p><em>Nah</em>, berdasarkan penjelasan mengenai konflik di atas, Squad jadi paham<em>nih</em>bahwa konflik dapat muncul apabila disertai dengan perasaan tidak suka, benci, dan bahkan sampai disertai munculnya keinginan untuk menghancurkan pihak lawan. Dalam hidup bermasyarakat, diusahakan agar konflik yang terjadi tidak berakhir dengan kekerasan.</p>
8 <p><em>Nah</em>, berdasarkan penjelasan mengenai konflik di atas, Squad jadi paham<em>nih</em>bahwa konflik dapat muncul apabila disertai dengan perasaan tidak suka, benci, dan bahkan sampai disertai munculnya keinginan untuk menghancurkan pihak lawan. Dalam hidup bermasyarakat, diusahakan agar konflik yang terjadi tidak berakhir dengan kekerasan.</p>
9 <p>Secara umum, kekerasan dapat didefinisikan sebagai perbuatan seseorang atau sekelompok orang yang menyebabkan cedera atau hilangnya nyawa seseorang atau dapat menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain. Sudut pandang sosiologis melihat bahwa kekerasan mungkin saja terjadi saat individu atau kelompok yang melakukan interaksi sosial tidak mengindahkan norma dan nilai sosial yang berlaku. Pengabaian norma dan nilai sosial ini akan menimbulkan tindakan-tindakan tidak rasional yang akan menimbulkan kerugian di pihak lain untuk menguntungkan diri sendiri.</p>
9 <p>Secara umum, kekerasan dapat didefinisikan sebagai perbuatan seseorang atau sekelompok orang yang menyebabkan cedera atau hilangnya nyawa seseorang atau dapat menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain. Sudut pandang sosiologis melihat bahwa kekerasan mungkin saja terjadi saat individu atau kelompok yang melakukan interaksi sosial tidak mengindahkan norma dan nilai sosial yang berlaku. Pengabaian norma dan nilai sosial ini akan menimbulkan tindakan-tindakan tidak rasional yang akan menimbulkan kerugian di pihak lain untuk menguntungkan diri sendiri.</p>
10 <p>Squad, itu tadi penjelasan tentang bentuk konflik dan kekerasan di masyarakat. Kalau kamu ingin belajar Sosiologi lebih seru dan asyik, kamu bisa daftar di<a><strong>ruangbelajar</strong></a>. Ada banyak video animasi yang seru untuk menemani kamu belajar.</p>
10 <p>Squad, itu tadi penjelasan tentang bentuk konflik dan kekerasan di masyarakat. Kalau kamu ingin belajar Sosiologi lebih seru dan asyik, kamu bisa daftar di<a><strong>ruangbelajar</strong></a>. Ada banyak video animasi yang seru untuk menemani kamu belajar.</p>
11 <p><strong>Referensi:</strong></p>
11 <p><strong>Referensi:</strong></p>
12 <p>Wrahatnala, Bondet. 2009. Sosiologi 2: Untuk SMA/MA Kelas XI. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional</p>
12 <p>Wrahatnala, Bondet. 2009. Sosiologi 2: Untuk SMA/MA Kelas XI. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional</p>
13 <p><em>Artikel diperbarui pada 24 November 2020.</em></p>
13 <p><em>Artikel diperbarui pada 24 November 2020.</em></p>
14  
14