HTML Diff
0 added 0 removed
Original 2026-01-01
Modified 2026-03-08
1 <p><em>Pada<strong><a>artikel Sosiologi Kelas 10</a></strong>ini, kita akan mempelajari nilai dan norma; meliputi pengertian, perbedaan, serta hubungannya dengan keteraturan sosial. Ayo, kita belajar bareng-bareng!</em></p>
1 <p><em>Pada<strong><a>artikel Sosiologi Kelas 10</a></strong>ini, kita akan mempelajari nilai dan norma; meliputi pengertian, perbedaan, serta hubungannya dengan keteraturan sosial. Ayo, kita belajar bareng-bareng!</em></p>
2 <p><em>-</em></p>
2 <p><em>-</em></p>
3 <p>Pernah nggak orang tuamu lebih memilih menyimpan uang untuk biaya pendidikan anaknya dibanding membeli barang mewah? Bagi mereka, barang mewah bukanlah sesuatu yang wajib dimiliki, lebih baik digunakan untuk kuliah dan tabungan hari tua.</p>
3 <p>Pernah nggak orang tuamu lebih memilih menyimpan uang untuk biaya pendidikan anaknya dibanding membeli barang mewah? Bagi mereka, barang mewah bukanlah sesuatu yang wajib dimiliki, lebih baik digunakan untuk kuliah dan tabungan hari tua.</p>
4 <p>Di satu sisi, mungkin kamu punya teman yang suka menggunakan barang mewah. Orang tuanya pun gemar mengoleksi jam tangan mahal, tas<em>branded</em>sampai hobi ganti<em>gadget</em>. Dalam hati, kamu bilang<em>“kok beda banget ya sama keluarga gueeee?”</em>dan berujung<em>nge-judge</em>kalau keluarga mereka lebih mentingin foya-foya dibanding pendidikan.</p>
4 <p>Di satu sisi, mungkin kamu punya teman yang suka menggunakan barang mewah. Orang tuanya pun gemar mengoleksi jam tangan mahal, tas<em>branded</em>sampai hobi ganti<em>gadget</em>. Dalam hati, kamu bilang<em>“kok beda banget ya sama keluarga gueeee?”</em>dan berujung<em>nge-judge</em>kalau keluarga mereka lebih mentingin foya-foya dibanding pendidikan.</p>
5 <p>Dari cerita di atas, kita bisa memahami bahwa setiap orang hidup dalam didikan dan latar belakang yang berbeda. Orang tuamu dan orang tua temanmu mempunyai prioritas masing-masing yang dianggap benar. Orang tuamu menganggap pendidikan adalah nomor satu, sedangkan orang tua temanmu menganggap barang mewah sebagai prioritas utama.</p>
5 <p>Dari cerita di atas, kita bisa memahami bahwa setiap orang hidup dalam didikan dan latar belakang yang berbeda. Orang tuamu dan orang tua temanmu mempunyai prioritas masing-masing yang dianggap benar. Orang tuamu menganggap pendidikan adalah nomor satu, sedangkan orang tua temanmu menganggap barang mewah sebagai prioritas utama.</p>
6 <h2>Pengertian Nilai</h2>
6 <h2>Pengertian Nilai</h2>
7 <p>Nah, berdasarkan cerita di atas, segala sesuatu yang dianggap penting dan benar oleh kelompok masyarakat inilah yang kita kenal sebagai<strong>nilai.</strong>Dengan kata lain, nilai bisa kita sebut sebagai<strong>prinsip</strong>atau<strong>pedoman hidup</strong>.</p>
7 <p>Nah, berdasarkan cerita di atas, segala sesuatu yang dianggap penting dan benar oleh kelompok masyarakat inilah yang kita kenal sebagai<strong>nilai.</strong>Dengan kata lain, nilai bisa kita sebut sebagai<strong>prinsip</strong>atau<strong>pedoman hidup</strong>.</p>
8 <p>Dapat dikatakan juga, nilai adalah<strong>segala sesuatu yang dianggap baik dan buruk di dalam masyarakat</strong>. Nilai dapat dijadikan dasar pertimbangan setiap individu dalam menentukan sikap serta mengambil keputusan.</p>
8 <p>Dapat dikatakan juga, nilai adalah<strong>segala sesuatu yang dianggap baik dan buruk di dalam masyarakat</strong>. Nilai dapat dijadikan dasar pertimbangan setiap individu dalam menentukan sikap serta mengambil keputusan.</p>
9 <h2>Sifat Nilai </h2>
9 <h2>Sifat Nilai </h2>
10 <p>Nilai yang dianut setiap orang dapat berbeda karena<strong>nilai bersifat relatif (tidak mutlak).</strong>Sesuatu yang kita anggap bernilai belum tentu dianggap sama dengan orang lain.</p>
10 <p>Nilai yang dianut setiap orang dapat berbeda karena<strong>nilai bersifat relatif (tidak mutlak).</strong>Sesuatu yang kita anggap bernilai belum tentu dianggap sama dengan orang lain.</p>
11 <p>Contohnya kayak kasus di atas tadi,<em>nih</em>. Kamu tumbuh dari keluarga yang mengutamakan pendidikan. Sejak kecil, kamu disekolahkan di tempat terbaik, ikut les supaya bisa masuk ke perguruan tinggi negeri favorit. Semua cara dilakukan oleh orang tuamu agar anak-anaknya bisa menuntut ilmu hingga jenjang sarjana, termasuk membuat asuransi pendidikan. Sebab, pendidikan adalah tolok ukur kesuksesan.</p>
11 <p>Contohnya kayak kasus di atas tadi,<em>nih</em>. Kamu tumbuh dari keluarga yang mengutamakan pendidikan. Sejak kecil, kamu disekolahkan di tempat terbaik, ikut les supaya bisa masuk ke perguruan tinggi negeri favorit. Semua cara dilakukan oleh orang tuamu agar anak-anaknya bisa menuntut ilmu hingga jenjang sarjana, termasuk membuat asuransi pendidikan. Sebab, pendidikan adalah tolok ukur kesuksesan.</p>
12 <p>Sementara temanmu memiliki orang tua yang bekerja di industri hiburan. Keduanya selebriti yang sering diundang ke acara penting. Bagi mereka, barang<em>branded</em>memiliki nilai berarti. Sebab, semakin mewah barang tersebut, berpengaruh terhadap tolak ukur kesuksesan orang yang mengenakannya.</p>
12 <p>Sementara temanmu memiliki orang tua yang bekerja di industri hiburan. Keduanya selebriti yang sering diundang ke acara penting. Bagi mereka, barang<em>branded</em>memiliki nilai berarti. Sebab, semakin mewah barang tersebut, berpengaruh terhadap tolak ukur kesuksesan orang yang mengenakannya.</p>
13 <h2>Proses Terbentuknya Nilai</h2>
13 <h2>Proses Terbentuknya Nilai</h2>
14 <p>Gimana? Sudah paham ‘kan definisi dan alasan mengapa nilai bersifat relatif? Nah, sekarang kita membahas proses terbentuknya nilai. Pada intinya,<strong>nilai bersumber dari 3 hal</strong>, yaitu:</p>
14 <p>Gimana? Sudah paham ‘kan definisi dan alasan mengapa nilai bersifat relatif? Nah, sekarang kita membahas proses terbentuknya nilai. Pada intinya,<strong>nilai bersumber dari 3 hal</strong>, yaitu:</p>
15 <ol><li>Tuhan (<em>Theonom</em>)</li>
15 <ol><li>Tuhan (<em>Theonom</em>)</li>
16 <li>Masyarakat (<em>Heteronom</em>)</li>
16 <li>Masyarakat (<em>Heteronom</em>)</li>
17 <li>Individu</li>
17 <li>Individu</li>
18 </ol><h2>Ciri-Ciri Nilai dan Contohnya</h2>
18 </ol><h2>Ciri-Ciri Nilai dan Contohnya</h2>
19 <p>Nilai sosial memiliki ciri-ciri sebagai berikut:</p>
19 <p>Nilai sosial memiliki ciri-ciri sebagai berikut:</p>
20 <h3><strong>1. Nilai tercipta secara sosial bukan bawaan lahir</strong>.</h3>
20 <h3><strong>1. Nilai tercipta secara sosial bukan bawaan lahir</strong>.</h3>
21 <p>Artinya, seseorang terus menerus mempelajari nilai seiring berjalannya waktu. Contoh: kamu menganggap pendidikan adalah nilai kesuksesan karena orang tuamu mengajarkan hal tersebut di dalam keluarga. Nah, berarti nilai bukan diperoleh dari lahir, melainkan ditanamkan oleh orang tuamu.</p>
21 <p>Artinya, seseorang terus menerus mempelajari nilai seiring berjalannya waktu. Contoh: kamu menganggap pendidikan adalah nilai kesuksesan karena orang tuamu mengajarkan hal tersebut di dalam keluarga. Nah, berarti nilai bukan diperoleh dari lahir, melainkan ditanamkan oleh orang tuamu.</p>
22 <h3><strong>2. Nilai memberikan pengaruh yang berbeda-beda terhadap individu dan masyarakat</strong>.</h3>
22 <h3><strong>2. Nilai memberikan pengaruh yang berbeda-beda terhadap individu dan masyarakat</strong>.</h3>
23 <p>Contoh: bagimu, gelar berpengaruh besar terhadap hidup seseorang. Akan tetapi, orang lain belum tentu memandang hal yang sama. Bisa saja menurut mereka, koneksi pertemanan yang lebih penting.</p>
23 <p>Contoh: bagimu, gelar berpengaruh besar terhadap hidup seseorang. Akan tetapi, orang lain belum tentu memandang hal yang sama. Bisa saja menurut mereka, koneksi pertemanan yang lebih penting.</p>
24 <h3><strong>3. Nilai berlangsung secara terus menerus melalui interaksi, kontak sosial, dan akulturasi</strong>.</h3>
24 <h3><strong>3. Nilai berlangsung secara terus menerus melalui interaksi, kontak sosial, dan akulturasi</strong>.</h3>
25 <p>Contoh: Sebelumnya, kamu memandang nilai kesuksesan itu berdasarkan dari gelar pendidikan. Tapi, seiring waktu, kamu berinteraksi dengan orang baru atau masuk ke lingkungan baru. Lama-lama, nilai itu bisa berubah.</p>
25 <p>Contoh: Sebelumnya, kamu memandang nilai kesuksesan itu berdasarkan dari gelar pendidikan. Tapi, seiring waktu, kamu berinteraksi dengan orang baru atau masuk ke lingkungan baru. Lama-lama, nilai itu bisa berubah.</p>
26 <h3><strong>4. Nilai melibatkan emosi dan perasaan</strong>.</h3>
26 <h3><strong>4. Nilai melibatkan emosi dan perasaan</strong>.</h3>
27 <p>Artinya, dalam menjalankan nilai, kita akan dipengaruhi oleh perasaan atau emosi. Contoh: Orang tuamu menjunjung tinggi nilai pendidikan. Maka mereka rela menabung demi masa depan anak-anaknya.</p>
27 <p>Artinya, dalam menjalankan nilai, kita akan dipengaruhi oleh perasaan atau emosi. Contoh: Orang tuamu menjunjung tinggi nilai pendidikan. Maka mereka rela menabung demi masa depan anak-anaknya.</p>
28 <h2>Jenis-Jenis Nilai dan Contohnya</h2>
28 <h2>Jenis-Jenis Nilai dan Contohnya</h2>
29 <p>Menurut Notonegoro, nilai terbagi menjadi 3 jenis:</p>
29 <p>Menurut Notonegoro, nilai terbagi menjadi 3 jenis:</p>
30 <h3><strong>1. Nilai Material</strong></h3>
30 <h3><strong>1. Nilai Material</strong></h3>
31 <p>Nilai material berguna bagi fisik manusia. Contohnya makanan. Bagi sebagian orang, makanan punya nilai tersendiri. Makan enak bisa meningkatkan mood kalo lagi bete. Nah, contoh nilai material yang lain ada pakaian, tempat tinggal, dan kebutuhan pokok lainnya.</p>
31 <p>Nilai material berguna bagi fisik manusia. Contohnya makanan. Bagi sebagian orang, makanan punya nilai tersendiri. Makan enak bisa meningkatkan mood kalo lagi bete. Nah, contoh nilai material yang lain ada pakaian, tempat tinggal, dan kebutuhan pokok lainnya.</p>
32 <h3><strong>2. Nilai Vital</strong></h3>
32 <h3><strong>2. Nilai Vital</strong></h3>
33 <p>Nilai vital berguna bagi manusia untuk melakukan aktivitasnya. Contoh: Bagi abang ojek online, kendaraan bermotor, gadget, dan kuota internet adalah nilai vital karena tanpa barang tersebut, mereka nggak bisa bekerja.</p>
33 <p>Nilai vital berguna bagi manusia untuk melakukan aktivitasnya. Contoh: Bagi abang ojek online, kendaraan bermotor, gadget, dan kuota internet adalah nilai vital karena tanpa barang tersebut, mereka nggak bisa bekerja.</p>
34 <h3><strong>3. Nilai Kerohanian</strong></h3>
34 <h3><strong>3. Nilai Kerohanian</strong></h3>
35 <p>Nilai kerohanian berguna bagi kebutuhan batin manusia. Nilai Kerohanian dapat dibagi menjadi 4, yaitu:</p>
35 <p>Nilai kerohanian berguna bagi kebutuhan batin manusia. Nilai Kerohanian dapat dibagi menjadi 4, yaitu:</p>
36 <h4>-<strong>Nilai Keindahan</strong></h4>
36 <h4>-<strong>Nilai Keindahan</strong></h4>
37 <p>Nilai keindahan bersumber dari estetika. Contoh: kamu menganggap Lucas adalah personil tertampan di boyband NCT U, tapi menurut teman kamu yang paling ganteng itu Mark Lee.<em>Gak</em>perlu berdebat, karena nilai keindahan atau ketampanan seseorang bisa berbeda.</p>
37 <p>Nilai keindahan bersumber dari estetika. Contoh: kamu menganggap Lucas adalah personil tertampan di boyband NCT U, tapi menurut teman kamu yang paling ganteng itu Mark Lee.<em>Gak</em>perlu berdebat, karena nilai keindahan atau ketampanan seseorang bisa berbeda.</p>
38 <h4>-<strong>Nilai Kebenaran</strong></h4>
38 <h4>-<strong>Nilai Kebenaran</strong></h4>
39 <p>Nilai kebenaran bersumber dari akal manusia yang dibuktikan dengan fakta. Contoh: Bumi itu bulat, air laut rasanya asin.</p>
39 <p>Nilai kebenaran bersumber dari akal manusia yang dibuktikan dengan fakta. Contoh: Bumi itu bulat, air laut rasanya asin.</p>
40 <h4>-<strong>Nilai Kebaikan/Moral</strong></h4>
40 <h4>-<strong>Nilai Kebaikan/Moral</strong></h4>
41 <p>Nilai kebaikan/moral bersumber dari hati manusia. Contoh: sebelum kamu kelas online, kamu menyempatkan diri buat bantuin Mama beres-beres rumah. Tapi teman kamu bilang kalau waktunya lebih baik digunakan buat belajar UTBK. <em>Well,</em>balik lagi kalau nilai kebaikan orang bisa berbeda.</p>
41 <p>Nilai kebaikan/moral bersumber dari hati manusia. Contoh: sebelum kamu kelas online, kamu menyempatkan diri buat bantuin Mama beres-beres rumah. Tapi teman kamu bilang kalau waktunya lebih baik digunakan buat belajar UTBK. <em>Well,</em>balik lagi kalau nilai kebaikan orang bisa berbeda.</p>
42 <h4><strong>- Nilai Kerohanian</strong></h4>
42 <h4><strong>- Nilai Kerohanian</strong></h4>
43 <p>Nilai kerohanian bersumber pada Tuhan. Contoh: kamu beragama Kristen, maka ibadahmu dilakukan di gereja dengan berdoa dan nyanyian pujian. Sementara temanmu yang beragama Islam melakukan ibadah di masjid dengan sholat dan mengaji.</p>
43 <p>Nilai kerohanian bersumber pada Tuhan. Contoh: kamu beragama Kristen, maka ibadahmu dilakukan di gereja dengan berdoa dan nyanyian pujian. Sementara temanmu yang beragama Islam melakukan ibadah di masjid dengan sholat dan mengaji.</p>
44 <h2>Pengertian Norma </h2>
44 <h2>Pengertian Norma </h2>
45 <p>Norma adalah aturan yang mengikat masyarakat. Aturan ini bisa berupa perintah atau larangan. Norma memiliki sanksi. Itu sebabnya norma bersifat mengikat.</p>
45 <p>Norma adalah aturan yang mengikat masyarakat. Aturan ini bisa berupa perintah atau larangan. Norma memiliki sanksi. Itu sebabnya norma bersifat mengikat.</p>
46 <p>Misalnya nih, saat kamu berkendara tanpa mengenakan helm, tiba-tiba ketemu pak polisi. Kira-kira apa yang bakal terjadi?</p>
46 <p>Misalnya nih, saat kamu berkendara tanpa mengenakan helm, tiba-tiba ketemu pak polisi. Kira-kira apa yang bakal terjadi?</p>
47 <p>Kamu bisa diberhentikan oleh Pak Polisi. Terus kamu kasih alasan deh, begini kira-kira:</p>
47 <p>Kamu bisa diberhentikan oleh Pak Polisi. Terus kamu kasih alasan deh, begini kira-kira:</p>
48 <p><em>“Yah pak, deket kok, cuma mau beli batagor di depan. Jangan ditilang ya, Paaakkk,”</em></p>
48 <p><em>“Yah pak, deket kok, cuma mau beli batagor di depan. Jangan ditilang ya, Paaakkk,”</em></p>
49 <p>Pak polisi geleng-geleng sambil nulis surat tilang. Apapun alasannya, yang kamu lakukan sudah<strong>melanggar aturan dan dikenakan sanksi. Karena naik motor tanpa mengenakan helm adalah bentuk pelanggaran norma hukum.</strong></p>
49 <p>Pak polisi geleng-geleng sambil nulis surat tilang. Apapun alasannya, yang kamu lakukan sudah<strong>melanggar aturan dan dikenakan sanksi. Karena naik motor tanpa mengenakan helm adalah bentuk pelanggaran norma hukum.</strong></p>
50 <p>Kalau<em>gak</em>ada norma, keadaan di sekitar kita jadi berantakan. Karena, tidak ada aturan yang membatasi perilaku masyarakat. Manusia bebas melakukan apapun yang mereka sukai, tanpa memikirkan keselamatan diri dan orang di sekitarnya.</p>
50 <p>Kalau<em>gak</em>ada norma, keadaan di sekitar kita jadi berantakan. Karena, tidak ada aturan yang membatasi perilaku masyarakat. Manusia bebas melakukan apapun yang mereka sukai, tanpa memikirkan keselamatan diri dan orang di sekitarnya.</p>
51 <h2>Hubungan antara Nilai dan Norma</h2>
51 <h2>Hubungan antara Nilai dan Norma</h2>
52 <p>Sebelum membahas macam macam norma, kamu perlu tau kalau terbentuknya norma dipengaruhi oleh nilai sosial yang ada. Nilai sosial bisa menjadi dasar pedoman atau panduan yang ada di dalam norma untuk menciptakan kehidupan yang aman dan teratur.</p>
52 <p>Sebelum membahas macam macam norma, kamu perlu tau kalau terbentuknya norma dipengaruhi oleh nilai sosial yang ada. Nilai sosial bisa menjadi dasar pedoman atau panduan yang ada di dalam norma untuk menciptakan kehidupan yang aman dan teratur.</p>
53 <p>Nilai akan mempengaruhi cara pandang masyarakat mengenai perbuatan apa saja yang boleh dilakukan, dianjurkan, serta perbuatan yang dilarang karena merugikan diri sendiri dan orang lain.</p>
53 <p>Nilai akan mempengaruhi cara pandang masyarakat mengenai perbuatan apa saja yang boleh dilakukan, dianjurkan, serta perbuatan yang dilarang karena merugikan diri sendiri dan orang lain.</p>
54 <h2>Macam-Macam Norma</h2>
54 <h2>Macam-Macam Norma</h2>
55 <p>Ini dia macam-macam norma yang perlu kamu ketahui:</p>
55 <p>Ini dia macam-macam norma yang perlu kamu ketahui:</p>
56 <ol><li>Norma Agama</li>
56 <ol><li>Norma Agama</li>
57 <li>Norma Kesusilaan</li>
57 <li>Norma Kesusilaan</li>
58 <li>Norma Kesopanan</li>
58 <li>Norma Kesopanan</li>
59 <li>Norma Hukum</li>
59 <li>Norma Hukum</li>
60 </ol><h2>Daya Ikat Norma</h2>
60 </ol><h2>Daya Ikat Norma</h2>
61 <p>Di awal tadi sudah dijelaskan ya kalo norma itu sifatnya mengikat. Makanya, norma punya sanksi yang bakal diberikan ke siapapun yang melanggarnya. Kekuatan atau daya ikat norma bisa dilihat dari seberapa besar sanksi yang diberikan kepada individu saat melakukan pelanggaran. Oleh karena itu, daya ikat norma terbagi menjadi empat tingkatan, dimulai dari sanksi terendah sampai tertinggi.</p>
61 <p>Di awal tadi sudah dijelaskan ya kalo norma itu sifatnya mengikat. Makanya, norma punya sanksi yang bakal diberikan ke siapapun yang melanggarnya. Kekuatan atau daya ikat norma bisa dilihat dari seberapa besar sanksi yang diberikan kepada individu saat melakukan pelanggaran. Oleh karena itu, daya ikat norma terbagi menjadi empat tingkatan, dimulai dari sanksi terendah sampai tertinggi.</p>
62 <h3><strong>1. Norma Cara (</strong><strong><em>Usage)</em></strong></h3>
62 <h3><strong>1. Norma Cara (</strong><strong><em>Usage)</em></strong></h3>
63 <p>Norma Cara atau<em>usage</em>adalah suatu aturan yang apabila tidak diterapkan, maka pelaku hanya mengalami celaan.</p>
63 <p>Norma Cara atau<em>usage</em>adalah suatu aturan yang apabila tidak diterapkan, maka pelaku hanya mengalami celaan.</p>
64 <p>Contoh: pas lagi makan bareng gebetan, tiba tiba dia sendawa kenceng banget,<em>ew</em>. Terus kamu jadi ilfil dan bilang “<em>duh,sendawa kamu kenceng banget deh, bikin selera makanku hilang”</em>.</p>
64 <p>Contoh: pas lagi makan bareng gebetan, tiba tiba dia sendawa kenceng banget,<em>ew</em>. Terus kamu jadi ilfil dan bilang “<em>duh,sendawa kamu kenceng banget deh, bikin selera makanku hilang”</em>.</p>
65 <p>Nah, kalimat tadi merupakan sanksi celaan.<em>Ngecap</em>melanggar norma<em>usage</em>karena dianggap mengganggu kenyamanan orang lain saat menyantap hidangan, hingga menurunkan selera makan mereka.</p>
65 <p>Nah, kalimat tadi merupakan sanksi celaan.<em>Ngecap</em>melanggar norma<em>usage</em>karena dianggap mengganggu kenyamanan orang lain saat menyantap hidangan, hingga menurunkan selera makan mereka.</p>
66 <h3><strong>2. Kebiasaan<em>(Folkways)</em></strong></h3>
66 <h3><strong>2. Kebiasaan<em>(Folkways)</em></strong></h3>
67 <p>Kebiasaan atau <em>folkways </em>adalah suatu aturan yang apabila tidak diterapkan, maka pelaku dianggap menyimpang dari kebiasaan umum di masyarakat.</p>
67 <p>Kebiasaan atau <em>folkways </em>adalah suatu aturan yang apabila tidak diterapkan, maka pelaku dianggap menyimpang dari kebiasaan umum di masyarakat.</p>
68 <p>Contoh: mencium tangan orang tua sebelum berangkat sekolah, mengucapkan salam saat masuk atau bertamu ke rumah orang lain.Tidak mencium tangan orang tua sebelum bepergian atau tidak mengucapkan salam saat masuk rumah melanggar norma<em>folkways</em>karena dianggap kurang sopan dan tidak sesuai dengan kebiasaan masyarakat Indonesia.</p>
68 <p>Contoh: mencium tangan orang tua sebelum berangkat sekolah, mengucapkan salam saat masuk atau bertamu ke rumah orang lain.Tidak mencium tangan orang tua sebelum bepergian atau tidak mengucapkan salam saat masuk rumah melanggar norma<em>folkways</em>karena dianggap kurang sopan dan tidak sesuai dengan kebiasaan masyarakat Indonesia.</p>
69 <h3><strong>3. Tata Kelakuan (</strong><strong><em>Mores</em></strong><strong>)</strong></h3>
69 <h3><strong>3. Tata Kelakuan (</strong><strong><em>Mores</em></strong><strong>)</strong></h3>
70 <p>Tata kelakuan atau<em>mores</em>adalah suatu aturan yang mengontrol perilaku dan memiliki sanksi di masyarakat.</p>
70 <p>Tata kelakuan atau<em>mores</em>adalah suatu aturan yang mengontrol perilaku dan memiliki sanksi di masyarakat.</p>
71 <p>Contoh: seseorang yang mencuri, mengkonsumsi narkoba, membunuh, dan sejenisnya, memperoleh sanksi berupa hukuman penjara di negara yang bersangkutan.</p>
71 <p>Contoh: seseorang yang mencuri, mengkonsumsi narkoba, membunuh, dan sejenisnya, memperoleh sanksi berupa hukuman penjara di negara yang bersangkutan.</p>
72 <p>Mencuri, mengkonsumsi narkoba, dan sejenisnya melanggar norma<em>mores</em>karena merugikan diri sendiri dan membahayakan keselamatan orang lain.</p>
72 <p>Mencuri, mengkonsumsi narkoba, dan sejenisnya melanggar norma<em>mores</em>karena merugikan diri sendiri dan membahayakan keselamatan orang lain.</p>
73 <h3><strong>4. Adat Istiadat (</strong><strong><em>Custom</em></strong><strong>)</strong> </h3>
73 <h3><strong>4. Adat Istiadat (</strong><strong><em>Custom</em></strong><strong>)</strong> </h3>
74 <p>Adat istiadat atau<em>custom</em>merupakan suatu aturan yang disepakati di kelompok masyarakat tertentu, berisi pedoman untuk bertingkah laku. Jika dilanggar, diberi hukuman berupa sanksi adat.</p>
74 <p>Adat istiadat atau<em>custom</em>merupakan suatu aturan yang disepakati di kelompok masyarakat tertentu, berisi pedoman untuk bertingkah laku. Jika dilanggar, diberi hukuman berupa sanksi adat.</p>
75 <p>Contoh: masyarakat yang melakukan pernikahan sesuku di Kabupaten Kampar, Riau, akan dikenakan sanksi berupa pengucilan dan wajib membayar denda satu ekor ayam/kambing/kerbau. Sebab, pernikahan sesuku ini melanggar norma<em>custom</em>karena sama saja dengan menikahi saudara sedarah.</p>
75 <p>Contoh: masyarakat yang melakukan pernikahan sesuku di Kabupaten Kampar, Riau, akan dikenakan sanksi berupa pengucilan dan wajib membayar denda satu ekor ayam/kambing/kerbau. Sebab, pernikahan sesuku ini melanggar norma<em>custom</em>karena sama saja dengan menikahi saudara sedarah.</p>
76 <h2>Kaitan Nilai dan Norma dengan Keteraturan Sosial.</h2>
76 <h2>Kaitan Nilai dan Norma dengan Keteraturan Sosial.</h2>
77 <p><strong>Keteraturan sosial</strong>adalah kondisi kehidupan yang aman, tentram, dan tertib dari perilaku yang merugikan masyarakat. Untuk mewujudkan kondisi tersebut, maka dibuat nilai dan norma yang berfungsi untuk mengontrol perilaku masyarakat.</p>
77 <p><strong>Keteraturan sosial</strong>adalah kondisi kehidupan yang aman, tentram, dan tertib dari perilaku yang merugikan masyarakat. Untuk mewujudkan kondisi tersebut, maka dibuat nilai dan norma yang berfungsi untuk mengontrol perilaku masyarakat.</p>
78 <p>Nilai dan norma akan terus diterapkan dalam kehidupan agar masyarakat merasa aman dan terlindungi dari tingkah laku dan kejahatan yang merugikan di kemudian hari.</p>
78 <p>Nilai dan norma akan terus diterapkan dalam kehidupan agar masyarakat merasa aman dan terlindungi dari tingkah laku dan kejahatan yang merugikan di kemudian hari.</p>
79 <p>Bayangin deh, kalau gak ada nilai dan norma, semua individu bebas melakukan apapun yang mereka inginkan. Mencuri, berkelahi, merampas hak orang lain, bahkan tidak ada toleransi dalam kehidupan. Serem ya? Hidup jadi berantakan dan jauh dari kata teratur.</p>
79 <p>Bayangin deh, kalau gak ada nilai dan norma, semua individu bebas melakukan apapun yang mereka inginkan. Mencuri, berkelahi, merampas hak orang lain, bahkan tidak ada toleransi dalam kehidupan. Serem ya? Hidup jadi berantakan dan jauh dari kata teratur.</p>
80 <p>-</p>
80 <p>-</p>
81 <p>Itu dia pembahasan tentang nilai, norma serta kaitannya dengan keteraturan sosial. Nilai tidak bisa dikatakan sebagai suatu hal yang mutlak dan pelanggarnya tidak diberi sanksi. Sedangkan norma merupakan aturan mutlak yang wajib ditaati.</p>
81 <p>Itu dia pembahasan tentang nilai, norma serta kaitannya dengan keteraturan sosial. Nilai tidak bisa dikatakan sebagai suatu hal yang mutlak dan pelanggarnya tidak diberi sanksi. Sedangkan norma merupakan aturan mutlak yang wajib ditaati.</p>
82 <p>Semoga kamu bisa memahami perbedaan di antara keduanya ya. Kalau sudah paham, asah kemampuanmu dengan menjawab soal di<strong><a>ruanguji</a></strong>yuk. Semangaaat!</p>
82 <p>Semoga kamu bisa memahami perbedaan di antara keduanya ya. Kalau sudah paham, asah kemampuanmu dengan menjawab soal di<strong><a>ruanguji</a></strong>yuk. Semangaaat!</p>
83 <p><strong>Referensi:</strong>Tintin, Elisanti. 2009.<em>Sosiologi Kelas 10.</em>Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.</p>
83 <p><strong>Referensi:</strong>Tintin, Elisanti. 2009.<em>Sosiologi Kelas 10.</em>Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.</p>
84 <p>Dwi Laning, Vina. 2009.<em>Sosiologi Kelas 10.</em>Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.</p>
84 <p>Dwi Laning, Vina. 2009.<em>Sosiologi Kelas 10.</em>Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.</p>
85 <p>Waluya, Bagja. 2009.<em>Menyelami Fenomena Sosial di Masyarakat</em>. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.</p>
85 <p>Waluya, Bagja. 2009.<em>Menyelami Fenomena Sosial di Masyarakat</em>. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.</p>
86  
86