0 added
0 removed
Original
2026-01-01
Modified
2026-03-08
1
<blockquote><p><em><strong><a>Di artikel Bahasa Indonesia kelas 12</a></strong>ini, kita akan mempelajari tentang perbedaan kritik sastra dan esai, mulai dari ciri-ciri, struktur, dan juga contohnya. Yuk kita belajar!</em></p>
1
<blockquote><p><em><strong><a>Di artikel Bahasa Indonesia kelas 12</a></strong>ini, kita akan mempelajari tentang perbedaan kritik sastra dan esai, mulai dari ciri-ciri, struktur, dan juga contohnya. Yuk kita belajar!</em></p>
2
</blockquote><p><em>-</em></p>
2
</blockquote><p><em>-</em></p>
3
<p>Halo teman-teman! Kalian tahu<em>nggak sih</em>, kalau karya sastra itu tidak lantas terlepas dari berbagai kritik dan saran. Dibalik keindahan karya sastra, sebuah kritik juga dibutuhkan untuk terus memperindah dan menyempurnakan hal-hal yang masih dirasa kurang tepat.</p>
3
<p>Halo teman-teman! Kalian tahu<em>nggak sih</em>, kalau karya sastra itu tidak lantas terlepas dari berbagai kritik dan saran. Dibalik keindahan karya sastra, sebuah kritik juga dibutuhkan untuk terus memperindah dan menyempurnakan hal-hal yang masih dirasa kurang tepat.</p>
4
<p><em>Nah</em>, dalam melakukan kritik, kalian juga harus paham dulu seperti apa pengertian kritik<a>sastra</a>dan esai itu. Kenapa penting? Sebab, kita harus tahu dasarnya dulu, supaya penilaian kita objektif, baru<em>deh</em>kita boleh melakukan kritik. Yuk langsung kita bahas!</p>
4
<p><em>Nah</em>, dalam melakukan kritik, kalian juga harus paham dulu seperti apa pengertian kritik<a>sastra</a>dan esai itu. Kenapa penting? Sebab, kita harus tahu dasarnya dulu, supaya penilaian kita objektif, baru<em>deh</em>kita boleh melakukan kritik. Yuk langsung kita bahas!</p>
5
<p>Terlebih dahulu, kita akan membahas pengertian kritik sastra.<strong>Kritik sastra adalah analisis terhadap suatu karya sastra untuk mengamati atau menilai baik dan buruknya suatu karya secara objektif</strong>.</p>
5
<p>Terlebih dahulu, kita akan membahas pengertian kritik sastra.<strong>Kritik sastra adalah analisis terhadap suatu karya sastra untuk mengamati atau menilai baik dan buruknya suatu karya secara objektif</strong>.</p>
6
<p>Lebih luasnya, Widyamartaya dan Sudiati berpendapat bahwa kritik sastra adalah pengamatan yang teliti, perbandingan yang tepat, dan pertimbangan yang adil terhadap baik dan buruknya kualitas, nilai, serta kebenaran suatu karya sastra.</p>
6
<p>Lebih luasnya, Widyamartaya dan Sudiati berpendapat bahwa kritik sastra adalah pengamatan yang teliti, perbandingan yang tepat, dan pertimbangan yang adil terhadap baik dan buruknya kualitas, nilai, serta kebenaran suatu karya sastra.</p>
7
<h2>Pengertian Esai</h2>
7
<h2>Pengertian Esai</h2>
8
<p>Sementara itu, esai adalah karangan singkat yang membahas suatu masalah dari sudut pandang pribadi penulisnya. Masalah yang dibahas dalam esai merupakan masalah yang aktual dari berbagai bidang, seperti kesusastraan, kebudayaan, iptek, atau politik. Kamu pingin tahu tentang sejarah esai, boleh<em>check this out</em>artikel ini!</p>
8
<p>Sementara itu, esai adalah karangan singkat yang membahas suatu masalah dari sudut pandang pribadi penulisnya. Masalah yang dibahas dalam esai merupakan masalah yang aktual dari berbagai bidang, seperti kesusastraan, kebudayaan, iptek, atau politik. Kamu pingin tahu tentang sejarah esai, boleh<em>check this out</em>artikel ini!</p>
9
<p><strong>Baca Juga:<a>Mengenal Sejarah dan Jenis Esai dengan Mudah</a></strong></p>
9
<p><strong>Baca Juga:<a>Mengenal Sejarah dan Jenis Esai dengan Mudah</a></strong></p>
10
<p>Nantinya, kritik yang sudah diberikan terhadap karya sastra dan esai dapat menjadi panduan yang memadai kepada pembaca tentang kualitas sebuah karya. Di samping itu, penulis akan memperoleh masukan yang bersifat membangun karya tersebut.</p>
10
<p>Nantinya, kritik yang sudah diberikan terhadap karya sastra dan esai dapat menjadi panduan yang memadai kepada pembaca tentang kualitas sebuah karya. Di samping itu, penulis akan memperoleh masukan yang bersifat membangun karya tersebut.</p>
11
<h2>Perbedaan Kritik Sastra dan Esai</h2>
11
<h2>Perbedaan Kritik Sastra dan Esai</h2>
12
<p>Apa perbedaan kritik dan esai? Berdasarkan isi dan pandangan si penulis, kritik sastra dan esai memiliki beberapa perbedaan. Perbedaan kritik sastra dan esai terdapat pada objek kajian, ringkasan, data, dan beberapa aspek lain seperti berikut:</p>
12
<p>Apa perbedaan kritik dan esai? Berdasarkan isi dan pandangan si penulis, kritik sastra dan esai memiliki beberapa perbedaan. Perbedaan kritik sastra dan esai terdapat pada objek kajian, ringkasan, data, dan beberapa aspek lain seperti berikut:</p>
13
<h2>Persamaan Kritik Sastra dan Esai</h2>
13
<h2>Persamaan Kritik Sastra dan Esai</h2>
14
<p>Kalau ada perbedaan antara kritik sastra dan esai, pasti ada persamaannya juga<em>dong</em>yaa. Persamaannya ini terletak pada kaidah kebahasaannya <em>guys</em>. Secara garis besar, kritik sastra dan esai sama-sama menggunakan <strong>konjungsi </strong>dan <strong>adverbia frekuentatif</strong>.</p>
14
<p>Kalau ada perbedaan antara kritik sastra dan esai, pasti ada persamaannya juga<em>dong</em>yaa. Persamaannya ini terletak pada kaidah kebahasaannya <em>guys</em>. Secara garis besar, kritik sastra dan esai sama-sama menggunakan <strong>konjungsi </strong>dan <strong>adverbia frekuentatif</strong>.</p>
15
<p><em>Wah</em>, apaan <em>tuh</em>? Yuk kita bahas satu per satu!</p>
15
<p><em>Wah</em>, apaan <em>tuh</em>? Yuk kita bahas satu per satu!</p>
16
<h3>1. Konjungsi</h3>
16
<h3>1. Konjungsi</h3>
17
<p>Mungkin sebagian dari kamu sudah tahu, kalau konjungsi merupakan kata sambung yang digunakan untuk <strong>menghubungkan antara kata </strong>dalam sebuah kalimat. Konjungsi juga bisa digunakan untuk <strong>menghubungkan antar kalimat </strong>dalam sebuah paragraf.</p>
17
<p>Mungkin sebagian dari kamu sudah tahu, kalau konjungsi merupakan kata sambung yang digunakan untuk <strong>menghubungkan antara kata </strong>dalam sebuah kalimat. Konjungsi juga bisa digunakan untuk <strong>menghubungkan antar kalimat </strong>dalam sebuah paragraf.</p>
18
<p>Misalnya: dan, atau, sedangkan, karena tetapi, tidak hanya, kemudian, sejak, apabila, agar, daripada, dan lain-lain.</p>
18
<p>Misalnya: dan, atau, sedangkan, karena tetapi, tidak hanya, kemudian, sejak, apabila, agar, daripada, dan lain-lain.</p>
19
<p>Kalau kita masukkan dalam kritik sastra dan esai, kira-kira seperti ini <em>guys</em>.</p>
19
<p>Kalau kita masukkan dalam kritik sastra dan esai, kira-kira seperti ini <em>guys</em>.</p>
20
<p><strong>Contoh Konjungsi dalam Kritik Sastra:</strong></p>
20
<p><strong>Contoh Konjungsi dalam Kritik Sastra:</strong></p>
21
<p>Sang Pemimpi adalah judul yang tepat untuk novel ini<strong>karena</strong>memang kisah yang disajikan membuat pembaca yakin akan kekuatan mimpi. Tentunya, dengan cinta, pengorbanan, dan rahmat Tuhan, kita akan dapat mewujudkan mimpi yang kita miliki.</p>
21
<p>Sang Pemimpi adalah judul yang tepat untuk novel ini<strong>karena</strong>memang kisah yang disajikan membuat pembaca yakin akan kekuatan mimpi. Tentunya, dengan cinta, pengorbanan, dan rahmat Tuhan, kita akan dapat mewujudkan mimpi yang kita miliki.</p>
22
<p><strong>Contoh Konjungsi dalam Esai:</strong></p>
22
<p><strong>Contoh Konjungsi dalam Esai:</strong></p>
23
<p><strong>Walaupun demikian</strong>, kita tidak menampik bahwa media sosial pun memiliki dampak positif, di antaranya untuk menjaga silaturahmi dengan keluarga<strong>ataupun</strong>saudara yang jauh jarak tempat tinggalnya, mendapatkan ilmu pengetahuan baru, sebagai sumber penyebaran informasi, memperluas jaringan pertemanan,<strong>dan</strong>sebagai media media promosi bisnis.</p>
23
<p><strong>Walaupun demikian</strong>, kita tidak menampik bahwa media sosial pun memiliki dampak positif, di antaranya untuk menjaga silaturahmi dengan keluarga<strong>ataupun</strong>saudara yang jauh jarak tempat tinggalnya, mendapatkan ilmu pengetahuan baru, sebagai sumber penyebaran informasi, memperluas jaringan pertemanan,<strong>dan</strong>sebagai media media promosi bisnis.</p>
24
<h3>2. Adverbia Frekuentatif</h3>
24
<h3>2. Adverbia Frekuentatif</h3>
25
<p>Oke, kita coba bedah singkat <em>guys</em>. Adverbia atau <em>adverb </em>adalah kata keterangan. Sementara, frekuentatif merujuk pada <em>frequent </em>atau sering. Berarti, adverbia frekuentatif merupakan kata keterangan yang menunjukkan seberapa sering sebuah subyek dalam melakukan sesuati.</p>
25
<p>Oke, kita coba bedah singkat <em>guys</em>. Adverbia atau <em>adverb </em>adalah kata keterangan. Sementara, frekuentatif merujuk pada <em>frequent </em>atau sering. Berarti, adverbia frekuentatif merupakan kata keterangan yang menunjukkan seberapa sering sebuah subyek dalam melakukan sesuati.</p>
26
<p>Misalnya: sering, jarang, kadang-kadang, selalu, dan lain-lain.</p>
26
<p>Misalnya: sering, jarang, kadang-kadang, selalu, dan lain-lain.</p>
27
<p>Contoh: selalu, biasanya, sering, banyak, kadang-kadang.</p>
27
<p>Contoh: selalu, biasanya, sering, banyak, kadang-kadang.</p>
28
<p>Sekarang kita coba cek contohnya, yuk!</p>
28
<p>Sekarang kita coba cek contohnya, yuk!</p>
29
<p><strong>Contoh Adverbia Frekuentatif dalam Kritik Sastra:</strong></p>
29
<p><strong>Contoh Adverbia Frekuentatif dalam Kritik Sastra:</strong></p>
30
<p>Pembaca diajarkan agar menjadi orang yang senantiasa bersyukur. Walaupun di tengah kekurangan, jangan mengeluh dan<strong>selalu</strong>berusaha serta berdoa.</p>
30
<p>Pembaca diajarkan agar menjadi orang yang senantiasa bersyukur. Walaupun di tengah kekurangan, jangan mengeluh dan<strong>selalu</strong>berusaha serta berdoa.</p>
31
<p><strong>Contoh Adverbia Frekuentatif dalam Esai:</strong></p>
31
<p><strong>Contoh Adverbia Frekuentatif dalam Esai:</strong></p>
32
<p>Remaja yang tentunya masih dalam usia belajar,<strong>sering</strong>terganggu waktu belajarnya. Ditambah lagi, sebaran informasi melalui media sosial dapat membentuk opini di kalangan remaja.</p>
32
<p>Remaja yang tentunya masih dalam usia belajar,<strong>sering</strong>terganggu waktu belajarnya. Ditambah lagi, sebaran informasi melalui media sosial dapat membentuk opini di kalangan remaja.</p>
33
<p><strong>Baca Juga:<a>Cara Menentukan Ide Pokok dalam Paragraf</a></strong></p>
33
<p><strong>Baca Juga:<a>Cara Menentukan Ide Pokok dalam Paragraf</a></strong></p>
34
<h2><strong>Prinsip Penulisan Kritik dan Esai</strong></h2>
34
<h2><strong>Prinsip Penulisan Kritik dan Esai</strong></h2>
35
<p>Bagaimana sifat kritik yang baik terhadap suatu karya? Dalam menulis kritik dan esai, kita harus memperhatikan beberapa prinsip berikut ya!</p>
35
<p>Bagaimana sifat kritik yang baik terhadap suatu karya? Dalam menulis kritik dan esai, kita harus memperhatikan beberapa prinsip berikut ya!</p>
36
<ol><li>Pokok persoalan yang dibahas harus layak untuk diulas. Hasil ulasannya pun harus memberikan keterangan atau memperlihatkan sebab-musabab yang berkaitan dengan suatu peristiwa yang nyata.<strong>Jadi, yang terpenting bukan apa yang diulas, tetapi bagaimana cara penulis memberikan ulasannya</strong>.</li>
36
<ol><li>Pokok persoalan yang dibahas harus layak untuk diulas. Hasil ulasannya pun harus memberikan keterangan atau memperlihatkan sebab-musabab yang berkaitan dengan suatu peristiwa yang nyata.<strong>Jadi, yang terpenting bukan apa yang diulas, tetapi bagaimana cara penulis memberikan ulasannya</strong>.</li>
37
<li>Pendekatan yang digunakan harus jelas, apakah persoalan didekati dengan pendekatan faktual atau imajinatif.</li>
37
<li>Pendekatan yang digunakan harus jelas, apakah persoalan didekati dengan pendekatan faktual atau imajinatif.</li>
38
<li>Ulasan yang menggunakan pendekatan faktual harus didukung oleh fakta yang nyata dan objektif. Penulis tidak boleh mengubah fakta untuk mendukung pandangannya.</li>
38
<li>Ulasan yang menggunakan pendekatan faktual harus didukung oleh fakta yang nyata dan objektif. Penulis tidak boleh mengubah fakta untuk mendukung pandangannya.</li>
39
<li>Pernyataan yang diungkapkan harus jelas, tidak samar-samar, harus dapat dipercaya, tidak disangsikan atau disangkal, dan dapat dibuktikan kebenarannya.</li>
39
<li>Pernyataan yang diungkapkan harus jelas, tidak samar-samar, harus dapat dipercaya, tidak disangsikan atau disangkal, dan dapat dibuktikan kebenarannya.</li>
40
</ol><h2><strong>Struktur Kritik Sastra dan Esai</strong></h2>
40
</ol><h2><strong>Struktur Kritik Sastra dan Esai</strong></h2>
41
<p>Dalam penulisan kritik sastra maupun esai, ada beberapa struktur atau sistematika yang harus dipenuhi. Ada 3 hal penting dalam struktur kritik dan esai, yakni pernyataan pendapat, argumentasi, dan penegasan ulang atau reiterasi. Pembahasan secara detailnya antara lain:</p>
41
<p>Dalam penulisan kritik sastra maupun esai, ada beberapa struktur atau sistematika yang harus dipenuhi. Ada 3 hal penting dalam struktur kritik dan esai, yakni pernyataan pendapat, argumentasi, dan penegasan ulang atau reiterasi. Pembahasan secara detailnya antara lain:</p>
42
<h3><strong>1. Pernyataan Pendapat</strong></h3>
42
<h3><strong>1. Pernyataan Pendapat</strong></h3>
43
<p>Dalam esai, pendapat atau tesis menyajikan pandangan penulis terhadap objek atau fenomena yang disoroti.</p>
43
<p>Dalam esai, pendapat atau tesis menyajikan pandangan penulis terhadap objek atau fenomena yang disoroti.</p>
44
<h3><strong>2. Argumentasi</strong></h3>
44
<h3><strong>2. Argumentasi</strong></h3>
45
<p>Argumen atau pendapat yang disajikan berupa alasan yang logis serta bersifat subjektif.</p>
45
<p>Argumen atau pendapat yang disajikan berupa alasan yang logis serta bersifat subjektif.</p>
46
<h3><strong>3. Reiterasi</strong></h3>
46
<h3><strong>3. Reiterasi</strong></h3>
47
<p>Penegasan ulang dalam esai, juga berupa ringkasan atau pengulangan kembali hal yang sudah disampaikan dan menjadi penegasan dari bagian argumentasi.</p>
47
<p>Penegasan ulang dalam esai, juga berupa ringkasan atau pengulangan kembali hal yang sudah disampaikan dan menjadi penegasan dari bagian argumentasi.</p>
48
<h2><strong>Kaidah Kebahasaan Kritik Sastra dan Esai</strong></h2>
48
<h2><strong>Kaidah Kebahasaan Kritik Sastra dan Esai</strong></h2>
49
<p>Dari segi kebahasaan, kritik sastra dan esai dapat dilihat dari hal berikut:</p>
49
<p>Dari segi kebahasaan, kritik sastra dan esai dapat dilihat dari hal berikut:</p>
50
<h3><strong>1. Pernyataan Persuasif</strong></h3>
50
<h3><strong>1. Pernyataan Persuasif</strong></h3>
51
<p>Pernyataan persuasif pada teks berbentuk kritik sastra dan esai, kalimat yang digunakan tidak secara jelas mencirikan kalimat persuasif secara umum. Pernyataan yang disampaikan penulis, mengulas hal dengan data atau kalimat yang logis bertujuan agar menggugah pemikiran pembaca sehingga akhirnya pembaca setuju dengan ide yang disampaikan penulis.</p>
51
<p>Pernyataan persuasif pada teks berbentuk kritik sastra dan esai, kalimat yang digunakan tidak secara jelas mencirikan kalimat persuasif secara umum. Pernyataan yang disampaikan penulis, mengulas hal dengan data atau kalimat yang logis bertujuan agar menggugah pemikiran pembaca sehingga akhirnya pembaca setuju dengan ide yang disampaikan penulis.</p>
52
<h3><strong>2. Pernyataan Fakta</strong></h3>
52
<h3><strong>2. Pernyataan Fakta</strong></h3>
53
<p>Dalam kritik dan esai, pendapat penulis disajikan berdasarkan interpretasi ataupun penafsiran dari sudut pandang tertentu dengan disertai fakta-fakta pendukung. Kehadiran fakta berfungsi sebagai sarana untuk memperjelas pendapat.</p>
53
<p>Dalam kritik dan esai, pendapat penulis disajikan berdasarkan interpretasi ataupun penafsiran dari sudut pandang tertentu dengan disertai fakta-fakta pendukung. Kehadiran fakta berfungsi sebagai sarana untuk memperjelas pendapat.</p>
54
<h3><strong>3. Pernyataan Menilai</strong></h3>
54
<h3><strong>3. Pernyataan Menilai</strong></h3>
55
<p>Pernyataan yang bersifat menilai atau mengomentari sangat diperlukan untuk mengetahui kurang dan lebihnya suatu karya, yang nantinya akan menjadi bahan evaluasi bagi penulis.</p>
55
<p>Pernyataan yang bersifat menilai atau mengomentari sangat diperlukan untuk mengetahui kurang dan lebihnya suatu karya, yang nantinya akan menjadi bahan evaluasi bagi penulis.</p>
56
<h3><strong>4. Istilah Teknis</strong></h3>
56
<h3><strong>4. Istilah Teknis</strong></h3>
57
<p>Istilah teknis merupakan kosakata yang berkaitan pada bidang ilmu pengetahuan tertentu. Hal ini terkadang perlu dilakukan agar penulis dan pembaca dapat sepaham pada suatu pembahasan tertentu yang perlu dijelaskan secara detail.</p>
57
<p>Istilah teknis merupakan kosakata yang berkaitan pada bidang ilmu pengetahuan tertentu. Hal ini terkadang perlu dilakukan agar penulis dan pembaca dapat sepaham pada suatu pembahasan tertentu yang perlu dijelaskan secara detail.</p>
58
<h3><strong>5. Kata Kerja Mental</strong></h3>
58
<h3><strong>5. Kata Kerja Mental</strong></h3>
59
<p>Kata kerja mental adalah kata kerja yang melibatkan perasaan atau respons terhadap suatu tindakan atau kejadian, bukan berupa tindakan atau aksi yang bisa diamati secara fisik. Contoh: mengingat, merasakan, memikirkan.</p>
59
<p>Kata kerja mental adalah kata kerja yang melibatkan perasaan atau respons terhadap suatu tindakan atau kejadian, bukan berupa tindakan atau aksi yang bisa diamati secara fisik. Contoh: mengingat, merasakan, memikirkan.</p>
60
<p>Baca Juga:<a>Mengenal Teks Cerita Sejarah: Pengertian, Struktur, Ciri, dan Contohnya</a></p>
60
<p>Baca Juga:<a>Mengenal Teks Cerita Sejarah: Pengertian, Struktur, Ciri, dan Contohnya</a></p>
61
<h2><strong>Ciri-Ciri Kritik Sastra dan Esai</strong></h2>
61
<h2><strong>Ciri-Ciri Kritik Sastra dan Esai</strong></h2>
62
<p>Seperti jenis teks lainnya, teks kritik sastra memiliki ciri, agar kamu dapat mengidentifikasi, apakah sebuah teks disebut sebagai kritik sastra.</p>
62
<p>Seperti jenis teks lainnya, teks kritik sastra memiliki ciri, agar kamu dapat mengidentifikasi, apakah sebuah teks disebut sebagai kritik sastra.</p>
63
<h3><strong>a. Ciri-Ciri Kritik Sastra</strong></h3>
63
<h3><strong>a. Ciri-Ciri Kritik Sastra</strong></h3>
64
<p>Ciri kritik sastra di antaranya sebagai berikut:</p>
64
<p>Ciri kritik sastra di antaranya sebagai berikut:</p>
65
<ul><li>Memberikan tanggapan terhadap hasil karya.</li>
65
<ul><li>Memberikan tanggapan terhadap hasil karya.</li>
66
<li>Memberikan pertimbangan baik dan buruk (kelebihan dan kekurangan) sebuah karya sastra.</li>
66
<li>Memberikan pertimbangan baik dan buruk (kelebihan dan kekurangan) sebuah karya sastra.</li>
67
<li>Pertimbangan bersifat objektif.</li>
67
<li>Pertimbangan bersifat objektif.</li>
68
<li>Memaparkan kesan pribadi kritikus terhadap sebuah karya sastra.</li>
68
<li>Memaparkan kesan pribadi kritikus terhadap sebuah karya sastra.</li>
69
<li>Memberikan alternatif perbaikan atau penyempurnaan.</li>
69
<li>Memberikan alternatif perbaikan atau penyempurnaan.</li>
70
<li>Tidak berprasangka.</li>
70
<li>Tidak berprasangka.</li>
71
<li>Tidak terpengaruh siapa penulisnya.</li>
71
<li>Tidak terpengaruh siapa penulisnya.</li>
72
</ul><h3><strong>b. Ciri-Ciri Esai</strong></h3>
72
</ul><h3><strong>b. Ciri-Ciri Esai</strong></h3>
73
<p>Sementara itu, ciri-ciri esai di antaranya:</p>
73
<p>Sementara itu, ciri-ciri esai di antaranya:</p>
74
<ul><li>Berbentuk prosa.</li>
74
<ul><li>Berbentuk prosa.</li>
75
<li>Singkat, dapat dibaca dengan santai dalam waktu dua jam.</li>
75
<li>Singkat, dapat dibaca dengan santai dalam waktu dua jam.</li>
76
<li>Memiliki gaya pembeda.</li>
76
<li>Memiliki gaya pembeda.</li>
77
<li>Selalu tidak utuh.</li>
77
<li>Selalu tidak utuh.</li>
78
<li>Memenuhi keutuhan penulisan.</li>
78
<li>Memenuhi keutuhan penulisan.</li>
79
<li>Mempunyai nada pribadi atau bersifat personal.</li>
79
<li>Mempunyai nada pribadi atau bersifat personal.</li>
80
</ul><p>Baca Juga:<a>Pahami Pengertian Kalimat Efektif, Syarat, dan Contohnya</a></p>
80
</ul><p>Baca Juga:<a>Pahami Pengertian Kalimat Efektif, Syarat, dan Contohnya</a></p>
81
<h2><strong>Contoh Kritik Sastra dan Esai</strong></h2>
81
<h2><strong>Contoh Kritik Sastra dan Esai</strong></h2>
82
<p>Bagaimana? Sampai disini sudah lumayan paham, ‘kan mengenai kritik sastra dan esai. Supaya lebih memahami, yuk kita lihat satu contoh dari kritik sastra dan esai.</p>
82
<p>Bagaimana? Sampai disini sudah lumayan paham, ‘kan mengenai kritik sastra dan esai. Supaya lebih memahami, yuk kita lihat satu contoh dari kritik sastra dan esai.</p>
83
<h3><strong>Contoh Kritik Sastra</strong></h3>
83
<h3><strong>Contoh Kritik Sastra</strong></h3>
84
<p>Mimpi Anak Belitung pada Novel Sang Pemimpi</p>
84
<p>Mimpi Anak Belitung pada Novel Sang Pemimpi</p>
85
<p>(Sebuah Kritik Sastra)</p>
85
<p>(Sebuah Kritik Sastra)</p>
86
<p>Mimpi adalah bagian kehidupan. Tanpa mimpi kita akan kurang bersemangat untuk menjalani kehidupan. Novel Sang Pemimpi adalah sebuah novel kedua karya Andrea Hirata yang merupakan bagian tetralogi Laskar Pelangi.</p>
86
<p>Mimpi adalah bagian kehidupan. Tanpa mimpi kita akan kurang bersemangat untuk menjalani kehidupan. Novel Sang Pemimpi adalah sebuah novel kedua karya Andrea Hirata yang merupakan bagian tetralogi Laskar Pelangi.</p>
87
<p>Sang Pemimpi adalah judul yang tepat untuk novel ini karena memang kisah yang disajikan membuat pembaca yakin akan kekuatan mimpi. Tentunya, dengan cinta, pengorbanan, dan rahmat Tuhan, kita akan dapat mewujudkan mimpi yang kita miliki.</p>
87
<p>Sang Pemimpi adalah judul yang tepat untuk novel ini karena memang kisah yang disajikan membuat pembaca yakin akan kekuatan mimpi. Tentunya, dengan cinta, pengorbanan, dan rahmat Tuhan, kita akan dapat mewujudkan mimpi yang kita miliki.</p>
88
<p>Tiga tokohnya, Arai, Ikal, dan Jimbron, yang digambarkan sebagai pemimpi telah menamatkan SMP dan akan melanjutkan ke SMA. Dari sinilah perjuangan dan mimpi mereka dimulai.</p>
88
<p>Tiga tokohnya, Arai, Ikal, dan Jimbron, yang digambarkan sebagai pemimpi telah menamatkan SMP dan akan melanjutkan ke SMA. Dari sinilah perjuangan dan mimpi mereka dimulai.</p>
89
<p>Tidak tanggung-tanggung, Arai dan Ikal bermimpi untuk kuliah ke Perancis, sedangkan Jimbron memutuskan untuk menetap di Belitung. Demi impian tersebut, apapun mereka lakukan.</p>
89
<p>Tidak tanggung-tanggung, Arai dan Ikal bermimpi untuk kuliah ke Perancis, sedangkan Jimbron memutuskan untuk menetap di Belitung. Demi impian tersebut, apapun mereka lakukan.</p>
90
<p>Impian Arai dan Ikal untuk kuliah di Prancis terwujud, Namun, ini barulah awal perjuangan yang sesungguhnya.</p>
90
<p>Impian Arai dan Ikal untuk kuliah di Prancis terwujud, Namun, ini barulah awal perjuangan yang sesungguhnya.</p>
91
<p>Kekuatan novel ini terdapat dalam nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Pembaca diajarkan agar menjadi orang yang senantiasa bersyukur. Walaupun di tengah kekurangan, jangan mengeluh dan selalu berusaha serta berdoa. Selain itu, dengan kekuatan mimpi, jangan pernah menyerah dan larut dalam kesedihan. Selain itu, penulis mengajarkan tentang nilai-nilai untuk patuh pada perkataan orang tua.</p>
91
<p>Kekuatan novel ini terdapat dalam nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Pembaca diajarkan agar menjadi orang yang senantiasa bersyukur. Walaupun di tengah kekurangan, jangan mengeluh dan selalu berusaha serta berdoa. Selain itu, dengan kekuatan mimpi, jangan pernah menyerah dan larut dalam kesedihan. Selain itu, penulis mengajarkan tentang nilai-nilai untuk patuh pada perkataan orang tua.</p>
92
<p>Dalam novel Sang Pemimpi, juga terdapat kekurangan yang dapat menjadi masukan bagi penulis. Pembaca dapat mengalami kesulitan dalam memahami bahasa yang digunakan karena ada penggunaan bahasa daerah dan bahasa Inggris yang tidak dijelaskan di glosarium. Sebaiknya penulis melengkapi kosakata berbahasa daerah dan asing pada glosarium sehingga pembaca tidak bingung dengan istilah-istilah tersebut. Hal yang digambarkan lewat kata-kata dari kutipan. “Lalu kami beralih menjadi<em>part time office boy</em>di kompleks kantor pemerintah. (hal. 69),</p>
92
<p>Dalam novel Sang Pemimpi, juga terdapat kekurangan yang dapat menjadi masukan bagi penulis. Pembaca dapat mengalami kesulitan dalam memahami bahasa yang digunakan karena ada penggunaan bahasa daerah dan bahasa Inggris yang tidak dijelaskan di glosarium. Sebaiknya penulis melengkapi kosakata berbahasa daerah dan asing pada glosarium sehingga pembaca tidak bingung dengan istilah-istilah tersebut. Hal yang digambarkan lewat kata-kata dari kutipan. “Lalu kami beralih menjadi<em>part time office boy</em>di kompleks kantor pemerintah. (hal. 69),</p>
93
<p>Baca Juga:<a>Membahas Paragraf: Jenis, Unsur, dan Syarat</a></p>
93
<p>Baca Juga:<a>Membahas Paragraf: Jenis, Unsur, dan Syarat</a></p>
94
<h3><strong>Contoh Esai</strong></h3>
94
<h3><strong>Contoh Esai</strong></h3>
95
<p>CANDU. Sebuah kata yang tepat untuk menggambarkan keterikatan masyarakat kita pada media sosial. Semua kalangan seakan “terjerat” dalam rutinitas yang sama setiap harinya. Terlebih lagi kaum remaja. Remaja larut dalam aktivitas yang satu ini hampir sepanjang hari. Tentunya ada keasikan tersendiri sehingga remaja betah berlama-lama dalam menggunakannya. Salah satunya, sebagai wadah menuangkan berekspresinya.</p>
95
<p>CANDU. Sebuah kata yang tepat untuk menggambarkan keterikatan masyarakat kita pada media sosial. Semua kalangan seakan “terjerat” dalam rutinitas yang sama setiap harinya. Terlebih lagi kaum remaja. Remaja larut dalam aktivitas yang satu ini hampir sepanjang hari. Tentunya ada keasikan tersendiri sehingga remaja betah berlama-lama dalam menggunakannya. Salah satunya, sebagai wadah menuangkan berekspresinya.</p>
96
<p>Penggunaan media sosial di kalangan remaja akan memberikan dampak bagi penggunanya. Remaja yang tentunya masih dalam usia belajar, sering terganggu waktu belajarnya. Ditambah lagi, sebaran informasi melalui media sosial dapat membentuk opini di kalangan remaja. Misalnya tentang standar kecantikan di kalangan remaja perempuan. Hal lainnya yang sangat berbahaya dari media sosial adalah pornografi dan kejahatan melalui internet.</p>
96
<p>Penggunaan media sosial di kalangan remaja akan memberikan dampak bagi penggunanya. Remaja yang tentunya masih dalam usia belajar, sering terganggu waktu belajarnya. Ditambah lagi, sebaran informasi melalui media sosial dapat membentuk opini di kalangan remaja. Misalnya tentang standar kecantikan di kalangan remaja perempuan. Hal lainnya yang sangat berbahaya dari media sosial adalah pornografi dan kejahatan melalui internet.</p>
97
<p>Walaupun demikian, kita tidak menampik bahwa media sosial pun memiliki dampak positif, di antaranya untuk menjaga silaturahmi dengan keluarga ataupun saudara yang jauh jarak tempat tinggalnya, mendapatkan ilmu pengetahuan baru, sebagai sumber penyebaran informasi, memperluas jaringan pertemanan, dan sebagai media media promosi bisnis.</p>
97
<p>Walaupun demikian, kita tidak menampik bahwa media sosial pun memiliki dampak positif, di antaranya untuk menjaga silaturahmi dengan keluarga ataupun saudara yang jauh jarak tempat tinggalnya, mendapatkan ilmu pengetahuan baru, sebagai sumber penyebaran informasi, memperluas jaringan pertemanan, dan sebagai media media promosi bisnis.</p>
98
<p>Penggunaan teknologi modern tentunya tidak lepas dari pengaruh positif dan negatif. Tentu saja hal ini bergantung dari penggunanya, Remaja diharapkan dapat membatasi diri sendiri serta kontrol dari orang tua sangat diperlukan.</p>
98
<p>Penggunaan teknologi modern tentunya tidak lepas dari pengaruh positif dan negatif. Tentu saja hal ini bergantung dari penggunanya, Remaja diharapkan dapat membatasi diri sendiri serta kontrol dari orang tua sangat diperlukan.</p>
99
<p>Baca Juga:<a>Ciri-Ciri dan Struktur Esai yang Baik dan Benar</a></p>
99
<p>Baca Juga:<a>Ciri-Ciri dan Struktur Esai yang Baik dan Benar</a></p>
100
<p>-</p>
100
<p>-</p>
101
<p><em>Nah,</em>sekarang kamu sudah tahu kan, bagaimana proses dalam melakukan kritik sastra dan karya esai? Supaya kritik yang disusun tidak subjektif, maka harus benar-benar dipahami prinsip-prinsip serta cirinya terlebih dahulu ya. Ciri-ciri dan struktur esai bisa kalian baca<em>kok</em> di blog ini juga.</p>
101
<p><em>Nah,</em>sekarang kamu sudah tahu kan, bagaimana proses dalam melakukan kritik sastra dan karya esai? Supaya kritik yang disusun tidak subjektif, maka harus benar-benar dipahami prinsip-prinsip serta cirinya terlebih dahulu ya. Ciri-ciri dan struktur esai bisa kalian baca<em>kok</em> di blog ini juga.</p>
102
<p>Ingin coba menjawab beberapa contoh soal dan menyimak video pembahasan materi bahasa Indonesia lainnya? Yuk langsung aja cek di<a><strong>ruangbelajar</strong>!</a>Ada banyak rekomendasi video belajar konsep kilat dan video Adapto yang menyesuaikan cara belajarmu!</p>
102
<p>Ingin coba menjawab beberapa contoh soal dan menyimak video pembahasan materi bahasa Indonesia lainnya? Yuk langsung aja cek di<a><strong>ruangbelajar</strong>!</a>Ada banyak rekomendasi video belajar konsep kilat dan video Adapto yang menyesuaikan cara belajarmu!</p>
103
<p><strong>Referensi:</strong></p>
103
<p><strong>Referensi:</strong></p>
104
<p>Suryaman, Maman dkk. 2018. Bahasa Indonesia SMA/MA/SMK/MAK Kelas XII - Kurikulum 2013 - Edisi revisi 2018. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.</p>
104
<p>Suryaman, Maman dkk. 2018. Bahasa Indonesia SMA/MA/SMK/MAK Kelas XII - Kurikulum 2013 - Edisi revisi 2018. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.</p>
105
105