HTML Diff
0 added 0 removed
Original 2026-01-01
Modified 2026-03-08
1 <blockquote><p><em><strong><a>Artikel Fisika kelas 8</a></strong>ini membahas mengenai<strong>pembiasan cahaya</strong>dan kaitannya dengan terjadinya fenomena alam yang pernah kamu jumpai, yaitu pelangi.</em></p>
1 <blockquote><p><em><strong><a>Artikel Fisika kelas 8</a></strong>ini membahas mengenai<strong>pembiasan cahaya</strong>dan kaitannya dengan terjadinya fenomena alam yang pernah kamu jumpai, yaitu pelangi.</em></p>
2 </blockquote><p><em>-</em></p>
2 </blockquote><p><em>-</em></p>
3 <p><em>Pelangi pelangi</em></p>
3 <p><em>Pelangi pelangi</em></p>
4 <p><em>Alangkah indahmu</em></p>
4 <p><em>Alangkah indahmu</em></p>
5 <p><em>Merah kuning hijau</em></p>
5 <p><em>Merah kuning hijau</em></p>
6 <p><em>Di langit yang biru</em></p>
6 <p><em>Di langit yang biru</em></p>
7 <p><em>Pelukismu agung</em></p>
7 <p><em>Pelukismu agung</em></p>
8 <p><em>Siapa gerangan</em></p>
8 <p><em>Siapa gerangan</em></p>
9 <p><em>Pelangi pelangi</em></p>
9 <p><em>Pelangi pelangi</em></p>
10 <p><em>Ciptaan Tuhan</em></p>
10 <p><em>Ciptaan Tuhan</em></p>
11 <p><em>Hayooo</em>… Siapa yang bacanya sambil nyanyi?</p>
11 <p><em>Hayooo</em>… Siapa yang bacanya sambil nyanyi?</p>
12 <p>Kamu pasti pernah<em>dong</em>ngeliat pelangi.<em>Yap</em>, persis seperti lirik lagu di atas, pelangi terdiri dari berbagai macam warna. Ada merah, kuning, juga hijau. Warna-warna itulah yang membuat pelangi jadi indah bila dipandang.</p>
12 <p>Kamu pasti pernah<em>dong</em>ngeliat pelangi.<em>Yap</em>, persis seperti lirik lagu di atas, pelangi terdiri dari berbagai macam warna. Ada merah, kuning, juga hijau. Warna-warna itulah yang membuat pelangi jadi indah bila dipandang.</p>
13 <p><em>Waahhh</em>… keren banget, ya! Tuhan bisa menciptakan pelangi. Jangan lupa bersyukur ya akan kebesaran-Nya.</p>
13 <p><em>Waahhh</em>… keren banget, ya! Tuhan bisa menciptakan pelangi. Jangan lupa bersyukur ya akan kebesaran-Nya.</p>
14 <p><em>Eits</em>! Tapi, kamu tahu<em>nggak</em><em>sih</em>gimana pelangi bisa terjadi?<em>Nah</em>, ternyata, fenomena alam yang satu ini terjadi karena adanya peristiwa pembiasan cahaya,<em>lho</em>!</p>
14 <p><em>Eits</em>! Tapi, kamu tahu<em>nggak</em><em>sih</em>gimana pelangi bisa terjadi?<em>Nah</em>, ternyata, fenomena alam yang satu ini terjadi karena adanya peristiwa pembiasan cahaya,<em>lho</em>!</p>
15 <p>Apa<em>tuh</em>pembiasan cahaya? Oke, kalau gitu, langsung aja<em>yuk</em>kita simak penjelasannya pada artikel berikut ini!</p>
15 <p>Apa<em>tuh</em>pembiasan cahaya? Oke, kalau gitu, langsung aja<em>yuk</em>kita simak penjelasannya pada artikel berikut ini!</p>
16 <h2>Pengertian Pembiasan Cahaya</h2>
16 <h2>Pengertian Pembiasan Cahaya</h2>
17 <p>Sebelumnya, kamu sudah belajar mengenai<strong><a>pengertian pemantulan cahaya dan macam-macamnya</a></strong>, ya. Ternyata, selain cahaya dapat dipantulkan, cahaya juga dapat dibelokkan,<em>lho</em>. Peristiwa pembelokan cahaya inilah yang disebut dengan pembiasan cahaya.</p>
17 <p>Sebelumnya, kamu sudah belajar mengenai<strong><a>pengertian pemantulan cahaya dan macam-macamnya</a></strong>, ya. Ternyata, selain cahaya dapat dipantulkan, cahaya juga dapat dibelokkan,<em>lho</em>. Peristiwa pembelokan cahaya inilah yang disebut dengan pembiasan cahaya.</p>
18 <p>Menurut definisinya,<strong>pembiasan cahaya</strong>adalah<strong>peristiwa pembelokan arah rambat cahaya</strong>karena melewati dua medium dengan kerapatan optik yang berbeda.</p>
18 <p>Menurut definisinya,<strong>pembiasan cahaya</strong>adalah<strong>peristiwa pembelokan arah rambat cahaya</strong>karena melewati dua medium dengan kerapatan optik yang berbeda.</p>
19 <h2>Hukum Snellius tentang Pembiasan Cahaya</h2>
19 <h2>Hukum Snellius tentang Pembiasan Cahaya</h2>
20 <p><em>Hmm</em>… Maksudnya gimana,<em>sih</em>?</p>
20 <p><em>Hmm</em>… Maksudnya gimana,<em>sih</em>?</p>
21 <p><strong>Baca Juga:<a>Tekanan Zat Padat dan Penerapannya dalam Kehidupan</a></strong></p>
21 <p><strong>Baca Juga:<a>Tekanan Zat Padat dan Penerapannya dalam Kehidupan</a></strong></p>
22 <p>Oke, coba kamu perhatikan gambar di atas. Pada gambar tersebut, cahaya melewati dua medium dengan tingkat kerapatan yang berbeda, yaitu udara dan air.</p>
22 <p>Oke, coba kamu perhatikan gambar di atas. Pada gambar tersebut, cahaya melewati dua medium dengan tingkat kerapatan yang berbeda, yaitu udara dan air.</p>
23 <p><strong>Udara memiliki susunan partikel yang lebih renggang</strong>, sehingga molekulnya dapat bergerak dengan bebas. Berbeda dengan<strong>air</strong>, ia <strong>memiliki susunan partikel yang lebih padat</strong>, sehingga molekulnya tidak mudah bergerak dengan bebas.</p>
23 <p><strong>Udara memiliki susunan partikel yang lebih renggang</strong>, sehingga molekulnya dapat bergerak dengan bebas. Berbeda dengan<strong>air</strong>, ia <strong>memiliki susunan partikel yang lebih padat</strong>, sehingga molekulnya tidak mudah bergerak dengan bebas.</p>
24 <p>Oleh karena itu,<strong>udara memiliki kerapatan yang lebih rendah dibandingkan dengan air</strong>.</p>
24 <p>Oleh karena itu,<strong>udara memiliki kerapatan yang lebih rendah dibandingkan dengan air</strong>.</p>
25 <p>Perbandingan kerapatan molekul antara air (<em>liquid</em>) dan udara (<em>gas</em>) (sumber: FuseSchool via YouTube)</p>
25 <p>Perbandingan kerapatan molekul antara air (<em>liquid</em>) dan udara (<em>gas</em>) (sumber: FuseSchool via YouTube)</p>
26 <p>Besar<strong>kerapatan optik suatu medium dihubungkan dengan indeks bias</strong>(n).<strong>Semakin besar indeks bias</strong>suatu medium, artinya<strong>semakin besar pula kerapatan optik</strong><strong>medium</strong>tersebut.</p>
26 <p>Besar<strong>kerapatan optik suatu medium dihubungkan dengan indeks bias</strong>(n).<strong>Semakin besar indeks bias</strong>suatu medium, artinya<strong>semakin besar pula kerapatan optik</strong><strong>medium</strong>tersebut.</p>
27 <p>Akibatnya,<strong>cahaya yang melewati medium</strong>dengan indeks bias lebih besar (tingkat kerapatan yang besar) akan<strong>memiliki arah belok yang semakin besar pula</strong>. Besar kecilnya arah belok cahaya ini diukur dari bidang batas antara dua mediumnya, ya.</p>
27 <p>Akibatnya,<strong>cahaya yang melewati medium</strong>dengan indeks bias lebih besar (tingkat kerapatan yang besar) akan<strong>memiliki arah belok yang semakin besar pula</strong>. Besar kecilnya arah belok cahaya ini diukur dari bidang batas antara dua mediumnya, ya.</p>
28 <p>Lalu, bagaimana jika suatu medium memiliki kerapatan optik yang kecil, seperti udara misalnya. Nah, hal ini berarti berlaku kebalikannya.</p>
28 <p>Lalu, bagaimana jika suatu medium memiliki kerapatan optik yang kecil, seperti udara misalnya. Nah, hal ini berarti berlaku kebalikannya.</p>
29 <p>Medium dengan kerapatan optik yang kecil, berarti indeks bias medium tersebut juga kecil. Akibatnya, cahaya yang melewati medium tersebut akan memiliki arah belok yang juga semakin kecil dari bidang batas antara dua medium.</p>
29 <p>Medium dengan kerapatan optik yang kecil, berarti indeks bias medium tersebut juga kecil. Akibatnya, cahaya yang melewati medium tersebut akan memiliki arah belok yang juga semakin kecil dari bidang batas antara dua medium.</p>
30 <p>Gimana? Paham<em>nggak</em>,<em>nih</em>? Kalau masih belum paham, coba<em>deh</em>kamu perhatikan gambar berikut.</p>
30 <p>Gimana? Paham<em>nggak</em>,<em>nih</em>? Kalau masih belum paham, coba<em>deh</em>kamu perhatikan gambar berikut.</p>
31 <p>Saat cahaya dibiaskan dari udara ke air (gambar A),<strong>cahaya</strong>akan<strong>merambat dari medium yang kurang rapat ke medium yang lebih rapat</strong>.</p>
31 <p>Saat cahaya dibiaskan dari udara ke air (gambar A),<strong>cahaya</strong>akan<strong>merambat dari medium yang kurang rapat ke medium yang lebih rapat</strong>.</p>
32 <p>Air memiliki indeks bias yang lebih besar dari udara (n2 &gt; n1), sehingga arah belok cahaya dari bidang batas dua medium juga besar. Oleh karena itu,<strong>cahaya akan dibiaskan/dibelokkan mendekati garis normal</strong>.</p>
32 <p>Air memiliki indeks bias yang lebih besar dari udara (n2 &gt; n1), sehingga arah belok cahaya dari bidang batas dua medium juga besar. Oleh karena itu,<strong>cahaya akan dibiaskan/dibelokkan mendekati garis normal</strong>.</p>
33 <p>Sebaliknya, saat cahaya dibiaskan dari air ke udara (gambar B),<strong>cahaya</strong>akan<strong>merambat dari medium yang lebih rapat ke medium yang kurang rapat</strong>.</p>
33 <p>Sebaliknya, saat cahaya dibiaskan dari air ke udara (gambar B),<strong>cahaya</strong>akan<strong>merambat dari medium yang lebih rapat ke medium yang kurang rapat</strong>.</p>
34 <p>Udara memiliki indeks bias yang lebih kecil dari air (n1 &lt; n2), sehingga arah belok cahaya dari bidang batas dua medium juga kecil. Oleh karena itu,<strong>cahaya akan dibiaskan/dibelokkan menjauhi garis normal</strong>.</p>
34 <p>Udara memiliki indeks bias yang lebih kecil dari air (n1 &lt; n2), sehingga arah belok cahaya dari bidang batas dua medium juga kecil. Oleh karena itu,<strong>cahaya akan dibiaskan/dibelokkan menjauhi garis normal</strong>.</p>
35 <p>Kamu dapat melihat perbedaannya pada gambar ya,<i>kan</i>?</p>
35 <p>Kamu dapat melihat perbedaannya pada gambar ya,<i>kan</i>?</p>
36 <p><strong>Baca Juga:<a>Bunyi Hukum Newton dan Penerapannya dalam Kehidupan Sehari-hari</a></strong></p>
36 <p><strong>Baca Juga:<a>Bunyi Hukum Newton dan Penerapannya dalam Kehidupan Sehari-hari</a></strong></p>
37 <h2>Rumus dan Contoh Soal Pembiasan Cahaya</h2>
37 <h2>Rumus dan Contoh Soal Pembiasan Cahaya</h2>
38 <p>Oke, sampai sini semoga kamu paham ya tentang pembiasan cahaya.<i>Nah</i>, berikut ini ada rumus yang bisa kamu pakai untuk mengerjakan soal yang berkaitan dengan pembiasan cahaya,<i>loh</i>. Perhatikan dan coba kita kerjakan beberapa soal berikut,<i>yuk</i>!</p>
38 <p>Oke, sampai sini semoga kamu paham ya tentang pembiasan cahaya.<i>Nah</i>, berikut ini ada rumus yang bisa kamu pakai untuk mengerjakan soal yang berkaitan dengan pembiasan cahaya,<i>loh</i>. Perhatikan dan coba kita kerjakan beberapa soal berikut,<i>yuk</i>!</p>
39 <p><strong>Contoh soal:</strong></p>
39 <p><strong>Contoh soal:</strong></p>
40 <p>1. Cahaya merambat dari air ke kaca. Jika indeks bias air adalah 1,33 dan indeks bias kaca adalah 1,54, maka hitunglah besar kecepatan cahaya di kaca jika diketahui kecepatan cahaya di air sebesar 2,25 x 108 m/s.</p>
40 <p>1. Cahaya merambat dari air ke kaca. Jika indeks bias air adalah 1,33 dan indeks bias kaca adalah 1,54, maka hitunglah besar kecepatan cahaya di kaca jika diketahui kecepatan cahaya di air sebesar 2,25 x 108 m/s.</p>
41 <p>Jadi, besar kecepatan cahaya di kaca adalah<strong>1,94 x 108 m/s</strong>.</p>
41 <p>Jadi, besar kecepatan cahaya di kaca adalah<strong>1,94 x 108 m/s</strong>.</p>
42 <p>2. Cahaya merambat dari udara ke air. Jika kecepatan cahaya di udara adalah 3 x 108 m/s dan indeks bias air adalah 4/3, maka tentukanlah besar kecepatan cahaya di air.</p>
42 <p>2. Cahaya merambat dari udara ke air. Jika kecepatan cahaya di udara adalah 3 x 108 m/s dan indeks bias air adalah 4/3, maka tentukanlah besar kecepatan cahaya di air.</p>
43 <p>Jadi, besar kecepatan cahaya di air adalah<strong>2,25 x 108 m/s</strong>.</p>
43 <p>Jadi, besar kecepatan cahaya di air adalah<strong>2,25 x 108 m/s</strong>.</p>
44 <p>Dua contoh soal di atas merupakan sebagian kecil dari tipe soal yang akan dikeluarkan pada materi pembiasan cahaya, ya. Jadi, kamu juga bisa mengasah kemampuanmu dengan berlatih tipe-tipe soal lainnya di<strong>ruangbelajar</strong>. Oke?</p>
44 <p>Dua contoh soal di atas merupakan sebagian kecil dari tipe soal yang akan dikeluarkan pada materi pembiasan cahaya, ya. Jadi, kamu juga bisa mengasah kemampuanmu dengan berlatih tipe-tipe soal lainnya di<strong>ruangbelajar</strong>. Oke?</p>
45 <p><strong>Baca Juga:<a>Mengenal Jenis-Jenis Cermin di Sekitar Kamu</a></strong></p>
45 <p><strong>Baca Juga:<a>Mengenal Jenis-Jenis Cermin di Sekitar Kamu</a></strong></p>
46 <p>Oh iya, kamu masih ingat,<i>nggak</i>? Di awal tadi, kita sempat bertanya-tanya, bagaimana<i>sih</i>pelangi bisa terjadi? Terus, kamu juga sudah diberi tahu kalau terjadinya pelangi itu karena adanya pembiasan cahaya. Tapi, bagaimana bisa?</p>
46 <p>Oh iya, kamu masih ingat,<i>nggak</i>? Di awal tadi, kita sempat bertanya-tanya, bagaimana<i>sih</i>pelangi bisa terjadi? Terus, kamu juga sudah diberi tahu kalau terjadinya pelangi itu karena adanya pembiasan cahaya. Tapi, bagaimana bisa?</p>
47 <p>Pelangi<i>kan</i>warnanya banyak, ada merah, kuning, hijau, juga warna-warna yang lain. Sedangkan, di pembahasan tadi,<i>nggak</i>ada<i>tuh</i>yang ngejelasin kalau cahaya akan dibelokkan, lalu “timbul warna-warni kayak pelangi”.</p>
47 <p>Pelangi<i>kan</i>warnanya banyak, ada merah, kuning, hijau, juga warna-warna yang lain. Sedangkan, di pembahasan tadi,<i>nggak</i>ada<i>tuh</i>yang ngejelasin kalau cahaya akan dibelokkan, lalu “timbul warna-warni kayak pelangi”.</p>
48 <p><em>Nah loh</em>! Gimana,<em>tuh</em>?</p>
48 <p><em>Nah loh</em>! Gimana,<em>tuh</em>?</p>
49 <p><em>Hayooo</em>… ada yang tahu kenapa bisa begitu?</p>
49 <p><em>Hayooo</em>… ada yang tahu kenapa bisa begitu?</p>
50 <p>Kenapa,<em>hey</em>! Kasih tau,<em>nggak</em>? (sumber: giphy.com)</p>
50 <p>Kenapa,<em>hey</em>! Kasih tau,<em>nggak</em>? (sumber: giphy.com)</p>
51 <p>Kalem,<em>gengs</em>. Tenang aja dan nggak usah khawatir. Penjelasannya ada di bawah ini,<em>kok</em>. Makanya, tetap simak, ya!</p>
51 <p>Kalem,<em>gengs</em>. Tenang aja dan nggak usah khawatir. Penjelasannya ada di bawah ini,<em>kok</em>. Makanya, tetap simak, ya!</p>
52 <h2>Kaitan Pembiasan Cahaya dengan Peristiwa Terbentuknya Pelangi</h2>
52 <h2>Kaitan Pembiasan Cahaya dengan Peristiwa Terbentuknya Pelangi</h2>
53 <p>Kamu sudah baca artikel tentang<a><strong>macam-macam sifat cahaya</strong></a>belum? Kalau sudah, kamu pasti tahu salah satu dari sifat cahaya adalah dapat diuraikan.<i>Hmm</i>… diuraikan bagaimana maksudnya?</p>
53 <p>Kamu sudah baca artikel tentang<a><strong>macam-macam sifat cahaya</strong></a>belum? Kalau sudah, kamu pasti tahu salah satu dari sifat cahaya adalah dapat diuraikan.<i>Hmm</i>… diuraikan bagaimana maksudnya?</p>
54 <p>Oke, jadi sebenarnya, cahaya putih yang biasa kita lihat ternyata tersusun dari berbagai macam warna dan warna-warna tersebut dapat diuraikan atau dipecah-pecah. Hal ini yang menyebabkan cahaya putih disebut sebagai<strong>cahaya polikromatik</strong>, contohnya sinar matahari.</p>
54 <p>Oke, jadi sebenarnya, cahaya putih yang biasa kita lihat ternyata tersusun dari berbagai macam warna dan warna-warna tersebut dapat diuraikan atau dipecah-pecah. Hal ini yang menyebabkan cahaya putih disebut sebagai<strong>cahaya polikromatik</strong>, contohnya sinar matahari.</p>
55 <p>Warna-warna pada cahaya putih ada banyak,<i>lho</i>! Ada merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Biasanya<i>sih</i>, kita menyingkatnya dengan mejikuhibiniu. Sama dengan warna pada pelangi, bukan?</p>
55 <p>Warna-warna pada cahaya putih ada banyak,<i>lho</i>! Ada merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Biasanya<i>sih</i>, kita menyingkatnya dengan mejikuhibiniu. Sama dengan warna pada pelangi, bukan?</p>
56 <p>Penguraian cahaya putih menjadi berbagai macam warna disebut dengan<strong>dispersi</strong>. Dispersi<strong>terjadi karena adanya perbedaan indeks bias tiap cahaya</strong>, sehingga saat cahaya dibiaskan pada suatu medium, cahaya tadi mengeluarkan berbagai macam warna seperti pelangi.</p>
56 <p>Penguraian cahaya putih menjadi berbagai macam warna disebut dengan<strong>dispersi</strong>. Dispersi<strong>terjadi karena adanya perbedaan indeks bias tiap cahaya</strong>, sehingga saat cahaya dibiaskan pada suatu medium, cahaya tadi mengeluarkan berbagai macam warna seperti pelangi.</p>
57 <p>Contoh dispersi saat cahaya dibiaskan pada prisma segitiga (sumber: 7activestudio)</p>
57 <p>Contoh dispersi saat cahaya dibiaskan pada prisma segitiga (sumber: 7activestudio)</p>
58 <p>Selain gambar di atas, dispersi juga dapat terjadi saat cahaya matahari mengenai tetes-tetes air hujan. Mula-mula, cahaya matahari akan mengalami pembiasan oleh tetesan air hujan.</p>
58 <p>Selain gambar di atas, dispersi juga dapat terjadi saat cahaya matahari mengenai tetes-tetes air hujan. Mula-mula, cahaya matahari akan mengalami pembiasan oleh tetesan air hujan.</p>
59 <p>Setelah itu, warna putih pada cahaya matahari akan diuraikan menjadi warna-warna indah di langit yang kita sebut dengan pelangi.</p>
59 <p>Setelah itu, warna putih pada cahaya matahari akan diuraikan menjadi warna-warna indah di langit yang kita sebut dengan pelangi.</p>
60 <p>Pelangi terjadi karena pembiasan antara sinar matahari dengan tetesan air hujan (sumber: It’s Aumsum Time via YouTube)</p>
60 <p>Pelangi terjadi karena pembiasan antara sinar matahari dengan tetesan air hujan (sumber: It’s Aumsum Time via YouTube)</p>
61 <p>Perlu kamu ketahui, pelangi tidak selalu dapat dilihat saat turun hujan,<em>lho</em>. Alasannya karena posisi kita berdiri akan menentukan bisa atau tidaknya kita melihat pelangi.</p>
61 <p>Perlu kamu ketahui, pelangi tidak selalu dapat dilihat saat turun hujan,<em>lho</em>. Alasannya karena posisi kita berdiri akan menentukan bisa atau tidaknya kita melihat pelangi.</p>
62 <p>Agar dapat melihat pelangi dengan jelas, saat hujan, kita harus berdiri membelakangi matahari. Posisi matahari juga tidak boleh terlalu tinggi. Apabila terlalu tinggi, kita tidak akan bisa melihat pelangi sama sekali. Makanya, kemungkinan terbesar pelangi akan terlihat, yaitu saat turun hujan di pagi atau sore hari.</p>
62 <p>Agar dapat melihat pelangi dengan jelas, saat hujan, kita harus berdiri membelakangi matahari. Posisi matahari juga tidak boleh terlalu tinggi. Apabila terlalu tinggi, kita tidak akan bisa melihat pelangi sama sekali. Makanya, kemungkinan terbesar pelangi akan terlihat, yaitu saat turun hujan di pagi atau sore hari.</p>
63 <p><strong>Baca Juga:<a>Macam-Macam Gerak pada Benda Beserta Contohnya</a></strong></p>
63 <p><strong>Baca Juga:<a>Macam-Macam Gerak pada Benda Beserta Contohnya</a></strong></p>
64 <p><em>Nah</em>, kamu tahu<em>nggak</em>,<em>sih</em>? Peristiwa pembiasan cahaya tidak hanya menyebabkan terjadinya pelangi saja,<em>lho</em>! Masih banyak contoh pembiasan cahaya yang bisa kamu temui dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya dapat kamu lihat pada gambar berikut ini.</p>
64 <p><em>Nah</em>, kamu tahu<em>nggak</em>,<em>sih</em>? Peristiwa pembiasan cahaya tidak hanya menyebabkan terjadinya pelangi saja,<em>lho</em>! Masih banyak contoh pembiasan cahaya yang bisa kamu temui dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya dapat kamu lihat pada gambar berikut ini.</p>
65 <p>Sekarang, sudah terjawab<em>kan</em>kenapa pelangi bisa terjadi. Oh iya, kamu juga bisa<em>lho</em>membuat pelangi sendiri. Caranya, kamu bisa mencari tempat terbuka yang terkena sinar matahari. Lalu, semprotkan air menggunakan semprotan<em>spry</em>di daerah yang terkena sinar matahari tersebut. Hasilnya, kamu bisa melihat warna-warni yang muncul seperti warna pelangi. Keren,<em>nggak</em>? Jadi,<em>nggak</em>harus nunggu hujan turun<em>deh</em>untuk melihat pelangi.</p>
65 <p>Sekarang, sudah terjawab<em>kan</em>kenapa pelangi bisa terjadi. Oh iya, kamu juga bisa<em>lho</em>membuat pelangi sendiri. Caranya, kamu bisa mencari tempat terbuka yang terkena sinar matahari. Lalu, semprotkan air menggunakan semprotan<em>spry</em>di daerah yang terkena sinar matahari tersebut. Hasilnya, kamu bisa melihat warna-warni yang muncul seperti warna pelangi. Keren,<em>nggak</em>? Jadi,<em>nggak</em>harus nunggu hujan turun<em>deh</em>untuk melihat pelangi.</p>
66 <p><em>Guys</em>, kamu juga dapat mempelajari materi pembiasan cahaya ini dengan lebih lengkap dan menarik lagi di<a><strong>ruangbelajar</strong></a>,<em>loh</em>. Bagi yang belum<em>download</em>,<em>yuk</em>buruan<em>download</em>aplikasinya sekarang!</p>
66 <p><em>Guys</em>, kamu juga dapat mempelajari materi pembiasan cahaya ini dengan lebih lengkap dan menarik lagi di<a><strong>ruangbelajar</strong></a>,<em>loh</em>. Bagi yang belum<em>download</em>,<em>yuk</em>buruan<em>download</em>aplikasinya sekarang!</p>
67  
67