0 added
0 removed
Original
2026-01-01
Modified
2026-03-08
1
<blockquote><p><em>Puisi ternyata ada banyak jenisnya, loh. Salah satunya puisi lama. Apa itu puisi lama? Seperti apa ciri-ciri dan contohnya? Yuk, mari kita simak bersama di<strong><a>artikel Bahasa Indonesia kelas 10</a></strong>berikut ini!</em></p>
1
<blockquote><p><em>Puisi ternyata ada banyak jenisnya, loh. Salah satunya puisi lama. Apa itu puisi lama? Seperti apa ciri-ciri dan contohnya? Yuk, mari kita simak bersama di<strong><a>artikel Bahasa Indonesia kelas 10</a></strong>berikut ini!</em></p>
2
</blockquote><p>-</p>
2
</blockquote><p>-</p>
3
<p>Siapa di antara kamu yang suka menulis dan tertarik dengan dunia sastra?<em>Nah,</em>jika kamu ingin menggeluti dunia sastra, kamu pun harus mengetahui karakter dan contoh-contoh tulisannya.</p>
3
<p>Siapa di antara kamu yang suka menulis dan tertarik dengan dunia sastra?<em>Nah,</em>jika kamu ingin menggeluti dunia sastra, kamu pun harus mengetahui karakter dan contoh-contoh tulisannya.</p>
4
<p>Pada artikel ini, kita akan coba mengenal tentang puisi lama. Dalam puisi lama, ada beberapa jenis yang bisa kamu pelajari dan pahami baik-baik. Mulai dari<strong>pantun, mantra, karmina, syair, gurindam, seloka, talibu</strong>, juga contoh dari puisi dari Chairil Anwar.</p>
4
<p>Pada artikel ini, kita akan coba mengenal tentang puisi lama. Dalam puisi lama, ada beberapa jenis yang bisa kamu pelajari dan pahami baik-baik. Mulai dari<strong>pantun, mantra, karmina, syair, gurindam, seloka, talibu</strong>, juga contoh dari puisi dari Chairil Anwar.</p>
5
<p>Langsung saja kita simak penjelasan lengkapnya di bawah ini, yuk!</p>
5
<p>Langsung saja kita simak penjelasan lengkapnya di bawah ini, yuk!</p>
6
<h2>Pengertian Puisi Lama</h2>
6
<h2>Pengertian Puisi Lama</h2>
7
<p>Puisi lama itu apa, sih? Jadi,<strong>puisi lama adalah puisi yang terikat dengan aturan-aturan tertentu</strong>, seperti rima, jumlah suku kata, jumlah baris, dan juga makna yang terkandung di dalamnya.</p>
7
<p>Puisi lama itu apa, sih? Jadi,<strong>puisi lama adalah puisi yang terikat dengan aturan-aturan tertentu</strong>, seperti rima, jumlah suku kata, jumlah baris, dan juga makna yang terkandung di dalamnya.</p>
8
<p>Umumnya, puisi lama diciptakan oleh orang-orang terdahulu (nenek moyang kita) untuk dijadikan nasehat ataupun seni hiburan. Puisi lama bisa juga disebut dengan<strong><a>puisi rakyat</a></strong>, loh.</p>
8
<p>Umumnya, puisi lama diciptakan oleh orang-orang terdahulu (nenek moyang kita) untuk dijadikan nasehat ataupun seni hiburan. Puisi lama bisa juga disebut dengan<strong><a>puisi rakyat</a></strong>, loh.</p>
9
<p><strong>Baca Juga:<a>Kumpulan Contoh Puisi Baru berdasarkan Jenis-Jenisnya</a></strong></p>
9
<p><strong>Baca Juga:<a>Kumpulan Contoh Puisi Baru berdasarkan Jenis-Jenisnya</a></strong></p>
10
<h2>Ciri-Ciri Puisi Lama</h2>
10
<h2>Ciri-Ciri Puisi Lama</h2>
11
<p>Puisi lama memiliki ciri-ciri tersendiri, di antaranya:</p>
11
<p>Puisi lama memiliki ciri-ciri tersendiri, di antaranya:</p>
12
<ul><li>Tidak pernah diketahui nama pengarang dari puisi tersebut.</li>
12
<ul><li>Tidak pernah diketahui nama pengarang dari puisi tersebut.</li>
13
<li>Penyampaiannya dari mulut ke mulut, sehingga puisi lama digolongkan menjadi jenis sastra lisan.</li>
13
<li>Penyampaiannya dari mulut ke mulut, sehingga puisi lama digolongkan menjadi jenis sastra lisan.</li>
14
<li>Mempunyai keterikatan terhadap aturan-aturan tertentu dalam pembuatannya. Contohnya seperti jumlah suku kata dalam setiap baris, jumlah baris dalam setiap bait, rima, sajak, hingga makna yang terkandung di dalamnya.</li>
14
<li>Mempunyai keterikatan terhadap aturan-aturan tertentu dalam pembuatannya. Contohnya seperti jumlah suku kata dalam setiap baris, jumlah baris dalam setiap bait, rima, sajak, hingga makna yang terkandung di dalamnya.</li>
15
</ul><p>Nah, puisi lama dibagi lagi menjadi beberapa jenis, di anataranya ada<strong>pantun</strong><strong>, mantra, karmina, syair, gurindam, seloka, dan talibu. </strong>Lalu, apa ya perbedaan dari setiap jenis puisi lama tersebut? Yuk, simak penjelasan di bawah ini!</p>
15
</ul><p>Nah, puisi lama dibagi lagi menjadi beberapa jenis, di anataranya ada<strong>pantun</strong><strong>, mantra, karmina, syair, gurindam, seloka, dan talibu. </strong>Lalu, apa ya perbedaan dari setiap jenis puisi lama tersebut? Yuk, simak penjelasan di bawah ini!</p>
16
<h3>1. Pantun</h3>
16
<h3>1. Pantun</h3>
17
<p><strong><a>Pantun</a>adalah</strong>salah satu bentuk puisi lama/puisi tradisional yang<strong>terdiri dari empat larik (baris), dengan sajak a-b-a-b</strong>. Pantun sering kali digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan, cerita, atau humor secara ringkas dan kreatif.</p>
17
<p><strong><a>Pantun</a>adalah</strong>salah satu bentuk puisi lama/puisi tradisional yang<strong>terdiri dari empat larik (baris), dengan sajak a-b-a-b</strong>. Pantun sering kali digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan, cerita, atau humor secara ringkas dan kreatif.</p>
18
<p><strong>Ciri-ciri pantun:</strong></p>
18
<p><strong>Ciri-ciri pantun:</strong></p>
19
<ul><li>Terdiri dari empat baris dengan pola a-b-a-b.</li>
19
<ul><li>Terdiri dari empat baris dengan pola a-b-a-b.</li>
20
<li>Setiap baris biasanya terdiri dari 4-6 suku kata.</li>
20
<li>Setiap baris biasanya terdiri dari 4-6 suku kata.</li>
21
<li>Baris 1 dan 2 sebagai sampiran, sedangkan baris 3 dan 4 sebagai isi.</li>
21
<li>Baris 1 dan 2 sebagai sampiran, sedangkan baris 3 dan 4 sebagai isi.</li>
22
<li>Pantun sering menggunakan berbagai jenis majas, seperti majas perbandingan, metafora, atau sindiran untuk meningkatkan keindahan bahasa dan memperkaya maknanya.</li>
22
<li>Pantun sering menggunakan berbagai jenis majas, seperti majas perbandingan, metafora, atau sindiran untuk meningkatkan keindahan bahasa dan memperkaya maknanya.</li>
23
<li>Mengandung makna yang padat, pantun serinkali menggambarkan situasi atau perasaan dengan kata-kata yang sederhana namun dalam.</li>
23
<li>Mengandung makna yang padat, pantun serinkali menggambarkan situasi atau perasaan dengan kata-kata yang sederhana namun dalam.</li>
24
</ul><h3>2. Mantra</h3>
24
</ul><h3>2. Mantra</h3>
25
<p>Apa yang ada di pikiranmu saat mendengar istilah mantra?</p>
25
<p>Apa yang ada di pikiranmu saat mendengar istilah mantra?</p>
26
<p><em>(Sumber: www.kibrispdr.org) </em></p>
26
<p><em>(Sumber: www.kibrispdr.org) </em></p>
27
<p>Yap!<strong>Mantra adalah</strong>jenis puisi lama yang<strong>dianggap memiliki kekuatan magis (ghaib)</strong>. Kekuatan ghaib ini dipercaya dapat menyembuhkan penyakit, menolak bala, ataupun mendatangkan celaka bagi seseorang. Oleh karena itu, mantra berkaitan erat dengan kepercayaan, budaya, maupun adat istiadat suatu wilayah.</p>
27
<p>Yap!<strong>Mantra adalah</strong>jenis puisi lama yang<strong>dianggap memiliki kekuatan magis (ghaib)</strong>. Kekuatan ghaib ini dipercaya dapat menyembuhkan penyakit, menolak bala, ataupun mendatangkan celaka bagi seseorang. Oleh karena itu, mantra berkaitan erat dengan kepercayaan, budaya, maupun adat istiadat suatu wilayah.</p>
28
<p><strong>Ciri-ciri mantra:</strong></p>
28
<p><strong>Ciri-ciri mantra:</strong></p>
29
<ul><li>Mempunyai rima a-b-c-a-b-c, a-b-c-d-a-b-c-d, a-b-c-d-e a-b-c-d-e.</li>
29
<ul><li>Mempunyai rima a-b-c-a-b-c, a-b-c-d-a-b-c-d, a-b-c-d-e a-b-c-d-e.</li>
30
<li>Diyakini memiliki kekuatan magis.</li>
30
<li>Diyakini memiliki kekuatan magis.</li>
31
<li>Terdapat perulangan dalam penyebutannya.</li>
31
<li>Terdapat perulangan dalam penyebutannya.</li>
32
<li>Disampaikan secara lisan.</li>
32
<li>Disampaikan secara lisan.</li>
33
<li>Lebih bebas dibandingkan puisi lama lainnya dalam suku kata, baris, dan sajak.</li>
33
<li>Lebih bebas dibandingkan puisi lama lainnya dalam suku kata, baris, dan sajak.</li>
34
</ul><h3>3. Karmina</h3>
34
</ul><h3>3. Karmina</h3>
35
<p>Kita lanjut ya,<strong>karmina adalah</strong>jenis puisi lama yang<strong>mirip dengan pantun, namun lebih pendek</strong>. Karmina hanya memiliki 2 baris saja dengan sajak a-a.</p>
35
<p>Kita lanjut ya,<strong>karmina adalah</strong>jenis puisi lama yang<strong>mirip dengan pantun, namun lebih pendek</strong>. Karmina hanya memiliki 2 baris saja dengan sajak a-a.</p>
36
<p><strong>Baca Juga:<a>Pengertian Puisi, Ciri, Jenis, Struktur & Unsur Pembentuknya</a></strong></p>
36
<p><strong>Baca Juga:<a>Pengertian Puisi, Ciri, Jenis, Struktur & Unsur Pembentuknya</a></strong></p>
37
<p><strong>Ciri-ciri karmina:</strong></p>
37
<p><strong>Ciri-ciri karmina:</strong></p>
38
<ul><li>Setiap bait terdiri dari 2 baris.</li>
38
<ul><li>Setiap bait terdiri dari 2 baris.</li>
39
<li>Setiap baris biasanya terdiri dari 8-12 suku kata.</li>
39
<li>Setiap baris biasanya terdiri dari 8-12 suku kata.</li>
40
<li>Baris pertama berupa sampiran dan baris kedua berupa isi.</li>
40
<li>Baris pertama berupa sampiran dan baris kedua berupa isi.</li>
41
<li>Bersajak lurus, yaitu a-a.</li>
41
<li>Bersajak lurus, yaitu a-a.</li>
42
</ul><h3>4. Gurindam</h3>
42
</ul><h3>4. Gurindam</h3>
43
<p><strong><a>Gurindam</a>adalah</strong>jenis puisi rakyat yang cukup terkenal di kalangan masyarakat Melayu. Gurindam pertama kali dibawa oleh orang Hindu, sekaligus menyebarkan sastra Hindu secara luas. Isinya berupa<strong>nasehat</strong>bagi pembaca maupun pendengarnya.</p>
43
<p><strong><a>Gurindam</a>adalah</strong>jenis puisi rakyat yang cukup terkenal di kalangan masyarakat Melayu. Gurindam pertama kali dibawa oleh orang Hindu, sekaligus menyebarkan sastra Hindu secara luas. Isinya berupa<strong>nasehat</strong>bagi pembaca maupun pendengarnya.</p>
44
<p><strong>Ciri-ciri gurindam:</strong></p>
44
<p><strong>Ciri-ciri gurindam:</strong></p>
45
<ul><li>Setiap bait terdiri dari 2 baris.</li>
45
<ul><li>Setiap bait terdiri dari 2 baris.</li>
46
<li>Setiap baris terdiri dari 10-14 suku kata.</li>
46
<li>Setiap baris terdiri dari 10-14 suku kata.</li>
47
<li>Baris 1 dan 2 membentuk kalimat majemuk yang memiliki hubungan syarat atau sebab akibat.</li>
47
<li>Baris 1 dan 2 membentuk kalimat majemuk yang memiliki hubungan syarat atau sebab akibat.</li>
48
<li>Baris 1 berisi syarat, sedangkan baris 2 berisi jawaban.</li>
48
<li>Baris 1 berisi syarat, sedangkan baris 2 berisi jawaban.</li>
49
<li>Berupa nasihat, petunjuk, filosofi hidup, maupun kata-kata mutiara.</li>
49
<li>Berupa nasihat, petunjuk, filosofi hidup, maupun kata-kata mutiara.</li>
50
<li>Memiliki sajak a-a.</li>
50
<li>Memiliki sajak a-a.</li>
51
</ul><h3>5. Syair</h3>
51
</ul><h3>5. Syair</h3>
52
<p><strong><a>Syair</a>adalah</strong>jenis puisi rakyat yang berasal dari Persia. Syair terdiri dari empat baris sebagai isi. Syair punya ciri khas, yaitu<strong>bahasa yang digunakan berupa Bahasa Melayu lama</strong>.</p>
52
<p><strong><a>Syair</a>adalah</strong>jenis puisi rakyat yang berasal dari Persia. Syair terdiri dari empat baris sebagai isi. Syair punya ciri khas, yaitu<strong>bahasa yang digunakan berupa Bahasa Melayu lama</strong>.</p>
53
<p><strong>Ciri-ciri syair:</strong></p>
53
<p><strong>Ciri-ciri syair:</strong></p>
54
<ul><li>Setiap bait terdiri atas 4 baris.</li>
54
<ul><li>Setiap bait terdiri atas 4 baris.</li>
55
<li>Setiap baris terdiri atas 8-14 suku kata.</li>
55
<li>Setiap baris terdiri atas 8-14 suku kata.</li>
56
<li>Semua baris merupakan isi. Jadi, tidak ada sampiran seperti di pantun.</li>
56
<li>Semua baris merupakan isi. Jadi, tidak ada sampiran seperti di pantun.</li>
57
<li>Mempunyai sajak a-a-a-a.</li>
57
<li>Mempunyai sajak a-a-a-a.</li>
58
</ul><h3>6. Seloka</h3>
58
</ul><h3>6. Seloka</h3>
59
<p><strong>Seloka adalah</strong>jenis puisi lama yang<strong>mirip dengan pantun, namun mempunyai bait yang saling sambung-menyambung</strong>. Sehingga, seloka sering juga disebut sebagai pantun berkait atau pantun berantai.</p>
59
<p><strong>Seloka adalah</strong>jenis puisi lama yang<strong>mirip dengan pantun, namun mempunyai bait yang saling sambung-menyambung</strong>. Sehingga, seloka sering juga disebut sebagai pantun berkait atau pantun berantai.</p>
60
<p><strong>Ciri-ciri seloka:</strong></p>
60
<p><strong>Ciri-ciri seloka:</strong></p>
61
<ul><li>Setiap bait terdiri dari 4 baris.</li>
61
<ul><li>Setiap bait terdiri dari 4 baris.</li>
62
<li>Baris pertama dan kedua merupakan sampiran, sementara baris ketiga dan keempat merupakan isi.</li>
62
<li>Baris pertama dan kedua merupakan sampiran, sementara baris ketiga dan keempat merupakan isi.</li>
63
<li>Setiap baris terdiri dari 4-6 atau 8-12 suku kata.</li>
63
<li>Setiap baris terdiri dari 4-6 atau 8-12 suku kata.</li>
64
<li>Memiliki sajak a-a-a-a atau a-b-a-b.</li>
64
<li>Memiliki sajak a-a-a-a atau a-b-a-b.</li>
65
<li>Merupakan pantun yang saling sambung-menyambung.</li>
65
<li>Merupakan pantun yang saling sambung-menyambung.</li>
66
</ul><h3>7. Talibun</h3>
66
</ul><h3>7. Talibun</h3>
67
<p>Terakhir,<strong>talibun adalah</strong>jenis puisi lama yang<strong>setiap baitnya, terdiri dari jumlah baris yang genap</strong>, misalnya 6,8, atau 10 baris.</p>
67
<p>Terakhir,<strong>talibun adalah</strong>jenis puisi lama yang<strong>setiap baitnya, terdiri dari jumlah baris yang genap</strong>, misalnya 6,8, atau 10 baris.</p>
68
<p><strong>Ciri-ciri talibun:</strong></p>
68
<p><strong>Ciri-ciri talibun:</strong></p>
69
<ul><li>Memiliki lebih dari 4 baris dan berjumlah genap. Misalnya, 4, 6, 8, atau 10 baris dalam setiap bait.</li>
69
<ul><li>Memiliki lebih dari 4 baris dan berjumlah genap. Misalnya, 4, 6, 8, atau 10 baris dalam setiap bait.</li>
70
<li>Jika satu bait terdiri atas 6 baris, maka tiga baris awal adalah sampiran dan tiga baris akhir adalah isi. Begitupun kelipatannya.</li>
70
<li>Jika satu bait terdiri atas 6 baris, maka tiga baris awal adalah sampiran dan tiga baris akhir adalah isi. Begitupun kelipatannya.</li>
71
<li>Jika satu bait terdiri atas 6 baris, maka sajaknya adalah a-b-c-a-b-c. Dan jika satu bait terdiri atas 8 baris, maka sajaknya adalah a-b-c-d-a-b-c-d, begitu seterusnya.</li>
71
<li>Jika satu bait terdiri atas 6 baris, maka sajaknya adalah a-b-c-a-b-c. Dan jika satu bait terdiri atas 8 baris, maka sajaknya adalah a-b-c-d-a-b-c-d, begitu seterusnya.</li>
72
</ul><h2>Contoh Puisi Lama</h2>
72
</ul><h2>Contoh Puisi Lama</h2>
73
<p>Oke<em>,</em>sekarang di bawah ini ada beberapa contoh dari puisi lama yang bisa kalian pelajari dan pahami:</p>
73
<p>Oke<em>,</em>sekarang di bawah ini ada beberapa contoh dari puisi lama yang bisa kalian pelajari dan pahami:</p>
74
<h3>1. Contoh Pantun Jenaka</h3>
74
<h3>1. Contoh Pantun Jenaka</h3>
75
<p>Pagi-pagi mancing ikan dapatnya banyak hati pun senang Badan kurus sedikit makan Terkena angin langsung terbang</p>
75
<p>Pagi-pagi mancing ikan dapatnya banyak hati pun senang Badan kurus sedikit makan Terkena angin langsung terbang</p>
76
<h3>2. Contoh Pantun Nasihat</h3>
76
<h3>2. Contoh Pantun Nasihat</h3>
77
<p>Ke supermarket beli piring baru Sekalian juga membeli gelas Dengarkanlah nasihat ibu bapak guru Agar menjadi juara kelas</p>
77
<p>Ke supermarket beli piring baru Sekalian juga membeli gelas Dengarkanlah nasihat ibu bapak guru Agar menjadi juara kelas</p>
78
<h3>3. Contoh Pantun Agama</h3>
78
<h3>3. Contoh Pantun Agama</h3>
79
<p>Asam kandis asam gelugur Ketiga asam si riang-riang Menangis mayat di pintu kubur Teringat badan tidak sembahyang</p>
79
<p>Asam kandis asam gelugur Ketiga asam si riang-riang Menangis mayat di pintu kubur Teringat badan tidak sembahyang</p>
80
<p><strong>Baca Juga:<a>Kumpulan Contoh Pantun Nasihat, Jenaka & Jenis Lainnya</a></strong></p>
80
<p><strong>Baca Juga:<a>Kumpulan Contoh Pantun Nasihat, Jenaka & Jenis Lainnya</a></strong></p>
81
<h3>4. Contoh Mantra Pelemah</h3>
81
<h3>4. Contoh Mantra Pelemah</h3>
82
<p>Bismillahirrahmanirrahim Rebah ramu engkau berdiri ramu aku Rebah syarak engkau berdiri syarak ak Aku mengambil baja sejengkal dalam diri engkau Berkat lailahaillallah Muhammadurrasulullah</p>
82
<p>Bismillahirrahmanirrahim Rebah ramu engkau berdiri ramu aku Rebah syarak engkau berdiri syarak ak Aku mengambil baja sejengkal dalam diri engkau Berkat lailahaillallah Muhammadurrasulullah</p>
83
<h3>5. Contoh Mantra Penunduk</h3>
83
<h3>5. Contoh Mantra Penunduk</h3>
84
<p>Gempa ali gempa gempita Dang sari gajah berlenggang Sah aku anak harimau yang garang Batu congkol hatiku Nibung kering tulangku Berkat doa baginda Ali Gentar bumi gentar langit</p>
84
<p>Gempa ali gempa gempita Dang sari gajah berlenggang Sah aku anak harimau yang garang Batu congkol hatiku Nibung kering tulangku Berkat doa baginda Ali Gentar bumi gentar langit</p>
85
<h3>6. Contoh Mantra Pengusir Roh Halus</h3>
85
<h3>6. Contoh Mantra Pengusir Roh Halus</h3>
86
<p>Manunggaling Kawula Gusti Ya Murubing Bumi Sirku Sir Sang Hyang Widi Kinasih kang asih</p>
86
<p>Manunggaling Kawula Gusti Ya Murubing Bumi Sirku Sir Sang Hyang Widi Kinasih kang asih</p>
87
<p>Sihir lontar pinang lontar Terletak di ujung bumi Setan buta jembalang tua Aku sapa tidak berbunyi</p>
87
<p>Sihir lontar pinang lontar Terletak di ujung bumi Setan buta jembalang tua Aku sapa tidak berbunyi</p>
88
<h3>7. Contoh Karmina Lucu</h3>
88
<h3>7. Contoh Karmina Lucu</h3>
89
<p>Burung perkutut terbang melayang Abang kentut tidak bilang-bilang</p>
89
<p>Burung perkutut terbang melayang Abang kentut tidak bilang-bilang</p>
90
<h3>8. Contoh Karmina tema Pendidikan</h3>
90
<h3>8. Contoh Karmina tema Pendidikan</h3>
91
<p>Lukamu adalah lukaku, ditahan di dalam kalbu Tetaplah maju, meski tak tahu yang dituju</p>
91
<p>Lukamu adalah lukaku, ditahan di dalam kalbu Tetaplah maju, meski tak tahu yang dituju</p>
92
<h3>9. Contoh Karmina tema Cinta</h3>
92
<h3>9. Contoh Karmina tema Cinta</h3>
93
<p>Buah nanas buah kelapa Hatiku panas ingin berjumpa</p>
93
<p>Buah nanas buah kelapa Hatiku panas ingin berjumpa</p>
94
<h3>10. Contoh Gurindam Nasihat</h3>
94
<h3>10. Contoh Gurindam Nasihat</h3>
95
<p>Jika hendak mengenal orang berbahagia Sangat memeliharakan yang sia-sia</p>
95
<p>Jika hendak mengenal orang berbahagia Sangat memeliharakan yang sia-sia</p>
96
<h3>11. Contoh Gurindam Pendidikan</h3>
96
<h3>11. Contoh Gurindam Pendidikan</h3>
97
<p>Kasihkan orang yang berilmu Tanda rahmat atas dirimu</p>
97
<p>Kasihkan orang yang berilmu Tanda rahmat atas dirimu</p>
98
<h3>12. Contoh Gurindam Berangkai</h3>
98
<h3>12. Contoh Gurindam Berangkai</h3>
99
<p>Lakukan saja apa yang menurutmu benar Lakukan saja apa yang menurutmu pantas Hidup hanya bergantung pada hati Karena hidup hanya sesaat dan kemudian mati Bukalah pintu cinta dihatimu Jangan pintu cinta dimatamu</p>
99
<p>Lakukan saja apa yang menurutmu benar Lakukan saja apa yang menurutmu pantas Hidup hanya bergantung pada hati Karena hidup hanya sesaat dan kemudian mati Bukalah pintu cinta dihatimu Jangan pintu cinta dimatamu</p>
100
<p><strong>Baca Juga:<a>Kumpulan Contoh Gurindam Berbagai Tema, Ciri & Jenisnya</a></strong></p>
100
<p><strong>Baca Juga:<a>Kumpulan Contoh Gurindam Berbagai Tema, Ciri & Jenisnya</a></strong></p>
101
<h3>13. Contoh Syair Pendidikan</h3>
101
<h3>13. Contoh Syair Pendidikan</h3>
102
<p>Ingatlah ini ananda Rajinlah belajar sepanjang masa Karena ilmu tiada habisnya Sampai kau tutup usia</p>
102
<p>Ingatlah ini ananda Rajinlah belajar sepanjang masa Karena ilmu tiada habisnya Sampai kau tutup usia</p>
103
<h3>14. Contoh Syair Agama</h3>
103
<h3>14. Contoh Syair Agama</h3>
104
<p>Jauhi semua perbuatan jahat Jauhi pula perbuatan maksiat Mari kita segera bertaubat Supaya selamat di dunia akhirat</p>
104
<p>Jauhi semua perbuatan jahat Jauhi pula perbuatan maksiat Mari kita segera bertaubat Supaya selamat di dunia akhirat</p>
105
<p>Jangan lalaikan perintah-Nya Kerjakan yang disuruh-Nya Bertaubatlah kepada-nya Dia pasti menerimanya</p>
105
<p>Jangan lalaikan perintah-Nya Kerjakan yang disuruh-Nya Bertaubatlah kepada-nya Dia pasti menerimanya</p>
106
<p>Ingatlah pada dosamu Ingatlah akan kelalaianmu Perbaiki hati dan dirimu Tuhan pasti kan menyayangimu</p>
106
<p>Ingatlah pada dosamu Ingatlah akan kelalaianmu Perbaiki hati dan dirimu Tuhan pasti kan menyayangimu</p>
107
<h3>15. Contoh Syair Nasihat</h3>
107
<h3>15. Contoh Syair Nasihat</h3>
108
<p>Rajin-rajinlah beribadat Janganlah lupa mengerjakan salat Dan perbanyaklah engkau berzakat Untuk bekal nanti di akhirat</p>
108
<p>Rajin-rajinlah beribadat Janganlah lupa mengerjakan salat Dan perbanyaklah engkau berzakat Untuk bekal nanti di akhirat</p>
109
<p><strong>Baca Juga:<a>Kumpulan Contoh Syair Berbagai Macam Tema beserta Ciri & Jenisnya</a></strong></p>
109
<p><strong>Baca Juga:<a>Kumpulan Contoh Syair Berbagai Macam Tema beserta Ciri & Jenisnya</a></strong></p>
110
<h3>16. Contoh Seloka 4 Baris</h3>
110
<h3>16. Contoh Seloka 4 Baris</h3>
111
<p>Sudah bertemu kasih sayang Duduk termangu malam siang Hingga setampak tiada renggang Tulang sendi habis terguncang</p>
111
<p>Sudah bertemu kasih sayang Duduk termangu malam siang Hingga setampak tiada renggang Tulang sendi habis terguncang</p>
112
<h3>17. Contoh Seloka 8 Baris</h3>
112
<h3>17. Contoh Seloka 8 Baris</h3>
113
<p>Lurus jalan ke Payakumbuh Kayu jati bertimbal jalan Di mana hati tak kan rusuh Ibu mati Bapak berjalan Kayu jati bertimbal jalan Turun angin patahlah hati Ibu mati Bapak Berjalan Ke mana untung diberi</p>
113
<p>Lurus jalan ke Payakumbuh Kayu jati bertimbal jalan Di mana hati tak kan rusuh Ibu mati Bapak berjalan Kayu jati bertimbal jalan Turun angin patahlah hati Ibu mati Bapak Berjalan Ke mana untung diberi</p>
114
<h3>18. Contoh Seloka 12 Baris</h3>
114
<h3>18. Contoh Seloka 12 Baris</h3>
115
<p>Cendawan berduri robekkan kain Ambil tambang diikat sebelah Pikirkan diri yang belum kawin Adakah kumbang bersedia singgah Ambil tambang diikat sebelah Robek menganga si kain perca Adakah kumbang bersedia singgah Taman bunga mekar ceria Robek menganga si kain perca Buat tambalan kain pengganti Taman bunga mekar ceria Sudah tentukan si hari jadi</p>
115
<p>Cendawan berduri robekkan kain Ambil tambang diikat sebelah Pikirkan diri yang belum kawin Adakah kumbang bersedia singgah Ambil tambang diikat sebelah Robek menganga si kain perca Adakah kumbang bersedia singgah Taman bunga mekar ceria Robek menganga si kain perca Buat tambalan kain pengganti Taman bunga mekar ceria Sudah tentukan si hari jadi</p>
116
<h3><strong>19. Contoh Talibun 6 Baris</strong></h3>
116
<h3><strong>19. Contoh Talibun 6 Baris</strong></h3>
117
<p>Kalau anak pergi ke pekan (a) Yu beli belanak pun beli sampiran (b) Ikan panjang beli dahulu (c) Kalau anak pergi berjalan (a) Ibu cari sanak pun cari isi (b) Induk semang cari dahulu (c)</p>
117
<p>Kalau anak pergi ke pekan (a) Yu beli belanak pun beli sampiran (b) Ikan panjang beli dahulu (c) Kalau anak pergi berjalan (a) Ibu cari sanak pun cari isi (b) Induk semang cari dahulu (c)</p>
118
<h3>20. Contoh Talibun 8 Baris</h3>
118
<h3>20. Contoh Talibun 8 Baris</h3>
119
<p>Pergi ke kota jalannya lebar (a) Membawa barang dalam ikatan (b) Semua ikatan ada dalam wadah (c) Wadah dibawa oleh kedua tangan (d) Dag dig dug jantung ini berdebar (a) Hati merasa tidak karuan (b) Melihat pria dengan rambut terbelah (c) Sungguh ia pria idaman (d)</p>
119
<p>Pergi ke kota jalannya lebar (a) Membawa barang dalam ikatan (b) Semua ikatan ada dalam wadah (c) Wadah dibawa oleh kedua tangan (d) Dag dig dug jantung ini berdebar (a) Hati merasa tidak karuan (b) Melihat pria dengan rambut terbelah (c) Sungguh ia pria idaman (d)</p>
120
<h3>21. Contoh Talibun 10 Baris</h3>
120
<h3>21. Contoh Talibun 10 Baris</h3>
121
<p>Bunga di pasar sangat bergelimang (a) Semua bertebaran di atas genangan (b) Genangan membuat noda menghitam (c) Kelam dan tiada mengering (d) Tergeletak di tengah jalanan (e) Andaikan kebahagiaan mulai menghilang (a) Kemudian timbullah semua kenangan (b) Kau jangan menangis sehari semalam (c) Kau jangan menangis hingga mata kering (d) Ingatlah Tuhan sumber kebahagiaan (e)</p>
121
<p>Bunga di pasar sangat bergelimang (a) Semua bertebaran di atas genangan (b) Genangan membuat noda menghitam (c) Kelam dan tiada mengering (d) Tergeletak di tengah jalanan (e) Andaikan kebahagiaan mulai menghilang (a) Kemudian timbullah semua kenangan (b) Kau jangan menangis sehari semalam (c) Kau jangan menangis hingga mata kering (d) Ingatlah Tuhan sumber kebahagiaan (e)</p>
122
<p><strong>Baca Juga:<a>Kumpulan Contoh Puisi Pendek Bermacam Tema dan Makna</a></strong></p>
122
<p><strong>Baca Juga:<a>Kumpulan Contoh Puisi Pendek Bermacam Tema dan Makna</a></strong></p>
123
<p>-</p>
123
<p>-</p>
124
<p>Nah<em>,</em>itulah penjelasan mengenai<strong>macam-macam puisi lama</strong>. Agar kamu semakin handal dalam membuat puisi, kuncinya, kamu harus memperkaya perbendaharaan kata ya, karena permainan kata dalam penulisan sastra itu sangat penting, tentunya untuk menggambarkan suasana hati, dan juga pikiran kita.</p>
124
<p>Nah<em>,</em>itulah penjelasan mengenai<strong>macam-macam puisi lama</strong>. Agar kamu semakin handal dalam membuat puisi, kuncinya, kamu harus memperkaya perbendaharaan kata ya, karena permainan kata dalam penulisan sastra itu sangat penting, tentunya untuk menggambarkan suasana hati, dan juga pikiran kita.</p>
125
<p>Mau belajar menulis puisi lama dengan baik?<em>Yuk</em>, langsung lihat di video belajar beranimasi di<a>ruangbelajar</a>.</p>
125
<p>Mau belajar menulis puisi lama dengan baik?<em>Yuk</em>, langsung lihat di video belajar beranimasi di<a>ruangbelajar</a>.</p>
126
<p><strong>Referensi:</strong></p>
126
<p><strong>Referensi:</strong></p>
127
<p>Zabadi, Fairul dan Sutejo. 2015. Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.</p>
127
<p>Zabadi, Fairul dan Sutejo. 2015. Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.</p>
128
<p>https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6938878/13-contoh-mantra-beserta-pengertian-dan-cirinya (Diakses pada 13 Mei 2024)</p>
128
<p>https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6938878/13-contoh-mantra-beserta-pengertian-dan-cirinya (Diakses pada 13 Mei 2024)</p>
129
<p>https://www.gramedia.com/literasi/jenis-jenis-puisi-lama/ (Diakses pada 13 Mei 2024)</p>
129
<p>https://www.gramedia.com/literasi/jenis-jenis-puisi-lama/ (Diakses pada 13 Mei 2024)</p>
130
<p>https://kumparan.com/berita-hari-ini/contoh-seloka-beserta-ciri-cirinya-sebagai-puisi-lama-1yu1apF0NVO/full (Diakses pada 13 Mei 2024)</p>
130
<p>https://kumparan.com/berita-hari-ini/contoh-seloka-beserta-ciri-cirinya-sebagai-puisi-lama-1yu1apF0NVO/full (Diakses pada 13 Mei 2024)</p>
131
<p><strong>Sumber Gambar:</strong></p>
131
<p><strong>Sumber Gambar:</strong></p>
132
<p>https://www.kibrispdr.org/detail-24/foto-mbah-dukun.html (Diakses pada 13 Mei 2024)</p>
132
<p>https://www.kibrispdr.org/detail-24/foto-mbah-dukun.html (Diakses pada 13 Mei 2024)</p>
133
<p><em><strong>Artikel ini diperbarui pada 13 Mei 2024.</strong></em></p>
133
<p><em><strong>Artikel ini diperbarui pada 13 Mei 2024.</strong></em></p>
134
134