0 added
0 removed
Original
2026-01-01
Modified
2026-03-08
1
<blockquote><p><em>Kamu suka baca puisi? Yuk, lihat beberapa contoh puisi pendek, beserta pengertian, ciri-ciri, jenis, bentuk, dan unsur pembangun puisi di<strong><a>artikel Bahasa Indonesia kelas 10</a></strong>berikut ini.</em></p>
1
<blockquote><p><em>Kamu suka baca puisi? Yuk, lihat beberapa contoh puisi pendek, beserta pengertian, ciri-ciri, jenis, bentuk, dan unsur pembangun puisi di<strong><a>artikel Bahasa Indonesia kelas 10</a></strong>berikut ini.</em></p>
2
</blockquote><p><em>-</em></p>
2
</blockquote><p><em>-</em></p>
3
<p><em>“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.”</em></p>
3
<p><em>“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.”</em></p>
4
<p>Tahu nggak itu penggalan apa?<em>Yap</em>, bener banget. Itu adalah penggalan dari salah satu teks puisi paling terkenal karya Sapardi Djoko Damono.</p>
4
<p>Tahu nggak itu penggalan apa?<em>Yap</em>, bener banget. Itu adalah penggalan dari salah satu teks puisi paling terkenal karya Sapardi Djoko Damono.</p>
5
<p>Puisi memang memiliki kata-kata yang indah dan sering membuat para pembacanya<em>baper</em>. Puisi sebenarnya dapat kita temui dengan mudah sehari-hari. Bahkan, syair-syair lagu yang indah dan disusun dengan makna yang dalam termasuk ke dalam bentuk puisi,<em>lho</em>.</p>
5
<p>Puisi memang memiliki kata-kata yang indah dan sering membuat para pembacanya<em>baper</em>. Puisi sebenarnya dapat kita temui dengan mudah sehari-hari. Bahkan, syair-syair lagu yang indah dan disusun dengan makna yang dalam termasuk ke dalam bentuk puisi,<em>lho</em>.</p>
6
<p>Berpuisi bukanlah hal yang asing bagi kita. Dengan mendengar dan membaca sesuatu yang dipuisikan, suasana hati pun menjadi lebih damai. Tidak jarang, kalimat-kalimat dalam puisi kerap mewakilkan perasaan kita. Bener<em>nggak</em>?</p>
6
<p>Berpuisi bukanlah hal yang asing bagi kita. Dengan mendengar dan membaca sesuatu yang dipuisikan, suasana hati pun menjadi lebih damai. Tidak jarang, kalimat-kalimat dalam puisi kerap mewakilkan perasaan kita. Bener<em>nggak</em>?</p>
7
<p>Nah, kali ini kita akan melihat pengertian puisi secara lebih dekat beserta dengan contoh dan jenis-jenis puisi. Sudah siap? Yuk, simak berikut ini ya.</p>
7
<p>Nah, kali ini kita akan melihat pengertian puisi secara lebih dekat beserta dengan contoh dan jenis-jenis puisi. Sudah siap? Yuk, simak berikut ini ya.</p>
8
<h2>Pengertian Puisi</h2>
8
<h2>Pengertian Puisi</h2>
9
<p>Puisi adalah teks atau karangan yang mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan mengutamakan keindahan dari kata-kata. Puisi dapat mengungkapkan berbagai perasaan, mulai dari kerinduan, kegelisahan, atau pengagungan kepada sang Pencipta yang diungkapkan dalam bahasa indah.</p>
9
<p>Puisi adalah teks atau karangan yang mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan mengutamakan keindahan dari kata-kata. Puisi dapat mengungkapkan berbagai perasaan, mulai dari kerinduan, kegelisahan, atau pengagungan kepada sang Pencipta yang diungkapkan dalam bahasa indah.</p>
10
<p>Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang banyak disukai karena disajikan dalam bahasa yang indah dan sifatnya yang imajinatif. Puisi kerap dianggap sebagai rangkaian kata-kata yang menggambarkan perasaan penulis atau penyairnya. Pesan yang ingin disampaikan oleh penyair ini dirangkai dengan kata-kata yang indah dan berbeda dengan bahasa sehari-hari.</p>
10
<p>Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang banyak disukai karena disajikan dalam bahasa yang indah dan sifatnya yang imajinatif. Puisi kerap dianggap sebagai rangkaian kata-kata yang menggambarkan perasaan penulis atau penyairnya. Pesan yang ingin disampaikan oleh penyair ini dirangkai dengan kata-kata yang indah dan berbeda dengan bahasa sehari-hari.</p>
11
<p>Makna sangat penting bagi suatu karya puisi. Seindah apa pun rangkaian kata-kata yang dibuat, akan menjadi tidak berarti jika maknanya tidak tersampaikan. Maka dari itu, kamu perlu mengetahui beberapa jenis puisi agar dapat lebih memahami maksud dari suatu puisi.</p>
11
<p>Makna sangat penting bagi suatu karya puisi. Seindah apa pun rangkaian kata-kata yang dibuat, akan menjadi tidak berarti jika maknanya tidak tersampaikan. Maka dari itu, kamu perlu mengetahui beberapa jenis puisi agar dapat lebih memahami maksud dari suatu puisi.</p>
12
<p>Baca Juga:<a>Pengertian Puisi, Jenis, Struktur, dan Unsur Pembentuknya</a></p>
12
<p>Baca Juga:<a>Pengertian Puisi, Jenis, Struktur, dan Unsur Pembentuknya</a></p>
13
<h2>Ciri-Ciri Puisi</h2>
13
<h2>Ciri-Ciri Puisi</h2>
14
<p>Nah, ketika kamu ingin membuat sebuah puisi, kamu perlu mengetahui beberapa ciri puisi berikut ini:</p>
14
<p>Nah, ketika kamu ingin membuat sebuah puisi, kamu perlu mengetahui beberapa ciri puisi berikut ini:</p>
15
<ol><li>Menggunakan pilihan kata yang indah</li>
15
<ol><li>Menggunakan pilihan kata yang indah</li>
16
<li>Penggunaan diksi memperhatikan rima dan sajak</li>
16
<li>Penggunaan diksi memperhatikan rima dan sajak</li>
17
<li>Terdiri atas bait dan baris</li>
17
<li>Terdiri atas bait dan baris</li>
18
<li>Menggunakan majas yang bermakna kias</li>
18
<li>Menggunakan majas yang bermakna kias</li>
19
<li>Memiliki amanat yang dapat dijadikan pelajaran bagi pembaca</li>
19
<li>Memiliki amanat yang dapat dijadikan pelajaran bagi pembaca</li>
20
</ol><p><em>Apakah kamu suka membuat atau membaca puisi? (Sumber: Unsplash.com)</em></p>
20
</ol><p><em>Apakah kamu suka membuat atau membaca puisi? (Sumber: Unsplash.com)</em></p>
21
<p>Berdasarkan cara penyair mengungkapkan isi atau gagasannya, puisi dapat dibagi ke dalam beberapa jenis, yakni puisi naratif, puisi lirik, dan puisi deskriptif. Yuk, lihat penjelasannya.</p>
21
<p>Berdasarkan cara penyair mengungkapkan isi atau gagasannya, puisi dapat dibagi ke dalam beberapa jenis, yakni puisi naratif, puisi lirik, dan puisi deskriptif. Yuk, lihat penjelasannya.</p>
22
<h3>1. Puisi Naratif</h3>
22
<h3>1. Puisi Naratif</h3>
23
<p>Puisi naratif mengungkapkan cerita atau penjelasan penyair. Puisi ini terbagi ke dalam dua macam, yaitu balada dan romansa. </p>
23
<p>Puisi naratif mengungkapkan cerita atau penjelasan penyair. Puisi ini terbagi ke dalam dua macam, yaitu balada dan romansa. </p>
24
<h4>a. Balada</h4>
24
<h4>a. Balada</h4>
25
<p>Puisi yang berisi cerita tentang orang-orang perkasa ataupun tokoh pujaan. Contohnya<em>Balada Orang-orang Tercinta</em>dan<em>Blues untuk Bonnie</em>karya WS Rendra. </p>
25
<p>Puisi yang berisi cerita tentang orang-orang perkasa ataupun tokoh pujaan. Contohnya<em>Balada Orang-orang Tercinta</em>dan<em>Blues untuk Bonnie</em>karya WS Rendra. </p>
26
<h4>b. Romansa</h4>
26
<h4>b. Romansa</h4>
27
<p>Jenis puisi cerita yang menggunakan bahasa romantik yang berisi kisah percintaan, yang diselingi perkelahian dan petualangan. Rendra juga banyak menulis romansa. Kirdjomuljo menulis romansa yang berisi kisah petualangan dengan judul ”Romance Perjalanan”. Kisah cinta ini dapat juga berarti cinta tanah kelahiran seperti puisi-puisi Ramadhan K.H.</p>
27
<p>Jenis puisi cerita yang menggunakan bahasa romantik yang berisi kisah percintaan, yang diselingi perkelahian dan petualangan. Rendra juga banyak menulis romansa. Kirdjomuljo menulis romansa yang berisi kisah petualangan dengan judul ”Romance Perjalanan”. Kisah cinta ini dapat juga berarti cinta tanah kelahiran seperti puisi-puisi Ramadhan K.H.</p>
28
<h3>2. Puisi Lirik</h3>
28
<h3>2. Puisi Lirik</h3>
29
<p>Jenis puisi ini terbagi ke dalam beberapa macam, yaitu elegi, ode, dan serenade.</p>
29
<p>Jenis puisi ini terbagi ke dalam beberapa macam, yaitu elegi, ode, dan serenade.</p>
30
<h4>a. Elegi</h4>
30
<h4>a. Elegi</h4>
31
<p>Puisi yang mengungkapkan perasaan duka. Misalnya<em>Elegi Jakarta</em>karya Asrul Sani yang mengungkapkan perasaan duka penyair di Kota Jakarta.</p>
31
<p>Puisi yang mengungkapkan perasaan duka. Misalnya<em>Elegi Jakarta</em>karya Asrul Sani yang mengungkapkan perasaan duka penyair di Kota Jakarta.</p>
32
<h4>b. Serenada</h4>
32
<h4>b. Serenada</h4>
33
<p>Sajak percintaan yang dapat dinyanyikan. Kata “serenada” berarti nyanyian yang tepat dinyanyikan pada waktu senja. Rendra banyak menciptakan serenada dalam Empat Kumpulan Sajak. Misalnya “Serenada Hitam”, “Serenada Biru”, “Serenada Merah Jambu”, “Serenada Ungu”, “Serenada Kelabu”, dan sebagainya. Warna-warna di belakang serenade itu melambangkan sifat nyanyian cinta itu, ada yang bahagia, sedih, dan kecewa.</p>
33
<p>Sajak percintaan yang dapat dinyanyikan. Kata “serenada” berarti nyanyian yang tepat dinyanyikan pada waktu senja. Rendra banyak menciptakan serenada dalam Empat Kumpulan Sajak. Misalnya “Serenada Hitam”, “Serenada Biru”, “Serenada Merah Jambu”, “Serenada Ungu”, “Serenada Kelabu”, dan sebagainya. Warna-warna di belakang serenade itu melambangkan sifat nyanyian cinta itu, ada yang bahagia, sedih, dan kecewa.</p>
34
<h4>c. Ode</h4>
34
<h4>c. Ode</h4>
35
<p>Puisi yang berisi pujian terhadap seseorang, sesuatu hal, atau sesuatu keadaan. Ode banyak ditulis sebagai pemujaan terhadap tokoh-tokoh yang dikagumi contohnya<em>Teratai</em>(karya Sanusi Pane),<em>Diponegoro</em>(karya Chairil Anwar), dan<em>Ode buat Proklamator</em>(karya Leon Agusta).</p>
35
<p>Puisi yang berisi pujian terhadap seseorang, sesuatu hal, atau sesuatu keadaan. Ode banyak ditulis sebagai pemujaan terhadap tokoh-tokoh yang dikagumi contohnya<em>Teratai</em>(karya Sanusi Pane),<em>Diponegoro</em>(karya Chairil Anwar), dan<em>Ode buat Proklamator</em>(karya Leon Agusta).</p>
36
<h3>3. Puisi Deskriptif</h3>
36
<h3>3. Puisi Deskriptif</h3>
37
<p>Dalam jenis puisi ini, penyair bertindak sebagai pemberi kesan terhadap keadaan/peristiwa, benda, atau suasana yang dipandang menarik perhatiannya. Puisi yang termasuk ke dalam jenis puisi deskriptif, misaInya satire dan puisi yang bersifat kritik sosial.</p>
37
<p>Dalam jenis puisi ini, penyair bertindak sebagai pemberi kesan terhadap keadaan/peristiwa, benda, atau suasana yang dipandang menarik perhatiannya. Puisi yang termasuk ke dalam jenis puisi deskriptif, misaInya satire dan puisi yang bersifat kritik sosial.</p>
38
<h4>a. Satire</h4>
38
<h4>a. Satire</h4>
39
<p>Puisi yang mengungkapkan perasaan ketidakpuasan penyair terhadap suatu keadaan, namun dengan cara menyindir atau menyatakan keadaan sebaliknya.</p>
39
<p>Puisi yang mengungkapkan perasaan ketidakpuasan penyair terhadap suatu keadaan, namun dengan cara menyindir atau menyatakan keadaan sebaliknya.</p>
40
<h4>b. Kritik sosial</h4>
40
<h4>b. Kritik sosial</h4>
41
<p>Puisi yang juga menyatakan ketidakpuasan penyair terhadap keadaan atau terhadap diri seseorang, tetapi dengan cara membeberkan kepincangan atau ketidakberesan keadaan atau orang tersebut. Kesan penyair juga dapat kita hayati dalam puisi-puisi impresionistik yang mengungkapkan kesan (impresi) penyair terhadap suatu hal.</p>
41
<p>Puisi yang juga menyatakan ketidakpuasan penyair terhadap keadaan atau terhadap diri seseorang, tetapi dengan cara membeberkan kepincangan atau ketidakberesan keadaan atau orang tersebut. Kesan penyair juga dapat kita hayati dalam puisi-puisi impresionistik yang mengungkapkan kesan (impresi) penyair terhadap suatu hal.</p>
42
<p>Baca Juga:<a>Pahami Pengertian Teks Eksposisi, Ciri, Struktur, Pola Pengembangan & Contohnya</a></p>
42
<p>Baca Juga:<a>Pahami Pengertian Teks Eksposisi, Ciri, Struktur, Pola Pengembangan & Contohnya</a></p>
43
<h2>Bentuk-Bentuk Puisi</h2>
43
<h2>Bentuk-Bentuk Puisi</h2>
44
<p>Berdasarkan bentuknya, puisi dibedakan menjadi dua, yaitu:</p>
44
<p>Berdasarkan bentuknya, puisi dibedakan menjadi dua, yaitu:</p>
45
<h3>1. Puisi Lama</h3>
45
<h3>1. Puisi Lama</h3>
46
<p><a>Puisi lama</a>adalah puisi yang masih terikat oleh aturan-aturan, seperti persajakan, pengaturan larik dalam setiap bait, jumlah kata dalam setiap larik, dan musikalitas. Contohnya, pantun, syair, gurindam, karmina, mantra, seloka, dan talibun.</p>
46
<p><a>Puisi lama</a>adalah puisi yang masih terikat oleh aturan-aturan, seperti persajakan, pengaturan larik dalam setiap bait, jumlah kata dalam setiap larik, dan musikalitas. Contohnya, pantun, syair, gurindam, karmina, mantra, seloka, dan talibun.</p>
47
<h3>2. Puisi Baru</h3>
47
<h3>2. Puisi Baru</h3>
48
<p><a>Puisi baru</a>adalah puisi yang tidak terikat oleh pengaturan dalam penciptaan puisi dan bentuknya lebih bebas. Contohnya, balada, elegi, himne, epigram, ode, romansa, dan satire.</p>
48
<p><a>Puisi baru</a>adalah puisi yang tidak terikat oleh pengaturan dalam penciptaan puisi dan bentuknya lebih bebas. Contohnya, balada, elegi, himne, epigram, ode, romansa, dan satire.</p>
49
<h2>Unsur-Unsur Pembangun Puisi</h2>
49
<h2>Unsur-Unsur Pembangun Puisi</h2>
50
<p>Terdapat dua unsur pembangun puisi, yaitu unsur fisik dan unsur batin. Lalu, apa perbedaannya, ya? Berikut penjelasan lengkapnya!</p>
50
<p>Terdapat dua unsur pembangun puisi, yaitu unsur fisik dan unsur batin. Lalu, apa perbedaannya, ya? Berikut penjelasan lengkapnya!</p>
51
<h3>1. Unsur Fisik</h3>
51
<h3>1. Unsur Fisik</h3>
52
<p>Unsur fisik adalah unsur yang dapat langsung dikenali oleh pembaca karena terlihat pada bagian puisi. Unsur fisik puisi dibagi menjadi 4.</p>
52
<p>Unsur fisik adalah unsur yang dapat langsung dikenali oleh pembaca karena terlihat pada bagian puisi. Unsur fisik puisi dibagi menjadi 4.</p>
53
<ul><li><strong>Majas:</strong>bahasa kias yang dipergunakan untuk menciptakan kesan tertentu bagi penyimak atau pembacanya.</li>
53
<ul><li><strong>Majas:</strong>bahasa kias yang dipergunakan untuk menciptakan kesan tertentu bagi penyimak atau pembacanya.</li>
54
<li><strong>Irama:</strong>alunan bunyi yang teratur dan berulang-ulang, yang berfungsi untuk memberi jiwa pada sebuah puisi</li>
54
<li><strong>Irama:</strong>alunan bunyi yang teratur dan berulang-ulang, yang berfungsi untuk memberi jiwa pada sebuah puisi</li>
55
<li><strong>Kata-kata konotasi:</strong>kata yang bermakna tidak sebenarnya dan telah mengalami penambahan-penambahan.</li>
55
<li><strong>Kata-kata konotasi:</strong>kata yang bermakna tidak sebenarnya dan telah mengalami penambahan-penambahan.</li>
56
<li><strong>Kata-kata berlambang:</strong>sesuatu seperti gambar, tanda, ataupun kata yang menyatakan maksud tertentu.</li>
56
<li><strong>Kata-kata berlambang:</strong>sesuatu seperti gambar, tanda, ataupun kata yang menyatakan maksud tertentu.</li>
57
</ul><h3>2. Unsur Batin</h3>
57
</ul><h3>2. Unsur Batin</h3>
58
<p>Unsur batin adalah unsur yang tersembunyi di balik unsur fisik. Untuk memahaminya, harus memahami isi puisi. Unsur batin juga dibagi menjadi 4.</p>
58
<p>Unsur batin adalah unsur yang tersembunyi di balik unsur fisik. Untuk memahaminya, harus memahami isi puisi. Unsur batin juga dibagi menjadi 4.</p>
59
<ul><li><strong>Tema:</strong>pokok persoalan yang akan diungkapkan oleh penyair.</li>
59
<ul><li><strong>Tema:</strong>pokok persoalan yang akan diungkapkan oleh penyair.</li>
60
<li><strong>Amanat:</strong>pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca atau pendengar.</li>
60
<li><strong>Amanat:</strong>pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca atau pendengar.</li>
61
<li><strong>Perasaan:</strong>puisi mengungkapkan perasaan dari penyair.</li>
61
<li><strong>Perasaan:</strong>puisi mengungkapkan perasaan dari penyair.</li>
62
<li><strong>Nada dan suasana:</strong>nada mengungkapkan sikap penyair terhadap pembaca, sedangkan suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi akibat psikologis yang ditimbulkan puisi terhadap pembaca.</li>
62
<li><strong>Nada dan suasana:</strong>nada mengungkapkan sikap penyair terhadap pembaca, sedangkan suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi akibat psikologis yang ditimbulkan puisi terhadap pembaca.</li>
63
</ul><p>Nah, setelah kamu mengetahui tentang pengertian puisi, beserta ciri-ciri, jenis, bentuk, dan unsur pembangunnya, kita akan lanjut ke beberapa contoh puisi dari para penyair terkenal berikut ini. Yuk, perhatikan bersama-sama!</p>
63
</ul><p>Nah, setelah kamu mengetahui tentang pengertian puisi, beserta ciri-ciri, jenis, bentuk, dan unsur pembangunnya, kita akan lanjut ke beberapa contoh puisi dari para penyair terkenal berikut ini. Yuk, perhatikan bersama-sama!</p>
64
<p><strong>Baca Juga:<a>Unsur Ekstrinsik dan Intrinsik Pembangun Puisi, Apa Saja Ya?</a></strong></p>
64
<p><strong>Baca Juga:<a>Unsur Ekstrinsik dan Intrinsik Pembangun Puisi, Apa Saja Ya?</a></strong></p>
65
<h2>Contoh Puisi Balada</h2>
65
<h2>Contoh Puisi Balada</h2>
66
<h3>1. Puisi Balada Orang-Orang Tercinta Karya WS Rendra</h3>
66
<h3>1. Puisi Balada Orang-Orang Tercinta Karya WS Rendra</h3>
67
<p><strong>Balada Orang-Orang Tercinta</strong></p>
67
<p><strong>Balada Orang-Orang Tercinta</strong></p>
68
<p><em>(oleh: WS Rendra)</em></p>
68
<p><em>(oleh: WS Rendra)</em></p>
69
<p>Kita bergantian menghirup asam Batuk dan lemas terceruk Marah dan terbaret-baret Cinta membuat kita bertahan dengan secuil redup harapan Kita berjalan terseok-seok Mengira lelah akan hilang di ujung terowongan yang terang Namun cinta tidak membawa kita memahami satu sama lain Kadang kita merasa beruntung Namun harusnya kita merenung Akankah kita sampai di altar Dengan berlari terpatah-patah Mengapa cinta tak mengajari kita Untuk berhenti berpura-pura? Kita meleleh dan tergerus Serut-serut sinar matahari Sementara kita sudah lupa rasanya mengalir bersama kehidupan Melupakan hal-hal kecil yang dulu termaafkan Mengapa kita saling menyembunyikan Mengapa marah dengan keadaan? Mengapa lari ketika sesuatu membengkak jika dibiarkan? Kita percaya pada cinta Yang borok dan tak sederhana Kita tertangkap jatuh terperangkap Dalam balada orang-orang tercinta</p>
69
<p>Kita bergantian menghirup asam Batuk dan lemas terceruk Marah dan terbaret-baret Cinta membuat kita bertahan dengan secuil redup harapan Kita berjalan terseok-seok Mengira lelah akan hilang di ujung terowongan yang terang Namun cinta tidak membawa kita memahami satu sama lain Kadang kita merasa beruntung Namun harusnya kita merenung Akankah kita sampai di altar Dengan berlari terpatah-patah Mengapa cinta tak mengajari kita Untuk berhenti berpura-pura? Kita meleleh dan tergerus Serut-serut sinar matahari Sementara kita sudah lupa rasanya mengalir bersama kehidupan Melupakan hal-hal kecil yang dulu termaafkan Mengapa kita saling menyembunyikan Mengapa marah dengan keadaan? Mengapa lari ketika sesuatu membengkak jika dibiarkan? Kita percaya pada cinta Yang borok dan tak sederhana Kita tertangkap jatuh terperangkap Dalam balada orang-orang tercinta</p>
70
<h3>2. Puisi Tangis Karya WS Rendra</h3>
70
<h3>2. Puisi Tangis Karya WS Rendra</h3>
71
<p><strong>Tangis</strong></p>
71
<p><strong>Tangis</strong></p>
72
<p><em>(oleh: WS Rendra)</em></p>
72
<p><em>(oleh: WS Rendra)</em></p>
73
<p>Ke mana larinya anak tercinta yang diburu segenap penduduk kota? Paman Doblang! Paman Doblang! la lari membawa dosa tangannya dilumuri cemar noda tangisnya menyusupi belukar di rimba. Sejak semalam orang kota menembaki dengan dendam tuntutan mati dan ia lari membawa diri. Seluruh subuh, seluruh pagi. Paman Doblang! Paman Doblang! Ke mana larinya anak tercinta di padang lalang mana di bukit kapur mana mengapa tak lari di riba bunda? Paman Doblang! Paman Doblang! Pesankan padanya dengan angin kemarau ibunya yang tua menunggu di dangau Kalau lebar nganga lukanya mulut bunda ‘kan mengucupnya Kalau kotor warna jiwanya Ibu cuci di lubuk hati Cuma ibu yang bisa mengerti Ia membunuh tak dengan hati Kalau memang hauskan darah manusia Suruhlah minum darah ibunya Paman Doblang! Paman Doblang! Katakan, ibunya selalu berdoa Kalau ia ‘kan mati jauh di rimba Suruh ingat marhum bapanya Yang di sorga, di imannya Dan di dangau ini ibunya menanti dengan rambut putih dan debar hati Paman Doblang! Paman Doblang! Kalau di rimba rembulan pudar duka Katakan, itulah wajah ibunya</p>
73
<p>Ke mana larinya anak tercinta yang diburu segenap penduduk kota? Paman Doblang! Paman Doblang! la lari membawa dosa tangannya dilumuri cemar noda tangisnya menyusupi belukar di rimba. Sejak semalam orang kota menembaki dengan dendam tuntutan mati dan ia lari membawa diri. Seluruh subuh, seluruh pagi. Paman Doblang! Paman Doblang! Ke mana larinya anak tercinta di padang lalang mana di bukit kapur mana mengapa tak lari di riba bunda? Paman Doblang! Paman Doblang! Pesankan padanya dengan angin kemarau ibunya yang tua menunggu di dangau Kalau lebar nganga lukanya mulut bunda ‘kan mengucupnya Kalau kotor warna jiwanya Ibu cuci di lubuk hati Cuma ibu yang bisa mengerti Ia membunuh tak dengan hati Kalau memang hauskan darah manusia Suruhlah minum darah ibunya Paman Doblang! Paman Doblang! Katakan, ibunya selalu berdoa Kalau ia ‘kan mati jauh di rimba Suruh ingat marhum bapanya Yang di sorga, di imannya Dan di dangau ini ibunya menanti dengan rambut putih dan debar hati Paman Doblang! Paman Doblang! Kalau di rimba rembulan pudar duka Katakan, itulah wajah ibunya</p>
74
<p>Baca Juga:<a>Kumpulan Contoh Teks Persuasi Singkat dalam Berbagai Tema</a></p>
74
<p>Baca Juga:<a>Kumpulan Contoh Teks Persuasi Singkat dalam Berbagai Tema</a></p>
75
<h3><strong>3. Puisi Bendera Karya Taufiq Ismail</strong></h3>
75
<h3><strong>3. Puisi Bendera Karya Taufiq Ismail</strong></h3>
76
<p><strong>Bendera</strong></p>
76
<p><strong>Bendera</strong></p>
77
<p><em>(oleh: Taufiq Ismail)</em></p>
77
<p><em>(oleh: Taufiq Ismail)</em></p>
78
<p>Mereka yang berpakaian hitam Telah berhenti di depan sebuah rumah Yang mengibarkan bendera duka Dan masuk dengan paksa</p>
78
<p>Mereka yang berpakaian hitam Telah berhenti di depan sebuah rumah Yang mengibarkan bendera duka Dan masuk dengan paksa</p>
79
<p>Mereka yang berpakaian hitam Telah menurunkan bendera itu Di hadapan seorang ibu yang tua “Tidak ada pahlawan meninggal dunia!”</p>
79
<p>Mereka yang berpakaian hitam Telah menurunkan bendera itu Di hadapan seorang ibu yang tua “Tidak ada pahlawan meninggal dunia!”</p>
80
<p>Mereka yang berpakaian hitam Dengan hati yang kelam Telah meninggalkan rumah itu Tergesa-gesa</p>
80
<p>Mereka yang berpakaian hitam Dengan hati yang kelam Telah meninggalkan rumah itu Tergesa-gesa</p>
81
<p>Kemudian ibu tua itu Pelahan menaikkan kembali Bendera yang duka Ke tiang yang duka</p>
81
<p>Kemudian ibu tua itu Pelahan menaikkan kembali Bendera yang duka Ke tiang yang duka</p>
82
<h2>Contoh Puisi Romansa</h2>
82
<h2>Contoh Puisi Romansa</h2>
83
<h3>4. Puisi Aku Ingin Karya Sapardi Djoko Damono</h3>
83
<h3>4. Puisi Aku Ingin Karya Sapardi Djoko Damono</h3>
84
<p><strong>Aku Ingin</strong></p>
84
<p><strong>Aku Ingin</strong></p>
85
<p><em>(oleh: Sapardi Djoko Damono)</em></p>
85
<p><em>(oleh: Sapardi Djoko Damono)</em></p>
86
<p>Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada</p>
86
<p>Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada</p>
87
<h3>5. Puisi Lagu Gadis Itali Karya Sitor Situmorang</h3>
87
<h3>5. Puisi Lagu Gadis Itali Karya Sitor Situmorang</h3>
88
<p><strong>Lagu Gadis Itali</strong></p>
88
<p><strong>Lagu Gadis Itali</strong></p>
89
<p><em>(oleh: Sitor Situmorang)</em></p>
89
<p><em>(oleh: Sitor Situmorang)</em></p>
90
<p>Kerling danau di pagi hari Lonceng gereja bukit Itali Jika musimmu tiba nanti Jemputlah abang di teluk Napoli Kerling danau di pagi hari Lonceng gereja bukit Itali Sedari abang lalu pergi Adik rindu setiap hari Kerling danau di pagi hari Lonceng gereja bukit Itali Andai abang tak kembali Adik menunggu sampai mati Batu tandus di kebun anggur Pasir teduh di bawah nyiur Abang lenyap hatiku hancur Mengejar bayang di salju gugur 1955</p>
90
<p>Kerling danau di pagi hari Lonceng gereja bukit Itali Jika musimmu tiba nanti Jemputlah abang di teluk Napoli Kerling danau di pagi hari Lonceng gereja bukit Itali Sedari abang lalu pergi Adik rindu setiap hari Kerling danau di pagi hari Lonceng gereja bukit Itali Andai abang tak kembali Adik menunggu sampai mati Batu tandus di kebun anggur Pasir teduh di bawah nyiur Abang lenyap hatiku hancur Mengejar bayang di salju gugur 1955</p>
91
<h3>6. Puisi Perkenalan Hati Karya Muamar</h3>
91
<h3>6. Puisi Perkenalan Hati Karya Muamar</h3>
92
<p><strong>Perkenalan Hati</strong></p>
92
<p><strong>Perkenalan Hati</strong></p>
93
<p><em>(oleh: Muamar)</em></p>
93
<p><em>(oleh: Muamar)</em></p>
94
<p>Saat sepinya hati terasa dalam hangat cahaya mentari di pagi hari, aku bertemu dirimu dengan suara laksana melodi simfoni. Angan-angan sontak menghampiri, walaupun aku belum sepenuhnya mengerti siapakah dirimu, wahai bidadari. Suaramu bagaikan melodi, parasmu laksana sulaman pelangi, senyum dan tawamu bagaikan suara alam di pagi hari. Aku menahan diri agar tidak terperosok dalam pedihnya luka hati, karena aku trauma dengan mereka yang hadir lalu pergi, tanpa adanya kejelasan. Terima kasih untukmu yang telah hadir dan memperkenalkan diri. Kusambut dirimu dengan hati, walaupun sedang mengalami depresi. Maka bantulah aku yang sedang mencoba memperbaiki. Kamu tak perlu khawatir, walaupun terkadang sikapku getir, namun sesungguhnya aku mencintaimu laksana obat bagi hati yang sedang terkilir. Sekali lagi, terima kasih untukmu yang telah hadir.</p>
94
<p>Saat sepinya hati terasa dalam hangat cahaya mentari di pagi hari, aku bertemu dirimu dengan suara laksana melodi simfoni. Angan-angan sontak menghampiri, walaupun aku belum sepenuhnya mengerti siapakah dirimu, wahai bidadari. Suaramu bagaikan melodi, parasmu laksana sulaman pelangi, senyum dan tawamu bagaikan suara alam di pagi hari. Aku menahan diri agar tidak terperosok dalam pedihnya luka hati, karena aku trauma dengan mereka yang hadir lalu pergi, tanpa adanya kejelasan. Terima kasih untukmu yang telah hadir dan memperkenalkan diri. Kusambut dirimu dengan hati, walaupun sedang mengalami depresi. Maka bantulah aku yang sedang mencoba memperbaiki. Kamu tak perlu khawatir, walaupun terkadang sikapku getir, namun sesungguhnya aku mencintaimu laksana obat bagi hati yang sedang terkilir. Sekali lagi, terima kasih untukmu yang telah hadir.</p>
95
<h2>Contoh Puisi Elegi</h2>
95
<h2>Contoh Puisi Elegi</h2>
96
<h3>7. Puisi Elegi Jakarta Karya Asrul Sani</h3>
96
<h3>7. Puisi Elegi Jakarta Karya Asrul Sani</h3>
97
<p><strong>Elegi Jakarta</strong></p>
97
<p><strong>Elegi Jakarta</strong></p>
98
<p>(<em>oleh: Asrul Sani</em>)</p>
98
<p>(<em>oleh: Asrul Sani</em>)</p>
99
<p>Pada tapal terakhir sampai ke Yogya, bimbang telah datang pada nyala langit telah tergantung suram Kata-kata berantukan pada arti sendiri Bimbang telah datang pada nyala dan cinta tanah air akan berupa peluru dalam darah serta nilai yang bertebaran sepanjang masa bertanya akan kesudahan ujian mati - atau tiada mati-matinya O jenderal, bapa, bapa tiadakah engkau hendak berkata untuk kesekian kali ataukah suatu kehilangan keyakinan hanya akan tetap tinggal pada titik-sempurna dan nanti tulisan yang telah diperbuat sementara akan hilang ditiup angin ia berdiam di pasir kering</p>
99
<p>Pada tapal terakhir sampai ke Yogya, bimbang telah datang pada nyala langit telah tergantung suram Kata-kata berantukan pada arti sendiri Bimbang telah datang pada nyala dan cinta tanah air akan berupa peluru dalam darah serta nilai yang bertebaran sepanjang masa bertanya akan kesudahan ujian mati - atau tiada mati-matinya O jenderal, bapa, bapa tiadakah engkau hendak berkata untuk kesekian kali ataukah suatu kehilangan keyakinan hanya akan tetap tinggal pada titik-sempurna dan nanti tulisan yang telah diperbuat sementara akan hilang ditiup angin ia berdiam di pasir kering</p>
100
<h3>8. Puisi Senja di Pelabuhan Kecil Karya Chairil Anwar</h3>
100
<h3>8. Puisi Senja di Pelabuhan Kecil Karya Chairil Anwar</h3>
101
<p><strong>Senja di Pelabuhan Kecil</strong></p>
101
<p><strong>Senja di Pelabuhan Kecil</strong></p>
102
<p><em>(oleh: Chairil Anwar)</em></p>
102
<p><em>(oleh: Chairil Anwar)</em></p>
103
<p>Ini kali tidak ada yang mencari cinta Di antara gudang, rumah tua, pada cerita Tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut Menghembus diri dalam mempercayai mau berpaut Gerimis mempercepat kelam Ada juga kelepak elang menyinggung muram Desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan Tidak bergerak dan kini tanah, air tidur, hilang ombak. Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan menyisir semenanjung Masih pengap harap Sekali tiba di ujung Dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat Sedu penghabisan bisa terdekap</p>
103
<p>Ini kali tidak ada yang mencari cinta Di antara gudang, rumah tua, pada cerita Tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut Menghembus diri dalam mempercayai mau berpaut Gerimis mempercepat kelam Ada juga kelepak elang menyinggung muram Desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan Tidak bergerak dan kini tanah, air tidur, hilang ombak. Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan menyisir semenanjung Masih pengap harap Sekali tiba di ujung Dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat Sedu penghabisan bisa terdekap</p>
104
<h3>9. Puisi Sia-Sia Karya Chairil Anwar</h3>
104
<h3>9. Puisi Sia-Sia Karya Chairil Anwar</h3>
105
<p><strong>Sia-Sia</strong></p>
105
<p><strong>Sia-Sia</strong></p>
106
<p><em>(oleh: Chairil Anwar)</em></p>
106
<p><em>(oleh: Chairil Anwar)</em></p>
107
<p>Penghabisan kali itu kau datang Membawa kembang berkarang Mawar merah dan melati putih Darah dan suci Kau tebarkan depanku Serta pandang yang memastikan: untukmu Lalu kita sama termangu Saling bertanya: apakah ini? Cinta? Kita berdua tak mengerti Sehari kita bersama. Tak gampir-menghampiri. Ah! Hatiku yang tak mau memberi Mampus kau dikoyak-koyak sepi.</p>
107
<p>Penghabisan kali itu kau datang Membawa kembang berkarang Mawar merah dan melati putih Darah dan suci Kau tebarkan depanku Serta pandang yang memastikan: untukmu Lalu kita sama termangu Saling bertanya: apakah ini? Cinta? Kita berdua tak mengerti Sehari kita bersama. Tak gampir-menghampiri. Ah! Hatiku yang tak mau memberi Mampus kau dikoyak-koyak sepi.</p>
108
<p>Februari, 1943</p>
108
<p>Februari, 1943</p>
109
<h2>Contoh Puisi Serenada</h2>
109
<h2>Contoh Puisi Serenada</h2>
110
<h3>10. Puisi Serenada Kelabu Karya WS Rendra</h3>
110
<h3>10. Puisi Serenada Kelabu Karya WS Rendra</h3>
111
<p><strong>Serenada Kelabu</strong></p>
111
<p><strong>Serenada Kelabu</strong></p>
112
<p><em>(oleh: WS Rendra)</em></p>
112
<p><em>(oleh: WS Rendra)</em></p>
113
<p>Bagai daun yang melayang. Bagai burung dalam angin. Bagai ikan dalam pusaran. Ingin kudengar beritamu! Ketika melewati kali terbayang gelakmu. Ketika melewati rumputan terbayang segala kenangan. Awan lewat indah sekali. Angin datang lembut sekali. Gambar-gambar di rumah penuh arti. Pintu pun kubuka lebar-lebar. Ketika aku duduk makan kuingin benar bersama dirimu.</p>
113
<p>Bagai daun yang melayang. Bagai burung dalam angin. Bagai ikan dalam pusaran. Ingin kudengar beritamu! Ketika melewati kali terbayang gelakmu. Ketika melewati rumputan terbayang segala kenangan. Awan lewat indah sekali. Angin datang lembut sekali. Gambar-gambar di rumah penuh arti. Pintu pun kubuka lebar-lebar. Ketika aku duduk makan kuingin benar bersama dirimu.</p>
114
<p><em>Puisi termasuk karya sastra yang banyak disukai karena penggunaan bahasanya yang indah. (Sumber: Unsplash.com)</em></p>
114
<p><em>Puisi termasuk karya sastra yang banyak disukai karena penggunaan bahasanya yang indah. (Sumber: Unsplash.com)</em></p>
115
<h3>11. Puisi Serenada Biru Karya WS Rendra</h3>
115
<h3>11. Puisi Serenada Biru Karya WS Rendra</h3>
116
<p><strong>Serenada Biru</strong></p>
116
<p><strong>Serenada Biru</strong></p>
117
<p>(<em>oleh: WS Rendra</em>)</p>
117
<p>(<em>oleh: WS Rendra</em>)</p>
118
<p>I Alang-alang dan rumputan bulan mabuk di atasnya. Alang-alang dan rumputan angin membawa bau rambutnya.</p>
118
<p>I Alang-alang dan rumputan bulan mabuk di atasnya. Alang-alang dan rumputan angin membawa bau rambutnya.</p>
119
<p>II Mega putih selalu berubah rupa. Membayangkan rupa yang datang derita.</p>
119
<p>II Mega putih selalu berubah rupa. Membayangkan rupa yang datang derita.</p>
120
<p>III Ketika hujan datang malamnya sudah tua: angin sangat garang dinginnya tak terkira.</p>
120
<p>III Ketika hujan datang malamnya sudah tua: angin sangat garang dinginnya tak terkira.</p>
121
<p>Aku bangkit dari tidurku dan menatap langit kelabu.</p>
121
<p>Aku bangkit dari tidurku dan menatap langit kelabu.</p>
122
<p>Wahai, janganlah angin itu menyingkap selimut kekasihku!</p>
122
<p>Wahai, janganlah angin itu menyingkap selimut kekasihku!</p>
123
<p>Baca Juga:<a>Kumpulan Contoh Teks Berita Singkat dalam Berbagai Tema</a></p>
123
<p>Baca Juga:<a>Kumpulan Contoh Teks Berita Singkat dalam Berbagai Tema</a></p>
124
<h3>12. Puisi Serenada Hijau Karya WS Rendra</h3>
124
<h3>12. Puisi Serenada Hijau Karya WS Rendra</h3>
125
<p><strong>Serenada Hijau</strong></p>
125
<p><strong>Serenada Hijau</strong></p>
126
<p>(<em>oleh: WS Rendra</em>)</p>
126
<p>(<em>oleh: WS Rendra</em>)</p>
127
<p>Kupacu kudaku. Kupacu kudaku menujumu. Bila bulan menegurkan salam dan syahdu malam, bergantung di dahan-dahan. Menyusuri kali kenangan yang berkata tentang rindu dan terdengar keluhan dari batu yang terendam. Kupacu kudaku. Kupacu kudaku menujumu. Dan kubayangkan sedang kau tunggu daku. sambil kau jalin rambutmu yang panjang.</p>
127
<p>Kupacu kudaku. Kupacu kudaku menujumu. Bila bulan menegurkan salam dan syahdu malam, bergantung di dahan-dahan. Menyusuri kali kenangan yang berkata tentang rindu dan terdengar keluhan dari batu yang terendam. Kupacu kudaku. Kupacu kudaku menujumu. Dan kubayangkan sedang kau tunggu daku. sambil kau jalin rambutmu yang panjang.</p>
128
<h2>Contoh Puisi Ode</h2>
128
<h2>Contoh Puisi Ode</h2>
129
<h3>13. Puisi Ode Buar Proklamator Karya Leon Agusta</h3>
129
<h3>13. Puisi Ode Buar Proklamator Karya Leon Agusta</h3>
130
<p><strong>Ode Buat Proklamator</strong></p>
130
<p><strong>Ode Buat Proklamator</strong></p>
131
<p><em>(Oleh: Leon Agusta)</em></p>
131
<p><em>(Oleh: Leon Agusta)</em></p>
132
<p>Bertahun setelah kepergiannya, kurindukan dia kembali Dengan gelombang semangat halilintar dilahirkannya sebuah negeri; dalam lumpur dan lumut, dengan api menyapu kelam menjadi untaian permata hijau di bentangan cahaya abadi; yang senantiasa membuatnya tak pernah berhenti bermimpi; menguak kabut mendung, menerjang benteng demi benteng membalikkan arah topan, menjelmakan impian demi impian Dengan seorang sahabatnya, mereka tanda tangani naskah itu! Mereka memancang tiang bendera, merobah nama pada peta, berjaga membacakan sejarah, mengganti bahasa pada buku. Lalu dia meniup terompet dengan selaksa nada kebangkitan sukma Kini kita ikut membubuhkan nama di atas bengkalainya; meruntuhkan sambil mencari, daftar mimpi membelit bulan Perang saudara mengundang musnah, dendam tidur di hutan-hutan, di sawah terbuka yang sakti Kata berpasir di bibir pantai hitam dan oh, lidahku yang terjepit, buih lenyap di laut bisu derap suara yang gempita cuma bertahan atau menerkam Ya, walau tak mudah, kurindukan semangatnya menyanyi kembali bersama gemuruh cinta yang membangunkan sejuta rajawali Tak mengelak dalam bercumbu, biar di ranjang bara membatu Tak berdalih pada kekasih, biar berbisa perih di rabu Berlapis cemas menggunung sesal mutiara matanya tak pudar B agi negeriku, bermimpi di bawah bayangan burung garuda (1979)</p>
132
<p>Bertahun setelah kepergiannya, kurindukan dia kembali Dengan gelombang semangat halilintar dilahirkannya sebuah negeri; dalam lumpur dan lumut, dengan api menyapu kelam menjadi untaian permata hijau di bentangan cahaya abadi; yang senantiasa membuatnya tak pernah berhenti bermimpi; menguak kabut mendung, menerjang benteng demi benteng membalikkan arah topan, menjelmakan impian demi impian Dengan seorang sahabatnya, mereka tanda tangani naskah itu! Mereka memancang tiang bendera, merobah nama pada peta, berjaga membacakan sejarah, mengganti bahasa pada buku. Lalu dia meniup terompet dengan selaksa nada kebangkitan sukma Kini kita ikut membubuhkan nama di atas bengkalainya; meruntuhkan sambil mencari, daftar mimpi membelit bulan Perang saudara mengundang musnah, dendam tidur di hutan-hutan, di sawah terbuka yang sakti Kata berpasir di bibir pantai hitam dan oh, lidahku yang terjepit, buih lenyap di laut bisu derap suara yang gempita cuma bertahan atau menerkam Ya, walau tak mudah, kurindukan semangatnya menyanyi kembali bersama gemuruh cinta yang membangunkan sejuta rajawali Tak mengelak dalam bercumbu, biar di ranjang bara membatu Tak berdalih pada kekasih, biar berbisa perih di rabu Berlapis cemas menggunung sesal mutiara matanya tak pudar B agi negeriku, bermimpi di bawah bayangan burung garuda (1979)</p>
133
<h3>14. Puisi Diponegoro Karya Chairil Anwar</h3>
133
<h3>14. Puisi Diponegoro Karya Chairil Anwar</h3>
134
<p><strong>Diponegoro</strong></p>
134
<p><strong>Diponegoro</strong></p>
135
<p><em>(oleh: Chairil Anwar)</em></p>
135
<p><em>(oleh: Chairil Anwar)</em></p>
136
<p>Di masa pembangunan ini Tuan hidup kembali Dan bara kagum menjadi api Di depan sekali tuan menanti Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali. Pedang di kanan, keris di kiri Berselempang semangat yang tak bisa mati.</p>
136
<p>Di masa pembangunan ini Tuan hidup kembali Dan bara kagum menjadi api Di depan sekali tuan menanti Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali. Pedang di kanan, keris di kiri Berselempang semangat yang tak bisa mati.</p>
137
<p>MAJU Ini barisan tak bergenderang-berpalu Kepercayaan tanda menyerbu Sekali berarti Sudah itu mati</p>
137
<p>MAJU Ini barisan tak bergenderang-berpalu Kepercayaan tanda menyerbu Sekali berarti Sudah itu mati</p>
138
<p>MAJU Bagimu Negeri Menyediakan api Punah di atas menghamba Binasa di atas ditinda Sungguhpun dalam ajal baru tercapai Jika hidup harus merasai</p>
138
<p>MAJU Bagimu Negeri Menyediakan api Punah di atas menghamba Binasa di atas ditinda Sungguhpun dalam ajal baru tercapai Jika hidup harus merasai</p>
139
<p>MAJU Serbu. Serang. Terjang. Februari 1943</p>
139
<p>MAJU Serbu. Serang. Terjang. Februari 1943</p>
140
<p><strong>Baca Juga:<a>Kumpulan Contoh Puisi Pendek Bermacam Tema dan Penuh Makna</a></strong></p>
140
<p><strong>Baca Juga:<a>Kumpulan Contoh Puisi Pendek Bermacam Tema dan Penuh Makna</a></strong></p>
141
<h2>Contoh Puisi Satire</h2>
141
<h2>Contoh Puisi Satire</h2>
142
<h3>15. Puisi Negeriku Karya Gus Mus</h3>
142
<h3>15. Puisi Negeriku Karya Gus Mus</h3>
143
<p><strong>Negeriku</strong></p>
143
<p><strong>Negeriku</strong></p>
144
<p><em>(oleh: Gus Mus)</em></p>
144
<p><em>(oleh: Gus Mus)</em></p>
145
<p>Mana ada negri sesubur negeriku Sawahnya tak hanya menumbuhkan padi, tebu dan jagung tapi juga pabrik, tempat rekreasi dan gedung Prabot-prabot orang kaya di dunia dan burung-burung indah piaraan mereka berasal dari hutanku Ikan-ikan pilihan yang mereka santap bermula dari lautku Emas dan perak, perhiasan mereka digali dari tambangku Air bersih yang mereka minum bersumber dari keringatku Mana ada negri sekaya negeriku Majikan-majikan bangsaku memiliki buruh-buruh mancanegara Brangkas-brangkas Bank ternama dimana-mana menyimpan harta-hartaku Negriku menumbuhkan konglomera dan mengikis habis kaum melarat Rata -rata pemimpin negriku dan handai tolannya terkaya didunia Mana ada negri semakmur negeriku Penganggur-penganggur diberi perumahan, gaji dan pensiunan setiap bulan Rakyat-rakyat kecil menyumbang negara tanpa imbalan Rampok-rampok di beri rekomendasi, dengan kop sakti instansi Maling-maling di beri konsensi Tikus dan kucing dengan asik berkorupsi</p>
145
<p>Mana ada negri sesubur negeriku Sawahnya tak hanya menumbuhkan padi, tebu dan jagung tapi juga pabrik, tempat rekreasi dan gedung Prabot-prabot orang kaya di dunia dan burung-burung indah piaraan mereka berasal dari hutanku Ikan-ikan pilihan yang mereka santap bermula dari lautku Emas dan perak, perhiasan mereka digali dari tambangku Air bersih yang mereka minum bersumber dari keringatku Mana ada negri sekaya negeriku Majikan-majikan bangsaku memiliki buruh-buruh mancanegara Brangkas-brangkas Bank ternama dimana-mana menyimpan harta-hartaku Negriku menumbuhkan konglomera dan mengikis habis kaum melarat Rata -rata pemimpin negriku dan handai tolannya terkaya didunia Mana ada negri semakmur negeriku Penganggur-penganggur diberi perumahan, gaji dan pensiunan setiap bulan Rakyat-rakyat kecil menyumbang negara tanpa imbalan Rampok-rampok di beri rekomendasi, dengan kop sakti instansi Maling-maling di beri konsensi Tikus dan kucing dengan asik berkorupsi</p>
146
<h3>16. Puisi Aku Bertanya Karya WS Rendra</h3>
146
<h3>16. Puisi Aku Bertanya Karya WS Rendra</h3>
147
<p><strong>Aku Bertanya</strong></p>
147
<p><strong>Aku Bertanya</strong></p>
148
<p><em>(oleh WS Rendra)</em></p>
148
<p><em>(oleh WS Rendra)</em></p>
149
<p>Aku bertanya… tetapi pertanyaan-pertanyaanku membentur jidat penyair-penyair salon, yang bersajak tentang anggur dan rembulan, sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya, dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan, termangu-mangu dalam kaki dewi kesenian.</p>
149
<p>Aku bertanya… tetapi pertanyaan-pertanyaanku membentur jidat penyair-penyair salon, yang bersajak tentang anggur dan rembulan, sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya, dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan, termangu-mangu dalam kaki dewi kesenian.</p>
150
<h2>Contoh Puisi Kritik Sosial</h2>
150
<h2>Contoh Puisi Kritik Sosial</h2>
151
<h3>17. Puisi Di Negeri Amplop Karya Gus Mus</h3>
151
<h3>17. Puisi Di Negeri Amplop Karya Gus Mus</h3>
152
<p><strong>Di Negeri Amplop</strong></p>
152
<p><strong>Di Negeri Amplop</strong></p>
153
<p>(<em>oleh: Gus Mus)</em></p>
153
<p>(<em>oleh: Gus Mus)</em></p>
154
<p>Di negeri amplop Aladin menyembunyikan lampu wasiatnya, malu Samson tersipu-sipu, rambut keramatnya ditutupi topi rapi-rapi David Copperfield dan Houdini bersembunyi rendah diri Entah andaikata Nabi Musa bersedia datang membawa tongkatnya Amplop-amplop di negeri amplop mengatur dengan teratur hal-hal yang tak teratur menjadi teratur hal-hal yang teratur menjadi tak teratur memutuskan putusan yang tak putus membatalkan putusan yang sudah putus Amplop-amplop menguasai penguasa dan mengendalikan orang-orang biasa Amplop-amplop membeberkan dan menyembunyikan mencairkan dan membekukan mengganjal dan melicinkan Orang bicara bisa bisu Orang mendengar bisa tuli Orang alim bisa napsu Orang sakti bisa mati Di negeri amplop amplop-amplop mengamplopi apa saja dan siapa saja</p>
154
<p>Di negeri amplop Aladin menyembunyikan lampu wasiatnya, malu Samson tersipu-sipu, rambut keramatnya ditutupi topi rapi-rapi David Copperfield dan Houdini bersembunyi rendah diri Entah andaikata Nabi Musa bersedia datang membawa tongkatnya Amplop-amplop di negeri amplop mengatur dengan teratur hal-hal yang tak teratur menjadi teratur hal-hal yang teratur menjadi tak teratur memutuskan putusan yang tak putus membatalkan putusan yang sudah putus Amplop-amplop menguasai penguasa dan mengendalikan orang-orang biasa Amplop-amplop membeberkan dan menyembunyikan mencairkan dan membekukan mengganjal dan melicinkan Orang bicara bisa bisu Orang mendengar bisa tuli Orang alim bisa napsu Orang sakti bisa mati Di negeri amplop amplop-amplop mengamplopi apa saja dan siapa saja</p>
155
<h3>18. Puisi Aku Tulis Pamplet Ini Karya WS Rendra</h3>
155
<h3>18. Puisi Aku Tulis Pamplet Ini Karya WS Rendra</h3>
156
<p><strong>Aku Tulis Pamplet Ini</strong></p>
156
<p><strong>Aku Tulis Pamplet Ini</strong></p>
157
<p><em>(oleh: WS Rendra)</em></p>
157
<p><em>(oleh: WS Rendra)</em></p>
158
<p>Aku tulis pamplet ini karena lembaga pendapat umum ditutupi jaring labah-labah. Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk, dan ungkapan diri ditekan menjadi peng - iya - an. Apa yang terpegang hari ini bisa luput besok pagi. Ketidakpastian merajalela. Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki menjadi marabahaya menjadi isi kebon binatang.</p>
158
<p>Aku tulis pamplet ini karena lembaga pendapat umum ditutupi jaring labah-labah. Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk, dan ungkapan diri ditekan menjadi peng - iya - an. Apa yang terpegang hari ini bisa luput besok pagi. Ketidakpastian merajalela. Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki menjadi marabahaya menjadi isi kebon binatang.</p>
159
<p>Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi, maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam. Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan. Tidak mengandung perdebatan Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan.</p>
159
<p>Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi, maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam. Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan. Tidak mengandung perdebatan Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan.</p>
160
<p>Aku tulis pamplet ini karena pamplet bukan tabu bagi penyair. Aku inginkan merpati pos. Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku. Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian.</p>
160
<p>Aku tulis pamplet ini karena pamplet bukan tabu bagi penyair. Aku inginkan merpati pos. Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku. Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian.</p>
161
<p>Aku tidak melihat alasan kenapa harus diam tertekan dan termangu. Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar. Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.</p>
161
<p>Aku tidak melihat alasan kenapa harus diam tertekan dan termangu. Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar. Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.</p>
162
<p>Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran ? Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan. Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.</p>
162
<p>Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran ? Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan. Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.</p>
163
<p>Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api. Rembulan memberi mimpi pada dendam. Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah</p>
163
<p>Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api. Rembulan memberi mimpi pada dendam. Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah</p>
164
<p>yang teronggok bagai sampah. Kegamangan. Kecurigaan. Ketakutan. Kelesuan.</p>
164
<p>yang teronggok bagai sampah. Kegamangan. Kecurigaan. Ketakutan. Kelesuan.</p>
165
<p>Aku tulis pamplet ini karena kawan dan lawan adalah saudara. Di dalam alam masih ada cahaya. Matahari yang tenggelam diganti rembulan. Lalu besok pagi pasti terbit kembali. Dan di dalam air lumpur kehidupan, aku melihat bagai terkaca: ternyata kita, toh, manusia!</p>
165
<p>Aku tulis pamplet ini karena kawan dan lawan adalah saudara. Di dalam alam masih ada cahaya. Matahari yang tenggelam diganti rembulan. Lalu besok pagi pasti terbit kembali. Dan di dalam air lumpur kehidupan, aku melihat bagai terkaca: ternyata kita, toh, manusia!</p>
166
<p>Baca Juga:<a>Mengenal Drama: Pengertian, Unsur, Struktur, Ciri-Ciri & Contohnya</a></p>
166
<p>Baca Juga:<a>Mengenal Drama: Pengertian, Unsur, Struktur, Ciri-Ciri & Contohnya</a></p>
167
<h2>Contoh Puisi Himne</h2>
167
<h2>Contoh Puisi Himne</h2>
168
<h3>19. Puisi Karena Kasihmu Karya Amir Hamzah</h3>
168
<h3>19. Puisi Karena Kasihmu Karya Amir Hamzah</h3>
169
<p>Karena Kasihmu<em>(oleh: Amir Hamzah)</em></p>
169
<p>Karena Kasihmu<em>(oleh: Amir Hamzah)</em></p>
170
<p>Karena kasihmu Engkau tentukan waktu Sehari lima kali kita bertemu</p>
170
<p>Karena kasihmu Engkau tentukan waktu Sehari lima kali kita bertemu</p>
171
<p>Aku anginkan rupamu Kulebihi sekali Sebelum cuaca menali sutera</p>
171
<p>Aku anginkan rupamu Kulebihi sekali Sebelum cuaca menali sutera</p>
172
<p>Berulang-ulang kuintai-intai Terus menerus kurasa-rasakan Sampai sekarang tiada tercapai Hasrat sukma idaman badan</p>
172
<p>Berulang-ulang kuintai-intai Terus menerus kurasa-rasakan Sampai sekarang tiada tercapai Hasrat sukma idaman badan</p>
173
<p>Pujiku dikau laguan kawi Datang turun dari datuku Diujung lidah engkau letakkan Piatu teruna di tengah gembala</p>
173
<p>Pujiku dikau laguan kawi Datang turun dari datuku Diujung lidah engkau letakkan Piatu teruna di tengah gembala</p>
174
<p>Sunyi sepi pitunang Poyang Tadak meretak dendang dambaku Layang lagu tiada melangsing Haram gemerencing genta rebana</p>
174
<p>Sunyi sepi pitunang Poyang Tadak meretak dendang dambaku Layang lagu tiada melangsing Haram gemerencing genta rebana</p>
175
<p>Hatiku, hatiku Hatiku sayang tiada bahagia Hatiku kecil berduka raya Hilang ia yang dilihatnya</p>
175
<p>Hatiku, hatiku Hatiku sayang tiada bahagia Hatiku kecil berduka raya Hilang ia yang dilihatnya</p>
176
<h3>20. Puisi Doa Karya Taufik Ismail</h3>
176
<h3>20. Puisi Doa Karya Taufik Ismail</h3>
177
<p><strong>Doa</strong></p>
177
<p><strong>Doa</strong></p>
178
<p><em>(oleh: Taufik Ismail)</em></p>
178
<p><em>(oleh: Taufik Ismail)</em></p>
179
<p>Tuhan kami Telah nista kami dalam dosa bersama Bertahun-tahun membangun kultus ini Dalam pikiran yang ganda Dan menutupi hati nurani</p>
179
<p>Tuhan kami Telah nista kami dalam dosa bersama Bertahun-tahun membangun kultus ini Dalam pikiran yang ganda Dan menutupi hati nurani</p>
180
<p>Ampunilah kami Ampunilah Amin</p>
180
<p>Ampunilah kami Ampunilah Amin</p>
181
<p>Tuhan kami Telah terlalu mudah kami Menggunakan AsmaMu Bertahun di negeri ini Semoga Kau rela menerima kembali Kami dalam barisanMu</p>
181
<p>Tuhan kami Telah terlalu mudah kami Menggunakan AsmaMu Bertahun di negeri ini Semoga Kau rela menerima kembali Kami dalam barisanMu</p>
182
<p>Ampunilah kami Ampunilah Amin</p>
182
<p>Ampunilah kami Ampunilah Amin</p>
183
<h2>Contoh Puisi Epigram</h2>
183
<h2>Contoh Puisi Epigram</h2>
184
<h3>21. Puisi Perjalanan Usia Karya Candra Malik</h3>
184
<h3>21. Puisi Perjalanan Usia Karya Candra Malik</h3>
185
<p>Perjalanan Usia<em>(oleh: Candra Malik)</em></p>
185
<p>Perjalanan Usia<em>(oleh: Candra Malik)</em></p>
186
<p>Anak-anak tumbuh mendewasa, akankah aku hanya tumbuh menua? Kelak mereka butuh lawan bicara, apakah kala itu aku kakek pelupa?</p>
186
<p>Anak-anak tumbuh mendewasa, akankah aku hanya tumbuh menua? Kelak mereka butuh lawan bicara, apakah kala itu aku kakek pelupa?</p>
187
<p>Anak-anak tidak selamanya bayi, mereka butuh tak hanya dimengerti. Mereka punya mata, punya hati, tidak cukup dengan harta diwarisi.</p>
187
<p>Anak-anak tidak selamanya bayi, mereka butuh tak hanya dimengerti. Mereka punya mata, punya hati, tidak cukup dengan harta diwarisi.</p>
188
<p>Sampai kapan usiaku ditakdirkan, sampai batas itulah aku dihadirkan. Sebagai orang tua, sebagai teman, sampai batas waktu yang ditentukan.</p>
188
<p>Sampai kapan usiaku ditakdirkan, sampai batas itulah aku dihadirkan. Sebagai orang tua, sebagai teman, sampai batas waktu yang ditentukan.</p>
189
<p>Tak baik jika mereka di sini saja, hangat dipeluk rumah dan keluarga. Kehidupan itu pengembaraan jiwa, dan mereka pengelana berikutnya.</p>
189
<p>Tak baik jika mereka di sini saja, hangat dipeluk rumah dan keluarga. Kehidupan itu pengembaraan jiwa, dan mereka pengelana berikutnya.</p>
190
<p>Jika tumbuh dewasa ada ujungnya, jangan sampai hanya menua sia-sia. Dalam perjalananku menyusuri usia, setidaknya harus pernah bijaksana.</p>
190
<p>Jika tumbuh dewasa ada ujungnya, jangan sampai hanya menua sia-sia. Dalam perjalananku menyusuri usia, setidaknya harus pernah bijaksana.</p>
191
<h3>22. Puisi Sajak Ajaran Hidup Karya Sapardi Djoko Damono</h3>
191
<h3>22. Puisi Sajak Ajaran Hidup Karya Sapardi Djoko Damono</h3>
192
<p><strong>Sajak Ajaran Hidup</strong></p>
192
<p><strong>Sajak Ajaran Hidup</strong></p>
193
<p><em>(oleh: Sapardi Djoko Damono)</em></p>
193
<p><em>(oleh: Sapardi Djoko Damono)</em></p>
194
<p>hidup telah mendidikmu dengan keras agar bersikap sopan - misalnya buru-buru melepaskan topi atau sejenak menundukkan kepala - jika ada jenazah lewat hidup juga telah mengajarmu merapikan rambutmu yang sudah memutih, membetulkan letak kacamatamu, dan menggumamkan beberapa lirik doa jika ada jenazah lewat agar masih dianggap menghormati lambang kekalahannya sendiri</p>
194
<p>hidup telah mendidikmu dengan keras agar bersikap sopan - misalnya buru-buru melepaskan topi atau sejenak menundukkan kepala - jika ada jenazah lewat hidup juga telah mengajarmu merapikan rambutmu yang sudah memutih, membetulkan letak kacamatamu, dan menggumamkan beberapa lirik doa jika ada jenazah lewat agar masih dianggap menghormati lambang kekalahannya sendiri</p>
195
<p>Baca Juga:<a>Bagaimana Cara Membuat Puisi yang Baik dan Benar?</a></p>
195
<p>Baca Juga:<a>Bagaimana Cara Membuat Puisi yang Baik dan Benar?</a></p>
196
<p>-</p>
196
<p>-</p>
197
<p>Nah, itulah beberapa kumpulan contoh puisi berdasarkan jenis-jenisnya. Seru banget kan pembahasan kali ini? Semoga, setelah memahami artikel ini, kamu jadi tahu apa itu puisi, ciri-ciri, jenis, hingga unsur pembangunnya, ya. Kalau kamu mau belajar tentang puisi dan melihat contoh-contohnya lebih banyak lagi dengan bantuan visual. Yuk, langsung buka<a><strong>ruangbelajar</strong></a>!</p>
197
<p>Nah, itulah beberapa kumpulan contoh puisi berdasarkan jenis-jenisnya. Seru banget kan pembahasan kali ini? Semoga, setelah memahami artikel ini, kamu jadi tahu apa itu puisi, ciri-ciri, jenis, hingga unsur pembangunnya, ya. Kalau kamu mau belajar tentang puisi dan melihat contoh-contohnya lebih banyak lagi dengan bantuan visual. Yuk, langsung buka<a><strong>ruangbelajar</strong></a>!</p>
198
<p><strong>Referensi:</strong></p>
198
<p><strong>Referensi:</strong></p>
199
<p>Kosasih, E. 2017. Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.</p>
199
<p>Kosasih, E. 2017. Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.</p>
200
<p>Sumber Gambar:</p>
200
<p>Sumber Gambar:</p>
201
<p>Foto ‘Fountain Pen on Stationery’. Fotografer: Alvaro Serrano [daring]. Tautan: https://unsplash.com/photos/hjwKMkehBco (diakses pada 27 September 2022)</p>
201
<p>Foto ‘Fountain Pen on Stationery’. Fotografer: Alvaro Serrano [daring]. Tautan: https://unsplash.com/photos/hjwKMkehBco (diakses pada 27 September 2022)</p>
202
<p>Foto ‘Brown Paper and Black Pen’. Fotografer: Joanna Kosinska [daring]. Tautan: https://unsplash.com/photos/B6yDtYs2IgY (diakses pada 27 September 2022)</p>
202
<p>Foto ‘Brown Paper and Black Pen’. Fotografer: Joanna Kosinska [daring]. Tautan: https://unsplash.com/photos/B6yDtYs2IgY (diakses pada 27 September 2022)</p>
203
<p><em>Artikel ini diperbarui pada 29 April 2024.</em></p>
203
<p><em>Artikel ini diperbarui pada 29 April 2024.</em></p>
204
204