0 added
0 removed
Original
2026-01-01
Modified
2026-03-08
1
<blockquote><p><em>Di<strong><a>artikel Bahasa Indonesia kelas 9</a></strong>kali ini, kita akan belajar tentang syair, mulai dari pengertian, ciri-ciri, jenis, hingga contohnya.</em></p>
1
<blockquote><p><em>Di<strong><a>artikel Bahasa Indonesia kelas 9</a></strong>kali ini, kita akan belajar tentang syair, mulai dari pengertian, ciri-ciri, jenis, hingga contohnya.</em></p>
2
<p><em>-</em></p>
2
<p><em>-</em></p>
3
</blockquote><p>Gais, saat kamu sedang bersedih, apa yang kamu lakukan? Menangis?<em>Mojok</em>di kamar? Ber-<em>shower</em>? Atau yang berfaedah<em>dikit deh</em>, menulis syair?</p>
3
</blockquote><p>Gais, saat kamu sedang bersedih, apa yang kamu lakukan? Menangis?<em>Mojok</em>di kamar? Ber-<em>shower</em>? Atau yang berfaedah<em>dikit deh</em>, menulis syair?</p>
4
<p>“<em>Lho kok</em>syair?”</p>
4
<p>“<em>Lho kok</em>syair?”</p>
5
<p>Iya, syair terkenal sebagai media untuk mengungkapkan isi hati.<em>Nggak</em>hanya mengungkapkan kesedihan, tapi juga untuk perasaan-perasaan lainnya dan bisa untuk mengungkapkan suatu peristiwa, kejadian atau seseorang.</p>
5
<p>Iya, syair terkenal sebagai media untuk mengungkapkan isi hati.<em>Nggak</em>hanya mengungkapkan kesedihan, tapi juga untuk perasaan-perasaan lainnya dan bisa untuk mengungkapkan suatu peristiwa, kejadian atau seseorang.</p>
6
<p><em>Hmmm…</em>Tapi sebenarnya syair itu apa sih? Apakah sama dengan karya sastra lainnya seperti<strong><a>puisi</a></strong>,<strong><a>cerita pendek</a></strong>, atau<strong><a>drama</a></strong>? Nah, sekarang kita pelajarin yuk apa itu syair! Selamat belajar!</p>
6
<p><em>Hmmm…</em>Tapi sebenarnya syair itu apa sih? Apakah sama dengan karya sastra lainnya seperti<strong><a>puisi</a></strong>,<strong><a>cerita pendek</a></strong>, atau<strong><a>drama</a></strong>? Nah, sekarang kita pelajarin yuk apa itu syair! Selamat belajar!</p>
7
<p>Syair merupakan salah satu<a><strong>bentuk puisi lama</strong></a><strong>yang berasal dari tradisi sastra Persia</strong>(sekarang wilayah Iran). Bentuk sastra ini mulai dikenal di Nusantara, seiring dengan masuknya agama Islam melalui para pedagang dan ulama pada abad ke-13 hingga ke-16. Dalam perkembangannya,<strong>syair tidak hanya berfungsi sebagai karya sastra</strong>, tetapi juga sebagai<strong>media dakwah, pendidikan, serta penyampaian nilai moral dan ajaran agama</strong>.</p>
7
<p>Syair merupakan salah satu<a><strong>bentuk puisi lama</strong></a><strong>yang berasal dari tradisi sastra Persia</strong>(sekarang wilayah Iran). Bentuk sastra ini mulai dikenal di Nusantara, seiring dengan masuknya agama Islam melalui para pedagang dan ulama pada abad ke-13 hingga ke-16. Dalam perkembangannya,<strong>syair tidak hanya berfungsi sebagai karya sastra</strong>, tetapi juga sebagai<strong>media dakwah, pendidikan, serta penyampaian nilai moral dan ajaran agama</strong>.</p>
8
<p>Awalnya, bentuk dan gaya syair mengacu pada tradisi sastra Arab, terutama puisi-puisi bernuansa keagamaan dan kepahlawanan. Namun, setelah diadaptasi oleh para penyair Melayu, syair mengalami perkembangan dan modifikasi yang menjadikannya khas Nusantara, dengan tema yang lebih luas, seperti kisah cinta, nasihat, sejarah, dan keagamaan.</p>
8
<p>Awalnya, bentuk dan gaya syair mengacu pada tradisi sastra Arab, terutama puisi-puisi bernuansa keagamaan dan kepahlawanan. Namun, setelah diadaptasi oleh para penyair Melayu, syair mengalami perkembangan dan modifikasi yang menjadikannya khas Nusantara, dengan tema yang lebih luas, seperti kisah cinta, nasihat, sejarah, dan keagamaan.</p>
9
<h2>Ciri-Ciri Syair</h2>
9
<h2>Ciri-Ciri Syair</h2>
10
<p>Ciri utama syair terletak pada penggunaan<strong>Bahasa Melayu Klasik</strong>sebagai bahasa pengungkapnya. Bahasa ini memiliki gaya yang khas, seperti menggunakan kosakata lama, kiasan, banyak mengandung nilai sastra, dan keindahan bunyi.</p>
10
<p>Ciri utama syair terletak pada penggunaan<strong>Bahasa Melayu Klasik</strong>sebagai bahasa pengungkapnya. Bahasa ini memiliki gaya yang khas, seperti menggunakan kosakata lama, kiasan, banyak mengandung nilai sastra, dan keindahan bunyi.</p>
11
<h3>1. Struktur Bait dan Rima</h3>
11
<h3>1. Struktur Bait dan Rima</h3>
12
<p>Syair terdiri atas<strong>empat baris dalam setiap bait</strong>, dan<strong>setiap baris berisi delapan hingga dua belas suku kata</strong>. Semua baris memiliki<strong>rima akhir yang sama</strong><strong>(a-a-a-a)</strong>, berbeda dengan pantun yang berpola silang (a-b-a-b). Pola rima yang seragam ini memberikan irama yang teratur dan harmonis saat syair dibacakan.</p>
12
<p>Syair terdiri atas<strong>empat baris dalam setiap bait</strong>, dan<strong>setiap baris berisi delapan hingga dua belas suku kata</strong>. Semua baris memiliki<strong>rima akhir yang sama</strong><strong>(a-a-a-a)</strong>, berbeda dengan pantun yang berpola silang (a-b-a-b). Pola rima yang seragam ini memberikan irama yang teratur dan harmonis saat syair dibacakan.</p>
13
<p>Contoh:</p>
13
<p>Contoh:</p>
14
<p>Baik budi jangan dilup<strong>a</strong>Supaya hidup tiada hamp<strong>a</strong>Jika mati beroleh nam<strong>a</strong>Dikenang orang sepanjang mas<strong>a</strong></p>
14
<p>Baik budi jangan dilup<strong>a</strong>Supaya hidup tiada hamp<strong>a</strong>Jika mati beroleh nam<strong>a</strong>Dikenang orang sepanjang mas<strong>a</strong></p>
15
<p><strong>Baca Juga:<a>Pengertian Pantun, Ciri, Fungsi, Struktur, Jenis & Contoh</a></strong></p>
15
<p><strong>Baca Juga:<a>Pengertian Pantun, Ciri, Fungsi, Struktur, Jenis & Contoh</a></strong></p>
16
<h3>2. Keterpaduan Makna</h3>
16
<h3>2. Keterpaduan Makna</h3>
17
<p>Berbeda dengan pantun yang memisahkan antara sampiran dan isi,<strong>syair tidak memiliki sampiran</strong>. Keempat baris dalam setiap bait saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan makna yang utuh. Oleh karena itu, setiap bait berfungsi menyampaikan ide atau pesan tertentu yang mendukung tema keseluruhan.</p>
17
<p>Berbeda dengan pantun yang memisahkan antara sampiran dan isi,<strong>syair tidak memiliki sampiran</strong>. Keempat baris dalam setiap bait saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan makna yang utuh. Oleh karena itu, setiap bait berfungsi menyampaikan ide atau pesan tertentu yang mendukung tema keseluruhan.</p>
18
<p>Contoh:</p>
18
<p>Contoh:</p>
19
<p>Barang siapa mengenal diri Maka tahulah asalnya budi Jika hendak mengenal Ilahi Lihatlah ke dalam hati sendiri</p>
19
<p>Barang siapa mengenal diri Maka tahulah asalnya budi Jika hendak mengenal Ilahi Lihatlah ke dalam hati sendiri</p>
20
<h3>3. Isi dan Pesan</h3>
20
<h3>3. Isi dan Pesan</h3>
21
<p>Syair umumnya<strong>berisi ajaran moral, nilai keagamaan, nasihat hidup, kisah percintaan, atau cerita sejarah</strong>. Pesan dalam syair sering kali disampaikan secara halus dan penuh bahasa kiasan.</p>
21
<p>Syair umumnya<strong>berisi ajaran moral, nilai keagamaan, nasihat hidup, kisah percintaan, atau cerita sejarah</strong>. Pesan dalam syair sering kali disampaikan secara halus dan penuh bahasa kiasan.</p>
22
<p>Apa sih bahasa kiasan itu?<strong>Bahasa kiasan</strong>adalah perumpamaan atau pengibaratan, jadi apa yang disampaikan<strong>bukanlah makna yang sebenarnya</strong>. Kenapa ya kok syair menggunakan bahasa kiasan? Tujuan memakai bahasa kiasan dalam syair adalah untuk memberi rasa keindahan dan penekanan pada pentingnya hal yang akan disampaikan. Misalnya:</p>
22
<p>Apa sih bahasa kiasan itu?<strong>Bahasa kiasan</strong>adalah perumpamaan atau pengibaratan, jadi apa yang disampaikan<strong>bukanlah makna yang sebenarnya</strong>. Kenapa ya kok syair menggunakan bahasa kiasan? Tujuan memakai bahasa kiasan dalam syair adalah untuk memberi rasa keindahan dan penekanan pada pentingnya hal yang akan disampaikan. Misalnya:</p>
23
<h3>4. Keterkaitan Antar Bait</h3>
23
<h3>4. Keterkaitan Antar Bait</h3>
24
<p>Syair juga sering disusun dalam<strong>rangkaian bait yang berurutan</strong>. Setiap bait melanjutkan isi dari bait sebelumnya, sehingga menghasilkan satu kesatuan cerita yang utuh. Contoh karya syair semacam ini, antara lain Syair Bidasari, Syair Ken Tambuhan, dan Syair Perahu.</p>
24
<p>Syair juga sering disusun dalam<strong>rangkaian bait yang berurutan</strong>. Setiap bait melanjutkan isi dari bait sebelumnya, sehingga menghasilkan satu kesatuan cerita yang utuh. Contoh karya syair semacam ini, antara lain Syair Bidasari, Syair Ken Tambuhan, dan Syair Perahu.</p>
25
<p>Dengar tuan suatu riwayat Raja di desa negeri Kembayat Dikarang fakir dijadikan hikayat Supaya menjadi tamsil ibarat</p>
25
<p>Dengar tuan suatu riwayat Raja di desa negeri Kembayat Dikarang fakir dijadikan hikayat Supaya menjadi tamsil ibarat</p>
26
<p>Ada raja sebuah negeri Sultan Ahmad Syah namanya seri Adil bijaksana lagi bestari Luaslah negeri serta negeri</p>
26
<p>Ada raja sebuah negeri Sultan Ahmad Syah namanya seri Adil bijaksana lagi bestari Luaslah negeri serta negeri</p>
27
<h2>Jenis-Jenis Syair dan Contohnya</h2>
27
<h2>Jenis-Jenis Syair dan Contohnya</h2>
28
<p><strong>Syair</strong>terdiri dari<strong>lima jenis</strong>, lho. Ada<strong>syair panji, syair romantis, syair kiasan, syair sejarah dan syair agama</strong>. Kelima jenis syair tersebut dibedakan berdasarkan isinya. Kita bahas satu persatu ya biar kamu bisa paham dimana perbedaannya.</p>
28
<p><strong>Syair</strong>terdiri dari<strong>lima jenis</strong>, lho. Ada<strong>syair panji, syair romantis, syair kiasan, syair sejarah dan syair agama</strong>. Kelima jenis syair tersebut dibedakan berdasarkan isinya. Kita bahas satu persatu ya biar kamu bisa paham dimana perbedaannya.</p>
29
<p><strong>Baca Juga:<a>Kumpulan Contoh Gurindam Berbagai Tema, Ciri & Jenisnya</a> </strong></p>
29
<p><strong>Baca Juga:<a>Kumpulan Contoh Gurindam Berbagai Tema, Ciri & Jenisnya</a> </strong></p>
30
<h3>a. Syair Panji</h3>
30
<h3>a. Syair Panji</h3>
31
<p>Syair panji menceritakan tentang<strong>kehidupan di dalam istana</strong>. Baik tentang orang-orang yang berasal dari sana, maupun tentang orang-orang yang berada di dalamnya.</p>
31
<p>Syair panji menceritakan tentang<strong>kehidupan di dalam istana</strong>. Baik tentang orang-orang yang berasal dari sana, maupun tentang orang-orang yang berada di dalamnya.</p>
32
<p>Contoh karya:<em>Syair Ken Tambuhan</em></p>
32
<p>Contoh karya:<em>Syair Ken Tambuhan</em></p>
33
<p>Jika tuan menjadi air Kakang menjadi ikan di pasir Kata nin tiada kakanda mungkir Kasih kakang batin dan lahir</p>
33
<p>Jika tuan menjadi air Kakang menjadi ikan di pasir Kata nin tiada kakanda mungkir Kasih kakang batin dan lahir</p>
34
<p>Jika tuan menjadi bulan Kakang menjadi pungguk merawan Aria ningsun emas tempawan Janganlah bercerai apalah tuan</p>
34
<p>Jika tuan menjadi bulan Kakang menjadi pungguk merawan Aria ningsun emas tempawan Janganlah bercerai apalah tuan</p>
35
<p>Tuang laksana bunga kembang Kakanda menjadi seekor kumbang Tuanlah memberi kakanda bimbang Tiadalah kasihan tuan akan abang</p>
35
<p>Tuang laksana bunga kembang Kakanda menjadi seekor kumbang Tuanlah memberi kakanda bimbang Tiadalah kasihan tuan akan abang</p>
36
<p>Jika tuan menjadi kayu rampak Kakanda menjadi seekor merak Tiadalah mau kakanda berjarak Seketika pun tiada dapat bergerak</p>
36
<p>Jika tuan menjadi kayu rampak Kakanda menjadi seekor merak Tiadalah mau kakanda berjarak Seketika pun tiada dapat bergerak</p>
37
<h3>b. Syair Romantis</h3>
37
<h3>b. Syair Romantis</h3>
38
<p>Kalau dengar kata-kata romantis, langsung kebayang dong isinya seperti apa? Ya, syair romantik<strong>membahas tentang percintaan</strong>. Biasanya terdapat pada cerita pelipur lara, hikayat atau cerita rakyat. Contohnya yakni<em>Syair Bidasari</em>yang bercerita tentang seorang putri raja yang dibuang ibunya.</p>
38
<p>Kalau dengar kata-kata romantis, langsung kebayang dong isinya seperti apa? Ya, syair romantik<strong>membahas tentang percintaan</strong>. Biasanya terdapat pada cerita pelipur lara, hikayat atau cerita rakyat. Contohnya yakni<em>Syair Bidasari</em>yang bercerita tentang seorang putri raja yang dibuang ibunya.</p>
39
<p>Contoh karya:<em>Syair Bidasari</em></p>
39
<p>Contoh karya:<em>Syair Bidasari</em></p>
40
<p>Tersebutlah perkata Bidasari Setelah malam sudahlah hari Bangunlah ia seorang diri Makan dan minum barang yang digemari</p>
40
<p>Tersebutlah perkata Bidasari Setelah malam sudahlah hari Bangunlah ia seorang diri Makan dan minum barang yang digemari</p>
41
<p>Pergilah mandi Siti Bangsawan Serta memakai bau-bauan Lalu masuk ke dalam peraduan Santap sirih dalam puan</p>
41
<p>Pergilah mandi Siti Bangsawan Serta memakai bau-bauan Lalu masuk ke dalam peraduan Santap sirih dalam puan</p>
42
<p>Bertemu sepah bekas dimakan Diambil Siti dicampakan Dengan takutnya ia berfikiran Siapakah ini yang membuatkan</p>
42
<p>Bertemu sepah bekas dimakan Diambil Siti dicampakan Dengan takutnya ia berfikiran Siapakah ini yang membuatkan</p>
43
<p>Jikalau manusia yang empunya Nescaya aku dicabulinya Jika ayahku datang adalah tandanya Bertambahlah makanan yang dibawanya</p>
43
<p>Jikalau manusia yang empunya Nescaya aku dicabulinya Jika ayahku datang adalah tandanya Bertambahlah makanan yang dibawanya</p>
44
<p>Dilihatnya Siti tempat tidurnya Tilam sedikit tersingkir alasnya Sirih di puan salah aturannya Bidasari masygul dengan takutnya</p>
44
<p>Dilihatnya Siti tempat tidurnya Tilam sedikit tersingkir alasnya Sirih di puan salah aturannya Bidasari masygul dengan takutnya</p>
45
<p>Ia pun duduk di atas geta Sangatlah gundah rasanya cita Seraya bertaburan air mata Manakah tempat ia hendak dikata</p>
45
<p>Ia pun duduk di atas geta Sangatlah gundah rasanya cita Seraya bertaburan air mata Manakah tempat ia hendak dikata</p>
46
<h3>c. Syair Kiasan</h3>
46
<h3>c. Syair Kiasan</h3>
47
<p>Syair kiasan<strong>bercerita tentang kisah cinta ikan, burung, bunga, atau buah-buahan</strong>. Kenapa disebut syair kiasan? Cerita yang ada di dalam syair kiasan berisi tentang sindiran terhadap peristiwa tertentu.<em>Syair Burung Pungguk</em>merupakan salah satu contoh dari syair kiasan.</p>
47
<p>Syair kiasan<strong>bercerita tentang kisah cinta ikan, burung, bunga, atau buah-buahan</strong>. Kenapa disebut syair kiasan? Cerita yang ada di dalam syair kiasan berisi tentang sindiran terhadap peristiwa tertentu.<em>Syair Burung Pungguk</em>merupakan salah satu contoh dari syair kiasan.</p>
48
<p>Pangkat? Pangkat TNI?</p>
48
<p>Pangkat? Pangkat TNI?</p>
49
<p>Bukan, bukan pangkat yang itu ya karena si Pungguk dan si Bulan bukan tentara. Syair ini bercerita tentang kegagalan kisah cinta karena perbedaan kedudukan atau derajat. Ceritanya ada seorang pria mencintai seorang gadis yang derajatnya lebih tinggi, tapi gadis tersebut menolaknya. Pria tersebut diibaratkan sebagai pungguk sedangkan si gadis diibaratkan sebagai bulan. Karena cintanya ditolak, si Pungguk hanya bisa menatap bulan dari jauh. Sakit, tapi nggak berdarah. Hiks.</p>
49
<p>Bukan, bukan pangkat yang itu ya karena si Pungguk dan si Bulan bukan tentara. Syair ini bercerita tentang kegagalan kisah cinta karena perbedaan kedudukan atau derajat. Ceritanya ada seorang pria mencintai seorang gadis yang derajatnya lebih tinggi, tapi gadis tersebut menolaknya. Pria tersebut diibaratkan sebagai pungguk sedangkan si gadis diibaratkan sebagai bulan. Karena cintanya ditolak, si Pungguk hanya bisa menatap bulan dari jauh. Sakit, tapi nggak berdarah. Hiks.</p>
50
<p>Contoh karya:<em>Syair Burung Pungguk</em></p>
50
<p>Contoh karya:<em>Syair Burung Pungguk</em></p>
51
<p>Pungguk bercinta pagi dan petang Melihat bulan di pagar bintang Terselap rindu dendam pun dating Dari saujana punggung menentang</p>
51
<p>Pungguk bercinta pagi dan petang Melihat bulan di pagar bintang Terselap rindu dendam pun dating Dari saujana punggung menentang</p>
52
<p>Pungguk menentang dari saujana Di dalam hati gundah gulana Jikalau ditolong Tuhan yang gana Makanaya pungguk boleh ke sana</p>
52
<p>Pungguk menentang dari saujana Di dalam hati gundah gulana Jikalau ditolong Tuhan yang gana Makanaya pungguk boleh ke sana</p>
53
<p>Di atas beraksa berapa lama Gilakan cahaya bulan purnama Jikalau bulan jatuh ke mana Dimanakah pungguk dapat Bersama</p>
53
<p>Di atas beraksa berapa lama Gilakan cahaya bulan purnama Jikalau bulan jatuh ke mana Dimanakah pungguk dapat Bersama</p>
54
<p>Bulan purnama cahayanya terang Bintang seperti intan dikarang Rawanya pungguk bukan sembarang Berahikan bulan di tanah seberang</p>
54
<p>Bulan purnama cahayanya terang Bintang seperti intan dikarang Rawanya pungguk bukan sembarang Berahikan bulan di tanah seberang</p>
55
<p>Gemerlapan cahaya bintang Kartika Beratur majelis bagai dijangka Sekaliannya bintang terbit belaka Pungguk melihat kalbunya duka</p>
55
<p>Gemerlapan cahaya bintang Kartika Beratur majelis bagai dijangka Sekaliannya bintang terbit belaka Pungguk melihat kalbunya duka</p>
56
<p>Bintang di langit berbagai rupa Pungguk bercinta badan terlepa Minta doa tiadalah lupa Dengan bulan hendak berjumpa</p>
56
<p>Bintang di langit berbagai rupa Pungguk bercinta badan terlepa Minta doa tiadalah lupa Dengan bulan hendak berjumpa</p>
57
<h3>d. Syair Sejarah</h3>
57
<h3>d. Syair Sejarah</h3>
58
<p>Seperti namanya, syair ini<strong>bercerita berdasarkan pada cerita sejarah</strong>. Jadi, sebagian besar syair dalam kelompok ini bercerita tentang peperangan. Misalnya<em>Syair Perang Mengkassar</em>(dulunya bernama Syair Sipelman), bercerita tentang perang antara orang-orang Makassar dengan Belanda.</p>
58
<p>Seperti namanya, syair ini<strong>bercerita berdasarkan pada cerita sejarah</strong>. Jadi, sebagian besar syair dalam kelompok ini bercerita tentang peperangan. Misalnya<em>Syair Perang Mengkassar</em>(dulunya bernama Syair Sipelman), bercerita tentang perang antara orang-orang Makassar dengan Belanda.</p>
59
<p>Contoh karya:<em>Syair Perang Mengkassar</em></p>
59
<p>Contoh karya:<em>Syair Perang Mengkassar</em></p>
60
<p>Bismiâllah itu suatu firman Fardulah kita kepadanya iman Muttasil pula dengan rahman Hasil maksudnya pada yang Budiman</p>
60
<p>Bismiâllah itu suatu firman Fardulah kita kepadanya iman Muttasil pula dengan rahman Hasil maksudnya pada yang Budiman</p>
61
<p>Rahman itu sifat Tiada bercerai dengan kunhi zat Nyatanya itu tiada bertempat Barang yang bekal sukar mendapat</p>
61
<p>Rahman itu sifat Tiada bercerai dengan kunhi zat Nyatanya itu tiada bertempat Barang yang bekal sukar mendapat</p>
62
<p>Rahim itu sifat yang sedia Wajiblah kita kepadanya percaya Barang siapa yang mendapat dia Dunia akhirat tiada berbahaya</p>
62
<p>Rahim itu sifat yang sedia Wajiblah kita kepadanya percaya Barang siapa yang mendapat dia Dunia akhirat tiada berbahaya</p>
63
<p>Al-hamduliâllah tahmid yang ajla Nyatanya dalam kalam Allah ala Madah terkhusus bagi hak taâ ala Sebab itulah dikarang oleh wali Allah</p>
63
<p>Al-hamduliâllah tahmid yang ajla Nyatanya dalam kalam Allah ala Madah terkhusus bagi hak taâ ala Sebab itulah dikarang oleh wali Allah</p>
64
<p>Setelah sudah selesai pujinya Salawat pula akan nabi-Nya Di sanalah asal mula tajallinya Kesudahan tempat turun wahyunya</p>
64
<p>Setelah sudah selesai pujinya Salawat pula akan nabi-Nya Di sanalah asal mula tajallinya Kesudahan tempat turun wahyunya</p>
65
<p>Muhammad itu nabi yang khatam Mengajak ke hadrat rabbi al-alam Sesungguhnya dahulu nyatanya (kelam) Dari pada pancarnya sekalian alam</p>
65
<p>Muhammad itu nabi yang khatam Mengajak ke hadrat rabbi al-alam Sesungguhnya dahulu nyatanya (kelam) Dari pada pancarnya sekalian alam</p>
66
<p>Salawat itu masyhur lafaznya Telah termazhur pada makhluknya Allahumma salliâalaihi akan agamanya Di sanalah nyata sifat jamalnya</p>
66
<p>Salawat itu masyhur lafaznya Telah termazhur pada makhluknya Allahumma salliâalaihi akan agamanya Di sanalah nyata sifat jamalnya</p>
67
<p>Tuanku sultan yang amat sakti Akan Allah dan rasul sangatlah bakti Suci dan ikhlas di dalam hati Seperti air ma’al-hayati</p>
67
<p>Tuanku sultan yang amat sakti Akan Allah dan rasul sangatlah bakti Suci dan ikhlas di dalam hati Seperti air ma’al-hayati</p>
68
<p>Daulatnya bukan barang-barang Seperti manikam yang sudah di karang Jikalau dihadap sengala hulubalang Cahaya durjanya gilang gemilang</p>
68
<p>Daulatnya bukan barang-barang Seperti manikam yang sudah di karang Jikalau dihadap sengala hulubalang Cahaya durjanya gilang gemilang</p>
69
<p>Raja berani sangatlah bertuah Hukumannya ‘adil kalbunya murah Segenap tahun zakat dan fitrah Fakir dan miskin sekalian limpah</p>
69
<p>Raja berani sangatlah bertuah Hukumannya ‘adil kalbunya murah Segenap tahun zakat dan fitrah Fakir dan miskin sekalian limpah</p>
70
<p>Sultan di Goa raja yang sabar Berbuat ‘ibadat terlalu gemar Menjauhi nahi mendekatkan amar Kepada pendeta baginda belajar</p>
70
<p>Sultan di Goa raja yang sabar Berbuat ‘ibadat terlalu gemar Menjauhi nahi mendekatkan amar Kepada pendeta baginda belajar</p>
71
<p>Baginda raja yang amat elok Serasi dengan adinda di telo’ Seperti embun yang sangat sejuk Cahayanya limpah pada segala makhluk</p>
71
<p>Baginda raja yang amat elok Serasi dengan adinda di telo’ Seperti embun yang sangat sejuk Cahayanya limpah pada segala makhluk</p>
72
<p>Tiadalah habis gharib kata Sempurnalah baginda menjadi sultan Dengan saudaranya yang sangat berpatutan Seperti emas mengikat intan</p>
72
<p>Tiadalah habis gharib kata Sempurnalah baginda menjadi sultan Dengan saudaranya yang sangat berpatutan Seperti emas mengikat intan</p>
73
<p>Bijaksana sekali berkata-kata Sebab berkapit dengan pendeta Jikalau mendengar khabar berita Sadarlah baginda benar dan dusta</p>
73
<p>Bijaksana sekali berkata-kata Sebab berkapit dengan pendeta Jikalau mendengar khabar berita Sadarlah baginda benar dan dusta</p>
74
<p>Kekal ikrar apalah tuanku Seperti air zamzam di dalam sangku Barang kehendak sekalian berlaku Tenteranya banyak bersuku-suku</p>
74
<p>Kekal ikrar apalah tuanku Seperti air zamzam di dalam sangku Barang kehendak sekalian berlaku Tenteranya banyak bersuku-suku</p>
75
<p>Patik persembahkan suatu rencana Mohon ampun dengan karunia Aturnya janggal banyak ta’kena Karena ‘akalnya belum sempurna</p>
75
<p>Patik persembahkan suatu rencana Mohon ampun dengan karunia Aturnya janggal banyak ta’kena Karena ‘akalnya belum sempurna</p>
76
<p>Mohonkan ampun gharib yang fakir Memcatatkan asma di dalam sya’ir Maka patik pun berbuat sindir Kepada negeri asing supaya lahir</p>
76
<p>Mohonkan ampun gharib yang fakir Memcatatkan asma di dalam sya’ir Maka patik pun berbuat sindir Kepada negeri asing supaya lahir</p>
77
<p>Tuanku ampun fakir yang hina Sindirnya tidak betapa bena Menyatakan asma raja yang ghana Supaya tentu pada segala yang bijaksana</p>
77
<p>Tuanku ampun fakir yang hina Sindirnya tidak betapa bena Menyatakan asma raja yang ghana Supaya tentu pada segala yang bijaksana</p>
78
<p>Maka patik berani berdatang sembah Harapkan ampun karunia yang limpah Tuanku ampuni hamba Allah Karena aurnya banyak yang salah</p>
78
<p>Maka patik berani berdatang sembah Harapkan ampun karunia yang limpah Tuanku ampuni hamba Allah Karena aurnya banyak yang salah</p>
79
<p>Tamatlah sudah memuji sultan Tersebutlah perkataan Welanda syaitan Kornilis Sipalman penghulu kapitan Raja Palakka jadi panglima</p>
79
<p>Tamatlah sudah memuji sultan Tersebutlah perkataan Welanda syaitan Kornilis Sipalman penghulu kapitan Raja Palakka jadi panglima</p>
80
<p>Demikian asal mula pertama Welanda dan Bugis bersama-sama Kornilis Sipalman ternama Raja Palakka menjadi panglima</p>
80
<p>Demikian asal mula pertama Welanda dan Bugis bersama-sama Kornilis Sipalman ternama Raja Palakka menjadi panglima</p>
81
<p>Berkampunglah Welanda sekalian jenis Berkatalah Jendral Kapitan yang bengis Jikalau alah Mengkasar nin habis Tunderu’ kelak raja di Bugis</p>
81
<p>Berkampunglah Welanda sekalian jenis Berkatalah Jendral Kapitan yang bengis Jikalau alah Mengkasar nin habis Tunderu’ kelak raja di Bugis</p>
82
<p>Setelah didengar oleh si Tunderu’ Kata jenderal Welanda yang mabuk Berbangkitlah ia yang duduk Betalah kelak di medan mengamuk</p>
82
<p>Setelah didengar oleh si Tunderu’ Kata jenderal Welanda yang mabuk Berbangkitlah ia yang duduk Betalah kelak di medan mengamuk</p>
83
<p>Akan cakap Bugis yang dusta Sehari kubedil robohlah kota Habis kuambil segala harta Perempuan yang baik bahagian beta</p>
83
<p>Akan cakap Bugis yang dusta Sehari kubedil robohlah kota Habis kuambil segala harta Perempuan yang baik bahagian beta</p>
84
<p>Jika sudah kita alahkan Segala hasil beta persembahkan Perintah negeri kita serahkan Kerajaan di bone’Tunderu’ pohonkan</p>
84
<p>Jika sudah kita alahkan Segala hasil beta persembahkan Perintah negeri kita serahkan Kerajaan di bone’Tunderu’ pohonkan</p>
85
<p>Setelah didengar oleh jenderal Cakap Tunderu’ orang yang bebel Disuruhnya berlengkap segala kapal Seorang kapitan dijadikan amiral</p>
85
<p>Setelah didengar oleh jenderal Cakap Tunderu’ orang yang bebel Disuruhnya berlengkap segala kapal Seorang kapitan dijadikan amiral</p>
86
<p>Putuslah sudah segala musyawarat Welanda dan bugis membawa alat Beberapa senapang dengan bangat Sekalian soldadu di dalam surat</p>
86
<p>Putuslah sudah segala musyawarat Welanda dan bugis membawa alat Beberapa senapang dengan bangat Sekalian soldadu di dalam surat</p>
87
<p>Tujuh ratus enam puluh soldadu yang muda-muda Memakai kamsol cara Welanda Rupanya sikap seperti Garuda Bermuatlah ke kapal barang yang ada</p>
87
<p>Tujuh ratus enam puluh soldadu yang muda-muda Memakai kamsol cara Welanda Rupanya sikap seperti Garuda Bermuatlah ke kapal barang yang ada</p>
88
<p>Delapan belas kapal yang besar Semuanya habis menarik layer Turunlah angin barat yang besar Sampailah ia ke negeri Mengkasar</p>
88
<p>Delapan belas kapal yang besar Semuanya habis menarik layer Turunlah angin barat yang besar Sampailah ia ke negeri Mengkasar</p>
89
<p>Di laut Barombong kapal berlabuh Kata si Bugis nati dibunuh Jikalau raja yang datang menyuruh Semuanya tangkap kita perteguh</p>
89
<p>Di laut Barombong kapal berlabuh Kata si Bugis nati dibunuh Jikalau raja yang datang menyuruh Semuanya tangkap kita perteguh</p>
90
<p>Pada sangkanya Bugis dan Welanda Dikatanya takut gerangan baginda Tambahan Bugis orang yang bida’ah Barang katanya mengada-ngada</p>
90
<p>Pada sangkanya Bugis dan Welanda Dikatanya takut gerangan baginda Tambahan Bugis orang yang bida’ah Barang katanya mengada-ngada</p>
91
<p>Segala ra’yat yang melihat Ada yang suka ada yang dahsat Sekalian rakyat berkampung musyawarat Masuk mengadap duli hadrat</p>
91
<p>Segala ra’yat yang melihat Ada yang suka ada yang dahsat Sekalian rakyat berkampung musyawarat Masuk mengadap duli hadrat</p>
92
<p>Daeng dank are masuk ke dalam Mengadap duli mahkota ‘alam Berkampunglah segala kaum Islam Menantikan titah Syahi ‘alam</p>
92
<p>Daeng dank are masuk ke dalam Mengadap duli mahkota ‘alam Berkampunglah segala kaum Islam Menantikan titah Syahi ‘alam</p>
93
<p>Akan titah baginda sultan Siapatah baik kita titahkan Tanyakan kehendak Welanda syaitan Hendak berkelahi kita lawan</p>
93
<p>Akan titah baginda sultan Siapatah baik kita titahkan Tanyakan kehendak Welanda syaitan Hendak berkelahi kita lawan</p>
94
<p>Menyahut baginda Karaeng Ketapang Karaeng we jangan hatimu bimbang Jikalau Welanda hendak berperang Kita kampungkan sekalian orang</p>
94
<p>Menyahut baginda Karaeng Ketapang Karaeng we jangan hatimu bimbang Jikalau Welanda hendak berperang Kita kampungkan sekalian orang</p>
95
<p>Dititirlah nobat gendering pekanjar Bunyinya gemuruh seperti tagar Berhimpunlah ra’yat kecil dan besar Adalah geger negeri Mengkasar</p>
95
<p>Dititirlah nobat gendering pekanjar Bunyinya gemuruh seperti tagar Berhimpunlah ra’yat kecil dan besar Adalah geger negeri Mengkasar</p>
96
<p>Bercakaplah baginda Keraeng Popo Mencabut sunderikyang amat elok Barang di mana ketumbukan si Tunderu’ Daripada tertawan remaklah habi</p>
96
<p>Bercakaplah baginda Keraeng Popo Mencabut sunderikyang amat elok Barang di mana ketumbukan si Tunderu’ Daripada tertawan remaklah habi</p>
97
<p>Karaeng garasi’ raja yang tua Barcakap di hadapan anakanda ke dua Barang kerja akulah bawa Karena badanku pun sudahlah tua</p>
97
<p>Karaeng garasi’ raja yang tua Barcakap di hadapan anakanda ke dua Barang kerja akulah bawa Karena badanku pun sudahlah tua</p>
98
<p>Karaeng Bonto Majanang saudara Sultan Sikapnya seperti harimau jantan Barang ke mana patik dititahkan Welanda dan Bugis saja kulaawan</p>
98
<p>Karaeng Bonto Majanang saudara Sultan Sikapnya seperti harimau jantan Barang ke mana patik dititahkan Welanda dan Bugis saja kulaawan</p>
99
<p>Bercakap pula Karaeng Jaranika Merah padam warnanya muka Welanda Bugis anjing celaka Haramlah aku memalingkan muka</p>
99
<p>Bercakap pula Karaeng Jaranika Merah padam warnanya muka Welanda Bugis anjing celaka Haramlah aku memalingkan muka</p>
100
<p>Karaeng Panjalingang raja yang bijak Melompat mencabut keris pandak Jikalau undur patik nin kelak Kepada perempuan suruh tempelak</p>
100
<p>Karaeng Panjalingang raja yang bijak Melompat mencabut keris pandak Jikalau undur patik nin kelak Kepada perempuan suruh tempelak</p>
101
<p>Keraeng Bonto Sunggu raja elok Bercakap di hadapan Raja Telo’ Biarlah patik menjadi cucuk Welanda dan Bugis saja kuamuk</p>
101
<p>Keraeng Bonto Sunggu raja elok Bercakap di hadapan Raja Telo’ Biarlah patik menjadi cucuk Welanda dan Bugis saja kuamuk</p>
102
<p>Keraeng Balo’ raja yang muda Bercakap di hadapan paduka kakanda Jikalau sekadar Bugis dan Welanda Barang dititahkan patiklah ada</p>
102
<p>Keraeng Balo’ raja yang muda Bercakap di hadapan paduka kakanda Jikalau sekadar Bugis dan Welanda Barang dititahkan patiklah ada</p>
103
<p>Akan cakap Keraeng Sanderabone Mencabut sunderik baru dicanai Jikalau sekadar Sopeng dan Bone Tambah lagi Sula’ dengan Burne</p>
103
<p>Akan cakap Keraeng Sanderabone Mencabut sunderik baru dicanai Jikalau sekadar Sopeng dan Bone Tambah lagi Sula’ dengan Burne</p>
104
<p>Jikalau ia mau kemari Sekapur sirih ia kuberi Jikalau Allah sudah memberi Si la’nat Allah kita tampari</p>
104
<p>Jikalau ia mau kemari Sekapur sirih ia kuberi Jikalau Allah sudah memberi Si la’nat Allah kita tampari</p>
105
<p>Bercakap bage Keraeng Mandale Ia berkanjar mencabut sunderik Berdiri melompat seraya bertempik Barang di mana dititahkan patik</p>
105
<p>Bercakap bage Keraeng Mandale Ia berkanjar mencabut sunderik Berdiri melompat seraya bertempik Barang di mana dititahkan patik</p>
106
<p>Keraeng Mamu berani sungguh Bercakap dengan kata yang teguh Jikalau patik bertemu musuh Pada barang tempat hambah bertutuh</p>
106
<p>Keraeng Mamu berani sungguh Bercakap dengan kata yang teguh Jikalau patik bertemu musuh Pada barang tempat hambah bertutuh</p>
107
<h3>e. Syair Agama</h3>
107
<h3>e. Syair Agama</h3>
108
<p>Terakhir, syair agama yang merupakan syair yang terpenting karena<strong>berisi ajaran agama dan nasihat bijak.</strong>Syair agama dapat dibagi menjadi empat, yaitu syair sufi, syair tentang agama Islam, syair riwayat cerita nabi dan syair nasihat. Hamzah Fansuri adalah tokoh yang pertama kali menulis syair agama. Salah satu karyanya antara lain<em>Syair Perahu</em>.</p>
108
<p>Terakhir, syair agama yang merupakan syair yang terpenting karena<strong>berisi ajaran agama dan nasihat bijak.</strong>Syair agama dapat dibagi menjadi empat, yaitu syair sufi, syair tentang agama Islam, syair riwayat cerita nabi dan syair nasihat. Hamzah Fansuri adalah tokoh yang pertama kali menulis syair agama. Salah satu karyanya antara lain<em>Syair Perahu</em>.</p>
109
<p>Wah, ternyata syair ada banyak jenisnya ya, nggak cuma satu. Kamu bisa lihat tabel rangkuman di bawah ini supaya kamu bisa lebih mudah memahami jenis-jenis syair, baik dari isi maupun contohnya.</p>
109
<p>Wah, ternyata syair ada banyak jenisnya ya, nggak cuma satu. Kamu bisa lihat tabel rangkuman di bawah ini supaya kamu bisa lebih mudah memahami jenis-jenis syair, baik dari isi maupun contohnya.</p>
110
<h2>Unsur-Unsur Syair</h2>
110
<h2>Unsur-Unsur Syair</h2>
111
<p>Secara umum, syair memiliki dua jenis unsur, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Kedua unsur ini tentu saling berkaitan dalam membentuk keindahan dan makna syair secara utuh.</p>
111
<p>Secara umum, syair memiliki dua jenis unsur, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Kedua unsur ini tentu saling berkaitan dalam membentuk keindahan dan makna syair secara utuh.</p>
112
<h3>a. Unsur Intrinsik</h3>
112
<h3>a. Unsur Intrinsik</h3>
113
<p>Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membentuk syair dari dalam, atau dengan kata lain, elemen yang langsung terdapat dalam teks syair itu sendiri. Unsur intrinsik syair di antaranya:</p>
113
<p>Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membentuk syair dari dalam, atau dengan kata lain, elemen yang langsung terdapat dalam teks syair itu sendiri. Unsur intrinsik syair di antaranya:</p>
114
<ul><li><h4>Tema</h4>
114
<ul><li><h4>Tema</h4>
115
</li>
115
</li>
116
</ul><p>Tema adalah<strong>gagasan pokok atau ide utama</strong>yang melandasi keseluruhan isi syair. Tema syair dapat berupa nasihat, keagamaan, percintaan, kehidupan sosial, hingga kepahlawanan.</p>
116
</ul><p>Tema adalah<strong>gagasan pokok atau ide utama</strong>yang melandasi keseluruhan isi syair. Tema syair dapat berupa nasihat, keagamaan, percintaan, kehidupan sosial, hingga kepahlawanan.</p>
117
<p>Contoh: Tema dalam Syair Perahu karya Hamzah Fansuri adalah nasihat keagamaan dan refleksi diri.</p>
117
<p>Contoh: Tema dalam Syair Perahu karya Hamzah Fansuri adalah nasihat keagamaan dan refleksi diri.</p>
118
<ul><li><h4>Amanat (Pesan)</h4>
118
<ul><li><h4>Amanat (Pesan)</h4>
119
</li>
119
</li>
120
</ul><p>Amanat merupakan<strong>pesan moral yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca atau pendengar</strong>. Pesan ini biasanya bersifat nasihat, ajakan berbuat baik, atau peringatan terhadap perilaku buruk.</p>
120
</ul><p>Amanat merupakan<strong>pesan moral yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca atau pendengar</strong>. Pesan ini biasanya bersifat nasihat, ajakan berbuat baik, atau peringatan terhadap perilaku buruk.</p>
121
<ul><li><h4>Bahasa dan Gaya Bahasa</h4>
121
<ul><li><h4>Bahasa dan Gaya Bahasa</h4>
122
</li>
122
</li>
123
</ul><p>Bahasa syair menggunakan<strong>Bahasa Melayu Klasik</strong>, yang kaya akan peribahasa, kiasan, dan metafora. Gaya bahasa inilah yang membuat syair memiliki nilai keindahan dan kedalaman makna.</p>
123
</ul><p>Bahasa syair menggunakan<strong>Bahasa Melayu Klasik</strong>, yang kaya akan peribahasa, kiasan, dan metafora. Gaya bahasa inilah yang membuat syair memiliki nilai keindahan dan kedalaman makna.</p>
124
<p>Contoh: Penggunaan kata perahu dalam Syair Perahu adalah metafora untuk tubuh manusia.</p>
124
<p>Contoh: Penggunaan kata perahu dalam Syair Perahu adalah metafora untuk tubuh manusia.</p>
125
<p><strong>Baca Juga:<a>Pengertian Majas, Jenis-Jenis, dan Contohnya, Lengkap!</a></strong></p>
125
<p><strong>Baca Juga:<a>Pengertian Majas, Jenis-Jenis, dan Contohnya, Lengkap!</a></strong></p>
126
<ul><li><h4>Irama dan Rima</h4>
126
<ul><li><h4>Irama dan Rima</h4>
127
</li>
127
</li>
128
</ul><p>Syair memiliki rima akhir yang sama dalam setiap bait. Pola rima ini menciptakan irama yang teratur dan musikal, membuat syair enak didengar saat dibacakan.</p>
128
</ul><p>Syair memiliki rima akhir yang sama dalam setiap bait. Pola rima ini menciptakan irama yang teratur dan musikal, membuat syair enak didengar saat dibacakan.</p>
129
<ul><li><h4>Bait dan Baris</h4>
129
<ul><li><h4>Bait dan Baris</h4>
130
</li>
130
</li>
131
</ul><p>Syair tersusun atas bait-bait, dan setiap bait terdiri dari empat baris. Tiap baris biasanya memiliki 8-12 suku kata dan semuanya mengandung isi (tidak ada sampiran).</p>
131
</ul><p>Syair tersusun atas bait-bait, dan setiap bait terdiri dari empat baris. Tiap baris biasanya memiliki 8-12 suku kata dan semuanya mengandung isi (tidak ada sampiran).</p>
132
<ul><li><h4>Tokoh dan Latar</h4>
132
<ul><li><h4>Tokoh dan Latar</h4>
133
</li>
133
</li>
134
</ul><p>Dalam syair yang berbentuk cerita (seperti Syair Bidasari atau Syair Ken Tambuhan), terdapat tokoh, latar tempat, dan waktu. Unsur ini membantu membangun alur cerita dan suasana dalam syair.</p>
134
</ul><p>Dalam syair yang berbentuk cerita (seperti Syair Bidasari atau Syair Ken Tambuhan), terdapat tokoh, latar tempat, dan waktu. Unsur ini membantu membangun alur cerita dan suasana dalam syair.</p>
135
<h3>b. Unsur Ekstrinsik Syair</h3>
135
<h3>b. Unsur Ekstrinsik Syair</h3>
136
<p>Unsur ekstrinsik adalah unsur luar yang mempengaruhi proses penciptaan syair. Unsur ini tidak tampak langsung dalam teks, tetapi sangat mepmengaruhi isi dan maknanya. Unsur ekstrinsik syair di antaranya:</p>
136
<p>Unsur ekstrinsik adalah unsur luar yang mempengaruhi proses penciptaan syair. Unsur ini tidak tampak langsung dalam teks, tetapi sangat mepmengaruhi isi dan maknanya. Unsur ekstrinsik syair di antaranya:</p>
137
<ul><li><h4>Latar Belakang Sosial dan Budaya</h4>
137
<ul><li><h4>Latar Belakang Sosial dan Budaya</h4>
138
</li>
138
</li>
139
</ul><p>Syair mencerminkan kehidupan sosial dan nilai budaya masyarakat Melayu pada zamannya. Misalnya, nilai-nilai sopan santun, keagamaan, dan adat istiadat sangat kental dalam syair lama.</p>
139
</ul><p>Syair mencerminkan kehidupan sosial dan nilai budaya masyarakat Melayu pada zamannya. Misalnya, nilai-nilai sopan santun, keagamaan, dan adat istiadat sangat kental dalam syair lama.</p>
140
<ul><li><h4>Latar Belakang Keagamaan</h4>
140
<ul><li><h4>Latar Belakang Keagamaan</h4>
141
</li>
141
</li>
142
</ul><p>Banyak syair lahir dari pengaruh ajaran Islam yang dibawa oleh para ulama dan penyair sufi. Karena itu, syair sering mengandung pesan moral dan spiritual.</p>
142
</ul><p>Banyak syair lahir dari pengaruh ajaran Islam yang dibawa oleh para ulama dan penyair sufi. Karena itu, syair sering mengandung pesan moral dan spiritual.</p>
143
<ul><li><h4>Latar Belakang Pengarang</h4>
143
<ul><li><h4>Latar Belakang Pengarang</h4>
144
</li>
144
</li>
145
</ul><p>Pandangan hidup, pendidikan, dan pengalaman penyair turut memengaruhi isi syair. Misalnya, Hamzah Fansuri menulis syair dengan nuansa sufistik karena latar belakangnya sebagai ulama sufi.</p>
145
</ul><p>Pandangan hidup, pendidikan, dan pengalaman penyair turut memengaruhi isi syair. Misalnya, Hamzah Fansuri menulis syair dengan nuansa sufistik karena latar belakangnya sebagai ulama sufi.</p>
146
<p>-</p>
146
<p>-</p>
147
<p>Setelah baca artikel ini, apakah kamu jadi paham dan mengenal syair? Saat membaca syair, kamu juga harus memahami maknanya lho karena tiap Syair itu memiliki pesan tertentu. Baik dari syair agama, syair kiasan, dan syair-syair lainnya. Apakah kamu ingin mengenal syair lebih jauh lagi? Belajar di<strong><a>ruangbelajar</a></strong>yuk supaya belajarmu jadi lebih seru!</p>
147
<p>Setelah baca artikel ini, apakah kamu jadi paham dan mengenal syair? Saat membaca syair, kamu juga harus memahami maknanya lho karena tiap Syair itu memiliki pesan tertentu. Baik dari syair agama, syair kiasan, dan syair-syair lainnya. Apakah kamu ingin mengenal syair lebih jauh lagi? Belajar di<strong><a>ruangbelajar</a></strong>yuk supaya belajarmu jadi lebih seru!</p>
148
<p><strong>Referensi:</strong></p>
148
<p><strong>Referensi:</strong></p>
149
<p>Suwandi, Sarwiji, dan Sutarmo. (2008).<em>Bahasa Indonesia 3: Bahasa Kebanggaanku untuk SMP/MTs kelas IX</em>. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.</p>
149
<p>Suwandi, Sarwiji, dan Sutarmo. (2008).<em>Bahasa Indonesia 3: Bahasa Kebanggaanku untuk SMP/MTs kelas IX</em>. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.</p>
150
<p>Contoh Syair Perang Mengkassar [Daring] Tautan: https://id.wikipedia.org/wiki/Syair_Perang_Mengkasar</p>
150
<p>Contoh Syair Perang Mengkassar [Daring] Tautan: https://id.wikipedia.org/wiki/Syair_Perang_Mengkasar</p>
151
<p>Contoh Syair Burung Pungguk [Daring] Tautan: https://www.scribd.com/document/520054322/SYAIR-BURUNG-PUNGGUK</p>
151
<p>Contoh Syair Burung Pungguk [Daring] Tautan: https://www.scribd.com/document/520054322/SYAIR-BURUNG-PUNGGUK</p>
152
<p>Contoh Syair Ken Tambuhan dan Bidari [Daring] Tautan: https://www.scribd.com/document/872980173/2</p>
152
<p>Contoh Syair Ken Tambuhan dan Bidari [Daring] Tautan: https://www.scribd.com/document/872980173/2</p>
153
153