HTML Diff
0 added 0 removed
Original 2026-01-01
Modified 2026-03-08
1 <blockquote><p><em>Terdapat<strong>langkah-langkah penelitian sejarah</strong>yang harus dilakukan agar tujuan dari penelitian tersebut tercapai. Ada apa aja ya? Yuk, simak<strong><a>artikel Sejarah kelas 10</a></strong>ini!</em></p>
1 <blockquote><p><em>Terdapat<strong>langkah-langkah penelitian sejarah</strong>yang harus dilakukan agar tujuan dari penelitian tersebut tercapai. Ada apa aja ya? Yuk, simak<strong><a>artikel Sejarah kelas 10</a></strong>ini!</em></p>
2 </blockquote><p>-</p>
2 </blockquote><p>-</p>
3 <p>Guys, kamu tahu nggak Prasasti Kebon Kopi? Ituloh, yang punya bentuk telapak kaki gajah? Awalnya, nggak diketahui kenapa ada telapak kaki gajah di prasasti tersebut, karena biasanya pada prasasti, yang ada adalah telapak kaki raja atau pemimpin lainnya. </p>
3 <p>Guys, kamu tahu nggak Prasasti Kebon Kopi? Ituloh, yang punya bentuk telapak kaki gajah? Awalnya, nggak diketahui kenapa ada telapak kaki gajah di prasasti tersebut, karena biasanya pada prasasti, yang ada adalah telapak kaki raja atau pemimpin lainnya. </p>
4 <p><em>Prasasti Kebon Kopi</em></p>
4 <p><em>Prasasti Kebon Kopi</em></p>
5 <p>Para ahli pun kemudian melakukan penelitian panjang terhadap prasasti tersebut dengan berbagai metode penelitian sejarah. Akhirnya, mereka mencapai kesimpulan bahwa telapak kaki itu adalah telapak kaki gajah Airavata, yang merupakan kendaraan Dewa Indra. </p>
5 <p>Para ahli pun kemudian melakukan penelitian panjang terhadap prasasti tersebut dengan berbagai metode penelitian sejarah. Akhirnya, mereka mencapai kesimpulan bahwa telapak kaki itu adalah telapak kaki gajah Airavata, yang merupakan kendaraan Dewa Indra. </p>
6 <p>Nah, kamu tau nggak sih, kalau dalam melakukan penelitian sejarah, nggak boleh dilakukan secara asal. Ada langkah-langkah yang perlu kita lakukan. Tapi, sebelum kita bahas tentang langkah-langkah penelitian sejarah, kamu perlu tahu juga nih pengertian dari penelitian sejarah. </p>
6 <p>Nah, kamu tau nggak sih, kalau dalam melakukan penelitian sejarah, nggak boleh dilakukan secara asal. Ada langkah-langkah yang perlu kita lakukan. Tapi, sebelum kita bahas tentang langkah-langkah penelitian sejarah, kamu perlu tahu juga nih pengertian dari penelitian sejarah. </p>
7 <p><strong>Penelitian sejarah</strong><strong>adalah tindakan yang mengkaji dan menelusuri kejadian pada masa lalu</strong>, guys. Tujuan dari penelitian ini untuk memperoleh informasi, pengetahuan, pemahaman, dan makna dari kejadian tersebut. </p>
7 <p><strong>Penelitian sejarah</strong><strong>adalah tindakan yang mengkaji dan menelusuri kejadian pada masa lalu</strong>, guys. Tujuan dari penelitian ini untuk memperoleh informasi, pengetahuan, pemahaman, dan makna dari kejadian tersebut. </p>
8 <p>Nah, pada praktiknya terdapat dua pendapat terkait langkah-langkah penelitian sejarah. </p>
8 <p>Nah, pada praktiknya terdapat dua pendapat terkait langkah-langkah penelitian sejarah. </p>
9 <p>Berdasarkan buku <strong>Mengerti Sejarah</strong>karya<strong>Louis Gottschalk</strong>dan buku<strong>Metodologi Sejarah</strong>karya<strong>Helius Sjamsuddin</strong>, terdapat empat tahapan dalam penelitian sejarah, yaitu<strong>Heuristik</strong>,<strong>Verifikasi</strong>,<strong>Interpretasi</strong>, dan<strong>Historiografi</strong>.</p>
9 <p>Berdasarkan buku <strong>Mengerti Sejarah</strong>karya<strong>Louis Gottschalk</strong>dan buku<strong>Metodologi Sejarah</strong>karya<strong>Helius Sjamsuddin</strong>, terdapat empat tahapan dalam penelitian sejarah, yaitu<strong>Heuristik</strong>,<strong>Verifikasi</strong>,<strong>Interpretasi</strong>, dan<strong>Historiografi</strong>.</p>
10 <p>Sementara, menurut buku<strong>Pengantar Ilmu Sejarah</strong>karya<strong>Kuntowijoyo</strong>, terdapat<strong>5 tahap penelitian sejarah</strong>, yaitu<strong>Penentuan Topik</strong>,<strong>Heuristik</strong>,<strong>Verifikasi</strong>,<strong>Interpretasi</strong>, dan yang terakhir<strong>Historiografi</strong>.</p>
10 <p>Sementara, menurut buku<strong>Pengantar Ilmu Sejarah</strong>karya<strong>Kuntowijoyo</strong>, terdapat<strong>5 tahap penelitian sejarah</strong>, yaitu<strong>Penentuan Topik</strong>,<strong>Heuristik</strong>,<strong>Verifikasi</strong>,<strong>Interpretasi</strong>, dan yang terakhir<strong>Historiografi</strong>.</p>
11 <p>Biar pembahasannya makin lengkap, kakak akan memaparkan yang versi 5 tahapan aja ya, guys. Yuk kita bahas satu per satu!</p>
11 <p>Biar pembahasannya makin lengkap, kakak akan memaparkan yang versi 5 tahapan aja ya, guys. Yuk kita bahas satu per satu!</p>
12 <h2>1. Penentuan Topik</h2>
12 <h2>1. Penentuan Topik</h2>
13 <p>Sebelum melaksanakan penelitian sejarah, peneliti harus menentukan topik yang akan diteliti terlebih dahulu. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan pemilihan topik:</p>
13 <p>Sebelum melaksanakan penelitian sejarah, peneliti harus menentukan topik yang akan diteliti terlebih dahulu. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan pemilihan topik:</p>
14 <h3>a. Unik</h3>
14 <h3>a. Unik</h3>
15 <p>Unik maksudnya adalah, topik yang dipilih sebaiknya<strong>mengundang rasa ingin tahu</strong>dan ketertarikan<strong>bagi para pembaca</strong>.</p>
15 <p>Unik maksudnya adalah, topik yang dipilih sebaiknya<strong>mengundang rasa ingin tahu</strong>dan ketertarikan<strong>bagi para pembaca</strong>.</p>
16 <h3>b. Bernilai</h3>
16 <h3>b. Bernilai</h3>
17 <p>Permasalahan yang diteliti<strong>memiliki arti penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan</strong>dan pada akhirnya berguna bagi masyarakat. </p>
17 <p>Permasalahan yang diteliti<strong>memiliki arti penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan</strong>dan pada akhirnya berguna bagi masyarakat. </p>
18 <h3>c. Kesatuan</h3>
18 <h3>c. Kesatuan</h3>
19 <p>Unsur-unsur yang dijadikan bahan penelitian<strong>mempunyai kesatuan ide</strong>. </p>
19 <p>Unsur-unsur yang dijadikan bahan penelitian<strong>mempunyai kesatuan ide</strong>. </p>
20 <h3>d. Orisinal</h3>
20 <h3>d. Orisinal</h3>
21 <p>Topik yang dipilih merupakan upaya untuk melakukan sebuah<strong>pembuktian baru</strong>atas peristiwa yang sama. </p>
21 <p>Topik yang dipilih merupakan upaya untuk melakukan sebuah<strong>pembuktian baru</strong>atas peristiwa yang sama. </p>
22 <h3>e. Praktis</h3>
22 <h3>e. Praktis</h3>
23 <p>Data yang dibutuhkan<strong>sesuai dengan kemampuan</strong>atau sumber daya yang dimiliki peneliti. </p>
23 <p>Data yang dibutuhkan<strong>sesuai dengan kemampuan</strong>atau sumber daya yang dimiliki peneliti. </p>
24 <h2><strong>2. Heuristik</strong></h2>
24 <h2><strong>2. Heuristik</strong></h2>
25 <p>Pada tahap heuristik, para peneliti sejarah<strong>mencari dan menemukan<a>sumber-sumber sejarah</a>yang dibutuhkan</strong>. Berdasarkan sifatnya, sumber yang bisa digunakan dalam melakukan penelitian sejarah terbagi menjadi dua, yaitu:</p>
25 <p>Pada tahap heuristik, para peneliti sejarah<strong>mencari dan menemukan<a>sumber-sumber sejarah</a>yang dibutuhkan</strong>. Berdasarkan sifatnya, sumber yang bisa digunakan dalam melakukan penelitian sejarah terbagi menjadi dua, yaitu:</p>
26 <h3>a. Sumber Primer</h3>
26 <h3>a. Sumber Primer</h3>
27 <p>Sumber primer adalah data<strong>utama</strong>yang diperoleh langsung dari<strong>pelaku</strong>,<strong>saksi</strong>, maupun<strong>benda sejarah</strong>. Dengan demikian Sumber primer berasal dari kesaksian orang yang mengalami, menyaksikan, dan mendengar sendiri suatu peristiwa sejarah.</p>
27 <p>Sumber primer adalah data<strong>utama</strong>yang diperoleh langsung dari<strong>pelaku</strong>,<strong>saksi</strong>, maupun<strong>benda sejarah</strong>. Dengan demikian Sumber primer berasal dari kesaksian orang yang mengalami, menyaksikan, dan mendengar sendiri suatu peristiwa sejarah.</p>
28 <p>Sumber primer juga bisa berasal dari informasi pada benda sejarah. Fungsi sumber primer dapat dijadikan rujukan utama dalam penelitian sejarah. Contoh sumber primer misalnya naskah, prasasti, artefak, dokumen-dokumen, foto, bangunan, catatan harian, hasil wawancara, video, dll.</p>
28 <p>Sumber primer juga bisa berasal dari informasi pada benda sejarah. Fungsi sumber primer dapat dijadikan rujukan utama dalam penelitian sejarah. Contoh sumber primer misalnya naskah, prasasti, artefak, dokumen-dokumen, foto, bangunan, catatan harian, hasil wawancara, video, dll.</p>
29 <h3>b. Sumber Sekunder</h3>
29 <h3>b. Sumber Sekunder</h3>
30 <p>Sumber sekunder berasal dari pihak yang<strong>bukan pelaku sejarah</strong>, melainkan pihak lain di luar para pelaku sejarah (peneliti misalnya). Benda-benda yang termasuk sumber sekunder antara lain laporan penelitian, ensiklopedia, catatan lapangan peneliti, buku, dll.</p>
30 <p>Sumber sekunder berasal dari pihak yang<strong>bukan pelaku sejarah</strong>, melainkan pihak lain di luar para pelaku sejarah (peneliti misalnya). Benda-benda yang termasuk sumber sekunder antara lain laporan penelitian, ensiklopedia, catatan lapangan peneliti, buku, dll.</p>
31 <p>Misalnya, kamu ingin meneliti satu candi. Kamu harus mencari sumber-sumber sejarah sebanyak-banyaknya tentang candi yang ingin kamu teliti. Tujuannya untuk mengetahui sejarah tentang candi tersebut melalui laporan penelitian ataupun buku.</p>
31 <p>Misalnya, kamu ingin meneliti satu candi. Kamu harus mencari sumber-sumber sejarah sebanyak-banyaknya tentang candi yang ingin kamu teliti. Tujuannya untuk mengetahui sejarah tentang candi tersebut melalui laporan penelitian ataupun buku.</p>
32 <p>Kemudian untuk mendapatkan ukuran, foto, gambar yang dipahat sebagai relief, dan hal-hal lain yang aktual, kamu perlu mendapatkan data primer sehingga kamu harus mengunjungi candi tersebut secara langsung.</p>
32 <p>Kemudian untuk mendapatkan ukuran, foto, gambar yang dipahat sebagai relief, dan hal-hal lain yang aktual, kamu perlu mendapatkan data primer sehingga kamu harus mengunjungi candi tersebut secara langsung.</p>
33 <p>Meski begitu, terdapat beberapa tantangan yang perlu dihadapi dalam mengumpulkan sumber-sumber sejarah, seperti;</p>
33 <p>Meski begitu, terdapat beberapa tantangan yang perlu dihadapi dalam mengumpulkan sumber-sumber sejarah, seperti;</p>
34 <ul><li><strong>Bahasa</strong>: bahasa yang digunakan dalam sumber sejarah bukanlah bahasa yang dipakai saat ini, sehingga sulit dipahami. Misalnya, bahasa Sanskerta atau bahasa Kawi.</li>
34 <ul><li><strong>Bahasa</strong>: bahasa yang digunakan dalam sumber sejarah bukanlah bahasa yang dipakai saat ini, sehingga sulit dipahami. Misalnya, bahasa Sanskerta atau bahasa Kawi.</li>
35 <li><strong>Usia sumber sejarah</strong>: banyak sumber sejarah yang usianya sudah tua, sehingga sangat rapuh jika disentuh/digunakan.</li>
35 <li><strong>Usia sumber sejarah</strong>: banyak sumber sejarah yang usianya sudah tua, sehingga sangat rapuh jika disentuh/digunakan.</li>
36 <li><strong>Akses sumber sejarah</strong>: tidak semua orang bisa mengakses sumber sejarah yang dibutuhkan.</li>
36 <li><strong>Akses sumber sejarah</strong>: tidak semua orang bisa mengakses sumber sejarah yang dibutuhkan.</li>
37 <li><strong>Sulit dipahami</strong>: ada beberapa catatan sejarah yang menggunakan tulisan tangan dan terkadang sulit dipahami.</li>
37 <li><strong>Sulit dipahami</strong>: ada beberapa catatan sejarah yang menggunakan tulisan tangan dan terkadang sulit dipahami.</li>
38 </ul><p><strong>Baca Juga:<a>Jenis-Jenis Sumber Sejarah Berdasarkan Sifat dan Bentuknya</a></strong></p>
38 </ul><p><strong>Baca Juga:<a>Jenis-Jenis Sumber Sejarah Berdasarkan Sifat dan Bentuknya</a></strong></p>
39 <h2><strong>3. Kritik (Verifikasi)</strong></h2>
39 <h2><strong>3. Kritik (Verifikasi)</strong></h2>
40 <p>Setelah melakukan metode penelitian sejarah heuristik, langkah selanjutnya adalah kritik atau disebut juga dengan verifikasi. Ini adalah metode untuk autentikasi (membuktikan sumber sejarah yang bersangkutan adalah asli) dan kredibilitas sumber sejarah.</p>
40 <p>Setelah melakukan metode penelitian sejarah heuristik, langkah selanjutnya adalah kritik atau disebut juga dengan verifikasi. Ini adalah metode untuk autentikasi (membuktikan sumber sejarah yang bersangkutan adalah asli) dan kredibilitas sumber sejarah.</p>
41 <p>Ada dua macam kritik yang dilakukan, yakni:</p>
41 <p>Ada dua macam kritik yang dilakukan, yakni:</p>
42 <h3><strong>a. Kritik Eksternal (Otentisitas)</strong></h3>
42 <h3><strong>a. Kritik Eksternal (Otentisitas)</strong></h3>
43 <p>Kritik eksternal adalah kritik terhadap<strong>keakuratan dan keaslian sumber</strong>, seperti materi sumber sejarah (dokumen dengan tulisannya) dan para pelaku sejarahnya. Aspek yang dikaji adalah waktu (penanggalan), bahan pembuat sumber, dan pembuktian keaslian.</p>
43 <p>Kritik eksternal adalah kritik terhadap<strong>keakuratan dan keaslian sumber</strong>, seperti materi sumber sejarah (dokumen dengan tulisannya) dan para pelaku sejarahnya. Aspek yang dikaji adalah waktu (penanggalan), bahan pembuat sumber, dan pembuktian keaslian.</p>
44 <p>Contohnya, dalam meneliti Kerajaan Tarumanagara, seorang peneliti menemukan sebuah prasasti. Nah, cara melakukan kritik eksternalnya adalah dengan memastikan, apakah prasasti Kebon Kopi yang merupakan peninggalan Kerajaan Tarumanagara asli atau tidak? Sudah berumur berapakah tulisan pada batu prasasti tersebut? Apakah huruf yang ada di sana memang dibuat pada masa Kerajaan Tarumanagara berdiri ataukah baru dibuat? Apa bahan yang digunakan dalam pembuatan prasasti tersebut? Seperti itulah cara melakukan kritik eksternal mengacu pada bentuk fisik dari sumber sejarah.</p>
44 <p>Contohnya, dalam meneliti Kerajaan Tarumanagara, seorang peneliti menemukan sebuah prasasti. Nah, cara melakukan kritik eksternalnya adalah dengan memastikan, apakah prasasti Kebon Kopi yang merupakan peninggalan Kerajaan Tarumanagara asli atau tidak? Sudah berumur berapakah tulisan pada batu prasasti tersebut? Apakah huruf yang ada di sana memang dibuat pada masa Kerajaan Tarumanagara berdiri ataukah baru dibuat? Apa bahan yang digunakan dalam pembuatan prasasti tersebut? Seperti itulah cara melakukan kritik eksternal mengacu pada bentuk fisik dari sumber sejarah.</p>
45 <h3>b. Kritik Internal (Kredibilitas)</h3>
45 <h3>b. Kritik Internal (Kredibilitas)</h3>
46 <p>Kritik internal adalah kritik terhadap <strong>kredibilitas sumber</strong>. Hal yang diverifikasi adalah, apakah isi informasi tersebut dapat dipercaya atau tidak. Dengan kata lain, yang diuji adalah<strong>kredibilitas</strong>dari sumber sejarah tersebut.</p>
46 <p>Kritik internal adalah kritik terhadap <strong>kredibilitas sumber</strong>. Hal yang diverifikasi adalah, apakah isi informasi tersebut dapat dipercaya atau tidak. Dengan kata lain, yang diuji adalah<strong>kredibilitas</strong>dari sumber sejarah tersebut.</p>
47 <p>Dalam hal ini, seorang peneliti harus bersikap objektif dan netral dalam menggunakan data yang telah diperoleh, sehingga peristiwa sejarah itu terjamin kebenarannya.</p>
47 <p>Dalam hal ini, seorang peneliti harus bersikap objektif dan netral dalam menggunakan data yang telah diperoleh, sehingga peristiwa sejarah itu terjamin kebenarannya.</p>
48 <p>Contohnya, masih tentang meneliti prasasti Kerajaan Tarumanagara. Anggap ternyata prasasti yang ditemukan adalah prasasti asli, selanjutnya, dalam kritik internal, peneliti harus memastikan, apakah isi yang terkandung di prasasti tersebut? Lalu bagaimana jika dibandingkan dengan isi prasasti atau sumber sejarah lainnya, apakah sejalan atau bertolak belakang? Seperti itulah cara melakukan kritik internal mengacu pada informasi yang terdapat dalam sumber sejarah tersebut.</p>
48 <p>Contohnya, masih tentang meneliti prasasti Kerajaan Tarumanagara. Anggap ternyata prasasti yang ditemukan adalah prasasti asli, selanjutnya, dalam kritik internal, peneliti harus memastikan, apakah isi yang terkandung di prasasti tersebut? Lalu bagaimana jika dibandingkan dengan isi prasasti atau sumber sejarah lainnya, apakah sejalan atau bertolak belakang? Seperti itulah cara melakukan kritik internal mengacu pada informasi yang terdapat dalam sumber sejarah tersebut.</p>
49 <h2><strong>4. Interpretasi (Eksplanasi)</strong></h2>
49 <h2><strong>4. Interpretasi (Eksplanasi)</strong></h2>
50 <p>Metode penelitian sejarah yang ketiga adalah interpretasi. Di sini, peneliti melakukan penafsiran akan makna atas fakta-fakta yang ada, serta hubungan antara berbagai fakta yang harus dilandasi oleh sikap objektif. Kalaupun membutuhkan sikap subjektif, haruslah subjektif rasional. </p>
50 <p>Metode penelitian sejarah yang ketiga adalah interpretasi. Di sini, peneliti melakukan penafsiran akan makna atas fakta-fakta yang ada, serta hubungan antara berbagai fakta yang harus dilandasi oleh sikap objektif. Kalaupun membutuhkan sikap subjektif, haruslah subjektif rasional. </p>
51 <p>Rekonstruksi peristiwa sejarah disampaikan secara deskriptif dan harus menghasilkan sejarah yang benar atau mendekati kebenaran. Ada dua cara melakukan interpretasi, yaitu analisis (menguraikan) dan sintesis (menyatukan).</p>
51 <p>Rekonstruksi peristiwa sejarah disampaikan secara deskriptif dan harus menghasilkan sejarah yang benar atau mendekati kebenaran. Ada dua cara melakukan interpretasi, yaitu analisis (menguraikan) dan sintesis (menyatukan).</p>
52 <p>Pada metode ketiga ini, peneliti dituntut untuk <strong>berimajinasi yang terbatas</strong>. Terbatas di sini maksudnya<strong>fakta-fakta sejarah</strong>yang ada tidak boleh menyimpang. Selain itu, peneliti harus sangat berhati-hati karena di sini sangat rentan bagi peneliti untuk memasukkan sisi subjektifnya.</p>
52 <p>Pada metode ketiga ini, peneliti dituntut untuk <strong>berimajinasi yang terbatas</strong>. Terbatas di sini maksudnya<strong>fakta-fakta sejarah</strong>yang ada tidak boleh menyimpang. Selain itu, peneliti harus sangat berhati-hati karena di sini sangat rentan bagi peneliti untuk memasukkan sisi subjektifnya.</p>
53 <p>Nah, setelah peneliti melakukan interpretasi, hasilnya kemudian diuji dan dianalisis sekali lagi, sampai akhirnya peneliti siap menyampaikan hasil penelitiannya secara tertulis. Jadi, pada tahap akhir interpretasi, peneliti sudah mempunyai konstruksi atau sudut pandang sendiri tentang topik yang diteliti.</p>
53 <p>Nah, setelah peneliti melakukan interpretasi, hasilnya kemudian diuji dan dianalisis sekali lagi, sampai akhirnya peneliti siap menyampaikan hasil penelitiannya secara tertulis. Jadi, pada tahap akhir interpretasi, peneliti sudah mempunyai konstruksi atau sudut pandang sendiri tentang topik yang diteliti.</p>
54 <h2><strong>5. Historiografi (Penulisan Sejarah)</strong></h2>
54 <h2><strong>5. Historiografi (Penulisan Sejarah)</strong></h2>
55 <p>Langkah penelitian sejarah yang terakhir adalah historiografi atau penulisan sejarah. Penulisan sejarah merupakan upaya peneliti dalam melakukan rekonstruksi sumber-sumber yang telah ditemukan, diseleksi, dan dikritisi. Pada tahap ini, peneliti perlu memperhatikan beberapa kaidah penulisan, seperti;</p>
55 <p>Langkah penelitian sejarah yang terakhir adalah historiografi atau penulisan sejarah. Penulisan sejarah merupakan upaya peneliti dalam melakukan rekonstruksi sumber-sumber yang telah ditemukan, diseleksi, dan dikritisi. Pada tahap ini, peneliti perlu memperhatikan beberapa kaidah penulisan, seperti;</p>
56 <ul><li>Bahasa dan format penulisan yang digunakan harus baik dan benar menurut tata bahasa.</li>
56 <ul><li>Bahasa dan format penulisan yang digunakan harus baik dan benar menurut tata bahasa.</li>
57 <li>Memperhatikan konsistensi, misalnya penggunaan tanda baca, penggunaan istilah, dan rujukan sumber.</li>
57 <li>Memperhatikan konsistensi, misalnya penggunaan tanda baca, penggunaan istilah, dan rujukan sumber.</li>
58 <li>Istilah dan kata-kata tertentu harus digunakan sesuai konteks permasalahannya.</li>
58 <li>Istilah dan kata-kata tertentu harus digunakan sesuai konteks permasalahannya.</li>
59 </ul><p><strong>Baca Juga: <a>Memahami 4 Jenis Historiografi dalam Sejarah</a></strong></p>
59 </ul><p><strong>Baca Juga: <a>Memahami 4 Jenis Historiografi dalam Sejarah</a></strong></p>
60 <p>-</p>
60 <p>-</p>
61 <p>Itu dia, guys, langkah-langkah penelitian sejarah yang harus dilakukan berurutan. Jangan terbalik-balik, ya. Kalau kamu masih ragu dalam melakukan metode-metode di atas, kamu bisa tanyakan ke guru les kamu melalui<a><strong>Ruangguru Privat Sejarah</strong></a>. </p>
61 <p>Itu dia, guys, langkah-langkah penelitian sejarah yang harus dilakukan berurutan. Jangan terbalik-balik, ya. Kalau kamu masih ragu dalam melakukan metode-metode di atas, kamu bisa tanyakan ke guru les kamu melalui<a><strong>Ruangguru Privat Sejarah</strong></a>. </p>
62 <p>Sebab, di Ruangguru Privat, para pengajarnya sudah terstandarisasi kualitasnya, loh. Kamu juga bisa pilih nih, mau diajarkan secara langsung (<em>offline</em>) atau daring (<em>online</em>). Fleksibel, kan? Untuk info lebih lanjut, cuss klik link berikut!</p>
62 <p>Sebab, di Ruangguru Privat, para pengajarnya sudah terstandarisasi kualitasnya, loh. Kamu juga bisa pilih nih, mau diajarkan secara langsung (<em>offline</em>) atau daring (<em>online</em>). Fleksibel, kan? Untuk info lebih lanjut, cuss klik link berikut!</p>
63 <p><strong>Referensi:</strong></p>
63 <p><strong>Referensi:</strong></p>
64 <p>Hapsari, Ratna. (2017). Sejarah untuk SMA/MA Kelas X Kelompok Peminatan. Jakarta: Penerbit Erlangga. </p>
64 <p>Hapsari, Ratna. (2017). Sejarah untuk SMA/MA Kelas X Kelompok Peminatan. Jakarta: Penerbit Erlangga. </p>
65 <p>Supriyadi, Marwan. (2009) Sejarah Indonesia Kelas X Untuk SMA/MA. KTSP. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.</p>
65 <p>Supriyadi, Marwan. (2009) Sejarah Indonesia Kelas X Untuk SMA/MA. KTSP. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.</p>
66 <p><strong>Sumber Foto:</strong></p>
66 <p><strong>Sumber Foto:</strong></p>
67 <p>Foto Prasasti Kebon Kopi. [daring]. Tautan: https://moeseum.blogspot.com/2019/04/prasasti-kebon-kopi-jawa-barat.html (Diakses: 25 April 2018)</p>
67 <p>Foto Prasasti Kebon Kopi. [daring]. Tautan: https://moeseum.blogspot.com/2019/04/prasasti-kebon-kopi-jawa-barat.html (Diakses: 25 April 2018)</p>
68 <p><em><strong>Artikel ini diperbarui oleh<a>Laras Sekar Seruni</a>.</strong></em></p>
68 <p><em><strong>Artikel ini diperbarui oleh<a>Laras Sekar Seruni</a>.</strong></em></p>
69  
69