HTML Diff
0 added 0 removed
Original 2026-01-01
Modified 2026-03-08
1 <blockquote><p><em>Yuk, lihat bentuk perjuangan dua adik RA. Kartini, yaitu RA. Kardinah dan RA. Roekmini dalam memperjuangkan hak dan martabat perempuan Indonesia.</em></p>
1 <blockquote><p><em>Yuk, lihat bentuk perjuangan dua adik RA. Kartini, yaitu RA. Kardinah dan RA. Roekmini dalam memperjuangkan hak dan martabat perempuan Indonesia.</em></p>
2 </blockquote><p><em>-</em>-</p>
2 </blockquote><p><em>-</em>-</p>
3 <p>Siapa tokoh yang kamu bayangkan ketika mendengar “Pahlawan Perempuan Indonesia”? RA. Kartini? Dewi Sartika? Atau Martha Christina Tiahahu? Oke, itu memang<i>nggak</i>salah, tapi ternyata banyak lagi yang perlu dieksplor dari kata kunci “Pahlawan Perempuan Indonesia”.</p>
3 <p>Siapa tokoh yang kamu bayangkan ketika mendengar “Pahlawan Perempuan Indonesia”? RA. Kartini? Dewi Sartika? Atau Martha Christina Tiahahu? Oke, itu memang<i>nggak</i>salah, tapi ternyata banyak lagi yang perlu dieksplor dari kata kunci “Pahlawan Perempuan Indonesia”.</p>
4 <p>Selama ini, kita mungkin hanya mengenal sosok Kartini sebagai pahlawan dari Jepara yang memperjuangkan emansipasi perempuan Indonesia. Tapi, apakah kalian<i>udah</i>tahu kalau Kartini<i>nggak</i>memperjuangkan itu seorang diri? Untuk mencapai cita-citanya menaikan derajat perempuan Indonesia, khususnya di tanah Jawa, Kartini mencoba untuk menggebrak dunia baru bersama dua saudaranya. Siapakah saja mereka?</p>
4 <p>Selama ini, kita mungkin hanya mengenal sosok Kartini sebagai pahlawan dari Jepara yang memperjuangkan emansipasi perempuan Indonesia. Tapi, apakah kalian<i>udah</i>tahu kalau Kartini<i>nggak</i>memperjuangkan itu seorang diri? Untuk mencapai cita-citanya menaikan derajat perempuan Indonesia, khususnya di tanah Jawa, Kartini mencoba untuk menggebrak dunia baru bersama dua saudaranya. Siapakah saja mereka?</p>
5 <p>Potret Kartini, Kardinah, dan Roekmini (sumber: itjeher.com)</p>
5 <p>Potret Kartini, Kardinah, dan Roekmini (sumber: itjeher.com)</p>
6 <p>Mereka adalah RA. Kardinah dan RA. Roekmini.<i>Yup</i>, dua perempuan ini adalah adik perempuan dari<a>Kartini</a>. Saking kompaknya mereka bertiga, sampai mendapat julukan “Daun Semanggi” atau<i>“Het Klaverblad”</i>dalam bahasa Belanda,<i>lho</i>.<i>Yuk</i>, kenali lebih dalam dua sosok ini.</p>
6 <p>Mereka adalah RA. Kardinah dan RA. Roekmini.<i>Yup</i>, dua perempuan ini adalah adik perempuan dari<a>Kartini</a>. Saking kompaknya mereka bertiga, sampai mendapat julukan “Daun Semanggi” atau<i>“Het Klaverblad”</i>dalam bahasa Belanda,<i>lho</i>.<i>Yuk</i>, kenali lebih dalam dua sosok ini.</p>
7 <h2>RA. Kardinah</h2>
7 <h2>RA. Kardinah</h2>
8 <p>Kayaknya nama Bu Kardinah<em>nggak</em>asing<em>deh</em>.<em>Bener banget</em>! Itu karena nama beliau dijadikan nama sebuah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Tegal. Berbeda dengan kakaknya, Kardinah lebih memusatkan perjuangannya di kota Tegal daripada Jepara.<i>Lho? Lho?</i>Kok tiba-tiba pindah ke Tegal?</p>
8 <p>Kayaknya nama Bu Kardinah<em>nggak</em>asing<em>deh</em>.<em>Bener banget</em>! Itu karena nama beliau dijadikan nama sebuah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Tegal. Berbeda dengan kakaknya, Kardinah lebih memusatkan perjuangannya di kota Tegal daripada Jepara.<i>Lho? Lho?</i>Kok tiba-tiba pindah ke Tegal?</p>
9 <p>Jadi<i>gini</i>, teman-teman. Setelah menikah dengan Bupati Tegal, Ario Reksonegoro X, Kardinah pun harus mengikuti suaminya pindah.<i>Nah</i>, di sana ia mendirikan sebuah sekolah untuk masyarakat pribumi.</p>
9 <p>Jadi<i>gini</i>, teman-teman. Setelah menikah dengan Bupati Tegal, Ario Reksonegoro X, Kardinah pun harus mengikuti suaminya pindah.<i>Nah</i>, di sana ia mendirikan sebuah sekolah untuk masyarakat pribumi.</p>
10 <p>Hal ini karena Kardinah<i>nggak</i>puas<i>tuh</i>dengan pemerintah Belanda yang membatasi pendidikan kaum pribumi.<i>Fyi</i>, saat itu cuma kalangan atas, terutama laki-laki, yang boleh bersekolah tinggi<i>lho</i>.</p>
10 <p>Hal ini karena Kardinah<i>nggak</i>puas<i>tuh</i>dengan pemerintah Belanda yang membatasi pendidikan kaum pribumi.<i>Fyi</i>, saat itu cuma kalangan atas, terutama laki-laki, yang boleh bersekolah tinggi<i>lho</i>.</p>
11 <p>Sekolah yang didirikan Kardinah tepat pada ulang tahunnya yang ke-35 (1 Maret 1916) ini bernama “Sekolah Kepandaian Putri Wisma Pranowo”, Kurang lebih<i>sih</i>sistem pengajarannya sama dengan Sekolah Kartini, yaitu sekolah keterampilan perempuan untuk menjadi istri atau ibu yang mapan.</p>
11 <p>Sekolah yang didirikan Kardinah tepat pada ulang tahunnya yang ke-35 (1 Maret 1916) ini bernama “Sekolah Kepandaian Putri Wisma Pranowo”, Kurang lebih<i>sih</i>sistem pengajarannya sama dengan Sekolah Kartini, yaitu sekolah keterampilan perempuan untuk menjadi istri atau ibu yang mapan.</p>
12 <p>Dan, dan, dan, satu yang unik dari sekolah ini adalah karena Kardinah membangunnya dari uang royalti penjualan buku dan ditambah beberapa sumbangan lain. Menurut artikel di tirto.id, buku yang ditulis Kardinah adalah buku masakan dan seni membatik, sebanyak masing-masing 2 judul.</p>
12 <p>Dan, dan, dan, satu yang unik dari sekolah ini adalah karena Kardinah membangunnya dari uang royalti penjualan buku dan ditambah beberapa sumbangan lain. Menurut artikel di tirto.id, buku yang ditulis Kardinah adalah buku masakan dan seni membatik, sebanyak masing-masing 2 judul.</p>
13 <p><strong>Baca Juga:<a>Laksamana Malahayati, Srikandi dari Tanah Rencong</a></strong></p>
13 <p><strong>Baca Juga:<a>Laksamana Malahayati, Srikandi dari Tanah Rencong</a></strong></p>
14 <p>Selanjutnya, Kardinah bersama kakak laki-lakinya, Sosrokartono, mendirikan sebuah perpustakaan dari dana swadaya bernama “Panti Sastra”. Sama seperti ketika membangun sekolah, tujuan mulia Kardinah ini dimaksudkan agar siapa saja bisa mencicipi pendidikan, terutama bagi masyarakat kelas bawah. Dan hebatnya lagi<i>nih</i>, perpustakaan ini<i>nggak</i>dibangun dengan pembiayaan Pemerintah Belanda<i>lho</i>, teman-teman.</p>
14 <p>Selanjutnya, Kardinah bersama kakak laki-lakinya, Sosrokartono, mendirikan sebuah perpustakaan dari dana swadaya bernama “Panti Sastra”. Sama seperti ketika membangun sekolah, tujuan mulia Kardinah ini dimaksudkan agar siapa saja bisa mencicipi pendidikan, terutama bagi masyarakat kelas bawah. Dan hebatnya lagi<i>nih</i>, perpustakaan ini<i>nggak</i>dibangun dengan pembiayaan Pemerintah Belanda<i>lho</i>, teman-teman.</p>
15 <p>Kemulian beliau<i>nggak</i>cuma itu. Seperti yang disinggung di awal kalau nama Kardinah dijadikan nama sebuah RSUD di Tegal. Jadi, pada tahun 1927, Kardinah mendirikan sebuah rumah sakit yang dinamakan Kardinah<i>Ziekenhuis</i>atau Rumah Sakit Kardinah.</p>
15 <p>Kemulian beliau<i>nggak</i>cuma itu. Seperti yang disinggung di awal kalau nama Kardinah dijadikan nama sebuah RSUD di Tegal. Jadi, pada tahun 1927, Kardinah mendirikan sebuah rumah sakit yang dinamakan Kardinah<i>Ziekenhuis</i>atau Rumah Sakit Kardinah.</p>
16 <p>Latar belakang pendirian rumah sakit itu karena rasa simpatinya pada kesehatan masyarakat miskin di Tegal, Dana pembangunan rumah sakit ini pun dari royalti penjualan buku-bukunya dan ditambah dari hasil penjualan kerajinan tangan murid-murid Wisma Pranowo.</p>
16 <p>Latar belakang pendirian rumah sakit itu karena rasa simpatinya pada kesehatan masyarakat miskin di Tegal, Dana pembangunan rumah sakit ini pun dari royalti penjualan buku-bukunya dan ditambah dari hasil penjualan kerajinan tangan murid-murid Wisma Pranowo.</p>
17 <p>Mulia banget<i>ya</i>Ibu Kardinah.</p>
17 <p>Mulia banget<i>ya</i>Ibu Kardinah.</p>
18 <h2>RA. Roekmini</h2>
18 <h2>RA. Roekmini</h2>
19 <p><i>Nah</i>, teman-teman. Mungkin cerita perjuangan Roekmini agak berbeda dari dua saudaranya<i>nih</i>. Dibanding dengan Kartini dan Kardinah, perempuan yang lahir pada 4 Juli 1880 ini memiliki pribadi yang lebih maskulin.</p>
19 <p><i>Nah</i>, teman-teman. Mungkin cerita perjuangan Roekmini agak berbeda dari dua saudaranya<i>nih</i>. Dibanding dengan Kartini dan Kardinah, perempuan yang lahir pada 4 Juli 1880 ini memiliki pribadi yang lebih maskulin.</p>
20 <p>Karenanya, Roekmini adalah satu-satunya di antara ketiga bersaudara itu yang menikah tanpa lewat perjodohan, padahal mereka bertiga sama-sama menentang sistem feudal dan konservatif masyarakat Jawa.</p>
20 <p>Karenanya, Roekmini adalah satu-satunya di antara ketiga bersaudara itu yang menikah tanpa lewat perjodohan, padahal mereka bertiga sama-sama menentang sistem feudal dan konservatif masyarakat Jawa.</p>
21 <p>Karena hobinya adalah membuat<a>kerajinan kayu dan melukis</a>, akhirnya Roekmini membuka sebuah sekolah vokasional atau kejuruan.<i>Nah</i>, ini juga yang membuatnya beda dari dua saudaranya, pola pengajaran Roekmini lebih ke arah praktikal daripada ideal.</p>
21 <p>Karena hobinya adalah membuat<a>kerajinan kayu dan melukis</a>, akhirnya Roekmini membuka sebuah sekolah vokasional atau kejuruan.<i>Nah</i>, ini juga yang membuatnya beda dari dua saudaranya, pola pengajaran Roekmini lebih ke arah praktikal daripada ideal.</p>
22 <p>Kalau Kardinah membangun masyarakat dengan fasilitas-fasilitas, Roekmini lebih memilih di jalur organisasi.<i>Yup</i>, adik tiri Kartini ini sangat aktif di organisasi dan komunitas yang memperjuangkan hak para perempuan.</p>
22 <p>Kalau Kardinah membangun masyarakat dengan fasilitas-fasilitas, Roekmini lebih memilih di jalur organisasi.<i>Yup</i>, adik tiri Kartini ini sangat aktif di organisasi dan komunitas yang memperjuangkan hak para perempuan.</p>
23 <p>Ia pernah bergabung dengan organisasi pejuang hak pilih perempuan Eropa bernama<i>Vereeniging voor Vrouwenkiesrecht</i>(VVV).<i>Nggak</i>cuma sebagai anggota biasa, Roekmini bahkan masuk sebagai badan eksekutif sejak Juli 1927 - pertengahan 1931.</p>
23 <p>Ia pernah bergabung dengan organisasi pejuang hak pilih perempuan Eropa bernama<i>Vereeniging voor Vrouwenkiesrecht</i>(VVV).<i>Nggak</i>cuma sebagai anggota biasa, Roekmini bahkan masuk sebagai badan eksekutif sejak Juli 1927 - pertengahan 1931.</p>
24 <p>Roekmini turut berkontribusi dalam beberapa misi, di antaranya adalah pengajuan proposal pendirian cabang VVV di Kudus pada tahun 1928. Dengan menggunakan nama dari bahasa Jawa “<i>Mardi Kamoeljan</i>” untuk cabang di Kudus, Roekmini berharap perempuan lokal bisa semaju perempuan Eropa.</p>
24 <p>Roekmini turut berkontribusi dalam beberapa misi, di antaranya adalah pengajuan proposal pendirian cabang VVV di Kudus pada tahun 1928. Dengan menggunakan nama dari bahasa Jawa “<i>Mardi Kamoeljan</i>” untuk cabang di Kudus, Roekmini berharap perempuan lokal bisa semaju perempuan Eropa.</p>
25 <p>Cabang ini berada di bawah bimbingan dokter lokal, bidan, dan perkumpulan istri pejabat, jadi diharapkan nantinya penduduk lokal bisa lebih siap dalam kesehatan, pertolongan pertama, dan perawatan anak.</p>
25 <p>Cabang ini berada di bawah bimbingan dokter lokal, bidan, dan perkumpulan istri pejabat, jadi diharapkan nantinya penduduk lokal bisa lebih siap dalam kesehatan, pertolongan pertama, dan perawatan anak.</p>
26 <p>Di tahun yang sama pula, Roekmini bergabung dalam Kongres Perempuan Indonesia di Yogyakarta pada bulan Desember. Bahkan di Kongres Perempuan Indonesia II, ia dipilih menjadi perwakilan Indonesia untuk Kongres Perempuan se-Asia di Lahore, Pakistan bersama Sunaryati Sukemi pada Januari 1931.</p>
26 <p>Di tahun yang sama pula, Roekmini bergabung dalam Kongres Perempuan Indonesia di Yogyakarta pada bulan Desember. Bahkan di Kongres Perempuan Indonesia II, ia dipilih menjadi perwakilan Indonesia untuk Kongres Perempuan se-Asia di Lahore, Pakistan bersama Sunaryati Sukemi pada Januari 1931.</p>
27 <p><i>Wah</i>, hebat ya! Ternyata Bu Roekmini adalah salah satu delegasi perempuan Indonesia pertama di pergerakan internasional.</p>
27 <p><i>Wah</i>, hebat ya! Ternyata Bu Roekmini adalah salah satu delegasi perempuan Indonesia pertama di pergerakan internasional.</p>
28 <p>Tentunya semua prestasi Kardinah dan Roekmini<i>nggak</i>diraih dengan gampang. Banyak rintangan-rintangan yang mereka lalui, seperti ketika ayah mereka meninggal di tahun 1905 dan membuat keluarga Adipati Ario Sosroningrat harus kehilangan pengakuan publik.</p>
28 <p>Tentunya semua prestasi Kardinah dan Roekmini<i>nggak</i>diraih dengan gampang. Banyak rintangan-rintangan yang mereka lalui, seperti ketika ayah mereka meninggal di tahun 1905 dan membuat keluarga Adipati Ario Sosroningrat harus kehilangan pengakuan publik.</p>
29 <p>Tapi kenapa mereka tetap berhasil? Kuncinya adalah karena mereka<i>nggak</i>berhenti mencoba dan bekerja keras.</p>
29 <p>Tapi kenapa mereka tetap berhasil? Kuncinya adalah karena mereka<i>nggak</i>berhenti mencoba dan bekerja keras.</p>
30 <p>Kamu juga harus seperti itu<i>dong</i>!<i>Nggak</i>peduli kamu<i>cewek</i>atau<i>cowok</i>, sebagai anak kebanggaan bangsa Indonesia pastinya harus berjuang demi kemajuan negara ini. Salah satu bentuk perjuangan yang paling mudah adalah dengan belajar.</p>
30 <p>Kamu juga harus seperti itu<i>dong</i>!<i>Nggak</i>peduli kamu<i>cewek</i>atau<i>cowok</i>, sebagai anak kebanggaan bangsa Indonesia pastinya harus berjuang demi kemajuan negara ini. Salah satu bentuk perjuangan yang paling mudah adalah dengan belajar.</p>
31 <p><i>Nah</i>, apalagi zaman sekarang<i>udah</i>jauh lebih mudah. Cari bimbel,<i>nggak</i>perlu lagi tuh yang mahal dan jauh dari rumah. Dengan<a>ruangbelajar</a>, kamu bisa lebih mudah memahami materi pelajaran dengan video animasi yang keren dari mana saja dan kapan saja.</p>
31 <p><i>Nah</i>, apalagi zaman sekarang<i>udah</i>jauh lebih mudah. Cari bimbel,<i>nggak</i>perlu lagi tuh yang mahal dan jauh dari rumah. Dengan<a>ruangbelajar</a>, kamu bisa lebih mudah memahami materi pelajaran dengan video animasi yang keren dari mana saja dan kapan saja.</p>
32 <p>Referensi:</p>
32 <p>Referensi:</p>
33 <p>Matanasi, P. (2017) ‘Kardinah, Adik Kartini yang Jadi Korban Revolusi Sosial’ [Daring]. Tautan: https://tirto.id/kardinah-adik-kartini-yang-jadi-korban-revolusi-sosial-cnjQ (Diakses pada: 21 April 2021)</p>
33 <p>Matanasi, P. (2017) ‘Kardinah, Adik Kartini yang Jadi Korban Revolusi Sosial’ [Daring]. Tautan: https://tirto.id/kardinah-adik-kartini-yang-jadi-korban-revolusi-sosial-cnjQ (Diakses pada: 21 April 2021)</p>
34 <p><em>Artikel terakhir diperbarui pada 21 April 2025.</em></p>
34 <p><em>Artikel terakhir diperbarui pada 21 April 2025.</em></p>
35  
35