0 added
0 removed
Original
2026-01-01
Modified
2026-03-08
1
<blockquote><p><em>Konflik dan Kekerasan merupakan fenomena sosial yang bisa terjadi pada manusia. Nah di artikel sosiologi kali ini, kita akan membahas tentang teori kekerasan sosial. Yuk kita belajar!</em></p>
1
<blockquote><p><em>Konflik dan Kekerasan merupakan fenomena sosial yang bisa terjadi pada manusia. Nah di artikel sosiologi kali ini, kita akan membahas tentang teori kekerasan sosial. Yuk kita belajar!</em></p>
2
<p><em>-</em></p>
2
<p><em>-</em></p>
3
</blockquote><p>Ketika mendengar tentang kata “konflik dan kekerasan sosial” apa yang ada dipikiranmu?<a>Dalam Sosiologi</a>, bahasan tentang konflik ini tak pernah selesai dibahas. Kita tentu tau, masyarakat gak selalu dalam keadaan harmonis. Sedih ya? Menurutmu apakah konflik itu sangat buruk dan seharusnya tidak pernah terjadi? Jika begitu, mungkin inilah waktu yang tepat buat kita mempelajari konflik secara sosiologis. </p>
3
</blockquote><p>Ketika mendengar tentang kata “konflik dan kekerasan sosial” apa yang ada dipikiranmu?<a>Dalam Sosiologi</a>, bahasan tentang konflik ini tak pernah selesai dibahas. Kita tentu tau, masyarakat gak selalu dalam keadaan harmonis. Sedih ya? Menurutmu apakah konflik itu sangat buruk dan seharusnya tidak pernah terjadi? Jika begitu, mungkin inilah waktu yang tepat buat kita mempelajari konflik secara sosiologis. </p>
4
<p>Seperti yang sudah kita sering lihat di media maupun kehidupan nyata, kekerasan adalah bentuk lanjutan dari konflik sosial. Dalam kehidupan sehari-hari, kekerasan identik dengan tindakan melukai orang lain dengan sengaja. Kekerasan seperti ini disebut juga dengan kekerasan langsung. </p>
4
<p>Seperti yang sudah kita sering lihat di media maupun kehidupan nyata, kekerasan adalah bentuk lanjutan dari konflik sosial. Dalam kehidupan sehari-hari, kekerasan identik dengan tindakan melukai orang lain dengan sengaja. Kekerasan seperti ini disebut juga dengan kekerasan langsung. </p>
5
<p>Baca juga:<a>Mengenal Macam-Macam Teori Ketimpangan Sosial</a></p>
5
<p>Baca juga:<a>Mengenal Macam-Macam Teori Ketimpangan Sosial</a></p>
6
<h2><strong>Definisi Konflik dan Kekerasan Sosial</strong></h2>
6
<h2><strong>Definisi Konflik dan Kekerasan Sosial</strong></h2>
7
<p>Apa itu konflik sosial? Secara etimologi atau dari asal katanya, konflik berasal dari bahasa Latin, yaitu<em>configere</em>, yang artinya saling memukul. Tapi kesimpulannya, konflik nggak cuma pukul-pukulan, ya<em>guys!</em>Saling memukul tersebut merupakan ungkapan dari pertentangan atau perselisihan antar pihak-pihak yang berlawanan. Makanya, secara sosiologis, konflik sosial adalah<strong>pertentangan yang masing-masing pihak di dalamnya berupaya untuk saling menyingkirkan. </strong></p>
7
<p>Apa itu konflik sosial? Secara etimologi atau dari asal katanya, konflik berasal dari bahasa Latin, yaitu<em>configere</em>, yang artinya saling memukul. Tapi kesimpulannya, konflik nggak cuma pukul-pukulan, ya<em>guys!</em>Saling memukul tersebut merupakan ungkapan dari pertentangan atau perselisihan antar pihak-pihak yang berlawanan. Makanya, secara sosiologis, konflik sosial adalah<strong>pertentangan yang masing-masing pihak di dalamnya berupaya untuk saling menyingkirkan. </strong></p>
8
<p>Nah, sekarang kita bahas tentang kekerasannya. Konflik sosial yang terus larut tanpa solusi, akan menimbulkan keadaan baru yakni kekerasan. Secara definisi,<strong>kekerasan adalah perbuatan seseorang atau sekelompok orang yang menyebabkan cedera atau hilangnya nyawa seseorang</strong>atau dapat menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain. </p>
8
<p>Nah, sekarang kita bahas tentang kekerasannya. Konflik sosial yang terus larut tanpa solusi, akan menimbulkan keadaan baru yakni kekerasan. Secara definisi,<strong>kekerasan adalah perbuatan seseorang atau sekelompok orang yang menyebabkan cedera atau hilangnya nyawa seseorang</strong>atau dapat menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain. </p>
9
<p><em>Buntut dari konflik yang tidak terselesaikan yakni terjadinya kekerasan (Sumber: Brilio)</em></p>
9
<p><em>Buntut dari konflik yang tidak terselesaikan yakni terjadinya kekerasan (Sumber: Brilio)</em></p>
10
<p>Kamu tau ngga, kekerasan itu ternyata nggak hanya dalam tindakan menyakiti fisik orang lain<em>lho</em>, tapi juga meliputi tindakan-tindakan seperti mengekang, mengurangi atau meniadakan hak seseorang, mengintimidasi, memfitnah, dan meneror orang lain. Jenis kekerasan ini disebut juga dengan kekerasan tidak langsung.</p>
10
<p>Kamu tau ngga, kekerasan itu ternyata nggak hanya dalam tindakan menyakiti fisik orang lain<em>lho</em>, tapi juga meliputi tindakan-tindakan seperti mengekang, mengurangi atau meniadakan hak seseorang, mengintimidasi, memfitnah, dan meneror orang lain. Jenis kekerasan ini disebut juga dengan kekerasan tidak langsung.</p>
11
<p>Secara sosiologis, kekerasan di lingkup sosial mungkin saja terjadi karena adanya pengabaian norma dan nilai sosial yang berlaku di masyarakat tersebut oleh individu atau suatu kelompok. Melihat perlunya penjelasan ilmiah mengenai kekerasan di masyarakat, beberapa ahli mencetuskan teori mengenai proses terbentuknya kekerasan sosial di masyarakat.</p>
11
<p>Secara sosiologis, kekerasan di lingkup sosial mungkin saja terjadi karena adanya pengabaian norma dan nilai sosial yang berlaku di masyarakat tersebut oleh individu atau suatu kelompok. Melihat perlunya penjelasan ilmiah mengenai kekerasan di masyarakat, beberapa ahli mencetuskan teori mengenai proses terbentuknya kekerasan sosial di masyarakat.</p>
12
<p>Baca juga:<a>Pengertian Globalisasi, Karakteristik, dan Prosesnya</a></p>
12
<p>Baca juga:<a>Pengertian Globalisasi, Karakteristik, dan Prosesnya</a></p>
13
<h2><strong>Macam-Macam Teori Konflik</strong></h2>
13
<h2><strong>Macam-Macam Teori Konflik</strong></h2>
14
<p>Nah, kita udah tau nih tentang apa itu konflik, dan juga kekerasan. Sekarang kita bahas tentang beberapa teori konflik. Jadi, teori-teori ini, penting banget untuk kita gunakan sebagai cara pandang dalam melihat berbagai kasus konflik yang terjadi di masyarakat. Karena bisa aja beda kasus konflik, teori untuk mengkajinya juga berbeda. Yuk kita bahas!</p>
14
<p>Nah, kita udah tau nih tentang apa itu konflik, dan juga kekerasan. Sekarang kita bahas tentang beberapa teori konflik. Jadi, teori-teori ini, penting banget untuk kita gunakan sebagai cara pandang dalam melihat berbagai kasus konflik yang terjadi di masyarakat. Karena bisa aja beda kasus konflik, teori untuk mengkajinya juga berbeda. Yuk kita bahas!</p>
15
<h3>1.<strong>Teori Konflik Karl Marx</strong></h3>
15
<h3>1.<strong>Teori Konflik Karl Marx</strong></h3>
16
<p>Pertama, kita akan bahas<a>teori konflik dari pemikiran Karl Marx</a>. Kita tentu tau, bahwa banyak pemikiran Karl Marx didasari atas perbedaan kelas berdasarkan kepemilikan alat produksi atau aspek ekonomi. Begitu juga dengan konflik atau masalah sosial.</p>
16
<p>Pertama, kita akan bahas<a>teori konflik dari pemikiran Karl Marx</a>. Kita tentu tau, bahwa banyak pemikiran Karl Marx didasari atas perbedaan kelas berdasarkan kepemilikan alat produksi atau aspek ekonomi. Begitu juga dengan konflik atau masalah sosial.</p>
17
<p>Menurutnya, salah satu penyebab terbesar dari terjadinya konflik yakni diterapkannya sistem kapitalisme. Dalam sistem ini, kelompok pemilik modal atau borjuis, mengalami konflik melalui<a>ketimpangan</a>yang terjadi dengan kelompok proletar atau buruh. </p>
17
<p>Menurutnya, salah satu penyebab terbesar dari terjadinya konflik yakni diterapkannya sistem kapitalisme. Dalam sistem ini, kelompok pemilik modal atau borjuis, mengalami konflik melalui<a>ketimpangan</a>yang terjadi dengan kelompok proletar atau buruh. </p>
18
<p>Dalam sistem kapitalisme, kelompok borjuis ingin mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya sehingga memicu pertentangan dari kelompok proletar atau buruh yang menuntut keadilan terhadap upah dan kesejahteraan. Nah disitulah konflik sosial terjadi menurut pandangan Karl Marx.</p>
18
<p>Dalam sistem kapitalisme, kelompok borjuis ingin mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya sehingga memicu pertentangan dari kelompok proletar atau buruh yang menuntut keadilan terhadap upah dan kesejahteraan. Nah disitulah konflik sosial terjadi menurut pandangan Karl Marx.</p>
19
<h3><strong>2. Teori Konflik Gramsci</strong></h3>
19
<h3><strong>2. Teori Konflik Gramsci</strong></h3>
20
<p>Oke selanjutnya, kita bahas pemikiran dari Antonio Gramsci. Jika dibandingkan dengan Marx, yang fokus konfliknya pada aspek ekonomi, Pak Gramsci berfokus dengan aspek budaya maupun politik atau kekuasaan. </p>
20
<p>Oke selanjutnya, kita bahas pemikiran dari Antonio Gramsci. Jika dibandingkan dengan Marx, yang fokus konfliknya pada aspek ekonomi, Pak Gramsci berfokus dengan aspek budaya maupun politik atau kekuasaan. </p>
21
<p>Jadi kata Gramsci,<strong>konflik sosial dapat terjadi karena adanya suatu hegemoni.</strong>Eh tapi, hegemoni itu apa? Jadi, hegemoni adalah kekuasaan yang dijalankan dengan jalan kekerasan untuk membangun sebuah ideolog dan kebudayaani yang diinginkan oleh pihak penguasa. Kalau masih bingung, kita bisa mengambil contoh dari cara kekerasan yang dilakukan Adolf Hitler untuk membangun ideologi fasis di Jerman, atau ideologi komunis yang tidak bisa dihilangkan di Korea Utara karena kekerasan dari pemimpin negaranya.</p>
21
<p>Jadi kata Gramsci,<strong>konflik sosial dapat terjadi karena adanya suatu hegemoni.</strong>Eh tapi, hegemoni itu apa? Jadi, hegemoni adalah kekuasaan yang dijalankan dengan jalan kekerasan untuk membangun sebuah ideolog dan kebudayaani yang diinginkan oleh pihak penguasa. Kalau masih bingung, kita bisa mengambil contoh dari cara kekerasan yang dilakukan Adolf Hitler untuk membangun ideologi fasis di Jerman, atau ideologi komunis yang tidak bisa dihilangkan di Korea Utara karena kekerasan dari pemimpin negaranya.</p>
22
<p>Jadi, kalo orang udah punya hegemoni, ya dia bisa mengatur apapun yang menurutnya ideal. Tapi siapa saja yang bisa menjalankan hegemoni ini? Nah kata Gramsci, hegemoni ini dapat dijalankan oleh beberapa pihak. </p>
22
<p>Jadi, kalo orang udah punya hegemoni, ya dia bisa mengatur apapun yang menurutnya ideal. Tapi siapa saja yang bisa menjalankan hegemoni ini? Nah kata Gramsci, hegemoni ini dapat dijalankan oleh beberapa pihak. </p>
23
<p>Baca juga:<a>Modernisasi dan Segala Sesuatu Tentangnya</a></p>
23
<p>Baca juga:<a>Modernisasi dan Segala Sesuatu Tentangnya</a></p>
24
<p>Pertama, pihak penguasa. Dari mulai eksekutif, legislatif, sampai angkatan bersenjata atau militer. Pihak yang kedua adalah kelompok masyarakat sipil, seperti kelompok-kelompok organisasi masyarakat atau ormas. </p>
24
<p>Pertama, pihak penguasa. Dari mulai eksekutif, legislatif, sampai angkatan bersenjata atau militer. Pihak yang kedua adalah kelompok masyarakat sipil, seperti kelompok-kelompok organisasi masyarakat atau ormas. </p>
25
<p>Loh, kok masyarakat sipil juga bisa? Nah, kata Gramsci, hal itu memungkinkan dengan adanya kelompok atau ormas dari masyarakat sipil. Pada umumnya, mereka punya peran untuk jadi perantara penguasa untuk memperluas pengaruh kekuasaannya. Ibaratnya, kayak pro sama kekuasaan gitu, dan memusuhi kelompok sipil lain yang kritis terhadap pemerintahan. Kira-kira, kamu bisa ngebayangin hal itu terjadi di hidup kita ngga?</p>
25
<p>Loh, kok masyarakat sipil juga bisa? Nah, kata Gramsci, hal itu memungkinkan dengan adanya kelompok atau ormas dari masyarakat sipil. Pada umumnya, mereka punya peran untuk jadi perantara penguasa untuk memperluas pengaruh kekuasaannya. Ibaratnya, kayak pro sama kekuasaan gitu, dan memusuhi kelompok sipil lain yang kritis terhadap pemerintahan. Kira-kira, kamu bisa ngebayangin hal itu terjadi di hidup kita ngga?</p>
26
<p>Terus gimana cara kita gunakan teori Gramsci ini dalam melihat kasus konflik? Nah, melalui konsep hegemoni Gramsci, kita bisa nih menganalisis kasus konflik yang melibatkan pemerintah dengan rakyatnya. </p>
26
<p>Terus gimana cara kita gunakan teori Gramsci ini dalam melihat kasus konflik? Nah, melalui konsep hegemoni Gramsci, kita bisa nih menganalisis kasus konflik yang melibatkan pemerintah dengan rakyatnya. </p>
27
<p>Contohnya kayak kasus pembungkaman kebebasan berpendapat kepada orang-orang yang kritis terhadap kekuasaan. Jadi, lewat hegemoni, si penguasa bisa tuh mempertahankan kekuasaan dengan cara membungkam kebebasan berpendapat atau kritik terhadapnya. Dari hegemoni itulah, konflik sosial bisa menghasilkan ketidakadilan terhadap orang-orang yang tidak memiliki kekuasaan.</p>
27
<p>Contohnya kayak kasus pembungkaman kebebasan berpendapat kepada orang-orang yang kritis terhadap kekuasaan. Jadi, lewat hegemoni, si penguasa bisa tuh mempertahankan kekuasaan dengan cara membungkam kebebasan berpendapat atau kritik terhadapnya. Dari hegemoni itulah, konflik sosial bisa menghasilkan ketidakadilan terhadap orang-orang yang tidak memiliki kekuasaan.</p>
28
<h3><strong>3. Teori Fungsional Konflik Lewis A. Coser</strong></h3>
28
<h3><strong>3. Teori Fungsional Konflik Lewis A. Coser</strong></h3>
29
<p>Oke, setelah kita bahas teori konflik Marx, dan juga Gramsci, terakhir kita ke teori konflik menurut Lewis A. Coser. </p>
29
<p>Oke, setelah kita bahas teori konflik Marx, dan juga Gramsci, terakhir kita ke teori konflik menurut Lewis A. Coser. </p>
30
<p>Balik lagi nih, kalo misal kita simpulkan bahwa menuntut Pak Marx dan Pak Gramsci menganggap konflik itu rentan banget menghasilkan ketidakadilan, khususnya bagi orang-orang yang gak punya modal atau kekuasaan, menurut Coser, konflik itu dilihat justru punya fungsi bagi masyarakat. Lah kok bisa jadi ada fungsinya? Coba kita pahami dulu ya! </p>
30
<p>Balik lagi nih, kalo misal kita simpulkan bahwa menuntut Pak Marx dan Pak Gramsci menganggap konflik itu rentan banget menghasilkan ketidakadilan, khususnya bagi orang-orang yang gak punya modal atau kekuasaan, menurut Coser, konflik itu dilihat justru punya fungsi bagi masyarakat. Lah kok bisa jadi ada fungsinya? Coba kita pahami dulu ya! </p>
31
<p>Jadi dari pemikiran Pak Coser, teori tersebut dianggap sebagai fungsional konflik. Yaitu, sebuah cara pandang yang melihat bahwa konflik bisa bersifat fungsional tapi bisa juga bersifat disfungsional. Bedanya apa tuh? </p>
31
<p>Jadi dari pemikiran Pak Coser, teori tersebut dianggap sebagai fungsional konflik. Yaitu, sebuah cara pandang yang melihat bahwa konflik bisa bersifat fungsional tapi bisa juga bersifat disfungsional. Bedanya apa tuh? </p>
32
<p>Oke,<strong>bersifat fungsional, artinya konflik bisa memiliki fungsi bagi masyarakat,</strong>seperti, memperkuat persatuan kelompok dan juga sebagai alat untuk melawan ketidakadilan sehingga mendorong terjadinya perubahan. </p>
32
<p>Oke,<strong>bersifat fungsional, artinya konflik bisa memiliki fungsi bagi masyarakat,</strong>seperti, memperkuat persatuan kelompok dan juga sebagai alat untuk melawan ketidakadilan sehingga mendorong terjadinya perubahan. </p>
33
<p>Jadi, perlawanan yang dilakukan oleh pihak buruh untuk menuntut keadilan upah sebenarnya punya fungsi nih untuk memperkuat solidaritas di antara kelompok mereka dan juga bisa menjadi upaya untuk menuntut keadilan. Istilahnya kaya, orang-orang jadi bersatu karna punya musuh bersama gitu,<em>guys!</em></p>
33
<p>Jadi, perlawanan yang dilakukan oleh pihak buruh untuk menuntut keadilan upah sebenarnya punya fungsi nih untuk memperkuat solidaritas di antara kelompok mereka dan juga bisa menjadi upaya untuk menuntut keadilan. Istilahnya kaya, orang-orang jadi bersatu karna punya musuh bersama gitu,<em>guys!</em></p>
34
<p>Jadi kalau misalnya kita lihat banyak kasus korupsi, dan bakal ditindak tegas oleh penegak hukum, harapannya bisa membawa perubahan baik yakni pemerintah jadi bersih dari praktek korupsi<em>guys,</em>Semoga ya! Amiin,,</p>
34
<p>Jadi kalau misalnya kita lihat banyak kasus korupsi, dan bakal ditindak tegas oleh penegak hukum, harapannya bisa membawa perubahan baik yakni pemerintah jadi bersih dari praktek korupsi<em>guys,</em>Semoga ya! Amiin,,</p>
35
<p>Sementara itu, konflik menurut Coser juga dianggap memiliki sisi yang disfungsional, atau justru mengganggu keharmonisan di dalam masyarakat. Contohnya, seperti pertentangan antar kelompok<em>supporter</em>bola deh, tentu hal tersebut dalam jangka panjang bisa juga berakibat buruk dalam memecah persatuan di masyarakat. Akibatnya, kita jadi ngerasa nggak aman, kan? </p>
35
<p>Sementara itu, konflik menurut Coser juga dianggap memiliki sisi yang disfungsional, atau justru mengganggu keharmonisan di dalam masyarakat. Contohnya, seperti pertentangan antar kelompok<em>supporter</em>bola deh, tentu hal tersebut dalam jangka panjang bisa juga berakibat buruk dalam memecah persatuan di masyarakat. Akibatnya, kita jadi ngerasa nggak aman, kan? </p>
36
<p>Baca juga:<a>Pentingnya Memahami Kearifan Lokal dan Karakteristiknya</a></p>
36
<p>Baca juga:<a>Pentingnya Memahami Kearifan Lokal dan Karakteristiknya</a></p>
37
<h2><strong>Faktor Penyebab Konflik/Kekerasan Sosial</strong></h2>
37
<h2><strong>Faktor Penyebab Konflik/Kekerasan Sosial</strong></h2>
38
<p>Setelah bahas konflik, kita tentu tahu kan ujungnya dari konflik mengarah kemana. Yap betul, kekerasan. Kekerasan sendiri terjadi karena beberapa faktor yang memengaruhinya. Ada 3 faktor penyebab yakni faktor individual, faktor kelompok, dan dinamika kelompok. Yuk simak masing-masing penjelasannya!</p>
38
<p>Setelah bahas konflik, kita tentu tahu kan ujungnya dari konflik mengarah kemana. Yap betul, kekerasan. Kekerasan sendiri terjadi karena beberapa faktor yang memengaruhinya. Ada 3 faktor penyebab yakni faktor individual, faktor kelompok, dan dinamika kelompok. Yuk simak masing-masing penjelasannya!</p>
39
<h3><strong>1. Faktor Individual</strong></h3>
39
<h3><strong>1. Faktor Individual</strong></h3>
40
<p>Perilaku agresif seseorang dapat menyebabkan timbulnya kekerasan. Faktor penyebab perilaku kekerasan menurut teori ini adalah faktor pribadi dan faktor sosial. Faktor pribadi yaitu meliputi kelainan jiwa, seperti psikopat, stres, depresi, serta pengaruh obat bius. Sedangkan faktor yang bersifat sosial antara lain seperti konflik rumah tangga, faktor budaya, dan media massa.</p>
40
<p>Perilaku agresif seseorang dapat menyebabkan timbulnya kekerasan. Faktor penyebab perilaku kekerasan menurut teori ini adalah faktor pribadi dan faktor sosial. Faktor pribadi yaitu meliputi kelainan jiwa, seperti psikopat, stres, depresi, serta pengaruh obat bius. Sedangkan faktor yang bersifat sosial antara lain seperti konflik rumah tangga, faktor budaya, dan media massa.</p>
41
<p><i>Faktor individual yakni dari kepribadian individu yang gampang emosian, bisa memicu terjadinya kekerasan ya guys! (Sumber: Brilio)</i></p>
41
<p><i>Faktor individual yakni dari kepribadian individu yang gampang emosian, bisa memicu terjadinya kekerasan ya guys! (Sumber: Brilio)</i></p>
42
<h3><strong>2. Faktor Kelompok</strong></h3>
42
<h3><strong>2. Faktor Kelompok</strong></h3>
43
<p>Menurut teori ini, individu cenderung membentuk kelompok dengan memprioritaskan identitas berdasarkan persamaan ras, agama, atau etnis. Identitas kelompok yang cenderung dibawa ketika seseorang berinteraksi dengan orang lain ini rawan menyebabkan benturan antara identitas kelompok yang berbeda dan kemudian menjadi penyebab kekerasan. </p>
43
<p>Menurut teori ini, individu cenderung membentuk kelompok dengan memprioritaskan identitas berdasarkan persamaan ras, agama, atau etnis. Identitas kelompok yang cenderung dibawa ketika seseorang berinteraksi dengan orang lain ini rawan menyebabkan benturan antara identitas kelompok yang berbeda dan kemudian menjadi penyebab kekerasan. </p>
44
<p>Contohnya ada pada perkelahian antar pendukung klub bola saat pertandingan di stadion. Selain itu, ada juga kekerasan berbau rasial yang terjadi di Afrika Selatan dan Amerika Serikat pada orang kulit hitam, serta di Indonesia pada kerusuhan Mei ‘98, yaitu kekerasan terhadap kelompok etnis Tionghoa.</p>
44
<p>Contohnya ada pada perkelahian antar pendukung klub bola saat pertandingan di stadion. Selain itu, ada juga kekerasan berbau rasial yang terjadi di Afrika Selatan dan Amerika Serikat pada orang kulit hitam, serta di Indonesia pada kerusuhan Mei ‘98, yaitu kekerasan terhadap kelompok etnis Tionghoa.</p>
45
<p><strong>Baca Juga:<a>Bentuk Konflik dan Kekerasan di Masyarakat</a></strong></p>
45
<p><strong>Baca Juga:<a>Bentuk Konflik dan Kekerasan di Masyarakat</a></strong></p>
46
<h3><strong>3. Faktor Dinamika Kelompok</strong></h3>
46
<h3><strong>3. Faktor Dinamika Kelompok</strong></h3>
47
<p>Kekerasan dapat timbul karena hilangnya rasa saling memiliki yang terjadi dalam kelompok. Hal ini dapat diartikan bahwa perubahan-perubahan sosial terjadi sedemikian cepat dalam sebuah masyarakat dan tidak mampu direspon sama cepatnya oleh sistem sosial dan nilai masyarakatnya. </p>
47
<p>Kekerasan dapat timbul karena hilangnya rasa saling memiliki yang terjadi dalam kelompok. Hal ini dapat diartikan bahwa perubahan-perubahan sosial terjadi sedemikian cepat dalam sebuah masyarakat dan tidak mampu direspon sama cepatnya oleh sistem sosial dan nilai masyarakatnya. </p>
48
<p>Contohnya bisa dilihat dari masuknya perusahaan internasional ke wilayah pedalaman Papua yang membawa berbagai teknologi, perilaku, hingga tata nilai yang berbeda. Hal ini menyebabkan masyarakat setempat merasa terasing dan muncullah kehilangan rasa memiliki yang berakhir dengan perlawanan kekuasaan.</p>
48
<p>Contohnya bisa dilihat dari masuknya perusahaan internasional ke wilayah pedalaman Papua yang membawa berbagai teknologi, perilaku, hingga tata nilai yang berbeda. Hal ini menyebabkan masyarakat setempat merasa terasing dan muncullah kehilangan rasa memiliki yang berakhir dengan perlawanan kekuasaan.</p>
49
<p>-</p>
49
<p>-</p>
50
<p>Gimana sekarang, sudah mulai paham<em>kan</em>konflik dan kekerasan sosial? Mau belajar Sosiologi lebih detail lagi? Atau ingin belajar materi lainnya?<em>Yuk</em>langsung diskusi bareng dengan tutor yang andal dan gabung dengan grup belajar dari teman-teman di seluruh Indonesia hanya di<a>Brain Academy Online!</a></p>
50
<p>Gimana sekarang, sudah mulai paham<em>kan</em>konflik dan kekerasan sosial? Mau belajar Sosiologi lebih detail lagi? Atau ingin belajar materi lainnya?<em>Yuk</em>langsung diskusi bareng dengan tutor yang andal dan gabung dengan grup belajar dari teman-teman di seluruh Indonesia hanya di<a>Brain Academy Online!</a></p>
51
<p><strong>Referensi:</strong></p>
51
<p><strong>Referensi:</strong></p>
52
<p>Wrahatnala, Bondet. 2009. Sosiologi 2: Untuk SMA/MA Kelas XI. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional</p>
52
<p>Wrahatnala, Bondet. 2009. Sosiologi 2: Untuk SMA/MA Kelas XI. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional</p>
53
<p><strong>Sumber Foto:</strong></p>
53
<p><strong>Sumber Foto:</strong></p>
54
<p>Foto ‘Kerusuhan Suporter Bola’ [daring] Tautan: https://bola.okezone.com/read/2017/06/05/49/1707495/kerusuhan-suporter-persib-tak-terhenti-hingga-laga-berakhir-di-stadion</p>
54
<p>Foto ‘Kerusuhan Suporter Bola’ [daring] Tautan: https://bola.okezone.com/read/2017/06/05/49/1707495/kerusuhan-suporter-persib-tak-terhenti-hingga-laga-berakhir-di-stadion</p>
55
55