HTML Diff
0 added 0 removed
Original 2026-01-01
Modified 2026-03-08
1 <p><em>Sudah siap hadapi UTBK tahun 2022 nanti? Yuk, tingkatkan persiapanmu dengan latihan soal UTBK 2022 Biologi beserta pembahasannya di bawah ini. Selamat mengerjakan!</em></p>
1 <p><em>Sudah siap hadapi UTBK tahun 2022 nanti? Yuk, tingkatkan persiapanmu dengan latihan soal UTBK 2022 Biologi beserta pembahasannya di bawah ini. Selamat mengerjakan!</em></p>
2 <p>-</p>
2 <p>-</p>
3 <h2><strong>Topik: Sel</strong></h2>
3 <h2><strong>Topik: Sel</strong></h2>
4 <p><strong>Subtopik:<a>Pembelahan Sel</a></strong></p>
4 <p><strong>Subtopik:<a>Pembelahan Sel</a></strong></p>
5 <p><strong>Level: Hots</strong></p>
5 <p><strong>Level: Hots</strong></p>
6 <p><strong>Perhatikan gambar di bawah ini!</strong></p>
6 <p><strong>Perhatikan gambar di bawah ini!</strong></p>
7 <p>1. Pernyataan di bawah ini yang berhubungan dengan siklus sel yang ditunjukkan oleh skema di atas adalah …</p>
7 <p>1. Pernyataan di bawah ini yang berhubungan dengan siklus sel yang ditunjukkan oleh skema di atas adalah …</p>
8 <ol><li>Tahapan pada nomor I dan V menunjukkan fase sitokinesis.</li>
8 <ol><li>Tahapan pada nomor I dan V menunjukkan fase sitokinesis.</li>
9 <li>Proses replikasi DNA terjadi pada tahapan nomor III.</li>
9 <li>Proses replikasi DNA terjadi pada tahapan nomor III.</li>
10 <li>Sintesis protein terjadi pada tahapan nomor IV.</li>
10 <li>Sintesis protein terjadi pada tahapan nomor IV.</li>
11 <li>Fase S terjadi pada tahapan nomor II.</li>
11 <li>Fase S terjadi pada tahapan nomor II.</li>
12 <li>Fase kariokinesis ditunjukkan oleh tahapan nomor V.</li>
12 <li>Fase kariokinesis ditunjukkan oleh tahapan nomor V.</li>
13 </ol><p><strong>Jawaban: D</strong></p>
13 </ol><p><strong>Jawaban: D</strong></p>
14 <p><strong>Pembahasan:</strong>Siklus sel terdiri dari tahap interfase dan fase M. Interfase merupakan tahap persiapan sel, terjadi beberapa tahapan sebagai berikut:</p>
14 <p><strong>Pembahasan:</strong>Siklus sel terdiri dari tahap interfase dan fase M. Interfase merupakan tahap persiapan sel, terjadi beberapa tahapan sebagai berikut:</p>
15 <ol><li>Fase G1, terdiri dari persiapan replikasi DNA, sintesis protein, perbanyakan organel dan DNA masih dalam bentuk 1 copy. Pada skema siklus sel di atas fase G1 ditunjukkan oleh tahapan nomor I dan V karena awal dari sebuah siklus sel dan jumlah DNA masih sama</li>
15 <ol><li>Fase G1, terdiri dari persiapan replikasi DNA, sintesis protein, perbanyakan organel dan DNA masih dalam bentuk 1 copy. Pada skema siklus sel di atas fase G1 ditunjukkan oleh tahapan nomor I dan V karena awal dari sebuah siklus sel dan jumlah DNA masih sama</li>
16 <li>Fase S (Sintesis), terdiri atas replikasi DNA yang melibatkan enzim DNA polimerase. Pada skema di atas fase S ditunjukkan oleh tahapan nomor II karena jumlah DNA mengalami peningkatan yang berarti terjadi replikasi DNA</li>
16 <li>Fase S (Sintesis), terdiri atas replikasi DNA yang melibatkan enzim DNA polimerase. Pada skema di atas fase S ditunjukkan oleh tahapan nomor II karena jumlah DNA mengalami peningkatan yang berarti terjadi replikasi DNA</li>
17 <li>Fase G2, terdiri dari proses replikasi DNA selesai, sel bersiap untuk membelah, perbanyakan organel, dan DNA sudah ada 2 copy. Pada siklus sel di atas fase G2 ditunjukkan oleh tahapan nomor III karena jumlah DNA sudah tidak mengalami perubahan.</li>
17 <li>Fase G2, terdiri dari proses replikasi DNA selesai, sel bersiap untuk membelah, perbanyakan organel, dan DNA sudah ada 2 copy. Pada siklus sel di atas fase G2 ditunjukkan oleh tahapan nomor III karena jumlah DNA sudah tidak mengalami perubahan.</li>
18 </ol><p>Sementara itu, fase M merupakan tahap pembelahan yang terdiri dari tahapan kariokinesis atau pembelahan inti sel dan tahapan sitokinesis atau pembelahan sitoplasma. Pada skema di atas, tahapan kariokinesis ditunjukkan oleh tahapan nomor IV karena pada nomor tersebut terjadi penurunan DNA yang berarti sel sudah membelah menjadi dua buah.</p>
18 </ol><p>Sementara itu, fase M merupakan tahap pembelahan yang terdiri dari tahapan kariokinesis atau pembelahan inti sel dan tahapan sitokinesis atau pembelahan sitoplasma. Pada skema di atas, tahapan kariokinesis ditunjukkan oleh tahapan nomor IV karena pada nomor tersebut terjadi penurunan DNA yang berarti sel sudah membelah menjadi dua buah.</p>
19 <p>Berdasarkan hal ini, dapat diketahui bahwa pernyataan pada soal yang berhubungan dengan siklus sel yang ditunjukkan oleh skema adalah fase S terjadi pada tahapan nomor II.</p>
19 <p>Berdasarkan hal ini, dapat diketahui bahwa pernyataan pada soal yang berhubungan dengan siklus sel yang ditunjukkan oleh skema adalah fase S terjadi pada tahapan nomor II.</p>
20 <p><strong>Dengan demikian, pilihan jawaban yang tepat adalah D</strong>.</p>
20 <p><strong>Dengan demikian, pilihan jawaban yang tepat adalah D</strong>.</p>
21 <h2><strong>Topik: Genetika dan<a>Evolusi</a></strong></h2>
21 <h2><strong>Topik: Genetika dan<a>Evolusi</a></strong></h2>
22 <p><strong>Subtopik: Materi Genetik</strong></p>
22 <p><strong>Subtopik: Materi Genetik</strong></p>
23 <p><strong>Level: Hots</strong></p>
23 <p><strong>Level: Hots</strong></p>
24 <p>2. Satu strand DNA dari spesies P dihibridisasi (digabungkan) dengan strand DNA komplemen dari lima spesies berbeda yang diberikan kode A sampai dengan E. Molekul DNA hibrid yang didapat kemudian didenaturasi. Suhu yang diperlukan untuk mendenaturasi molekul DNA tersebut disajikan dalam tabel berikut.</p>
24 <p>2. Satu strand DNA dari spesies P dihibridisasi (digabungkan) dengan strand DNA komplemen dari lima spesies berbeda yang diberikan kode A sampai dengan E. Molekul DNA hibrid yang didapat kemudian didenaturasi. Suhu yang diperlukan untuk mendenaturasi molekul DNA tersebut disajikan dalam tabel berikut.</p>
25 <p>Berdasarkan tabel di atas, spesies yang kemungkinan paling dekat kekerabatannya dengan spesies P adalah .…</p>
25 <p>Berdasarkan tabel di atas, spesies yang kemungkinan paling dekat kekerabatannya dengan spesies P adalah .…</p>
26 <ol><li>A</li>
26 <ol><li>A</li>
27 <li>B</li>
27 <li>B</li>
28 <li>C</li>
28 <li>C</li>
29 <li>D</li>
29 <li>D</li>
30 <li>E</li>
30 <li>E</li>
31 </ol><p><strong>Jawaban: E</strong></p>
31 </ol><p><strong>Jawaban: E</strong></p>
32 <p><strong>Pembahasan:</strong>Spesies yang memiliki kekerabatan dekat adalah spesies yang memiliki urutan basa DNA yang mirip. Jika basa DNA antar spesies mirip, maka ketika dihibridisasi, akan ada banyak ikatan pada DNA hibrid. Banyaknya ikatan pada DNA hibrid dapat dibuktikan melalui proses denaturasi. Denaturasi merupakan proses yang dilakukan untuk melepas ikatan yang ada pada DNA hibrid menggunakan bantuan suhu. Berikut ini contoh DNA hibrid yang terbentuk.</p>
32 <p><strong>Pembahasan:</strong>Spesies yang memiliki kekerabatan dekat adalah spesies yang memiliki urutan basa DNA yang mirip. Jika basa DNA antar spesies mirip, maka ketika dihibridisasi, akan ada banyak ikatan pada DNA hibrid. Banyaknya ikatan pada DNA hibrid dapat dibuktikan melalui proses denaturasi. Denaturasi merupakan proses yang dilakukan untuk melepas ikatan yang ada pada DNA hibrid menggunakan bantuan suhu. Berikut ini contoh DNA hibrid yang terbentuk.</p>
33 <p>DNA hibrid 1 memiliki ikatan yang sedikit sehingga seharusnya lebih mudah terputus dan suhu denaturasi yang dibutuhkan untuk memutus ikatan pada DNA hibrid rendah. Sedangkan DNA hibrid 2 memiliki ikatan yang banyak sehingga ikatan DNA hibridnya kuat dan lebih sulit didenaturasi. Hal ini menyebabkan DNA hibrid 2 akan membutuhkan suhu denaturasi yang lebih tinggi.</p>
33 <p>DNA hibrid 1 memiliki ikatan yang sedikit sehingga seharusnya lebih mudah terputus dan suhu denaturasi yang dibutuhkan untuk memutus ikatan pada DNA hibrid rendah. Sedangkan DNA hibrid 2 memiliki ikatan yang banyak sehingga ikatan DNA hibridnya kuat dan lebih sulit didenaturasi. Hal ini menyebabkan DNA hibrid 2 akan membutuhkan suhu denaturasi yang lebih tinggi.</p>
34 <p>Berdasarkan analisis tersebut diketahui bahwa:</p>
34 <p>Berdasarkan analisis tersebut diketahui bahwa:</p>
35 <ul><li>Kekerabatan antar spesies ditandai dengan banyaknya ikatan pada DNA hibrid, semakin banyak ikatan maka kekerabatan makin dekat</li>
35 <ul><li>Kekerabatan antar spesies ditandai dengan banyaknya ikatan pada DNA hibrid, semakin banyak ikatan maka kekerabatan makin dekat</li>
36 <li>Semakin banyak ikatan pada DNA hibrid maka DNA hibrid tersebut akan semakin sulit didenaturasi sehingga suhu yang dibutuhkan untuk denaturasi makin tinggi</li>
36 <li>Semakin banyak ikatan pada DNA hibrid maka DNA hibrid tersebut akan semakin sulit didenaturasi sehingga suhu yang dibutuhkan untuk denaturasi makin tinggi</li>
37 </ul><p>Oleh karena itu, spesies yang memiliki kekerabatan paling dekat dengan spesies P adalah spesies dengan suhu denaturasi DNA hibrid paling tinggi, yaitu E yang suhu denaturasinya mencapai .</p>
37 </ul><p>Oleh karena itu, spesies yang memiliki kekerabatan paling dekat dengan spesies P adalah spesies dengan suhu denaturasi DNA hibrid paling tinggi, yaitu E yang suhu denaturasinya mencapai .</p>
38 <p><strong>Dengan demikian, pilihan jawaban yang tepat adalah E</strong>.</p>
38 <p><strong>Dengan demikian, pilihan jawaban yang tepat adalah E</strong>.</p>
39 <p><strong>Topik: Genetika dan Evolusi</strong></p>
39 <p><strong>Topik: Genetika dan Evolusi</strong></p>
40 <p><strong>Subtopik: Evolusi</strong></p>
40 <p><strong>Subtopik: Evolusi</strong></p>
41 <p><strong>Level : Hots</strong></p>
41 <p><strong>Level : Hots</strong></p>
42 <p>3. Pada suatu hutan di Negara Inggris dapat kita temukan populasi ngengat dengan nama latin<em>Biston betularia</em> yang memiliki warna sayap terang dan gelap. Pada saat belum terjadi perkembangan industri, populasi ngengat bersayap terang jauh lebih mendominasi dibandingkan ngengat bersayap gelap. Namun, pada saat perkembangan industri terjadi, populasi ngengat bersayap terang berkurang dan didominasi dengan ngengat bersayap gelap. Penyebab berkurangnya ngengat bersayap terang pada saat terjadi perkembangan industri adalah ….</p>
42 <p>3. Pada suatu hutan di Negara Inggris dapat kita temukan populasi ngengat dengan nama latin<em>Biston betularia</em> yang memiliki warna sayap terang dan gelap. Pada saat belum terjadi perkembangan industri, populasi ngengat bersayap terang jauh lebih mendominasi dibandingkan ngengat bersayap gelap. Namun, pada saat perkembangan industri terjadi, populasi ngengat bersayap terang berkurang dan didominasi dengan ngengat bersayap gelap. Penyebab berkurangnya ngengat bersayap terang pada saat terjadi perkembangan industri adalah ….</p>
43 <ol><li>kemampuan bertahan hidup ngengat bersayap terang tinggi</li>
43 <ol><li>kemampuan bertahan hidup ngengat bersayap terang tinggi</li>
44 <li>ngengat bersayap terang mati karena kekurangan makanan</li>
44 <li>ngengat bersayap terang mati karena kekurangan makanan</li>
45 <li>ngengat bersayap terang dimangsa oleh ngengat bersayap gelap</li>
45 <li>ngengat bersayap terang dimangsa oleh ngengat bersayap gelap</li>
46 <li>ngengat bersayap terang terseleksi oleh alam</li>
46 <li>ngengat bersayap terang terseleksi oleh alam</li>
47 <li>ngengat bersayap terang melakukan migrasi ke tempat lain</li>
47 <li>ngengat bersayap terang melakukan migrasi ke tempat lain</li>
48 </ol><p><strong>Jawaban: D</strong></p>
48 </ol><p><strong>Jawaban: D</strong></p>
49 <p><strong>Pembahasan:</strong>Sebelum terjadinya perkembangan industri di Inggris, permukaan pohon-pohon banyak tertutup oleh lichen (bioindikator udara bersih) yang memiliki warna yang serupa dengan ngengat bersayap terang. Sehingga saat ngengat bersayap terang dan gelap hinggap pada permukaan pohon, maka ngengat bersayap terang akan menyerupai lingkungan, sementara ngengat bersayap gelap akan lebih mencolok sehingga terlihat oleh predator kemudian dimangsa (terseleksi).</p>
49 <p><strong>Pembahasan:</strong>Sebelum terjadinya perkembangan industri di Inggris, permukaan pohon-pohon banyak tertutup oleh lichen (bioindikator udara bersih) yang memiliki warna yang serupa dengan ngengat bersayap terang. Sehingga saat ngengat bersayap terang dan gelap hinggap pada permukaan pohon, maka ngengat bersayap terang akan menyerupai lingkungan, sementara ngengat bersayap gelap akan lebih mencolok sehingga terlihat oleh predator kemudian dimangsa (terseleksi).</p>
50 <p>Hal inilah yang menyebabkan populasi ngengat bersayap terang lebih banyak dari pada ngengat bersayap gelap sebelum terjadinya perkembangan industri. Namun, setelah terjadinya perkembangan industri, permukaan pohon banyak tertutup oleh residu industri berupa debu sehingga pepohonan menghitam dan lichen mati karena tidak dapat hidup di lingkungan dengan udara kotor. Sehingga saat ngengat bersayap terang dan gelap hinggap pada permukaan pohon, maka ngengat bersayap gelap akan menyerupai lingkungan, sementara ngengat bersayap terang akan lebih mencolok sehingga terlihat oleh predator kemudian dimangsa (terseleksi).</p>
50 <p>Hal inilah yang menyebabkan populasi ngengat bersayap terang lebih banyak dari pada ngengat bersayap gelap sebelum terjadinya perkembangan industri. Namun, setelah terjadinya perkembangan industri, permukaan pohon banyak tertutup oleh residu industri berupa debu sehingga pepohonan menghitam dan lichen mati karena tidak dapat hidup di lingkungan dengan udara kotor. Sehingga saat ngengat bersayap terang dan gelap hinggap pada permukaan pohon, maka ngengat bersayap gelap akan menyerupai lingkungan, sementara ngengat bersayap terang akan lebih mencolok sehingga terlihat oleh predator kemudian dimangsa (terseleksi).</p>
51 <p>Hal inilah yang menyebabkan populasi ngengat bersayap gelap lebih banyak dari pada ngengat bersayap terang pada saat terjadinya perkembangan industri.</p>
51 <p>Hal inilah yang menyebabkan populasi ngengat bersayap gelap lebih banyak dari pada ngengat bersayap terang pada saat terjadinya perkembangan industri.</p>
52 <p><strong>Dengan demikian, pilihan jawaban yang tepat adalah D</strong>.</p>
52 <p><strong>Dengan demikian, pilihan jawaban yang tepat adalah D</strong>.</p>
53 <h2><strong>Topik: Metabolisme Sel</strong></h2>
53 <h2><strong>Topik: Metabolisme Sel</strong></h2>
54 <p><strong>Subtopik: Anabolisme</strong></p>
54 <p><strong>Subtopik: Anabolisme</strong></p>
55 <p><strong>Level: Hots</strong></p>
55 <p><strong>Level: Hots</strong></p>
56 <p><strong>Perhatikan siklus di bawah ini!</strong></p>
56 <p><strong>Perhatikan siklus di bawah ini!</strong></p>
57 <p>4. Apabila senyawa<strong>X</strong>berikatan dengan oksigen, maka yang akan terjadi adalah ….</p>
57 <p>4. Apabila senyawa<strong>X</strong>berikatan dengan oksigen, maka yang akan terjadi adalah ….</p>
58 <ol><li>glukosa yang dihasilkan akan semakin besar</li>
58 <ol><li>glukosa yang dihasilkan akan semakin besar</li>
59 <li>peningkatan kadar karbon dioksida di mesofil daun</li>
59 <li>peningkatan kadar karbon dioksida di mesofil daun</li>
60 <li>hasil fotosintesis akan menurun</li>
60 <li>hasil fotosintesis akan menurun</li>
61 <li>reaksi akan menghasilkan energi</li>
61 <li>reaksi akan menghasilkan energi</li>
62 <li>terbentuk oksigen yang akan dilepaskan ke atmosfer</li>
62 <li>terbentuk oksigen yang akan dilepaskan ke atmosfer</li>
63 </ol><p><strong>Jawaban : C</strong></p>
63 </ol><p><strong>Jawaban : C</strong></p>
64 <p><strong>Pembahasan:</strong>Proses yang terjadi pada gambar merupakan reaksi gelap atau siklus calvin. Reaksi ini diawali dengan pengikatan senyawa oleh RuBP (ditandai oleh huruf X). Apabila RuBP berikatan dengan oksigen akan menyebabkan terjadinya fotorespirasi. Fotorespirasi tidak menghasilkan glukosa sebagai hasil akhir. Hal tersebut menyebabkan penurunan hasil fotosintesis.</p>
64 <p><strong>Pembahasan:</strong>Proses yang terjadi pada gambar merupakan reaksi gelap atau siklus calvin. Reaksi ini diawali dengan pengikatan senyawa oleh RuBP (ditandai oleh huruf X). Apabila RuBP berikatan dengan oksigen akan menyebabkan terjadinya fotorespirasi. Fotorespirasi tidak menghasilkan glukosa sebagai hasil akhir. Hal tersebut menyebabkan penurunan hasil fotosintesis.</p>
65 <p><strong>Dengan demikian, pilihan jawaban yang tepat adalah C.</strong><strong></strong><strong></strong></p>
65 <p><strong>Dengan demikian, pilihan jawaban yang tepat adalah C.</strong><strong></strong><strong></strong></p>
66 <h2><strong>Topik:<a>Klasifikasi Makhluk Hidup</a></strong></h2>
66 <h2><strong>Topik:<a>Klasifikasi Makhluk Hidup</a></strong></h2>
67 <p><strong>Subtopik: Animalia</strong></p>
67 <p><strong>Subtopik: Animalia</strong></p>
68 <p><strong>Level: Hots</strong></p>
68 <p><strong>Level: Hots</strong></p>
69 <p><strong>Perhatikan tabel berikut ini!</strong></p>
69 <p><strong>Perhatikan tabel berikut ini!</strong></p>
70 <p>5. Contoh insekta dari subkelas apterygota ditunjukan oleh nomor ….</p>
70 <p>5. Contoh insekta dari subkelas apterygota ditunjukan oleh nomor ….</p>
71 <ol><li>1</li>
71 <ol><li>1</li>
72 <li>2</li>
72 <li>2</li>
73 <li>3</li>
73 <li>3</li>
74 <li>4</li>
74 <li>4</li>
75 <li>5</li>
75 <li>5</li>
76 </ol><p><strong>Jawaban: A</strong></p>
76 </ol><p><strong>Jawaban: A</strong></p>
77 <p><strong>Pembahasan:</strong></p>
77 <p><strong>Pembahasan:</strong></p>
78 <p>Kelas insekta terbagi ke dalam dua subkelas: apterygota dan pterygota. Karakteristik anggota apterygota adalah tidak bersayap dan tidak bermetamorfosis. Sementara itu, karakteristik anggota pterygota umumnya bersayap dan bisa bermetamorfosis, meskipun ada pula yang tidak bersayap karena sayapnya tereduksi selama proses evolusi.</p>
78 <p>Kelas insekta terbagi ke dalam dua subkelas: apterygota dan pterygota. Karakteristik anggota apterygota adalah tidak bersayap dan tidak bermetamorfosis. Sementara itu, karakteristik anggota pterygota umumnya bersayap dan bisa bermetamorfosis, meskipun ada pula yang tidak bersayap karena sayapnya tereduksi selama proses evolusi.</p>
79 <p>Untuk dapat menjawab soal, hewan di dalam tabel harus diidentifikasi terlebih dahulu dan dilihat karakteristiknya berdasarkan keberadaan sayap dan kemampuan melakukan metamorfosis, seperti berikut:</p>
79 <p>Untuk dapat menjawab soal, hewan di dalam tabel harus diidentifikasi terlebih dahulu dan dilihat karakteristiknya berdasarkan keberadaan sayap dan kemampuan melakukan metamorfosis, seperti berikut:</p>
80 <p>Berdasarkan tabel tersebut, anggota subkelas apterygota adalah nomor 1. Sementara itu, nomor 2-4 merupakan anggota subkelas pterygota.</p>
80 <p>Berdasarkan tabel tersebut, anggota subkelas apterygota adalah nomor 1. Sementara itu, nomor 2-4 merupakan anggota subkelas pterygota.</p>
81 <p><strong>Dengan demikian, pilihan jawaban yang tepat adalah A</strong>.</p>
81 <p><strong>Dengan demikian, pilihan jawaban yang tepat adalah A</strong>.</p>
82 <h2><strong>Topik:<a>Struktur dan Fungsi Jaringan pada Tumbuhan</a></strong></h2>
82 <h2><strong>Topik:<a>Struktur dan Fungsi Jaringan pada Tumbuhan</a></strong></h2>
83 <p><strong>Subtopik: Jaringan Pelindung</strong></p>
83 <p><strong>Subtopik: Jaringan Pelindung</strong></p>
84 <p>6. Membuka dan menutupnya stomata dipengaruhi oleh banyak faktor. Stomata akan menutup apabila….</p>
84 <p>6. Membuka dan menutupnya stomata dipengaruhi oleh banyak faktor. Stomata akan menutup apabila….</p>
85 <ol><li>kadar ion K+ di dalam sel penjaga meningkat</li>
85 <ol><li>kadar ion K+ di dalam sel penjaga meningkat</li>
86 <li>tekanan turgor menurun</li>
86 <li>tekanan turgor menurun</li>
87 <li>air masuk ke dalam sel penjaga</li>
87 <li>air masuk ke dalam sel penjaga</li>
88 <li>potensial air pada sel penjaga menurun</li>
88 <li>potensial air pada sel penjaga menurun</li>
89 <li>sel penjaga berada dalam kondisi turgid</li>
89 <li>sel penjaga berada dalam kondisi turgid</li>
90 </ol><p><strong>Jawaban: B</strong></p>
90 </ol><p><strong>Jawaban: B</strong></p>
91 <p><strong>Pembahasan:</strong></p>
91 <p><strong>Pembahasan:</strong></p>
92 <p>Ketika sel-sel penjaga mengeluarkan ion K+ melalui proses transport aktif, maka stomata akan menutup. Menurunnya kadar zat terlarut di dalam sitoplasma sel penjaga, menyebabkan potensial air di dalam sel menjadi meningkat. Akibatnya, air akan berosmosis ke luar dari sel penjaga, sehingga sel penjaga berada dalam kondisi <i>flaccid</i> atau tidak turgor. Saat berada dalam kondisi ini, kedua sel penjaga akan berdekatan sehingga celah stomata menjadi menutup. Dengan demikian jawaban yang tepat adalah B.</p>
92 <p>Ketika sel-sel penjaga mengeluarkan ion K+ melalui proses transport aktif, maka stomata akan menutup. Menurunnya kadar zat terlarut di dalam sitoplasma sel penjaga, menyebabkan potensial air di dalam sel menjadi meningkat. Akibatnya, air akan berosmosis ke luar dari sel penjaga, sehingga sel penjaga berada dalam kondisi <i>flaccid</i> atau tidak turgor. Saat berada dalam kondisi ini, kedua sel penjaga akan berdekatan sehingga celah stomata menjadi menutup. Dengan demikian jawaban yang tepat adalah B.</p>
93 <h2><strong>Topik:<a>Enzim</a></strong></h2>
93 <h2><strong>Topik:<a>Enzim</a></strong></h2>
94 <p><strong>Subtopik: Faktor yang mempengaruhi kerja enzim</strong></p>
94 <p><strong>Subtopik: Faktor yang mempengaruhi kerja enzim</strong></p>
95 <p>7. Seorang siswa kelas XII melakukan sebuah reaksi untuk mengetahui pengaruh senyawa X terhadap kerja enzim katalase. Dari hasil percobaan diketahui bahwa pemberian senyawa X menyebabkan air dan gas oksigen tidak dihasilkan dari reaksi tersebut. Setelah dilakukan penambahan konsentrasi , ternyata gas oksigen dan air yang dihasilkan meningkat. Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa…</p>
95 <p>7. Seorang siswa kelas XII melakukan sebuah reaksi untuk mengetahui pengaruh senyawa X terhadap kerja enzim katalase. Dari hasil percobaan diketahui bahwa pemberian senyawa X menyebabkan air dan gas oksigen tidak dihasilkan dari reaksi tersebut. Setelah dilakukan penambahan konsentrasi , ternyata gas oksigen dan air yang dihasilkan meningkat. Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa…</p>
96 <ol><li>Senyawa X merupakan inhibitor kompetitif</li>
96 <ol><li>Senyawa X merupakan inhibitor kompetitif</li>
97 <li>Senyawa X merupakan inhibitor nonkompetitif</li>
97 <li>Senyawa X merupakan inhibitor nonkompetitif</li>
98 <li>Senyawa X merupakan aktivator enzim katalase</li>
98 <li>Senyawa X merupakan aktivator enzim katalase</li>
99 <li>Senyawa X merupakan bagian non-protein penyusun enzim katalase</li>
99 <li>Senyawa X merupakan bagian non-protein penyusun enzim katalase</li>
100 <li>Senyawa X merupakan kofaktor yang meningkatkan kerja enzim katalase</li>
100 <li>Senyawa X merupakan kofaktor yang meningkatkan kerja enzim katalase</li>
101 </ol><p><strong>Jawaban: A</strong></p>
101 </ol><p><strong>Jawaban: A</strong></p>
102 <p><strong>Pembahasan: </strong></p>
102 <p><strong>Pembahasan: </strong></p>
103 <p>Inhibitor merupakan senyawa yang dapat menghambat kerja suatu enzim. Terdapat dua jenis inhibitor yaitu inhibitor kompetitif dan inhibitor nonkompetitif. Inhibitor kompetitif memiliki bentuk yang mirip dengan substrat sehingga akan berkompetisi dengan substrat untuk berikatan di sisi aktif enzim.</p>
103 <p>Inhibitor merupakan senyawa yang dapat menghambat kerja suatu enzim. Terdapat dua jenis inhibitor yaitu inhibitor kompetitif dan inhibitor nonkompetitif. Inhibitor kompetitif memiliki bentuk yang mirip dengan substrat sehingga akan berkompetisi dengan substrat untuk berikatan di sisi aktif enzim.</p>
104 <p>Penambahan substrat akan menurunkan efek inhibitor kompetitif. Sementara itu, inhibitor nonkompetitif mengganggu kerja enzim dengan cara berikatan di bagian lain enzim dan merubah bentuk sisi aktifnya, sehingga substrat tidak dapat berikatan di sisi aktif enzim. Penambahan substrat tidak berpengaruh terhadap efek inhibitor nonkompetitif.</p>
104 <p>Penambahan substrat akan menurunkan efek inhibitor kompetitif. Sementara itu, inhibitor nonkompetitif mengganggu kerja enzim dengan cara berikatan di bagian lain enzim dan merubah bentuk sisi aktifnya, sehingga substrat tidak dapat berikatan di sisi aktif enzim. Penambahan substrat tidak berpengaruh terhadap efek inhibitor nonkompetitif.</p>
105 <p>Berdasarkan data di atas, diketahui bahwa setelah dilakukan penambahan (substrat), maka terjadi peningkatan produk reaksi. Penambahan substrat menurunkan efek inhibitor (senyawa X), sehingga dapat disimpulkan bahwa senyawa X merupakan inhibitor kompetitif yang mengganggu kerja enzim katalase. Dengan demikian jawaban yang tepat adalah A.</p>
105 <p>Berdasarkan data di atas, diketahui bahwa setelah dilakukan penambahan (substrat), maka terjadi peningkatan produk reaksi. Penambahan substrat menurunkan efek inhibitor (senyawa X), sehingga dapat disimpulkan bahwa senyawa X merupakan inhibitor kompetitif yang mengganggu kerja enzim katalase. Dengan demikian jawaban yang tepat adalah A.</p>
106 <h2><strong>Topik: Materi genetik</strong></h2>
106 <h2><strong>Topik: Materi genetik</strong></h2>
107 <p><strong>Subtopik:<a>DNA dan RNA</a></strong></p>
107 <p><strong>Subtopik:<a>DNA dan RNA</a></strong></p>
108 <p>8. Michael memiliki lima sampel DNA yang diisolasi dari individu berbeda. Ia kemudian memanaskan sampel tersebut hingga suhu yang menyebabkan terjadinya denaturasi DNA. Hasilnya kemudian disajikan pada tabel berikut ini :</p>
108 <p>8. Michael memiliki lima sampel DNA yang diisolasi dari individu berbeda. Ia kemudian memanaskan sampel tersebut hingga suhu yang menyebabkan terjadinya denaturasi DNA. Hasilnya kemudian disajikan pada tabel berikut ini :</p>
109 Sampel Suhu untuk denaturasi (0C) 1 43 2 82 3 40 4 35 5 25<p>Pernyataan yang benar tentang komposisi nukleotida masing-masing sampel Michael adalah…</p>
109 Sampel Suhu untuk denaturasi (0C) 1 43 2 82 3 40 4 35 5 25<p>Pernyataan yang benar tentang komposisi nukleotida masing-masing sampel Michael adalah…</p>
110 <ol><li>Sampel 1 memiliki lebih banyak pasangan basa nitrogen guanin-sitosin dibandingkan sampel 2</li>
110 <ol><li>Sampel 1 memiliki lebih banyak pasangan basa nitrogen guanin-sitosin dibandingkan sampel 2</li>
111 <li>Sampel 2 memiliki lebih banyak pasangan basa nitrogen adenin-timin dibandingkan sampel 3</li>
111 <li>Sampel 2 memiliki lebih banyak pasangan basa nitrogen adenin-timin dibandingkan sampel 3</li>
112 <li>Sampel 3 memiliki lebih sedikit pasangan basa nitrogen guanin-sitosin dibandingkan sampel 2</li>
112 <li>Sampel 3 memiliki lebih sedikit pasangan basa nitrogen guanin-sitosin dibandingkan sampel 2</li>
113 <li>Sampel 4 memiliki lebih sedikit pasangan basa nitrogen adenin-timin dibandingkan basa nitrogen 3</li>
113 <li>Sampel 4 memiliki lebih sedikit pasangan basa nitrogen adenin-timin dibandingkan basa nitrogen 3</li>
114 <li>Sampel 5 memiliki lebih sedikit pasangan basa nitrogen adenin-timin dibandingkan basa nitrogen 4</li>
114 <li>Sampel 5 memiliki lebih sedikit pasangan basa nitrogen adenin-timin dibandingkan basa nitrogen 4</li>
115 </ol><p><strong>Jawaban</strong><strong>: C</strong></p>
115 </ol><p><strong>Jawaban</strong><strong>: C</strong></p>
116 <p><strong>Pembahasan</strong><strong>:</strong></p>
116 <p><strong>Pembahasan</strong><strong>:</strong></p>
117 <p>Komposisi nukleotida mempengaruhi suhu yang diperlukan untuk mendenaturasi suatu rantai DNA. Semakin banyak pasangan G-C menyebabkan semakin tinggi suhu yang diperlukan untuk denaturasi. Hal ini dikarenakan basa nitrogen G-C dihubungkan oleh tiga ikatan hidrogen, sementara A-T hanya dihubungkan oleh dua pasang ikatan hidrogen.</p>
117 <p>Komposisi nukleotida mempengaruhi suhu yang diperlukan untuk mendenaturasi suatu rantai DNA. Semakin banyak pasangan G-C menyebabkan semakin tinggi suhu yang diperlukan untuk denaturasi. Hal ini dikarenakan basa nitrogen G-C dihubungkan oleh tiga ikatan hidrogen, sementara A-T hanya dihubungkan oleh dua pasang ikatan hidrogen.</p>
118 <p>Berdasarkan pernyataan di atas, maka sampel 2 memiliki kandungan G-C yang paling banyak dan sampel 5 memiliki kandungan G-C yang paling sedikit. Jika kandungan G-C tinggi maka kandungan A-T rendah, demikian sebaliknya. Sehingga jawaban yang paling tepat adalah C. Dengan demikian, pilihan jawaban yang tepat adalah C.</p>
118 <p>Berdasarkan pernyataan di atas, maka sampel 2 memiliki kandungan G-C yang paling banyak dan sampel 5 memiliki kandungan G-C yang paling sedikit. Jika kandungan G-C tinggi maka kandungan A-T rendah, demikian sebaliknya. Sehingga jawaban yang paling tepat adalah C. Dengan demikian, pilihan jawaban yang tepat adalah C.</p>
119 <h2><strong>Topik: Anabolisme</strong></h2>
119 <h2><strong>Topik: Anabolisme</strong></h2>
120 <p><strong>Subtopik:<a>Kemosintesis</a></strong></p>
120 <p><strong>Subtopik:<a>Kemosintesis</a></strong></p>
121 <p>Perhatikan reaksi kemosintesis di bawah ini!</p>
121 <p>Perhatikan reaksi kemosintesis di bawah ini!</p>
122 <p>9. Bakteri yang membantu proses kemosintesis tersebut adalah….</p>
122 <p>9. Bakteri yang membantu proses kemosintesis tersebut adalah….</p>
123 <ol><li><i>Rhizobium</i></li>
123 <ol><li><i>Rhizobium</i></li>
124 <li><i>Azotobacter</i></li>
124 <li><i>Azotobacter</i></li>
125 <li><i>Nitrobacter</i></li>
125 <li><i>Nitrobacter</i></li>
126 <li><i>Clostridium</i></li>
126 <li><i>Clostridium</i></li>
127 <li><i>Nitrosomonas</i></li>
127 <li><i>Nitrosomonas</i></li>
128 </ol><p><strong>Jawaban: E</strong></p>
128 </ol><p><strong>Jawaban: E</strong></p>
129 <p><strong>Pembahasan</strong><strong>: </strong>Bakteri yang membantu proses kemosintesis tersebut adalah bakteri nitrifikasi. Bakteri nitrifikasi adalah kelompok bakteri yang mampu menyusun senyawa nitrat dari senyawa amonia yang pada umumnya berlangsung secara aerob di dalam tanah. Proses nitrifikasi terdiri dari dua tahapan yaitu nitritasi dan nitratasi. Proses pembentukan senyawa nitrit dari senyawa amonium karbonat merupakan proses nitritasi. Proses ini dilakukan oleh bakteri <i>Nitrosomonas</i> dan <i>Nitrosococcus</i>.</p>
129 <p><strong>Pembahasan</strong><strong>: </strong>Bakteri yang membantu proses kemosintesis tersebut adalah bakteri nitrifikasi. Bakteri nitrifikasi adalah kelompok bakteri yang mampu menyusun senyawa nitrat dari senyawa amonia yang pada umumnya berlangsung secara aerob di dalam tanah. Proses nitrifikasi terdiri dari dua tahapan yaitu nitritasi dan nitratasi. Proses pembentukan senyawa nitrit dari senyawa amonium karbonat merupakan proses nitritasi. Proses ini dilakukan oleh bakteri <i>Nitrosomonas</i> dan <i>Nitrosococcus</i>.</p>
130 <p><strong>Topik: Struktur dan Fungsi Jaringan pada Tumbuhan</strong></p>
130 <p><strong>Topik: Struktur dan Fungsi Jaringan pada Tumbuhan</strong></p>
131 <p><strong>Subtopik: Jaringan meristem</strong></p>
131 <p><strong>Subtopik: Jaringan meristem</strong></p>
132 <p>10. Diameter batang pohon mangga jauh lebih lebar dibandingkan dengan diameter batang jagung . Hal ini karena batang pohon mangga memiliki ….</p>
132 <p>10. Diameter batang pohon mangga jauh lebih lebar dibandingkan dengan diameter batang jagung . Hal ini karena batang pohon mangga memiliki ….</p>
133 <ol><li>meristem apikal</li>
133 <ol><li>meristem apikal</li>
134 <li>meristem primer</li>
134 <li>meristem primer</li>
135 <li>meristem sekunder</li>
135 <li>meristem sekunder</li>
136 <li>meristem interkalar</li>
136 <li>meristem interkalar</li>
137 <li>meristem aksilar</li>
137 <li>meristem aksilar</li>
138 </ol><p><strong>Jawaban: C</strong></p>
138 </ol><p><strong>Jawaban: C</strong></p>
139 <p><strong>Pembahasan:</strong></p>
139 <p><strong>Pembahasan:</strong></p>
140 <p>Penambahan diameter batang terjadi karena adanya aktivitas meristem sekunder yaitu kambium. Pohon mangga bisa melakukan pertumbuhan sekunder karena memiliki jaringan meristem sekunder atau kambium pada batangnya. Karena itu, ukuran batangnya lebih lebar. Sebaliknya, jagung termasuk tumbuhan monokotil yang tidak memiliki kambium sehingga tidak dapat melakukan pertumbuhan sekunder. Dengan demikian jawaban yang tepat adalah C.</p>
140 <p>Penambahan diameter batang terjadi karena adanya aktivitas meristem sekunder yaitu kambium. Pohon mangga bisa melakukan pertumbuhan sekunder karena memiliki jaringan meristem sekunder atau kambium pada batangnya. Karena itu, ukuran batangnya lebih lebar. Sebaliknya, jagung termasuk tumbuhan monokotil yang tidak memiliki kambium sehingga tidak dapat melakukan pertumbuhan sekunder. Dengan demikian jawaban yang tepat adalah C.</p>
141 <h2><strong>Topik: Bacteria dan Archaebacteria</strong></h2>
141 <h2><strong>Topik: Bacteria dan Archaebacteria</strong></h2>
142 <p><strong>Subtopik: Klasifikasi bakteri</strong></p>
142 <p><strong>Subtopik: Klasifikasi bakteri</strong></p>
143 <p>11. Struktur filamen pada cyanobacteria yang merupakan modifikasi dari sel vegetatif yang memiliki fungsi sebagai tempat terjadinya fiksasi atau pengikatan nitrogen adalah ….</p>
143 <p>11. Struktur filamen pada cyanobacteria yang merupakan modifikasi dari sel vegetatif yang memiliki fungsi sebagai tempat terjadinya fiksasi atau pengikatan nitrogen adalah ….</p>
144 <ol><li>hormogonium</li>
144 <ol><li>hormogonium</li>
145 <li>heterocyst</li>
145 <li>heterocyst</li>
146 <li>akinet</li>
146 <li>akinet</li>
147 <li>kapsul</li>
147 <li>kapsul</li>
148 <li>dinding sel</li>
148 <li>dinding sel</li>
149 </ol><p><strong>Jawaban: B</strong></p>
149 </ol><p><strong>Jawaban: B</strong></p>
150 <p><strong>Pembahasan:</strong></p>
150 <p><strong>Pembahasan:</strong></p>
151 <p>Struktur filamen pada cyanobacteria beserta fungsinya:</p>
151 <p>Struktur filamen pada cyanobacteria beserta fungsinya:</p>
152 <ol><li>hormogonium: fragmen pendek dari filamen yang terputus atau berpisah dari filamen induk melalui fragmentasi dan dapat membentuk individu baru.</li>
152 <ol><li>hormogonium: fragmen pendek dari filamen yang terputus atau berpisah dari filamen induk melalui fragmentasi dan dapat membentuk individu baru.</li>
153 <li>heterocyst: modifikasi dari sel vegetatif yang memiliki fungsi sebagai tempat terjadinya fiksasi atau pengikatan nitrogen.</li>
153 <li>heterocyst: modifikasi dari sel vegetatif yang memiliki fungsi sebagai tempat terjadinya fiksasi atau pengikatan nitrogen.</li>
154 <li>akinet: sel vegetatif yang terbentuk saat lingkungan kurang menguntungkan. Berperan untuk melindungi cyanobacteria pada lingkungan tidak menguntungkan.</li>
154 <li>akinet: sel vegetatif yang terbentuk saat lingkungan kurang menguntungkan. Berperan untuk melindungi cyanobacteria pada lingkungan tidak menguntungkan.</li>
155 </ol><p>Dengan demikian jawaban yang tepat adalah B.</p>
155 </ol><p>Dengan demikian jawaban yang tepat adalah B.</p>
156 <h2><strong>Topik:<a>Animalia</a></strong></h2>
156 <h2><strong>Topik:<a>Animalia</a></strong></h2>
157 <p><strong>Subtopik: Klasifikasi animalia</strong></p>
157 <p><strong>Subtopik: Klasifikasi animalia</strong></p>
158 <p>12. Karakter yang dapat ditemukan pada Molusca adalah ….</p>
158 <p>12. Karakter yang dapat ditemukan pada Molusca adalah ….</p>
159 <ol><li>merupakan hewan uniseluler</li>
159 <ol><li>merupakan hewan uniseluler</li>
160 <li>memiliki tulang belakang</li>
160 <li>memiliki tulang belakang</li>
161 <li>tubuh simetri bilateral</li>
161 <li>tubuh simetri bilateral</li>
162 <li>bentuk tubuh diploblastik</li>
162 <li>bentuk tubuh diploblastik</li>
163 <li>tubuh beruas-ruas</li>
163 <li>tubuh beruas-ruas</li>
164 </ol><p><strong>Jawaban: C</strong></p>
164 </ol><p><strong>Jawaban: C</strong></p>
165 <p><strong>Pembahasan:</strong></p>
165 <p><strong>Pembahasan:</strong></p>
166 <p>Molusca merupakan hewan bertubuh lunak dan tidak memiliki ruas pada tubuhnya. Hewan dalam kelompok ini merupakan hewan multiseluler karena tubuhnya terdiri dari banyak sel. Molusca merupakan hewan avertebrata atau tidak memiliki tulang belakang. Simetri tubuh yaitu simetri bilateral yaitu memiliki sisi kanan dan sisi kiri tubuh yang sama apabila ditarik garis sumbu vertikal pada tubuhnya. Dengan demikian jawaban yang tepat adalah C.</p>
166 <p>Molusca merupakan hewan bertubuh lunak dan tidak memiliki ruas pada tubuhnya. Hewan dalam kelompok ini merupakan hewan multiseluler karena tubuhnya terdiri dari banyak sel. Molusca merupakan hewan avertebrata atau tidak memiliki tulang belakang. Simetri tubuh yaitu simetri bilateral yaitu memiliki sisi kanan dan sisi kiri tubuh yang sama apabila ditarik garis sumbu vertikal pada tubuhnya. Dengan demikian jawaban yang tepat adalah C.</p>
167 <p><strong>Topik: Struktur dan Fungsi Jaringan pada Tumbuhan</strong></p>
167 <p><strong>Topik: Struktur dan Fungsi Jaringan pada Tumbuhan</strong></p>
168 <p><strong>Subtopik: Jaringan pelindung</strong></p>
168 <p><strong>Subtopik: Jaringan pelindung</strong></p>
169 <p>13. Struktur yang dimiliki oleh akar tanaman anggrek untuk melindungi anggrek dari kekeringan adalah ….</p>
169 <p>13. Struktur yang dimiliki oleh akar tanaman anggrek untuk melindungi anggrek dari kekeringan adalah ….</p>
170 <ol><li>sel kipas</li>
170 <ol><li>sel kipas</li>
171 <li>sel kersik</li>
171 <li>sel kersik</li>
172 <li>velamen</li>
172 <li>velamen</li>
173 <li>litokis</li>
173 <li>litokis</li>
174 <li>emergensia</li>
174 <li>emergensia</li>
175 </ol><p><strong>Jawaban: C</strong></p>
175 </ol><p><strong>Jawaban: C</strong></p>
176 <p><strong>Pembahasan:</strong></p>
176 <p><strong>Pembahasan:</strong></p>
177 <p>Pada akar aerial anggrek terdapat derivat epidermis berupa velamen. Velamen berupa lapisan epidermis yang berlapis-lapis. Velamen ini berfungsi untuk melindungi anggrek dari kekeringan karena dapat membantu penyerapan air dalam bentuk uap air. Dengan demikian jawaban yang tepat adalah C.</p>
177 <p>Pada akar aerial anggrek terdapat derivat epidermis berupa velamen. Velamen berupa lapisan epidermis yang berlapis-lapis. Velamen ini berfungsi untuk melindungi anggrek dari kekeringan karena dapat membantu penyerapan air dalam bentuk uap air. Dengan demikian jawaban yang tepat adalah C.</p>
178 <p><strong>Topik: Bacteria dan Archaebacteria</strong></p>
178 <p><strong>Topik: Bacteria dan Archaebacteria</strong></p>
179 <p><strong>Subtopik: Klasifikasi bakteri</strong></p>
179 <p><strong>Subtopik: Klasifikasi bakteri</strong></p>
180 <p>14. Kelompok bakteri gram negatif yang bersifat non motil dan menjadi parasit obligat pada suatu sel inang serta memiliki peptidoglikan yang sangat sedikit adalah ….</p>
180 <p>14. Kelompok bakteri gram negatif yang bersifat non motil dan menjadi parasit obligat pada suatu sel inang serta memiliki peptidoglikan yang sangat sedikit adalah ….</p>
181 <ol><li>gram positif</li>
181 <ol><li>gram positif</li>
182 <li>spirochetes</li>
182 <li>spirochetes</li>
183 <li>chlamydia</li>
183 <li>chlamydia</li>
184 <li>proteobacteria</li>
184 <li>proteobacteria</li>
185 <li>cyanobacteria</li>
185 <li>cyanobacteria</li>
186 </ol><p><strong>Jawaban: C</strong></p>
186 </ol><p><strong>Jawaban: C</strong></p>
187 <p><strong>Pembahasan:</strong></p>
187 <p><strong>Pembahasan:</strong></p>
188 <p>Chlamydia merupakan kelompok bakteri gram negatif dan non motil yang menjadi parasit obligat pada suatu sel inang. Parasit obligat artinya hanya dapat hidup pada sel inang atau sebagai parasit penuh pada sel inang. Chlamydia umumnya memiliki sel inang yakni manusia dan hewan. Chlamydia memiliki dinding sel yang berbeda dari dinding sel bakteri pada umumnya yaitu dinding sel nya tersusun atas peptidoglikan yang sangat sedikit. Dengan demikian jawaban yang tepat adalah C.</p>
188 <p>Chlamydia merupakan kelompok bakteri gram negatif dan non motil yang menjadi parasit obligat pada suatu sel inang. Parasit obligat artinya hanya dapat hidup pada sel inang atau sebagai parasit penuh pada sel inang. Chlamydia umumnya memiliki sel inang yakni manusia dan hewan. Chlamydia memiliki dinding sel yang berbeda dari dinding sel bakteri pada umumnya yaitu dinding sel nya tersusun atas peptidoglikan yang sangat sedikit. Dengan demikian jawaban yang tepat adalah C.</p>
189 <p><strong>Topik: Struktur dan Fungsi Jaringan pada Tumbuhan</strong></p>
189 <p><strong>Topik: Struktur dan Fungsi Jaringan pada Tumbuhan</strong></p>
190 <p><strong>Subtopik: Jaringan pelindung</strong></p>
190 <p><strong>Subtopik: Jaringan pelindung</strong></p>
191 <p>15. Emergensia atau duri palsu pada tanaman sulit dilepaskan dari tanaman</p>
191 <p>15. Emergensia atau duri palsu pada tanaman sulit dilepaskan dari tanaman</p>
192 <p>SEBAB</p>
192 <p>SEBAB</p>
193 <p>Emergensia merupakan tonjolan epidermis yang berasal dari silinder vaskuler atau stele</p>
193 <p>Emergensia merupakan tonjolan epidermis yang berasal dari silinder vaskuler atau stele</p>
194 <p><strong>Jawaban: E</strong></p>
194 <p><strong>Jawaban: E</strong></p>
195 <p><strong>Pembahasan:</strong></p>
195 <p><strong>Pembahasan:</strong></p>
196 <p>Emergensia atau duri palsu merupakan derivat epidermis berupa tonjolan seperti duri yang berfungsi untuk melindungi tumbuhan dari serangan herbivora. Emergensia berasal dari bagian epidermis dan sub-epidermis sehingga mudah dilepaskan dari tumbuhan. Dengan demikian jawaban yang tepat adalah E.</p>
196 <p>Emergensia atau duri palsu merupakan derivat epidermis berupa tonjolan seperti duri yang berfungsi untuk melindungi tumbuhan dari serangan herbivora. Emergensia berasal dari bagian epidermis dan sub-epidermis sehingga mudah dilepaskan dari tumbuhan. Dengan demikian jawaban yang tepat adalah E.</p>
197 <h2><strong>Topik: Ekologi</strong></h2>
197 <h2><strong>Topik: Ekologi</strong></h2>
198 <p><strong>Subtopik: Aliran energi</strong></p>
198 <p><strong>Subtopik: Aliran energi</strong></p>
199 <p>16. Pada suatu ekosistem, jika diketahui biomassa sebesar 45.000 gram, maka besarnya biomassa konsumen kedua dan konsumen keempat berturut turut adalah 450 gram dan 4,5 gram.</p>
199 <p>16. Pada suatu ekosistem, jika diketahui biomassa sebesar 45.000 gram, maka besarnya biomassa konsumen kedua dan konsumen keempat berturut turut adalah 450 gram dan 4,5 gram.</p>
200 <p>SEBAB</p>
200 <p>SEBAB</p>
201 <p>Efisiensi ekologi umumnya 15% pada ekosistem yang stabil, sehingga akan mempengaruhi biomassa pada konsumen, termasuk konsumen kedua dan keempat.</p>
201 <p>Efisiensi ekologi umumnya 15% pada ekosistem yang stabil, sehingga akan mempengaruhi biomassa pada konsumen, termasuk konsumen kedua dan keempat.</p>
202 <p><strong>Jawaban</strong><strong>: D</strong></p>
202 <p><strong>Jawaban</strong><strong>: D</strong></p>
203 <p><strong>Pembahasan</strong><strong>:</strong></p>
203 <p><strong>Pembahasan</strong><strong>:</strong></p>
204 <p>Jika diketahui biomassa sebesar 45.000 gram, dengan besarnya efisiensi biomassa pada ekosistem stabil sebesar 10%, maka biomassa pada:</p>
204 <p>Jika diketahui biomassa sebesar 45.000 gram, dengan besarnya efisiensi biomassa pada ekosistem stabil sebesar 10%, maka biomassa pada:</p>
205 <p>Konsumen tingkat 1: 10% x 45.000 gram = 4500 gram</p>
205 <p>Konsumen tingkat 1: 10% x 45.000 gram = 4500 gram</p>
206 <p>Konsumen tingkat 2: 10% x 4500 gram = 450 gram</p>
206 <p>Konsumen tingkat 2: 10% x 4500 gram = 450 gram</p>
207 <p>Konsumen tingkat 3: 10% x 450 gram = 45 gram</p>
207 <p>Konsumen tingkat 3: 10% x 450 gram = 45 gram</p>
208 <p>Konsumen tingkat 4: 10% x 45 gram = 4,5 gram</p>
208 <p>Konsumen tingkat 4: 10% x 45 gram = 4,5 gram</p>
209 <p>Efisiensi ekologi umumnya 10% pada ekosistem yang stabil, sehingga akan mempengaruhi biomassa pada konsumen, termasuk konsumen kedua dan keempat. Semakin tinggi tingkat tropik dari suatu konsumen maka biomassanya semakin berkurang. Pernyataan pertama benar sedangkan alasan salah. Dengan demikian, pilihan jawaban yang tepat adalah C.</p>
209 <p>Efisiensi ekologi umumnya 10% pada ekosistem yang stabil, sehingga akan mempengaruhi biomassa pada konsumen, termasuk konsumen kedua dan keempat. Semakin tinggi tingkat tropik dari suatu konsumen maka biomassanya semakin berkurang. Pernyataan pertama benar sedangkan alasan salah. Dengan demikian, pilihan jawaban yang tepat adalah C.</p>
210 <h2><strong>Topik: Pertumbuhan dan Perkembangan Tumbuhan</strong></h2>
210 <h2><strong>Topik: Pertumbuhan dan Perkembangan Tumbuhan</strong></h2>
211 <p><strong>Subtopik: Faktor Pertumbuhan dan Perkembangan Tumbuhan</strong></p>
211 <p><strong>Subtopik: Faktor Pertumbuhan dan Perkembangan Tumbuhan</strong></p>
212 <p>17. Petani memotong ujung-ujung batang atau pucuk agar tanaman menjadi rimbun</p>
212 <p>17. Petani memotong ujung-ujung batang atau pucuk agar tanaman menjadi rimbun</p>
213 <p>SEBAB</p>
213 <p>SEBAB</p>
214 <p>Pemotongan ujung batang akan merangsang kerja hormon auksin</p>
214 <p>Pemotongan ujung batang akan merangsang kerja hormon auksin</p>
215 <p><strong>Jawaban: C</strong></p>
215 <p><strong>Jawaban: C</strong></p>
216 <p><strong>Pembahasan:</strong></p>
216 <p><strong>Pembahasan:</strong></p>
217 <p>Cara untuk menghambat kerja hormon auksin adalah dengan memotong ujung-ujung batang atau pucuk suatu tanaman. Terhambatnya auksin menyebabkan hormon sitokinin bekerja dalam pembentukan tunas lateral. Tunas lateral akan membentuk cabang-cabang pohon yang menyebabkan pohon menjadi lebih rindang. Jadi pernyataan benar namun alasan salah. Dengan demikian jawaban yang tepat adalah C.</p>
217 <p>Cara untuk menghambat kerja hormon auksin adalah dengan memotong ujung-ujung batang atau pucuk suatu tanaman. Terhambatnya auksin menyebabkan hormon sitokinin bekerja dalam pembentukan tunas lateral. Tunas lateral akan membentuk cabang-cabang pohon yang menyebabkan pohon menjadi lebih rindang. Jadi pernyataan benar namun alasan salah. Dengan demikian jawaban yang tepat adalah C.</p>
218 <h2><strong>Topik: Katabolisme</strong></h2>
218 <h2><strong>Topik: Katabolisme</strong></h2>
219 <p><strong>Subtopik: Katabolisme Glukosa non-Oksigen</strong></p>
219 <p><strong>Subtopik: Katabolisme Glukosa non-Oksigen</strong></p>
220 <p>18. Ketika pada kondisi minim oksigen, pembentukan energi pada sel otot dilakukan melalui fermentasi</p>
220 <p>18. Ketika pada kondisi minim oksigen, pembentukan energi pada sel otot dilakukan melalui fermentasi</p>
221 <p>SEBAB</p>
221 <p>SEBAB</p>
222 <p>Fermentasi dapat menghasilkan energi tanpa membutuhkan oksigen</p>
222 <p>Fermentasi dapat menghasilkan energi tanpa membutuhkan oksigen</p>
223 <p><strong>Jawaban: A</strong></p>
223 <p><strong>Jawaban: A</strong></p>
224 <p><strong>Pembahasan:</strong></p>
224 <p><strong>Pembahasan:</strong></p>
225 <p>Pada kondisi cukup oksigen, sel otot akan melakukan respirasi aerob untuk menghasilkan energi. Respirasi aerob membutuhkan oksigen sehingga tidak dapat berlangsung tanpa adanya oksigen yang cukup. Pada kondisi kekurangan oksigen, sel otot melakukan fermentasi untuk menghasilkan energi. Fermentasi dapat berlangsung tanpa oksigen namun energi yang dihasilkan jauh lebih sedikit daripada energi yang dihasilkan melalui proses respirasi aerob. Jadi pernyataan dan alasan benar dan keduanya menunjukkan hubungan. Dengan demikian jawaban yang tepat adalah A.</p>
225 <p>Pada kondisi cukup oksigen, sel otot akan melakukan respirasi aerob untuk menghasilkan energi. Respirasi aerob membutuhkan oksigen sehingga tidak dapat berlangsung tanpa adanya oksigen yang cukup. Pada kondisi kekurangan oksigen, sel otot melakukan fermentasi untuk menghasilkan energi. Fermentasi dapat berlangsung tanpa oksigen namun energi yang dihasilkan jauh lebih sedikit daripada energi yang dihasilkan melalui proses respirasi aerob. Jadi pernyataan dan alasan benar dan keduanya menunjukkan hubungan. Dengan demikian jawaban yang tepat adalah A.</p>
226 <p><strong>Topik: Struktur dan Fungsi Jaringan pada Tumbuhan</strong></p>
226 <p><strong>Topik: Struktur dan Fungsi Jaringan pada Tumbuhan</strong></p>
227 <p><strong>Subtopik: Totipotensi dan kultur jaringan</strong></p>
227 <p><strong>Subtopik: Totipotensi dan kultur jaringan</strong></p>
228 <p>19. Tumbuhan memiliki sifat totipotensi karena memiliki jaringan meristem dan parenkim</p>
228 <p>19. Tumbuhan memiliki sifat totipotensi karena memiliki jaringan meristem dan parenkim</p>
229 <p>SEBAB</p>
229 <p>SEBAB</p>
230 <p>Totipotensi merupakan potensi atau kemampuan suatu sel untuk berkembang menjadi individu baru dengan organ yang lengkap atau utuh.</p>
230 <p>Totipotensi merupakan potensi atau kemampuan suatu sel untuk berkembang menjadi individu baru dengan organ yang lengkap atau utuh.</p>
231 <p><strong>Jawaban: B</strong></p>
231 <p><strong>Jawaban: B</strong></p>
232 <p><strong>Pembahasan:</strong></p>
232 <p><strong>Pembahasan:</strong></p>
233 <p>Totipotensi merupakan potensi atau kemampuan suatu sel untuk berkembang menjadi individu baru dengan organ yang lengkap atau utuh. Hal ini karena tumbuhan memiliki jaringan meristem, yang mana sel-selnya aktif mengalami pembelahan, menghasilkan sel-sel penyusun berbagai macam organ dewasa. Selain itu, jaringan parenkim juga memiliki sifat totipoten karena sel-sel penyusun jaringan parenkim masih mengandung protoplasma yang aktif, sehingga sel-sel tersebut dapat kembali bersifat meristematik, atau aktif membelah dan menghasilkan sel-sel anakan baru yang akan berkembang menjadi berbagai macam jaringan dan organ tumbuhan. Jadi pernyataan benar, alasan benar namun keduanya tidak menunjukkan hubungan. Dengan demikian jawaban yang tepat adalah D.</p>
233 <p>Totipotensi merupakan potensi atau kemampuan suatu sel untuk berkembang menjadi individu baru dengan organ yang lengkap atau utuh. Hal ini karena tumbuhan memiliki jaringan meristem, yang mana sel-selnya aktif mengalami pembelahan, menghasilkan sel-sel penyusun berbagai macam organ dewasa. Selain itu, jaringan parenkim juga memiliki sifat totipoten karena sel-sel penyusun jaringan parenkim masih mengandung protoplasma yang aktif, sehingga sel-sel tersebut dapat kembali bersifat meristematik, atau aktif membelah dan menghasilkan sel-sel anakan baru yang akan berkembang menjadi berbagai macam jaringan dan organ tumbuhan. Jadi pernyataan benar, alasan benar namun keduanya tidak menunjukkan hubungan. Dengan demikian jawaban yang tepat adalah D.</p>
234 <h2><strong>Topik: Plantae</strong></h2>
234 <h2><strong>Topik: Plantae</strong></h2>
235 <p><strong>Subtopik: Tumbuhan berbiji</strong></p>
235 <p><strong>Subtopik: Tumbuhan berbiji</strong></p>
236 <p>20. Rafflesia arnoldii merupakan tumbuhan parasit fakultatif</p>
236 <p>20. Rafflesia arnoldii merupakan tumbuhan parasit fakultatif</p>
237 <p>SEBAB</p>
237 <p>SEBAB</p>
238 <p>Rafflesia arnoldii tumbuh pada inangnya yaitu batang liana atau tumbuhan merambat</p>
238 <p>Rafflesia arnoldii tumbuh pada inangnya yaitu batang liana atau tumbuhan merambat</p>
239 <p><strong>Jawaban: D</strong></p>
239 <p><strong>Jawaban: D</strong></p>
240 <p><strong>Pembahasan:</strong></p>
240 <p><strong>Pembahasan:</strong></p>
241 <p>Rafflesia arnoldii merupakan tumbuhan parasit sejati yang tidak dapat hidup tanpa inangnya sehingga disebut sebagai tumbuhan parasit obligat. Rafflesia arnoldii tumbuh pada batang liana atau tumbuhan merambat dari genus <i>Tetrastigma</i> sebagai inangnya. Dengan demikian jawaban yang tepat adalah D.</p>
241 <p>Rafflesia arnoldii merupakan tumbuhan parasit sejati yang tidak dapat hidup tanpa inangnya sehingga disebut sebagai tumbuhan parasit obligat. Rafflesia arnoldii tumbuh pada batang liana atau tumbuhan merambat dari genus <i>Tetrastigma</i> sebagai inangnya. Dengan demikian jawaban yang tepat adalah D.</p>
242 <p><strong>Topik: Anabolisme</strong></p>
242 <p><strong>Topik: Anabolisme</strong></p>
243 <p><strong>Subtopik: Fotosintesis reaksi gelap</strong></p>
243 <p><strong>Subtopik: Fotosintesis reaksi gelap</strong></p>
244 <p>21. Peristiwa yang terjadi dalam proses reaksi gelap fotosintesis.</p>
244 <p>21. Peristiwa yang terjadi dalam proses reaksi gelap fotosintesis.</p>
245 <ol><li>Fotolisis </li>
245 <ol><li>Fotolisis </li>
246 <li>Pembentukan glukosa</li>
246 <li>Pembentukan glukosa</li>
247 <li>Pembentukan ATP dan NADH</li>
247 <li>Pembentukan ATP dan NADH</li>
248 <li>Fiksasi </li>
248 <li>Fiksasi </li>
249 </ol><p><strong>Jawaban: C</strong></p>
249 </ol><p><strong>Jawaban: C</strong></p>
250 <p><strong>Pembahasan: </strong></p>
250 <p><strong>Pembahasan: </strong></p>
251 <p>Fotosintesis terdiri dari dua reaksi, yaitu reaksi terang dan reaksi gelap. Reaksi gelap terdiri dari 3 tahapan, yaitu fiksasi karbon, reduksi dan regenerasi RuBP. Tahap pertama yaitu fiksasi karbon yaitu fiksasi atau pengikatan karbon dioksida atau oleh RuBP. Tahap kedua yaitu tahap reduksi yaitu reduksi PGA menjadi PGAL oleh NADH sebagai agen pereduksi. Tahap ketiga yaitu regenerasi RuBP yaitu pembentukan RuBP kembali. Hasil reaksi gelap berupa glukosa atau karbohidrat lainnya. Jadi pernyataan yang tepat adalah pernyataan 2 dan 4. Dengan demikian jawaban yang tepat adalah C.</p>
251 <p>Fotosintesis terdiri dari dua reaksi, yaitu reaksi terang dan reaksi gelap. Reaksi gelap terdiri dari 3 tahapan, yaitu fiksasi karbon, reduksi dan regenerasi RuBP. Tahap pertama yaitu fiksasi karbon yaitu fiksasi atau pengikatan karbon dioksida atau oleh RuBP. Tahap kedua yaitu tahap reduksi yaitu reduksi PGA menjadi PGAL oleh NADH sebagai agen pereduksi. Tahap ketiga yaitu regenerasi RuBP yaitu pembentukan RuBP kembali. Hasil reaksi gelap berupa glukosa atau karbohidrat lainnya. Jadi pernyataan yang tepat adalah pernyataan 2 dan 4. Dengan demikian jawaban yang tepat adalah C.</p>
252 <h2><strong>Topik:<a>Mutasi</a></strong></h2>
252 <h2><strong>Topik:<a>Mutasi</a></strong></h2>
253 <p><strong>Subtopik: Jenis-jenis mutasi</strong></p>
253 <p><strong>Subtopik: Jenis-jenis mutasi</strong></p>
254 <p>22. Perhatikan kariotipe berikut ini !</p>
254 <p>22. Perhatikan kariotipe berikut ini !</p>
255 <p>Pernyataan yang benar mengenai kariotipe di atas</p>
255 <p>Pernyataan yang benar mengenai kariotipe di atas</p>
256 <ol><li>Terdapat kelainan genetik berupa sindrom patau</li>
256 <ol><li>Terdapat kelainan genetik berupa sindrom patau</li>
257 <li>Kromosom 1 sampai 22 merupakan kromosom kelamin</li>
257 <li>Kromosom 1 sampai 22 merupakan kromosom kelamin</li>
258 <li>Jumlah total kromosom yang terdapat dalam kariogram tersebut adalah 47 kromosom</li>
258 <li>Jumlah total kromosom yang terdapat dalam kariogram tersebut adalah 47 kromosom</li>
259 <li>Kariotipe tersebut menggambarkan kromosom manusia normal</li>
259 <li>Kariotipe tersebut menggambarkan kromosom manusia normal</li>
260 </ol><p><strong>Jawaban</strong> <strong>: B</strong></p>
260 </ol><p><strong>Jawaban</strong> <strong>: B</strong></p>
261 <p><strong>Pembahasan</strong> <strong>:</strong></p>
261 <p><strong>Pembahasan</strong> <strong>:</strong></p>
262 <p>Kariotipe merupakan pengaturan kromosom secara standar berdasarkan panjang, jumlah, serta bentuk kromosom sel somatis. Melalui kariotipe akan diperoleh peta kromosom berdasarkan ukuran dan strukturnya, sehingga akan diketahui apakah terjadi kelainan genetik atau tidak. Berdasarkan kariotipe diatas, terdapat kelainan genetik berupa sindrom patau yang ditandai dengan adanya kelebihan kromosom nomor 13. Sindrom patau merupakan kelainan genetik yang terjadi akibat adanya tambahan kromosom ke-13 yang dalam kondisi normal seharusnya memiliki 23 pasang kromosom sebagai pembawa gen dari orang tua. Namun dalam kasus tersebut pasangan kromosom ke-13 memiliki salinan ekstra sehingga jumlahnya menjadi tiga, bukan dua. Jadi jumlah kromosom pada kariotipe tersebut adalah 47 dimana jumlah kromosom normal adalah 46. Jadi pernyataan yang benar adalah pernyataan 1 dan 3. Dengan demikian, pilihan jawaban yang tepat adalah A.</p>
262 <p>Kariotipe merupakan pengaturan kromosom secara standar berdasarkan panjang, jumlah, serta bentuk kromosom sel somatis. Melalui kariotipe akan diperoleh peta kromosom berdasarkan ukuran dan strukturnya, sehingga akan diketahui apakah terjadi kelainan genetik atau tidak. Berdasarkan kariotipe diatas, terdapat kelainan genetik berupa sindrom patau yang ditandai dengan adanya kelebihan kromosom nomor 13. Sindrom patau merupakan kelainan genetik yang terjadi akibat adanya tambahan kromosom ke-13 yang dalam kondisi normal seharusnya memiliki 23 pasang kromosom sebagai pembawa gen dari orang tua. Namun dalam kasus tersebut pasangan kromosom ke-13 memiliki salinan ekstra sehingga jumlahnya menjadi tiga, bukan dua. Jadi jumlah kromosom pada kariotipe tersebut adalah 47 dimana jumlah kromosom normal adalah 46. Jadi pernyataan yang benar adalah pernyataan 1 dan 3. Dengan demikian, pilihan jawaban yang tepat adalah A.</p>
263 <p><strong>Topik:<a>Sel</a></strong></p>
263 <p><strong>Topik:<a>Sel</a></strong></p>
264 <p><strong>Subtopik: Transpor membran</strong></p>
264 <p><strong>Subtopik: Transpor membran</strong></p>
265 <p>23. Pernyataan yang tepat mengenai faktor yang mempengaruhi kecepatan difusi adalah ….</p>
265 <p>23. Pernyataan yang tepat mengenai faktor yang mempengaruhi kecepatan difusi adalah ….</p>
266 <ol><li>semakin tinggi suhu maka kecepatan difusi semakin cepat</li>
266 <ol><li>semakin tinggi suhu maka kecepatan difusi semakin cepat</li>
267 <li>semakin tebal membran maka kecepatan difusi semakin lambat</li>
267 <li>semakin tebal membran maka kecepatan difusi semakin lambat</li>
268 <li>semakin besar luas area maka difusi semakin cepat</li>
268 <li>semakin besar luas area maka difusi semakin cepat</li>
269 <li>semakin kecil ukuran partikel maka difusi semakin melambat</li>
269 <li>semakin kecil ukuran partikel maka difusi semakin melambat</li>
270 </ol><p><strong>Jawaban: A</strong></p>
270 </ol><p><strong>Jawaban: A</strong></p>
271 <p><strong>Pembahasan:</strong></p>
271 <p><strong>Pembahasan:</strong></p>
272 <p>Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan difusi:</p>
272 <p>Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan difusi:</p>
273 <ol><li>suhu: untuk bergerak dengan cepat, partikel membutuhkan energi. Salah satu sumber energi adalah panas. Oleh karena itu pada suhu yang tinggi difusi akan berlangsung lebih cepat</li>
273 <ol><li>suhu: untuk bergerak dengan cepat, partikel membutuhkan energi. Salah satu sumber energi adalah panas. Oleh karena itu pada suhu yang tinggi difusi akan berlangsung lebih cepat</li>
274 <li>ketebalan membran: ketika partikel akan berpindah dari satu konsentrasi ke konsentrasi melewati membran, maka ketebalan membran akan mempengaruhi difusi partikel tersebut. Semakin tebal membran maka kecepatan difusi semakin lambat</li>
274 <li>ketebalan membran: ketika partikel akan berpindah dari satu konsentrasi ke konsentrasi melewati membran, maka ketebalan membran akan mempengaruhi difusi partikel tersebut. Semakin tebal membran maka kecepatan difusi semakin lambat</li>
275 <li>luas area: Semakin luas area maka semakin luas juga daerah persinggungan antara dua konsentrasi sehingga kecepatan difusi akan semakin cepat.</li>
275 <li>luas area: Semakin luas area maka semakin luas juga daerah persinggungan antara dua konsentrasi sehingga kecepatan difusi akan semakin cepat.</li>
276 <li>ukuran partikel: semakin kecil ukuran suatu partikel maka semakin cepat partikel tersebut bergerak. Oleh karena itu semakin kecil ukuran partikel maka kecepatan difusi semakin cepat</li>
276 <li>ukuran partikel: semakin kecil ukuran suatu partikel maka semakin cepat partikel tersebut bergerak. Oleh karena itu semakin kecil ukuran partikel maka kecepatan difusi semakin cepat</li>
277 </ol><p>Jadi, pernyataan 1, 2 dan 3 benar. Dengan demikian jawaban yang tepat adalah A.</p>
277 </ol><p>Jadi, pernyataan 1, 2 dan 3 benar. Dengan demikian jawaban yang tepat adalah A.</p>
278 <p><strong>Topik: Sel</strong></p>
278 <p><strong>Topik: Sel</strong></p>
279 <p><strong>Subtopik:<a>Jenis-jenis sel</a></strong></p>
279 <p><strong>Subtopik:<a>Jenis-jenis sel</a></strong></p>
280 <p>24. Ciri-ciri yang dimiliki oleh sel hewan dan sel tumbuhan:</p>
280 <p>24. Ciri-ciri yang dimiliki oleh sel hewan dan sel tumbuhan:</p>
281 <ol><li>Sel hewan memiliki vakuola yang lebih besar daripada sel tumbuhan</li>
281 <ol><li>Sel hewan memiliki vakuola yang lebih besar daripada sel tumbuhan</li>
282 <li>Sel tumbuhan memiliki dinding sel, sentriol dan plastida yang tidak dimiliki oleh sel hewan</li>
282 <li>Sel tumbuhan memiliki dinding sel, sentriol dan plastida yang tidak dimiliki oleh sel hewan</li>
283 <li>sel tumbuhan memiliki sentriol dan lisosom yang tidak dimiliki sel hewan</li>
283 <li>sel tumbuhan memiliki sentriol dan lisosom yang tidak dimiliki sel hewan</li>
284 <li>sel hewan merupakan sel prokariotik sedangkan sel tumbuhan merupakan sel eukariotik</li>
284 <li>sel hewan merupakan sel prokariotik sedangkan sel tumbuhan merupakan sel eukariotik</li>
285 </ol><p><strong>Jawaban: D</strong></p>
285 </ol><p><strong>Jawaban: D</strong></p>
286 <p><strong>Pembahasan:</strong></p>
286 <p><strong>Pembahasan:</strong></p>
287 <p>Sel hewan dan sel tumbuhan merupakan sel eukariotik karena memiliki membran inti sel. Sel tumbuhan memiliki dinding sel dan plastida yang tidak dimiliki sel hewan sedangkan sel hewan memiliki sentriol dan lisosom yang tidak dimiliki sel tumbuhan. Vakuola pada sel tumbuhan berukuran besar sedangkan vakuola pada sel hewan berukuran kecil. Jadi pernyataan yang benar adalah pernyataan 4. Dengan demikian jawaban yang tepat adalah D.</p>
287 <p>Sel hewan dan sel tumbuhan merupakan sel eukariotik karena memiliki membran inti sel. Sel tumbuhan memiliki dinding sel dan plastida yang tidak dimiliki sel hewan sedangkan sel hewan memiliki sentriol dan lisosom yang tidak dimiliki sel tumbuhan. Vakuola pada sel tumbuhan berukuran besar sedangkan vakuola pada sel hewan berukuran kecil. Jadi pernyataan yang benar adalah pernyataan 4. Dengan demikian jawaban yang tepat adalah D.</p>
288 <p><strong>Topik: Katabolisme</strong></p>
288 <p><strong>Topik: Katabolisme</strong></p>
289 <p><strong>Subtopik: Katabolisme glukosa dengan oksigen</strong></p>
289 <p><strong>Subtopik: Katabolisme glukosa dengan oksigen</strong></p>
290 <p>25. Pernyataan mengenai proses glikolisis:</p>
290 <p>25. Pernyataan mengenai proses glikolisis:</p>
291 <ol><li>Pelepasan air menghasilkan 2 molekul fosfoenol piruvat (PEP)</li>
291 <ol><li>Pelepasan air menghasilkan 2 molekul fosfoenol piruvat (PEP)</li>
292 <li>Glikolisis dapat berlangsung secara aerob maupun anaerob</li>
292 <li>Glikolisis dapat berlangsung secara aerob maupun anaerob</li>
293 <li>Tiap tahapan glikolisis melibatkan aktivitas enzim</li>
293 <li>Tiap tahapan glikolisis melibatkan aktivitas enzim</li>
294 <li>ADP dan ATP berperan dalam pemindahan fosfat dari molekul satu ke molekul lain.</li>
294 <li>ADP dan ATP berperan dalam pemindahan fosfat dari molekul satu ke molekul lain.</li>
295 </ol><p><strong>Jawaban: E</strong></p>
295 </ol><p><strong>Jawaban: E</strong></p>
296 <p><strong>Pembahasan</strong> <strong>: </strong></p>
296 <p><strong>Pembahasan</strong> <strong>: </strong></p>
297 <p>Glikolisis dapat berlangsung secara aerob dan anaerob. Tiap tahapan glikolisis melibatkan aktivitas enzim sebagai katalisator. ADP dan ATP berperan dalam transfer fosfat. Menjelang akhir tahapan glikolisis, suatu enzim membentuk ikatan ganda dalam substrat dengan cara membebaskan suatu molekul air untuk membentuk fosfoenolpiruvat (PEP). Jadi, semua jawaban (1), (2), (3), dan (4) benar. Dengan demikian jawaban yang tepat adalah E.</p>
297 <p>Glikolisis dapat berlangsung secara aerob dan anaerob. Tiap tahapan glikolisis melibatkan aktivitas enzim sebagai katalisator. ADP dan ATP berperan dalam transfer fosfat. Menjelang akhir tahapan glikolisis, suatu enzim membentuk ikatan ganda dalam substrat dengan cara membebaskan suatu molekul air untuk membentuk fosfoenolpiruvat (PEP). Jadi, semua jawaban (1), (2), (3), dan (4) benar. Dengan demikian jawaban yang tepat adalah E.</p>
298 <p>Nah, itulah beberapa kumpulan latihan soal UTBK Biologi yang bisa kamu jadikan bahan belajarmu untuk persiapan SBMPTN 2022 mendatang. Mau dapat persiapan ekstra untuk UTBK? Kamu bisa bergabung di dalam #PelatnasUTBK! Dapatkan program harian yang dirancang khusus oleh tim Ruangguru untuk membantu persiapanmu. Tidak hanya materi pelajaran, #PelatnasUTBK juga akan memberikan pelatihan kesiapan mental, sehingga fisik dan mentalmu lebih siap dan optimal. Daftar dengan klik di bawah ini ya.</p>
298 <p>Nah, itulah beberapa kumpulan latihan soal UTBK Biologi yang bisa kamu jadikan bahan belajarmu untuk persiapan SBMPTN 2022 mendatang. Mau dapat persiapan ekstra untuk UTBK? Kamu bisa bergabung di dalam #PelatnasUTBK! Dapatkan program harian yang dirancang khusus oleh tim Ruangguru untuk membantu persiapanmu. Tidak hanya materi pelajaran, #PelatnasUTBK juga akan memberikan pelatihan kesiapan mental, sehingga fisik dan mentalmu lebih siap dan optimal. Daftar dengan klik di bawah ini ya.</p>
299 <p>Yuk, berlatih lebih banyak soal lagi dengan ikut tryout UTBK di <a>ruanguji</a>. <em>Psst</em>, soal-soal dan sistem penilaiannya sama seperti UTBK aslinya, <em>lho</em>! Yakin nggak mau cobain?</p>
299 <p>Yuk, berlatih lebih banyak soal lagi dengan ikut tryout UTBK di <a>ruanguji</a>. <em>Psst</em>, soal-soal dan sistem penilaiannya sama seperti UTBK aslinya, <em>lho</em>! Yakin nggak mau cobain?</p>
300  
300