HTML Diff
0 added 0 removed
Original 2026-01-01
Modified 2026-03-08
1 <blockquote><p><em><strong><a>Artikel Bahasa Indonesia kelas 12</a></strong>ini memberikan referensi beberapa contoh gurindam bermacam tema, mulai dari pendidikan, nasehat, agama, persahabatan, hingga cinta. Selain itu, disertakan juga pengertian, ciri-ciri, dan jenisnya.</em></p>
1 <blockquote><p><em><strong><a>Artikel Bahasa Indonesia kelas 12</a></strong>ini memberikan referensi beberapa contoh gurindam bermacam tema, mulai dari pendidikan, nasehat, agama, persahabatan, hingga cinta. Selain itu, disertakan juga pengertian, ciri-ciri, dan jenisnya.</em></p>
2 </blockquote><p>-</p>
2 </blockquote><p>-</p>
3 <p>Kali ini, kita akan membahas materi mengenai contoh gurindam. Hayo, ada yang sudah pernah belajar?</p>
3 <p>Kali ini, kita akan membahas materi mengenai contoh gurindam. Hayo, ada yang sudah pernah belajar?</p>
4 <p>Sebelumnya, kamu sudah mengetahui bahwa puisi itu terbagi menjadi dua jenis, yaitu puisi lama atau dikenal sebagai puisi rakyat, dan puisi modern.</p>
4 <p>Sebelumnya, kamu sudah mengetahui bahwa puisi itu terbagi menjadi dua jenis, yaitu puisi lama atau dikenal sebagai puisi rakyat, dan puisi modern.</p>
5 <p><strong>Puisi lama atau puisi rakyat adalah karya sastra warisan nenek moyang</strong>yang secara turun-temurun memiliki nilai luhur dan berkembang di masyarakat. Dalam pembuatannya, puisi rakyat<strong>terikat oleh ketentuan baris (sajak) dan syarat-syarat tradisional</strong>, serta<strong>memakai pola-pola atau aturan tata bahasa tertentu</strong>. </p>
5 <p><strong>Puisi lama atau puisi rakyat adalah karya sastra warisan nenek moyang</strong>yang secara turun-temurun memiliki nilai luhur dan berkembang di masyarakat. Dalam pembuatannya, puisi rakyat<strong>terikat oleh ketentuan baris (sajak) dan syarat-syarat tradisional</strong>, serta<strong>memakai pola-pola atau aturan tata bahasa tertentu</strong>. </p>
6 <p>Jenis puisi rakyat meliputi pantun, mantra, karmina, syair, gurindam, seloka, dan talibun. Pantun merupakan jenis puisi rakyat yang terdiri dari empat baris dan bersajak a-b-a-b.</p>
6 <p>Jenis puisi rakyat meliputi pantun, mantra, karmina, syair, gurindam, seloka, dan talibun. Pantun merupakan jenis puisi rakyat yang terdiri dari empat baris dan bersajak a-b-a-b.</p>
7 <p>Sementara itu,<strong>puisi modern adalah puisi yang bebas dan tidak terikat aturan-aturan penulisan tertentu</strong>. Jenis puisi modern meliputi balada, elegi, epigram, himne, ode, romansa, dan satire.</p>
7 <p>Sementara itu,<strong>puisi modern adalah puisi yang bebas dan tidak terikat aturan-aturan penulisan tertentu</strong>. Jenis puisi modern meliputi balada, elegi, epigram, himne, ode, romansa, dan satire.</p>
8 <p>Oke, jadi, gurindam ini termasuk ke dalam jenis puisi rakyat atau puisi lama, ya. Sebetulnya, materi gurindam sudah pernah dibahas loh di artikel berjudul, “<strong><a>Pengertian dan Ciri-Ciri Gurindam</a></strong>“. Tapi, kita bakal mengingat kembali nih, mengenai pengertian, ciri, dan jenis gurindam di artikel ini.</p>
8 <p>Oke, jadi, gurindam ini termasuk ke dalam jenis puisi rakyat atau puisi lama, ya. Sebetulnya, materi gurindam sudah pernah dibahas loh di artikel berjudul, “<strong><a>Pengertian dan Ciri-Ciri Gurindam</a></strong>“. Tapi, kita bakal mengingat kembali nih, mengenai pengertian, ciri, dan jenis gurindam di artikel ini.</p>
9 <h2>Pengertian Gurindam</h2>
9 <h2>Pengertian Gurindam</h2>
10 <p>Gurindam merupakan jenis puisi lama yang<strong>berisi nasihat atau sindiran yang terdiri atas dua baris dan berima sama</strong>. Gurindam mengandung ajaran atau nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari.<i>Nah</i>, nilai-nilai tersebut berupa kebenaran atau sindiran dalam bersikap dan bertingkah laku.</p>
10 <p>Gurindam merupakan jenis puisi lama yang<strong>berisi nasihat atau sindiran yang terdiri atas dua baris dan berima sama</strong>. Gurindam mengandung ajaran atau nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari.<i>Nah</i>, nilai-nilai tersebut berupa kebenaran atau sindiran dalam bersikap dan bertingkah laku.</p>
11 <p>Gurindam memiliki ciri-ciri sebagai berikut:</p>
11 <p>Gurindam memiliki ciri-ciri sebagai berikut:</p>
12 <ul><li>Gurindam terdiri dari dua baris di setiap baitnya.</li>
12 <ul><li>Gurindam terdiri dari dua baris di setiap baitnya.</li>
13 <li>Satu baris terdiri dari 10-14 suku kata.</li>
13 <li>Satu baris terdiri dari 10-14 suku kata.</li>
14 <li>Rima akhirnya berpola a-a.</li>
14 <li>Rima akhirnya berpola a-a.</li>
15 <li>Bersajak A-A, B-B, dan seterusnya.</li>
15 <li>Bersajak A-A, B-B, dan seterusnya.</li>
16 <li>Baris pertama berisi sebab (perbuatan) dan baris kedua berisi akibat.</li>
16 <li>Baris pertama berisi sebab (perbuatan) dan baris kedua berisi akibat.</li>
17 <li>Isi gurindam biasanya berupa nasihat-nasihat, kata-kata mutiara, atau filosofi hidup.</li>
17 <li>Isi gurindam biasanya berupa nasihat-nasihat, kata-kata mutiara, atau filosofi hidup.</li>
18 </ul><h2>Jenis-Jenis Gurindam</h2>
18 </ul><h2>Jenis-Jenis Gurindam</h2>
19 <p>Gurindam terbagi menjadi dua jenis, yaitu<strong>gurindam berangkai dan gurindam berkait</strong>. Lalu, bedanya apa ya?<b></b></p>
19 <p>Gurindam terbagi menjadi dua jenis, yaitu<strong>gurindam berangkai dan gurindam berkait</strong>. Lalu, bedanya apa ya?<b></b></p>
20 <p><strong>Baca Juga:<a>Kumpulan Contoh Puisi Rakyat: Pantun, Gurindam, Syair, Lengkap!</a></strong></p>
20 <p><strong>Baca Juga:<a>Kumpulan Contoh Puisi Rakyat: Pantun, Gurindam, Syair, Lengkap!</a></strong></p>
21 <h3><b>Gurindam Berangkai</b></h3>
21 <h3><b>Gurindam Berangkai</b></h3>
22 <p>Gurindam berangkai adalah bentuk gurindam yang<strong>memiliki ciri tutur yang sama di setiap baris pertama dan baitnya</strong>.</p>
22 <p>Gurindam berangkai adalah bentuk gurindam yang<strong>memiliki ciri tutur yang sama di setiap baris pertama dan baitnya</strong>.</p>
23 <h4><b>Contoh Gurindam Berangkai</b></h4>
23 <h4><b>Contoh Gurindam Berangkai</b></h4>
24 <ul><li>Lakukan saja yang menurutmu benar,</li>
24 <ul><li>Lakukan saja yang menurutmu benar,</li>
25 <li>Lakukan saja yang menurutmu pantas,</li>
25 <li>Lakukan saja yang menurutmu pantas,</li>
26 <li>Hidup hanya bergantung hati,</li>
26 <li>Hidup hanya bergantung hati,</li>
27 <li>Hidup hanya sesaat dan lalu mati.</li>
27 <li>Hidup hanya sesaat dan lalu mati.</li>
28 </ul><h3><b>Gurindam Berkait</b></h3>
28 </ul><h3><b>Gurindam Berkait</b></h3>
29 <p>Kalau gurindam berkait,<strong>memiliki hubungan antara bait pertama dan bait seterusnya</strong>.</p>
29 <p>Kalau gurindam berkait,<strong>memiliki hubungan antara bait pertama dan bait seterusnya</strong>.</p>
30 <h4><b>Contoh Gurindam Berkait</b></h4>
30 <h4><b>Contoh Gurindam Berkait</b></h4>
31 <ul><li>Siapa yang tidak ingin sesat dunia akhirat,</li>
31 <ul><li>Siapa yang tidak ingin sesat dunia akhirat,</li>
32 <li>Maka cepat taubat sebelum terlambat,</li>
32 <li>Maka cepat taubat sebelum terlambat,</li>
33 <li>Namun siapa yang lekas bertaubat sebelum kiamat,</li>
33 <li>Namun siapa yang lekas bertaubat sebelum kiamat,</li>
34 <li>Maka dapatlah itu yang dinamakan selamat.</li>
34 <li>Maka dapatlah itu yang dinamakan selamat.</li>
35 </ul><h2>Contoh Gurindam Bermacam Tema</h2>
35 </ul><h2>Contoh Gurindam Bermacam Tema</h2>
36 <p>Oke, sekarang kita lihat beberapa contoh gurindam berbagai macam tema di bawah ini, yuk! Sebelumnya, ada yang sudah pernah membaca atau membuat gurindam?<em>Nah</em>, salah satu contoh gurindam yang terkenal, yaitu “Gurindam Dua Belas” karya Raja Ali Haji.</p>
36 <p>Oke, sekarang kita lihat beberapa contoh gurindam berbagai macam tema di bawah ini, yuk! Sebelumnya, ada yang sudah pernah membaca atau membuat gurindam?<em>Nah</em>, salah satu contoh gurindam yang terkenal, yaitu “Gurindam Dua Belas” karya Raja Ali Haji.</p>
37 <h3>Contoh Gurindam Bertema Persahabatan</h3>
37 <h3>Contoh Gurindam Bertema Persahabatan</h3>
38 <p>1. Cari olehmu akan kawan, Pilih segala orang yang setiawan.</p>
38 <p>1. Cari olehmu akan kawan, Pilih segala orang yang setiawan.</p>
39 <p>2. Baik-baik memilih kawan, Salah-salah bisa jadi lawan.</p>
39 <p>2. Baik-baik memilih kawan, Salah-salah bisa jadi lawan.</p>
40 <p>3. Cari olehmu akan sahabat, Yang boleh dijadikan obat.</p>
40 <p>3. Cari olehmu akan sahabat, Yang boleh dijadikan obat.</p>
41 <p>4. Sebelum berbicara pikir dahulu, Agar tidak melukai hati temanmu.</p>
41 <p>4. Sebelum berbicara pikir dahulu, Agar tidak melukai hati temanmu.</p>
42 <p>5. Walau hidup susah, Selalu ada yang menemani saat memar</p>
42 <p>5. Walau hidup susah, Selalu ada yang menemani saat memar</p>
43 <p>6. Kalau mulut tajam dan kasar, Boleh ditimpa bahaya besar.</p>
43 <p>6. Kalau mulut tajam dan kasar, Boleh ditimpa bahaya besar.</p>
44 <p>7. Pikir dahulu sebelum berkata, Supaya terelak silang sengketa.</p>
44 <p>7. Pikir dahulu sebelum berkata, Supaya terelak silang sengketa.</p>
45 <p>8. Kalau diri kena perkara, Turut susah sanak saudara.</p>
45 <p>8. Kalau diri kena perkara, Turut susah sanak saudara.</p>
46 <p>9. Barang siapa berbuat khianat Tuhan kelak memberi laknat.</p>
46 <p>9. Barang siapa berbuat khianat Tuhan kelak memberi laknat.</p>
47 <h3>Contoh Gurindam Bertema Agama</h3>
47 <h3>Contoh Gurindam Bertema Agama</h3>
48 <p>10. Barang siapa mengenal Allah, Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.</p>
48 <p>10. Barang siapa mengenal Allah, Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.</p>
49 <p>11. Barang siapa meninggalkan puasa, Tidaklah mendapat dua temasya.</p>
49 <p>11. Barang siapa meninggalkan puasa, Tidaklah mendapat dua temasya.</p>
50 <p>12. Barang siapa mengenal yang tersebut, Tahulah ia makna yang takut.</p>
50 <p>12. Barang siapa mengenal yang tersebut, Tahulah ia makna yang takut.</p>
51 <p>13. Barang siapa tiada memegang agama, Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.</p>
51 <p>13. Barang siapa tiada memegang agama, Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.</p>
52 <p>14. Barang siapa meninggalkan zakat, Tiadalah hartanya beroleh berkat.</p>
52 <p>14. Barang siapa meninggalkan zakat, Tiadalah hartanya beroleh berkat.</p>
53 <p>15. Barang siapa meninggalkan sembahyang, Seperti rumah tiada bertiang.</p>
53 <p>15. Barang siapa meninggalkan sembahyang, Seperti rumah tiada bertiang.</p>
54 <p>16. Barang siapa meninggalkan hati, Tiadalah ia menyempurnakan janji.</p>
54 <p>16. Barang siapa meninggalkan hati, Tiadalah ia menyempurnakan janji.</p>
55 <p>17. Barang siapa mengenal diri, Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.</p>
55 <p>17. Barang siapa mengenal diri, Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.</p>
56 <p>18. Barang siapa mengenal yang empat, Maka ia itulah orang ma’rifat.</p>
56 <p>18. Barang siapa mengenal yang empat, Maka ia itulah orang ma’rifat.</p>
57 <p><strong>Baca Juga:<a>Kumpulan Contoh Syair Berbagai Macam Tema beserta Ciri &amp; Jenisnya</a></strong></p>
57 <p><strong>Baca Juga:<a>Kumpulan Contoh Syair Berbagai Macam Tema beserta Ciri &amp; Jenisnya</a></strong></p>
58 <h3>Contoh Gurindam Bertema Nasihat</h3>
58 <h3>Contoh Gurindam Bertema Nasihat</h3>
59 <p>19. Jika hendak mengenal orang berbahagia, Sangat memeliharakan yang sia-sia.</p>
59 <p>19. Jika hendak mengenal orang berbahagia, Sangat memeliharakan yang sia-sia.</p>
60 <p>20. Hendaklah peliharakan kaki, Daripada berjalan yang membawa rugi.</p>
60 <p>20. Hendaklah peliharakan kaki, Daripada berjalan yang membawa rugi.</p>
61 <p>21. Jika hendak mengenal orang yang baik perangai, Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.</p>
61 <p>21. Jika hendak mengenal orang yang baik perangai, Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.</p>
62 <p>22. Bersungguh-sungguhlah engkau memelihara tangan, Daripada segala berat dan ringan.</p>
62 <p>22. Bersungguh-sungguhlah engkau memelihara tangan, Daripada segala berat dan ringan.</p>
63 <p>23. Anggota tengah hendaklah ingat, Di situlah banyak orang hilang semangat.</p>
63 <p>23. Anggota tengah hendaklah ingat, Di situlah banyak orang hilang semangat.</p>
64 <p>24. Bakhil jangan diberi singgah, Itupun perampok yang amat gagah.</p>
64 <p>24. Bakhil jangan diberi singgah, Itupun perampok yang amat gagah.</p>
65 <p>25. Hati kerajaan di dalam tubuh, Jikalau zalim segala anggotapun rubuh.</p>
65 <p>25. Hati kerajaan di dalam tubuh, Jikalau zalim segala anggotapun rubuh.</p>
66 <p>26. Barang siapa mengenal dunia, Tahulah ia barang terpedaya.</p>
66 <p>26. Barang siapa mengenal dunia, Tahulah ia barang terpedaya.</p>
67 <p>27. Kejahatan diri disembunyikan, Kebaikan diri didiamkan.</p>
67 <p>27. Kejahatan diri disembunyikan, Kebaikan diri didiamkan.</p>
68 <p>28. Cari olehmu akan isteri, Yang boleh menyerahkan diri.</p>
68 <p>28. Cari olehmu akan isteri, Yang boleh menyerahkan diri.</p>
69 <p>29. Apabila perut terlalu penuh, Keluarlah fiil yang tiada senonoh.</p>
69 <p>29. Apabila perut terlalu penuh, Keluarlah fiil yang tiada senonoh.</p>
70 <p>30. Apabila kita kurang siasat, Itulah tanda pekerjaan hendak sesat.</p>
70 <p>30. Apabila kita kurang siasat, Itulah tanda pekerjaan hendak sesat.</p>
71 <p>31. Cari olehmu akan guru, Yang boleh tahukan tiap seteru.</p>
71 <p>31. Cari olehmu akan guru, Yang boleh tahukan tiap seteru.</p>
72 <p>32. Apabila banyak mencela orang, Itulah tanda diri kurang.</p>
72 <p>32. Apabila banyak mencela orang, Itulah tanda diri kurang.</p>
73 <p>33. Apabila terpelihara kuping, Khabar yang jahat tiadalah damping.</p>
73 <p>33. Apabila terpelihara kuping, Khabar yang jahat tiadalah damping.</p>
74 <p>34. Jika hendak mengenal orang berbangsa, Lihat kepada budi dan bahasa.</p>
74 <p>34. Jika hendak mengenal orang berbangsa, Lihat kepada budi dan bahasa.</p>
75 <p>35. Barang siapa mengenal akhirat, Tahulah ia dunia melarat.</p>
75 <p>35. Barang siapa mengenal akhirat, Tahulah ia dunia melarat.</p>
76 <p>36. Apabila terpelihara mata, Sedikitlah cita-cita.</p>
76 <p>36. Apabila terpelihara mata, Sedikitlah cita-cita.</p>
77 <p>37. Apabila dengki sudah bertanah, Datanglah daripadanya beberapa anak panah.</p>
77 <p>37. Apabila dengki sudah bertanah, Datanglah daripadanya beberapa anak panah.</p>
78 <p>38. Pekerjaan marah yang dibela, Nanti hilang akal di kepala.</p>
78 <p>38. Pekerjaan marah yang dibela, Nanti hilang akal di kepala.</p>
79 <p>39. Apabila terpelihara lidah, Nescaya dapat daripadanya faedah.</p>
79 <p>39. Apabila terpelihara lidah, Nescaya dapat daripadanya faedah.</p>
80 <p>40. Tanda orang yang amat celaka, Aib dirinya tiada ia sangka.</p>
80 <p>40. Tanda orang yang amat celaka, Aib dirinya tiada ia sangka.</p>
81 <p>41. Barang siapa yang sudah besar, Janganlah kelakuannya membuat kasar.</p>
81 <p>41. Barang siapa yang sudah besar, Janganlah kelakuannya membuat kasar.</p>
82 <p>42. Jika hendak mengenal orang mulia, Lihatlah kepada kelakuan dia.</p>
82 <p>42. Jika hendak mengenal orang mulia, Lihatlah kepada kelakuan dia.</p>
83 <p>43. Di mana tahu salah diri, Jika tidak orang lain yang berperi.</p>
83 <p>43. Di mana tahu salah diri, Jika tidak orang lain yang berperi.</p>
84 <h3>Contoh Gurindam Bertema Cinta</h3>
84 <h3>Contoh Gurindam Bertema Cinta</h3>
85 <p>44. Apabila banyak berlebih-lebihan suka, Itulah tanda hampir luka.</p>
85 <p>44. Apabila banyak berlebih-lebihan suka, Itulah tanda hampir luka.</p>
86 <p>45. Apabila hendak asmara bahagia, Hilangkan egois di dada.</p>
86 <p>45. Apabila hendak asmara bahagia, Hilangkan egois di dada.</p>
87 <p>46. Jika hendak mencari cinta sejati, Carilah dengan penuh hati-hati.</p>
87 <p>46. Jika hendak mencari cinta sejati, Carilah dengan penuh hati-hati.</p>
88 <p>47. Ada kalanya cinta itu buta, Bila depankan nafsu semata.</p>
88 <p>47. Ada kalanya cinta itu buta, Bila depankan nafsu semata.</p>
89 <p>48. Cinta kekasih bersemi, Jika setiap akan abadi.</p>
89 <p>48. Cinta kekasih bersemi, Jika setiap akan abadi.</p>
90 <p>49. Cinta akan mekar, Ketika orang percaya tinggal selamanya.</p>
90 <p>49. Cinta akan mekar, Ketika orang percaya tinggal selamanya.</p>
91 <p>50. Pasangan hendak yang setia, Agar cinta tidak sia-sia.</p>
91 <p>50. Pasangan hendak yang setia, Agar cinta tidak sia-sia.</p>
92 <p><strong>Baca Juga:<a>Jenis-Jenis Puisi Lama (Puisi Rakyat) Disertai Contohnya</a></strong></p>
92 <p><strong>Baca Juga:<a>Jenis-Jenis Puisi Lama (Puisi Rakyat) Disertai Contohnya</a></strong></p>
93 <h3>Contoh Gurindam Bertema Pendidikan</h3>
93 <h3>Contoh Gurindam Bertema Pendidikan</h3>
94 <p>51. Kasihkan orang yang berilmu, Tanda rahmat atas dirimu.</p>
94 <p>51. Kasihkan orang yang berilmu, Tanda rahmat atas dirimu.</p>
95 <p>52. Hormat akan orang yang pandai, Tanda mengenal kasa dan cindai.</p>
95 <p>52. Hormat akan orang yang pandai, Tanda mengenal kasa dan cindai.</p>
96 <p>53. Jika hendak mengenal orang berilmu, Bertanya dan belajar tiadalah jemu.</p>
96 <p>53. Jika hendak mengenal orang berilmu, Bertanya dan belajar tiadalah jemu.</p>
97 <p>54. Jika hendak mengenal orang yang berakal, Di dalam dunia mengambil bekal.</p>
97 <p>54. Jika hendak mengenal orang yang berakal, Di dalam dunia mengambil bekal.</p>
98 <p>55. Jika anak dididik dengan kasih, Maka hatinya tak akan lirih.</p>
98 <p>55. Jika anak dididik dengan kasih, Maka hatinya tak akan lirih.</p>
99 <p>56. Ilmu wajib diamalkan, Agar ilmu tidak terlupakan.</p>
99 <p>56. Ilmu wajib diamalkan, Agar ilmu tidak terlupakan.</p>
100 <p>57. Hidup akan jadi tidak keruan, Jika tidak punya ilmu pedoman.</p>
100 <p>57. Hidup akan jadi tidak keruan, Jika tidak punya ilmu pedoman.</p>
101 <p>58. Belajarlah dengan ikhlas, Niscaya Tuhan akan membalas.</p>
101 <p>58. Belajarlah dengan ikhlas, Niscaya Tuhan akan membalas.</p>
102 <p>59. Barang siapa menuntut ilmu, Manusia tiada akan menipu.</p>
102 <p>59. Barang siapa menuntut ilmu, Manusia tiada akan menipu.</p>
103 <p>60. Barang siapa berilmu tanpa beramal, Bagai pohon rindang berbuah banal.</p>
103 <p>60. Barang siapa berilmu tanpa beramal, Bagai pohon rindang berbuah banal.</p>
104 <p>61. Tidak ada yang tidak mungkin, Asal kamu belajar rajin.</p>
104 <p>61. Tidak ada yang tidak mungkin, Asal kamu belajar rajin.</p>
105 <h3>Contoh Gurindam Bertema Nasihat Perkataan</h3>
105 <h3>Contoh Gurindam Bertema Nasihat Perkataan</h3>
106 <p>62. Apabila perkataan lemah lembut, Lekaslah segala orang mengikut.</p>
106 <p>62. Apabila perkataan lemah lembut, Lekaslah segala orang mengikut.</p>
107 <p>63. Apabila perkataan yang amat kasar, Lekaslah orang sekalian gusar.</p>
107 <p>63. Apabila perkataan yang amat kasar, Lekaslah orang sekalian gusar.</p>
108 <p>64. Apabila banyak berkata-kata, Di situlah jalan masuk dusta.</p>
108 <p>64. Apabila banyak berkata-kata, Di situlah jalan masuk dusta.</p>
109 <p>65. Kalau bicara semaumu, Tentulah banyak orang yang membencimu.</p>
109 <p>65. Kalau bicara semaumu, Tentulah banyak orang yang membencimu.</p>
110 <p>66. Barang siapa perkataan kotor, Mulutnya itu umpama ketur.</p>
110 <p>66. Barang siapa perkataan kotor, Mulutnya itu umpama ketur.</p>
111 <p>67. Jika sedikitpun berbuat bohong, Boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.</p>
111 <p>67. Jika sedikitpun berbuat bohong, Boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.</p>
112 <p>68. Mengumpat dan memuji hendaklah dipikir, Disitulah banyak orang tergelincir.</p>
112 <p>68. Mengumpat dan memuji hendaklah dipikir, Disitulah banyak orang tergelincir.</p>
113 <p>69. Lidah yang suka membenarkan dirinya, Daripada yang lain dapat kesalahannya.</p>
113 <p>69. Lidah yang suka membenarkan dirinya, Daripada yang lain dapat kesalahannya.</p>
114 <h3>Contoh Gurindam 1 Bait</h3>
114 <h3>Contoh Gurindam 1 Bait</h3>
115 <p>70. Carilah ilmu setinggi kau bisa, Untuk meraih cita-cita dan juga asa.</p>
115 <p>70. Carilah ilmu setinggi kau bisa, Untuk meraih cita-cita dan juga asa.</p>
116 <h3>Contoh Gurindam 2 Bait</h3>
116 <h3>Contoh Gurindam 2 Bait</h3>
117 <p>71. Jangan harap menjadi pandai, Bila belajar saja kamu lalai.</p>
117 <p>71. Jangan harap menjadi pandai, Bila belajar saja kamu lalai.</p>
118 <p>Jangan harap mendapatkan juara, Bila buku saja tidak pernah dibuka.</p>
118 <p>Jangan harap mendapatkan juara, Bila buku saja tidak pernah dibuka.</p>
119 <p>72. Siapa tak ingin sesat dunia akhirat, Maka cepatlah taubat sebelum terlambat.</p>
119 <p>72. Siapa tak ingin sesat dunia akhirat, Maka cepatlah taubat sebelum terlambat.</p>
120 <p>Tapi siapa yang lekas bertaubat sebelum kiamat, Maka didapatlah itu yang namanya selamat.</p>
120 <p>Tapi siapa yang lekas bertaubat sebelum kiamat, Maka didapatlah itu yang namanya selamat.</p>
121 <p>73. Rintik hujan jatuh ke bumi, Mengairi ibu pertiwi.</p>
121 <p>73. Rintik hujan jatuh ke bumi, Mengairi ibu pertiwi.</p>
122 <p>Bagai kidung dikala sepi, Sungguh indah saling memberi.</p>
122 <p>Bagai kidung dikala sepi, Sungguh indah saling memberi.</p>
123 <p><strong>Baca Juga:<a>Jenis-Jenis Puisi Kontemporer Disertai Contohnya</a></strong></p>
123 <p><strong>Baca Juga:<a>Jenis-Jenis Puisi Kontemporer Disertai Contohnya</a></strong></p>
124 <h3>Contoh Gurindam 3 Bait</h3>
124 <h3>Contoh Gurindam 3 Bait</h3>
125 <p>74. Tidak pernah ada kata terlambat belajar, Karena semua orang berhak menjadi pintar.</p>
125 <p>74. Tidak pernah ada kata terlambat belajar, Karena semua orang berhak menjadi pintar.</p>
126 <p>Belajar tidak selalu tentang materi pelajaran, Tidak selalu juga tentang hasil dari ujian.</p>
126 <p>Belajar tidak selalu tentang materi pelajaran, Tidak selalu juga tentang hasil dari ujian.</p>
127 <p>Tapi juga tentang nilai kehidupan, Nilai moral, adab, dan kesopanan.</p>
127 <p>Tapi juga tentang nilai kehidupan, Nilai moral, adab, dan kesopanan.</p>
128 <h3>Contoh Gurindam 4 Bait</h3>
128 <h3>Contoh Gurindam 4 Bait</h3>
129 <p>75. Menjadi pintar akan sia-sia tanpa etika, Menjadi pintar tak akan berguna bila abai terhadap tata krama.</p>
129 <p>75. Menjadi pintar akan sia-sia tanpa etika, Menjadi pintar tak akan berguna bila abai terhadap tata krama.</p>
130 <p>Menjadi pintar akan sia-sia tanpa budi pekerti luhur, Menjadi pintar tak akan berguna bila selalu takabur.</p>
130 <p>Menjadi pintar akan sia-sia tanpa budi pekerti luhur, Menjadi pintar tak akan berguna bila selalu takabur.</p>
131 <p>Imbangi kepintaran dengan adab yang sopan, Imbangi kepintaran dengan perilaku yang taat aturan.</p>
131 <p>Imbangi kepintaran dengan adab yang sopan, Imbangi kepintaran dengan perilaku yang taat aturan.</p>
132 <p>Aturan agama maupun kehidupan, Supaya hidup lebih tentram dan penuh keseimbangan.</p>
132 <p>Aturan agama maupun kehidupan, Supaya hidup lebih tentram dan penuh keseimbangan.</p>
133 <p>-</p>
133 <p>-</p>
134 <p>Oke, itulah beberapa kumpulan contoh gurindam dari berbagai tema, disertai pengertian, ciri-ciri, dan jenisnya. Semoga contoh gurindam di atas, dapat menjadi referensi kamu dalam membuat gurindam, ya.</p>
134 <p>Oke, itulah beberapa kumpulan contoh gurindam dari berbagai tema, disertai pengertian, ciri-ciri, dan jenisnya. Semoga contoh gurindam di atas, dapat menjadi referensi kamu dalam membuat gurindam, ya.</p>
135 <p>Nah, kamu bisa loh belajar materi gurindam, atau puisi rakyat lainnya lebih dalam lagi dengan bantuan video interaktif. Yuk, langsung aja langganan di<strong><a>ruangbelajar</a></strong>!</p>
135 <p>Nah, kamu bisa loh belajar materi gurindam, atau puisi rakyat lainnya lebih dalam lagi dengan bantuan video interaktif. Yuk, langsung aja langganan di<strong><a>ruangbelajar</a></strong>!</p>
136 <p><strong>Referensi:</strong></p>
136 <p><strong>Referensi:</strong></p>
137 <p>Laksana, F. 2022. 8 Contoh Gurindam Pendek 1,2,3 dan 4 Bait Bahasa Indonesia [Daring]. Tautan: https://mamikos.com/info/contoh-gurindam-pendek-pljr/ (Diakses pada 6 September 2023)</p>
137 <p>Laksana, F. 2022. 8 Contoh Gurindam Pendek 1,2,3 dan 4 Bait Bahasa Indonesia [Daring]. Tautan: https://mamikos.com/info/contoh-gurindam-pendek-pljr/ (Diakses pada 6 September 2023)</p>
138 <p>Yonatan, A.Z. 2023. 50+ Contoh Gurindam Berbagai Tema Terlengkap [Daring]. Tautan: https://www.detik.com/bali/berita/d-6509498/50-contoh-gurindam-berbagai-tema-terlengkap (Diakses pada 6 Maret 2023)</p>
138 <p>Yonatan, A.Z. 2023. 50+ Contoh Gurindam Berbagai Tema Terlengkap [Daring]. Tautan: https://www.detik.com/bali/berita/d-6509498/50-contoh-gurindam-berbagai-tema-terlengkap (Diakses pada 6 Maret 2023)</p>
139 <p><strong>Sumber Gambar:</strong></p>
139 <p><strong>Sumber Gambar:</strong></p>
140 <p>https://www.freepik.com/free-photo/aerial-view-hand-holding-pencil-write-notepad-blue-table_2991568.htm (Diakses pada 6 September 2023)</p>
140 <p>https://www.freepik.com/free-photo/aerial-view-hand-holding-pencil-write-notepad-blue-table_2991568.htm (Diakses pada 6 September 2023)</p>
141  
141